Mybothsides

Sunday, June 22, 2008

(Masih) Dari Launching Adgi Jogja


Mas Noor Arief (Dagadu Djokdja) sharing tentang bagaimana pentingnya membangun local brand sebagai asset paling berharga dari Jogja.


Executives dan Advisorty Boards Adgi Jogja bersama Chairman Adgi (Mas Danton Sihombing), dari kiri: Mas Nowo Juliarso (Zoom In Director), M. Iqbal (Finance Director), Sumbo Tinarbuko (Advisory Board), A. Noor Arief (Advisory Board), Danton Sihombing (Chairman Adgi), M. Arief Budiman (Chairman Adgi Jogja Chapter), Eri Kuncoro (Advisory Board), Andika DJ (General Secretary). Yang absen disini adalah Mas Ong Hari Wahyu (Advisory Board).


Saksi sejarah lafirnya Adgi Jogja: ingat baik-baik mukanya jika nanti masuk buku sejarah desain grafis Indonesia. Wa ka ka kaa...


Pak Sumbo Tinarbuka (Moderator) dan Mas Danton Sihombing sharing tentang kekuatan desain grafis untuk menembus pasar global: case studies dari Inkara/design untuk warga kreatif Jogja.


Mas Andika (Syafaat Ad.) dan Mas Ong berbagi pengalaman tentang bagaimana membangun kemandirian bermodal kekuatan kreatif desain grafis

Friday, June 20, 2008

Api Kreativitas di Launching ADGI Jogja






Kreativitas yang tumbuh untuk memicu perubahan selalu berasal dari sesuatu yang kecil, yang lalu menyebar dan saat mencapai tipping point: menjadi gelombang tak tertahankan dan tak mampu lagi dibendung. Demikianlah konsep sederhana yang mendasari upacara adat Launching Adgi Jogja: keinginan untuk membuat negeri ini maju akan didorong oleh super engine yang bernama kreativitas anak bangsa, yang meskipun kekuatan masing-masing unsurnya lemah dan terbatas tapi gabungan diantara mereka sungguh dahsyat tak terkira. Seperti kata Einstein: E = m.c2. Inilah niat, sekaligus harapan dan doa: dalam keterbatasan, selalu ada jalan yang tak menyerah. Selalu ada lilin kecil yang memandu jalan. Selalu ada lubang untuk diterobos.
Langkah besar itu telah dimulai dengan satu lilin kecil yang menyala kedip-kedip dalam hembus angin malam. Tapi nyala lilin itu menular, terus menular dan memenuhi kota. Merembet menembus batas-batas dan menerangi gelap sebuah negara. Lalu menyeberang laut dan menerangi dunia kecil kita ini.
Mohon dukungannya, Adgi Jogja kulo nuwun untuk mulai belajar menyumbangkan kreativitasnya buat temen-temen Jogja dan sekitarnya. Anda yang tertarik bergabung dan menjadi messenger api kreativitas berikutnya bisa menghubungi lewat email ini: arief_009@yahoo.com atau andikakerenlah@yahoo.com
Info selengkapnya tentang Launching Adgi Jogja juga bisa dibaca disini.

Wednesday, June 18, 2008

Launching Adgi Jogja Sehari Lagi

Ya, Anda sebaiknya meninggalkan agenda penting yang lain hari itu, Kamis 19 Juni 2008. Ya, bukan hanya agar pengunjung berjubel menjadi saksi sejarah desain grafis Jogja yang mulai meng-Indonesia bahkan mendunia. Ya, jikapun musuh kemajuan adalah lupa pada momen yang akan mengubah hidup Anda selamanya jadi kami wajib mengingatkan.

