Tuesday, November 17, 2009
Rumah di Atas Pohon
Jadi inget masa kecil: saat dulu punya rumah-rumahan di atas pohon jambu air di belakang rumah. Rasanya asyik banget, bisa makan dan minum di atas pohon, yang dikerek pake tali. Bawa buku buat dibaca di atas, maksudnya mau belajar tapi emang lebih asyik ambil jambu dan memakannya langsung dari pohon, tanpa dicuci.
Entah sekarang masih ada atau tidak pohonnya, karena setelah itu saya pindah rumah. Rumah di atas pohon pas banget buat merenung, kontemplasi dan sisi adventure-nya juga luar biasa. Tentu bukan kesalahan jika kelak saya masih ingin membangun rumah di atas pohon, sekali lagi. Paling tidak anak saya (anak? Ha ha ha...) bisa tertular kebahagiaan masa kecil bapaknya (bapak? Ha ha ha...).
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
3:25 PM
Link ke posting ini
1 komentar
Label: Buku Tuhan Sang Penggoda
Thursday, November 12, 2009
Tuhan Sang Penggoda Hadir di Gramedia


Mohon doa dan dukungannya, semoga buku kecil ini bisa bermanfaat bagi teman-teman semua dan menjalankan fungsi sederhananya untuk mewartakan konsep Rahmatan lil 'Alamien...
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
6:59 AM
Link ke posting ini
2
komentar
Label: Buku Tuhan Sang Penggoda
Tuesday, November 10, 2009
Jernih. Hening. Bening.
Jangan. Jangan habiskan seluruh energi dan waktu dalam hidupmu untuk memelototi kasus-kasus yang menyelimuti negeri ini beberapa pekan terakhir. Dengan segala penghormatan untuk aksi luar biasa yang telah ditunjukkan oleh elemen rakyat baik di dunia offline maupun online sebagai perwujudan cinta tanah airnya, masalah yang harus diselesaikan oleh anak bangsa masih begitu banyak, baik dalam level kebangsaan, kemasyarakatan maupun keluarga dan perorangan.
Yang harus saya ingatkan sekali lagi, apapun masalah yang terjadi adalah jalan yang dihadirkan untuk makin mendekatkan bangsa ini kembali pada Tuhan. Hari-hari yang melelahkan melihat kasus ini terus berlarut-larut di semua media (tv, internet, koran, dll.) harus segera diakhiri dengan berbaik sangka, dengan mengembalikannya kepada kasih sayang Tuhan.
Saya bermimpi acara-acara TV yang ditonton oleh seluruh lapisan bangsa ini menayangkan berita yang membahagiakan, kesantunan cara menyampaikan pendapat, kedamaian, pemimpin yang sayang dan peduli pada rakyat, rakyat yang mengingatkan pemimpin dengan kasih sayang. Tak perlu ada demo yang memacetkan jalan, tak perlu ada adu mulut, tak perlu ada tuduh-menuduh dan rekayasa.
Jika wakil rakyat, polisi, kejaksaan atau siapapun yang berwenang tak mau mendengar suara rakyat kecil seperi kita, kita masih punya Tuhan yang pasti mau mendengarkan 24 jam nonstop. Kita adukan semua keluh kesah kita sehingga tak ada lagi sakit hati, dendam, buruk sangka.
Dengan ijin Allah, semua kebohongan, konspirasi, rekayasa akan terungkap tidak lama lagi. Merekayasa penyelesaian masalah dengan kebohongan, menutupi kebenaran dengan teori konspirasi secanggih apapun adalah kebodohan dan kehinaan. Semua itu akan tersingkap dan kebenaranlah yang akhirnya muncul di akhir cerita.
Dengan keyakinan itu kita tak perlu ngotot-ngototan dan marah-marah pada pihak-pihak yang tak sepaham. Mereka yang mengikuti jalan kebenaran akan selamat, yang ngotot dalam kekerdilan pemikiran bahwa kepintaran manusia akan mengalahkan kuasa Tuhan akan tersesat dan kesepian meratapi keburukan-keburukannya sendiri.
Di tengah malam seperti ini, kita semua akan lebih dekat pada kesejatian, kejernihan.
Anggodo yang kebingungan pastinya menyebut-nyebut Tuhan dalam suaranya yang lirih dan parau untuk memohon pertolongan-Nya setelah sekian lama melupakan-Nya saat mengejar kekayaan sampai ujung usianya. Susno Duaji yang telah bersumpah tidak menerima suap akan berintrospeksi apakah tindakannya dalam kasus ini bersumber pada cahaya Tuhan ataukah hanya menjalankan perintah atasan ataukah mengikuti nafsunya belaka. Anggoro yang tensi darahnya naik, makan minum tak selera, tidur tak nyaman di rumahnya yang super mewah di Singapura, dijauhi ketentraman hidup, sesuatu yang tak bisa diberikan oleh harta duniawinya yang bertumpuk, harta yang justru menjerumuskannya ke lembah kegelapan dan kenestapaan.
