Tuesday, April 2, 2013

Good. Better. Best.



Different and new is relatively easy. Doing something that's genuinely better is very hard.

Jonathan Ive
Senior Vice President Apple


Setiap orang bicara perubahan. Setiap motivator dan pembicara seminar bicara perlunya mengubah diri. Diri kita sendiri yang melihat kondisi sehari-hari yang seolah stagnan, negara yang seperti dijalankan dengan auto pilot, tahu betul bahwa perubahan itu sebuah keniscayaan dan harus diperjuangkan.

Tapi mengapa bangsa ini rasanya tak cukup cepat untuk maju? Karena mayoritas yang ingin berubah, hanya punya keinginan saja. Dan hampir tak melakukan apa-apa. Mereka menunggu orang lain untuk melakukan perubahan. Jika orang itu sukses, maka berbondong-bondonglah orang banyak untuk mengikuti. Jika gagal, maka tamatlah riwayatnya. Yang ada hinaan, ejekan dan tertawaan.

Kita telah menjelma menjadi bangsa yang senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.

Resiko untuk melakukan perubahan itu berat. Bahkan sangat berat. Makanya tak banyak yang mau mencoba. Perubahan itu lebih enteng dibicarakan, daripada dipraktekkan.

Kita mengenal Dahlan Iskan. Jokowi. Basuki. Iwan Fals. Emha Ainun Nadjib. Yusuf Mansur. Steve Jobs. Jeff Bezos. Google. Dan masih banyak lainnya.

Nama-nama yang identik dengan spirit perubahan. Spirit perjuangan untuk mewujudkan hal-hal tertentu dengan lebih baik. Tapi karena berada dalam sebuah sistem birokrasi dan bernegara yang cenderung mengabdi pada status quo, maka yang mereka lakukan seringkali 'dianggap' di luar kebiasaan.

Padahal, yang dilakukan biasa-biasa saja, tindakan mereka memang sudah seharusnya. Tapi karena lingkungan sekitarnya sedang terdegradasi standar kualitasnya, maka yang biasa dan sepantasnya menjadi seolah hebat luar biasa.

Untuk berubah, kita mulai dari hal-hal yang kecil dulu. Yang terjangkau. Yang tidak sekedar angan-angan atau gosip yang bertebaran. Yang penting diimplementasikan.

Kenyamanan itu lawan perubahan. Kenikmatan itu meninabobokkan. Dan itu semua harus ditinggalkan.

Tulisan ini diketik di HP touch screen, 3,5 inch. Bukan di layar komputer yang lebar dan nyaman. Agak menyulitkan dan sering salah ketik karena screen-nya kecil, tapi jika diniatkan toh bisa juga.

Tidak mudah artinya bisa. Tidak mungkin itu artinya putus asa. Atau sekedar malas saja. 

Saatnya mengubah diri kita ini, dengan tindakan nyata. Bukan sekedar tulisan atau kata-kata. Bukan hanya agar sekedar berbeda, tapi agar menjadi lebih baik.

Menjadi jauh lebih baik. 

Sunday, March 10, 2013

Changevertising


Kemana iklan akan berlabuh di masa depan? Changevertising itu apa? Apa yang perlu diubah?

Kita takkan pernah bisa menggapai pandangan untuk menjangkau masa depan dengan lebih jernih, jika kita terus-menerus disibukkan oleh kegiatan membuat iklan yang telah menjelma rutinitas. Yang telah menjelma riak-riak yang bising tapi kehilangan kekuatannya sebagai gelombang.

Yang telah menyulap kreativitas sebagai sekedar komoditi untuk jualan, sebagai ‘sekedar’ tools untuk men-support penjualan. Melihat fenomena iklan-iklan yang mayoritas berakhir sebagai sampah visual (fisik maupun psikis), kita tidak saja gagal membuat iklan yang baik (good advertisement). Kita bahkan gagal melakukan hal-hal untuk kebaikan (doing good).

Dalam tulisan ini, saya tidak hendak membahas perubahan periklanan dari sisi teknis. Misalnya: bahwa pemasaran secara interaktif itu jauh lebih efektif daripada beriklan. Atau bahwa periklanan yang personal lebih tepat daripada periklanan yang massive. Atau bahwa digital dan online media akan memakan kue iklan lebih rakus daripada offline media macam surat kabar, billboard, spanduk dan sebagainya. Fenomena buzzer, augmented reality, pay per click. Atau hal-hal yang serupa itu.


