Mybothsides

Saturday, April 3, 2010

Kunci Sukses Bisnis (2)

Kita ini terlalu lama terkungkung standar keilmuan modern sehingga paling hobi dan paling percaya pada kerumitan sebuah formula. Coba cek ke konsultan-konsultan itu, formula mereka sebagian besar - emang tidak semua - biasanya begitu kompleks. Makin kompleks, makin terlihat betapa cerdas konsultannya. Makin klien terpukau oleh kelihaian presentasi dan banyaknya jargon ilmiah, makin mahal harganya. Banyak orang berlindung di balik data-data dan kutipan-kutipan untuk menyembunyikan kegagalannya memahami substansi persoalan.

Saya percaya, bahwa kecerdasan seseorang tergantung dari kemampuannya untuk membuat persoalan serumit apapun menjadi sederhana. Makin sederhana makin jenius lah orang. Steve Jobs bilang: simplicity is the ultimate sophistication.


OK. Karena apa yang akan saya sampaikan ini adalah hal-hal yang sederhana, yang kita pernah dengar atau tahu suatu waktu dan sebagian besar menafikannya karena merasa kegunaannya yang terbatas pada teritory tertentu, tak berhubungan dengan dunia bisnis.
 
Dan kunci sukses bisnis ini - to be honest - saya peroleh dari pemahaman sederhana atas dasar-dasar Islam. Sebuah agama indah yang sering disalahartikan sebagai agamanya agen kekerasan dan terorisme. Padahal sesungguhnya, Islam adalah agama kehidupan, yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamien)
  
Kunci sukses ini sebangun dengan Rukun Islam, ada lima macamnya:
    1.    Mengucap dua kalimat syahadat (Keyakinan)
    2.    Menunaikan sholat wajib (Manajemen Waktu)
    3.    Mengeluarkan zakat (Berbagi)
    4.    Berpuasa di bulan Ramadhan (Menahan diri)
    5.    Menunaikan Haji (Mengikhlaskan)

Keyakinan

 
Keyakinan itu pondasi terpenting dalam membangun bisnis. Tanpa keyakinan, bisa jadi yang kita lakukan adalah upaya dagang semata alias mengambil untung saja dalam kegiatan yang kita anggap bisnis. Saat situasi lagi bagus, kita akan semangat sekali untuk berbisnis karena hasilnya melimpah. Tapi saat krisis datang dan prospek bisnis yang kita pilih tanpa keyakinan itu mulai oleng dan merugi, pilihan paling mudah bisanya adalah menutup bisnis itu dan nyoba bikin bisnis baru lagi. Hanya kurang dari 20% bisnis pemula yang bisa bertahan melewati 5 tahun pertamanya. 80% nya rontok tinggal nama.

Dan seringkali mereka yang tidak lulus uji bisa dirunut dari alasan yang sama: tidak yakin, putus asa, kurang keras kepala, tidak tahan menderita. Tak ada bisnis yang tutup karena krisis, dihancurkan kompetitor atau tidak didukung pemerintah. Tidak ada. Yang ada hanyalah pengelola bisnis yang gentar untuk bangkit lagi, takut melewati kegagalan, ciut nyali menghadapi krisis sehingga akhirnya menyerah. Alasan sebetulnya adalah karena pemilik cita-cita itu telah menyerah, alasan lainnya hanyalah pelengkap.

Kembali ke masalah keyakinan, untuk yang beragama Islam maka keyakinan itu mengacu pada 2 hal terpenting: keyakinan terhadap Allah Sang Maha Segala dan Muhammad Rasul-Nya untuk tuntunannya pada umat setelahnya, ya kita-kita ini.

Misalnya begini: keyakinan bahwa sumber rejeki satu-satunya itu dari Allah, yang lain-lainnya itu hanya kran salurannya saja. Sehingga kita tenang menjemput rejeki, memaksimalkan kreativitas kita di jalan yang benar dan tidak aneh-aneh. Kita juga tak menggantungkan nasib secara berlebihan pada dunia, pada kolega, pada klien, pada makelar, pada dukun (baik klenik maupun modern), pada pemerintah, pada yang selain-Nya.