Semua yang terjerat kasus ini - siapapun - hakikatnya sedang diberi pakaian kesusahan dari Tuhan untuk mengingatkan mereka kembali pada jalan yang benar. Jalan yang tak mereka pilih saat mengejar kesuksesan, berletih-letih menguber kekayaan.
Diri kita pun - dalam kadar yang berbeda-beda - mendapatkan jatah ujian dan azabnya sendiri-sendiri. Kita pun tak lepas dari masalah. Sunatullah-nya begitu.
Pelajaran terbesar saya malam ini dari kasus Cicak Buaya yang masih terus menggelinding adalah tentang pentingnya memperjuangkan kejernihan di tengah keriuhan. Kebeningan di tengah kekeruhan. Kepercayaan di tengah kebohongan. Kebersamaan di tengah pertengkaran. Kedamaian di tengah kekisruhan. Kesejatian di dalam kesementaraan.
Hanya kepada Tuhanlah kita kembali. Dengan kepolosan. Sama seperti saat kita mulai mendaftar jadi anak bangsa yang terlahir negeri ini.
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
12:02 PM
Link ke posting ini
1 komentar
Label: Thoughts
Thursday, November 05, 2009
Cermin Retak Kita
Yang benar sudah jelas
Tentu kita, bukan mereka
Yang salah sudah tegas
Bukti-bukti sudah jelas
Kita sudah tahu siapa
Yang tak berbuat jadi terlibat
Yang terlibat makin nekat
Karena kiamat makin dekat
Bergulung-gulung sapu menyapu
Berputar-putar sambar menyembar
Saling serang saling terkam
Terjang menerjang tendang menendang
Berpeluh, berpuluh-puluh, seluruh
Lalu sepi, semua rubuh
Tak tersisa rupa bahkan air mata
Hanya tersisa Ia
Yang geleng-geleng kepala
Menyaksikan kebodohan umat-Nya
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
10:54 PM
Link ke posting ini
2
komentar
Label: Poems
Wednesday, November 04, 2009
Preview Bab 1: Pulang
Saat saya masih kecil, rasanya kenikmatan tertinggi sebagai anak sekolah adalah saat bisa pulang pagi karena bapak ibu guru ada rapat, ada pertemuan atau acara apapun sehingga tidak ada pelajaran. Sekolah Dasar yang biasanya selesai jam 12.00 dimajukan pulangnya jadi jam 10.00. Hanya 2 jam diskonnya, tapi bersama teman-teman saya langsung menyusun acara mau ngapain aja: maen bola, maen petakumpet atau perang-perangan. Indahnya tak terbayangkan!
Saat beranjak dewasa, mendapatkan free time karena jadual acara yang ditunda atau dibatalkan kadang masih membuat saya gembira, meskipun mungkin tak bisa lepas seperti saat masih kanak-kanak. Resiko manusia yang beranjak tua adalah mulai didatangi masalah-masalah kehidupan, yang membuat hidupnya tak lepas lagi. Jika tertawa tak bisa sepenuhnya, jika pengin nangispun – demi gengsi – sebisa mungkin tak terdengar suaranya.
Tapi saat-saat beban hidup menghimpit, saat pekerjaan meremukkan otak dan tulang, saat pandangan atas masa depan mulai pating blasur (baca: semrawut), menjadi kanak-kanak kembali adalah pilihan terbaik. Mentertawakan beban hidup, bermain sepenuh hati, menjadi diri sendiri.
Saat-saat itu betapa saya merindukan pulang. Seperti saat pelajaran yang meletihkan di kelas usai, membayangkan ibu di rumah memasak makan siang kesukaan saya, membayangkan berkaos singlet bercelana pendek menenteng bola plastik di lapangan hijau, melepaskan semua penat di masa lalu sehingga ringan menjelajahi masa depan.
Saat keruwetan hidup menyeret kita ke wilayah asing sehingga akal dan hati kita tersesat: cara terbaik untuk mengendalikan lagi hidup kita seringkali sesederhana menyusuri kembali jalan pulang.
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
7:26 AM
Link ke posting ini
1 komentar
Label: Artikel, Buku Tuhan Sang Penggoda
Tuesday, November 03, 2009
Telah Terbit Buku Tuhan Sang Penggoda
Ini hanyalah cermin kusam atas perjalanan hidup yang telah saya tapaki selama ini, yang menginjak angka 34. Sebuah angka yang lebih dari keramat. Gak ada alasan khusus mengapa saya menyebutnya demikian, mungkin karena angkanya hadir setelah 33. Sejujurnya, angka 33 inilah yang keramat.
