Mybothsides

Friday, December 27, 2013

The World Changers

The 4 Common Habits of World Changers http://zite.to/1ikRKFF

Friday, September 13, 2013

Reserved for Steve Jobs



From the launch of iPhone 5S & 5C, there are 2 seats remain empty. Even Jony Ive seated in second row. One is reserved for the spirit of Steve Jobs and the other probably for his wife. I don't know for sure.. But I think it will be like this to the future. There always be a seat in every Apple's launching products, reserved for Steve Jobs.

Wednesday, June 5, 2013

Refleksi Isra’ Mi’raj untuk Bisnis

Cerita tentang Isra’ Mi’raj sering hanya diterima umat Islam sebagai peristiwa agama semata-mata, utamanya tentang perjalanan Rasulullah untuk menerima perintah sholat. Padahal begitu banyak dimensinya, begitu banyak ilmu yang terkandung di dalamnya. Dari ilmu iman, ilmu pengetahuan (fisika, kimia, biologi), ilmu sosial dan masih banyak lagi.

Pada kesempatan memperingati Isra' Mi'raj kali ini, saya ingin menggali hikmahnya dari sudut pandang ilmu bisnis.

Puncak Duka yang Mengetuk Pintu Langit-Nya

Peristiwa Isra’ Mi’raj, dimulai beberapa saat sebelum itu, yaitu ketika terjadi peristiwa Amul Huzn, atau peristiwa duka cita yang sangat masyhur dalam sirah nabawiyah. Peristiwa itu adalah di mana meninggalnya paman Nabi Muhammad, Abu Thalib dan istri Rasulullah, Khadijah dalam waktu yang sangat berdekatan. Sehingga, duka seolah-olah mencapai puncaknya dalam hidup Rasulullah.

Sepeninggal Abu Thalib, orang-orang Quraisy semakin berani mengganggu dakwah beliau. Maklum, karena pamannya lah yang selama ini menjadi benteng bagi gangguan orang-orang kafir Makkah. Puncaknya, adalah ketika beliau pergi ke Thaif untuk berdakwah. Tapi, penduduk Thaif justru memperlakukannya dengan amat sadis dan lebih kejam dari apa yang dilakukan oleh penduduk Makkah. Beruntunnya kesedihan demi kesedihan yang Rasulullah terima, membuat periode tersebut disebut dengan Amul Huzn.

Dengan sisi manusiawinya Rasulullah seperti itu - kesedihan, pemboikotan dari orang-orang Mekah - Rasulullah tetap memilih untuk percaya bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan beliau.

Mengutip Aa’ Gym, iman yang tertinggi itu manakala kita sudah berusaha semaksimal mungkin, sudah berdoa tidak berhenti-berhenti, sudah shalat tahajud tiap malam, shalat dhuha juga setiap pagi, tapi dalam jangka waktu yang sangat lama itu, tidak ada tanda-tanda dan sinyal dari langit bahwa segala doa dan upaya kita itu diterima-Nya. Jadi, seolah-olah kita berpikir, Allah itu apa terlalu sibuk ya, kok kita begitu lamanya dicuekin.

Ya, mungkin situasi seperti itu pulalah perasaan manusiawi yang dialami oleh Rasulullah. Yang kemudian dilakukannya adalah upaya untuk memantaskan diri agar disapa lagi oleh Rabb-Nya. Rasulullah terus meningkatkan iman dan taqwanya dalam kondisi batin yang penuh kedukaan, sampai pada titik tertentu – pada tipping point-nya - kemudian Allah menyiapkan sebuah perjalanan agung yang disebut Isra’ dan Mi’raj.

Refleksi pada Dunia Bisnis

Merefleksikan Isra’ Mi’raj ke dunia bisnis, sesungguhnya kita akan selalu mengalami periode bisnis yang naik dan juga turun. Nah, di masa ketika bisnis mengalami periode yang turun seperti itu, yang hadir adalah masalah yang datangnya tidak datang satu saja. Tidak seperti itu. Terkadang, masalah itu cuman satu, tapi temannya banyak sekali. Rombongan. Habis ditipu. Lalu pekerjaan dikomplain. Lalu mobil kecurian. Masih belum hilang sedihnya, kantor kebakaran.

