dua sisi kehidupan
Tuesday, May 14, 2013
Buku Tuhan Sang Penggoda
Tuesday, April 23, 2013
Me with Alia
Label:
Family
| Reaksi: |
Tuesday, April 2, 2013
Good. Better. Best.
Different
and new is relatively easy. Doing something that's genuinely better is
very hard.
Jonathan Ive
Senior Vice
President Apple
Setiap orang
bicara perubahan. Setiap motivator dan pembicara seminar bicara perlunya mengubah diri. Diri
kita sendiri yang melihat kondisi sehari-hari yang seolah stagnan, negara yang
seperti dijalankan dengan auto pilot, tahu betul bahwa perubahan itu sebuah keniscayaan
dan harus diperjuangkan.
Tapi mengapa
bangsa ini rasanya tak cukup cepat untuk maju? Karena mayoritas yang ingin
berubah, hanya punya keinginan saja. Dan hampir tak melakukan apa-apa. Mereka
menunggu orang lain untuk melakukan perubahan. Jika orang itu sukses, maka
berbondong-bondonglah orang banyak untuk mengikuti. Jika gagal, maka tamatlah
riwayatnya. Yang ada hinaan, ejekan dan tertawaan.
Kita telah
menjelma menjadi bangsa yang senang melihat orang lain susah dan susah melihat
orang lain senang.
Resiko untuk
melakukan perubahan itu berat. Bahkan sangat berat. Makanya tak banyak yang mau
mencoba. Perubahan itu lebih enteng dibicarakan, daripada dipraktekkan.
Kita
mengenal Dahlan Iskan. Jokowi. Basuki. Iwan Fals. Emha Ainun Nadjib. Yusuf
Mansur. Steve Jobs. Jeff Bezos. Google. Dan masih banyak lainnya.
Nama-nama
yang identik dengan spirit perubahan. Spirit perjuangan untuk mewujudkan
hal-hal tertentu dengan lebih baik. Tapi karena berada dalam sebuah sistem
birokrasi dan bernegara yang cenderung mengabdi pada status quo, maka yang
mereka lakukan seringkali 'dianggap' di luar kebiasaan.
Padahal,
yang dilakukan biasa-biasa saja, tindakan mereka memang sudah seharusnya. Tapi
karena lingkungan sekitarnya sedang terdegradasi standar kualitasnya, maka yang
biasa dan sepantasnya menjadi seolah hebat luar biasa.
Untuk
berubah, kita mulai dari hal-hal yang kecil dulu. Yang terjangkau. Yang tidak
sekedar angan-angan atau gosip yang bertebaran. Yang penting diimplementasikan.
Kenyamanan
itu lawan perubahan. Kenikmatan itu meninabobokkan. Dan itu semua harus
ditinggalkan.
Tulisan ini
diketik di HP touch screen, 3,5 inch. Bukan di layar komputer yang lebar dan
nyaman. Agak menyulitkan dan sering salah ketik karena screen-nya kecil, tapi
jika diniatkan toh bisa juga.
Tidak mudah
artinya bisa. Tidak mungkin itu artinya putus asa. Atau sekedar malas
saja.
Saatnya mengubah
diri kita ini, dengan tindakan nyata. Bukan sekedar tulisan atau kata-kata.
Bukan hanya agar sekedar berbeda, tapi agar menjadi lebih baik.
Menjadi jauh
lebih baik.
Label:
Advertising,
Ideas,
Thoughts
| Reaksi: |
Thursday, March 14, 2013
Company Profile Petakumpet
Label:
Petakumpet
| Reaksi: |
Sunday, March 10, 2013
Changevertising
Kemana iklan akan berlabuh di masa depan? Changevertising itu apa? Apa yang perlu diubah?
Kita takkan pernah bisa menggapai
pandangan untuk menjangkau masa depan dengan lebih jernih, jika kita
terus-menerus disibukkan oleh kegiatan membuat iklan yang telah menjelma
rutinitas. Yang telah menjelma riak-riak yang bising tapi kehilangan
kekuatannya sebagai gelombang.
