Mybothsides

Saturday, December 17, 2005

Almamater Tinggal Monumen

Mari flashback sedikit. Saya adalah alumnus FSR ISI Yogyakarta, Prodi Diskomvis angkatan 1994, lulus 1999. Just like a normal student. Meskipun bukan mahasiswa baik-baik, karena hobi protes dan demo juga. Ketika saya nulis blog ini, kondisi almamater saya begitu mengharukan hati. I just don't know, banyak hal yang terjadi setelah kepindahannya dari Wirobrajan ke Sewon Jl. Parangtritis.. This institution is losing lot's of fun. Selama beberapa tahun setelah saya lulus, saya sering hadir dalam wisuda teman-teman saya dimana pidato Rektornya (saat itu Pak Bandem) tidak berubah dari tahun ke tahun kecuali tanggalnya aja. Bahkan kalimat dan mungkin titik komanya juga tidak (at least 95% is repetition). Very very uninspiring!

So, sekedar pengingat buat mereka yang masih punya cinta tersembunyi pada ISI Yogyakarta (karena sayapun begitu) saya merasa perlu posting satu tulisan saya tertanggal 20 Juni 2001, yang saya sampaikan di depan mahasiswa semester awal Diskomvis, adik-adik kelas saya. Hari ini, 4 tahun telah berjalan dan saya melihat kondisi decline itu berlanjut. Jumlah mahasiswanya menurun terus, bahkan setelah dibuka gelombang 3. Tolong deh, kampus negeri sampai buka gelombang 3?

I see nobody - inside - cares much. Sebuah asset yang berubah jadi liabilitas. Saya bukan orang pesimis, tapi melihat kemundurannya akan sangat mungkin jika suatu hari nanti almamater saya akan tinggal monumen. Megah di masa lalu, tapi tak ada lagi sekarang. Saya tidak ingin mengucapkan selamat tinggal, saya memimpikan sebuah kebangkitan. Can we do something good about this? Share your comments, we'll start from this.

Selamat membaca:

Rekonstruksi Diskomvis: Mercon Kecil Untuk Memecah Kebekuan

Pada awalnya adalah paradigma. Darimana segala sesuatu dimulai dan selanjutnya akan dibawa kemana. Jika pertanyaan seperti ini diajukan ke Program Studi Disain Komunikasi Visual, maka bunyinya menjadi kurang lebih: seperti apa profil calon mahasiswa yang diharapkan oleh Diskomvis, serta akan dibentuk jadi apa?


Apakah dengan melacaknya dari hal-hal dasar macam begini, berarti kita memutar lagi jam sejarah? Jawabnya: tentu saja. Kita perlu melihat kembali titik awal sambil mengoreksi langkah kita yang terlewat, serta mempersiapkan pijakan demi pijakan di masa depan. Hanya dengan itu – lewat pengalaman yang hidup – kita tidak melenceng dari tujuan semula. Banyak hal yang tidak beres hari ini disebabkan oleh akar permasalahan yang tidak pernah terselesaikan. Mau tak mau kita harus berpacu dengan mesin waktu pemikiran, untuk menengok kembali jejak kita di belakang dan mengurai benang yang sudah terlanjur kusut.

Pada tulisan singkat ini saya hanya akan membahas secara garis besar beberapa hal yang saya lihat dan alami, serta beberapa perspektif kemungkinan yang bisa dilakukan untuk ke depannya.

Ilmuwan Seni Atau Seniman?

Apa yang Diskomvis (sebagai lembaga) inginkan dari ratusan orang yang antre memasukinya setiap tahun? Apakah mereka akan diproses menjadi seorang ilmuwan desain atau desainer saja (bahkan pengertian desainer inipun pastilah tidak sederhana). Dan kualifikasinya apa? Dari beberapa hal sederhana tentang proses seleksi mahasiswa baru misalnya, dimana materi yang diujikan meliputi teori, sketsa, gambar bentuk dan minat utama Diskom. Arahnya adalah mencari calon mahasiswa yang skill artistiknya tinggi dan kreatif. Lalu lihatlah output Diskomvis di dunia kerja: sebagian besar menjadi Art Director, atau jika kurang mujur Visualizer. Dan itu adalah posisi yang paling laku untuk anak ISI. Output-nya dianggap memiliki kualitas artistik yang handal.