Karena kita bisa membaca artikel-artikel tentang itu semua, bertebaran di internet. Fokus saya adalah pembenahan mindset para pelaku industri periklanan ini. Untuk diubah. Untuk di-install ulang. Untuk dikoreksi dari kesalahan-kesalahan masa silam.

Ini adalah testimoni saya. Saya mulai koreksi ini dari diri saya sendiri. Ini menjadi cermin bagi saya dan siapa pun yang merasakan ketidakberesan proses di industri yang kita cintai ini.

Merebut Ruang Hening

Di jaman yang serba digital ini, semakin sulit untuk meraih ruang hening, ruang yang terbebas dari intervensi dan interupsi segala hal yang berhubungan dengan iklan. Yang paling mudah dirasakan adalah makin sulitnya menjadi fokus dalam menyelesaikan berbagai tanggung jawab dan tugas-tugas kehidupan. Makin sulit untuk berfikir mendalam, menuangkan fikiran dengan jernih.

Dunia yang makin mencair ini terus mengalirkan informasi dan iklan– yang berguna maupun yang sampah – ke seluruh pelosok negeri bahkan ke sudut-sudut tersembunyi yang gelap di dalam otak kita, prosesor alami maha dahsyat yang kita perlakukan hanya sebagai tempat penyimpanan belaka, sekedar harddisk yang sebentar lagi akan penuh isinya, makin bertambah bad sector-nya dan lantas hang.

Di dalam keseharian, seolah-olah ada pasar yang riuh dengan display jutaan merk yang terus kita bawa kemana-mana tanpa jeda. Membuat otak kita terasa penuh tapi dengan ketidakjelasan apa saja yang memenuhinya. Kita dihempaskan gelombang informasi ke kanan, ke kiri, kemanapun yang bukan kita sendiri penentunya.

Melarikan Diri Entah Kemana

Kelemahan untuk berfokus dan kesulitan untuk diam tenang berfikir ini, sering membawa kita melakukan pelarian kepada hal-hal yang sekedar trend sesaat, isu-isu remeh-temeh yang lagi marak, yang celakanya tak kita pahami substansi permasalahannya selain sekedar remah-remah informasi yang bersliweran di timeline twitter, status facebook, broadcast message atau gosip ria di cafe-cafe. Kita memenuhi otak kita dengan sampah informasi yang terus menggunung tanpa kesadaran untuk membersihkannya, karena sampah informasi itu tak terlihat.

Tapi sungguh kita pasti bisa merasakannya. Alarm tanda bahaya itu akan mengirimkan sinyal: sulitnya menentukan prioritas, tidak bisa berpisah dengan gadget, mudah lupa, bingung mau melakukan apa karena dalam waktu bersamaan banyak tanggung jawab yang belum diselesaikan, mudah panik, tidak bisa mengatur waktu, mudah capek, melakukan aktivitas yang kita tidak tahu apa manfaatnya selain untuk membunuh waktu, meng-install gadget dengan ratusan apps yang fungsi utamanya hanyalah untuk menghias layar semata atau memenuhi kereta belanja dengan belanjaan yang tidak begitu jelas manfaatnya hanya karena sedang ada diskon besar. Dan masih banyak lagi yang serupa itu.

Tidak mudah menolak gelombang maha besar yang akan menenggelamkan mayoritas kita dalam hiruk pikuk permasalahan di setiap segi kehidupan. Kita adalah makhluk individu sekaligus sosial sekaligus offline sekaligus online yang akan terseret-seret gelombang ini karena bukan kita yang mengendalikan pusarannya.

Bangsa dengan 250-an juta penduduknya ini mayoritas adalah user, konsumen, market. Belum beranjak jadi produsen, kreator, leader. Kita berkiblat pada Amerika, Eropa, Jepang, Korea, Cina. Kita berkiblat pada apapun yang bukan berasal dari negeri kita sendiri.

Kita berkiblat pada mereka yang bekerja keras untuk menciptakan masa depan versi mereka, karena kita tak cukup keras berjuang menciptakan masa depan versi kita sendiri.