Besok Kamis 19 Juni 2008 - tolong dicatat dan masukin ke reminder hp - jadilah bagian dari nyala api pertama industri desain grafis yang akan menggerakkan creative economy Indonesia. Siapa sangka corat-coret iseng dan hobi merangkai elemen visual bisa menjadi rantai yang menggerakkan roda-roda tank peradaban. Desain grafis telah ditakdirkan untuk memunculkan potensi energi kreatif yang luar biasa untuk memajukan sebuah bangsa.Api itu akan menyala besok. Bertepatan dengan Launching ADGI (AsosiasiDesainer Grafis Indonesia) Jogja Chapter
sebagai upaya untuk mendorong kreativitas desainer grafis dan mendukung tumbuhnya industri kreatif di Joga dan sekitarnya.

Dan demi masyarakat kreatif kami persembahkan acara ini GRATIS. Semua yang mengaku kreatif silakan bergabung. Jangan lupa bawa kartu nama atau portfolio, banyak pendekar kreatif hadir untuk berbagi ilmu dan pengalaman di sini:

  1. D'Edge (workshop kreatif berbasis kampus)Tema: Profesi Desainer Grafis Membangun Kemandirian, Pembicara: Ong Hari Wahyu (Desainer Grafis Senior), M. Arief Budiman (Petakumpet), Moderator: Andika DJ (Syafa'at ADV)Dagadu Pakuningratan Yogyakarta, 19 Juni 2008, 10.00-12.00 WIB2.
  2. Zoom In & Member Gathering (untuk anggota ADGI & Umum)Tema: The Power of Graphic Design, Pembicara: Danton Sihombing (Inkara/Chairman ADGI), Noor Arief (Dagadu)Moderator: Sumbo Tinarbuko (Konsultan Desain)Kopikopi Cafe Sagan Yogyakarta, 19 Juni 2008, 16.00-19.00 WIB

Terima kasih untuk berkenan diingatkan. Terima kasih untuk membawa ingatan itu ke tempat Launching untuk disulut bersama dengan api kreativitas yang menyala besar. Setiap Anda yang hadir, adalah fondasi bagi masa depan gemilang kreativitas Indonesia di mata dunia. Kami tunggu kehadirannya.

Sunday, June 8, 2008

Ilmu Itu Gratis

Saya ingin sekali menjadikan segala yang bernama ilmu pengetahuan bisa digratiskan dan dimanfaatkan oleh kita semua dengan cara yang semudah-mudahnya. Sehingga negeri ini semakin cepat maju, dan mampu mengejar ketertinggalannya dari kereta masa depan yang terus melaju kencang. Saya percaya, untuk maju secara moral maupun pengetahuan: kuncinya adalah penguatan bidang pendidikan. Lewat jalur sekolah (formal) maupun di luar sekolah (non formal)

Tapi saya juga tidak sedang menentang sekolah-sekolah yang mewajibkan bayaran pada murid-muridnya, asalkan nilainya juga sewajarnya. Jika berlebihan bahkan sampai tak mampu dibayar, tentu dholim namanya.

Saya mulai mencoba dengan berbagi beberapa materi yang pernah saya presentasikan di beberapa kampus, sekolah-sekolah maupun beberapa catatan pribadi yang mungkin berguna dengan cara di-download gratisan. Dikopi sebanyak-banyaknya, disebarin sebanyak-banyaknya.

Memang yang saya bikin belum seberapa dan manfaatnya pun juga belum jelas buat Anda para pembaca blog saya yang tercinta. Saya adalah faqir ilmu yang sok kaya pengalaman (Lho, kok malah bangga!?!?).

Tapi saya mencoba, dan saya berharap Anda yang punya ilmu pengetahuan yang layak dibagikan: bersedialah untuk memberikannya kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, yang karena sebab tertentu tak bisa mendapatkannya di bangku kuliah atau bangku sekolah.

Jadi silakan dinikmati sajian download gratisan di sebelah kanan ini. Semoga saya pun masih dikaruniai Allah kekuatan yang cukup untuk terus menghasilkan apapun yang bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Sekaligus membuat Anda para pengunjung setia blog ini menjadi lebih bijak menjalani kehidupan yang sementara ini.

