Tuesday, November 17, 2009

First Edition Promo


Rumah di Atas Pohon


10 Juni 1998

Jadi inget masa kecil: saat dulu punya rumah-rumahan di atas pohon jambu air di belakang rumah. Rasanya asyik banget, bisa makan dan minum di atas pohon, yang dikerek pake tali. Bawa buku buat dibaca di atas, maksudnya mau belajar tapi emang lebih asyik ambil jambu dan memakannya langsung dari pohon, tanpa dicuci.

Entah sekarang masih ada atau tidak pohonnya, karena setelah itu saya pindah rumah. Rumah di atas pohon pas banget buat merenung, kontemplasi dan sisi adventure-nya juga luar biasa. Tentu bukan kesalahan jika kelak saya masih ingin membangun rumah di atas pohon, sekali lagi. Paling tidak anak saya (anak? Ha ha ha...) bisa tertular kebahagiaan masa kecil bapaknya (bapak? Ha ha ha...).

Dikutip dari Buku Tuhan Sang Penggoda
Penulis: M. Arief Budiman 
Penerbit Galangpress, 298 hlmn, 130 x 200 mm 
www.mybothsides.com


Thursday, November 12, 2009

Tuhan Sang Penggoda Hadir di Gramedia




Akhirnya punya waktu juga menyempatkan diri menengok Buku Tuhan Sang Penggoda (TSP) ke Gramedia Sudirman, Jogja. Mungkin setelah ini saya akan mampir juga ke Gramedia Plaza Ambarrukmo, Gramedia Malioboro, Social Agency dan toko buku lainnya.

Kalo mau nyari, tempatnya di bagian Buku Laris atau Buku-buku Islam Populer (wee.. ternyata masuk kategori Islam Populer Rek!). Sebelahan sama Buku Zona Ikhlas-nya Erbe Sentanu dan serial Sedekah-nya Ustadz Yusuf Mansur. Hmmm... Lega deh sekarang jika ditanyain bukunya dimana Alhamdulillah sudah mulai nongkrong di display.

Hope Buku TSP juga udah ready untuk dibawa pulang jika temen-temen mencarinya di toko buku lain. Saya akan melaporkan jika menemukan Buku TSP ini di toko lainnya, kebetulan akan ada kerjaan di Jakarta, Surabaya dan Bandung sehingga bisa mampir.

Mohon doa dan dukungannya, semoga buku kecil ini bisa bermanfaat bagi teman-teman semua dan menjalankan fungsi sederhananya untuk mewartakan konsep Rahmatan lil 'Alamien...

Tuesday, November 10, 2009

Jernih. Hening. Bening.

Jangan. Jangan habiskan seluruh energi dan waktu dalam hidupmu untuk memelototi kasus-kasus yang menyelimuti negeri ini beberapa pekan terakhir. Dengan segala penghormatan untuk aksi luar biasa yang telah ditunjukkan oleh elemen rakyat baik di dunia offline maupun online sebagai perwujudan cinta tanah airnya, masalah yang harus diselesaikan oleh anak bangsa masih begitu banyak, baik dalam level kebangsaan, kemasyarakatan maupun keluarga dan perorangan.


Heninglah sejenak. Ambil jarak. Menjadi jernih dalam mengambil sikap adalah sebaik-baik pilihan. 


Saya percaya, kasus KPK-Polisi-Kejaksaan-Masaro-Century-Bibit-Candra-Anggodo-Yulianto-dst. dengan segala implikasi dan side effect-nya telah ditangani oleh orang-orang yang terbaik yang dimiliki bangsa ini. Saya percayanya begitu.



Yang harus saya ingatkan sekali lagi, apapun masalah yang terjadi adalah jalan yang dihadirkan untuk makin mendekatkan bangsa ini kembali pada Tuhan. Hari-hari yang melelahkan melihat kasus ini terus berlarut-larut di semua media (tv, internet, koran, dll.) harus segera diakhiri dengan berbaik sangka, dengan mengembalikannya kepada kasih sayang Tuhan.


Saya bermimpi acara-acara TV yang ditonton oleh seluruh lapisan bangsa ini menayangkan berita yang membahagiakan, kesantunan cara menyampaikan pendapat, kedamaian, pemimpin yang sayang dan peduli pada rakyat, rakyat yang mengingatkan pemimpin dengan kasih sayang. Tak perlu ada demo yang memacetkan jalan, tak perlu ada adu mulut, tak perlu ada tuduh-menuduh dan rekayasa.


Jika wakil rakyat, polisi, kejaksaan atau siapapun yang berwenang tak mau mendengar suara rakyat kecil seperi kita, kita masih punya Tuhan yang pasti mau mendengarkan 24 jam nonstop. Kita adukan semua keluh kesah kita sehingga tak ada lagi sakit hati, dendam, buruk sangka.


Dengan ijin Allah, semua kebohongan, konspirasi, rekayasa akan terungkap tidak lama lagi. Merekayasa penyelesaian masalah dengan kebohongan, menutupi kebenaran dengan teori konspirasi secanggih apapun adalah kebodohan dan kehinaan. Semua itu akan tersingkap dan kebenaranlah yang akhirnya muncul di akhir cerita.


Dengan keyakinan itu kita tak perlu ngotot-ngototan dan marah-marah pada pihak-pihak yang tak sepaham. Mereka yang mengikuti jalan kebenaran akan selamat, yang ngotot dalam kekerdilan pemikiran bahwa kepintaran manusia akan mengalahkan kuasa Tuhan akan tersesat dan kesepian meratapi keburukan-keburukannya sendiri.


Di tengah malam seperti ini, kita semua akan lebih dekat pada kesejatian, kejernihan. 


Anggodo yang kebingungan pastinya menyebut-nyebut Tuhan dalam suaranya yang lirih dan parau untuk memohon pertolongan-Nya setelah sekian lama melupakan-Nya saat mengejar kekayaan sampai ujung usianya. Susno Duaji yang telah bersumpah tidak menerima suap akan berintrospeksi apakah tindakannya dalam kasus ini bersumber pada cahaya Tuhan ataukah hanya menjalankan perintah atasan ataukah mengikuti nafsunya belaka. Anggoro yang tensi darahnya naik, makan minum tak selera, tidur tak nyaman di rumahnya yang super mewah di Singapura, dijauhi ketentraman hidup, sesuatu yang tak bisa diberikan oleh harta duniawinya yang bertumpuk, harta yang justru menjerumuskannya ke lembah kegelapan dan kenestapaan. 


Semua yang terjerat kasus ini - siapapun - hakikatnya sedang diberi pakaian kesusahan dari Tuhan untuk mengingatkan mereka kembali pada jalan yang benar. Jalan yang tak mereka pilih saat mengejar kesuksesan, berletih-letih menguber kekayaan.


Diri kita pun - dalam kadar yang berbeda-beda - mendapatkan jatah ujian dan azabnya sendiri-sendiri. Kita pun tak lepas dari masalah. Sunatullah-nya begitu.


Pelajaran terbesar saya malam ini dari kasus Cicak Buaya yang masih terus menggelinding adalah tentang pentingnya memperjuangkan kejernihan di tengah keriuhan. Kebeningan di tengah kekeruhan. Kepercayaan di tengah kebohongan. Kebersamaan di tengah pertengkaran. Kedamaian di tengah kekisruhan. Kesejatian di dalam kesementaraan.


Hanya kepada Tuhanlah kita kembali. Dengan kepolosan. Sama seperti saat kita mulai mendaftar jadi anak bangsa yang terlahir negeri ini.

