Mybothsides

Sunday, March 10, 2013

Changevertising


Kemana iklan akan berlabuh di masa depan? Changevertising itu apa? Apa yang perlu diubah?

Kita takkan pernah bisa menggapai pandangan untuk menjangkau masa depan dengan lebih jernih, jika kita terus-menerus disibukkan oleh kegiatan membuat iklan yang telah menjelma rutinitas. Yang telah menjelma riak-riak yang bising tapi kehilangan kekuatannya sebagai gelombang.

Yang telah menyulap kreativitas sebagai sekedar komoditi untuk jualan, sebagai ‘sekedar’ tools untuk men-support penjualan. Melihat fenomena iklan-iklan yang mayoritas berakhir sebagai sampah visual (fisik maupun psikis), kita tidak saja gagal membuat iklan yang baik (good advertisement). Kita bahkan gagal melakukan hal-hal untuk kebaikan (doing good).

Dalam tulisan ini, saya tidak hendak membahas perubahan periklanan dari sisi teknis. Misalnya: bahwa pemasaran secara interaktif itu jauh lebih efektif daripada beriklan. Atau bahwa periklanan yang personal lebih tepat daripada periklanan yang massive. Atau bahwa digital dan online media akan memakan kue iklan lebih rakus daripada offline media macam surat kabar, billboard, spanduk dan sebagainya. Fenomena buzzer, augmented reality, pay per click. Atau hal-hal yang serupa itu.


Karena kita bisa membaca artikel-artikel tentang itu semua, bertebaran di internet. Fokus saya adalah pembenahan mindset para pelaku industri periklanan ini. Untuk diubah. Untuk di-install ulang. Untuk dikoreksi dari kesalahan-kesalahan masa silam.

Ini adalah testimoni saya. Saya mulai koreksi ini dari diri saya sendiri. Ini menjadi cermin bagi saya dan siapa pun yang merasakan ketidakberesan proses di industri yang kita cintai ini.

Merebut Ruang Hening

Di jaman yang serba digital ini, semakin sulit untuk meraih ruang hening, ruang yang terbebas dari intervensi dan interupsi segala hal yang berhubungan dengan iklan. Yang paling mudah dirasakan adalah makin sulitnya menjadi fokus dalam menyelesaikan berbagai tanggung jawab dan tugas-tugas kehidupan. Makin sulit untuk berfikir mendalam, menuangkan fikiran dengan jernih.

Dunia yang makin mencair ini terus mengalirkan informasi dan iklan– yang berguna maupun yang sampah – ke seluruh pelosok negeri bahkan ke sudut-sudut tersembunyi yang gelap di dalam otak kita, prosesor alami maha dahsyat yang kita perlakukan hanya sebagai tempat penyimpanan belaka, sekedar harddisk yang sebentar lagi akan penuh isinya, makin bertambah bad sector-nya dan lantas hang.

Di dalam keseharian, seolah-olah ada pasar yang riuh dengan display jutaan merk yang terus kita bawa kemana-mana tanpa jeda. Membuat otak kita terasa penuh tapi dengan ketidakjelasan apa saja yang memenuhinya. Kita dihempaskan gelombang informasi ke kanan, ke kiri, kemanapun yang bukan kita sendiri penentunya.

Melarikan Diri Entah Kemana

Kelemahan untuk berfokus dan kesulitan untuk diam tenang berfikir ini, sering membawa kita melakukan pelarian kepada hal-hal yang sekedar trend sesaat, isu-isu remeh-temeh yang lagi marak, yang celakanya tak kita pahami substansi permasalahannya selain sekedar remah-remah informasi yang bersliweran di timeline twitter, status facebook, broadcast message atau gosip ria di cafe-cafe. Kita memenuhi otak kita dengan sampah informasi yang terus menggunung tanpa kesadaran untuk membersihkannya, karena sampah informasi itu tak terlihat.

Tapi sungguh kita pasti bisa merasakannya. Alarm tanda bahaya itu akan mengirimkan sinyal: sulitnya menentukan prioritas, tidak bisa berpisah dengan gadget, mudah lupa, bingung mau melakukan apa karena dalam waktu bersamaan banyak tanggung jawab yang belum diselesaikan, mudah panik, tidak bisa mengatur waktu, mudah capek, melakukan aktivitas yang kita tidak tahu apa manfaatnya selain untuk membunuh waktu, meng-install gadget dengan ratusan apps yang fungsi utamanya hanyalah untuk menghias layar semata atau memenuhi kereta belanja dengan belanjaan yang tidak begitu jelas manfaatnya hanya karena sedang ada diskon besar. Dan masih banyak lagi yang serupa itu.