Sudah berulang kali terjadi pada orang-orang di sekitar saya cerita sedih yang kira-kira rangkumannya begini: si A ingin anaknya bisa masuk tentara (atau polisi atau pegawai negeri atau guru atau jabatan pemerintah lainnya) dan tidak yakin untuk mengikuti seleksi secara wajar. Maka dicarilah orang-orang tertentu yang bisa 'mengantarkan' anaknya lewat jalur belakang. Ini disebabkan keyakinannya pada sang pengantar, bukan pada Tuhan. Maka sang pengantarpun minta uang saku (misalnya 80 juta dibayar setengahnya di depan, setengahnya jika sudah diterima). Padahal jika ikut jalur seleksi wajar biayanya tak sampai 1 juta rupiah. 

Seringkalinya uang suap itu menguap dengan berbagai alasan dan sang penyuap tidak bisa memintanya kembali. Misalnya si anak sudah 'diantar' sampai ke tahapan tertentu tapi kesehatannya gagal, atau bahkan karena ada anak yang lain dengan suap yang lebih tinggi nilainya macam lelang. Jika pun berhasil masuk, kita semua tahulah kualitas macam apa si pendaftar.Dan karena praktek macam begini dianggap biasa oleh banyak orang, maka korupsi kecil-kecilan untuk balikin modal pun dianggap wajar pula. Padahal siapapun tahu, apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Jika yang kita tamam pohon beracun, maka racun itulah yang akan kita tuai sampai akhirnya membunuh kita karena memang sifat racun begitu.

Apa yang terjadi saat ini di institusi Polri, Gayus Tambunan, konsultan pajak palsu, Dirjen Perpajakan itu akar masalahnya bisa jadi dari cara mendaftarnya yang sudah salah dari awal. Dan racun itu mulai memperlihatkan keampuhannya ketika satu per satu mereka dibawa ke ruang pemeriksaan, menjadi terperiksa atau tersangka, dicopot jabatannya, tak bisa menikmati milyaran uang yang dikorupsinya karena Tuhan pindahkan mereka ke dalam sel yang pengap. Hanya soal waktu saja nanti semua yang menanam racun akan meminum sendiri buahnya.


Yang kedua, menyangkut tauladan Nabi Muhammad SAW. Jika kita mau mengikuti cara dan gaya Nabi semasa beliau hidup dulu, rasanya takkan ada masalah yang berat dan rumit dalam kehidupan kita. Ini memang sulit, saya pun tidak selalu bisa istiqomah. Misalnya tentang bisnis, bahwa kita tidak boleh mengurangi timbangan dan wajib memberitahukan pada pembeli jika pada barang dagangan kita ada cacatnya, ada rusaknya. Jadi yang dikejar pertama adalah kepercayaan, trust. Bukan keuntungan. Bisa jadi jika diterapkan dengan betul, keuntungan awal malah berkurang. Tapi yang sedikit ini akan mengumpul dan bisa kita nikmati bukitnya karena caranya betul, bersih. Tapi memang tidak instant.


Kita lihat praktek bisnis saat ini: mengurangi timbangan itu sama dengan kontraktor yang mengurangi spesifikasi bangunan, jalan, jembatan, dsb. Saya pernah dengar cerita tentang kontrak pembuatan jalan aspal sepanjang puluhan kilometer yang dikurangi lebarnya 40 cm saja dan ketebalannya 3 cm saja itu bisa menguntungkan pemborongnya milyaran. Dan pelakukanya merasa sah-sah saja karena kontraktor lain juga begitu, sama saja, sami mawon. Lha jika tidak mengurangi spesifikasi, untungnya dari mana Mas?


Ok, tapi saat waktu berlalu, saat gempa menerjang banyak perumahan roboh dan ketahuan lah semua belang kontraktornya yang akhirnya dituntut warga untuk bertanggung jawab. Karena uang sudah ludes, menghilanglah sang kontraktor dan jadi buronan polisi. Para pejabat yang mengurangi ukuran jalan pun akhirnya ketahuan meskipun tak sengaja. Saat terjadi kecelakaan di sebuah ruas jalan yang berlubang karena emang tipis aspalnya, polisi pun mulai mengukur dengan cermat. Ia pun harus dipecat karena ketahuan korupsi, lalu bareng sama kontraktornya sebelahan kost di ruang berterali besi. 
Kasus Gayus Tambunan pun apalah bedanya. 28 milyar uang panas di rekeningnya - karena emang bukan hak dia - tak kan bisa dinikmati. Biarpun rumahnya mewah luar biasa, biarpun sering keluar negeri, biarpun punya keluarga bahagia: ia harus mendekam sendirian di dalam sel penjara. Kekayaan tidak halal yang dikumpulkannya bakal jadi kenangan buruk semata atas semua tindakan salahnya di masa lalu.


