Mybothsides

Tuesday, September 23, 2008

Persiapan Lebaran

Apa yang telah Anda siapkan untuk lebaran tahun ini?

Tiket pulang kampung? Oleh-oleh? Baju baru? Bawaan seabrek karena naik mobil sendiri meskipun kreditan? Rumah yang dicat ulang karena akan dijadikan tempat berkumpulnya trah? Menukarkan uang jadi recehan untuk dibagi-bagikan? Bahan makanan yang berlimpah karena lebaran adalah pesta setahun sekali? Ketupat dan opor ayam? Parsel untuk rekanan bisnis Anda atau klien agar tidak berhenti memberi kerjaan setelah lebaran? Pulsa untuk sms yang pastinya harus lebih besar karena akan terpakai puluhan atau ratusan di malam lebaran? Kembang api di malam takbiran?

Saya sepenuhnya setuju dengan budaya lebaran yang selama ini kita jalankan take it for granted. Semua itu baik-baik saja selama kita lakukan secukupnya, tidak berlebih-lebihan. Sehingga kita melakukannya dengan hati sadar, bukannya karena terjebak arus kebudayaan yang 'mengharuskan' kita untuk patuh dan tak berani menolak untuk berbeda.

Tapi inilah yang saya siapkan untuk lebaran besok, kalau-kalau Anda ingin tahu:
  • Bensin penuh untuk sepeda motor karena saya merencanakan untuk melakukan perjalanan menemukan diri saya sendiri
  • THR secukupnya untuk beli buku-buku yang akan saya lahap di masa liburan
  • Kopi, jahe dan milo untuk menemani malam-malam yang akan saya habiskan untuk mengedit content Buku Jualan Ide Segar yang sedang disiapkan untuk Cetakan Kedua
  • Puluhan parsel bersama teman-teman di Petakumpet untuk dipersembahkan pada saudara-saudara kita di jalanan
  • Mengunjungi lebih banyak masjid yang belum pernah saya singgahi
  • Sejuta maaf untuk sahabat dan handai taulan serta teman-teman dekat yang mungkin tak sempat saya balas sms-nya karena saya sibuk bersilaturrahmi dengan hati saya yang terdalam yang setahun ini sering saya cuekin
  • Dan beberapa hal lain yang idenya masih terus saya pikirkan sampai menjelang hari H.

Akhirnya, marilah kita persiapkan lebaran besok dengan memaksimalkan Ramadhan kita yang masih seminggu ini agar kita jadi pemenang yang sejati, bukan sekedar ikut-ikutan lebaran. Yang baik dari hari yang telah kita lalui, terus ditingkatkan setelah lebaran. Kesucian yang telah kita perjuangkan, selayaknya dipertahankan.

Selamat berlebaran dengan sanak saudara dan orang-orang yang Anda sayangi. Mohon maaf jika selama ini saya pernah menghidangkan kata-kata yang tak sesuai di hati Anda semua, para pembaca blog ini yang saya cintai. Bukan karena saya bermaksud seperti itu tapi semata-mata agar kita semua mulai bisa melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda. Meskipun jadi berbeda itu tidak nyaman dan tidak mudah.

Tapi ternyata bisa kan?