Monday, June 2, 2008

Froperis

Front Perusak Islam atau disingkat Froperis adalah sekumpulan orang yang sibuk mengatasnamakan dirinya Islam, membela-bela Islam secara naif sambil menuding mereka yang di luar kubunya sebagai bukan Islam. Tidak semua bisa mendaftarkan dirinya menjadi anggota Froperis, kecuali yang memenuhi syarat sebagai berikut:
  • Sok meyakini bahwa Islam adalah agama yang mengutamakan kekerasan dalam mewujudkan ajarannya. Lemah lembut? Gak jaman! Froperis getoo looh...
  • Perbedaan pendapat adalah kafir. Siapa yang kafir? Ya yang berbeda pendapat dengan Froperis donk ahh!
  • Jika menasehati santrinya suka bilang,"Santri semua, kita harus saling menghormati, halus budi pekerti dan sabar. Yang tidak mau sabar nanti saya hajar, saya pukul, saya injak-injak, saya tendang. Pokoknya harus saling menghormati dan halus budi pekerti. Tahu tidakkk!!!!
  • Selalu menentang gerakan yang dianggap menyeleweng dari ajaran Islam (misalnya Ahmadiyah, Alkoholiyah, Hartoniyah, dsb.) sambil melupakan bahwa kekerasan dan adu otot serta pentungan yang menjadi amalan mereka sehari-hari juga bukan ajaran Islam.
  • Tiada hari tanpa mengancam. Yang tidak sholat, diancam. Yang berjudi, diancam. Yang berbeda pendapat, diancam. Yang tidak mengancam, diancam!

Anda tertarik masuk anggota Froperis? Tinggalkan saja iman dan otak Anda di rumah, mereka pasti melarang Anda membawanya karena akan memancing kerusuhan. Dengan iman dan otak yang sehat, Froperis hanya akan jadi tertawaan karena kekonyolannya. Maka karena itulah anggota maupun calon anggota Froperis dilarang tertawa.

Karena tertawa itu sehat. Dan begitu ketahuan sehat, Anda akan segera ditendang keluar dari Froperis. Anda bukan bagian dari mereka lagi. Anda akan dicap kafir. Anda akan diancam-ancam. Anda akan dibubarkan.

Anda akan mengalami nasib yang sama persis seperti Rasulullah yang dilempari batu oleh kaum Thaif setelah berdakwah. Rasulullah yang keningnya berdarah malah justru berdoa,"Ampunilah kesalahan mereka ya Allah, mereka memusuhiku bukan karena mereka jahat. Mereka hanya kaum yang tidak tahu, jadi berikanlah pada mereka petunjuk-Mu."

Saya sungguh bersimpati pada para anggota Froperis. Mereka sebenarnya bukan kumpulan orang jahat. Mereka hanya tidak tahu bahwa untuk membela agama Allah, mereka juga harus tetap berbuat sesuai ajaran-Nya. Mereka mengaji Kitab Suci setiap hari tapi tidak pernah tahu bahwa Islam itu rahmatan lil 'alamin. Rahmat bagi seluruh alam.

Maka saya sungguh bersimpati pada mereka. Jikapun resikonya mungkin mereka akan mengancam saya dalam ketidaktahuannya.

Sunday, June 1, 2008

Maaf, Masjidnya Masih Tutup

Beberapa kali dalam perjalanan saya ke luar kota, saya seringkali harus kecewa ketika ingin mengerjakan sholat ternyata masjidnya tutup. Beberapa di Jogja, di Ambarawa, Jakarta, juga di kota-kota lainnya. Banyak masjid di negeri ini yang hanya buka saat-saat jam sholat wajib saja alias 5 kali sehari. Setelah jam 19.30 usai sholat Isya’ masjid pun tutup. Setelah usai sholat subuh jam 05.30 masjidpun tutup dan baru dibuka kembali saat dhuhur jam 11.45.