Thursday, November 05, 2009

Cermin Retak Kita

Yang benar sudah jelas
Tentu kita, bukan mereka
Yang salah sudah tegas
Bukti-bukti sudah jelas
Kita sudah tahu siapa


Yang tak berbuat jadi terlibat
Yang terlibat makin nekat
Karena kiamat makin dekat


Bergulung-gulung sapu menyapu
Berputar-putar sambar menyembar
Saling serang saling terkam
Terjang menerjang tendang menendang
Berpeluh, berpuluh-puluh, seluruh

Lalu sepi, semua rubuh
Tak tersisa rupa bahkan air mata

Hanya tersisa Ia
Yang geleng-geleng kepala
Menyaksikan kebodohan umat-Nya

Wednesday, November 04, 2009

Preview Bab 1: Pulang


21 April 1997

Saat saya masih kecil, rasanya kenikmatan tertinggi sebagai anak sekolah adalah saat bisa pulang pagi karena bapak ibu guru ada rapat, ada pertemuan atau acara apapun sehingga tidak ada pelajaran. Sekolah Dasar yang biasanya selesai jam 12.00 dimajukan pulangnya jadi jam 10.00. Hanya 2 jam diskonnya, tapi bersama teman-teman saya langsung menyusun acara mau ngapain aja: maen bola, maen petakumpet atau perang-perangan. Indahnya tak terbayangkan!

Saat beranjak dewasa, mendapatkan free time karena jadual acara yang ditunda atau dibatalkan kadang masih membuat saya gembira, meskipun mungkin tak bisa lepas seperti saat masih kanak-kanak. Resiko manusia yang beranjak tua adalah mulai didatangi masalah-masalah kehidupan, yang membuat hidupnya tak lepas lagi. Jika tertawa tak bisa sepenuhnya, jika pengin nangispun – demi gengsi – sebisa mungkin tak terdengar suaranya.

Tapi saat-saat beban hidup menghimpit, saat pekerjaan meremukkan otak dan tulang, saat pandangan atas masa depan mulai pating blasur (baca: semrawut), menjadi kanak-kanak kembali adalah pilihan terbaik. Mentertawakan beban hidup, bermain sepenuh hati, menjadi diri sendiri.

Resiko manusia yang beranjak tua adalah mulai didatangi masalah-masalah kehidupan, yang membuat hidupnya tak lepas lagi. 


Saat-saat itu betapa saya merindukan pulang. Seperti saat pelajaran yang meletihkan di kelas usai, membayangkan ibu di rumah memasak makan siang kesukaan saya, membayangkan berkaos singlet bercelana pendek menenteng bola plastik di lapangan hijau, melepaskan semua penat di masa lalu sehingga ringan menjelajahi masa depan.

Saat keruwetan hidup menyeret kita ke wilayah asing sehingga akal dan hati kita tersesat: cara terbaik untuk mengendalikan lagi hidup kita seringkali sesederhana menyusuri kembali jalan pulang.

Tuesday, November 03, 2009

Telah Terbit Buku Tuhan Sang Penggoda


Ini bukan buku memoar atau biografi, sama sekali bukan. Emangnya saya siapa kok berani-berani bikin biografi? Ini juga bukan tulisan ilmiah, novel apalagi kumpulan puisi. Atau Teka-teki Silang. Anda tahu lah bedanya. He he he...

Ini hanyalah cermin kusam atas perjalanan hidup yang telah saya tapaki selama ini, yang menginjak angka 34. Sebuah angka yang lebih dari keramat. Gak ada alasan khusus mengapa saya menyebutnya demikian, mungkin karena angkanya hadir setelah 33. Sejujurnya, angka 33 inilah yang keramat.

Jadi jangan kecewa jika banyak hal keramat dalam hidup kita ternyata tak jelas asal usul maupun konsepnya. Misalnya perusahaan yang saya dirikan bareng teman-teman - Petakumpet namanya -  juga sering bikin kecele orang. Saat ditanya mengapa namanya Petakumpet, saya jawab gak ada alasannya. Lho kok? Lha saya jujur kok emang awalnya nama lucu itu hanya terlintas begitu saja. Terjadilah yang mesti terjadi.

Mungkin buku ini lebih pas disebut catatan harian seorang blogger karena sebagian content-nya bersal dari tulisan online saya di blog, sayapun melengkapinya dengan catatan harian offline yang mulai saya tulis saat masih kuliah di tahun 1998.

Buku ini adalah kumpulan puzzle pemikiran sehari-hari yang saya upayakan bisa membentuk gambaran besar mengenai upaya mewujudkan impian kita yang paling sejati. Sengaja dihadirkan dalam bentuk buku on paper  (bukan e-book) agar bisa dipegang dan dibaca dimana-mana, termasuk di toilet atau kuburan. Ini adalah upaya sharing saya dengan Anda semua para pembaca tercinta yang lebih nyaman untuk menikmatinya secara offline.
Dalam rentang waktu 11 tahun (1998-2009), tentulah tak semua potret kejadian dan pemikiran yang telah saya tuliskan bisa dimasukkan dalam buku ini. Dalam banyak segi, saya telah melakukan proses deleting yang brutal untuk materi tulisan yang saya anggap tak menyokong ide besar yang dibawa buku ini.  Ratusan jam dengan bahagia saya habiskan untuk menambahkan lagi beberapa cuatan ide yang membanjir saat proses penyusunan materi dan editing berlangsung, sayapun berusaha membatasi ide-ide yang tumpah tapi – entah bagaimana – tumpahan itu dengan pas mengisi ruang-ruang kosong puzzle yang telah tersusun.

Dengan upaya ini, semoga Anda para pembaca tercinta menemukan tautan benang merah yang kuat dari setiap keping judul yang hadir di masing-masing babnya.

Tulisan di dalam buku ini disusun tidak urut waktu tapi urut tema bahasan. Saya membaginya dalam 4 bagian besar: Mencari Jalan Pulang yang berisi proses berliku dalam pencarian diri yang sejati, Menuju Batas Langit yang berisi upaya-upaya untuk menghasilkan gagasan besar dan pencapaian, Mencari Rumah Tuhan yang mengungkap upaya pencarian spiritual dan pemahaman atas takdir Tuhan dalam hidup keseharian dan Mengais Remah Kehidupan yang memotret hal-hal sederhana yang mengandung makna dalam hidup ini. Masing-masing bab berbicara dalam satu bahasan khusus: ada yang ringan, yang berat, yang lucu, juga tidak ketinggalan: yang kurang ajar.

Untuk detail isi masing-masing babnya, silakan Anda gali sendiri. Kekayaan makna yang hadir akan mencerahkan jika Anda berinteraksi sendiri dengannya. Menubrukkan pemahaman Anda dengan ide-ide dalam tulisan di buku ini adalah cara terbaik untuk menemukan substansi makna dan kandungan rahasia hidup yang saya maksudkan.

Syukur saya tak terhingga kepada Allah, yang tanpa kasih sayang-Nya semua yang kita nikmati di dunia ini – bahkan diri kita sendiri – takkan pernah ada.

Terima kasih sedalam-dalamnya saya sampaikan untuk semua pihak yang memungkinkan buku ini hadir menyapa Anda sekalian: Penerbit Galang Press (Mas Julius Felicianus, Romo Totok, Amir ‘Ahenk’ Hendarsyah, Mas Kunto dan semua crew), teman-teman yang tergabung dalam keluarga besar Petakumpet, teman-teman Aktifis Smada Rembang 1993. Soe Hok Gie, Emha Ainun Nadjib dan Ahmad Wahib untuk inspirasinya yang mengobarkan keberanian untuk berbeda. Achmad Rif’an dan Sayap Empat Ombak, teman diskusi yang menghidupkan. Para pembaca setia blog saya (www.mybothsides.com). Keluarga besar saya di Rembang, juga keluarga besar di Penagan. Supie, kekasihku yang selalu setia menemani proses kreatif yang panjang dan berliku. Serta semua sahabat yang kebaikan dan dukungannya tidak terekam dalam ingatan saya yang terbatas tapi pasti tercatat dengan tinta emas para Malaikat di buku keabadian.

Selamat menikmati igauan seorang blogger yang terus berusaha menguak rahasia mewujudkan mimpi tertinggi dalam hidup dengan tak berhenti mencari jalan terbaik untuk mati.

Karena jika kita tak siap menghadapi kematian, kemungkinan besar kita juga tak siap untuk melanjutkan kehidupan.