Yang telah menyulap kreativitas sebagai
sekedar komoditi untuk jualan, sebagai ‘sekedar’ tools untuk men-support
penjualan. Melihat fenomena iklan-iklan yang mayoritas berakhir sebagai sampah
visual (fisik maupun psikis), kita tidak saja gagal membuat iklan yang baik (good advertisement). Kita bahkan gagal
melakukan hal-hal untuk kebaikan (doing
good).
Dalam tulisan ini, saya tidak hendak
membahas perubahan periklanan dari sisi teknis. Misalnya: bahwa pemasaran
secara interaktif itu jauh lebih efektif daripada beriklan. Atau bahwa
periklanan yang personal lebih tepat
daripada periklanan yang massive.
Atau bahwa digital dan online media akan memakan kue iklan
lebih rakus daripada offline media
macam surat kabar, billboard, spanduk
dan sebagainya. Fenomena buzzer, augmented reality, pay per click. Atau hal-hal
yang serupa itu.
Image from: http://www.augmentedplanet.com/wp-content/uploads/2010/04/augmented-reality-windscreen.jpg
Karena kita bisa membaca
artikel-artikel tentang itu semua, bertebaran di internet. Fokus saya adalah
pembenahan mindset para pelaku
industri periklanan ini. Untuk diubah. Untuk di-install ulang. Untuk dikoreksi dari kesalahan-kesalahan masa silam.
Ini adalah testimoni saya. Saya mulai
koreksi ini dari diri saya sendiri. Ini menjadi cermin bagi saya dan siapa pun
yang merasakan ketidakberesan proses di industri yang kita cintai ini.
Merebut Ruang Hening
Di jaman yang serba digital ini,
semakin sulit untuk meraih ruang hening, ruang yang terbebas dari intervensi
dan interupsi segala hal yang berhubungan dengan iklan. Yang paling mudah
dirasakan adalah makin sulitnya menjadi fokus dalam menyelesaikan berbagai
tanggung jawab dan tugas-tugas kehidupan. Makin sulit untuk berfikir mendalam,
menuangkan fikiran dengan jernih.
Dunia yang makin mencair ini terus
mengalirkan informasi dan iklan– yang berguna maupun yang sampah – ke seluruh
pelosok negeri bahkan ke sudut-sudut tersembunyi yang gelap di dalam otak kita,
prosesor alami maha dahsyat yang kita perlakukan hanya sebagai tempat
penyimpanan belaka, sekedar harddisk yang sebentar lagi akan penuh isinya,
makin bertambah bad sector-nya dan
lantas hang.
Di dalam keseharian, seolah-olah ada
pasar yang riuh dengan display jutaan
merk yang terus kita bawa kemana-mana tanpa jeda. Membuat otak kita terasa
penuh tapi dengan ketidakjelasan apa saja yang memenuhinya. Kita dihempaskan
gelombang informasi ke kanan, ke kiri, kemanapun yang bukan kita sendiri
penentunya.
Melarikan Diri Entah Kemana
Kelemahan untuk berfokus dan kesulitan
untuk diam tenang berfikir ini, sering membawa kita melakukan pelarian kepada
hal-hal yang sekedar trend sesaat,
isu-isu remeh-temeh yang lagi marak, yang celakanya tak kita pahami substansi
permasalahannya selain sekedar remah-remah informasi yang bersliweran di timeline twitter, status facebook, broadcast message atau gosip ria di
cafe-cafe. Kita memenuhi otak kita dengan sampah informasi yang terus
menggunung tanpa kesadaran untuk membersihkannya, karena sampah informasi itu
tak terlihat.
Tapi sungguh kita pasti bisa
merasakannya. Alarm tanda bahaya itu akan mengirimkan sinyal: sulitnya
menentukan prioritas, tidak bisa berpisah dengan gadget, mudah lupa, bingung mau melakukan apa karena dalam waktu
bersamaan banyak tanggung jawab yang belum diselesaikan, mudah panik, tidak
bisa mengatur waktu, mudah capek, melakukan aktivitas yang kita tidak tahu apa
manfaatnya selain untuk membunuh waktu, meng-install gadget dengan ratusan apps
yang fungsi utamanya hanyalah untuk menghias layar semata atau memenuhi
kereta belanja dengan belanjaan yang tidak begitu jelas manfaatnya hanya karena
sedang ada diskon besar. Dan masih banyak lagi yang serupa itu.
