Mybothsides

Saturday, December 12, 2015

Deklarasi Banyuwangi untuk Destination Branding Kota-kota Nusantara


Hanya meramaikan. Nyempil di belakang. Karena masih ada lebih dari 90% dari 250 kota/kabupaten se-Indonesia Raya yang belum memiliki program Destination Branding yang terintegrasi. Maka P3I (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) harus segera bergerak. Lahirlah Deklarasi Banyuwangi, untuk membangkitkan kota-kota Nusantara yang kelak berdiri tegak dengan kekuatan dan keunikan karakternya masing-masing, menjadi jalinan bhinneka yang memukau dunia.

Monday, September 21, 2015

Bahagia itu Berbahaya

Kreativitas itu takhayul. Ia mirip-mirip jalangkung. Datangnya tak diundang, pulangnya tak diantar. Jadi saat ada pertanyaan kepada saya bagaimana cara untuk jadi lebih kreatif, saya selalu merasa pertanyaan itu sesungguhnya ditujukan pada jalangkung. Kita tak pernah bisa memprediksikan jawabannya akan sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan sang penanya.

Dan ya.. Mengagetkan yang bertanya adalah trik sederhana agar jawaban kita menyetrom kesadaran baru, tak sekedar keluar dari hafalan karena rajin membaca atau tekun belajar. Jadi apa jawabannya? Nanti dulu. Sabar dulu. Kalau nggak sabar, bisa bahaya. Kalau mau sabar, nanti ending-nya akan bahagia.
Jadi mari kita mulai bertindak bahaya dengan bahagia. Lho apalagi ini? Tenang. Ini ramuan maut yang sudah saya siapkan lama. Sudah dieksperimenkan berpuluh-puluh tahun. 

Misalnya: marilah kita menjalani hidup seperti petualang. Namanya petualang, tentulah ia pemberani. Tak harus gagah perkasa bagai satria, tapi hobinya memang menantang bahaya. Dan hanya dengan menaklukkan sesuatu yang menakutkannya atau membahayakan orang biasa, ia akan meraih perasaan bahagia. Kontradiktif? Tentu. Tapi ini juga realita. Di dunia fana ini, mana ada kenyataan kehidupan yang tak kontradiktif? 
Yang paling kenceng korupsinya ternyata juga yang paling mengerti ilmu agama. Yang paling mau menolong sesama justru malah mereka yang tak punya apa-apa. Makin kaya harta, banyak yang makin miskin hatinya. Orang kaya dan orang miskin sama-sama gak bisa makan daging. Yang kaya karena dilarang dokter akibat kolesterol, yang miskin karena dilarang ahli ekonomi akibat tak punya uang untuk beli. Tuh kan?
Jadi mari kita mulai eksperimennya.

Mulailah setiap pagi seperti memulai sebuah petualangan, bukan kewajiban, bukan keharusan, bukan pekerjaan, bukan tugas, bukan beban.

Mulailah setiap pagi seolah baru saja dilahirkan, menjadi bayi yang melihat segala sesuatunya dengan ketakjuban seperti saat pertama kali melihat dunia. Dan memang realitasnya begitu. Matahari yang kita lihat pagi ini, pasti berbeda dengan matahari yang kita lihat kemarin. Tapi tak kita rasakan bedanya, karena kita sok tahu dan menganggapnya seolah sama. Wajah yang engkau lihat di cermin pagi ini, pasti berbeda dengan yang kau lihat kemarin. Terutama detailnya. Secara umum mungkin terlihat sama. Tapi detailnya berubah: uban beberapa helai bertambah, kumis memanjang beberapa milimeter, kerut di wajah lebih jelas terlihat, mata yang makin redup sinarnya. Kita semua - sesuai sunatullah - berubah. Makin menua dan lelah. Bertambah umur dan makin uzur. 

Mulailah setiap pagi sebagai petualangan. Karena kita tak tahu pasti apa yang akan terjadi, karena banyak hal tak terduga, tak terencana, sering terjadi tanpa permisi. Beberapa adalah hal baik, beberapa mungkin buruk. So what? Hidup memang begitu. Kelahiran sering dianggap sebuah kebaikan, tapi kelahiran seorang bayi bagi seorang mahasiswi yang hamilnya di luar nikah? Kematian sering dianggap keburukan, tapi kematian seseorang yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan hidup puluhan atau ratusan orang lainnya bukankah justru sebuah pelajaran kehidupan yang luar biasa menggugah jiwa?

