Skip to main content

Posts

Back to Normal Dayz

Kegempitaan lebaran sebentar lagi usai dan kita akan segera menghadapi hari-hari selanjutnya, hari-hari yang berjalan seperti biasanya. Oase yang mengistirahatkan jiwa kita itu akan pergi meninggalkan, dan tantangan hari-hari penuh ketidakpastian - untuk kesekian kalinya - akan kembali menghadang. Jika Ramadhan kemarin kita bisa lewati dengan penuh kesungguhan: tentulah hari-hari ini kita telah siap mengarungi jalan kehidupan dengan senyum mengembang. Tapi jika amal ibadah kita berantakan: maka ilmu hidup-pun akan sulit tergenggam. Kita akan kembali didera kesibukan, kehabisan waktu, kebingungan, panik dan ujung-ujungnya ditelantarkan oleh kehidupan karena tak punya pegangan. Mumpung hari masih pagi, masih cukup waktu untuk menyiapkan diri. Mengumpulkan kembali impian-impian masa lalu yang terserak untuk ditata dan kembali diperjuangkan. Hidup kita setelah lebaran mungkin tidak akan lebih mudah - tanyalah Menteri Keuangan Amerika jika tak percaya - tapi Insya Allah akan bisa jadi lebih...

Persiapan Lebaran

Apa yang telah Anda siapkan untuk lebaran tahun ini? Tiket pulang kampung? Oleh-oleh? Baju baru? Bawaan seabrek karena naik mobil sendiri meskipun kreditan? Rumah yang dicat ulang karena akan dijadikan tempat berkumpulnya trah? Menukarkan uang jadi recehan untuk dibagi-bagikan? Bahan makanan yang berlimpah karena lebaran adalah pesta setahun sekali? Ketupat dan opor ayam? Parsel untuk rekanan bisnis Anda atau klien agar tidak berhenti memberi kerjaan setelah lebaran? Pulsa untuk sms yang pastinya harus lebih besar karena akan terpakai puluhan atau ratusan di malam lebaran? Kembang api di malam takbiran? Saya sepenuhnya setuju dengan budaya lebaran yang selama ini kita jalankan take it for granted . Semua itu baik-baik saja selama kita lakukan secukupnya, tidak berlebih-lebihan. Sehingga kita melakukannya dengan hati sadar, bukannya karena terjebak arus kebudayaan yang 'mengharuskan' kita untuk patuh dan tak berani menolak untuk berbeda. Tapi inilah yang saya siapkan untuk lebar...

Balada Blackberry

Ya, ini bukan teknologi yang baru-baru amat. Tapi kebetulan saja beberapa teman dekat di PPPI sudah mulai menyeragamkan diri dengan gadget ini: maraklah komunitas blackberry yang anggotanya tokoh-tokoh periklanan Indonesia. Seperti testimony penggunanya: dengan blackberry maka urusan email dan YM jadi lebih mudah dan simple. Bisa terkontrol setiap saat dan gak perlu donlot lama karena GPRS-nya unlimited dan hanya Rp 150.000,-/bulan. Nah, sebagai Sekretaris PPPI Pengda DIY: sayapun menjadi sasaran untuk dijadikan anggota berikutnya komunitas ini, supaya lebih gaul dan update informasi periklanan katanya. Hmm, tentu saja saya mau ter-update dan enggan menjadi anggota kaum jadul. Tapi kok saya belum tertarik untuk melengkapi diri saya dengan gadget itu ya? Atau karena saya memang bukan gadget mania? Saya masih setia dengan Nokia 6300 yang begitu simple pengoperasiannya dan buat sms sangat nyaman. Tak ada fitur selengkap blackberry mungkin, tapi itu sudah cukup memenuhi kebutuhan saya. Seb...