Dalam hiruk pikuk, yang paling mudah adalah mengikuti arus. Dalam banjir bandang informasi, yang paling mudah adalah mengikuti arus. Dalam kebingungan, yang paling mudah adalah mengikuti apa kata orang banyak. Dalam ketidakjelasan, yang paling mudah adalah mengikuti petunjuk entah dari siapa.

Maka larislah dukun-dukun, paranormal, politisi yang hobinya menyebar uang untuk transaksi suara, infotainment yang ahli mengemas berita sampah, sinetron yang tak pernah meningkat mutunya sejak jaman Brama Kumbara.

Melahirkan Cahaya

Lha ini semua salah siapa? Darimana pembenahannya? Terus dibenahi untuk menjadi apa?

Jawabnya: pusing.

Serius nih. Pilihannya, kalau kita memilih ikut arus maka kita akan pusing dan itu selamanya. Perang harga, perang diskon, perang rebutan klien, order, SDM kreatif, dan perang-perang kekanak-kanakan lainnya yang membuat kita makin tak bisa ber-bhinneka tunggal ika di industri ini.

Tapi kalau kita memilih untuk berdiam sejenak, mengambil jarak dari hiruk-pikuk realitas bisnis sehari-hari, berfikir jernih dan menimbang-nimbang kebaikan serta menyiapkan terobosan yang akan mengubah aturan main di ranah periklanan ini: kita juga akan tetap pusing bahkan dengan tingkat kepusingan yang lebih hebat, tapi kita akan menemukan secercah cahaya di ujungnya.

Cahaya yang bukan berasal dari Madison Avenue sana atau dari kantor-kantor pusat raksasa periklanan dunia. Melainkan cahaya yang meskipun awalnya kecil, tapi berasal dari kita sendiri. Karena cepat atau lambat, kita akan melihat kreativitas mulai menggeliat menemukan ruangnya di dunia nyata dan maya dari tempat-tempat yang kita tak pernah sangka-sangka. Cahaya itu akan bermunculan menerobos kegelapan dari titik-titik kreativitas di Brosot, Nganjuk, Bangkalan, Ubud, Tebing Tinggi, Sabang, Belitung dan kota-kota lainnya yang belum terpetakan di Google map.

Dengan menunggangi gelombang kemajuan teknologi komunikasi, kota-kota itu dihidupkan oleh para pemenang yang bersedia berpusing ria untuk sesuatu yang akan mengubah format, cara dan strategi beriklan selama-lamanya. Andakah calon pemenang itu? Atau saya? Atau kita semua?

Siapapun yang memiliki keyakinan untuk menghidupkan industri periklanan ini dengan sepenuh hatinya, saya yakin tidak akan mudah putus asa melihat caut-marutnya kondisi industri ini dalam jaman yang terus berubah tanpa kompromi.

Siapapun yang terus berharap industri periklanan ini tidak hanya menambah tingkat konsumtifisme bangsa ini dan memproduksi sampah visual terus menerus.

Siapapun yang terus berharap industri periklanan ini juga akan menyumbangkan satu demi satu batu bata bagi berdirinya sebuah bangunan ke-Indonesia-an yang maju, yang unggul dan menjadi bangsa yang BESAR (yes, dengan semua huruf kapital).

Merekalah para pemenang sejati.

Wednesday, February 13, 2013

Selamat Pagi

Pagi adalah harapan.
Siang adalah keberkahan.
Sore adalah keindahan.
Malam adalah keikhlasan.

Tuesday, February 5, 2013

Sibuk Entah Untuk Apa

Kita berpacu, berpacu, berpacu
Kita begitu sibuk berpacu

Tanpa sempat berfikir untuk apa kita berpacu

Atau perlukah kita berpacu

Kita berpacu karena orang lain berpacu


Kita berpacu karena takut berbeda dengan yang lain
Kita berpacu karena kita tak tahu apa yang harus kita lakukan selain menjadi orang lain

Kita berpacu karena kita tak tahu apa yang harus kita lakukan selain berpacu

Kita berpacu meninggalkan diri sendiri yang terus bertanya-tanya mengapa harus terus berpacu sampai habis waktu

-----------------------

Di jaman yang serba digital ini, semakin sulit untuk meraih ruang hening, ruang yang terbebas dari intervensi dan interupsi segala hal yang berhubungan dengan internet. Yang paling mudah dirasakan adalah makin sulitnya menjadi fokus dalam menyelesaikan berbagai tanggung jawab kehidupan. Makin sulit untuk berfikir mendalam, menuangkan fikiran dengan jernih.