Tidak mudah menolak gelombang maha
besar yang akan menenggelamkan mayoritas kita dalam hiruk pikuk permasalahan di
setiap segi kehidupan. Kita adalah makhluk individu sekaligus sosial sekaligus offline sekaligus online yang akan terseret-seret gelombang ini karena bukan kita
yang mengendalikan pusarannya.
Bangsa dengan 250-an juta penduduknya
ini mayoritas adalah user, konsumen, market. Belum beranjak jadi produsen,
kreator, leader. Kita berkiblat pada
Amerika, Eropa, Jepang, Korea, Cina. Kita berkiblat pada apapun yang bukan
berasal dari negeri kita sendiri.
Kita berkiblat pada mereka yang bekerja
keras untuk menciptakan masa depan versi mereka, karena kita tak cukup keras
berjuang menciptakan masa depan versi kita sendiri.
Dalam hiruk pikuk, yang paling mudah
adalah mengikuti arus. Dalam banjir bandang informasi, yang paling mudah adalah
mengikuti arus. Dalam kebingungan, yang paling mudah adalah mengikuti apa kata
orang banyak. Dalam ketidakjelasan, yang paling mudah adalah mengikuti petunjuk
entah dari siapa.
Maka larislah dukun-dukun, paranormal, politisi yang hobinya menyebar uang untuk transaksi suara, infotainment yang ahli mengemas berita sampah, sinetron yang tak pernah meningkat mutunya sejak jaman Brama Kumbara.
Melahirkan Cahaya
Lha ini semua salah siapa? Darimana
pembenahannya? Terus dibenahi untuk menjadi apa?
Jawabnya: pusing.
Serius nih. Pilihannya, kalau kita
memilih ikut arus maka kita akan pusing dan itu selamanya. Perang harga, perang
diskon, perang rebutan klien, order, SDM kreatif, dan perang-perang
kekanak-kanakan lainnya yang membuat kita makin tak bisa ber-bhinneka tunggal ika di industri ini.
Tapi kalau kita memilih untuk berdiam
sejenak, mengambil jarak dari hiruk-pikuk realitas bisnis sehari-hari, berfikir
jernih dan menimbang-nimbang kebaikan serta menyiapkan terobosan yang akan
mengubah aturan main di ranah periklanan ini: kita juga akan tetap pusing
bahkan dengan tingkat kepusingan yang lebih hebat, tapi kita akan menemukan
secercah cahaya di ujungnya.
Cahaya yang bukan berasal dari Madison
Avenue sana atau dari kantor-kantor pusat raksasa periklanan dunia. Melainkan
cahaya yang meskipun awalnya kecil, tapi berasal dari kita sendiri. Karena
cepat atau lambat, kita akan melihat kreativitas mulai menggeliat menemukan
ruangnya di dunia nyata dan maya dari tempat-tempat yang kita tak pernah
sangka-sangka. Cahaya itu akan bermunculan menerobos kegelapan dari titik-titik
kreativitas di Brosot, Nganjuk, Bangkalan, Ubud, Tebing Tinggi, Sabang,
Belitung dan kota-kota lainnya yang belum terpetakan di Google map.
Dengan menunggangi gelombang kemajuan
teknologi komunikasi, kota-kota itu dihidupkan oleh para pemenang yang bersedia
berpusing ria untuk sesuatu yang akan mengubah format, cara dan strategi beriklan selama-lamanya. Andakah calon
pemenang itu? Atau saya? Atau kita semua?
Siapapun yang memiliki keyakinan untuk
menghidupkan industri periklanan ini dengan sepenuh hatinya, saya yakin tidak
akan mudah putus asa melihat caut-marutnya kondisi industri ini dalam jaman
yang terus berubah tanpa kompromi.
