Mybothsides

Monday, May 22, 2006

The Power of Local Ideas



Disampaikan Dalam Forum FDGI & Friend #9
QB Bookstore Kemang, JakartaSabtu, 20 Mei 2006

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah ide sederhana: bagaimana mengubah pola hidup sehari-hari yang terlanjur dianggap biasa dan wajar. Memberikan muatan dan nilai-nilai baru, melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Atau mengeluarkan pikiran kita dari kebiasaan lama menuju ke sebuah atmosfer yang bener-bener fresh. Yang bisa membuka katup-katup ide, menciptakan hal-hal baru yang menarik, yang berbeda.

Karena di situlah sebenarnya ruang-ruang kreativitas baru bisa dibangun. Di situlah ide-ide besar yang bisa mempengaruhi ratusan juta orang di seluruh dunia punya kemungkinan terbesar untuk diciptakan.

Mengambil Jarak

Mari melihat hidup kita, pekerjaan kita, teman-teman kita, lingkungan dan budaya kita: dengan memakai sudut pandang lain, bahkan yang belum pernah kita perkirakan sebelumnya. Coba bayangkan melihat rumah kita dari sudut pandang seekor burung elang (bird’s view), sudut pandang katak (frog’s view) atau bahkan melihatnya dari permukaan bulan. Di mana rumah kita tertutup atmosfer setebal ratusan kilometer dan menghilang di balik milyaran titik di muka bumi. Menjadi setitik debu di hamparan padang pasir.

Archimedes menemukan hukum tentang massa jenis di sebuah bak mandi, bukan di ruang kuliah atau laboratorium. Ia lari telanjang sambil berteriak,”Eureka!” Orang-orang yang melihatnya menganggap dia gila, tapi saat ini sekolah-sekolah ‘untuk orang waras’ di seluruh dunia dengan sadar menggunakan rumus penemuannya. Van Gogh potong kuping, setelah dia meninggal karyanya malah jadi masterpiece dan dibeli orang dengan harga paling mahal. Isaac Newton mendapatkan teori gravitasinya ‘hanya’ dengan mengamati jatuhnya buah apel. IDEO, sebuah perusahaan desain paling inovatif di Amerika mendapatkan ide-ide besarnya bukan dari lapangan bermainnya sendiri melainkan dari tempat pembuangan sampah, toko mainan, supermarket dan taman kanak-kanak.

Ide bisa berasal dari mana saja. Asal kita jeli mengamatinya, dan tidak sekedar mengambil ide itu mentah belaka. Mengutip Steve Jobs, kita harus membentuk kembali ide-ide dasar dari realitas alam itu dengan pemikiran dan kreativitas kita. Dengan itu kita menandai sejarah, tidak sekedar larut di dalamnya.

Dengan mengambil jarak dari persoalan rutin sehari-hari, kita bisa mencerna substansi dari hiruk pikuk kegiatan yang kita lakukan tanpa henti. Makan, minum, tidur, berangkat ke kantor, ngejar bis kota, terjebak macet di jalan, dan seterusnya. Dengan menarik nafas panjang dan merenungkannya, kita bisa membedakan antara pekerjaan yang penting dan pekerjaan yang mendesak. Yang substansial dan aksesoris. Dengan jeda dan istirahat, otak kita akan terasah lagi kemampuannya dan tidak cepat aus karena terforsir setiap saat. Kemampuan membedakan dua hal tersebut akan sangat berpengaruh pada pilihan tindakan-tindakan kita selanjutnya.

Melihat Potensi, Tidak Sekedar Realitas

Tuhan menganugerahi kita sepasang mata yang indah, untuk mengeja obyek-obyek dalam jangkauan pandangan kita. Jika kita bisa memaksimalkan fungsi ini, kita akan mendapatkan banyak sekali pelajaran dan keindahan. Mata adalah elemen terpenting estetika, dengannya kita bisa menikmati seribu warna yang menghias alam semesta.

Tapi ada baiknya jika kita tidak menggantungkan sepenuhnya penilaian atas pandangan mata yang bersifat fisik ini. Karena pandangan visual ini bukan satu-satunya. Lagipula kemampuannyapun – karena sifatnya yang physical – menjadi terbatas. Mata hanya mampu melihat realitas: menyerap kenyataan seperti adanya.