Di dalam keseharian, seolah-olah ada pasar yang riuh yang terus kita bawa kemana-mana tanpa jeda. Membuat otak kita terasa penuh tapi dengan ketidakjelasan apa saja yang memenuhinya. Kita dihempaskan gelombang informasi ke kanan, ke kiri, kemanapun yang bukan kita sendiri penentunya. Waktu pun menggelinding begitu cepatnya tanpa kita punya daya untuk mengendalikan. Baru mulai kerja di pagi hari, online sebentar tahu-tahu udah adzan dhuhur. Baru makan siang, diskusi sebentar tahu-tahu udah Asar. Baru mau kirim email tak terasa hari sudah gelap dan Maghrib berkumandang. Baru kemarin Senin, eh tahu-tahu sudah Senin lagi. Dan ini berlangsung terus menerus, tanpa kita kuasa untuk mengerem, untuk berhenti sejenak.

Kelemahan untuk berfokus dan kesulitan untuk diam tenang berfikir ini, sering membawa kita melakukan pelarian kepada hal-hal yang sedang hot, isu yang yang lagi marak, yang celakanya tak kita pahami substansi permasalahannya selain sekedar remah-remah informasi yang bersliweran di timeline twitter, status facebook, broadcast message atau gosip ria di cafe-cafe. Kita memenuhi otak kita dengan sampah informasi yang terus menggunung tanpa kesadaran untuk membersihkannya, karena sampah informasi itu tak terlihat.

Tapi sungguh kita pasti bisa merasakannya. Alarm tanda bahaya itu akan mengirimkan sinyal: sulitnya menentukan prioritas, tidak bisa berpisah dengan gadget, mudah lupa, bingung mau melakukan apa karena dalam waktu bersamaan banyak tanggung jawab yang belum diselesaikan, mudah panik, tidak bisa mengatur waktu, mudah capek, melakukan aktivitas yang kita tidak tahu apa manfaatnya selain untuk membunuh waktu, online ria tanpa kenal waktu, memenuhi gadget dengan ratusan apps yang fungsi utamanya hanyalah untuk memenuhi layar semata. Dan masih banyak lagi yang serupa itu.

Image pinjem dari: http://mrjgoyeneche.files.wordpress.com/2011/05/social-media-multi-tasking.jpg

Di awal Januari 2013, dalam sebuah forum diskusi Wedangan di Petakumpet, saya sampaikan bahwa selain tahun ular, tahun 2013 sebaiknya dimaknai sebagai Tahun Kesederhanaan. The year of simplicity. 

Untuk yang tidak ingin terus hanyut dalam gelombang kesia-siaan dan trend ketidakjelasan, ini adalah tahun untuk mengambil sikap. To stand for something.

Tidak mudah menolak gelombang maha besar yang –prediksi saya – akan menenggelamkan mayoritas kita dalam hiruk pikuk politik, ekonomi, teknologi, gosip dan permasalahan-permasalahan kehidupan lainnya. Kita adalah makhluk individu sekaligus sosial sekaligus offline sekaligus online yang akan terseret-seret gelombang ini karena bukan kita yang mengendalikan pusarannya.

Bangsa dengan 250-an juta penduduknya ini mayoritas adalah user, konsumen, market. Belum beranjak jadi produsen, kreator, leader. Kita berkiblat pada Amerika, Eropa, Jepang, Korea, Cina. Kita berkiblat pada apapun yang bukan berasal dari negeri kita sendiri. Kita berkiblat pada mereka yang bekerja keras untuk menciptakan masa depan versi mereka, karena kita tak cukup keras berjuang menciptakan masa depan versi kita sendiri.

Dunia yang makin mencair ini terus mengalirkan informasi – yang berguna dan yang sampah – ke seluruh pelosok negeri bahkan ke sudut-sudut tersembunyi yang gelap di dalam otak kita, prosesor alami maha dahsyat yang kita perlakukan hanya sebagai tempat penyimpanan belaka, sekedar harddisk yang sebentar lagi akan penuh isinya, makin bertambah bad sector-nya dan lantas hang.