Yang terpenting lagi, dalam berbisnis kita harus mendahulukan keyakinan kita, bahwa Allah dan Rasul-Nya itulah yang utama, bukan yang lain-lain. Jika ada sebuah kesepakatan bisnis yang sesuai tuntutan-Nya ayolah Bismillah kita jalani. Tapi jika tidak, alias nyerempet-nyerempet wilayah tdak sah: tinggalkan apapun resikonya.


Jika hari ini kurang 3 hari lagi kantor kita harus menggaji karyawan 25 juta tapi belum tersedia uangnya. Lalu ada seorang klien (manajer) meminta dibuatkan sebuah proyek untuk perusahaan dengan keuntungan 50 juta tapi meminta fee 15% dari jasanya itu untuk dia pribadi: tinggalkan.


Jika seminggu lagi kita harus bayar hutang 10 juta dan sekarang di laci ada uang kelebihan proyek yang menjadi tanggung jawab kita sebesar 30 juta yang kita bisa sulap laporan keuangannya dan masih dapat pujian pimpinan karena kelebihan 20 juta: tinggalkan.


Jika kita telah melewati sekian tahapan yang sulit untuk menjadi pegawai negeri dan tinggal posisi penentuan dimana ada 2 orang kandidat dan hanya dipilih 1 orang, sang penguji akhir menawarkan untuk langsung diterima dengan membayar 10 juta lagi, bukan 70 juta karena ini sudah seleksi akhir: tinggalkan.


Lha lalu gimana nasib karyawan yang terancam gajiannya, gimana nanti debt collector yang harus kita hadapi dan gimana jika jadi pengangguran lagi karena sok suci begitu? 


Bismillah, saya yakinnya begitu. Yang pernah saya alami, nanti Allah akan hadirkan gantinya yang lebih baik, yang jauuuuh lebih baik, yang seringkali di luar perkiraan kita semua. Ilmu kita bukan ilmu Allah dan Allah tahu mengenai kebutuhan kita lebih dari diri kita sendiri yang seringkali mengandalkan logika doang saat ditimpa kesulitan hidup. Cara-cara-Nya yang luar biasa akan menghadirkan jalan keluar. Apa itu? 

Misalnya pas tanggalnya gajian ada tagihan lama yang kita udah lupa tiba-tiba ditransfer, lomba yang kita ikuti menang puluhan juta, klien lainnya datang ngasih pelunasan sebelum pekerjaan mulai. Misalnya untuk urusan hutang, sampai waktunya kita gak punya uang, debt collector-nya dibikin Allah gak dateng, jika pun dateng masih bisa di-nego lagi. Lalu jika malah pengangguran gak keterima PNS, malah ditawarin buka usaha sama teman lama, malah bisa melaporkan praktek suap yang membersihkan departemen itu, hal-hal semacam itu atau bahkan lebih ajaib lagi yang akan terjadi.
 

Yang kita perlukan hanyalah keyakinan dan kesabaran. Kombinasi dua hal itu sungguh luar biasa tak terkalahkan. Keyakinan untuk selalu mendahulukan Allah dan Rasul-Nya: kunci sukses bisnis yang pertama.


Di tulisan berikutnya saya akan cerita tentang kunci sukses kedua: manajemen waktu. Saya akan bahas dari sudut pandang Stephen Covey (Seven Habits of Highly Effective People) dan satu metode lagi yang jauh lebih canggih dari sistem itu. Jangan berkurang kesabaran untuk menunggu, hal-hal baik akan datang untuk orang-orang yang sabar.


Selamat liburan, isilah dengan dengan rekreasi (re-creation): kegiatan ringan yang meningkatkan kreativitas kita kembali. Doa saya untuk teman-teman sekalian, semoga makin fresh di Senin besok. Salam :)


Notes: Image Steve Jobs dari http://virgintech.org/wp-content/uploads/2009/04/presentation.jpg // Foto Gayus Tambunan pinjem dari http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/03/31/1638214p.jpg // Foto sholat jamaah pinjem dari http://missdhani.files.wordpress.com/2009/06/menghadap-sang-pemberi-rezeki_733_l.jpg

8 comments:

arif said...

numpang baca blog inspiratif :D, semoga memberikan inspirasi di tengah2 keadaan saya yg lg ditimpa ujian sakit :D

Anonymous said...