Jadi jangan kecewa jika banyak hal keramat dalam hidup kita ternyata tak jelas asal usul maupun konsepnya. Misalnya perusahaan yang saya dirikan bareng teman-teman - Petakumpet namanya - juga sering bikin kecele orang. Saat ditanya mengapa namanya Petakumpet, saya jawab gak ada alasannya. Lho kok? Lha saya jujur kok emang awalnya nama lucu itu hanya terlintas begitu saja. Terjadilah yang mesti terjadi.
Mungkin buku ini lebih pas disebut catatan harian seorang blogger karena sebagian content-nya bersal dari tulisan online saya di blog, sayapun melengkapinya dengan catatan harian offline yang mulai saya tulis saat masih kuliah di tahun 1998.
Buku ini adalah kumpulan puzzle pemikiran sehari-hari yang saya upayakan bisa membentuk gambaran besar mengenai upaya mewujudkan impian kita yang paling sejati. Sengaja dihadirkan dalam bentuk buku on paper (bukan e-book) agar bisa dipegang dan dibaca dimana-mana, termasuk di toilet atau kuburan. Ini adalah upaya sharing saya dengan Anda semua para pembaca tercinta yang lebih nyaman untuk menikmatinya secara offline.
Dalam rentang waktu 11 tahun (1998-2009), tentulah tak semua potret kejadian dan pemikiran yang telah saya tuliskan bisa dimasukkan dalam buku ini. Dalam banyak segi, saya telah melakukan proses deleting yang brutal untuk materi tulisan yang saya anggap tak menyokong ide besar yang dibawa buku ini. Ratusan jam dengan bahagia saya habiskan untuk menambahkan lagi beberapa cuatan ide yang membanjir saat proses penyusunan materi dan editing berlangsung, sayapun berusaha membatasi ide-ide yang tumpah tapi – entah bagaimana – tumpahan itu dengan pas mengisi ruang-ruang kosong puzzle yang telah tersusun.
Dengan upaya ini, semoga Anda para pembaca tercinta menemukan tautan benang merah yang kuat dari setiap keping judul yang hadir di masing-masing babnya.
Tulisan di dalam buku ini disusun tidak urut waktu tapi urut tema bahasan. Saya membaginya dalam 4 bagian besar: Mencari Jalan Pulang yang berisi proses berliku dalam pencarian diri yang sejati, Menuju Batas Langit yang berisi upaya-upaya untuk menghasilkan gagasan besar dan pencapaian, Mencari Rumah Tuhan yang mengungkap upaya pencarian spiritual dan pemahaman atas takdir Tuhan dalam hidup keseharian dan Mengais Remah Kehidupan yang memotret hal-hal sederhana yang mengandung makna dalam hidup ini. Masing-masing bab berbicara dalam satu bahasan khusus: ada yang ringan, yang berat, yang lucu, juga tidak ketinggalan: yang kurang ajar.
Untuk detail isi masing-masing babnya, silakan Anda gali sendiri. Kekayaan makna yang hadir akan mencerahkan jika Anda berinteraksi sendiri dengannya. Menubrukkan pemahaman Anda dengan ide-ide dalam tulisan di buku ini adalah cara terbaik untuk menemukan substansi makna dan kandungan rahasia hidup yang saya maksudkan.
Syukur saya tak terhingga kepada Allah, yang tanpa kasih sayang-Nya semua yang kita nikmati di dunia ini – bahkan diri kita sendiri – takkan pernah ada.
Terima kasih sedalam-dalamnya saya sampaikan untuk semua pihak yang memungkinkan buku ini hadir menyapa Anda sekalian: Penerbit Galang Press (Mas Julius Felicianus, Romo Totok, Amir ‘Ahenk’ Hendarsyah, Mas Kunto dan semua crew), teman-teman yang tergabung dalam keluarga besar Petakumpet, teman-teman Aktifis Smada Rembang 1993. Soe Hok Gie, Emha Ainun Nadjib dan Ahmad Wahib untuk inspirasinya yang mengobarkan keberanian untuk berbeda. Achmad Rif’an dan Sayap Empat Ombak, teman diskusi yang menghidupkan. Para pembaca setia blog saya (www.mybothsides.com). Keluarga besar saya di Rembang, juga keluarga besar di Penagan. Supie, kekasihku yang selalu setia menemani proses kreatif yang panjang dan berliku. Serta semua sahabat yang kebaikan dan dukungannya tidak terekam dalam ingatan saya yang terbatas tapi pasti tercatat dengan tinta emas para Malaikat di buku keabadian.
Selamat menikmati igauan seorang blogger yang terus berusaha menguak rahasia mewujudkan mimpi tertinggi dalam hidup dengan tak berhenti mencari jalan terbaik untuk mati.
Karena jika kita tak siap menghadapi kematian, kemungkinan besar kita juga tak siap untuk melanjutkan kehidupan.