Monday, September 22, 2008

Balada Blackberry



Ya, ini bukan teknologi yang baru-baru amat. Tapi kebetulan saja beberapa teman dekat di PPPI sudah mulai menyeragamkan diri dengan gadget ini: maraklah komunitas blackberry yang anggotanya tokoh-tokoh periklanan Indonesia. Seperti testimony penggunanya: dengan blackberry maka urusan email dan YM jadi lebih mudah dan simple. Bisa terkontrol setiap saat dan gak perlu donlot lama karena GPRS-nya unlimited dan hanya Rp 150.000,-/bulan.
Nah, sebagai Sekretaris PPPI Pengda DIY: sayapun menjadi sasaran untuk dijadikan anggota berikutnya komunitas ini, supaya lebih gaul dan update informasi periklanan katanya. Hmm, tentu saja saya mau ter-update dan enggan menjadi anggota kaum jadul.
Tapi kok saya belum tertarik untuk melengkapi diri saya dengan gadget itu ya? Atau karena saya memang bukan gadget mania? Saya masih setia dengan Nokia 6300 yang begitu simple pengoperasiannya dan buat sms sangat nyaman. Tak ada fitur selengkap blackberry mungkin, tapi itu sudah cukup memenuhi kebutuhan saya. Sebagai seorang Executuve Creative Director, saya toh tak terlalu banyak kontak dengan klien, beda ama Marketing Director.
Dan yang penting - ini alasan sesungguhnya mengapa saya masih enggan ber-blackberry-ria: pelan-pelan benda canggih ini akan mulai memerangkap jadual saya sehingga harus siaga mencek email masuk setiap waktu dan mulai kehilangan waktu saya yang paling berharga, harta yang termahal karena saya sangat membutuhkannya untuk menghasilkan ide-ide dahsyat yang bisa dijual milyaran rupiah ke klien.
Bukan karena saya tak mau gaul, bukan karena saya alergi teknologi baru.
Saat kita mengatakan ya untuk hal-hal yang tak penting, itu artinya kita telah mengatakan tidak pada hal-hal yang sungguh penting. Suatu hari nanti mungkin saya kan pakai blackberry, tapi hanya setelah saya yakin sayalah tuannya. Dan bukan budaknya.

Sunday, September 21, 2008

Ramadhan yang Segera Pergi

Berapa kali seekor keledai jatuh di lubang yang sama? Tiga kalikah? Ok deh ngaku, jika dibandingkan keledai: saya pastilah lebih bodoh darinya. Atau lebih tolol. Saya memaki-maki wajah di cermin itu: kualitas ibadah saya tak mengalami peningkatan yang berarti di Ramadhan ini. Usia saya sudah 33 tahun, artinya Tuhan telah memberi kesempatan saya untuk memperbaiki diri - tidak jatuh di lubang yang sama - 33 kali. Keledai mana yang lebih bodoh dari saya coba?

Di tengah malam itu - saat i'tikaf di masjid Syuhada - saya merasa begitu kotor dan bodoh. saya telah menyia-nyiakan karunia agung Illahi itu. Saya hanya bisa menerawang, sayup-sayup terdengar lantunan shalawat dan dzikir dari sesama muslim yang sedang i'tikaf.

Tuhan, aku begitu takut Ramadhan meninggalkanku kembali - untuk kesekian kalinya - dalam kesepian yang sungguh. Saat amal tak bertambah, saat ajal semakin dekat. Kuserukan nama-Mu dalam kuatirku yang sangat.

Tuhanku, masihkah kau ijinkan aku tuk meraih-Mu di sisa Ramadhan ini? Dalam sujudku yang panjang aku hanya bisa pasrah. Kasih sayang itu hak-Mu, dan aku hanyalah sebutir debu di padang pasir. Termangu sendirian di ujung malam, merasa begitu kotor dan bodoh...

