Mybothsides

Wednesday, April 30, 2014

Me, Myself and Mesjid

Saat kita hati kita dekat ke mesjid, saat pergi kemanapun rasanya kita sering dikelililingi mesjid. Melihat kemana-mana, yang terlihat mesjid.

Saat hati kita jarang ke mesjid, saat pengen nyari mesjid rasanya suliiit sekali nemu, rasanya kayak kita dijauhi mesjid.

Gak percaya? Buktikan.

Ini yang saya rasakan. Mesjid saja bisa merasakan apa yang hati kita rasakan.

Saat saya jarang ke mesjid dan suatu hari pengen sholat dhuha di mesjid: pintunya dikunci, tempat wudhunya digembok. Saat tiba di suatu kota, mau nyari mesjid lalu nanya-nanya, ternyata jauuuuhhh. Harus naik angkot. Dan angkotnya nggak muncul-muncul. Kejadian lain lagi, saat mesjidnya dekat, sekitar 500 meter dan kelihatan bangunannnya.. Waktu mau berangkat, hujan derasssss. Dan payung  tak ada.

Saat hati sedang dekat mesjid dan sering jamaah di mesjid. Mesjid juga terasa mendekat ke kita. Dulu saya pernah berkantor di Mega Kuningan dan bukan saya yang milih lokasinya. Mesjid hanya berjarak 100m. Saya nyari kontrakan rumah, dan gak sadar bahwa mesjid hanya berjarak 100m. Bahkan saat saya ke Phuket, Thailand.. Allah ijinkan saya sholat di mesjidNya. Mesjid Annur namanya.

Begitulah, semesta kecil di dalam diri kita adalah cerminan semesta besar yang melingkupi kita. Vibrasi di dalam, ter-amplify keluar. Tak pernah salah: apa yang kita tanam, menentukan apa yang kita tuai.

Mesjid bukan bangunan mati, bukan benda tak berjiwa. Mesjid adalah tanda-tanda tak terbantahkan, bahwa Allah telah menerapkan hukumNya yang Maha Sempurna.

Subhanallah!

Sunday, April 6, 2014

Caleg Timbuktu

Memasuki minggu tenang Pemilu 2014. Apakah semua jadi tenang? Nope. Para caleg dan capres malah semakin tegang. Juga cukong-cukong yang berdiri di belakang mereka, dalam keremangan. Para penyebar amplop juga bersiap-siap. Para penerimanya juga bersiap-siap. Semua yang terlibat dalam pemilu di negeri ini, bersiap-siap.

Banyak yang lebih siap menang, daripada siap kalah. Banyak yang lebih siap mendapatkan, daripada yang siap kehilangan. Banyak yang lebih siap naik tahta, daripada yang siap turun tahta.

Padahal makin tinggi sebuah kedudukan, jabatan, kekuasaan, bukan hanya menyangkut makin besarnya pendapatan dari sana. Tapi justru makin besarnya tanggung jawab. Di mata konstituen, di mata rakyat, terutama di mata Tuhan.

Di titik ini, banyak caleg yang mungkin belum siap. Belum tentu terpilihnya dia sebagai anggota legislatif itu sebuah kebaikan, bisa jadi malah keburukan. Tapi mata hanya bisa memandang kursi, modal sudah terlanjur ditumpahkan, janji sudah terlanjur diucapkan, pohon-pohon sudah terlanjur luka ditempeli foto-foto pencalegannya. Sudah kepalang basah. Lubuk hati yang terdalam makin kesepian. Early warning system-nya tak didengarkan.

Maka, selamat menikmati minggu tenang. Dua hari lagi kita akan menentukan pilihan. Semoga Tuhan memberikan penerang. Dan menempatkan caleg-caleg yang tak serius berjuang untuk negeri ini, di Timbuktu. Dan berbahagia di sana. Selamanya.

Saturday, April 5, 2014

Jelang Pemilu 2014

Hari ini mulai minggu tenang dari kampanye. 3 hari lagi coblosan, 9 April 2014.

Komen-komen yang bertebaran di socmed, media online, tentang milih caleg dan capres mana di pemilu, dukung partai A, B atau C sebagian besar adalah tulisan orang/tim yang dibayar, yang bekerja profesional untuk komen, nge-twit, nge-wall.

Suara rakyat sejati mungkin sulit kita baca di media online, koran dan teve. Tapi mereka yang dikadali parpol di Republik ini, masih punya Tuhan untuk mendengarkan suara jujur mereka. Tuhan yang tak bisa dikelabuhi dengan aneka ragam teknik kampanye dan parade kepalsuan.

Sesungguhnya hanya Tuhan, Maha pembuat keputusan sejati. Hiruk pikuk demokrasi lima tahunan dengan biaya trilyunan ini seperti seremoni yang riuh, tapi mungkin hanya akan berakhir sebagai buih yang dilupakan jaman.

Yang kita butuhkan sesungguhnya adalah gelombang. Adalah energi nuklir kebersamaan kita sebagai bangsa, yang ternyata tak bisa diampu para politisi kita yang terlalu berat memanggul kepentingan mereka sendiri untuk mereka perjuangkan dengan embel-embel stempel 'demi rakyat'.

Semoga dalam pemilu besok, rakyat sejati yang menang, akal sehat yang menang, masa depan yang menang...

Skenario langit sudah tercipta sejak zaman azali. Tugas kita menjalani peran masing-masing dengan ikhtiar yang terbaik. Lalu menunggu jalan ceritanya mengarah kemana.

Selebihnya - kalo hubungannya sama kehendak Tuhan - kita mah sami'na wa atho'na aja.