Ada sebuah pandangan yang bisa menjangkau lebih jauh, yang bahkan melampaui ruang dan waktu. Para psikolog menyebutnya pandangan pikiran. Pandangan ini bersifat spiritual dan hanya melihat potensi (Dr. David J. Schwartz, The Magic of Thinking Success) Pandangan ini adalah modal terbesar bagi seseorang untuk memiliki sebuah visi yang jelas di masa depan. Adalah kemampuan melihat tidak saja dalam ruang yang berbeda, tapi juga waktunya. Seorang visioner mampu melihat 5 atau 10 tahun ke depan, membayangkan kondisi ideal sampai detailnya dan membuat rencana-rencana sistematis untuk mewujudkannya. Seorang visioner adalah kreator yang antisipatif, bukan seorang follower yang reaktif.

Sampah yang menggunung, antrian di bank, penumpang yang penuh sesak di bis kota adalah teks bebas yang bisa diapresiasi secara berbeda atau bahkan bertolak belakang oleh seorang normal dengan pandangan visual belaka dan seorang visioner dengan pandangan pikiran.

Yang pertama akan melihatnya biasa saja. Tidak ada sedikitpun yang membekas di pikirannya. Yang kedua akan melihatnya sebagai peluang dan kesempatan. Dalam pandangan seorang visioner, setumpuk sampah bisa menjadi berton-ton pupuk atau karya seni instalasi. Antrian di bank bisa dimanfaatkan untuk membaca buku atau mengamati perilaku orang. Penumpang sesak bisa jadi ide iklan minuman ringan atau minyak wangi.

Peluang-peluang emas seperti ini tidak terlihat oleh mata biasa, lalu lenyap dan berganti pandangan lain. Datangnya tanpa peringatan, perginyapun tanpa kesan.

Apa yang Salah Dengan Ide Kelas Lokal?

Hidup kita telah dikendalikan oleh gengsi, dalam segala bentuknya. Termasuk persetujuan implisit kita tentang kasta-kasta: ini agency Jakarta, itu agency daerah. Perusahaan multinasional, perusahaan nasional, perusahaan lokal. Mentalitas bangsa terjajah telah membuat kita sulit bersikap egaliter, pilihannya tinggal sombong (buat yang merasa kelasnya lebih tinggi) atau minder (buat yang tidak percaya diri).

Celakanya, dalam hal pengolahan ide kreatifpun kasusnya gak jauh beda. Dikit-dikit menjurusnya ke stereotip: kalo ide yang global itu begini, yang lokal itu begitu. Contoh jamak yang disebut elemen lokal Jogja itu biasanya batik, tugu, keraton, blangkon, bakpia dan semacamnya yang sudah mulai terasa membosankan. Tapi apakah ada satu hukum yang mewajibkan bahwa kalo bicara Jogja maka mesti menggunakan elemen-elemen itu? Semacam kita harus ikut Penataran P4 baru bisa dianggap telah mengamalkan Pancasila?

Tidak toh? Kita sendiri yang takut dianggap melanggar adat jika tidak seperti kebanyakan orang. Kita terbiasa bersikap inferior, sadar atau tidak sadar.

Padahal Thailand dan India sukses mengekspor nilai lokalnya menjadi aset kreatif yang laku terjual di dunia internasional. Lihat film-film Bollywood yang di tanah kelahirannya selalu mengalahkan penonton film Hollywood. Ide humor-humor sarkastik Thailand menyapu habis award di Adfest. Cina menikmati penghargaan tertinggi lewat Crouching Tiger Hidden Dragon. Indonesia? Puas menjadi penonton keberhasilan negara-negara tetangga sambil bersyukur masih bisa korupsi.

Tapi ya memang tidak semua aspek lokal bisa menarik untuk diangkat menjadi sebuah point of interest dan mampu menciptakan stopping power yang kuat. Jika kita tidak hati-hati dan hanya mengekor tradisi, maka output kreatifpun akan menjadi usang, obsolete, tidak dilirik orang. Misalnya elemen-elemen konvensional khas Jogja tadi. Lupakan semua itu dan tawarkan hal-hal baru. Paling tidak elemen lama itu di-treatment khusus: batiknya mau diapain biar unik, tugunya diambil dari angle sebelah mana biar beda, keratonnya diambil sudut sebelah mana yang tak pernah dilihat orang, blangkonnya di-trace agar lebih ngepop, dll. Peran kreativitas sangat penting untuk ‘menyulap’ hal-hal biasa menjadi berbeda dan unik.