Yogyakarta, 20 September 2009
M. Arief Budiman

-------------------------

Buku Tuhan Sang Penggoda
Penulis: M. Arief Budiman
Penerbit Galangpress, 298 hlmn
130 x 200 mm, Rp 46.500,-
www.mybothsides.com

Thursday, October 22, 2009

Pesta Blogger 2009


Apa kabar kawan-kawan semua? Para pembaca setia blog ini, Anda yang tak sengaja berkunjung, Anda yang menemukannya di medan per-google-an, Anda yang terjerumus jejak netter sebelumnya di warnet sehingga membaca tulisan ini: doa saya untuk kesuksesan, keselamatan dan keberlimpahan rejeki yang hinggap di kehidupan Anda sekalian, sahabat-sahabat saya semua.

Atas persahabatan baik saya dengan Mas Iman Brotoseno (Chairman Pesta Blogger 2009), saya pun mulai berkenalan dengan teman-teman blogger negeri ini. Berawal dari blog, sudah 2 TVC saya garap bareng dengan Mas Iman: sebuah awal yang mungkin gak nyambung. Tapi begitulah hidup, nyambung gak nyambung: jalannya memang sudah dituliskan. Terakhir, saya menjadi saksi atas Pesta Blogger mini di JNM Jogja, 15 Oktober kemarin.

Mengenang pertama kali saya ngeblog kira-kira 4 tahun lalu, rasanya baru kemarin saat teman-teman sekantor di Petakumpet rame-rame jadi blogger. Kurang lebih 15-an orang. Sebagian besar blog yang diawali dengan gegap gempita itu sekarang mulai dicuekin pemiliknya, bagai tanah tandus yang dihiasi rumput kering: ada kenangan yang tertinggal tapi terawat. Saya berdoa ada teman-teman blogger Petakumpet yang protes dengan mulai menghidupkan lagi blognya, membuktikan bahwa tuduhan saya salah.

Bahkan untuk setia mengisi blog ini pun: saya seringkali harus memaksa diri saya untuk peduli. Selalu ada kemalasan yang tak terlawan lantaran didera kesibukan kerjaan atau tumpulnya ide menulis. Sehingga posting-nya jarang-jarang. Biasanya seminggu bisa dua tiga kali, sekarang sebulan empat kali aja sudah lumayan.

Tapi inilah menariknya: seleksi alam akan menyapa kita tanpa permisi. Blog yang gugur sebagai kenangan adalah wujud kejamnya seleksi alam. Blog yang sekarang terus tumbuh bahkan makin berkibar adalah penghargaan atas kekuatan dan konsistensi untuk merawat, menyiangi, menanaminya dengan ide-ide baru, melayani para blog walker yang mulai berpaling muka ke rumput tetangga yang lebih segar (baca: facebook).

Sehingga tibalah hari Sabtu besok, 24 Oktober 2009 saat Mas Iman dan teman-teman blogger Indonesia merayakan Pesta Blogger 2009 di Gedung SMESCO Gatot Soebroto, Jakarta. rasa cinta saya pada dunia blog telah melewati bilangan tahun dan besok rasa cinta itu diuji lagi. Saya mendapat kehormatan diundang menjadi salah satu pembicara (sekaligus moderator) di Pesta Blogger dengan Tema Creative Industry di Room F, jam 14.00-16.00, bersama Wahyu Aditya (Hellomotion)*, Widi Nugroho (Telkom), Pandji & Munir (for Acer) dan Hanny.

Teman-teman yang ingin meneguhkan niat menjadi blogger beneran silakan bergabung, saya termasuk yang percaya bahwa blog akan terus tumbuh seperti siang yang selalu menggantikan malam. Bahwa seleksi alam yang terjadi itu wajar di semua bidang kehidupan. Akan selalu lahir blogger-blogger baru yang jauh lebih cerdas, lebih berani, lebih kreatif untuk menggantikan blogger-blogger lawasan yang loyo, kurang semangat dan pemalas.

Selalu indah untuk memelihara api harapan, mimpi yang menerangi kegelapan. Saya bersyukur dari blog ini telah lahir buku Jualan Ide Segar yang Alhamdulillah cetakan ke-2-nya udah hampir habis. Dan sebentar lagi akhir bulan Oktober ini akan terbit satu lagi buku saya Tuhan Sang Penggoda, yang 60% materi mentahnya berasal dari tulisan di blog ini.

Apa yang kita anggap penting, akan memberikan manfaat terbesarnya pada kita. Ini yang saya yakini saat saya pulang lagi menjenguk rumah saya di ranah maya, blog ini. Ada rasa haru, kangen, juga syukur.

Sampai jumpa di Pesta Blogger besok. Teruslah ngeblog, teruslah menulis, teruslah bermimpi.

Tuesday, October 13, 2009

Syawalan ADGI Jogja, 16 Okt 2009


Wednesday, October 07, 2009

Ke Ujung Senyap

Sampai kapan aku mesti menunggu
Nasib berkeping terpenjara alam hidupmu
Terseok melangkahi rentang waktu
Rubuh dan berpeluh untuk seteguk madu


Lalu kapan kuraih cahaya
Tafakkur di balik dinding membara
Berlari merajuti hayat semesta
Tegak menenggak hakikat semesta


Perjalanan ini semakin panjang
Semakin letih tuk kaki merentang
Terengah menengadah bersimbah darah


Kutunggu ruang beradu waktu
Merayap dalam malam yang gemerlap
Aku sendiri berhening dalam makrifat


Rembang Jogja (1993-2009)

Thursday, October 01, 2009

Logika Politik yang Tidak Logis

Berapa modal yang diperlukan untuk sukses dalam politik? Jawabnya bisa bikin miris: untuk kelas legislatif kabupaten bisa sampai 300 juta rupiah, untuk bupati 10-30 milyar, untuk presiden kira-kira 1 triliun rupiah. Bisa lebih karena selalu ada biaya lain-lain.


Darimana semua dana itu berasal? Dan berapa persen dari dana-dana tersebut yang terjaga kebersihan asal-usulnya? Prediksi saya, tingkat kebersihannya tak lebih dari separuhnya. Bisa lebih kecil karena dipotong biaya lain-lain.


Tapi yang mengherankan saya, asal usul dana itu bukan sesuatu yang penting sebagai bahan pertimbangan dari para pelaku kontes politiknya. Tujuan untuk memenangkan pertarungan perebutan kursi jauh lebih-lebih penting dari pertanyaan sederhana saya tentang halal haramnya modal untuk bertarung tersebut.


Mungkin justru saya yang naif, politik kok ngomong halal haram. Politik itu menang kalah, berkuasa atau dikuasai, mengumpulkan harta atau diperas hartanya, Berjaya di singgasana atau tersingkir. Meminjam istilah teman saya, menang cacak kalah mbecak. He he he :)


Tapi inilah konyolnya, saya malah memimpikan seorang pemimpin yang lahir dari proses politik yang bersih. Yang setiap langkahnya sejak mulai pencalonan, sosialisasi, promosi, debat sampai proses pemilihannya, semua menjadi rahmat bagi seluruh alam, menjadi manfaat, tidak mubadzir seperti yang sudah-sudah. 


Berapa budget yang telah dihabiskan bangsa Indonesia lewat KPU dan kantong tim-tim sukses capres sampai kita mendapatkan SBY-Boediono sebagai Presiden & Wapres terpilih? Lebih dari 4 triliun.


Berapa budget yang dibutuhkan untuk mendapatkan Ir. Soekarno & Mohammad Hatta sebagai Presiden & Wapres pertama Indonesia? Hampir nol.


Engkau tentu akan bilang: ya beda dong Rief, jaman dulu dan jaman sekarang. Situasinya beda, masyarakatnya beda, orangnya beda. Jangan disama-samakan karena parameter-parameter yang mendasarinya berbeda.


Betul, saya juga setuju. Saya setuju saya naif jika langsung melakukan direct benchmarking. Tapi coba jika kita lihat produk akhirnya, kita akan sepakat bahwa Soekarno Hatta tidak kalah kelas dengan SBY Kalla atau SBY Boediono. Dua yang terakhir adalah produk pemilu demokratis yang modern (makanya mahal).


