Skip to main content

Posts

Sentralisasi 2.500 Porsi MBG dan Monopoli Korporasi

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu proyek sosial ekonomi terbesar dalam sejarah modern Indonesia. Ambisinya sangat mulia: memutus rantai stunting , memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM) masa depan, sekaligus menggerakkan roda ekonomi bawah. Pemerintah mengalokasikan anggaran fantastis sebesar Rp335 triliun untuk program MBG dengan target 82,9 juta penerima manfaat. Hingga pertengahan tahun, serapan anggaran program ini bahkan telah menembus angka Rp101,1 triliun. Namun di balik narasi megah yang digaungkan di berbagai podium, ada sebuah angka misterius yang menjadi fondasi operasional seluruh program ini: batas 2.500-3.000 porsi per hari untuk setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pertanyaan kritis yang kita ajukan sebagai warga negara adalah:  atas dasar logika apa angka sebesar ini ditetapkan?  Mengapa pemerintah memusatkan produksi makanan anak-anak sekolah dalam sebuah sistem dapur raksasa industrial terpusat? Mengapa tidak mendesent...
Recent posts

Satu Purnama

Satu purnama kembali menjelang Kau coba menghitungnya sembari bertanya Bagaimana jika aku mati sebelum tiba di ujung luka ini Kau yang terbuang dan terasingkan Diam-diam aku berharap kau tak terlalu merasa kesepian Tak cukup kata dapat ku ucap sebagai penghiburan Tak ada daya untuk ku bisa memberimu peluk lebih lama Kau terus berjalanlah ku akan menemani  Sejauh dan sebanyak bahwa aku mengerti dan memahami Hingga cahaya purnama tak lagi membiaskan bayanganmu Juga bayanganku Kau tetaplah menjadi aku yang sepenuhnya kau mencintaiku Dan aku adalah dirimu yang seluruhnya ku cintaimu

Di Lembah Sunyi

Di kaki gunung dan dingin kabut pagi Hamparan hijau menyelimuti bumi Sungai jernih berliku mengalir perlahan Nyanyian alam dalam keheningan Sawah membentang bagai permadani Disinari mentari pagi berseri Langit biru menari bersama awan Burung-burung melintasi kebebasan Di tepi danau yang tenang membisu Gemericik air bagai syair syahdu Segala keindahan berpadu mesra Alam menyatu dalam harmoni semesta Jika kau lelah datanglah ke kemari Biarkan angin membelai sunyi hati Dengarlah bisikan damai abadi Di sini hati bertaut kembali...

Budaya Fondasi Peradaban Indonesia Emas

Di dunia yang berputar semakin cepat, di mana dunia digital memperluas jangkauannya ke setiap aspek kehidupan, kita cenderung mengabaikan kekuatan yang terkandung dalam kekayaan warisan kita. DKita semua perlu terus-menerus diingatkan adanya kekuatan yang tersembunyi di jantung budaya kita, Nusantara. Perspektif yang berakar pada kekuatan budaya lokal ini tidak hanya menantang generasi milenial dan gen z namun juga para pemimpin masa depan untuk menerima karakter budaya yang kuat dalam  dalam DNA bangsa kita, sebagai sebuah core value . Akar peradaban maju. Hakikat kebudayaan nusantara dengan nilai-nilai yang mengakar dan tradisi yang unik, bukan sekadar khazanah masa lalu, melainkan senjata rahasia di masa depan, menjadi kekuatan kompetitif kita di era global. Bagi generasi milenial sebagai calon pemimpin masa depan, tantangannya terletak pada skill untuk men- decode : bagaimana menerjemahkan warisan budaya ini ke dalam konteks kekinian. Bagaimana kita mengkomunikasikan warisan ya...

Sejauh-jauhnya Jauh

Sejauh apapun jalan yang telah kau tempuh, jika fakta kebenaran menamparmu dan menunjukkan kau salah arah, berputarlah segera. Telan seluruh rasa malumu karena setiap orang pasti pernah keliru.  Berterima kasihlah karena kau telah diberikan petunjuk jalan yang benar, meskipun bukan jalan yang pernah kau lewati sebelumnya. Meskipun kau tatap jalan di depanmu penuh kegelapan, kesulitan, kemustahilan.  Karena itulah jalan sejatimu. Takdirmu. Panggilan jiwamu. Sampai kelak di ujung jalan dengan senja yang temaram, Tuhan menunggumu...

Belajar dari Monster

Bedanya monster dengan kebanyakan manusia, adalah monster tidak bersembunyi dalam topeng. Tidak menutupi fakta bahwa dia memang monster, tidak membungkus dirinya dengan jubah kebaikan, ijazah dan sertifikat keilmuan atau jas perlente lambang kehormatan. Monster lebih jujur dalam penampilan, apa adanya. Menjadi lawan atau kawan seutuhnya, bukan musuh dalam perjamuan bersama, bukan musuh dalam gelak tawa dan pergaulan penuh tipu daya, bukan musuh dalam selimut.  Dari awal saya bilang kebanyakan manusia ya, jadi tentu tidak semua manusia begitu. Tapi yang begitu banyak. Di hampir semua tempat, posisi, kedudukan yang lebih menghormati indahnya topeng dan manisnya senyum hasil operasi plastik daripada wajah asli dan penampilan jujur apa adanya. Kita hidup di dunia seolah-olah. Seolah-olah baik, seolah-olah sukses, seolah-olah pahlawan, seolah-seolah malaikat. Tapi dalam hati kecil kita yang paling dalam, kita tahu persis bahwa yang sejati dalam diri kita sedang kesepian dan ...

Cerita Senja

Di sore yang memeluk hangat daun jendela  Ujung pena menulis dengan air mata Meja kayu menggores jejak kata-kata Sementara secangkir kopi yang diseduh sendiri Menghangatkan hati yang sunyi Kata-kata berlarian  Menjelajahi halaman demi halaman  Mengundang tarian kerinduan Yang disepuh cahaya keemasan  Dunia yang hiruk pikuk Berhenti bersama waktu yang membeku Seolah ikhlas menunggu  Goresan kisah yang ditulis sore itu Di ujung senja terdengar sayup lantunan adzan   Jari jemarinya berhenti menulis catatan Namun angannya terus mengembara  Menggapai ujung angkasa  Diambilnya sejuk air wudhu  Untuk membasuh luka yang membiru Sambil diam-diam merayakan senja dengan puisi Dalam syukur yang abadi...