Dalam hiruk pikuk, yang paling mudah adalah mengikuti arus. Dalam banjir bandang informasi, yang paling mudah adalah mengikuti arus. Dalam kebingungan, yang paling mudah adalah mengikuti apa kata orang banyak. Dalam ketidakjelasan, yang paling mudah adalah mengikuti petunjuk. Yang paling mudah adalah menyerahkan kendali nasib kita pada bangsa yang lebih maju, lebih besar, pada Google, pada Apple, pada Facebook, pada Twitter, pada Presiden, pada partai, pada Syahrini, pada Farhat Abbas.

Tapi yang saya tahu, para pemenang dalam kehidupan bukanlah mereka yang memilih hal-hal yang mudah tapi mereka yang memilih berjuang untuk mencapai hal-hal yang lebih baik, walaupun itu berarti menjalani kehidupannya dengan lebih sulit.

Sesederhana itu.

Sunday, October 21, 2012

Monday, October 15, 2012

Pinasthika is On The Way





Info selengkapnya tentang Pinasthika 2012, bisa didapatkan disini.

Tuesday, August 28, 2012

Prolog Buku Spiritual Creativepreneur

Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing
dan akan kembali pula dalam keadaan asing,
maka berbahagialah orang-orang yang dikatakan asing.

HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar RA


Kisah mengenai bagaimana sebuah ide sederhana yang asing dan aneh akhirnya membuat dunia yang kita tinggali ini menjadi tidak pernah sama lagi dengan sebelumnya, biasanya akan menjadi kisah yang inspiratif, menggugah kesadaran kita, menyalakan passion di hati kita yang terdalam, bahkan sampai membuat kita menitikkan air mata.

Lihatlah cerita orang-orang yang telah mengubah dunia, semuanya diawali dengan penolakan yang dahsyat saat ide itu pertama kali dikemukakan, saat ikhtiar perubahan itu mulai dijalankan. Mereka dituduh gila, ditertawakan, dianggap merongrong status quo, diasingkan dari pergaulan sehari-hari dan hal-hal menyakitkan lainnya.

Lihatlah saat Nabi Nuh menyampaikan pada kaumnya tentang perintah Allah untuk membangun sebuah kapal di tengah padang pasir. Apa kata kaumnya? Mereka menganggapnya gila. Di masa sekarang pun, saya kira mayoritas akan menganggap gila seseorang yang membuat perahu besar di tengah padang pasir tanpa air setetespun. Itu perahu mau berlayar dimana?

Lihatlah saat Nabi Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih Ismail putra tercintanya. Jika kejadian itu diteleportasikan ke masa sekarang, kita pasti akan menganggap Nabi Ibrahim psikopat pembunuh anak-anak dan melaporkannya ke polisi terdekat.

Lihatlah saat Rasulullah menyampaikan dakwahnya pada kaum Thaif. Rasulullah yang mulia itu dilempari batu sampai berdarah-darah dan kotoran unta sampai berbau-bau.

Pada awalnya, Bill Gates ditertawakan saat menyampaikan bahwa nanti aka nada satu komputer di setiap meja, menjalankan aplikasi Windows. Steve Jobs juga ditertawakan saat memutuskan kembali ke Apple untuk menyelamatkan perusahaan itu dari kebangkrutan. Perusahaan yang sama yang menendangnya 11 tahun sebelumnya. Colombus juga dicap gila saat mengatakan akan memutari bumi dengan kapal layar karena saat itu mayoritas bangsa di dunia percaya bahwa bumi ini pipih dan Colombus akan terjatuh hilang saat mencapai ujung dunia. Dan seterusnya. Wright bersaudara saat memulai eksperimennya membuat pesawat terbang juga diejek-ejek dan tak dianggap.

Semua yang mengubah dunia mengawalinya dari sesuatu yang asing. Yang belum pernah ada sebelumnya.

Nah, inspirasi itu berkobar-kobar saat pertama kali menyetrum kesadaran kita. Tapi biasanya juga: umur inspirasi itu tak panjang.

Beberapa saat setelah cerita itu berlalu dan kita mulai menggeluti lagi dunia dan segala permasalahannya sehari-hari, api itu pun memudar. Kesadaran itu menguap. Passion itu meredup dan padam. Kita pun menjelma kembali menjadi orang-orang biasa, orang-orang pada umumnya. Menjalani hidup dari pagi ke pagi lagi dengan jadual yang telah ditentukan, begitu-begitu saja melewati jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Tubuh kita berjalan, bergerak dan bekerja kesana-kemari memperjuangkan mimpi-mimpi di luar diri kita, sementara jiwa kita gersang, hati nurani tak lagi mendapat tempat tertinggi dalam tubuh yang lelah, dalam pandangan mata yang kosong tanpa daya.

