Mybothsides

Thursday, March 16, 2006

Ketika Kematian Menjemput

Apa yang sebaiknya dilakukan terhadap tubuh saya jika saya meninggal kelak? Pertanyaan ini terus mengganggu saya, apalagi karena saya sendiri tidak tahu apakah tubuh saya akan utuh atau terpisah-pisah bahkan hangus saat meninggal.. Saya sungguh tak tahu takdir Tuhan buat kematian saya. Saya tak bisa memilih cara mati saya kan?

Atau bolehlah berdoa: semoga saya meninggal dengan tubuh utuh. Untuk opsi ini, saya memilih untuk menyumbangkan organ tubuh saya buat yang membutuhkan. Cangkok mata, ginjal - terserah bagian mana yang dibutuhkan - asal bisa memberikan kemanfaatan akan saya ikhlaskan. Tapi apakah tubuh saya cukup steril dari penyakit sehingga layak disumbangkan? Entahlah, itu tugas dokter buat memastikannya. Bukan tugas saya.

Jika tidak utuh, tentu saja akan merepotkan buat yang merawatnya. Mau dimandiin pasti bikin ngeri yang mandiin. Paling-paling dibersihin di rumah sakit, dikafanin, dimasukin peti dan gak boleh dibuka saat sampe rumah duka. Mau disumbangin juga agak susah jika ketidaklengkapannya parah, mending dikubur aja biar menyatu dengan tanah.

Pilihan ketiga, jika misalnya saya meninggal saat naik pesawat yang meledak dan hancur berkeping-keping atau bahkan tak bersisa: urusan kematiannya bisa jadi lebih sederhana. Yang susah justru jika kelak ada yang memerlukan mengunjungi kubur saya: kuburnya kan gak ada. Biar saja mereka menengadah di langit dan merasakan hembus angin yang mengandung partikel tubuh saya dengan ukuran mikron melayang-layang di antara pelangi dan awan.

Saya masih ingin merenungkan lagi dalam-dalam keputusan saya. Cuma ada beberapa sih yang udah fix saya harapkan: saya nggak ingin ada bunga duka cita di kuburan saya. Bunga -apalagi yang plastik - akan menjadi sampah dan mengotori kuburan. Merusak kesuburan tanah. Kesannya bangga sih jika ada banyak bunga di depan (yang meninggal pasti dituduh tokoh), tapi jika kita sudah mati kebanggaan itu tak berguna. Biarlah jika ada yang pengin banget nyumbang, bentuknya uang saja agar bisa diteruskan ke tangan yang lebih berhak: yatim piatu, fakir miskin, korban bencana alam, panti jompo, perawat anak cacat atau mesjid.

Saya juga ingin kuburan saya biasa-biasa aja. Jangan dibikin mewah berjuta-juta. Cukuplah dikasih tanda batu yang agak lebar bertuliskan: Kembangkanlah kemampuanmu setinggi mungkin sehingga Tuhanpun akan berkonsultasi denganmu sebelum menentukan takdir-Nya untukmu (dikutip dari M. Iqbal). Semoga ketika ada yang berziarah, saya masih bisa mentransfer semangat saya ketika masih hidup dulu. Mungkin akan ada manfaatnya. Mungkin...

Ah, entahlah. Kadang kematian begitu menghantui tapi kadang terlupakan seperti hembus angin. Semoga kematian bisa membuat kita semua bercermin.

Karena jika kita tak siap mati, kemungkinan besar kita juga tak siap untuk melanjutkan kehidupan...

3 comments:

Diki Satya said...

Hehehe..

Satu lagi orang yang terobsesi akan kematian.

Salam kenal, Mas!

M. Arief Budiman said...

Syukurlah, mas Diki bisa kenalan ketika saya masih hidup.. He he he :) Btw, sebetulnya saya tidak begitu terobsesi. Buat saya kematian hanyalah hal yang biasa saja, seperti makan, bikin surat cinta, baca komik atau bikin lay out iklan. Orang-orang kita aja yang kadang tabu membicarakan hal ini, takut kualat.. Dengan nulis ini mungkin saya udah terlanjur kualat, he he he :)

Ekhu said...

mas arif, ada orang yang pengen cepet mati untuk lari dari masalah, pengecut ya?? juga tak sedikit orang yang takut akan kematian bahkan tak berani membicarakannya, apa juga tak temasuk pengecut.
mati adalah bagian yang seharusnya kita nikmati bukan ?? sama seperti kita menikmati dan memaknai hidup..
jadi berani kita menjalani hidup, juga tak perlu takut menghadapi kematian andai waktu yang ditentukan telah tiba, dan bekal menuju kematian telah cukup.
lantas pertanyaannya apakah bekal kita menghadapi kematian telah cukup???
(hi..)