Ramadhan yang Segera Pergi

Berapa kali seekor keledai jatuh di lubang yang sama? Tiga kalikah? Ok deh ngaku, jika dibandingkan keledai: saya pastilah lebih bodoh darinya. Atau lebih tolol. Saya memaki-maki wajah di cermin itu: kualitas ibadah saya tak mengalami peningkatan yang berarti di Ramadhan ini. Usia saya sudah 33 tahun, artinya Tuhan telah memberi kesempatan saya untuk memperbaiki diri - tidak jatuh di lubang yang sama - 33 kali. Keledai mana yang lebih bodoh dari saya coba? Di tengah malam itu - saat i'tikaf di masjid Syuhada - saya merasa begitu kotor dan bodoh. saya telah menyia-nyiakan karunia agung Illahi itu. Saya hanya bisa menerawang, sayup-sayup terdengar lantunan shalawat dan dzikir dari sesama muslim yang sedang i'tikaf. Tuhan, aku begitu takut Ramadhan meninggalkanku kembali - untuk kesekian kalinya - dalam kesepian yang sungguh. Saat amal tak bertambah, saat ajal semakin dekat. Kuserukan nama-Mu dalam kuatirku yang sangat. Tuhanku, masihkah kau ijinkan aku tuk meraih-Mu di sisa Ramad...

Lions for Lambs

Setelah menyaksikan Spy Game, saya mulai menyukai Robert Redford. Di Spy Game, ia bermain begitu smart . Beradu akting secara brilliant dengan Brad Pitt. Spy Game adalah film dengan skenario yang rapi dan ya.. saya belajar banyak tentang birokrasi dan keunggulan manusia atas sistem yang diciptakannya. Good movie , saya menontonnya beberapa kali. Jadi ketika Redford sekali lagi menghadirkan Lions for Lambs, ini adalah hadiah yang saya siapkan buat diri saya sendiri. Saya pun tenggelam dalam film bertutur yang saya akui tak se-entertain Spy Game. But this movie - if you think deeper - is great! Tidak terlalu entertain dan terkesan lamban bercerita: tapi jika kita perhatikan detail adegan-adegannya: banyak wisdom yang kita bisa ambil tentang kegagalan Amerika memerangi terorisme dan bagaimana anak muda, profesor, wartawati dan politisi negeri 'polisi dunia' itu berusaha keras untuk menemukan jati diri mereka dan melepaskan diri dari hegemoni propaganda pemerintah yang absurd. ...

Air Mata Dari Pasuruan

Di Pasuruan, kabar pilu itu menghentakkan hati saya. Seorang Haji Syaikon yang hendak membagikan zakat malnya mengundang orang-orang untuk datang dan membagikan 40 ribu rupiah seorang. Di rumah itu, di gang sempit orang-orang berdesakan. 21 orang meninggal, menghadap Sang Khalik di tengah massa yang berebutan. Bukan, bukan saya ingin menyalahkan massa yang tak tertib dan tak sabar. Bukan juga menyalahkan H. Syaikon, Departemen Agama, Amil Zakat yang tak dipercaya atau kemungkinan kata tetangganya bahwa sang dermawan dalam kesehariannya ternyata pelit. Tolong, ini adalah pelajaran besar yang diturunkan Allah di bulan suci ini. Mari kita melihatnya dengan hati bersih dan doa yang tulus semoga para korban diperkenankan Allah berisitrahat di surganya yang teduh. Dan Pak Haji yang membagikan zakat juga tak perlu menanggung siksa lama di penjara karena kecerobohannya. Saya adalah penganjur utama sedekah. Jika saya punya rejeki lebih mungkin saya pun akan membagikan rejeki itu buat sesama ya...

Sapa Durung Sholat?

Untuk melihat seorang muslim beres manajemen waktunya atau tidak, boleh dipakai metode ini. Jika seseorang bisa sholat lima waktu tepat waktu (alias di awal waktu ketika adzan berkumandang) Insya Allah manajemen waktunya OK banget. Apalagi jika bisa jamaah, tentu kedisiplinannya makin luar biasa. Jika hal-hal yang dasar ini bisa ditegakkan oleh kita semua, saya yakin tak ada yang akan stress hidupnya. Berikut ciri-ciri jika kita tak beres manajemen waktunya alias tak mampu mengotrol skedul kita - dikutip dari Yusuf Mansur - sibuk tiada henti , kurang tiada cukup , rugi tiada untung . Jika kita mulai terjangkit virus stress karena pekerjaan menggunung dan rasanya tak bakal selesai dalam 24 jam jatah waktu kita dalam sehari, waspadalah. Jika kita terus menerus merasa kurang atas nikmat yang diberikan Tuhan dan maunya iri terus atas kepunyaan orang lain, waspadalah. Jika usaha kita kelihatannya maju dan banyak order tapi masalah selalu hadir dalam setiap pengerjaannya, waspadalah. Segera...