Memahami kultur yang akan kita angkat menjadi sebuah tema dalam desain grafis adalah hal mutlak yang harus kita kuasai. Tanpa pemahaman yang mendalam, maka proses untuk meng-akulturasikannya dengan aspek global tidak saja bisa mengakibatkan salah persepsi tapi bahkan bisa menjadi bumerang akibat penerimaan negatif target audiens.

Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membawa muatan lokal yang begitu unik, menarik dan bisa diterima oleh audiens yang bahkan tidak mengerti secara jelas kultur budaya yang diangkatnya dalam sebuah karya desain grafis.

Karena tidak semua kultur lokal bisa diangkat menjadi bahasa global, ada kemungkinan kultur di suatu daerah bisa bertentangan dengan daerah lain. Contoh kecil: ‘kates’ dalam bahasa Jawa berarti ‘pepaya’, tapi dalam bahasa Sunda berarti ‘pisang’.

Bahkan, yang dianggap baik di suatu komunitas, bisa dianggap sangat buruk di komunitas yang lain. Ketelanjangan di Papua dianggap biasa, tapi jangan coba diterapkan di Aceh, misalnya. Pemahaman atas dua hal ini akan banyak membantu tercapainya proses transformasi pesan yang benar-benar pas pada audiensnya, sehingga tercipta ‘desain grafis plus’, yang pengaruhnya melebar melewati batas-batas lokalitasnya sendiri.

Bercermin pada apa yang kami lakukan Petakumpet untuk meng-create aspek local contents dalam menghasilkan ide: pemahaman mendalam terhadap insight audiens didukung ketelitian mengamati hal-hal kecil yang unik dan menyentuh dalam keseharian adalah modal terciptanya ide-ide segar yang membumi.

Seperti misalnya yang pernah kita lakukan untuk seri iklan Kedaulatan Rakyat (versi Punker, Bencong dan Mengambil Bola) dimana telah ditentukan tagline-nya ‘migunani tumraping liyan’ yang jika disajikan mentah-mentah akan membuat banyak orang bertanya-tanya maksudnya apa. Dari sana timbul ide untuk mengemasnya dengan bahasa visual yang lebih bisa dimengerti oleh lebih banyak orang (bukan hanya yang paham bahasa Jawa) tapi tetap dengan tampilan desain yang unik, yang khas. Kita juga masih tambahkan terjemahan bebas dari tagline tersebut, semata-mata untuk mengurangi bias komunikasi yang mungkin timbul.

Mari Menabrak Pagar

Lalu apa yang mesti kita lakukan untuk membongkar mentalitas kita telah ditumbuhi lumut itu? Satu hal yang pasti: kesuksesan yang kini dinikmati oleh rekan-rekan kreatif kita dari negara-negara tetangga itu bukan bakat bawaan lahir, tidak berhubungan dengan faktor keturunan. Pandangan hidup penuh percaya diri itu adalah keahlian yang bisa diasah dan dilatih. Dengan keberanian, ketekunan dan konsistensi.

Tidak ada kesuksesan instant. Padi tidak akan menguning sebelum waktunya dan ayam tidak mungkin bertelur sebelum cukup umurnya. Pandangan pikiran juga masuk dalam hukum alam seperti itu: waktu memegang peranan sangat penting. Setiap detik dan menitnya.

Keberuntungan akan lebih sering datang pada orang yang terlatih dan telah menyiapkan dirinya. Tidak setiap orang pernah melihat bintang jatuh, tapi saya yakin jika ada yang bersedia menunggunya dengan teratur, bersedia mempelajari pola bintang jatuh dan mempunyai sebuah teleskop: dia akan menyaksikan lebih banyak bintang jatuh. Jika melihat bintang jatuh dianggap perlambang sebuah keberuntungan, maka melihatnya berkali-kali akan menjadikannya mukjizat.