Siapapun yang terus berharap industri
periklanan ini tidak hanya menambah tingkat konsumtifisme bangsa ini dan memproduksi
sampah visual terus menerus.
Siapapun yang terus berharap industri
periklanan ini juga akan menyumbangkan satu demi satu batu bata bagi berdirinya
sebuah bangunan ke-Indonesia-an yang maju, yang unggul dan menjadi bangsa yang
BESAR (yes, dengan semua huruf
kapital).
Merekalah para pemenang sejati.
Label:
Advertising,
Desain Grafis,
Thoughts
| Reaksi: |
Wednesday, February 13, 2013
Selamat Pagi
Label:
Puisi
| Reaksi: |
Tuesday, February 5, 2013
Sibuk Entah Untuk Apa
Kita berpacu, berpacu, berpacu
Kita begitu sibuk berpacu
Tanpa sempat berfikir untuk apa kita berpacu
Atau perlukah kita berpacu
Kita berpacu karena orang lain berpacu
Kita berpacu karena takut berbeda dengan yang lain
Kita berpacu karena kita tak tahu apa yang harus kita lakukan selain menjadi
orang lain
Kita berpacu karena kita tak tahu apa yang harus kita lakukan selain
berpacu
Kita berpacu meninggalkan diri sendiri yang terus bertanya-tanya mengapa harus terus berpacu sampai habis waktu
-----------------------
Di jaman yang serba digital ini, semakin sulit untuk meraih ruang
hening, ruang yang terbebas dari intervensi dan interupsi segala hal yang
berhubungan dengan internet. Yang paling mudah dirasakan adalah makin sulitnya
menjadi fokus dalam menyelesaikan berbagai tanggung jawab kehidupan. Makin
sulit untuk berfikir mendalam, menuangkan fikiran dengan jernih.
Di dalam keseharian, seolah-olah ada pasar yang riuh yang terus kita
bawa kemana-mana tanpa jeda. Membuat otak kita terasa penuh tapi dengan
ketidakjelasan apa saja yang memenuhinya. Kita dihempaskan gelombang informasi
ke kanan, ke kiri, kemanapun yang bukan kita sendiri penentunya. Waktu pun
menggelinding begitu cepatnya tanpa kita punya daya untuk mengendalikan. Baru
mulai kerja di pagi hari, online
sebentar tahu-tahu udah adzan dhuhur. Baru makan siang, diskusi sebentar
tahu-tahu udah Asar. Baru mau kirim email tak terasa hari sudah gelap dan Maghrib
berkumandang. Baru kemarin Senin, eh tahu-tahu sudah Senin lagi. Dan ini berlangsung terus menerus, tanpa kita kuasa untuk
mengerem, untuk berhenti sejenak.
Kelemahan untuk berfokus dan kesulitan untuk diam tenang berfikir ini,
sering membawa kita melakukan pelarian kepada hal-hal yang sedang hot, isu yang
yang lagi marak, yang celakanya tak kita pahami substansi permasalahannya
selain sekedar remah-remah informasi yang bersliweran di timeline twitter, status facebook,
broadcast message atau gosip ria di cafe-cafe. Kita memenuhi otak kita dengan
sampah informasi yang terus menggunung tanpa kesadaran untuk membersihkannya, karena
sampah informasi itu tak terlihat.
Tapi sungguh kita pasti bisa merasakannya. Alarm tanda bahaya itu akan
mengirimkan sinyal: sulitnya menentukan prioritas, tidak bisa berpisah dengan gadget, mudah lupa, bingung mau
melakukan apa karena dalam waktu bersamaan banyak tanggung jawab yang belum
diselesaikan, mudah panik, tidak bisa mengatur waktu, mudah capek, melakukan
aktivitas yang kita tidak tahu apa manfaatnya selain untuk membunuh waktu, online ria tanpa kenal waktu, memenuhi gadget dengan ratusan apps yang fungsi utamanya hanyalah untuk
memenuhi layar semata. Dan masih banyak lagi yang serupa itu.
