Mybothsides

Saturday, July 18, 2009

Ledakan yang Merobek Pagi Itu

Tulisan saya yang mengedepankan pendekatan tanpa kekerasan untuk menunjukkan konsep Islam yang rahmatan lil 'alamien banyak ditentang oleh saudara-saudara saya sesama muslim, seolah saya mendakwahkan kelemahan Islam melawan pihak-pihak yang ingin menghancurkan Islam.

Dan pagi itu saya sudah mulai ngantor saat Alda seorang teman menelepon,"Rief gue telat nyampe nih jalannya mesti muter, ada ledakan di Mega Kuningan." Ledakan? Saya tidak berprasangka jauh, saya yang di Mega Kuningan (Bellagio Mall) nggak denger apa-apa.

Tapi ternyata saya keliru. Ledakan itu ternyata benar-benar mengubah banyak jadual penting di negeri ini, memilukan hati para korban dan keluarganya, membuat marah presiden dan menggagalkan MU main di Jakarta. Korban jatuh tercatat 9 orang tewas dan 53 luka-luka.

Kantor Petakumpet Jakarta hanya 300 m dari TKP. Dan 15 menit sebelum ledakan terjadi, mobil Petakumpet yang dibawa Mas Eri sempat melintasi jalan depan JW Marriot & Ritz Carlton. Tuhan yang punya skenario mengatur segala sesuatunya sehingga kita yang masih tinggal bisa belajar banyak dari kejadian ini, dari para korban yang menghadap Tuhan saat sarapan pagi juga dari aksi terorisme yang seolah bangkit lagi dari kuburan setelah hampir 5 tahun tak terdengar kabarnya.

Pagi itu saat mobil bergerak keluar Bellagio, jalan-jalan sudah ditutup. Tidak mungkin melewati 2 hotel naas itu, kamipun menuju Kemang untuk recording iklan radio, menjauh dari hiruk pikuk. Sms masuk bergantian menanyakan kabar, Alhamdulillah kita baik-baik saja. Tapi hari itu saya jauh dari Mega Kuningan, dari Kemang meluncur ke kantor Gudang Garam di Cempak Putih, ke Gambir dan masuk kantor lagi udah jam 9 malam. Lalu lintas Jakarta tak pernah sesepi dan selancar malam itu.

Saat malam turun, saya pun terdiam merenung. Untuk mengajari manusia tentang cinta dan kasih sayang, Tuhan seringkali menurunkan kejadian kekerasan yang memilukan. Dugaan saya, mungkin karena sebagian besar kita (termasuk saya) sudah sangat sulit dinasehati, keras kepala dan merasa bahwa hidup ini tergantung 100% hanya dari kemampuan dan logika kita semata. Lalu kita beli alat-alat detektor canggih, kita undang ahli kemanan, kita periksa semua tamu yang mencurigakan secara ketat dalam beberapa bulan ke depan, lalu saat situasi lumayan aman kita kendorkan lagi penjagaannya karena yang memeriksa dan diperiksa sudah sama-sama lelah karena terlalu lama paranoid atas kemungkinan ledakan berikutnya.

Padahal hidup ini ada untuk dinikmati dengan kebaikan, untuk dijalani dengan ketenangan dan ketentraman. Untuk disyukuri dengan berbagi dan saling menguatkan. Saya akan mendukung apapun ikhtiar yang perlu kita lakukan untuk mencegah kekerasan kejam ini tidak terulang, saya hanya menyarankan untuk mulai melibatkan Allah dalam prosesnya. Tak sekedar alat canggih yang membuat kita merasa aman, tapi justru kedekatan kita pada Allah-lah kunci dari keselamatan yang sejati.

Saya tidak pernah sedikitpun ragu untuk melawan teror dalam segala bentuknya, saya hanya menggunakan metode yang berbeda. Api jangan dilawan dengan api tapi air. Bom jangan dilawan dengan bom. Mahatma Gandhi bilang, jika setiap mata yang hilang harus dibalas dengan menghilangkan mata yang lainnya maka dunia akan dipenuhi orang-orang buta.

Tapi apakah kita bisa menyadarkan para teroris yang nekad dan putus urat syaraf kemanusiaannya itu dengan khotbah tentang cinta dan kasih sayang? Mungkin kita tidak bisa, mungkin itu mustahil kita lakukan. Tapi di tangan Allah, semuanya pasti mungkin. Tidak ada yang sulit buat Allah, selama kita serius untuk mengundang-Nya menyelesaikan semua masalah kita.

Masalahnya Allah mau atau tidak mengabulkan doa kita? Itu terpulang dari kesediaan kita untuk selalu melangkah lurus di jalan-Nya. Tidak belak belok karena mengejar dunia, godaan yang telah terbukti mampu menggelincirkan umat manusia dari jaman ke jaman.

Malam pun sudah menjelang pagi. Tak ada tempat terbaik untuk kembali kecuali kepada-Nya dan di tangan-Nya lah nasib kita berada. Laa haula walaa quwwata ila billaah...