Wednesday, September 17, 2008

Lions for Lambs


Setelah menyaksikan Spy Game, saya mulai menyukai Robert Redford. Di Spy Game, ia bermain begitu smart. Beradu akting secara brilliant dengan Brad Pitt. Spy Game adalah film dengan skenario yang rapi dan ya.. saya belajar banyak tentang birokrasi dan keunggulan manusia atas sistem yang diciptakannya. Good movie, saya menontonnya beberapa kali.
Jadi ketika Redford sekali lagi menghadirkan Lions for Lambs, ini adalah hadiah yang saya siapkan buat diri saya sendiri. Saya pun tenggelam dalam film bertutur yang saya akui tak se-entertain Spy Game. But this movie - if you think deeper - is great!
Tidak terlalu entertain dan terkesan lamban bercerita: tapi jika kita perhatikan detail adegan-adegannya: banyak wisdom yang kita bisa ambil tentang kegagalan Amerika memerangi terorisme dan bagaimana anak muda, profesor, wartawati dan politisi negeri 'polisi dunia' itu berusaha keras untuk menemukan jati diri mereka dan melepaskan diri dari hegemoni propaganda pemerintah yang absurd.
Saya tak hendak berbicara mengenai bintangnya, di mana Tom Cruise (salah satu aktor favorit saya) juga ikut berperan di situ. Bukan, bukan itu. Tapi dengarkanlah dengan hati percakapan seorang profesor dengan mahasiswanya. Percakapan seorang senator dengan wartawati senior. Percakapan dua orang tentara Amerika yang ingin mengabdi pada negaranya tapi harus mati karena pemerintah mengirimnya ke tempat yang tak jelas keamanannya.
Ya, akan ada satu jaman saat singa-singa yang perkasa dipimpin oleh domba-domba yang bodoh tapi berkuasa. Beberapa orang cerdas Amerika - salah satunya Robert Redford - percaya saat inilah waktunya. Domba-domba dalam pemerintahan Bush telah membunuh ribuan singa Amerika dalam kebodohan yang utuh. Untuk memenangkan perang yang tanpa alasan, bahkan dengan alasan yang paling keliru.
Lions for Lambs: mari kita bercermin, mumpung sebentar lagi pemilu. Jangan sampai kebodohan Amerika terulang di sini. Indonesia adalah bangsa yang cerdas yang tak pantas dipimpin domba. Indonesia bisa lebih baik dari Amerika, meskipun tidak dalam bentuk kekuatan bersenjata atau ekonomi.
Bangsa kita punya hati bersih dan otak jenius, jika saja kita percaya. Dan para pemimpinnya adalah puncak dari kebersihan hati dan kejeniusan otak itu. Jika tak ada partai yang bersih dan cerdas, sebaiknya tak usah memilih. Ini adalah tindakan kecil yang kita bisa lakukan untuk tak mengulang kesalahan: setidaknya kita telah bertindak, tak sekedar membebek.
Indonesia bisa maju jika rakyatnya mempunyai sikap, prinsip dan kemandirian dalam bertindak. Dalam memilih untuk masa depannya. Dan bertanggung jawab atas konsekuensi pilihannya itu.
Kitalah singa-singa yang perkasa - yang seperti dikatakan sang Profesor Malley (diperankan oleh Robert Redford) - tak pantas dipimpin oleh domba-domba.

Monday, September 15, 2008

Air Mata Dari Pasuruan

Di Pasuruan, kabar pilu itu menghentakkan hati saya. Seorang Haji Syaikon yang hendak membagikan zakat malnya mengundang orang-orang untuk datang dan membagikan 40 ribu rupiah seorang. Di rumah itu, di gang sempit orang-orang berdesakan. 21 orang meninggal, menghadap Sang Khalik di tengah massa yang berebutan.

Bukan, bukan saya ingin menyalahkan massa yang tak tertib dan tak sabar. Bukan juga menyalahkan H. Syaikon, Departemen Agama, Amil Zakat yang tak dipercaya atau kemungkinan kata tetangganya bahwa sang dermawan dalam kesehariannya ternyata pelit.

Tolong, ini adalah pelajaran besar yang diturunkan Allah di bulan suci ini. Mari kita melihatnya dengan hati bersih dan doa yang tulus semoga para korban diperkenankan Allah berisitrahat di surganya yang teduh. Dan Pak Haji yang membagikan zakat juga tak perlu menanggung siksa lama di penjara karena kecerobohannya.

Saya adalah penganjur utama sedekah. Jika saya punya rejeki lebih mungkin saya pun akan membagikan rejeki itu buat sesama yang lebih membutuhkan. Saat rejeki saya rasa tak cukup pun, saya terapkan ilmu kelimpahan sedekah untuk tetap berbagi semampu saya. Tapi jika suatu hari kealpaan menimpa saya - seperti yang terjadi di Pasuruan - saya hanya akan berpasrah.

Misalnya: saya menyumbang sebuah masjid dalam jumlah yang cukup signifikan. Masjid itu tak dibangun dengan maksimal kualitasnya. Saat hujan lebat datang masjid itu roboh menimpa jamaah yang sedang sholat di dalamnya sehingga jatuh banyak korban. Tentu saja saya akan merasa sangat berdosa meskipun tak ikut turut campur dalam teknis membangunnya. Saya akan datang memenuhi panggilan polisi jika memang diperlukan.

Hati saya gundah. Semoga bangsa ini dianugerahi kesabaran, sehingga tak gampang silau oleh rejeki tiban, sehingga tak berebut saat ada uang puluhan atau ratusan ribu gratisan di depan mata mereka. Semoga Allah juga menjaga kerendahan hati, sehingga tangan kiri kita bersedia tak melihat amal kebajikan yang dilakukan tangan kanan. Semoga peristiwa pilu di Pasuruan tak menyurutkan langkah kita untuk terus berbagi, berzakat dan bersedekah dengan cara yang lebih baik.