Mulailah setiap pagi sebagai petualangan, dengan mata berbinar-binar seperti petualang sejati saat menjejakkan kaki di tanah yang asing. Ada kekuatiran, ketidakpastian, bahkan mungkin ketakutan. Tapi itu tak bisa meredam perasaan ingin tahu dan mencoba hal-hal baru, yang mewarnai pengalaman otentik dalam hidup kita. Yang melengkapi pemahaman kita atas puzzle kehidupan yang terus-menerus kita susun rangkaiannya.
Sebuah data tak terbantahkan menyebutkan, mereka yang hidup dekat dengan bahaya justru punya peluang hidup yang lebih besar. Justru punya peluang bahagia lebih besar. Justru punya peluang untuk menikmati kehidupannya lebih utuh lagi. Coba kita hitung bareng-bareng kalau nggak setuju dengan fakta ini: jumlah orang yang meninggal di puncak gunung jauh lebih kecil daripada yang meninggal di atas tempat tidur. Sampai kapan pun, rekor ini takkan berubah. Tempat tidur di mana manusia beristirahat menghentikan aktivitasnya justru adalah tempat yang paling mematikan. Lalu mengapa tak banyak yang bergerak menyongsong bahaya, padahal itu adalah pintu masuk untuk jadi lebih bahagia dan panjang umur? 

Mengapa? Karena kita terbiasa sok tahu dan berpegang pada asumsi-asumsi, anggapan-anggapan kuno yang walaupun kita tak yakin benar atau salahnya, kita juga tak memiliki keberanian untuk mengujinya dengan kekuatan logika, pengalaman dan iman kita sendiri. Kita memilih take it for granted, menelan mentah-mentah sebuah paham bahwa tempat tidur itu tempat paling aman di dunia. Padahal faktanya tidaklah demikian.
Kembali ke pertanyaan di awal: bagaimana cara untuk jadi lebih kreatif? Jawaban yang standar kurang lebih begini: carilah buku-buku yang berisi tips tentang kreativitas, baca yang tekun lalu praktekkan. Tirulah orang-orang kreatif di sekitarmu. Kreativitas itu bukan gawan bayi atau karena faktor keturunan. Kreativitas bisa didapatkan jika kita mau terus belajar dan mempraktekkannya.

Yang nanya puas nggak? Insya Allah akan lumayan puas. Tapi ia takkan tergoncang saat menerima jawaban itu. Ia akan mengangguk-angguk karena jawabannya sebagian sudah ia duga dan mungkin sudah pernah ia dengar atau ia baca dari beberapa sumber dan literatur. Dan ia tak akan menggunakan jawaban itu untuk mengubah hidupnya. Jawaban itu kategorinya benar, tapi tak bisa menggerakkan. Jawaban itu walaupun logis, bisa dianggap statis. Beku. 

Dan jawaban seperti itu takkan pernah keluar dari mulut saya. Atau mulut jalangkung. 

Jawaban saya harus keluar dengan muatan yang berbahaya. Misalnya begini: mengapa kamu merasa tidak kreatif sehingga pengen jadi lebih kreatif? Siapa yang bilang kamu perlu lebih kreatif? Sejak dalam kandungan ibumu, kreativitasmu sudah luar biasa. Dalam kandungan ibumu, kamu bisa menyelam, berenang, berkomunikasi dengan telepati dan menghipnotis ibumu untuk membelikan baju, popok dan ranjang bayi yang lebih mahal atas nama kasih sayang. Lalu saat kau lahir, kau bisa memenuhi semua kebutuhanmu – saat lapar, saat pipis, saat haus, saat pengen digendong, saat pengen ganti baju dan sebagainya – hanya dengan menangis. Tanpa perlu penjelasan panjang lebar apalagi pake proposal. Kreatif banget kan? Nah, sekarang mengapa kamu ingin meningkatkan lagi kreativitasmu? Fakta sesungguhnya adalah: engkau kehilangan kreativitasmu yang sudah ter-install sejak bayi lalu minta tolong pada orang lain untuk menemukan milikmu sendiri. Mengapa tak kau tanyakan pada nuranimu, dimana kreativitasmu bersembunyi?