Image pinjem dari: http://mrjgoyeneche.files.wordpress.com/2011/05/social-media-multi-tasking.jpg
Di awal Januari 2013, dalam sebuah forum diskusi Wedangan di Petakumpet, saya sampaikan
bahwa selain tahun ular, tahun 2013 sebaiknya dimaknai sebagai Tahun Kesederhanaan.
The year of simplicity.
Untuk yang
tidak ingin terus hanyut dalam gelombang kesia-siaan dan trend ketidakjelasan, ini adalah tahun untuk mengambil sikap. To stand for something.
Tidak mudah menolak gelombang maha besar yang –prediksi saya – akan menenggelamkan
mayoritas kita dalam hiruk pikuk politik, ekonomi, teknologi, gosip dan permasalahan-permasalahan
kehidupan lainnya. Kita adalah makhluk individu sekaligus sosial sekaligus offline sekaligus online yang akan terseret-seret gelombang ini karena bukan kita
yang mengendalikan pusarannya.
Bangsa dengan 250-an juta penduduknya ini mayoritas adalah user, konsumen, market. Belum beranjak jadi produsen, kreator, leader. Kita berkiblat pada Amerika, Eropa, Jepang, Korea, Cina.
Kita berkiblat pada apapun yang bukan berasal dari negeri kita sendiri. Kita
berkiblat pada mereka yang bekerja keras untuk menciptakan masa depan versi
mereka, karena kita tak cukup keras berjuang menciptakan masa depan versi kita
sendiri.
Dunia yang makin mencair ini terus mengalirkan informasi – yang berguna
dan yang sampah – ke seluruh pelosok negeri bahkan ke sudut-sudut tersembunyi
yang gelap di dalam otak kita, prosesor alami maha dahsyat yang kita perlakukan
hanya sebagai tempat penyimpanan belaka, sekedar harddisk yang sebentar lagi
akan penuh isinya, makin bertambah bad
sector-nya dan lantas hang.
Dalam hiruk pikuk, yang paling mudah adalah mengikuti arus. Dalam
banjir bandang informasi, yang paling mudah adalah mengikuti arus. Dalam kebingungan,
yang paling mudah adalah mengikuti apa kata orang banyak. Dalam ketidakjelasan,
yang paling mudah adalah mengikuti petunjuk. Yang paling mudah adalah
menyerahkan kendali nasib kita pada bangsa yang lebih maju, lebih besar, pada
Google, pada Apple, pada Facebook, pada Twitter, pada Presiden, pada partai, pada Syahrini, pada Farhat Abbas.
Tapi yang saya tahu, para pemenang dalam kehidupan bukanlah mereka yang
memilih hal-hal yang mudah tapi mereka yang memilih berjuang untuk mencapai
hal-hal yang lebih baik, walaupun itu berarti menjalani kehidupannya dengan
lebih sulit.
Sesederhana itu.
| Reaksi: |
Sunday, October 21, 2012
Creative Seminar Pinasthika 2012
Info selengkapnya monggo mampir ke sini
Saturday, October 20, 2012
Young Film Director Pinasthika 2012 is Here
Info selengkapnya silakan disyuting di sini
| Reaksi: |
Ad.Student Pinasthika 2012 is Calling!
Info selengkapnya silakan ke sini
| Reaksi: |
Monday, October 15, 2012
Pinasthika is On The Way
| Reaksi: |
Tuesday, August 28, 2012
Prolog Buku Spiritual Creativepreneur
Sesungguhnya
Islam datang dalam keadaan asing
dan akan
kembali pula dalam keadaan asing,
maka
berbahagialah orang-orang yang dikatakan asing.
HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu
Umar RA
Kisah mengenai bagaimana sebuah ide sederhana yang asing dan
aneh akhirnya membuat dunia yang kita tinggali ini menjadi tidak pernah sama
lagi dengan sebelumnya, biasanya akan menjadi kisah yang inspiratif, menggugah
kesadaran kita, menyalakan passion di
hati kita yang terdalam, bahkan sampai membuat kita menitikkan air mata.