Saya hanya bisa berdoa semoga Allah menolong mereka yang menderita di Pasuruan, menghadirkan cahaya-Nya yang membahagiakan keluarga yang ditinggalkan serta mengampuni kealpaan yang bukan kejahatan. Janganlah saling menyalahkan yang makin memperkeruh permasalahan, marilah menggunakan hati nurani saat mencari solusi demi kebaikan bersama. Yang salah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan tak perlu mencari kambing hitam yang tak tahu apa-apa.

Allah Maha Pengampun dan Maha Kaya. Jika kita percaya keagungan-Nya, Insya Allah bangsa ini akan terhindarkan dari bencana serupa. Amin ya Robbal 'Alamiin..

Monday, September 8, 2008

Sapa Durung Sholat?

Untuk melihat seorang muslim beres manajemen waktunya atau tidak, boleh dipakai metode ini.

Jika seseorang bisa sholat lima waktu tepat waktu (alias di awal waktu ketika adzan berkumandang) Insya Allah manajemen waktunya OK banget. Apalagi jika bisa jamaah, tentu kedisiplinannya makin luar biasa. Jika hal-hal yang dasar ini bisa ditegakkan oleh kita semua, saya yakin tak ada yang akan stress hidupnya.

Berikut ciri-ciri jika kita tak beres manajemen waktunya alias tak mampu mengotrol skedul kita - dikutip dari Yusuf Mansur - sibuk tiada henti, kurang tiada cukup, rugi tiada untung.

Jika kita mulai terjangkit virus stress karena pekerjaan menggunung dan rasanya tak bakal selesai dalam 24 jam jatah waktu kita dalam sehari, waspadalah. Jika kita terus menerus merasa kurang atas nikmat yang diberikan Tuhan dan maunya iri terus atas kepunyaan orang lain, waspadalah. Jika usaha kita kelihatannya maju dan banyak order tapi masalah selalu hadir dalam setiap pengerjaannya, waspadalah.

Segera ambil wudhu dan benahi jadual sholatnya. Sebelum beban hidup makin berat, sebelum banjir complain, sebelum uang kas perusahaan kering, sebelum kerugian dunia akhirat menghampiri kita tanpa ampun.

Saya juga sedang belajar mendisiplinkan diri saya dengan motode sederhana tapi maha dahsyat ini dan sejujurnya tak mudah.

Tapi tak mudah bukannya tak mungkin kan? Ayo deh - jika ingin sukses bahagia dan luar biasa - kita benahi sholat dulu...

Thursday, September 4, 2008

Kurangi SMS Lebaran


Ah ya.. di sini saya ingin meminta maaf buat teman-teman yang telah susah payah mengirimkan sms ke saya menjelang puasa. Karena saya mungkin tak membalas semua sms yang masuk yang jumlahnya ratusan. Juga buat yang mungkin nanti saat lebaran akan mengirimkan sms ke saya (ini sih ke-geer-an).

Tanpa kirim sms ke sayapun, Insya Allah saya telah menerima tegur sapa indah itu. Dan maaf memaafkan adalah hidangan yang selalu saya sediakan untuk disantap setiap hari oleh siapapun kawan saya.

Saran saya, kurangi jumlah sms yang teman-teman kirimkan - apalagi yang sifatnya basa-basi - dan tukarlah dengan sedekah buat siapapun saudara-saudara kita yang membutuhkan. Atau masjid-masjid yang sedang dibangun. Atau anak-anak jalanan. Atau mereka yang kesulitan melanjutkan sekolah. Yang jumlahnya tidak hanya ribuan tapi jutaan.

Semoga Allah mengampuni saya, tapi sejujurnya ini yang sedang saya lakukan. Jadi saya sangat memohon keikhlasan teman-teman yang tak saya balas smsnya karena di-switch ke sedekah, semoga jadi amal baik teman-teman semua.