Atau jawaban lain seperti ini: kau tak kreatif karena kau selalu menjauhi masalah. Kau tak kreatif karena kau selalu pengen hidupmu berjalan dengan lancar, mudah, lurus dan tenang. Kau tak kreatif karena dininabobokkan oleh ilusi tentang kebahagiaan yang hanya hadir saat hidup kita berkecukupan. Kau tak kreatif karena mengira untuk bahagia harus ada syarat-syarat yang terpenuhi, misalnya selamat dari marabahaya. Kau tak kreatif karena hidupmu biasa-biasa saja, berjalan sebagaimana kehidupan banyak manusia lain seumurmu. Kau tak kreatif karena hidupmu tak pernah berada dalam bahaya. Lalu bagaimana caranya agar jadi lebih kreatif? Lakukanlah hal-hal yang berbahaya yang membuatmu takut untuk melakukannya. Lakukan saja, dan jangan banyak bertanya!

Duaaaarrrr!!!!!

Makan mulailah setiap pagi sebagai petualangan yang sungguh-sungguh. Melompatlah dari tempat tidur, atau salto. Jangan merangkak seperti pemalas yang keahliannya hanya menunggu. Karena tak selamanya kita akan bisa menikmati pagi. Tak selamanya kita bisa membuka mata di pagi hari. Tak selamanya kita bisa menyapa embun yang bergelantungan di ujung daun-daun yang menggigil menanti terbitnya matahari. Tak selamanya.
Ada saat pagi tak lagi mendatangi kita. Saat panggilan menuju keabadian datang, semoga kita bisa tersenyum bahagiaa dalam rasa syukur yang utuh.

Karena kita meninggalkan kunci-kunci untuk memasuki ruang rahasia kebahagiaan dalam diri kita, yang pintunya dijaga oleh asumsi-asumsi dan ilmu pengetahuan kuno yang terlihat berbahaya padahal sesungguhnya hanya takhayul semata.

Karena kita meninggalkan kisah petualangan yang menggetarkan hati anak cucu kita, yang membuat mereka tergerak menjalani petualangan epic-nya sendiri. 
Yang dimulai setiap pagi...

Ikhtiar Mewujudkan Ruang Publik yang Bersih dan Manusiawi

(Tanggapan atas Tulisan Pinasthika Creativestival dan Sampah Visual)


Kemarin, Senin 21 September 2015, di Kolom Analisis KR saya baca tulisan Pak Sumbo Tinarbuko – penulis dan relawan Komunitas Reresik Sampah Visual sekaligus dosen saya - jadi langsung kangen ingin menulis lagi.

Sejujurnya saya menuliskan ini untuk bisa mendapatkan pencerahan dari Pak Sumbo tentang angle yang beliau lihat: dari sisi sebelah mana Pinasthika Creativestival yang sudah 16 tahun usianya, dianggap tidak memperlihatkan aksi keberpihakan pada kebersihan ruang publik? 

Pinasthika Creativestival, yang merupakan kolaborasi Harian Kedaulatan Rakyat dan P3I (Persatuan Perusahaan Periklanan) DI. Yogyakarta selalu konsisten dan seide untuk membersihkan sampah visual dari ruang publik. Selalu hormat dan salut untuk aksi Pak Sumbo dan kawan-kawan Reresik Sampah Visual. Kita juga terus mendesak pemerintah agar turun tangan lebih serius untuk menjaga kebersihan kotanya. Dan saat pemerintah kota/kabupaten seolah tak mendengar dan terkesan membiarkan, kita tidak berhenti melontarkan kritik-kritik yang sangat keras, walau tak semua kritik kita buka di ruang publik. 

Tahun ini Pinasthika mengangkat From Hero to Hore sebagai tema festival yang menjadikan kreativitas tak sekedar sebagai problem solver tapi juga menjadi tools dan engine yang membahagiakan. Bukan sekedar mendatangkan benefit secara ekonomi tapi juga meningkatkan index of happiness warga masyarakat. Bahkan untuk detailnya menukik lagi lebih dalam secara substantif fundamental untuk percepatan pengembangan ekonomi kreatif: mulai mengimplementasikan creative ecosystem secara riil agar ide kreatif lebih cepat tumbuh menjadi creative community, creative business dan creative network yang sustainable. Kita mengejar perubahan yang fundamental agar kreativitas dan ekonomi kreatif ini menjadi solusi bagi masa depan Jogja dan juga Indonesia. 