Doa saya sesungguhnya adalah agar bangsa ini dijauhkan dari proses politik yang berlebihan, yang boros, yang mubadzir, pesta demokrasi yang tidak memberikan kemanfaatan pada jiwa raga, kecerdasan dan kemakmuran bangsa ini hanya karena kita semua menganggap bahwa apa yang terjadi sudah semestinya.


Padahal ini sudah tidak semestinya.


Contoh: seorang calon gubernur/bupati yang incumbent – untuk mengumpulkan milyaran rupiah modalnya – melakukan pemungutan sistematis dan massif untuk apa saja yang berada dalam kewenangannya. Setiap proposal yang diajukan, setiap pendaftar CPNS, setiap permintaan bantuan, setiap sertifikat tanah yang disahkan: untuk modal nyalon sekali lagi. Nanti jika dia terpilih lagi, upaya pertamanya bukan untuk menyejahterakan rakyat yang memilihnya tapi untuk mengembalikan modal-modalnya. Tapi jika dia tidak terpilih, nasibnya bakal jauh lebih sederhana: menjawab pertanyaan KPK tentang ini itu untuk akhirnya menghuni hotel prodeo. Bukan happy ending yang diharapkan.


Ah, politik. Takkan selesai jika kita bicara kepentingan dan nafsu manusia. Jika manusia diberikan satu gunung emas, ia akan meminta satu gunung lagi, begitu seterusnya. Nafsu duniawi adalah seperti minum air laut yang asin, makin diminum makin haus. Hanya segenggam tanah yang akan menghentikannya, saat sang pelaku masuk lubang kuburan.


Saya akan berhenti cerita di sini. Saya tak sampai hati melanjutkan kisah horror di alam kubur, di akhirat, di hari pembalasan kelak. Saya sendiri meyakini bahwa neraka tidak berada di tempat yang jauh, kita bisa mencicipinya di dunia ini jika mau. Dalam bentuk stroke, kanker, serangan jantung, harta hangus terbakar, penjara, kehilangan nama baik dan ditinggalkan keluarga, handai taulan, kerabat terdekat.


Surgapun juga tak jauh, hanya karena seringkali sekelilingnya dihias duri, penderitaan, cemooh, caci maki dan umat manusia yang tidak trendy, kita dengan sadar menjauh, menutup hidung, bahkan meludah.


Ah, politik. Kita tahu persis mana yang benar. Tapi kita takut tak kebagian.

Sunday, September 27, 2009

Kembali ke Dunia Nyata

Libur lebaran usai sudah. Hari ini, 28 Oktober kantor sudah mulai buka. Aktivitas bisnis akan mulai berdenyut lagi. Hari-hari yang riuh, kerjaan yang mulai hadir mengisi keseharian, order yang membanjir, deadline yang menyergap, semua itu akan mengembalikan kesadaran kita bahwa dunia nyata telah menyapa.


Setelah menyelesaikan puasa satu bulan, mengumpulkan kenangan dan kehangatan dalam silaturrahim lebaran, seharusnya itu bias menjadi bekal yang menguatkan kita untuk menjalani hari-hari baru dengan semangat baru, dengan cara-cara baru, dengan ilmu-ilmu baru. Bukannya tenggelam lagi dengan cara lama, stress yang makin parah dan kepayahan yang makin berat kita panggul.


Kejernihan untuk menatap hari-hari panjang masa depan dengan seribu problematikanya akan membuat hidup kita utuh tak pecah berkeping. Jiwa kita adlaha harta kita yang termahal, jangan korbankan hanya untuk mengejar hal-hal remeh dalam kehidupan. Jangan lagi kita pecundangi dengan kepalsuan-kepalsuan. Jangan kita biarkan ia kesepian lantaran kitra makin jauh dari cahaya kebenaran.


Berikhtiarlah sekeras mungkin untuk mencari yang lebih baik, lebih benar, lebih bersih. Jangan hanya yang lebih mudah, lebih nikmat, lebih glamour.


Hati nurani Anda tahu apa beda dari keduanya. Selamat menggapai prestasi baru lagi selepas lebaran ini, selamat menabung hal-hal baik dan sejauh mungkin berlari dari kemubadziran apalagi keharaman. Doa saya selalu untuk Anda, Allah yang Maha Memberi Petunjuk akan senantiasa menyertai. Jangan jauh-jauh dari-Nya agar ketentraman hidup terjaga…

Saturday, September 26, 2009

Teman Lama, Kisah Baru




Bertemu teman lama seolah melengkapi puzzle kehidupan kita. Yang mungkin sempat terkeping ketika kita jauh dari tempat asal, jauh dari kultur yang membesarkan kita, jauh dari mereka yang saat kita sedang tumbuh mengeja kehidupan senantiasa bersama menemani kita. Dan moment itu seringkali tiba ketika lebaran tiba, syawalan, halal bi halal.


Mengetahui prestasi apa yang dicapai kawan-kawan kecil kita dulu, bertukar cerita, me-rewind kisah lama dan menghidupkan sejarah sehingga up to date kembali: selalu mengasyikkan. Sejenak melepas beban dan memberikan variasi asupan informasi dan otak kita sehingga lebih fresh dan lebih siap saat waktunya tiba untuk menyelesaikan persoalan riil kita sehari-hari di waktu selanjutnya.


Tentu saja sambil bercermin adakah upaya kita di masa lalu telah cukup maksimal atau ternyata masih jauh dari harapan. Teman-teman lama kita menjadi cermin untuk melihat diri kita sendiri di kebeningan mata mereka. Juga sharing, saling belajar, saling mendoakan, saling mendukung dan memampukan. Atau rencana untuk membuat upaya pertemanan yang sejenak nyambung ini menjadi permanen. Ya, hal-hal besar seringkali dimulai dari sesuatu yang kecil. Setiap amal perbuatan, tumbuh pertama dari niat.


Keindahan pertemuan dan derai tawa itu akan kita bawa pulang kelak, saat mesti pulang ke habitat sehari-hari kita. Yang memang orang politik, segera menjadi politisi. Yang guru akan kembali menyapa murid-muridnya. Yang pengusaha, kembali dikejar jadual dan berlarian di bandara. Yang kyai, segera sibuk ceramah dan menyembuhkan hamba-hamba Tuhan yang sakit spiritualnya. Yang masih nganggur segera mengurung diri. 


Lalu hari baru akan segera menyapa, kita pun segera tenggelam dalam keseharian kita. Biasanya spirit untuk perbaikan masih akan tahan beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan. Tapi jika tak keras hati untuk istiqomah, kita segera akan tergulung dengan kesibukan sehari-hari, seperti biasanya. Menyapa teman lama seperlunya via sms, fesbuk, email dan sebagainya: kecuali yang secara bisnis menguntungkan kita. He he he, manusia itu tempatnya khilaf dan lupa.


Tapi sudahlah, perbaikan tak bisa dimulai sekaligus dan drastis nanti mental kita akan down dan patah. Akan lebih realistis untuk menikmati saja prosesnya. Mudik – dengan segala catatan kakinya – telah menjadi budaya yang mengembalikan kita semua ke akar dari mana kita berangkat. Dari mana perjalanan panjang ini dimulai. Dan seperti juga tradisi indah yang telah hidup ribuan tahun: tak peduli berapa kali pun KTP-mu berganti, berapa rumah kau tinggali, berapa kota dan perusahaan kau singgahi selama membangun karier dan kesuksesan, kita akan selalu kembali.


Saat Tuhan memanggil kita untuk pulang, tempat terbaik mengistirahatkan jasad kita adalah di kampung halaman. Di tempat dimana kita memulai segala sesuatunya. Dari titik nol kita akan kembali ke titik nol.