Saya termasuk yang tidak setuju dengan pendapat bahwa anak ISI pasti handal di skill artistik sementara anak ITB matang di konsep. Alasan pertama adalah karena asumsi ini seperti dongeng nina bobok indah, yang membuat kita puas hanya dengan itu. Padahal seperti diuraikan di atas, lingkup profesional kita akan terbatas hanya di bidang kreatif (dalam pengertian yang sempit: disainer grafis). Kedua, yang akan dianggap capable di bidang skill artistik itu adalah per individu dan bukan institusinya. Ini artinya kembali ke individunya sendiri, seberapa intens ia bersedia menajamkan skill dan meningkatkan kemampuan profesionalisme-nya. Kampus hanya menyediakan sarana, tapi tak bisa menyulap seseorang tiba-tiba menjadi SDM kreatif yang handal. Ketiga, pada acara KMDGI 3 di Universitas Udayana (1996) terbukti bahwa konsep Perancangan Komunikasi Visual yang disusun Tim Diskomvis ISI dalam acara Workshop digunakan sebagai konsep perancangan tingkat nasional dari seluruh anggota FKMDGI. Artinya apa? Ini sekali lagi menjadi bukti bahwa kita juga ‘punya’ kapabilitas di bidang itu.


Lalu lihatlah lulusan Diskomvis ITB misalnya. Mereka melaju di awal kerja sebagai Art Director (sangat sedikit yang menjadi Visualizer) dan masih bisa berkembang lagi menjadi Creative Director, dan masih bisa berkembang lagi ke posisi lainnya. Tapi tidak dengan – sebagian besar - lulusan ISI. Posisi Art Director (beberapa Creative Director) adalah final position. Lalu mentok di situ. Posisi lainnya adalah pintu tertutup bagi mereka, selama ia tidak bersedia belajar lagi lebih luas dengan disiplin ilmu baru yang tak diperolehnya di kampus. Skill artisitik semata tak cukup untuk meng-handle tanggung jawab profesional yang complicated. Menangani kampanye promosi (di lingkup profesional) sebuah produk selama rentang 1 tahun misalnya, membutuhkan lebih dari sekedar pembuatan konsep perancangan dan art work desain. Di dalamnya terdapat manajemen waktu, pengelolaan SDM, lobbying, network, juga sistem operasional. Secara personal, semua ini membutuhkan basis intelektual yang memadai. ITB membekali mahasiswanya dengan kemampuan ini sejak awal seleksi mahasiswa baru lewat psycho test yang arahnya adalah penalaran dan logika, sekaligus kreativitas. Tidak saja dibutuhkan hasil desain yang bagus, tapi prosesnya juga harus runtut dan benar. Proses ini penting, terutama ketika menyangkut hal-hal dengan kompleksitas tinggi, misalnya kampanye yang melibatkan kerjasama dengan banyak pihak dan rentang waktu panjang.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa Diskom ISI-pun harus menggunakan metoda seperti itu untuk mengejar ketertinggalannya. Setiap perguruan tinggi punya visi dan misinya sendiri. Dan setiap ide perbaikan harus kontekstual. Tapi selalu ada nilai universal, yang berlaku di mana saja. Dan tantangan untuk rekonstruksi ulang bagi seleksi awal mahasiswa Diskom bisa jadi awal wacana baru. Dan ini bisa berlanjut dengan hal-hal lain, seperti sebaran mata kuliah yang lebih banyak memberdayakan mahasiswa daripada sekedar menghafal (saya masih mendengar hal-hal macam ini dari teman-teman kampus). Termasuk sumber bacaan yang kadaluawarsa dan minimnya referensi bagi mahasiswa Diskom. Dan ini tak perlu buru-buru karena segala sesutuanya harus empan papan. Seperti apa empan papan itu? Marilah kita diskusikan bersama-sama.