Lihatlah cerita orang-orang yang telah mengubah dunia,
semuanya diawali dengan penolakan yang dahsyat saat ide itu pertama kali
dikemukakan, saat ikhtiar perubahan itu mulai dijalankan. Mereka dituduh gila,
ditertawakan, dianggap merongrong status
quo, diasingkan dari pergaulan sehari-hari dan hal-hal menyakitkan lainnya.
Lihatlah saat Nabi Nuh menyampaikan pada kaumnya tentang
perintah Allah untuk membangun sebuah kapal di tengah padang pasir. Apa kata
kaumnya? Mereka menganggapnya gila. Di masa sekarang pun, saya kira mayoritas
akan menganggap gila seseorang yang membuat perahu besar di tengah padang pasir
tanpa air setetespun. Itu perahu mau berlayar dimana?
Lihatlah saat Nabi Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih
Ismail putra tercintanya. Jika kejadian itu diteleportasikan ke masa sekarang,
kita pasti akan menganggap Nabi Ibrahim psikopat pembunuh anak-anak dan
melaporkannya ke polisi terdekat.
Lihatlah saat Rasulullah menyampaikan dakwahnya pada kaum Thaif.
Rasulullah yang mulia itu dilempari batu sampai berdarah-darah dan kotoran unta
sampai berbau-bau.
Pada awalnya, Bill Gates ditertawakan saat menyampaikan
bahwa nanti aka nada satu komputer di setiap meja, menjalankan aplikasi
Windows. Steve Jobs juga ditertawakan saat memutuskan kembali ke Apple untuk
menyelamatkan perusahaan itu dari kebangkrutan. Perusahaan yang sama yang
menendangnya 11 tahun sebelumnya. Colombus juga dicap gila saat mengatakan akan
memutari bumi dengan kapal layar karena saat itu mayoritas bangsa di dunia
percaya bahwa bumi ini pipih dan Colombus akan terjatuh hilang saat mencapai
ujung dunia. Dan seterusnya. Wright bersaudara saat memulai eksperimennya
membuat pesawat terbang juga diejek-ejek dan tak dianggap.
Semua yang mengubah dunia mengawalinya dari sesuatu yang
asing. Yang belum pernah ada sebelumnya.
Nah, inspirasi itu berkobar-kobar saat pertama kali
menyetrum kesadaran kita. Tapi biasanya juga: umur inspirasi itu tak panjang.
Beberapa saat setelah cerita itu berlalu dan kita mulai
menggeluti lagi dunia dan segala permasalahannya sehari-hari, api itu pun
memudar. Kesadaran itu menguap. Passion itu
meredup dan padam. Kita pun menjelma kembali menjadi orang-orang biasa,
orang-orang pada umumnya. Menjalani hidup dari pagi ke pagi lagi dengan jadual
yang telah ditentukan, begitu-begitu saja melewati jam, hari, minggu, bulan dan
tahun. Tubuh kita berjalan, bergerak dan bekerja kesana-kemari memperjuangkan
mimpi-mimpi di luar diri kita, sementara jiwa kita gersang, hati nurani tak
lagi mendapat tempat tertinggi dalam tubuh yang lelah, dalam pandangan mata
yang kosong tanpa daya.
Maka jumlah orang-orang yang bersedia memperjuangkan
ide-idenya sepenuh hati sangatlah sedikit. Sebagian besar dari kita memilih
menyerah di awal atau pertengahan perjalanan karena tak sanggup menanggung
resiko untuk berbeda, untuk disalahpahami, untuk dicemooh, untuk dikritik dan
difitnah. Mayoritas kita tak cukup kuat untuk menelan hinaan-hinaan itu,
perlakuan yang merendahkan itu, sehingga memilih menukarkan inner voice (suara hati) itu dengan
kenyamaan, ketenangan, ketentraman.