Sayapun masygul. Banyak khotib dan ustadz yang mengingatkan pentingnya sholat tahajjud dan sholat dhuha, tapi banyak pula masjid yang menutup pintunya bahkan sampai tempat wudlunya sehingga praktis kita tak bisa sholat meskipun di emperan masjid karena tidak bisa berwudlu. Dan masjid yang tutup begini tak cuma masjid kecil tapi juga masjid yang lumayan besar. Alasannya mungkin klasik, karena tak ada penjaganya maka masjid takut kemalingan sehingga semua dikunci. Atau untuk menghindari jamaah yang suka tidur sembarangan di masjid.


Sebenarnya akan lebih bijak jika barang-barang berharga disimpan di ruang khusus takmir atau penjaga, sehingga masjid dan tempat wudlu tetap bisa diakses 24 jam oleh jamaah. Saya pun percaya bahwa pencuri speaker mesjid, kotak amal atau sajadah ya masih ada di jaman sekarang. Dan kemungkinan mereka juga saudara-saudara kita sesama muslim. Tapi masa' kita mengurangi hak jamaah untuk menghadap Allah hanya karena kecurigaan pada kemungkinan terjadinya pencurian semata? Bukankah jika kita khusyuk mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, Ia akan menjaga rumah-Nya dari kemungkinan keburukan yang akan hadir seperti pencurian kelas teri itu?

Dan kalaupun ada jamaah yang tidur, bisa diingatkan. Toh sebagai rumah Allah, sebaiknya masjid juga welcome jika ada hamba Allah dari luar kota yang kemalaman dan bingung mencari tempat beristirahat tetapi tak punya bekal cukup untuk membayar penginapan yang layak. Bukankah menolong hamba yang kesulitan juga salah satu amal ibadah yang Islam sangat menganjurkan? Tapi mengapa masjid menutup pintu saat ada hamba yang menggigil kedinginan di tengah malam?

Tapi saat waktu sholat jamaah, memang tak boleh ada yang tidur atau tidur-tiduran. Semua yang di masjid sebaiknya jamaah untuk memakmurkan masjid. Umat Islam harus tertib, saya sepenuhya mendukung. Mesjid adalah tempat ibadah, sayapun mengamini.

Di masa kecil saya, saya bahkan dianjurkan oleh santri-santri tetangga saya untuk belajar di masjid sehingga malamnya bisa tahajjud sekalian. Setelah itu, merekapun mengijinkan saya tidur di teras masjid untuk bangun lagi saat jamaah sholat subuh. Setelah itu baru saya akan pulang ke rumah di pagi hari untuk berangkat ke sekolah. Betapa indahnya masa-masa itu, dan betapa saya merasa masjidlah tempat saya bersandar saat saya membutuhkan keteduhan dan ketenangan untuk berfikir, untuk belajar.

Dan karena masjid juga selayaknya memancarkan cahaya rahmatan lil 'alamin: maka seharusnya ia terbuka buat siapapun yang memerlukannya, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Setiap jamaah - baik kaya raya maupun gembel - berhak memasuki pintunya untuk menghadapkan wajah kepada Tuhannya. Masjid tak boleh jadi eksklusif. Masjid harus jadi tempat paling demokratis, menjadi oase di padang pasir tandus kehidupan masyarakat kita yang terus berjuang di tengah makin sulitnya hidup.

Pagi itu saat saya - untuk kesekian kalinya - tidak bisa memasuki tempat wudlu sebuah masjid yang besar untuk sholat dhuha, saya sungguh merasa sedih. Saya pun menyingkir dari rumah Tuhan yang digembok pintunya dan menemukan musholla kecil di sebuah pom bensin. Saya mengadukan ini semua pada-Nya agar tak terulang lagi masa mendatang. Saya tuliskan sekali lagi kesedihan saya ini sebagai upaya saling menasehati dan introspeksi pada diri kita masing-masing sebagai muslim.

Mari kita buka pintu-pintu masjid kita atau tak perlu ada pintunya sekalian. Jika masjid tertutup sampai seorang hamba Tuhan tak bisa memasukinya, saya takut pengelola masjid yang merasa tindakannya benar justru sedang melakukan tindakan yang berdosa tanpa disadarinya...