Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu proyek sosial ekonomi terbesar dalam sejarah modern Indonesia. Ambisinya sangat mulia: memutus rantai stunting , memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM) masa depan, sekaligus menggerakkan roda ekonomi bawah. Pemerintah mengalokasikan anggaran fantastis sebesar Rp335 triliun untuk program MBG dengan target 82,9 juta penerima manfaat. Hingga pertengahan tahun, serapan anggaran program ini bahkan telah menembus angka Rp101,1 triliun. Namun di balik narasi megah yang digaungkan di berbagai podium, ada sebuah angka misterius yang menjadi fondasi operasional seluruh program ini: batas 2.500-3.000 porsi per hari untuk setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pertanyaan kritis yang kita ajukan sebagai warga negara adalah: atas dasar logika apa angka sebesar ini ditetapkan? Mengapa pemerintah memusatkan produksi makanan anak-anak sekolah dalam sebuah sistem dapur raksasa industrial terpusat? Mengapa tidak mendesent...
Satu purnama kembali menjelang Kau coba menghitungnya sembari bertanya Bagaimana jika aku mati sebelum tiba di ujung luka ini Kau yang terbuang dan terasingkan Diam-diam aku berharap kau tak terlalu merasa kesepian Tak cukup kata dapat ku ucap sebagai penghiburan Tak ada daya untuk ku bisa memberimu peluk lebih lama Kau terus berjalanlah ku akan menemani Sejauh dan sebanyak bahwa aku mengerti dan memahami Hingga cahaya purnama tak lagi membiaskan bayanganmu Juga bayanganku Kau tetaplah menjadi aku yang sepenuhnya kau mencintaiku Dan aku adalah dirimu yang seluruhnya ku cintaimu