Yogyakarta, 20 September 2009
M. Arief Budiman
-------------------------
Buku Tuhan Sang Penggoda
Penulis: M. Arief Budiman
Penerbit Galangpress, 298 hlmn
130 x 200 mm, Rp 46.500,-
www.mybothsides.com
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
1:33 PM
Link ke posting ini
0
komentar
Label: Buku Tuhan Sang Penggoda, Thoughts
Thursday, October 22, 2009
Pesta Blogger 2009
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
7:02 AM
Link ke posting ini
9
komentar
Label: Creative Forum, Seminar, Thoughts
Tuesday, October 13, 2009
Syawalan ADGI Jogja, 16 Okt 2009
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
2:17 AM
Link ke posting ini
4
komentar
Wednesday, October 07, 2009
Ke Ujung Senyap
Sampai kapan aku mesti menunggu
Nasib berkeping terpenjara alam hidupmu
Terseok melangkahi rentang waktu
Rubuh dan berpeluh untuk seteguk madu
Lalu kapan kuraih cahaya
Tafakkur di balik dinding membara
Berlari merajuti hayat semesta
Tegak menenggak hakikat semesta
Perjalanan ini semakin panjang
Semakin letih tuk kaki merentang
Terengah menengadah bersimbah darah
Kutunggu ruang beradu waktu
Merayap dalam malam yang gemerlap
Aku sendiri berhening dalam makrifat
Rembang Jogja (1993-2009)
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
4:45 AM
Link ke posting ini
9
komentar
Label: Poems
Thursday, October 01, 2009
Logika Politik yang Tidak Logis
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
5:21 AM
Link ke posting ini
0
komentar
Label: Serba-serbi Indonesia, Thoughts
Sunday, September 27, 2009
Kembali ke Dunia Nyata
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
9:08 PM
Link ke posting ini
8
komentar
Label: Intermezzo
Saturday, September 26, 2009
Teman Lama, Kisah Baru
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
2:10 AM
Link ke posting ini
0
komentar
Label: Intermezzo, Thoughts
Tuesday, September 15, 2009
Successfully Selling Fresh Ideas with Petakumpet
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
8:48 AM
Link ke posting ini
0
komentar
Label: Petakumpet
Monday, August 17, 2009
HOT NEWS: Lowongan Sampe 29 Agustus 2009
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
11:44 PM
Link ke posting ini
45
komentar
Label: Petakumpet
Sunday, August 16, 2009
Dari Google Untuk Indonesia
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
8:35 PM
Link ke posting ini
2
komentar
Label: Serba-serbi Indonesia
Saturday, August 15, 2009
Kreativitas Dalam Keterbatasan
Beruntunglah orang-orang yang karena kondisinya (psikologis, ekonomi, sosial) berada dalam keterbatasan. Dianugerahi masalah, kesulitan, tantangan. Tak banyak orang yang bersedia menanggung kehidupan seperti ini, tapi jika hal-hal yang tidak menyenangkan itu hadir - atas kehendak Allah - tak ada satupun yang akan mampu menolaknya.
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
9:11 PM
Link ke posting ini
2
komentar
Friday, August 14, 2009
Gudang Garam Merah Spektafest 2009
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
8:53 PM
Link ke posting ini
0
komentar
Label: Advertising, Petakumpet
Thursday, August 13, 2009
Ramadhan Terakhir Versi Seandainya
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
3:14 PM
Link ke posting ini
0
komentar
Label: Advertising, Petakumpet
Ramadhan Terakhir Versi Kamboja
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
3:13 PM
Link ke posting ini
0
komentar
Label: Advertising, Petakumpet
Monday, August 10, 2009
Apa Kabar Negeri Blog?
Selain bahwa ini menjadi keunggulan jejaring sosial ala facebook, ini juga menjadi cermin atas keengganan mayoritas kita untuk menggali pengertian lebih dalam atas peristiwa-peristiwa yang bersliweran di sekitar kita. Kita tahu peristiwa ini dan itu, tapi apa maknanya dalam kehidupan kita mungkin tak sempat kita selami.
Di jaman ini, yang instant akan memperoleh banyak pengikut. Yang ngajak mikir dan merenung akan berkurang fansnya. Yang instant menawarkan kemeriahan, yang memerlukan waktu untuk mencernanya akan menyediakan ketenangan.
Bahagia makin susah dicari saat ini karena letaknya bukan di permukaan, bukan di gemerlap, bukan di basa-basi pergaulan.
Kebahagiaan harus digali dengan usaha yang mungkin tak mudah karena tak terlihat seketika dan letaknya jauh di dalam hati kita yang kesepian atas makna.
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
3:24 PM
Link ke posting ini
6
komentar
Label: Intermezzo
Sunday, August 09, 2009
Cara Menangkap Noordin M. Top

Berikut usulan saya tentang ikhtiar yang bisa dilakukan untuk menangkap Noordin M. Top, kalau-kalau yang tertangkap kemarin bukan dia. Jika tidak sesuai keyakinan usulan ini boleh tidak dipercayai, atau ditertawakan. Tapi jika semua upaya seolah menempuh jalan buntu, silakan baca lagi usulan ini baik-baik, semoga ada gunanya:
- Untuk mendapatkan titik terang keberadaan Noordin M. Top, seluruh Jenderal dan pasukan Densus 88 yang beragama Islam mendisiplinkan sholat lima waktu, sholat sunnah tahajud dan sholat hajat. Jangan karena ngejar teroris kemana-mana, sampai lupa waktu, lupa sholat, lupa Allah. Nanti capek sendiri, buronannya melarikan diri.