Ini mirip dengan peristiwa saat kita melewati sebuah kampung, terus di sana ada seseorang yang meninggal. Eh, kita lewat kampung yang lain di hari yang sama, juga mendapati ada lagi orang meninggal. Lewat kampung sebelahnya lagi, ada yang meninggal lagi. Kali ini malah tiga dalam satu kampung. Nah, seperti itulah masalah. Dia datangnya dalam satu rupa, tapi temannya banyak. Kalau kita mengalami kesusahan, itu masalah nggak datang sendiri.

Kalau kita ingin mendapatkan pertolongan Allah dalam kasus itu, jalan terbaik adalah – belajar dari Rasulullah - kita berupaya semaksimal mungkin untuk memantaskan diri. Jadi, seolah-olah Allah mengajarkan bahwa Ia baru akan mengundang Isra’ Mi’raj, setelah menguji dulu Rasulullah melewati sekian banyak rintangan dan cobaan, dan tetap beriman kepada Allah padahal sudah dihajar habis-habisan dari psikis, fisik maupun sosialnya.

Lalu, ketika Rasulullah sudah dianggap lulus ujian, maka datanglah Malaikat Jibril untuk mengantarkan hadiahnya, menjemputnya untuk diperjalankan dalam Isra’ Mi’raj. 

http://ngajiman.files.wordpress.com/2010/12/masjidil-haram.jpg 
http://3.bp.blogspot.com/_h97zEan_PLI/TL_PykeQGBI/AAAAAAAABIE/hB12WdfAnSQ/s1600/al-aqsa1.jpg

Nah, malaikat itu kan berasal dari Nur, cahaya. Cahaya itu kan penerang. Jadi, ketika bisnis kita sudah babak belur dihajar cobaan, dan Allah menganggap kita sudah lulus, maka akan didatangkan-Nya cahaya. Ya, cahaya itulah solusi. Lagi butuh banget sejumlah uang, ya kok tiba-tiba ada saja dan dimudahkan. Butuh ini-itu untuk perusahaan, rasanya jadi sangat gampang. Tidak seperti dulu saat ujian masih berlangsung, hari-hari gelap, nasib diliputi mendung tebal, di hati rasanya susah minta ampun.

Dalam buku Alchemist karangan Paul Coelho, disebutkan bahwa bagian paling gelap itu bukannya di tengah malam, tapi sesaat sebelum fajar terbit. Itulah waktu terpekat, tergelap. Seolah-olah cahaya ditarik semua ke palung gelap, sehingga yang tersisa adalah puncak kegelapan. Tepat di titik itulah lalu akan muncul semburat kuning keemasan membelah fajar, membawa hangat terang dengan cahaya yang mengantarkan kebahagiaan dan terlepasnya kita dari belenggu kegelapan nasib.

Jadi, periode Rasulullah sebelum Isra’ Mi’raj itu berbeda maqam-nya, berbeda level-nya dibandingkan setelah Isra’ Mi’raj. Untuk naik tingkat seperti itu, konsekuensinya beliau harus melewati ujian yang lebih berat daripada sebelumnya.

Misalnya yang dekat di sekitar kita: ujian untuk masuk SMP itu sangat berat untuk level anak-anak yang baru masuk SD. Termasuk juga level pengusaha yang mau naik kelas. Ia harus melewati serangkaian ujian, agar pantas naik level sukses berikutnya. Kalau di periode awal kariernya ia pernah ditipu 900 juta rupiah misalnya, untuk naik ke level yang lebih tinggi ia akan mengalami ujian yang tingkat kesulitannnya dan jumlah kerugiannya berlipat kali dari ujian sebelumnya.

Horisontal dulu, baru Vertikal

Perjalanan Isra’ Mi’raj itu terdiri dari dua tahapan. Yang pertama tahapan Isra’ (perjalanan di waktu malam) yaitu perjalanan horisontal, merupakan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha, dan berikutnya tahapan Mi’raj yaitu perjalanan vertikal, yaitu dari Masjid Al-Aqsha ke Sidratul Muntaha.

Pertanyaannya, kenapa tidak langsung naik saja ke Sidratul Muntaha? Kan Allah Maha Kuasa, tinggal Kun Fayakun, wusss... Nyampe.