Tuesday, September 15, 2009

Successfully Selling Fresh Ideas with Petakumpet



By: Restituta Ajeng Arjanti

Becoming a creative person, according to Arief Budiman, is not a difficult thing. “If everyday we want to think differently, it means we're creative,” he said when contacted by QBHeadlines.com via telephone, Wednesday (29/10). The man born in Rembang, March 21, 1975, is one of creative people who initiated Petakumpet/Hideandseek, a company in advertising sector that has frequently receive advertising awards.
Becoming a commander of Petakumpet Creative Network business since 1999, there's one dream that Arief longs for. The Managing Director of Petakumpet wants to make his company to be “the most creative company in the world” and covered in international business magazine, Fortune Magazine.

Creative Agency
The company whose name, according to Arief, was taken randomly positions itself as a creative bridge between clients and various media, either printed, audio, visual, or audiovisual. What they sell is fresh ideas. The main business of the company is in advertising sector. Several services that they provide among others are campaign and promotion making, company logo, and branding.
Petakumpet was started from a community with the same name, founded in 1995 by student group from Visual Communication Design, Faculty of Fine Art, Indonesian Art Institute in Yogyakarta, class '94. Their basecamp at that time was in Pakuncen area, Yogyakarta. In 1999, Arief started to focus in bringing Petakumpet to business route, up until now.
The creative company often receives advertising awards. As an example, Cakram Award in 2007 for The Best Print Ad category, Dji Sam Soe Award in 2006 as 1 of 9 best Small Medium Businesses in Indonesia, and The Most Creative Agency award in Pinasthika Ad Festival year 2003, 2005, and 2006.
Currently, with 30 human resources, the company that started from a community can embrace big clients, such as holding company for Djarum Super, Djarum Black, and LA Lights brand; Kedaulatan Rakyat Group, Yogyakarta branch of Indonesian Advertisement Company Association, and PT Angkasapura I Yogyakarta.

Arief's Version of Creativity
Thanks to his ability in creating fresh ideas, Arief was twice chosen to be a finalist for International Young Creative Entrepeneur of The Year (IYCEY), in 2006 and 2007. He himself has tips to brush creativity. “Being different is a life stance. If everyday we think differently, that means we're creative,” he said. Finding a way to make something better, according to him, is a process to make something to be more creative.
Arief made an analogy for creative people, saying that if they're thrown by rocks, they can transform the rocks into a beautiful monument. It means, creative is an ability to transform troubles into opportunities.
For him, in advertising world, creativity becomes the most important thing, even more important than technology. “Technology is important, but not the most important thing. The most important thing is creative thoughts instead. Technology and internet support creativity. But technology itself can't create fresh ideas,” he elaborated.
His experiences in creative business was poured by Arief in a book titled “Jualan Ide Segar/Selling Fresh Ideas”. Through the book, he wanted to show how to transfer creativity into something with business value.

Smart Advertisements
In making advertisements, said Arief, request or brief from the client becomes an important point that should be noticed―what are the client's problems, their wishes, and what is the solution. “We have to be able to give creative approach for client's request,” he said.
If we take a look, in this country, advertisements tend to spoon-feed consumers with narrative oral advertisements compared to “smart” advertisements that invite people to think. On that, Arief thought, the reason is more because producers and advertising agencies are not brave enough yet to take risks in communicating with their consumers using a new way.
“What makes an advertising becomes smart is actually how it's conveyed. I see that many of Petakumpet's clients themselves are more successful with smart advertisements,” he elaborated.

Advertising in Crisis Period
The man who once taken the wrong course in Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University in 1994 sees the current economic situation with its crisis as a good opportunity instead to advertise. “Crisis condition reduces competition in advertising world instead. Society can also see, only the good brands can keep advertising in crisis period,” said Arief.
According to his judgment, only companies who are very established would still care to advertise their products in crisis times. “In 2009, advertising will definitely progress. Only in a different way, and probably with smaller budgets,” Arief explained. He himself is very optimistic with the development of creative industry in the nation. “I'm very optimistic, not only in Indonesia, but also in any country.”

Source here

Monday, August 17, 2009

HOT NEWS: Lowongan Sampe 29 Agustus 2009

Sunday, August 16, 2009

Dari Google Untuk Indonesia

Jika Google aja peduli untuk mengingatkan kita semua bahwa hari ini - 17 Agustus 2009 - bangsa besar ini sedang merayakan hari kemerdekaannya, apa bentuk kepedulian kita pada kemerdekaan kita sendiri?

Tidak usah buru-buru menjawab. Mari kita lihat di cermin masing-masing, apakah sebentuk sosok yang nampak di hadapan kita itu sudah cukup berbuat untuk bangsanya sendiri, untuk sebuah kata yang membuat kita takjub: INDONESIA.

Yang sudah terlanjur ya sudah. Saatnya menatap tajam ke depan, menunjukkan pada dunia sebuah pekik yang takkan tertelan oleh jaman, yang akan bergema 1000 tahun bahkan lebih lama lagi: MERDEKA!

Lalu kita wujudkan pekik itu dalam gerak hidup kita selanjutnya. Dengan kemandirian dan keberanian. Jangan lagi kita mempermalukan para pendahulu kita, para pejuang yang gagah berani mengusir penjajah. 

Kemerdekaan bukanlah akhir perjuangan. Kemerdekaan justru awal bagi perjalanan Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar, yang kita banggakan bersama.



Saturday, August 15, 2009

Kreativitas Dalam Keterbatasan

Beruntunglah orang-orang yang karena kondisinya (psikologis, ekonomi, sosial) berada dalam keterbatasan. Dianugerahi masalah, kesulitan, tantangan. Tak banyak orang yang bersedia menanggung kehidupan seperti ini, tapi jika hal-hal yang tidak menyenangkan itu hadir - atas kehendak Allah - tak ada satupun yang akan mampu menolaknya.


Di dunia ini, tak ada orang yang tidak punya kesulitan. 

Beberapa hari kemarin, ada angin puting beliung dan banjir melanda Taiwan, 500 orang tewas. Siapa saja korban-korban yang tewas itu sehari sebelum kejadian? Siapa saja ribuan pengungsi yang harus meninggalkan semua hartanya demi untuk menyelamatkan diri?

Sehari atau bahkan beberapa jam sebelum musibah hadir, mungkin mereka adalah pengusaha sukses, anak sekolah yang ranking satu, preman penguasa terminal, pengembang mall terbesar, konglomerat pemilik bisnis, polisi teladan, wakil rakyat dan mereka yang oleh masyarakat dan media massa digolongkan sebagai orang-orang yang 'sukses' hidupnya. 

Tapi nasib berubah 180% hanya sekejap mata. Apa yang dicari susah payah puluhan tahun hilang begitu saja diterjang bencana. Konglomerat dan gelandangan yang tenggelam dalam air bah punya kemungkinan selamat yang sama. Sang konglomerat tak bisa menggunakan Mercy-nya saat bernafas aja susah, konglomerat tak bisa menghubungi koleganya yang jadi Menteri karena hpnya basah dan konslet. Konglomerat tak bisa minta petugas security yang digajinya, manajer operasional hotelnya, wakil rakyat yang dulu disumbangnya saat kampanye untuk menolongnya saat timbul tenggelam.

Lalu apa bedanya dengan sang gelandangan yang memang dari dulu tak punya apa-apa, dia malah tidak harus bingung untuk minta tolong karena memang tak punya teman dan kolega sebanyak sang konglomerat.

Orang-orang besar dengan ide orisinal luar biasa yang akan mengubah dunia, jarang sekali berasal dari orang-orang yang mapan, yang kaya, yang semua keperluannya tercukupi. Beethoven tuli telinganya. Oprah Winfrey pernah diperkosa saat kanak-kanak. Yusuf Mansur pernah dipenjara 2 kali sebelum jadi Ustadz yang menginspirasi. Thomas Alva Edison dikeluarkan dari sekolah.