Berapa sms yang Anda kirim saat lebaran? Rata-rata lebih dari 20 kan? Apalagi kalo temannya banyak mungkin bisa melebihi angka 100. Phonebook saya aja terisi 800-an nomer. Jika tiap sms biayanya rata-rata Rp 100,- (Ok, beberapa ada yang 50 atau 25 rupiah baik internal maupun antar operator. Tapi coba cek beneran: rata-ratanya kira-kira segitu deh). Nah, sekarang dikalikan pemakai hp se-Indonesia yang puluhan bahkan ratusan juta. Itu angkanya bisa ratusan milyar bahkan triliunan rupiah. Kumpulan uang receh ini jika ditumpuk bisa membentuk gunung yang bikin koruptor manapun ngiler!

Serius!

Jadi daripada hanya memperkaya operator telekomunikasi yang mayoritas pemegang sahamnya juga tidak memperkaya Indonesia, lebih baik kita berbagi untuk yang lebih membutuhkan. Yang bingung mau sahur pake apa dan buka makan apa. Insya Allah akan lebih berkah.

Kita harus mengikhlaskan sebentar kemungkinan 'perasaan' yang sunyi ketika sms tak berdering di hp kita saat lebaran. Sekaligus juga menolong operator GSM maupun CDMA dari kemungkinan overload sms saat lebaran.

Dengan ajakan ini, saya pasti akan dimusuhi oleh operator telekomunikasi (jika mereka 'menganggap' saya). Dan teman-teman akan menuduh saya sombong seolah tak mau menyambung silaturrahmi. Atau malah menuduh bokek tak punya pulsa. Atau sok peduli. Atau sok sedekah. Whatever.

Tapi biarlah, saya merasa ajakan ini benar. Dan sangat inline dengan spirit Ramadhan yang dalam pemahaman saya berarti menahan diri dari godaan untuk melakukan hal-hal yang remeh temeh untuk bergerak mengerjakan hal-hal yang lebih penting bagi hidup kita yang sementara ini.

Tolong jangan kirim sms ke saya saat lebaran dan kurangi sms basa-basi ketika Idul Fitri tiba. Bersedekahlah. Kita bikin negeri ini sedikit lebih baik dengan langkah kecil ini.

Passion

Bukan. Bukan kuatnya kompetitor atau lawan yang membuatmu gagal mewujudkan impian. Bukan pula lingkungan, pemerintah, resesi, harga yang terus melambung. Bukan pula bencana alam. Bukan pula jumlah uang yang habis di dompet. Bukan pula nasib buruk dan takdir yang kejam.

Yang membuatmu gagal adalah hilangnya passion untuk bangkit lagi saat terjerembab menghantam kerasnya kenyataan. Selama masih ada passion, tak mungkin ada kegagalan. Yang lain-lainnya itu takhayul.

Sudah takdir-Nya begitu.

Wednesday, September 3, 2008

Jadual Diskusi dan Bedah Buku



Berikut beberapa jadual diskusi, talk show atau bedah buku yang udah masuk di Bulan Ramadhan (September) sekaligus menjawab beberapa imel yang menanyakan ke saya kapan ada diskusi buku Jualan Ide Segar:
  1. Bedah Buku Jualan Ide Segar (M. Arief Budiman) dan Mata Hati Iklan Indonesia (Sumbo Tinarbuko) di Diskomvis FSR ISI Yogyakarta. Kamis, 11 September 2008 jam 15.00 - 18.00 WIB. Juga menampilkan Sujud Dartanto sebagai pembahas. Untuk Mahasiswa ISI Jogja dan Umum (Free)
  2. Ngopi Bareng Penjual Ide Segar di Melting Pot, Sabtu, 13 September 2008, 20.00 - 22.00 WIB, Untuk Umum HTM Rp 15.000,- (Free 1 cup Coffee)
  3. Sarasehan Keajaiban Berbisnis Ide di ADVY (Akademi Desain Visi Yogyakarta), Senin, 15 September 2008, 09.00 - 12.00 WIB, untuk Mahasiswa ADVY (Free)

Yang segera menyusul adalah Diskusi dan Bedah Buku di Jurusan Komunikasi UGM, semoga juga bisa terlaksana di Bulan September ini.

Buat temen-temen silakan hadir untuk meramaikan proses belajar kreatif yang tentu saja sangat fun dan menyenangkan. Oya, juga pasti ajaib!