Tapi bukan itu yang diinginkan Allah, ada pesan tertentu yang ingin disampaikannya dengan 2 tahapan ini. Isra’ membawa pesan bahwa kita harus memperbaiki silaturrahim horisontal yaitu hablun minannass (hubungan dengan sesama manusia, kesalehan sosial, silaturrahim, networking, kerjasama) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan silaturrahim vertikal berupa hablun minallah (hubungan dengan Allah, kesalehan ritual).

Sebelum mencapai tahapan sukses luar biasa, stiap bisnis akan melalui tahapan diuji dengan permasalahan-permasalahan yang sifatnya horisontal, akan diuji dengan asas manfaat dan mudharat-nya bagi lingkungan yang berada di sekelilingnya, yang mana ketika ujian-ujian bersifat horisontal ini sukses, barulah Allah akan mengangkat bisnis itu ke atas, vertikal: ke arah sukses luar biasa. Quantum Leap.

Dan perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha kalau direfleksikan dalam perjalanan bisnis, ya seperti naik kendaraan darat. Terkadang banyak mobil lain yang lewat, kambing nyelonong, orang nyeberang enggak lihat-lihat. Tapi, kita harus tetap berjalan dengan hati-hati. Terus belajar tentang ilmu-ilmu bisnis, belajar bagaimana presentasi yang baik, belajar bagaimana marketing yang baik, dan lain sebagainya. Itu semua adalah upaya untuk meng-upgrade bisnis. Biar apa? Biar pantas untuk naik ke sidratul muntaha-Nya. Ke puncak suksesnya. Itulah syarat dan ketentuan yang berlaku.

Jadi, agar bisnis kita ingin mi’raj, bisnis itu harus lulus dari ujian. Kelulusan itu ditandai dengan makin bertambahnya ilmu dan hikmah setelah kita berhasil meyelesaikan soal-soal ujian tersebut.  Wisudanya adalah di-mi’raj- kan ke tempat tertinggi yang kita impi-impkan. Terwujudnya impian adalah bukti mi’raj-nya bisnis kita.

Tugas Menebar Rahmatan lil ‘Alamiin

Tapi hikmah Isra’ Mi’raj tak berhenti sampai di sini. Setelah bisnis itu sukses, kesuksesannya tidak boleh disimpan sendiri. Tapi harus disalurkan ke sebanyak mungkin tempat, disalurkan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamiin. Sesungguhnya, ilmu untuk menjaga agar kita terus berada di puncak, adalah dengan terus berbagi. Terus menyebarkan kebaikan secara horisontal lagi. Menjadikan bisnis kita saluran rejeki untuk lebih banyak orang.

Mi’raj itu adalah pergi dari tempat kita sekarang menuju tempat yang kita impikan. Banyak dari para pelaku bisnis yang ketika dihadapkan pada masalah, justru memilih untuk menghindar dari masalah. Padahal, sebenarnya sudah ada teknologi oleh-oleh Isra’ Mi’raj yang diberikan oleh Allah untuk mencapai puncak ketentaraman dan ketenangan. Yaitu shalat.

Teknologi Maha Canggih Bernama Sholat

Peristiwa di mana shalat yang awalnya diperintahkan oleh Allah 50 kali dalam sehari – setelah dikonsultasikan dengan beberapa Nabi - kemudian menjadi 5 kali sehari, menunjukkan bahwa fadhilah yang shalat 50 kali itu telah di-compress sehingga sama ukuran fadhilah-nya dengan yang  5 waktu. Perbandingannya, dulu sebuah disket yang besar ukurannya hanya mampu menampung file sebesar 1,4 megabyte. Sekarang flashdisk yang lebih kecil dan lebih praktis bisa menampung 16 gigabyte (16.000 megabyte). Daya tampungnya sekitar 11428 kali lipat lebih besar.

Jadi sholat itu adalah miniatur perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah yang sudah di-compress dalam bentuk yang lebih praktis dan lebih mudah digunakan, untuk umatnya sampai akhir jaman. Allah sudah memberikan sebuah teknologi yang bisa menghibur hati yang susah, yang banyak masalah, yang gelaaaappp tak tahu kemana nyari solusi.