Ketika ridho Allah menjadi tujuan dalam setiap langkah kita, maka akan ada banyak hal di luar akal manusia yang selalu menuntun kita kepada cahaya kebaikan. Semua masalah akan serta merta Allah tunjukkan jalannya tanpa kita sadari. Ngomong-ngomong kapan main ke Semarang lagi Om..?

huget said...

Ketika ridho Allah menjadi tujuan dalam setiap langkah kita, maka akan ada banyak hal di luar akal manusia yang selalu menuntun kita kepada cahaya kebaikan. Semua masalah akan serta merta Allah tunjukkan jalannya tanpa kita sadari. Ngomong-ngomong kapan main ke Semarang lagi Om..?

huget said...

Ketika ridho Allah menjadi tujuan dalam setiap langkah kita, maka akan ada banyak hal di luar akal manusia yang selalu menuntun kita kepada cahaya kebaikan. Semua masalah akan serta merta Allah tunjukkan jalannya tanpa kita sadari. Ngomong-ngomong kapan main ke Semarang lagi Om..?

Anonymous said...

Dan SEBAIKNYA berbisnis DENGAN SOFTWARE LEGAL, dengan begitu ANDA PANTAS menulis sesuatu yg RELIGI seperti tindakan nyata. LEGAL atau OPEN SOURCE!!!

Anonymous said...

kalau saya tambah kiat sukses bisnis adalah menghitung dan membayar pajak perusahaan dan pribadi dengan jujur, setuju nggak Mas?

Fikar said...

Pertemuan akan lebih berkesan jika dilakukan dengan perkenalan. Assalamualaikum mas Arif, nama saya Fikar, tahu blog ini dari buku yang berjudul "Tuhan sang Penggoda". Di awal saya membeli buku itu karena saya salah kaprah tentang judulnya. Saya kira buku ini berisi tentang seorang yang playboy suka menggoda gadis2 dan bagaimana dia akhirnya mengenal Tuhan yang selama ini dia lupakan. ^^ tapi ternyata enggak.
Saat ini saya juga tertarik dengan bisnis, tepatnya bisnis situs penyedia tempat beriklan. Kalau boleh saya beritahu namanya iklanoke.net, persaingan di bisnis seperti ini sangat ketat terbukti dengan banyaknya website sejenis. Apalagi saya baru membuat bisnis ini pada bulan Maret 2010, walaupun idenya muncul pada pertengahan tahun 2009.
Saya sempat patah arang menjalani bisnis ini, namun saya kembali untuk memikirkan tujuan awal mula saya ingin mendirikan bisnis ini dan kembali membangkitkan semangat saya.
Tentunya dengan keinginan dan keyakinan kuat disertai dengan tawakal saya yakin akan berhasil. (maaf kalau jadinya seperti curhat :P)
Paragraf yang paling mengesan bagi saya adalah "Dan seringkali mereka yang tidak lulus uji bisa dirunut dari alasan yang sama: tidak yakin, putus asa, kurang keras kepala, tidak tahan menderita. Tak ada bisnis yang tutup karena krisis, dihancurkan kompetitor atau tidak didukung pemerintah. Tidak ada. Yang ada hanyalah pengelola bisnis yang gentar untuk bangkit lagi, takut melewati kegagalan, ciut nyali menghadapi krisis sehingga akhirnya menyerah. Alasan sebetulnya adalah karena pemilik cita-cita itu telah menyerah, alasan lainnya hanyalah pelengkap."
Sungguh menjadi inspirasi bagi saya.

Dan satu lagi
"Kembali ke masalah keyakinan, untuk yang beragama Islam maka keyakinan itu mengacu pada 2 hal terpenting: keyakinan terhadap Allah Sang Maha Segala dan Muhammad Rasul-Nya untuk tuntunannya pada umat setelahnya, ya kita-kita ini."

Maaf ya klo komennya kepanjangan.^^

Fikar said...

Oia satu lagi mas, dibukunya tepatnya di bagian terakhir "melepas topeng" ada foto mas sama calon istrinya. Btw, udah nikah dong?

Oia, satu lagi mas, poto yang orang lagi sholat itu. Sholat apaan ya? kok di kebun gitu? yang wanita kok malah ada di depan jamaah pria? Yang si tukang dagang (ga tau lah dagang apa) kok sendirian sholatnya?

sekali lagi maaf, pertanyaan ini muncul hanya karena rasa penasaran saya.