Secara tak sadar, kita bahkan mulai ikut-ikutan mengatakan
bahwa keajaiban yang dibawa oleh setiap ide baru adalah sesuatu yang tidak
logis, tidak masuk akal, karena saat menjalaninya tanpa hasrat, kita pernah
gagal dan menolak bangkit. Ide-ide itu terlihat terlalu tinggi dan sia-sia
karena kita tak pernah serius memperjuangkannya.
Bahkan pun saat engkau telah berniat untuk mengubah dunia,
lalu menghidupkan siang dan malammu untuk mengejar itu, belum bisa jadi jaminan
bahwa engkau akan mencapainya di ujung umurmu.
Alam semesta ini punya mekanisme seleksi alam yang kejam
tapi adil. Engkau yang tak sungguh-sungguh bersedia bersikap kejam pada dirimu
sendiri untuk memperjuangkan terwujudnya ide-ide besar yang kau yakini, akan
diperlakukan dengan kejam tanpa basa-basi oleh realitas, oleh hukum sebab
akibat, bahkan oleh akal sehatmu sendiri.
Kecuali jika engkau termasuk orang-orang jenius. Yang setahu
saya, bukanlah merupakan keturunan.
Kita
harus membentuk ide-ide dasar dari
realitas
alam dengan pemikiran dan kreativitas kita.
Dengan
itu kita akan menandai sejarah,
tidak
sekedar larut di dalamnya.
- Steve Jobs, former CEO Apple Inc. -
Apple Computer dalam iklan legendarisnya tahun 1997 Think
Different mencatat nama-nama ini: Albert Einstein, Bob Dylan, Martin Luther
King, Jr., Richard Branson, John Lennon, Buckminster Fuller, Thomas Edison,
Muhammad Ali, Ted Turner, Maria Callas, Mahatma Gandhi, Amelia Earhart, Alfred
Hitchcock, Martha Graham, Jim Henson, Frank Lloyd Wright, Pablo Picasso.
Copy
writing iklan ini sungguh menggetarkan hati:
Here’s
to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. The round pegs
in the square holes. The ones who see things differently. They’re not fond of
rules. And they have no respect for the status quo. You can quote them,
disagree with them, glorify or vilify them. About the only thing you can’t do
is ignore them. Because they change things. They push the human race forward. While
some may see them as the crazy ones, we see genius. Because the people who are
crazy enough to think they can change the world, are the ones who do.
Jenius adalah orang-orang yang mampu mempertanggungjawabkan
kegilaannya. Dan jumlah mereka adalah minoritas. Tanpa kemampuan untuk
mempertanggungjawabkan ‘keanehannya’, maka posisi orang-orang yang berbeda dan
dianggap gila itu akan dipinggirkan, dijauhkan dari kehidupan sehari-hari yang
normal karena dianggap pengganggu keharmonisan dan ketertiban.
Seringkali orang-orang besar yang mengubah dunia,
melakukannya tanpa niat yang besar, mereka menggelinding begitu saja mengikuti
kata hatinya, melakukan apapun yang mereka lakukan dengan suka cita lalu...
Bummm!!!
Dunia pun berubah karena hal-hal sederhana yang mereka
lakukan, diiringi dengan kebetulan-kebetulan dan dukungan yang mengalir deras
dari arah yang tak pernah mereka perkirakan. Setiap kisah kesuksesan bisnis dan
kehidupan, tidak lebih tidak kurang, menggambarkan dukungan alam semesta yang
aneh seperti itu.
Kalau balik lagi ke beberapa puluh tahun silam saat fajar
industri komputer menjelang, Apple Computer dan Microsoft-pun melewati fase
yang sama. Juga Starbucks, lalu Google, Facebook, yang termutakhir Twitter.
Benar bahwa sungguh sangat penting untuk berfikir besar -
seperti kata Steve Jobs - to put a dent
in the universe - tapi apa yang kemudian sungguh-sungguh mengubah dunia ini
dengan kehadiran pemikiran dan tindakan kita adalah sesuatu yang sangat
sederhana.