Badai Akreditasi


Masih ingat pada sekitar bulan November 1997, Prodi Diskomvis termasuk salah satu dari Tujuh Program Studi (di ISI terdapat 12 Program Studi) yang dinilai Tidak Terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional? Dan pada saat itu semua elemen kelimpungan. Program Studi sibuk mengklarifikasi vonis tersebut. Dan mahasiswa lalu malas kuliah, berminggu-minggu. Situasi kampus sepi, tak ada denyut kehidupan. Diskomvis patah semangat, nglokro bersama-sama.

Barulah kemudian semua mulai membuka mata: bahwa ada yang tidak beres di program studi ini. Lalu introspeksi, perbaikan-perbaikan. Sehingga situasi Diskomvis saat ini, saya pikir sudah sedikit lebih baik. Suasana kondusif ini selayaknya dimanfaatkan maksimal oleh semua elemen untuk mulai bergerak memperbaiki diri. Lepas dari kelemahan struktur dan birokrasi yang sudah mendarah daging, saya ingin membuka peluang dengan mulai dari sisi internal mahasiswa. Saya mengalami saat Diskomvis terkena badai akreditasi itu. Betapa rapuhnya sebuah legitimasi atas institusi. Dan betapa banyak mahasiswa yang tak bisa mengambil jarak dengan legitimasi itu. Menyerahkan masa depannya dan pasrah bongkokan pada lembaga. Dan ketika sandaran itu lalu roboh, mereka bagai anak ayam yang kehilangan induk. Tak tahu kemana lagi akan melangkah.

Inti Universitas di Kepala

Saya meminjam kata-kata di atas dari Emha Ainun Nadjib. Bahwa universitas bermula di dalam diri manusia sendiri, di dalam kepalanya. Lalu hal semacam ini dilembagakan dan muncullah sekolah-sekolah. Dan logika semacam itu sudah terbolak-balik. Sekarang, sekolah dijadikan tumpuan untuk garansi masa depan dan modal mencari kerja. Tentu saja ini bukan merupakan kesalahan besar. Tapi jika kita menganggap nilai macam ini suatu ‘kebenaran’ dan diyakini maka efek biasnya akan bagai bola salju yang menggelinding. Seolah-olah, tanpa universitas, tanpa institusi perguruan tinggi tak pernah ada pemikiran ilmiah. Sehingga mitos perguruan tinggi (apalagi negeri) lalu disembah dan dijadikan rebutan oleh ribuan orang.

Kita adalah segelintir yang beruntung bisa masuk ke dalamnya. Tapi sesudah itu, so what? Sesungguhnya kampus (dan seluruh infra strukturnya) hanya media, sarana dan ia lebih bersifat sebagai passive object. Mahasiswa, dosen, karyawan adalah subject dari proses pembelajaran yang dinamis. Jika ini tidak terjadi dan masing-masing pihak sudah merasa puas 'hanya menjadi' bagian dari sebuah nama besar institusi (ISI Yogyakarta misalnya), maka selesailah sudah fungsi akademiknya. The game is over. Dan kita tak bisa berharap hal-hal baru, temuan-temuan yang bermanfaat bagi masyarakat akan tercipta dari sebuah institusi pendidikan yang tak punya kegairahan untuk bergerak me-manage dirinya sendiri ke masa depan.

Mari Membuka Mata

Betapa banyak potensi kreatif yang tersia-siakan di Diskom. Berapa banyak juara yang hanya bisa bergerilya dan survival sendiri-sendiri. Lihatlah Dagadu: cerita sukses tentang mereka adalah sindiran yang tajam di lahan yang merupakan kompetensi keilmuan kita. Anak Diskom yang sekarang berada di Dagadu menjadi ‘sekedar’ desainer. Tapi proses untuk mengolah ide kreatif sehingga menjadi perusahaan yang profitable adalah soal lain yang lebih complicated. Tidakkah kita tertantang untuk sampai ke sana?

