Mybothsides

Wednesday, November 4, 2009

Preview Bab 1: Pulang


21 April 1997

Saat saya masih kecil, rasanya kenikmatan tertinggi sebagai anak sekolah adalah saat bisa pulang pagi karena bapak ibu guru ada rapat, ada pertemuan atau acara apapun sehingga tidak ada pelajaran. Sekolah Dasar yang biasanya selesai jam 12.00 dimajukan pulangnya jadi jam 10.00. Hanya 2 jam diskonnya, tapi bersama teman-teman saya langsung menyusun acara mau ngapain aja: maen bola, maen petakumpet atau perang-perangan. Indahnya tak terbayangkan!

Saat beranjak dewasa, mendapatkan free time karena jadual acara yang ditunda atau dibatalkan kadang masih membuat saya gembira, meskipun mungkin tak bisa lepas seperti saat masih kanak-kanak. Resiko manusia yang beranjak tua adalah mulai didatangi masalah-masalah kehidupan, yang membuat hidupnya tak lepas lagi. Jika tertawa tak bisa sepenuhnya, jika pengin nangispun – demi gengsi – sebisa mungkin tak terdengar suaranya.

Tapi saat-saat beban hidup menghimpit, saat pekerjaan meremukkan otak dan tulang, saat pandangan atas masa depan mulai pating blasur (baca: semrawut), menjadi kanak-kanak kembali adalah pilihan terbaik. Mentertawakan beban hidup, bermain sepenuh hati, menjadi diri sendiri.

Resiko manusia yang beranjak tua adalah mulai didatangi masalah-masalah kehidupan, yang membuat hidupnya tak lepas lagi. 


Saat-saat itu betapa saya merindukan pulang. Seperti saat pelajaran yang meletihkan di kelas usai, membayangkan ibu di rumah memasak makan siang kesukaan saya, membayangkan berkaos singlet bercelana pendek menenteng bola plastik di lapangan hijau, melepaskan semua penat di masa lalu sehingga ringan menjelajahi masa depan.

Saat keruwetan hidup menyeret kita ke wilayah asing sehingga akal dan hati kita tersesat: cara terbaik untuk mengendalikan lagi hidup kita seringkali sesederhana menyusuri kembali jalan pulang.