Tuesday, September 2, 2008

Melepas Topeng


Pada dasarnya, kita ini hanyalah manusia biasa. Segala jabatan, kekayaan, kesuksesan itu cuma tempelan, aksesoris, topeng. Tapi saking bangganya kita dengan topeng-topeng itu: kita jadi takut memperlihatkan wajah kita yang asli. Diri kita yang sebenarnya.
Misalnya: lho Mas, katanya bisnisnya miliaran kok masih naik motor? Eh, masa' Sekretaris PPPI Jogja makan di angkringan pake celana pendek? Pssst, kemarin aku lihat Ketua ADGI Jogja beli majalah bekas lho di shopping.. Mas Arief ngapain disini? Sedang nunggu bis kota? Ah, Taksi kali?

Hal-hal yang seperti itu.

Jika bicara image: saya sudah lama mengatakan image itu takhayul. Terlihat seolah sukses, seolah kaya, seolah cerdas: itu tidak penting. Pada dasarnya dalam diri setiap orang, selalu ada ketidaksempurnaan. Jadi saya tak hendak membungkus kenyataan dalam kehidupan saya sebagai lambang kesuksesan. That's bullshit.

Hari minggu kemarin adalah hari yang luar biasa buat saya.

Bersama calon istri saya, kami jalan-jalan muterin Jogja. Dari Glagah Sari ke Plaza Ambarrukmo naik bus Trans Jogja. Mungkin karena salah jalur, jadi muter lewat bandara. Lalu nonton film Hancock yang keren. Dilanjutkan ke Karita naik Trans. Karena tak ada halte yang dekat, kitapun berbecak ria ke Karita. Lalu pulang lagi ke Glagah Sari naik biskota jalur 4 melewati Malioboro.

That's a wonderful day for both of us. Berapa biayanya? Yang mahal hanya nonton film, Rp 50.000,- berdua. Bus Trans Jogja hanya Rp 3.000,- sekali naik, biskota Rp 2500,- sekali naik.

Tapi bukankah lebih pantas naik taksi atau naik mobil? Kata siapa? Apakah seorang Direktur tak pantas naik bis kota atau jalan kaki di atas trotoar? Apakah seorang yang 'dianggap' sukses tak boleh tampil wagu? Apakah seorang penulis buku yang judulnya pake miliaran tak boleh duduk santai makan ketan bakar bersama tukang becak di Pasar Beringharjo?
Please, deh. Kita ini terlalu lama pake topeng sehingga jiwa kita justru terasing. Jadi diri sendiri itu lebih asyik, lebih murah dan lebih membahagiakan.

Monday, September 1, 2008

Belajar Dari Ahmadinejad

Saya tidak tahu ini true story atau hoax. Saya mendapatkannya dari seorang teman, via milis. Tapi menurut saya perbedaan itu tak penting, yang penting adalah apakah kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang positif untuk memperbaiki hidup kita sendiri atau tidak. Mari kita belajar bersama-sama, mumpung masih bulan Ramadhan. Bulan dimana kita harus lebih mengakrabkan diri dengan upaya perbaikan:




Mahmoud Ahmadinejad, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya: "Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"


Jawabnya: "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:"Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran ."

Berikut adalah gambaran kehidupan sehari-hari Ahmadinejad:

  1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.
  2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tapi tetap terlihat impresif.
  3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.

  4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri-menterinya untuk datang kepadanya dan menteri-menteri tersebut akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan-arahan darinya, yang terutama sekali menekankan mereka untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.

  5. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu-satunya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.

  6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.
  7. Presiden Iran ini masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinya. Seorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi dalam soal minyak dan pertahanan. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

  8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.


  9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa kelas ekonomi.
  10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri-menterinya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sudah dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri-menterinya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara-upacara seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal-hal seperti itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.
  11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut. Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal-pengawalnya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi.


  12. Sepanjang sholat, ia tidak selalu duduk di baris paling muka. Ahmadinejad tidak meminta previledge sebagai Presiden. Ia menjadi makmum biasa, seperti orang yang lain.


  13. Bahkan ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa
    Nah, apa yang kita bisa pelajari dari sosok Ahamdinejad? Semuanya berpulang pada diri kita masing-masing. Mulai dari dari diri sendiri, mulai yang kecil-kecil, mulai sekarang.