Solusinya udah disediain: Isra’ Mi’raj. Saat Isra’ siapkan kesabaran dan dan jika ingin Mi’raj maka dirikanlah sholat.

Dengan kecanggihannya, teknologi Sholat ini bahkan bisa mengubah manusia menjadi cahaya. Ash-shalatu mi’rajul mu’min. Shalat itu mi’raj-nya seorang mukmin. Jadi, shalat adalah sebuah teknologi untuk melupakan sejenak dunia dan segala permasalahannya, untuk menuju tempat yang tenang, yang terang, yang tentram. Shalat mampu membangun surga di alam pikiran kita.

Dalam masyarakat modern sekarang, sedang gencar-gencarnya mencari ketenangan diri dengan yoga atau meditasi. Meditasi pada tingkatan paling dasar, biasanya memilih tempat yang sepi, seperti gunung, pantai, pedalaman, yang sangat rendah tingkatan noise-nya. Tapi, untuk meditasi tingkatan advance, meditasi bisa dilakukan di tengah mall, dia antara hiruk-pikuk terminal, di tengah pasar, karena sang meditator telah memiliki kontrol penuh  terhadap diri sendiri untuk menghadirkan gunung, pantai dan hutan belantara di dalam dirinya, memisahkan jiwanya dari kebisingan lingkungan di sekitarnya.

Menjadi Cahaya

Untuk menjadi cahaya, seseorang harus menghargai kegelapannya terlebih dahulu. Seseorang yang tidak bisa menghargai kegelapan, ia tidak bisa menghargai cahaya. Seseorang yang tak pernah kebingungan dengan masalah yang berat tidak akan pernah bisa memberikan empati kepada orang lain yang memiliki masalah dan membutuhkan pertolongannya.

Pengen melihat manusia yang bercahaya? Lihatlah mereka-mereka yang menjaga wudhunya, yang menjaga sholat lima waktunya jamaah di masjid. Coba deh kalau kita sedang jamaah, saat salam menengok ke kanan dan ke kiri. Wajah-wajah jamaah itu rasanya adem, tenang, cerah.

Nah, ketika seseorang sudah mampu berfungsi menjadi cahaya, maka tugasnya adalah menerangi sekitarnya. Fungsi cahaya adalah menyerap kegelapan dan membagikan terang.

Semisal Ust. Yusuf Mansur atau almarhum Ust. Jefri Al Buchory serta banyak kyai-kyai yang dekat dengan permasalahan sehari-hari umatnya. Merekah tempat umat mengadukan segala kesusahannya. Karena sudah pernah mengalami kegelapan dalam perjalanan hidupnya, jadi bisa berempati sekaligus memberikan solusi yang kontekstual, yang berakar di bumi, tidak saja menginpirasi tapi juga bisa diimplementasi.

Cukup Allah Saja

Sisi menarik lainnya dari Isra’ Mi’raj adalah peristiwanya terjadi ketika malam, bukannya siang. Refleksinya, pengusaha itu kalau kena masalah, orang lain seringkali tak peduli. Au ah gelap!

Orang lain tidak mau tahu urusan pengusaha itu yang sedang punya berapa gunung hutang ataupun berapa tumpuk masalah dalam bisnisnya. Coba saja telepon teman-temannya, pasti semua akan angkat tangan, menjauh dan tak peduli.

Kalau mau melihat seberapa banyak teman kita, lihatlah siapa saja yang hadir saat kita dalam kesuksesan. Tapi, untuk tahu siapa sahabat sejati kita, lihatlah siapa yang menemani saat kita berada dalam kesusahan.

Intinya, kalau punya masalah, adukan sama Allah saja. Kalau emang lagi pengen banget nangis, nangislah hanya kepada Allah. Bukan ke suami atau istri orang lain, bisa gawat.

Tapi kalau punya kelebihan rejeki, kelebihan ilmu, berbagilah kepada makhluk-Nya yang lain. Bagilah yang baik-baik saja. Jangan membagi-bagikan masalah, aib orang, ujung-ujungnya malah bikin kita makin sedih. Rahasia tersebar kemana-mana, padahal solusi tak juga diperoleh.

Orang yang kita mintai tolong atas masalah kita, seringkali malah punya masalah yang lebih besar lagi. Bersandar pada makhluk-Nya itu rapuh. Jadi kalau sedang bermasalah, bersandarlah hanya pada yang Maha Kuat.