Lalu lihatlah biro iklan yang punya nama di Yogya atau Jakarta. Lihatlah siapa yang berdiri di posisi puncak, membangun jaringan bisnisnya dari awal yang kecil sampai besar dan menyedot billing milyaran rupiah. Adakah alumnus Diskomvis ISI di sana? Bisa dihitung dengan jari. Dan kita, teman-teman semua memiliki potensi kreatif yang tidak disangsikan lagi. Masalahnya: siapa yang bersedia mengelola proses ini untuk membawa gerbong penuh manusia kreatif ini ke tujuan yang diharapkan tersebut?

Ini adalah proses yang tidak mudah, membutuhkan komitmen, kesabaran dan waktu. Semua pihak harus mulai me-rontgent dirinya sendiri, sehingga tak buru-buru menuding pihak ini atau pihak itu sebagai yang salah. Mahasiswa jangan berhenti hanya sebagai tukang protes, tapi tak siap mengelola diri dan kegiatannya. Saya mendengar dari beberapa teman tentang seperangkat fasilitas komputer yang dipercayakan kepada mahasiswanya kini tak tentu nasibnya. Dan pihak kampus juga jangan buru-buru paranoid dengan mencap mahasiswa yang tidak sealiran, berpandangan berbeda dan suka protes sebagai pengganggu ketenteraman kampus.

Saya yakin kita sama-sama berawal dari niat baik. Dan proses mempertemukan niat baik itu yang harus dikelola. Bahwa kemajuan hanya bisa didapatkan dari konflik yang sehat, bukan dari keseragaman pandangan yang buntutnya akan menciptakan ketententraman yang semu dan stagnasi.

Dengan tulisan singkat ini, saya bermaksud meledakkan mercon kecil untuk membangunkan ‘singa’ Diskomvis dari tidur panjangnya. Saya berharap teman-teman yang lain – yang memiliki sense of belonging yang lumayan tinggi - menyiapkan lagi beberapa ledakan lanjutan sehingga singa ini terbangun dan membuka matanya. Banyak hal yang telah terjadi. Ambang milenium telah lama terbuka dan kita tidak bisa jalan di tempat. Semua orang sudah bergerak ke masa depan.


Rekonstruksi keilmuan, pemaknaan ulang atas mitos, pembaharuan asumsi yang selama ini kita yakini dan pertahankan sebagai satu-satunya acuan nilai selayaknya mulai dilakukan, sebelum kita semua ketinggalan kereta. Dengan pertimbangan yang rasional, obyektif dan kedewasaan pemikiran.

M. Arief Budiman

Alumnus Diskomvis 1994
Yogyakarta, 20 Juni 2001

5 comments:

thomas said...

mas arief yang budiman.....
tidak semua mahasiswa diskom isi berpikiran "semaju" mas arif.

saya sendiri sebagai mahasiswa diskom merasa sedih...dengan kondisi kampus. tapi bukan karena fasilitas dan referensi yang kurang, tapi karena melihat budaya "malas" yang dulu juga saya alami dan lakukan juga.

saya sering melihat..dan mengalami sendiri...perbuatan "malas".
dan saya menyesal...melewati 4 tahun di diskom ISI dengan malas2an..

oh ya....dan tidak semua anak diskom pengen jadi Art Director di biro iklan ternama...

angkatan saya...sbagian besar berkiblat ke Steven Heller, David Carson, Alan Chang, Sakti Makki, Ilma Noeman, Adrian Elkana, Hermawan Tanzil, Hary Ong, dan dosen favorit...Pak Hartono dan pak Zacky.

