Mybothsides

Saturday, January 27, 2007

Jangan Baca Koran di Pagi Hari

Ini bukan hasutan, apalagi boikot atas koran. Saya sendiri adalah pembaca koran yang setia, menyukai rubrik sepakbola, bisnis dan sastra. Di kantor kita langganan 4 media: Kedaulatan Rakyat, Kompas, Sindo dan Tempo. Majalah Fortune-pun saya beli eceran.

Tentu saya perlu tahu ada kejadian apa hari ini, tapi saya tidak baca koran di pagi hari.

Kenapa? Pagi hari adalah saat-saat di mana otak kita berada pada kondisi paling bersih sehabis bangun tidur. Saya biasa bangun jam 4 pagi. Menurut saya, rata-rata 80% isi koran adalah berita yang biasa-biasa saja atau berita yang ditulis berdasarkan pola pikir negatif. Misalnya cerita tentang Adam Air yang hilang, pembasmian unggas suspect flu burung, wabah demam berdarah, pencurian, perampokan, penipuan, bencana alam, dsb. Kita jadi merasa hidup di sebuah negeri yang tak putus dirundung masalah. Bahkan untuk media gosip dan misteri, sebagian besar informasinya sampah. (Beneran, sampah!)

Pikiran kita yang bersih, jangan buru-buru dikotori dengan berita yang negatif, ditakuti dengan teror serta kekuatiran yang berlebihan. Pikiran kita sepanjang hari akan diliputi waswas karena 'menurut berita' kecelakaan ada dimana-mana. Kita lalu takut bepergian. Jadi takut ngapa-ngapain. Kita jadi kuatir sepanjang hari, terus menerus. Baca koran atau nonton teve ketemu berita atau acara yang sampah secara tidak sadar akan mematikan elan kreativitas kita, mengurangi penyerapan kita atas ilmu pengetahuan dan membuat kita sulit berpikir positif.

Di pagi hari saya lebih memilih menulis, baca buku sambil belajar, dengerin audio book, dengerin ceramah pengajian atau jalan-jalan menghirup udara pagi yang segar. Aktivitas tersebut saya lakukan paling tidak sampai jam 8 saat mesti berangkat ngantor. Koran baru saya sentuh jam 10an atau malah siang hari kalo tak ada kabar penting hari itu. Televisi baru saya tonton kalo ada Chelsea atau Manchester United berlaga di malam hari. Saya malah pernah tidak nonton teve 3 bulan lebih tanpa merasa ada yang kurang dan ternyata rasanya lebih bahagia.

Otak dan hati kita berhak mendapat sarapan yang lebih bernilai daripada sekedar mengoleksi kabar buruk (meskipun kabar tersebut benar) yang disebarkan media. Dan Insya Allah, dengan awal yang baik, hari yang akan Anda jalani lebih membahagiakan dibanding sebelumnya.

3 comments:

mina said...

wah kalo saya bacanya harus pagi2, sekip-sekip gitu, kalo gak, pas pulang sore sudah tidak berselera bacanya, kalah sama newsletter :D

joni jontor said...

spakat mas, kalo skarang saya lagi mboikot nonton tipi, prei dhisik. walau ada godaan dari thukul.

kalo koran pagi, sama mas bacanya siang, secara pagi2 blum punya koran :)

M. Arief Budiman said...

He he he.. namanya juga kebiasaan, pasti susah merubahnya. Toh ini bukan urusan salah atau benar. Asik-asik ajalah Mbak Mina & Mas Jontor, dinikmati aja..