Keterbatasan, masalah, kesulitan hidup akan mengasah diri kita seperti mesin yang menggosok batu hitam menjadi intan yang kemilau. Prosesnya menyakitkan, perih dan tidak semua bisa tahan sampai hasilnya terlihat. Banyak yang menyerah, tak tahan menderita. Banyak yang sibuk menyalahkan orang lain dan tidak belajar dari anugerah Tuhan yang luar biasa itu. Kita semua punya batu hitam calon intan di dalam diri kita masing-masing, seringnya kita tak sadar dan tak mau menggosoknya agar berkilau.

Ketika masalah datang, kreativitas kita mandeg justru saat seharusnya bisa tumbuh. Saat kesulitan rasaya tak terpecahkan kita memilih menyerah karena itulah pilihan yang paling mudah. Saat tantangan yang lebih besar hadir menghadang di depan mata, kita lari menjauh 'menyelamatkan' jiwa kita yang kerdil. 

Beruntunglah orang-orang yang karena kondisinya (psikologis, ekonomi, sosial) berada dalam keterbatasan. Dianugerahi masalah, kesulitan, tantangan. Karena dia tidak perlu menyiapkan mentalnya untuk pura-pura susah, pura-pura lapar, pura-pura menderita untuk mampu mendapatkan ide-ide besar. 

Tapi jika Anda  temasuk orang-orang yang hidupnya lancar, sukses, kaya luar biasa: masih ada kesempatan untuk jadi orang besar. Dengan menemani mereka yang kekurangan. Dengan berbagi. Dengan turun ke jalan dan menggunakan kesuksesan, kekayaan, anugerah Tuhan itu untuk menjadi berkat bagi mereka yang lama diabaikan. 

Selamat menyiapkan diri memasuki Ramadhan, siapa tahu Ramadhan yang segera tiba ini adalah Ramadhan kita yang terakhir.

Friday, August 14, 2009

Gudang Garam Merah Spektafest 2009

Client: PT Gudang Garam, Tbk / Agency: PT. Petakumpet Creative Network / Production House: RT Films / Director: Teddy Suryaatmaja

Thursday, August 13, 2009

Ramadhan Terakhir Versi Seandainya

Ramadhan Terakhir Versi Kamboja

Monday, August 10, 2009

Apa Kabar Negeri Blog?

Pergeseran trend dari blog ke facebook tidak terelakkan lagi, seperti saat dulu terjadi pergeseran dari website yang teknologinya kurang user friendly di kalangan awam. Masyarakat dunia ingin yang serba cepat untuk mengakses sesuatu dan tersedia hanya dari satu layanan.

Selain bahwa ini menjadi keunggulan jejaring sosial ala facebook, ini juga menjadi cermin atas keengganan mayoritas kita untuk menggali pengertian lebih dalam atas peristiwa-peristiwa yang bersliweran di sekitar kita. Kita tahu peristiwa ini dan itu, tapi apa maknanya dalam kehidupan kita mungkin tak sempat kita selami.

Di jaman ini, yang instant akan memperoleh banyak pengikut. Yang ngajak mikir dan merenung akan berkurang fansnya. Yang instant menawarkan kemeriahan, yang memerlukan waktu untuk mencernanya akan menyediakan ketenangan.

Bahagia makin susah dicari saat ini karena letaknya bukan di permukaan, bukan di gemerlap, bukan di basa-basi pergaulan.

Kebahagiaan harus digali dengan usaha yang mungkin tak mudah karena tak terlihat seketika dan letaknya jauh di dalam hati kita yang kesepian atas makna.

Sunday, August 09, 2009

Cara Menangkap Noordin M. Top


Berikut usulan saya tentang ikhtiar yang bisa dilakukan untuk menangkap Noordin M. Top, kalau-kalau yang tertangkap kemarin bukan dia. Jika tidak sesuai keyakinan usulan ini boleh tidak dipercayai, atau ditertawakan. Tapi jika semua upaya seolah menempuh jalan buntu, silakan baca lagi usulan ini baik-baik, semoga ada gunanya:

  1. Untuk mendapatkan titik terang keberadaan Noordin M. Top, seluruh Jenderal dan pasukan Densus 88 yang beragama Islam mendisiplinkan sholat lima waktu, sholat sunnah tahajud dan sholat hajat. Jangan karena ngejar teroris kemana-mana, sampai lupa waktu, lupa sholat, lupa Allah. Nanti capek sendiri, buronannya melarikan diri.
  2. Senjata terhebat bagi pasukan anti teror adalah doa, bukan senjata laras panjang atau bom tangan. Sudah terbukti di Temanggung, untuk menewaskan satu teroris saja Densus 88 butuh amunisi satu truk.
  3. Sedekahkan 20% dari dana operasi anti teror untuk membantu keluarga-keluarga korban teroris (saya tidak tahu total dananya sampai berapa ratus milyar). Mintalah doa mereka, doa dari yang teraniaya mustajab kabulnya.
  4. Ikhtiar yang selama ini sudah dilakukan (penyamaran, pemeriksaan, penggeledahan, dll.), silakan dilanjutkan, silakan dimaksimalkan. Urutannya: doa - ikhtiar - doa. Jangan ikhtiar doang. Kemampuan otak kita terbatas, kemampuan intelejen juga terbatas. Dengan diterangi cahaya Allah, takkan ada lagi salah tangkap, salah geledah, salah tembak, salah sasaran, dll.
  5. Buka mata, buka hati: ikuti petunjuk yang dititipkan Allah kepada panca indera dan intuisi kita, dari hal yang paling sepele. Serpihan bom, keterangan saksi, teroris yang tertangkap, bekas persembunyian, apa saja. Coba lihat film Inside Man, semoga dapet ide dari situ. Seringkali info terpenting sudah di tangan kita tapi karena terlalu sibuk malah nyarinya di tempat yang jauh-jauh.
Usulan ini saya sampaikan dengan doa yang penuh semoga Allah membimbing jalan kita semua. Tak boleh lagi ada oknum yang merusak keindahan Islam yang Rahmatan lil 'Alamien dengan teror, di manapun di seluruh muka bumi.

Kepada Tim Densus 88 dan semua elemen keamanan negeri ini, selamat menunaikan tugas negara. Kami seluruh rakyat Indonesia akan mendukung sepenuhnya. Bersama Allah dan kesucian niat untuk memberantas terorisme, takkan ada yang bisa lolos kali ini, termasuk Noordin M. Top atau siapapun juga dalangnya. 

Amien.. Amien... Amien... Ya Robbal 'Alamien...

Image pinjem dari: http://syair79.files.wordpress.com/2009/07/noordin-mochammad-top.jpg

Oleh-oleh Dari Pinasthika 2009

T Shirt JOGJA DOG D4Y
Finalis T Shirt (Graphic Design)
Poster SAMBEL BLEDHEG SUPER
Finalis Poster (Graphic Design)
Poster KING KOMP Yogyakomtek
Finalis Poster Event (Graphic Design)
Poster DELTOID Body Building
Silver Award Poster (Bawana)
Company Profile UK PETRA Surabaya
Gold Award Company Profile (Graphic Design)

Petakumpet terpilih sebagai The Most Creative Graphic Design Agency di Pinasthika 2009. Terima kasih untuk seluruh kerja keras teman-teman di Kreatif (Dedy Rokkinz, Danan Mc. Kagan, Husny, Adit, Emyr, Bimalizer, Yudi) dan bantuan tim Petakumpet di departemen lain atas pencapaian ini. Next time, we will do better lah. As always :)

Saturday, July 18, 2009

Ledakan yang Merobek Pagi Itu

Tulisan saya yang mengedepankan pendekatan tanpa kekerasan untuk menunjukkan konsep Islam yang rahmatan lil 'alamien banyak ditentang oleh saudara-saudara saya sesama muslim, seolah saya mendakwahkan kelemahan Islam melawan pihak-pihak yang ingin menghancurkan Islam.

Dan pagi itu saya sudah mulai ngantor saat Alda seorang teman menelepon,"Rief gue telat nyampe nih jalannya mesti muter, ada ledakan di Mega Kuningan." Ledakan? Saya tidak berprasangka jauh, saya yang di Mega Kuningan (Bellagio Mall) nggak denger apa-apa.