Pinasthika juga mendorong BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) untuk menyampaikan program riil bagi pengembangan ekonomi kreatif Indonesia, bukan sekedar wacana dan policy semata. Bapak Triawan Munaf (Kepala BEKRAF) menyampaikan bahwa aksi riil BEKRAF untuk menjadikan karya kreatif berbentuk naskah film, lagu, copyright dan yang biasa disebut intangible asset  sedang diperjuangkan bersama OJK (Otoritas Jasa Keuangan) agar bisa digunakan sebagai agunan pinjaman modal sehingga kawan-kawan yang bergerak di bidang kreatif bisa berkarya dan mencipta dengan maksimal. Juga aksi riil memberantas pembajakan dengan merancang platform online penyedia lagu dan film legal yang ramah pengguna dari sisi kualitas lagu dan harganya, dikombinasikan dengan penegakan hukum yang lebih progresif bekerjasama dengan aparat penegak hukum serta merevisi peraturan perundang-undangan yang lebih pro pada para pencipta. Ini contoh beberapa quick wins BEKRAF yang akan diwujudkan selambat-lambatnya awal tahun depan.

Pinasthika bersama kawan-kawan Indonesia Creative City Network (ICCN) juga bersinergi untuk me-riil-kan konsepsi jejaring kota kreatif di Indonesia, menjadi sparring partner aktif bagi pemerintah kota masing-masing untuk mewujudkan kota kreatif, kota yang manusiawi dan menyediakan fasilitas publik yang maksimal bagi pengembangan kreativitas warganya.

Memang tahun ini tak ada tema tentang sampah visual yang dibahas karena kita memandang isu sepenting itu sudah harus dieksekusi segera, keluar dari cangkang telur wacana. Sudah harus real action. Bukan hanya action plan semata.

Kawan-kawan di P3I Jogja dan Pinasthika setahu saya bekerja sangat keras untuk terus mendorong pembersihan sampah visual ini, dengan caranya masing-masing. Tak selalu dengan mencopot langsung, tapi mencegah sekuat tenaga dengan memberikan pemahaman, arahan, konsultasi agar klien-kliennya tak menambah sampah visual di luar ruang. Ini silent movement yang mungkin tak dilihat sebagai aksi heroik, tapi riil dalam eksekusi. Saya harus sampaikan ini agar kita semua paham, untuk berjuang mewujudkan tujuan yang sama, masing-masing kita punya cara dan tak harus selalu sama. What to do-nya sama tapi how to do-nya tentu disesuaikan dengan konteks dan kemampuan masing-masing.

Salam hormat kami untuk Pak Sumbo dan kawan-kawan Reresik Sampah Visual yang tak kenal lelah terus berjuang. Kita berada di barisan yang sama untuk membuat Jogja ini bersih sebersih-bersihnya dari sampah visual. Karena kita berjuang bersama-sama, sewajarnya bergandeng tangan dan saling menguatkan. 

Warga Jogja layak mendapatkan ruang publik yang lebih sehat, lebih manusiawi, lebih bersih, lebih istimewa. Itu janji City Branding Jogja yang baru, sebuah pekerjaan besar yang menjadi tanggung jawab kita semua – termasuk pemerintah - untuk mewujudkannya sesegera mungkin. Kota-kota lain sudah bergerak ke depan, berlomba-lomba membahagiakan warganya dengan fasilitas ruang publik yang makin membaik secara masif

Pak Sumbo dan kita semua, saya yakin tak punya waktu lama untuk hanya menunggu. Energi kesabaran ini harus segera ditransformasikan menjadi energi untuk melakukan perbaikan. Maka Pak Sumbo bergerak, P3I bergerak, Pinasthika bergerak, asosiasi-asosiasi lain bergerak, komunitas anak-anak muda kreatif Jogja bergerak, semua yang mencintai Jogja juga bergerak.

Perubahan ke arah perbaikan itu tak bisa dihentikan. Cepat atau lambat ia akan datang. 

------------------

Notes: tanggapan saya atas tulisan Pak Sumbo ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat 22 September 2015.