Mengadulah hanya kepada Allah. Tak ada yang tak mungkin kalau Allah sudah ‘turun tangan’. Kebaikan takdir-Nya tak bisa dihalangi, keburukan takdir-Nya tak bisa dihindari.

Selamat mengambil hikmah terdalam dari perjalanan maha dahsyat Isra’ Mi’raj ini, yang sampai kapan pun misteri yang membungkusnya akan senantiasa melahirkan hikmah demi hikmah bagi kita, sampai akhir zaman.

Di hadapan hamparan samudera hikmah-Nya, kita hanya setetes air di ujung jari.

La haula walaa quwata illa billah...


*Materi tulisan Isra' Mi'raj ini berasal dari Buku Spiritual Creativepreneur, Penerbit Metagraf Solo, Penulis: M. Arief Budiman, Hal. 95-104

Tuesday, April 2, 2013

Good. Better. Best.



Different and new is relatively easy. Doing something that's genuinely better is very hard.

Jonathan Ive
Senior Vice President Apple


Setiap orang bicara perubahan. Setiap motivator dan pembicara seminar bicara perlunya mengubah diri. Diri kita sendiri yang melihat kondisi sehari-hari yang seolah stagnan, negara yang seperti dijalankan dengan auto pilot, tahu betul bahwa perubahan itu sebuah keniscayaan dan harus diperjuangkan.

Tapi mengapa bangsa ini rasanya tak cukup cepat untuk maju? Karena mayoritas yang ingin berubah, hanya punya keinginan saja. Dan hampir tak melakukan apa-apa. Mereka menunggu orang lain untuk melakukan perubahan. Jika orang itu sukses, maka berbondong-bondonglah orang banyak untuk mengikuti. Jika gagal, maka tamatlah riwayatnya. Yang ada hinaan, ejekan dan tertawaan.

Kita telah menjelma menjadi bangsa yang senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.

Resiko untuk melakukan perubahan itu berat. Bahkan sangat berat. Makanya tak banyak yang mau mencoba. Perubahan itu lebih enteng dibicarakan, daripada dipraktekkan.

Kita mengenal Dahlan Iskan. Jokowi. Basuki. Iwan Fals. Emha Ainun Nadjib. Yusuf Mansur. Steve Jobs. Jeff Bezos. Google. Dan masih banyak lainnya.

Nama-nama yang identik dengan spirit perubahan. Spirit perjuangan untuk mewujudkan hal-hal tertentu dengan lebih baik. Tapi karena berada dalam sebuah sistem birokrasi dan bernegara yang cenderung mengabdi pada status quo, maka yang mereka lakukan seringkali 'dianggap' di luar kebiasaan.

Padahal, yang dilakukan biasa-biasa saja, tindakan mereka memang sudah seharusnya. Tapi karena lingkungan sekitarnya sedang terdegradasi standar kualitasnya, maka yang biasa dan sepantasnya menjadi seolah hebat luar biasa.

Untuk berubah, kita mulai dari hal-hal yang kecil dulu. Yang terjangkau. Yang tidak sekedar angan-angan atau gosip yang bertebaran. Yang penting diimplementasikan.

Kenyamanan itu lawan perubahan. Kenikmatan itu meninabobokkan. Dan itu semua harus ditinggalkan.

Tulisan ini diketik di HP touch screen, 3,5 inch. Bukan di layar komputer yang lebar dan nyaman. Agak menyulitkan dan sering salah ketik karena screen-nya kecil, tapi jika diniatkan toh bisa juga.

Tidak mudah artinya bisa. Tidak mungkin itu artinya putus asa. Atau sekedar malas saja. 

Saatnya mengubah diri kita ini, dengan tindakan nyata. Bukan sekedar tulisan atau kata-kata. Bukan hanya agar sekedar berbeda, tapi agar menjadi lebih baik.

Menjadi jauh lebih baik. 

Sunday, March 10, 2013

Changevertising


Kemana iklan akan berlabuh di masa depan? Changevertising itu apa? Apa yang perlu diubah?