Tapi ternyata saya keliru. Ledakan itu ternyata benar-benar mengubah banyak jadual penting di negeri ini, memilukan hati para korban dan keluarganya, membuat marah presiden dan menggagalkan MU main di Jakarta. Korban jatuh tercatat 9 orang tewas dan 53 luka-luka.

Kantor Petakumpet Jakarta hanya 300 m dari TKP. Dan 15 menit sebelum ledakan terjadi, mobil Petakumpet yang dibawa Mas Eri sempat melintasi jalan depan JW Marriot & Ritz Carlton. Tuhan yang punya skenario mengatur segala sesuatunya sehingga kita yang masih tinggal bisa belajar banyak dari kejadian ini, dari para korban yang menghadap Tuhan saat sarapan pagi juga dari aksi terorisme yang seolah bangkit lagi dari kuburan setelah hampir 5 tahun tak terdengar kabarnya.

Pagi itu saat mobil bergerak keluar Bellagio, jalan-jalan sudah ditutup. Tidak mungkin melewati 2 hotel naas itu, kamipun menuju Kemang untuk recording iklan radio, menjauh dari hiruk pikuk. Sms masuk bergantian menanyakan kabar, Alhamdulillah kita baik-baik saja. Tapi hari itu saya jauh dari Mega Kuningan, dari Kemang meluncur ke kantor Gudang Garam di Cempak Putih, ke Gambir dan masuk kantor lagi udah jam 9 malam. Lalu lintas Jakarta tak pernah sesepi dan selancar malam itu.

Saat malam turun, saya pun terdiam merenung. Untuk mengajari manusia tentang cinta dan kasih sayang, Tuhan seringkali menurunkan kejadian kekerasan yang memilukan. Dugaan saya, mungkin karena sebagian besar kita (termasuk saya) sudah sangat sulit dinasehati, keras kepala dan merasa bahwa hidup ini tergantung 100% hanya dari kemampuan dan logika kita semata. Lalu kita beli alat-alat detektor canggih, kita undang ahli kemanan, kita periksa semua tamu yang mencurigakan secara ketat dalam beberapa bulan ke depan, lalu saat situasi lumayan aman kita kendorkan lagi penjagaannya karena yang memeriksa dan diperiksa sudah sama-sama lelah karena terlalu lama paranoid atas kemungkinan ledakan berikutnya.

Padahal hidup ini ada untuk dinikmati dengan kebaikan, untuk dijalani dengan ketenangan dan ketentraman. Untuk disyukuri dengan berbagi dan saling menguatkan. Saya akan mendukung apapun ikhtiar yang perlu kita lakukan untuk mencegah kekerasan kejam ini tidak terulang, saya hanya menyarankan untuk mulai melibatkan Allah dalam prosesnya. Tak sekedar alat canggih yang membuat kita merasa aman, tapi justru kedekatan kita pada Allah-lah kunci dari keselamatan yang sejati.

Saya tidak pernah sedikitpun ragu untuk melawan teror dalam segala bentuknya, saya hanya menggunakan metode yang berbeda. Api jangan dilawan dengan api tapi air. Bom jangan dilawan dengan bom. Mahatma Gandhi bilang, jika setiap mata yang hilang harus dibalas dengan menghilangkan mata yang lainnya maka dunia akan dipenuhi orang-orang buta.

Tapi apakah kita bisa menyadarkan para teroris yang nekad dan putus urat syaraf kemanusiaannya itu dengan khotbah tentang cinta dan kasih sayang? Mungkin kita tidak bisa, mungkin itu mustahil kita lakukan. Tapi di tangan Allah, semuanya pasti mungkin. Tidak ada yang sulit buat Allah, selama kita serius untuk mengundang-Nya menyelesaikan semua masalah kita.

Masalahnya Allah mau atau tidak mengabulkan doa kita? Itu terpulang dari kesediaan kita untuk selalu melangkah lurus di jalan-Nya. Tidak belak belok karena mengejar dunia, godaan yang telah terbukti mampu menggelincirkan umat manusia dari jaman ke jaman.

Malam pun sudah menjelang pagi. Tak ada tempat terbaik untuk kembali kecuali kepada-Nya dan di tangan-Nya lah nasib kita berada. Laa haula walaa quwwata ila billaah...

Tuesday, June 30, 2009

TVC Gudang Garam Merah



Agency: PT Petakumpet Creative Network // Client: PT. Gudang Garam, Tbk // Director: Iman Brotoseno // PH: Orangewaterland

Saturday, June 27, 2009

Jacko


Image pinjem dari www.opposingdigits.com/racistparadigm/michael%20jackson%201.jpg

Semua menulis tentang kematian Jacko,sang legenda pop kini harus memenuhi panggilan mendadak-Nya. Rasanya ada magnet raksasa yang menggerakkan jutaan keybord itu menderetkan huruf-huruf duka cita. Magnet itu juga menarik saya yang lama tak ngeblog.

Jacko adalah cermin terbaik untuk kita semua dalam menjalani hidup.Dibalik gemerlap hidupnya ada rapuh di dalam, sebuah tanya besar menunggu jawab. Jacko meng-update wajahnya habis-habisan, yang ternyata tak dibawanya saat pulang. Wajah itu akan menyatu dengan tanah dan hilang. Kita mungkin tak sekaya Jacko, tapi mungkin juga tak mau tukeran nasib dengannya kayak acara di tv. Kita hanya bisa doakan, kabar-kabarnya doi sudah jadi muallaf setahun lalu. Entahlah kebenarannya, semua itu kembali kepada yang menjalani dan Tuhannya. Tapi kita selalu berharap akhir yang baik dari kehidupan setiap hamba Tuhan, bukan yang menyisakan tanya dan beban buat yang ditinggalkan.

Jacko, ternyata kesuksesan, ketenaran, kekayaan, uang yang segunung - sekali lagi terbukti - tak bisa membeli kebahagiaan. Bahkan membeli waktu yang hanya beberapa hari untuk konser pembukanya yang direncanakan sangat dahsyat di London pun tak bisa. Bahkan untuk menyambung detak jantung beberapa menit sambil menunggu pertolongan rumah sakit tak bisa.

Lalu untuk apa kita kejar-kejar kekayaan, keuntungan, kekuasaan itu dengan saling sikut dan telikung, sampai melupakan anak istri, saudara bahkan Tuhan. Toh di akhirnya, kita hanya akan menuai kekosongan. Kita hanya bawa pulang amal, hal-hal baik yang sempat kita lakukan di dunia fana ini. Kita yang masih punya kesempatan - entah berapa lama atau berapa singkatnya - lebih baik menyegerakan bersiap. Menjalani sisa hidup kita dengan syukur (hitam dan putih sama saja, lihat metamorfosa wajah Jacko yang tak banyak gunanya) dan sabar (saat diuji dengan kekuarangan maupun keberlimpahan). Syukur dan sabar jika kita genggam erat-erat Insya Allah selamat.

Jacko, terima kasih untuk inspirasi dan semua pelajaran hidup yang kau berikan. Selamat menikmati istirahat panjangmu. Mungkin di sana bisa kau dapatkan bahagia yang begitu mahal harganya saat kau masih berada di dunia-Nya...

Monday, June 08, 2009

Menunggu Launching

Menangani brand nasional adalah sebuah pekerjaan yang selalu saya harapkan, saat pertama kali buka kantor di Jakarta. Alhamdulillah sekarang Petakumpet bisa pegang 2 brand, yang waktunya dekat-dekat ini akan segera di-launching kampanye promosinya. Jika tidak ada halangan, Insya Allah menyusul brand ketiga yang saat ini memasuki proses negosiasi.

Tadi malam baru menyelesaikan satu lagi pekerjaan, supervisi jingle. Ini adalah rangkaian setelah iklan TVC yang panjang dan penuh liku, juga materi ATL BTL lainnya yang seru dan melatih kesabaran menjalaninya. Bukan pekerjaan yang mudah tapi rasanya sangat layak menjadi fundamental untuk doing another national campaign.