- Senjata terhebat bagi pasukan anti teror adalah doa, bukan senjata laras panjang atau bom tangan. Sudah terbukti di Temanggung, untuk menewaskan satu teroris saja Densus 88 butuh amunisi satu truk.
- Sedekahkan 20% dari dana operasi anti teror untuk membantu keluarga-keluarga korban teroris (saya tidak tahu total dananya sampai berapa ratus milyar). Mintalah doa mereka, doa dari yang teraniaya mustajab kabulnya.
- Ikhtiar yang selama ini sudah dilakukan (penyamaran, pemeriksaan, penggeledahan, dll.), silakan dilanjutkan, silakan dimaksimalkan. Urutannya: doa - ikhtiar - doa. Jangan ikhtiar doang. Kemampuan otak kita terbatas, kemampuan intelejen juga terbatas. Dengan diterangi cahaya Allah, takkan ada lagi salah tangkap, salah geledah, salah tembak, salah sasaran, dll.
- Buka mata, buka hati: ikuti petunjuk yang dititipkan Allah kepada panca indera dan intuisi kita, dari hal yang paling sepele. Serpihan bom, keterangan saksi, teroris yang tertangkap, bekas persembunyian, apa saja. Coba lihat film Inside Man, semoga dapet ide dari situ. Seringkali info terpenting sudah di tangan kita tapi karena terlalu sibuk malah nyarinya di tempat yang jauh-jauh.
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
9:15 PM
Link ke posting ini
2
komentar
Label: Thoughts
Oleh-oleh Dari Pinasthika 2009
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
4:29 PM
Link ke posting ini
1 komentar
Label: Petakumpet
Saturday, July 18, 2009
Ledakan yang Merobek Pagi Itu
Tulisan saya yang mengedepankan pendekatan tanpa kekerasan untuk menunjukkan konsep Islam yang rahmatan lil 'alamien banyak ditentang oleh saudara-saudara saya sesama muslim, seolah saya mendakwahkan kelemahan Islam melawan pihak-pihak yang ingin menghancurkan Islam.
Dan pagi itu saya sudah mulai ngantor saat Alda seorang teman menelepon,"Rief gue telat nyampe nih jalannya mesti muter, ada ledakan di Mega Kuningan." Ledakan? Saya tidak berprasangka jauh, saya yang di Mega Kuningan (Bellagio Mall) nggak denger apa-apa.
Tapi ternyata saya keliru. Ledakan itu ternyata benar-benar mengubah banyak jadual penting di negeri ini, memilukan hati para korban dan keluarganya, membuat marah presiden dan menggagalkan MU main di Jakarta. Korban jatuh tercatat 9 orang tewas dan 53 luka-luka.
Kantor Petakumpet Jakarta hanya 300 m dari TKP. Dan 15 menit sebelum ledakan terjadi, mobil Petakumpet yang dibawa Mas Eri sempat melintasi jalan depan JW Marriot & Ritz Carlton. Tuhan yang punya skenario mengatur segala sesuatunya sehingga kita yang masih tinggal bisa belajar banyak dari kejadian ini, dari para korban yang menghadap Tuhan saat sarapan pagi juga dari aksi terorisme yang seolah bangkit lagi dari kuburan setelah hampir 5 tahun tak terdengar kabarnya.
Pagi itu saat mobil bergerak keluar Bellagio, jalan-jalan sudah ditutup. Tidak mungkin melewati 2 hotel naas itu, kamipun menuju Kemang untuk recording iklan radio, menjauh dari hiruk pikuk. Sms masuk bergantian menanyakan kabar, Alhamdulillah kita baik-baik saja. Tapi hari itu saya jauh dari Mega Kuningan, dari Kemang meluncur ke kantor Gudang Garam di Cempak Putih, ke Gambir dan masuk kantor lagi udah jam 9 malam. Lalu lintas Jakarta tak pernah sesepi dan selancar malam itu.
Saat malam turun, saya pun terdiam merenung. Untuk mengajari manusia tentang cinta dan kasih sayang, Tuhan seringkali menurunkan kejadian kekerasan yang memilukan. Dugaan saya, mungkin karena sebagian besar kita (termasuk saya) sudah sangat sulit dinasehati, keras kepala dan merasa bahwa hidup ini tergantung 100% hanya dari kemampuan dan logika kita semata. Lalu kita beli alat-alat detektor canggih, kita undang ahli kemanan, kita periksa semua tamu yang mencurigakan secara ketat dalam beberapa bulan ke depan, lalu saat situasi lumayan aman kita kendorkan lagi penjagaannya karena yang memeriksa dan diperiksa sudah sama-sama lelah karena terlalu lama paranoid atas kemungkinan ledakan berikutnya.