Kita takkan pernah bisa menggapai pandangan untuk menjangkau masa depan dengan lebih jernih, jika kita terus-menerus disibukkan oleh kegiatan membuat iklan yang telah menjelma rutinitas. Yang telah menjelma riak-riak yang bising tapi kehilangan kekuatannya sebagai gelombang.

Yang telah menyulap kreativitas sebagai sekedar komoditi untuk jualan, sebagai ‘sekedar’ tools untuk men-support penjualan. Melihat fenomena iklan-iklan yang mayoritas berakhir sebagai sampah visual (fisik maupun psikis), kita tidak saja gagal membuat iklan yang baik (good advertisement). Kita bahkan gagal melakukan hal-hal untuk kebaikan (doing good).

Dalam tulisan ini, saya tidak hendak membahas perubahan periklanan dari sisi teknis. Misalnya: bahwa pemasaran secara interaktif itu jauh lebih efektif daripada beriklan. Atau bahwa periklanan yang personal lebih tepat daripada periklanan yang massive. Atau bahwa digital dan online media akan memakan kue iklan lebih rakus daripada offline media macam surat kabar, billboard, spanduk dan sebagainya. Fenomena buzzer, augmented reality, pay per click. Atau hal-hal yang serupa itu.


Karena kita bisa membaca artikel-artikel tentang itu semua, bertebaran di internet. Fokus saya adalah pembenahan mindset para pelaku industri periklanan ini. Untuk diubah. Untuk di-install ulang. Untuk dikoreksi dari kesalahan-kesalahan masa silam.

Ini adalah testimoni saya. Saya mulai koreksi ini dari diri saya sendiri. Ini menjadi cermin bagi saya dan siapa pun yang merasakan ketidakberesan proses di industri yang kita cintai ini.

Merebut Ruang Hening

Di jaman yang serba digital ini, semakin sulit untuk meraih ruang hening, ruang yang terbebas dari intervensi dan interupsi segala hal yang berhubungan dengan iklan. Yang paling mudah dirasakan adalah makin sulitnya menjadi fokus dalam menyelesaikan berbagai tanggung jawab dan tugas-tugas kehidupan. Makin sulit untuk berfikir mendalam, menuangkan fikiran dengan jernih.

Dunia yang makin mencair ini terus mengalirkan informasi dan iklan– yang berguna maupun yang sampah – ke seluruh pelosok negeri bahkan ke sudut-sudut tersembunyi yang gelap di dalam otak kita, prosesor alami maha dahsyat yang kita perlakukan hanya sebagai tempat penyimpanan belaka, sekedar harddisk yang sebentar lagi akan penuh isinya, makin bertambah bad sector-nya dan lantas hang.

Di dalam keseharian, seolah-olah ada pasar yang riuh dengan display jutaan merk yang terus kita bawa kemana-mana tanpa jeda. Membuat otak kita terasa penuh tapi dengan ketidakjelasan apa saja yang memenuhinya. Kita dihempaskan gelombang informasi ke kanan, ke kiri, kemanapun yang bukan kita sendiri penentunya.

Melarikan Diri Entah Kemana

Kelemahan untuk berfokus dan kesulitan untuk diam tenang berfikir ini, sering membawa kita melakukan pelarian kepada hal-hal yang sekedar trend sesaat, isu-isu remeh-temeh yang lagi marak, yang celakanya tak kita pahami substansi permasalahannya selain sekedar remah-remah informasi yang bersliweran di timeline twitter, status facebook, broadcast message atau gosip ria di cafe-cafe. Kita memenuhi otak kita dengan sampah informasi yang terus menggunung tanpa kesadaran untuk membersihkannya, karena sampah informasi itu tak terlihat.

Tapi sungguh kita pasti bisa merasakannya. Alarm tanda bahaya itu akan mengirimkan sinyal: sulitnya menentukan prioritas, tidak bisa berpisah dengan gadget, mudah lupa, bingung mau melakukan apa karena dalam waktu bersamaan banyak tanggung jawab yang belum diselesaikan, mudah panik, tidak bisa mengatur waktu, mudah capek, melakukan aktivitas yang kita tidak tahu apa manfaatnya selain untuk membunuh waktu, meng-install gadget dengan ratusan apps yang fungsi utamanya hanyalah untuk menghias layar semata atau memenuhi kereta belanja dengan belanjaan yang tidak begitu jelas manfaatnya hanya karena sedang ada diskon besar. Dan masih banyak lagi yang serupa itu.