Dan hari-hari ini rasanya tak sabar lagi menunggu, setelah bekerja lebih dari 6 bulan sejak mulai preparation. Jika on schedulle, Insya Allah pertengahan bulan ini sudah di-launch dua-duanya. Rasanya seperti menunggu masuk sekolah baru atau seperti seorang cowok yang telah mengirimkan surat cintanya menanti jawaban cewek incerannya.

Begitulah setiap pekerjaan yang didasari passion. Pengennya segera ditayangkan, mendapat feedback dari audiens dan masyarakat untuk berkarya lebih baik lagi ke depan.

Jika ada yang sedang tidak sibuk, mari bersama saya menunggu kerjaan kreatif Petakumpet yang terbaru. Sambil corat-coret untuk menjaring ide segar lainnya untuk brand baru lainnya, dan bersyukur atas semua kepercayaan yang telah diberikan dengan selalu menjaganya sepenuh hati.

Menengok sejenak atas apa yang telah kita kerjakan di masa lalu dengan kemampuan terbaik, lalu melesat lagi ke masa depan dengan hasil yang lebih baik lagi. Good is not enough, kan?

Tuesday, June 02, 2009

Live On Aducation DKV ISI Jogja

Tuesday, May 26, 2009

Bicara Film Iklan di Salihara



Bicara Film Iklan
Teater Salihara, Pejaten
Jumat, 19 Juni 2009, 19.00 - 22.00 WIB

Pembicara:

M. Arief Budiman
Executive Creative Director Petakumpet

Berbicara tentang konsep kreatif iklan, strategi, pencarian ide sekaligus pemahaman iklan sebagai alat pemasaran

Iman Brotoseno
Sutradara Film Iklan

Berbicara tentang implementasi menjadi sebuah shooting board dan eksekusi film iklan di lapangan

Mira Lesmana
Producer / Miles Production

Berbicara tentang bagaimana memproduksi sebuah film iklan dan aspek-aspek manajemen produksi

Goenawan Mohamad
Penulis & Budayawan

Berbicara tentang aspek film iklan sebagai bagian dari budaya modern

Monday, May 25, 2009

Ketika Harapan Tak Terwujud

Ketika segala sesuatu yang telah kita rencanakan dengan baik, terjadual dan hampir sempurna pada waktunya tidak bisa terwujud, reaksi pertama kita biasanya akan kecewa.

Udah dandan rapi-rapi disemprot Axe Chocolate mau ngapelin cewek untuk pertama kali, begitu naik motor menyusuri jalan tiba-tiba - tanpa peringatan - hujan mengguyur dan bresss.. basahlah semuanya.

Seorang direktur sudah mendapatkan deal sebuah project senilai 500 milyar, semua kesepakatan sudah diterjemahkan dalam bentuk kontrak detail sejumlah 40 halaman oleh manajernya masing-masing. Tinggal tanda tangan doang besok dan akan diliput pers secara nasional menjadi deal terbesar untuk kedua perusahaan. Tapi pena tak pernah digoreskan karena direktur kliennya tak pernah sampai di ruang press conference: meninggal mendadak terkena serangan jantung di kamar mandi hotelnya menginap.

Seorang manajer perusahaan telah berkarier cemerlang selama 20 tahun, melakukan apapun yang diperlukan sehingga hampir setiap tahunnya terpilih menjadi Manager of The Year di perusahaannya bekerja. Dan pada umur 55 tahun, ia pensiun membawa uang pensiun yang telah dikumpulkan dari hasil usahanya sebesar 10 milyar. Karena ingin menikmati usia senjanya ia tak mau lagi bekerja. Datang seorang kawan menawarkan investasi, kawan ini reputasinya luar biasa dan punya jaringan internasional. Jika invest keuntungannya bisa naik 20-40% setahun. Sang pensiunan tertarik lalu invest 1 milyar dan untung. Lalu 5 milyar dan untung. Lalu 10 milyar dan bummm! Krisis moneter internasional menghantam, uangnya jadi abu dan sengketa panjang di pengadilan. 20 tahun pengabdiannya ludes dalam waktu kurang dari setahun.

Dari beberapa kejadian di atas, sepertinya nasib begitu kejam menghantam dan seolah-olah kita sebagai manusia tak bisa berbuat apa-apa saat itu terjadi. Jika tak kuat mental, maka terguncanglah jiwanya dan mungkin berakibat hal-hal yang lebih fatal. Mantan presiden Korea Selatan Roh baru saja bunuh diri setelah dituduh korupsi meskipun saat dia naik julukannya adalah Mr Clean. Hancur hidupnya setelah tak menjabat lagi. Antasari Azhar. Caleg-caleg yang tak terpilih. Caleg yang meninggal 3 hari sebelum diputuskan KPU terpilih.

Dan cerita beginian, banyak banget bertebaran di sekitar kita.


Jadi teman-teman semua, menyiapkan segala sesuatu untuk masa depan kita itu memang baik, perlu dan bahkan wajib. Tapi mohon selalu ingat untuk tak melewati hukum-hukum alamnya agar tak kecewa di ujung.

Salah satu yang saya percaya adalah:
Jika ingin dapat bagian keuntungan terbesar, maka dapetnya harus paling belakangan. Jika ingin dapet duluan, maka bagian keuntungannya paling kecil.

Di perusahaan manapun: office boy, satpam, driver pasti dibayar duluan ketimbang direkturnya. Jika perusahaan lagi miring, mereka tetap gajian duluan dan bisa jadi direkturnya gak kebagian. Tapi jika perusahaan lagi bagus, mereka juga tetap gajian duluan tapi tentu tak sebesar jatah sang direktur yang baru diterima setelah semua yang pangkatnya lebih rendah dapat bagian.

Jika hukum ini dilanggar, maka resikonya jelas. Office boy yang pengen dapet jatah lebih besar akan mencoba mengkorupsi biaya rumah tangga kantor, satpam mungkin akan membocorkan data rahasia perusahaan, driver akan me-mark up biaya bensin dengan nota palsu. Jika sampai ketahuan dan pasti ketahuan, mereka akan dipecat.

Jika sang direktur pengen dapet gede dan duluan, maka uang proyek dipake dulu buat DP mobil Lexus terbaru, buat bayar cicilan rumah mewah atau mendandani caddy golf untuk diajak yang bukan golf. Jika terbongkar, ia akan menghabiskan sisa kariernya di penjara sebagai pesakitan.

Silakan kejar dunia, sekencang-kencangnya. Silakan mendaki tangga karier setinggi-tingginya. Silakan menumpuk kekayaan sebesar-besarnya. Tapi di ujung karier kita, di puncak sukses kita, di ujung hidup kita: itu semua takkan kita bawa. Semua akan ditinggalkan meskipun kita tak rela. Takdir akan merenggut paksa apa-apa yang kita dapatkan dengan cara yang di luar cara-Nya. Alam akan selalu menyeimbangkan diri, kita tak bisa menolaknya.

Kita ini tak pernah punya milik. Kita ini sendiri hanyalah pinjaman. Sebaiknya kita mulai bersih-bersih dari sekarang, sekiranya ada bagian dari hidup kita yang bukan hak kita. Sehingga ketika waktunya tiba dan apa yang kita peroleh diminta kembali oleh yang Maha Punya: kita ikhlas dan tak berat hati.

Tukang parkir mengajari kita hal yang luar biasa, saat motor atau mobil diambil pemiliknya ia relakan karena ia sadar semua itu hanya titipan.

Saat apa yang kita rencanakan tak bisa berjalan seperti harapan kita, ambillah cermin. Mungkin ada bagian diri kita yang harus dibersihkan, mungkin ada dosa yang belum dimintakan maaf dan tobat, mungkin ada kedzaliman dan kebohongan dalam mengejar cita-cita dan harapan.


Insya Allah masih ada kesempatan, jika kita tak menunda lagi. Kita tunggu undangan-Nya dengan senyum keikhlasan dan bukan dengan muka terkaget-kaget karena tak pernah menyiapkan bekal...