Padahal hidup ini ada untuk dinikmati dengan kebaikan, untuk dijalani dengan ketenangan dan ketentraman. Untuk disyukuri dengan berbagi dan saling menguatkan. Saya akan mendukung apapun ikhtiar yang perlu kita lakukan untuk mencegah kekerasan kejam ini tidak terulang, saya hanya menyarankan untuk mulai melibatkan Allah dalam prosesnya. Tak sekedar alat canggih yang membuat kita merasa aman, tapi justru kedekatan kita pada Allah-lah kunci dari keselamatan yang sejati.
Saya tidak pernah sedikitpun ragu untuk melawan teror dalam segala bentuknya, saya hanya menggunakan metode yang berbeda. Api jangan dilawan dengan api tapi air. Bom jangan dilawan dengan bom. Mahatma Gandhi bilang, jika setiap mata yang hilang harus dibalas dengan menghilangkan mata yang lainnya maka dunia akan dipenuhi orang-orang buta.
Tapi apakah kita bisa menyadarkan para teroris yang nekad dan putus urat syaraf kemanusiaannya itu dengan khotbah tentang cinta dan kasih sayang? Mungkin kita tidak bisa, mungkin itu mustahil kita lakukan. Tapi di tangan Allah, semuanya pasti mungkin. Tidak ada yang sulit buat Allah, selama kita serius untuk mengundang-Nya menyelesaikan semua masalah kita.
Masalahnya Allah mau atau tidak mengabulkan doa kita? Itu terpulang dari kesediaan kita untuk selalu melangkah lurus di jalan-Nya. Tidak belak belok karena mengejar dunia, godaan yang telah terbukti mampu menggelincirkan umat manusia dari jaman ke jaman.
Malam pun sudah menjelang pagi. Tak ada tempat terbaik untuk kembali kecuali kepada-Nya dan di tangan-Nya lah nasib kita berada. Laa haula walaa quwwata ila billaah...
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
12:44 PM
Link ke posting ini
25
komentar
Label: Thoughts
Tuesday, June 30, 2009
TVC Gudang Garam Merah
Agency: PT Petakumpet Creative Network // Client: PT. Gudang Garam, Tbk // Director: Iman Brotoseno // PH: Orangewaterland
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
9:19 PM
Link ke posting ini
3
komentar
Label: Advertising
Saturday, June 27, 2009
Jacko

Image pinjem dari www.opposingdigits.com/racistparadigm/michael%20jackson%201.jpg
Semua menulis tentang kematian Jacko,sang legenda pop kini harus memenuhi panggilan mendadak-Nya. Rasanya ada magnet raksasa yang menggerakkan jutaan keybord itu menderetkan huruf-huruf duka cita. Magnet itu juga menarik saya yang lama tak ngeblog.
Jacko adalah cermin terbaik untuk kita semua dalam menjalani hidup.Dibalik gemerlap hidupnya ada rapuh di dalam, sebuah tanya besar menunggu jawab. Jacko meng-update wajahnya habis-habisan, yang ternyata tak dibawanya saat pulang. Wajah itu akan menyatu dengan tanah dan hilang. Kita mungkin tak sekaya Jacko, tapi mungkin juga tak mau tukeran nasib dengannya kayak acara di tv. Kita hanya bisa doakan, kabar-kabarnya doi sudah jadi muallaf setahun lalu. Entahlah kebenarannya, semua itu kembali kepada yang menjalani dan Tuhannya. Tapi kita selalu berharap akhir yang baik dari kehidupan setiap hamba Tuhan, bukan yang menyisakan tanya dan beban buat yang ditinggalkan.
Jacko, ternyata kesuksesan, ketenaran, kekayaan, uang yang segunung - sekali lagi terbukti - tak bisa membeli kebahagiaan. Bahkan membeli waktu yang hanya beberapa hari untuk konser pembukanya yang direncanakan sangat dahsyat di London pun tak bisa. Bahkan untuk menyambung detak jantung beberapa menit sambil menunggu pertolongan rumah sakit tak bisa.
Lalu untuk apa kita kejar-kejar kekayaan, keuntungan, kekuasaan itu dengan saling sikut dan telikung, sampai melupakan anak istri, saudara bahkan Tuhan. Toh di akhirnya, kita hanya akan menuai kekosongan. Kita hanya bawa pulang amal, hal-hal baik yang sempat kita lakukan di dunia fana ini. Kita yang masih punya kesempatan - entah berapa lama atau berapa singkatnya - lebih baik menyegerakan bersiap. Menjalani sisa hidup kita dengan syukur (hitam dan putih sama saja, lihat metamorfosa wajah Jacko yang tak banyak gunanya) dan sabar (saat diuji dengan kekuarangan maupun keberlimpahan). Syukur dan sabar jika kita genggam erat-erat Insya Allah selamat.