Maka jumlah orang-orang yang bersedia memperjuangkan ide-idenya sepenuh hati sangatlah sedikit. Sebagian besar dari kita memilih menyerah di awal atau pertengahan perjalanan karena tak sanggup menanggung resiko untuk berbeda, untuk disalahpahami, untuk dicemooh, untuk dikritik dan difitnah. Mayoritas kita tak cukup kuat untuk menelan hinaan-hinaan itu, perlakuan yang merendahkan itu, sehingga memilih menukarkan inner voice (suara hati) itu dengan kenyamaan, ketenangan, ketentraman.

Secara tak sadar, kita bahkan mulai ikut-ikutan mengatakan bahwa keajaiban yang dibawa oleh setiap ide baru adalah sesuatu yang tidak logis, tidak masuk akal, karena saat menjalaninya tanpa hasrat, kita pernah gagal dan menolak bangkit. Ide-ide itu terlihat terlalu tinggi dan sia-sia karena kita tak pernah serius memperjuangkannya.

Bahkan pun saat engkau telah berniat untuk mengubah dunia, lalu menghidupkan siang dan malammu untuk mengejar itu, belum bisa jadi jaminan bahwa engkau akan mencapainya di ujung umurmu.

Alam semesta ini punya mekanisme seleksi alam yang kejam tapi adil. Engkau yang tak sungguh-sungguh bersedia bersikap kejam pada dirimu sendiri untuk memperjuangkan terwujudnya ide-ide besar yang kau yakini, akan diperlakukan dengan kejam tanpa basa-basi oleh realitas, oleh hukum sebab akibat, bahkan oleh akal sehatmu sendiri.

Kecuali jika engkau termasuk orang-orang jenius. Yang setahu saya, bukanlah merupakan keturunan.

Kita harus membentuk ide-ide dasar dari
realitas alam dengan pemikiran dan kreativitas kita.
Dengan itu kita akan menandai sejarah,
tidak sekedar larut di dalamnya.

- Steve Jobs, former CEO Apple Inc. -

Apple Computer dalam iklan legendarisnya tahun 1997 Think Different mencatat nama-nama ini: Albert Einstein, Bob Dylan, Martin Luther King, Jr., Richard Branson, John Lennon, Buckminster Fuller, Thomas Edison, Muhammad Ali, Ted Turner, Maria Callas, Mahatma Gandhi, Amelia Earhart, Alfred Hitchcock, Martha Graham, Jim Henson, Frank Lloyd Wright, Pablo Picasso.

Copy writing iklan ini sungguh menggetarkan hati:

Here’s to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. The round pegs in the square holes. The ones who see things differently. They’re not fond of rules. And they have no respect for the status quo. You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them. About the only thing you can’t do is ignore them. Because they change things. They push the human race forward. While some may see them as the crazy ones, we see genius. Because the people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do. 

Jenius adalah orang-orang yang mampu mempertanggungjawabkan kegilaannya. Dan jumlah mereka adalah minoritas. Tanpa kemampuan untuk mempertanggungjawabkan ‘keanehannya’, maka posisi orang-orang yang berbeda dan dianggap gila itu akan dipinggirkan, dijauhkan dari kehidupan sehari-hari yang normal karena dianggap pengganggu keharmonisan dan ketertiban.

Seringkali orang-orang besar yang mengubah dunia, melakukannya tanpa niat yang besar, mereka menggelinding begitu saja mengikuti kata hatinya, melakukan apapun yang mereka lakukan dengan suka cita lalu... Bummm!!!

Dunia pun berubah karena hal-hal sederhana yang mereka lakukan, diiringi dengan kebetulan-kebetulan dan dukungan yang mengalir deras dari arah yang tak pernah mereka perkirakan. Setiap kisah kesuksesan bisnis dan kehidupan, tidak lebih tidak kurang, menggambarkan dukungan alam semesta yang aneh seperti itu.

Kalau balik lagi ke beberapa puluh tahun silam saat fajar industri komputer menjelang, Apple Computer dan Microsoft-pun melewati fase yang sama. Juga Starbucks, lalu Google, Facebook, yang termutakhir Twitter.