Dunia ini penuh dengan kebisingan dari orang-orang yang
teriak ramai tentang hal-hal yang tidak penting, hal-hal sampah yang makin
menggunung dan menyesakkan mata hati kita. Sampah-sampah yang dikemas dengan
bungkus yang mewah, glamour, indah dan menggoda iman. Sampah-sampah yang diiklankan
sebagai kebutuhan nomer satu dan bukti kesuksesan tertinggi. Sampah-sampah yang
menggiurkan dan menjadikan kita konsumen rakus yang membeli hal-hal yang tak
kita butuhkan.
Tengoklah sampah-sampah itu: sinetron kejar tayang,
infotainment gosip, politik kekuasaan, iklan-iklan tanpa kedalaman makna,
pengajian yang menidurkan jamaahnya, mereka yang mengaku membela agama tertentu
sementara tingkah lakunya justru merusak apa yang dibelanya.
Lawanlah kebisingan itu. Dengarlah suara lirih dalam hatimu.
Lalu berjuanglah sekeras mungkin untuk mengikutinya. Memperjuangkan ide-ide
yang kau yakini justru karena ditolak orang lain, justru karena dicemooh dan
dijauhi.
Engkau – dan siapapun yang punya kemauan – bisa menjadi
bagian dari orang-orang besar yang dicatat oleh dunia dengan tinta emas. Selama
engkau bersedia membayar ‘harga’nya. Selama engkau bersedia menggenggam erat
ide-idemu dan memperjuangkannya sepenuh hidupmu, saat semua orang seolah-olah
menentangmu.
Sebuah
hadits Rasulullah dari Anas bin Malik RA. telah memotret persis akan hadirnya masa-masa seperti ini “Akan
tiba nanti masa dimana menggenggam nilai-nilai kebenaran itu seperti
menggenggam bara api.”
Jika kau pegang terus kebenaran itu, maka tanganmu akan
terbakar dan itu sungguh sakit luar biasa. Tapi jika kau tak tahan
menggenggamnya, maka lepaslah kebenaran itu dari tanganmu dan datanglah
kesesatan dalam hidupmu.
Saya merasakan, masa itu telah tiba. Masa di mana menjadi
orang yang memegang teguh keyakinan Islam, sama dengan mendaftarkan diri untuk
diasingkan. Bahkan oleh mayoritas umat Islam sendiri.
Inilah masa-masa terbaik untuk mereka yang ingin mengubah
dunia. Untuk mengumpulkan keberanian menjalani kehidupan yang asing demi
perbaikan dunia yang semakin tua.
Kapal yang berisi perlengkapan untuk kembali jika pasukan
Islam gagal menjalani misi untuk menaklukkan Andalusia (sekarang Spanyol) telah
terbakar. Panglima Jabal Tariq telah membakarnya saat seluruh pasukan telah
mendarat. Sehingga seluruh pasukan tak bisa pulang jika gagal, jika kalah.
Kapal untuk pelarian bagi jiwa-jiwa muslim yang kerdil
seharusnya dibakar sekali lagi. Sehingga tak ada lagi peluang untuk kembali
jika kita gagal mengubah dunia.
Pilihan umat Islam di masa sekarang adalah menjadi umat yang
memenangkan perjuangan untuk kebaikan. Kita akan berjuang dengan gagah berani.
Dengan resiko diejek, ditertawakan, dianggap gila. Tapi bukankah itu resiko
yang sama yang telah ditempuh oleh banyak orang biasa sebelum kelak, dunia ini
akan mengenangnya sebagai legenda?
Buku ini adalah salah satu ikhtiar untuk menyongsong
perubahan itu. Untuk mengingatkan kita semua – termasuk saya – bahwa membangun
bisnis kreatif sebagai implementasi dari nilai-nilai otentik Islam bukanlah
sekedar ditujukan untuk mengumpulkan keuntungan, meningkatkan ROI (Return on Investment) atau menyumbang
devisa negara.
Tapi saya besarkan niat saya, untuk mengubah dunia.
Mari mulai melangkah dengan yakin. Sekaranglah Waktunya.
Bismillaahirahmaanirrahiim…
Subscribe to:
Posts (Atom)



