Jacko, terima kasih untuk inspirasi dan semua pelajaran hidup yang kau berikan. Selamat menikmati istirahat panjangmu. Mungkin di sana bisa kau dapatkan bahagia yang begitu mahal harganya saat kau masih berada di dunia-Nya...
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
4:07 PM
Link ke posting ini
1 komentar
Label: Inspired
Monday, June 08, 2009
Menunggu Launching
Menangani brand nasional adalah sebuah pekerjaan yang selalu saya harapkan, saat pertama kali buka kantor di Jakarta. Alhamdulillah sekarang Petakumpet bisa pegang 2 brand, yang waktunya dekat-dekat ini akan segera di-launching kampanye promosinya. Jika tidak ada halangan, Insya Allah menyusul brand ketiga yang saat ini memasuki proses negosiasi.
Tadi malam baru menyelesaikan satu lagi pekerjaan, supervisi jingle. Ini adalah rangkaian setelah iklan TVC yang panjang dan penuh liku, juga materi ATL BTL lainnya yang seru dan melatih kesabaran menjalaninya. Bukan pekerjaan yang mudah tapi rasanya sangat layak menjadi fundamental untuk doing another national campaign.
Dan hari-hari ini rasanya tak sabar lagi menunggu, setelah bekerja lebih dari 6 bulan sejak mulai preparation. Jika on schedulle, Insya Allah pertengahan bulan ini sudah di-launch dua-duanya. Rasanya seperti menunggu masuk sekolah baru atau seperti seorang cowok yang telah mengirimkan surat cintanya menanti jawaban cewek incerannya.
Begitulah setiap pekerjaan yang didasari passion. Pengennya segera ditayangkan, mendapat feedback dari audiens dan masyarakat untuk berkarya lebih baik lagi ke depan.
Jika ada yang sedang tidak sibuk, mari bersama saya menunggu kerjaan kreatif Petakumpet yang terbaru. Sambil corat-coret untuk menjaring ide segar lainnya untuk brand baru lainnya, dan bersyukur atas semua kepercayaan yang telah diberikan dengan selalu menjaganya sepenuh hati.
Menengok sejenak atas apa yang telah kita kerjakan di masa lalu dengan kemampuan terbaik, lalu melesat lagi ke masa depan dengan hasil yang lebih baik lagi. Good is not enough, kan?
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
1:50 PM
Link ke posting ini
0
komentar
Label: Advertising, Petakumpet
Tuesday, June 02, 2009
Live On Aducation DKV ISI Jogja
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
10:14 AM
Link ke posting ini
0
komentar
Label: Seminar
Tuesday, May 26, 2009
Bicara Film Iklan di Salihara

Bicara Film Iklan
Teater Salihara, Pejaten
Jumat, 19 Juni 2009, 19.00 - 22.00 WIB
Pembicara:
M. Arief Budiman
Executive Creative Director Petakumpet
Berbicara tentang konsep kreatif iklan, strategi, pencarian ide sekaligus pemahaman iklan sebagai alat pemasaran
Iman Brotoseno
Sutradara Film Iklan
Berbicara tentang implementasi menjadi sebuah shooting board dan eksekusi film iklan di lapangan
Mira Lesmana
Producer / Miles Production
Berbicara tentang bagaimana memproduksi sebuah film iklan dan aspek-aspek manajemen produksi
Goenawan Mohamad
Penulis & Budayawan
Berbicara tentang aspek film iklan sebagai bagian dari budaya modern
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
8:35 AM
Link ke posting ini
1 komentar
Label: Advertising, Seminar
Monday, May 25, 2009
Ketika Harapan Tak Terwujud
Ketika segala sesuatu yang telah kita rencanakan dengan baik, terjadual dan hampir sempurna pada waktunya tidak bisa terwujud, reaksi pertama kita biasanya akan kecewa.
Udah dandan rapi-rapi disemprot Axe Chocolate mau ngapelin cewek untuk pertama kali, begitu naik motor menyusuri jalan tiba-tiba - tanpa peringatan - hujan mengguyur dan bresss.. basahlah semuanya.
Seorang direktur sudah mendapatkan deal sebuah project senilai 500 milyar, semua kesepakatan sudah diterjemahkan dalam bentuk kontrak detail sejumlah 40 halaman oleh manajernya masing-masing. Tinggal tanda tangan doang besok dan akan diliput pers secara nasional menjadi deal terbesar untuk kedua perusahaan. Tapi pena tak pernah digoreskan karena direktur kliennya tak pernah sampai di ruang press conference: meninggal mendadak terkena serangan jantung di kamar mandi hotelnya menginap.