Tidak mudah menolak gelombang maha besar yang akan menenggelamkan mayoritas kita dalam hiruk pikuk permasalahan di setiap segi kehidupan. Kita adalah makhluk individu sekaligus sosial sekaligus offline sekaligus online yang akan terseret-seret gelombang ini karena bukan kita yang mengendalikan pusarannya.

Bangsa dengan 250-an juta penduduknya ini mayoritas adalah user, konsumen, market. Belum beranjak jadi produsen, kreator, leader. Kita berkiblat pada Amerika, Eropa, Jepang, Korea, Cina. Kita berkiblat pada apapun yang bukan berasal dari negeri kita sendiri.

Kita berkiblat pada mereka yang bekerja keras untuk menciptakan masa depan versi mereka, karena kita tak cukup keras berjuang menciptakan masa depan versi kita sendiri.

Dalam hiruk pikuk, yang paling mudah adalah mengikuti arus. Dalam banjir bandang informasi, yang paling mudah adalah mengikuti arus. Dalam kebingungan, yang paling mudah adalah mengikuti apa kata orang banyak. Dalam ketidakjelasan, yang paling mudah adalah mengikuti petunjuk entah dari siapa.

Maka larislah dukun-dukun, paranormal, politisi yang hobinya menyebar uang untuk transaksi suara, infotainment yang ahli mengemas berita sampah, sinetron yang tak pernah meningkat mutunya sejak jaman Brama Kumbara.

Melahirkan Cahaya

Lha ini semua salah siapa? Darimana pembenahannya? Terus dibenahi untuk menjadi apa?

Jawabnya: pusing.

Serius nih. Pilihannya, kalau kita memilih ikut arus maka kita akan pusing dan itu selamanya. Perang harga, perang diskon, perang rebutan klien, order, SDM kreatif, dan perang-perang kekanak-kanakan lainnya yang membuat kita makin tak bisa ber-bhinneka tunggal ika di industri ini.

Tapi kalau kita memilih untuk berdiam sejenak, mengambil jarak dari hiruk-pikuk realitas bisnis sehari-hari, berfikir jernih dan menimbang-nimbang kebaikan serta menyiapkan terobosan yang akan mengubah aturan main di ranah periklanan ini: kita juga akan tetap pusing bahkan dengan tingkat kepusingan yang lebih hebat, tapi kita akan menemukan secercah cahaya di ujungnya.

Cahaya yang bukan berasal dari Madison Avenue sana atau dari kantor-kantor pusat raksasa periklanan dunia. Melainkan cahaya yang meskipun awalnya kecil, tapi berasal dari kita sendiri. Karena cepat atau lambat, kita akan melihat kreativitas mulai menggeliat menemukan ruangnya di dunia nyata dan maya dari tempat-tempat yang kita tak pernah sangka-sangka. Cahaya itu akan bermunculan menerobos kegelapan dari titik-titik kreativitas di Brosot, Nganjuk, Bangkalan, Ubud, Tebing Tinggi, Sabang, Belitung dan kota-kota lainnya yang belum terpetakan di Google map.

Dengan menunggangi gelombang kemajuan teknologi komunikasi, kota-kota itu dihidupkan oleh para pemenang yang bersedia berpusing ria untuk sesuatu yang akan mengubah format, cara dan strategi beriklan selama-lamanya. Andakah calon pemenang itu? Atau saya? Atau kita semua?

Siapapun yang memiliki keyakinan untuk menghidupkan industri periklanan ini dengan sepenuh hatinya, saya yakin tidak akan mudah putus asa melihat caut-marutnya kondisi industri ini dalam jaman yang terus berubah tanpa kompromi.

Siapapun yang terus berharap industri periklanan ini tidak hanya menambah tingkat konsumtifisme bangsa ini dan memproduksi sampah visual terus menerus.

Siapapun yang terus berharap industri periklanan ini juga akan menyumbangkan satu demi satu batu bata bagi berdirinya sebuah bangunan ke-Indonesia-an yang maju, yang unggul dan menjadi bangsa yang BESAR (yes, dengan semua huruf kapital).

Merekalah para pemenang sejati.