Hanya bebrapa orang yang ingin menjadi sperti mas Gandi, mbak Jenny Hardono, Roy Wisnu, Budiman hakim, dll.

dan itu gak salah kan mas, klo banyak yang lebih ingin jadi "designer grafis" (bukan visualizer) daripada AD di Agency.

dan bisnis kartu ucapan, Undangan Pengantin kan juga tidak memalukan kan mas. Stidaknya CK sudah bisa membedakan designer dan tukang setting.

dan gak salah kan bila lebih pengen jadi branding konsultan dari pada Creative Director di Ad agency.

dan kenapa ya ... di Diskom ISI mahasiswa sperti di doktrin dan dicekoki.. bahwa kelak harus jadi Creative Director. Materi MK diskom 4 - 5....semua ke KAMPANYE IKLAN. dan MK tentang corporate branding, ilustrasi, animasi kayae disepelein...mmmm

orang memang beda beda sih...
hihihi

Btw selamat buat Petakumpet yang sukses. Salut perjuanganmu mas

M. Arief Budiman said...

Makasih, Buddy.. Seneng rasanya punya teman untuk sharing sesuatu yang kita yakini. Hampir semua saya sepakat dengan tulisanmu, nothing wrong with your choices. Nothing wrong even there's nobody agree with you.

Yang salah adalah ketika kita tidak punya pilihan, tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk jadi lebih baik lagi.

Saya juga pernah bikin spanduk, ngemal huruf pake cutter dan nyemprotin catnya. Saya pernah sesak napas bau M3 ketika ngerjain order sablon di awal-awal Petakumpet. Dan saya tidak malu. Saya tahu saya sedang belajar.

Hari ini saya berfikir betapa indahnya saat-saat itu. Di tahun 1995, siapa yang tahu Petakumpet selain anggotanya sendiri? Sekarang Petakumpet punya puluhan award, billing milyaran. Sikap saya tidak akan berubah karena itu: saya terus belajar.

Jika suatu hari Petakumpet bangkrut dan tutup (saya berjarap itu terjadi at least 100 tahun lagi): saya akan tetap jadi diri saya. I am what I am. Yang saya tahu ketika hal buruk terjadi, berarti ilmu saya masih kurang. Saya harus belajar lagi.

Live continues.. Dan saya nikmati betul detik demi detiknya, senang susahnya. Dan orang-orang akan memperhatikan apa yang kita lakukan. Sebagian mendukung, sebagian membenci, merongrong, mengganggu.

It's live. Dan kita harus jalan terus..

godot said...

yang paling penting sebenernya bukan kuliah dimana.
tapi seberapa pengalaman anda, tidak perlu membebek kepada tokoh² periklanan.
kalau perlu menyibak jalan ke arah yang lain, itu yang kurang dipahami oleh almamater ISI.
pengalaman kerja juga sangat mendukung peruntungan peluang kerja.
iklim kuliah di jogjakarta di ISI pada khususnya, tidak mendukung untuk itu.
lingkungan ISI terlalu banyak seniman yang idealisnya terlalu tinggi, jadinya sangat berpengaruh kepada jalan pemikiran mahasiswa diskomvis. saya rasa itu yang harus di ubah.
tancapkan kepada pemikiran mahasiswa, bahwa design bukan hanya melulu art tapi kehidupan.
you live with it!

regards

Anonymous said...

permisi, mas
saya lumayan tertarik dengan tulisan mas...
dan ada niatan saya untuk masuk ISI, mas...
karena sekarang saya sudah kelas 3SMA.
kalau saya boleh tanya, mas?
berapa saja nilai akreditas untuk desain interior dan deskomvis di ISI?
karena saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan informasinya.
terima kasih sebelumnya, mas...

Anonymous said...

yah...
gak jauh beda...
ISI dan IKJ
...
hehe
..
.
tp semua orang ada jalannya masing2
...
dan tidak semua anak DKV pgn jadi AD atw CD
atw mungkin mereka mngejar cita2 lain dlm bayang kegelapan..
yg akhirnya mnjadi bidang ilmu baru
..
yah... smua nya itu mungkin
dan
mari bersama2 mnuju kebaikan
...
..
.