Tidak mudah menolak gelombang maha besar yang akan menenggelamkan mayoritas kita dalam hiruk pikuk permasalahan di setiap segi kehidupan. Kita adalah makhluk individu sekaligus sosial sekaligus offline sekaligus online yang akan terseret-seret gelombang ini karena bukan kita yang mengendalikan pusarannya.

Bangsa dengan 250-an juta penduduknya ini mayoritas adalah user, konsumen, market. Belum beranjak jadi produsen, kreator, leader. Kita berkiblat pada Amerika, Eropa, Jepang, Korea, Cina. Kita berkiblat pada apapun yang bukan berasal dari negeri kita sendiri.

Kita berkiblat pada mereka yang bekerja keras untuk menciptakan masa depan versi mereka, karena kita tak cukup keras berjuang menciptakan masa depan versi kita sendiri.

Dalam hiruk pikuk, yang paling mudah adalah mengikuti arus. Dalam banjir bandang informasi, yang paling mudah adalah mengikuti arus. Dalam kebingungan, yang paling mudah adalah mengikuti apa kata orang banyak. Dalam ketidakjelasan, yang paling mudah adalah mengikuti petunjuk entah dari siapa.

Maka larislah dukun-dukun, paranormal, politisi yang hobinya menyebar uang untuk transaksi suara, infotainment yang ahli mengemas berita sampah, sinetron yang tak pernah meningkat mutunya sejak jaman Brama Kumbara.

Melahirkan Cahaya

Lha ini semua salah siapa? Darimana pembenahannya? Terus dibenahi untuk menjadi apa?

Jawabnya: pusing.

Serius nih. Pilihannya, kalau kita memilih ikut arus maka kita akan pusing dan itu selamanya. Perang harga, perang diskon, perang rebutan klien, order, SDM kreatif, dan perang-perang kekanak-kanakan lainnya yang membuat kita makin tak bisa ber-bhinneka tunggal ika di industri ini.

Tapi kalau kita memilih untuk berdiam sejenak, mengambil jarak dari hiruk-pikuk realitas bisnis sehari-hari, berfikir jernih dan menimbang-nimbang kebaikan serta menyiapkan terobosan yang akan mengubah aturan main di ranah periklanan ini: kita juga akan tetap pusing bahkan dengan tingkat kepusingan yang lebih hebat, tapi kita akan menemukan secercah cahaya di ujungnya.

Cahaya yang bukan berasal dari Madison Avenue sana atau dari kantor-kantor pusat raksasa periklanan dunia. Melainkan cahaya yang meskipun awalnya kecil, tapi berasal dari kita sendiri. Karena cepat atau lambat, kita akan melihat kreativitas mulai menggeliat menemukan ruangnya di dunia nyata dan maya dari tempat-tempat yang kita tak pernah sangka-sangka. Cahaya itu akan bermunculan menerobos kegelapan dari titik-titik kreativitas di Brosot, Nganjuk, Bangkalan, Ubud, Tebing Tinggi, Sabang, Belitung dan kota-kota lainnya yang belum terpetakan di Google map.

Dengan menunggangi gelombang kemajuan teknologi komunikasi, kota-kota itu dihidupkan oleh para pemenang yang bersedia berpusing ria untuk sesuatu yang akan mengubah format, cara dan strategi beriklan selama-lamanya. Andakah calon pemenang itu? Atau saya? Atau kita semua?

Siapapun yang memiliki keyakinan untuk menghidupkan industri periklanan ini dengan sepenuh hatinya, saya yakin tidak akan mudah putus asa melihat caut-marutnya kondisi industri ini dalam jaman yang terus berubah tanpa kompromi.

Siapapun yang terus berharap industri periklanan ini tidak hanya menambah tingkat konsumtifisme bangsa ini dan memproduksi sampah visual terus menerus.

Siapapun yang terus berharap industri periklanan ini juga akan menyumbangkan satu demi satu batu bata bagi berdirinya sebuah bangunan ke-Indonesia-an yang maju, yang unggul dan menjadi bangsa yang BESAR (yes, dengan semua huruf kapital).

Merekalah para pemenang sejati.

3 comments:

Pandu Aji Wirawan said...

Terima kasih Mas Arief buat wejangannya, sangat memotivasi saya.

w h i z i s m e said...

saatnya blogger menjadi megaphone produsen untuk beriklan dengan social buzznya :)

Targo said...

Wejangan Asik :)