Seorang manajer perusahaan telah berkarier cemerlang selama 20 tahun, melakukan apapun yang diperlukan sehingga hampir setiap tahunnya terpilih menjadi Manager of The Year di perusahaannya bekerja. Dan pada umur 55 tahun, ia pensiun membawa uang pensiun yang telah dikumpulkan dari hasil usahanya sebesar 10 milyar. Karena ingin menikmati usia senjanya ia tak mau lagi bekerja. Datang seorang kawan menawarkan investasi, kawan ini reputasinya luar biasa dan punya jaringan internasional. Jika invest keuntungannya bisa naik 20-40% setahun. Sang pensiunan tertarik lalu invest 1 milyar dan untung. Lalu 5 milyar dan untung. Lalu 10 milyar dan bummm! Krisis moneter internasional menghantam, uangnya jadi abu dan sengketa panjang di pengadilan. 20 tahun pengabdiannya ludes dalam waktu kurang dari setahun.
Dari beberapa kejadian di atas, sepertinya nasib begitu kejam menghantam dan seolah-olah kita sebagai manusia tak bisa berbuat apa-apa saat itu terjadi. Jika tak kuat mental, maka terguncanglah jiwanya dan mungkin berakibat hal-hal yang lebih fatal. Mantan presiden Korea Selatan Roh baru saja bunuh diri setelah dituduh korupsi meskipun saat dia naik julukannya adalah Mr Clean. Hancur hidupnya setelah tak menjabat lagi. Antasari Azhar. Caleg-caleg yang tak terpilih. Caleg yang meninggal 3 hari sebelum diputuskan KPU terpilih.
Dan cerita beginian, banyak banget bertebaran di sekitar kita.
Jadi teman-teman semua, menyiapkan segala sesuatu untuk masa depan kita itu memang baik, perlu dan bahkan wajib. Tapi mohon selalu ingat untuk tak melewati hukum-hukum alamnya agar tak kecewa di ujung.
Salah satu yang saya percaya adalah: Jika ingin dapat bagian keuntungan terbesar, maka dapetnya harus paling belakangan. Jika ingin dapet duluan, maka bagian keuntungannya paling kecil.
Di perusahaan manapun: office boy, satpam, driver pasti dibayar duluan ketimbang direkturnya. Jika perusahaan lagi miring, mereka tetap gajian duluan dan bisa jadi direkturnya gak kebagian. Tapi jika perusahaan lagi bagus, mereka juga tetap gajian duluan tapi tentu tak sebesar jatah sang direktur yang baru diterima setelah semua yang pangkatnya lebih rendah dapat bagian.
Jika hukum ini dilanggar, maka resikonya jelas. Office boy yang pengen dapet jatah lebih besar akan mencoba mengkorupsi biaya rumah tangga kantor, satpam mungkin akan membocorkan data rahasia perusahaan, driver akan me-mark up biaya bensin dengan nota palsu. Jika sampai ketahuan dan pasti ketahuan, mereka akan dipecat.
Jika sang direktur pengen dapet gede dan duluan, maka uang proyek dipake dulu buat DP mobil Lexus terbaru, buat bayar cicilan rumah mewah atau mendandani caddy golf untuk diajak yang bukan golf. Jika terbongkar, ia akan menghabiskan sisa kariernya di penjara sebagai pesakitan.
Silakan kejar dunia, sekencang-kencangnya. Silakan mendaki tangga karier setinggi-tingginya. Silakan menumpuk kekayaan sebesar-besarnya. Tapi di ujung karier kita, di puncak sukses kita, di ujung hidup kita: itu semua takkan kita bawa. Semua akan ditinggalkan meskipun kita tak rela. Takdir akan merenggut paksa apa-apa yang kita dapatkan dengan cara yang di luar cara-Nya. Alam akan selalu menyeimbangkan diri, kita tak bisa menolaknya.
Kita ini tak pernah punya milik. Kita ini sendiri hanyalah pinjaman. Sebaiknya kita mulai bersih-bersih dari sekarang, sekiranya ada bagian dari hidup kita yang bukan hak kita. Sehingga ketika waktunya tiba dan apa yang kita peroleh diminta kembali oleh yang Maha Punya: kita ikhlas dan tak berat hati.
Tukang parkir mengajari kita hal yang luar biasa, saat motor atau mobil diambil pemiliknya ia relakan karena ia sadar semua itu hanya titipan.
Saat apa yang kita rencanakan tak bisa berjalan seperti harapan kita, ambillah cermin. Mungkin ada bagian diri kita yang harus dibersihkan, mungkin ada dosa yang belum dimintakan maaf dan tobat, mungkin ada kedzaliman dan kebohongan dalam mengejar cita-cita dan harapan.
Insya Allah masih ada kesempatan, jika kita tak menunda lagi. Kita tunggu undangan-Nya dengan senyum keikhlasan dan bukan dengan muka terkaget-kaget karena tak pernah menyiapkan bekal...
Diposting oleh
M. Arief Budiman
di
4:34 PM
Link ke posting ini
2
komentar
