Benar bahwa sungguh sangat penting untuk berfikir besar - seperti kata Steve Jobs - to put a dent in the universe - tapi apa yang kemudian sungguh-sungguh mengubah dunia ini dengan kehadiran pemikiran dan tindakan kita adalah sesuatu yang sangat sederhana.

Dunia ini penuh dengan kebisingan dari orang-orang yang teriak ramai tentang hal-hal yang tidak penting, hal-hal sampah yang makin menggunung dan menyesakkan mata hati kita. Sampah-sampah yang dikemas dengan bungkus yang mewah, glamour, indah dan menggoda iman. Sampah-sampah yang diiklankan sebagai kebutuhan nomer satu dan bukti kesuksesan tertinggi. Sampah-sampah yang menggiurkan dan menjadikan kita konsumen rakus yang membeli hal-hal yang tak kita butuhkan.

Tengoklah sampah-sampah itu: sinetron kejar tayang, infotainment gosip, politik kekuasaan, iklan-iklan tanpa kedalaman makna, pengajian yang menidurkan jamaahnya, mereka yang mengaku membela agama tertentu sementara tingkah lakunya justru merusak apa yang dibelanya.

Lawanlah kebisingan itu. Dengarlah suara lirih dalam hatimu. Lalu berjuanglah sekeras mungkin untuk mengikutinya. Memperjuangkan ide-ide yang kau yakini justru karena ditolak orang lain, justru karena dicemooh dan dijauhi.

Engkau – dan siapapun yang punya kemauan – bisa menjadi bagian dari orang-orang besar yang dicatat oleh dunia dengan tinta emas. Selama engkau bersedia membayar ‘harga’nya. Selama engkau bersedia menggenggam erat ide-idemu dan memperjuangkannya sepenuh hidupmu, saat semua orang seolah-olah menentangmu.

Sebuah hadits Rasulullah dari Anas bin Malik RA. telah memotret persis akan hadirnya masa-masa seperti ini “Akan tiba nanti masa dimana menggenggam nilai-nilai kebenaran itu seperti menggenggam bara api.”

Jika kau pegang terus kebenaran itu, maka tanganmu akan terbakar dan itu sungguh sakit luar biasa. Tapi jika kau tak tahan menggenggamnya, maka lepaslah kebenaran itu dari tanganmu dan datanglah kesesatan dalam hidupmu.

Saya merasakan, masa itu telah tiba. Masa di mana menjadi orang yang memegang teguh keyakinan Islam, sama dengan mendaftarkan diri untuk diasingkan. Bahkan oleh mayoritas umat Islam sendiri.

Inilah masa-masa terbaik untuk mereka yang ingin mengubah dunia. Untuk mengumpulkan keberanian menjalani kehidupan yang asing demi perbaikan dunia yang semakin tua.

Kapal yang berisi perlengkapan untuk kembali jika pasukan Islam gagal menjalani misi untuk menaklukkan Andalusia (sekarang Spanyol) telah terbakar. Panglima Jabal Tariq telah membakarnya saat seluruh pasukan telah mendarat. Sehingga seluruh pasukan tak bisa pulang jika gagal, jika kalah.

Kapal untuk pelarian bagi jiwa-jiwa muslim yang kerdil seharusnya dibakar sekali lagi. Sehingga tak ada lagi peluang untuk kembali jika kita gagal mengubah dunia.

Pilihan umat Islam di masa sekarang adalah menjadi umat yang memenangkan perjuangan untuk kebaikan. Kita akan berjuang dengan gagah berani. Dengan resiko diejek, ditertawakan, dianggap gila. Tapi bukankah itu resiko yang sama yang telah ditempuh oleh banyak orang biasa sebelum kelak, dunia ini akan mengenangnya sebagai legenda?

Buku ini adalah salah satu ikhtiar untuk menyongsong perubahan itu. Untuk mengingatkan kita semua – termasuk saya – bahwa membangun bisnis kreatif sebagai implementasi dari nilai-nilai otentik Islam bukanlah sekedar ditujukan untuk mengumpulkan keuntungan, meningkatkan ROI (Return on Investment) atau menyumbang devisa negara.

Tapi saya besarkan niat saya, untuk mengubah dunia.

Mari mulai melangkah dengan yakin. Sekaranglah Waktunya.

Bismillaahirahmaanirrahiim…