Mulailah dengan menabrak kebiasaan-kebiasaan lama yang telah dianggap kebenaran yang mutlak dengan sadar dan terencana. Siapkan pemberontakan kecil-kecilan. Dan pertahankan orisinalitas keyakinan itu. Dengan konsisten. Karena pasti akan banyak orang yang dengan senang hati mengatakan padamu betapa bodohnya kamu dengan pilihan tindakan itu. Akan banyak orang yang memprediksikan kamu akan gagal, meskipun mereka sendiri belum pernah mencoba sedikitpun. Resikonya memang tidak ringan, karena imbalannya juga tidak kecil.

Saya punya koleksi beberapa ide nabrak pagar. Misalnya, pernah memikirkan untuk menikah di kuburan? Pernah merenungkan sebuah ide di atas pohon kelapa? Jika Anda jagoan menggambar dengan tangan kanan, pernahkah menggambar dengan tangan kiri? Menulis sambil menutup mata? Berjalan normal sambil tersenyum dalam hujan lebat melewati orang yang sedang berlarian atau berteduh? Makan nasi dengan lauk buah-buahan? Minum kopi sambil – sorry – buang air besar?

Saya hanya ingin membuka ruang seluas-luasnya. Lupakan dulu tentang sopan santun dan etika. Atau aturan baku lainnya. Tabrak saja dulu. Bebaskan semua belenggu yang telah mencengkeram otak kita sejak kecil. Rasakan imajinasi yang melayang bebas seperti burung terbang mengukur tingginya langit. Rasakan segarnya udara yang memenuhi ruang tak terbatas. Rasakan kaki-kaki yang berlari melesat ke masa depan dengan gerakan yang luar biasa ringannya.

Apakah kebebasan yang Anda rasakan dalam pikiran itu membuat Anda menjadi senang, bahagia, inspired atau justru malah takut?

Keraguan Adalah Awal yang Baik

Meninggalkan kebiasaan lama memang tidak mudah. Selalu ada keraguan ketika memutuskan untuk berubah: keluar dari zona kenyamanan yang biasa kita nikmati setiap hari dan menuju wilayah baru yang asing dan tak terpetakan. Ini adalah sebuah gejala yang wajar, sewajar adik bayi yang demam ketika mendapat suntikan vaksin. Jika keraguan atau ketakutan mulai menyerang, maka tersenyumlah. Keraguan akan mematangkan pertimbangan kita sebagai salah satu mekanisme internal control. Setelah itu, tutuplah semua pintu yang bisa membuatmu menoleh ke belakang. Bakar semua perahu penyelamatmu seperti Jabal Tariq. Sehingga satu-satunya jalan yang tersisa buatmu hanyalah ke depan. Dan teruslah melangkah.

Se-simple itu. Meskipun tentu saja tidak semudah ketika menuliskannya. Tapi yang jelas, segala sesuatunya rasional dan bisa dinalar dengan akal sehat.

Landskap masa depan ditentukan oleh sekelompok minoritas yang ide-ide besarnya semula dianggap asing, tidak wajar bahkan gila. Mereka yang terus maju ke depan karena keyakinan yang kuat, ketika orang-orang di sekitarnya tertawa mencemoohkan. Orang-orang langka seperti ini akan menjadi gelombang yang tidak terhentikan. Yang tidak saja akan menghempaskan milyaran buih ke pantai, tapi juga meruntuhkan karang-karang yang terjal.

Seorang bijak pernah berkata, resiko terbesar dalam hidup adalah tidak pernah berani mengambil resiko. Dan keteguhan atas sebuah visi di masa depan – kata Goethe – menyimpan kekuatan, kejeniusan dan keajaibannya sendiri. Keberuntungan akan datang bahkan tanpa pernah disangka-sangka. Sejarah banyak mencatat kebenaran kata-kata sederhana ini, jika kita mau belajar darinya.

Dan kembali ke topik awal yang judulnya sok barat itu, saya tidak menawarkan banyak hal lewat tulisan ini. Saya percaya bahwa ide-ide lokal sangat punya potensi kekuatan, justru karena kelokalannya. Ide kreatif yang berangkat dari lokalitas itu jumlahnya jutaan, dan jika diolah maksimal akan menjelma jadi masterpiece berkelas internasional.

Tidak percaya? Mari kita buktikan lima tahun dari sekarang. Jika kita – insan kreatif Indonesia - terus berproses bersama-sama dan tidak menyerah.

No comments: