Mybothsides

Saturday, October 4, 2014

Negeri Seolah-olah

Kita hidup di negeri seolah-olah. Negeri nampaknya. Negeri kosmetik. Negeri packaging. Negeri di luar A, di dalam B. Negeri yang mengutamakan tampilan, kemasan, topeng. Sambil melupakan pentingnya nukleus, pentingnya content, pentingnya kejujuran.

Jujur sudah jadi barang langka, tapi mungkin tak banyak di antara kita yang merasa kehilangan. Karena tak terasa, karena bahkan sudah terbiasa dengan ketidakjujuran. Kalau mau jujur malah dianggap aneh, dianggap ketinggalan jaman, dianggap sisa-sisa budaya masa silam.

Lihatlah buktinya yang jelas-jelas dan tak terbantahkan. Ketidakjujuran nongol tanpa tedeng aling-aling.

Koalisi Merah Putih ternyata tidak merah putih. Koalisi Hebat ternyata tidak hebat. Partai Demokrat, ternyata tidak demokratis. Partai Golongan Karya ternyata tak ada karyanya. Partai Persatuan Pembangunan ternyata malah tak bisa bersatu.

Nah, jujur pada nama sendiri itu penting kan? Dan tidak mudah kan?

Itulah mengapa Gerakan Jujur Barengan sangat penting untuk Indonesia. Agar segala sesuatu seperti apa adanya. Bukan hanya seolah-olah, bukan hanya lipstik, bukan hanya baju pentas.

Mari bergerak bersama. Saling mendukung, saling mengingatkan, bahu-membahu berjuang untuk mewujudkan jujur barengan untuk Indonesia.

Wednesday, September 24, 2014

Jadilah Saksi Sejarah

Warga Surabaya jangan kemana-mana! ADA YANG HEBOH pada hari Sabtu, 27 September 2014.

JADILAH SAKSI SEJARAH: Pemecahan Rekor MURI Lukisan Terbesar, 60 m x 20 m bersama Cak Taufik Monyong & 50 Pelukis Dewan Kesenian Jawa Timur dalam Acara TOPPING OFF Pavilion Permata Tower 1. 

Acara ini juga dimeriahkan juga oleh Atraksi Spektakuler Repling. Info selengkapnya silakan hubungi 031.5683168.

Catat sekali lagi tanggalnya, 27 SEPTEMBER 2014. Mulai jam 14.30 - selesai.

Ayooooo Arek-arek Suroboyo.... Yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Mari bersama kita torehkan sejarah!


Wednesday, September 17, 2014

Peluang Emas untuk Anda



Setelah sukses dengan Pavilion Permata Apartemen Tower 1 - 100% SOLD OUT, kini PT. PP Properti kembali hadir dengan dengan konsep REVOLUSIONER - Pavilion Permata Apartment Tower 2! 

Kesempatan untuk memiliki SATU-SATUnya apartemen dengan harga mulai 300 jt-an yang memiliki MALL dan CARREFOUR sendiri yang berada di JL. Mayjend Sungkono hadir bersama keberuntungan Anda. 

Pavilion Permata Apartment  memiliki konsep HOTEL SERVICE, HIGH TECHNOLOGY dan SMART LIVING. Lokasi super strategis hanya 3 menit dari Pintu Tol Satelit Surabaya Barat. Dilengkapi dengan fasilitas: akses langsung menuju Carrefour (Grand City Mall), kolam renang, Zen Garden, Gym, terintegrasi dengan Mall, Security 24 jam dan area parkir yang memadai.

Dapatkan penawaran terbaik kami!
DP ringan + FREE Smart Phone SamsungGalaxy Core II
CICILAN RINGAN 36X TANPA DP!
Untuk Info lebih lanjut hubungi 031. 5683168.

































 
 
 
Bukan hanya itu!

Anda juga sangat beruntung karena bisa mengikuti seminar FREE Bareng Mr. Christian Adrianto, seorang Trainer&Motivator Terpanazzzzz di Indonesia tentang Trik Memilih Properti Unggulan sekaligus meihat presentasi dengan Mega Screen dan show spektakuler video mapping. Silakan hadir di Pavilion Permata Apartemen, 20 September 2014, mulai jam 13.00. Tempat sangat terbatas, silakan registrasi dulu ke 031.72118211. 

Sampai berjumpa disana, bersama orang-orang yang sama beruntungnya dengan Anda.



Tuesday, August 26, 2014

T-Shirt Amal untuk Rembang


YUK SEDEKAH lewat T-Shirt Amal. PRE ORDER max 30 Agustus 2014 dan T-Shirt akan bisa diambil/dikirim pada 10 September 2014. Harga T-Shirt untuk ukuran M, L, XL @ Rp 80.000,- dengan perincian: Rp 30.000,- untuk mengganti biaya produksi & Rp 50.000,- untuk sedekah Sepeda Motor Pemadam Kebakaran di Rembang via Komunitas Rembang Bergerak. Luar kota di Jawa ongkos kirim Rp 20.000,- Luar Jawa Rp 30.000,- via Pos Kilat Khusus. PEMESANAN: Aan HP. 08122993859. Bisa ditransfer ke Rek. Komunitas Rembang Bergerak an. Achmad Rif’an, Bank Mandiri No. Rek 1350013023914. 

Bensin Langka

Ini hanya untuk jadi catatan personal saya aja, pada 26 Agustus 2014 - 9 hari sejak peringatan 69 tahun Kemerdekaan kita - antri bensin di Pom Bensin mengular sampai ke jakan raya, menimbulkan kemacetan. Iya, di Jogja. Di ibukota Propinsi DI Yogyakarta. Sampai tengah malam, antrian itu masih setia. Masih sampai jalan raya. Di jantung kota Yogyakarta. Bagaimana jika di pinggiran kota, di kota-kota yang akses ke pusat layanan jauh, di luar Jawa, di Maluku, di Papua? Harga eceran di kios yang biasanya Rp 7.000,- per liter melonjak jadi Rp 10.000,- per liter. Itu pun banyak yang kosong stoknya atau antrinya banyak. Premix di Pom Bensin yang harganya Rp 11.500,- pun antrinya gak kalah paaanjaaaaang...

Negeri ini, di usianya yang ke-69 masih harus belajar banyak tentang manajemen sumber daya alam yang efektif dan berkeadilan. Negeri ini masih harus belajar banyak tentang pentingnya untuk tidak rakus dan mengelola nafsu menghabiskan nikmat Tuhan di buminya yang kaya raya. Negeri ini masih harus banyak belajar untuk bersyukur, agar tak timbul chaos saat segala sesuatu menyangkut kebutuhan dasar rakyat mulai tak terkendali.

Malam ini saya muter 2 kali nyari bensin ke kurang lebih 5 pom bensin Pertamina dan lebih dari 10 kios Pertamini. Dan nggak dapat bensin. Saya pulang dengan bensin yang tersisa sedikit di tangki. Tapi saya tetap belajar bersyukur. Saya memang gak dapat bensin. Tapi saya dapat tulisan ini, yang memecah kebuntuan setelah berbulan-bulan blog ini kosong tak terisi. Barter yang lebih dari adil.

What a wonderful night :)

Thursday, August 14, 2014

Sedekah Motor Damkar


Kawan-kawan yang peduli Rembang, untuk mencegah dan membantu korban kebakaran yang mulai sering di Rembang, mari patungan SEDEKAH MOTOR PEMADAM KEBAKARAN, perkiraan harga Rp 38.000.000,-/unit. Bisa ditransfer ke Rek. Komunitas Rembang Bergerak an. Achmad Rif’an, Bank Mandiri No. Rek 1350013023914. Untuk konfirmasi sila kontak 08122993859 (Aan). Semoga jadi ladang amal penuh berkah. Amiin :)

Saturday, May 17, 2014

Kebangkitan Nasional Bersama Jujur Barengan


Sudah 106 tahun berlalu, sejak anak-anak muda masa itu mendirikan sebuah ikhtiar perjuangan kebangsaan dengan mendirikan Boedi Oetomo. Anak-anak muda - yang karena sunatullah-Nya - sering dianggap kurang pengalaman, grusa-grusu dan tidak punya jam terbang cukup. Apalagi untuk memperjuangkan sebuah negara merdeka, lepas dari cengkeraman penjajah Belanda yang pada masa itu dianggap sebagai tidak mungkin dikalahkan. Apalagi hanya oleh segelintir anak muda yang bersenjatakan pena dan semangat saja.

Tapi ikhtiar awal sudah dimulai. Langkah pertama sudah diayunkan. Dan sejarahpun bergulir, menulis jalan ceritanya, tanpa bisa dicegah oleh siapapun, bahkan Belanda yang 'tak terkalahkan.' Setelah 20 Mei 1908, lalu hadir Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan puncaknya dua anak muda Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, dwi tunggal Soekarno Hatta.

Tantangan Nasionalisme di Era Digital

Para pahlawan yang dulu berjuang, menjalani hidupnya dengan penuh penderitaan, ancaman mara bahaya dan ketidaktentraman karena selalu muncul bahaya serangan dari para penjajah yang ingin melanggengkan kekuasaannya di bumi pertiwi ini. Tak ada pahlawan yang hidupnya berleha-leha, menghabiskan waktu sia-sia dengan hanya bertindak mengikuti keinginannya sendiri, memuaskan hasrat masa mudanya dengan bersenang-senang. Mereka semua berjuang, menerjang bahaya, untuk masa depan negeri yang - karena upaya luar biasa mereka - akhirnya bisa kita nikmati sebagai negeri yang merdeka.

Kemerdekaan itu tidak take it for granted. Bukan hadiah. Bukan gratisan. Kemerdekaan yang merupakan puncak pertama dari ikhtiar Kebangkitan Nasional 1908 dulu, dibangun di atas tumpukan nyawa jutaan pejuang dan rakyat negeri ini, nenek moyang kita yang mengorbankan hidupnya untuk kita, anak cucunya di masa depan.

Lalu, pekerjaan rumah itu diwariskannya kepada kita. Pertanyaan besar mengemuka: apa yang akan kita wariskan pada anak cucu kita di masa yang akan datang, di masa pasca digital. Di masa pasca Twitter, Facebook, Instagram, Youtube, Path, Piuterest, Whatsapp?

Ini PR besar, utamanya jika anak-anak muda di masa sekarang tidak menyiapkan diri sejak dini untuk menjadi bagian dari perubahan. Menjadi agent of change. Menjadi provokator untuk kebaikan sesama. Menjadi bagian dari gelombang perubahan menuju Indonesia yuang jauh lebih baik, di segala bidang. Menjadi bagian dari generasi bangsa yang melunasi janji para pendiri negeri ini dalam bentuk terwujudnya cita-cita kemerdekaan, 17 Agustus 1945.

106 Tahun Kemudian, Sejarah Berulang

Pemilu untuk pemilihan calon legislatif baru saja usai. Meninggalkan seribu satu cerita, tentang caleg-caleg yang gagal terpilih walaupun sudah menggelontorkan milyaran rupiah, tentang menumpuknya berton-ton sampah visual berwujud wajah para caleg yang telah menjadikan kota kita lautan sampah visual, lalu para caleg yang menjadi gila karena terlilit hutang milyaran yang takkan mereka mampu bayar karena tak jadi melenggang sebagai wakil rakyat. Dan cerita pilu dan menggelikan lainnya berderet, membuat setiap anak bangsa yang berakal sehat makin bersedih melihatnya.

Negeri ini dalam kondisi darurat korupsi. Negeri ini dalam bahaya. Bukan karena mafia dan pasukan koruptor yang lebih kuat atau lebih banyak tapi karena banyak orang jujur yang diam dan membiarkan, yang tak melawan saat hak-haknya sebagai anak bangsa digerogoti nafsu kerakusan. Ibu Pertiwi bersedih hati karena kekayaan alamnya dijarah anak-anaknya sendiri lewat praktek kolusi, korupsi dan nepotisme yang makin berani, yang tanpa tedeng aling-aling.

Lihatlah praktek kolusi dalam penentuan jabatan, pendaftaran pegawai negeri yang berlumur uang suap, jual beli suara dalam pemilu, kongkalingkong proyek di lingkungan pemerintah, di perijinan, di jembatan timbang dan daftar seperti ini masih sangat panjang.

Para pelaku korupsi dalam skala masif itu terus bertambah. 73 Anggota DPR/DPRD, 12 Kepala Lembaga/Kementerian, 4 Duta Besar, 7 Komisioner, 10 Gubernur, 35 Walikota/Bupati dan Wakil, 115 Eselon I, II dan III, 10 Hakim, 95 Swasta dan 32 kasus lainnya (Sumber: www.acch.kpk.go.id, 31 Maret 2014).

Ini harus dihentikan. Dan kasus baru harus dicegah. Masa depan bangsa ini dan nasib anak cucu kita nanti harus diselamatkan dari budaya destruktif ini, tugas kita bersama sebagai panggilan sejarah: korupsi harus dihapuskan dari Bumi Pertiwi.


Bangkit dengan Jujur Barengan

Jujur Barengan lahir sebagai kehendak sejarah. Bukan hanya karena keinginan orang per orang. Bangsa ini sudah lama terdiam, saat banyak ketidakjujuran mengalami metamorfosa bentuk menjadi penyuapan, pencurian, kolusi, nepotisme dan korupsi. Suara lirih yang terpendam di hati ratusan juta anak bangsa ini, harus segera dikumandangkan. Anak-anak bangsa harus dibangunkan. Kejujuran sebagai fondasi karakter bangsa yang unggul, harus diletakkan kembali ke tempat yang terhormat, menjadi kompas penunjuk arah dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.


Ini adalah jawaban konkrit anak-anak muda Jogja untuk menjawab tantangan bangsanya di masa sekarang: Takkan ada kebangkitan nasional tanpa dimulai kejujuran di setiap hati anak-anak bangsanya. Cukup sudah berwacana, usai sudah waktu diskusi dan berdebat, anak-anak muda harus segera menyingsingkan lengan bajunya dan turun memperbaiki kondisi bangsanya yang sudah dirusak oleh generasi pendahulunya.

Besok pada 20 Mei 2014, dimulai jam 15.30 lebih dari 40 komunitas pendukung gerakan Jujur Barengan akan mengadakan aksi budaya. Bergerak dari 20 titik di Jogja, menuju Kantor Gubernur DIY di Kepatihan, Malioboro. Aksi yang simpatik, damai dan berbudaya, tanpa memacetkan jalan, tanpa motor blombongan, tanpa menakuti masyarakat. Aksi yang dilakukan dengan penuh cinta pada tanah air tempat kita berpijak. Aksi yang merupakan perlambang bersatunya seluruh lapisan masyarakat dalam perang suci melawan segala bentuk kebohongan di negeri ini. Menjadi pondasi bagi bangkitnya negeri ini yang dimulai dengan jujur dari diri sendiri. 


Mari bersama-sama berkumpul untuk meneguhkan niat. Bersama Karnaval Kebangkitan Kejujuran Nasional bersama semua komunitas pendukung Gerakan Budaya Jujur Barengan pada Selasa, 20 Mei 2014 mulai jam 15.30 - 22.00 WIB di Pelataran Kepatihan Jl. Malioboro Yogyakarta. Agenda acara akan diisi Orasi Budaya oleh Butet Kartaredjasa, Gus Miftah, Komunitas Jujur Barengan dan lain-lain. Serta peluncuran Lagu Jujur Barengan oleh Marzuki 'KilltheDJ' dan Jogja Hiphop Foundation.

Ibu Pertiwi telah memanggil kita semua untuk berbuat nyata, untuk meng-install kembali software kejujuran sebagai anti virus agar kita terbebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme di masa depan. 


Sampai berjumpa di Kepatihan. Mari warnai negeri ini dengan Jujur Barengan. Jika Dr. Wahidin Soedirohusodo, Dr. Tjipto Mangoen Koesoemo, Dr. Soetomo, Dr. Douwes Dekker, Bung Karno, Ki Hajar Dewantoro dan kawan-kawannya pada 106 tahun lalu bisa membangkitkan Indonesia, kita juga harus bisa!

Jangan pernah meremehkan anak-anak muda Indonesia. Apalagi yang jujur. Apalagi yang barengan. Jangan pernah!

Mari bergerak bersama! Mari Bangkit bersama!

Wednesday, April 30, 2014

Me, Myself and Mesjid

Saat kita hati kita dekat ke mesjid, saat pergi kemanapun rasanya kita sering dikelililingi mesjid. Melihat kemana-mana, yang terlihat mesjid.

Saat hati kita jarang ke mesjid, saat pengen nyari mesjid rasanya suliiit sekali nemu, rasanya kayak kita dijauhi mesjid.

Gak percaya? Buktikan.

Ini yang saya rasakan. Mesjid saja bisa merasakan apa yang hati kita rasakan.

Saat saya jarang ke mesjid dan suatu hari pengen sholat dhuha di mesjid: pintunya dikunci, tempat wudhunya digembok. Saat tiba di suatu kota, mau nyari mesjid lalu nanya-nanya, ternyata jauuuuhhh. Harus naik angkot. Dan angkotnya nggak muncul-muncul. Kejadian lain lagi, saat mesjidnya dekat, sekitar 500 meter dan kelihatan bangunannnya.. Waktu mau berangkat, hujan derasssss. Dan payung  tak ada.

Saat hati sedang dekat mesjid dan sering jamaah di mesjid. Mesjid juga terasa mendekat ke kita. Dulu saya pernah berkantor di Mega Kuningan dan bukan saya yang milih lokasinya. Mesjid hanya berjarak 100m. Saya nyari kontrakan rumah, dan gak sadar bahwa mesjid hanya berjarak 100m. Bahkan saat saya ke Phuket, Thailand.. Allah ijinkan saya sholat di mesjidNya. Mesjid Annur namanya.

Begitulah, semesta kecil di dalam diri kita adalah cerminan semesta besar yang melingkupi kita. Vibrasi di dalam, ter-amplify keluar. Tak pernah salah: apa yang kita tanam, menentukan apa yang kita tuai.

Mesjid bukan bangunan mati, bukan benda tak berjiwa. Mesjid adalah tanda-tanda tak terbantahkan, bahwa Allah telah menerapkan hukumNya yang Maha Sempurna.

Subhanallah!

Sunday, April 6, 2014

Caleg Timbuktu

Memasuki minggu tenang Pemilu 2014. Apakah semua jadi tenang? Nope. Para caleg dan capres malah semakin tegang. Juga cukong-cukong yang berdiri di belakang mereka, dalam keremangan. Para penyebar amplop juga bersiap-siap. Para penerimanya juga bersiap-siap. Semua yang terlibat dalam pemilu di negeri ini, bersiap-siap.

Banyak yang lebih siap menang, daripada siap kalah. Banyak yang lebih siap mendapatkan, daripada yang siap kehilangan. Banyak yang lebih siap naik tahta, daripada yang siap turun tahta.

Padahal makin tinggi sebuah kedudukan, jabatan, kekuasaan, bukan hanya menyangkut makin besarnya pendapatan dari sana. Tapi justru makin besarnya tanggung jawab. Di mata konstituen, di mata rakyat, terutama di mata Tuhan.

Di titik ini, banyak caleg yang mungkin belum siap. Belum tentu terpilihnya dia sebagai anggota legislatif itu sebuah kebaikan, bisa jadi malah keburukan. Tapi mata hanya bisa memandang kursi, modal sudah terlanjur ditumpahkan, janji sudah terlanjur diucapkan, pohon-pohon sudah terlanjur luka ditempeli foto-foto pencalegannya. Sudah kepalang basah. Lubuk hati yang terdalam makin kesepian. Early warning system-nya tak didengarkan.

Maka, selamat menikmati minggu tenang. Dua hari lagi kita akan menentukan pilihan. Semoga Tuhan memberikan penerang. Dan menempatkan caleg-caleg yang tak serius berjuang untuk negeri ini, di Timbuktu. Dan berbahagia di sana. Selamanya.

Saturday, April 5, 2014

Jelang Pemilu 2014

Hari ini mulai minggu tenang dari kampanye. 3 hari lagi coblosan, 9 April 2014.

Komen-komen yang bertebaran di socmed, media online, tentang milih caleg dan capres mana di pemilu, dukung partai A, B atau C sebagian besar adalah tulisan orang/tim yang dibayar, yang bekerja profesional untuk komen, nge-twit, nge-wall.

Suara rakyat sejati mungkin sulit kita baca di media online, koran dan teve. Tapi mereka yang dikadali parpol di Republik ini, masih punya Tuhan untuk mendengarkan suara jujur mereka. Tuhan yang tak bisa dikelabuhi dengan aneka ragam teknik kampanye dan parade kepalsuan.

Sesungguhnya hanya Tuhan, Maha pembuat keputusan sejati. Hiruk pikuk demokrasi lima tahunan dengan biaya trilyunan ini seperti seremoni yang riuh, tapi mungkin hanya akan berakhir sebagai buih yang dilupakan jaman.

Yang kita butuhkan sesungguhnya adalah gelombang. Adalah energi nuklir kebersamaan kita sebagai bangsa, yang ternyata tak bisa diampu para politisi kita yang terlalu berat memanggul kepentingan mereka sendiri untuk mereka perjuangkan dengan embel-embel stempel 'demi rakyat'.

Semoga dalam pemilu besok, rakyat sejati yang menang, akal sehat yang menang, masa depan yang menang...

Skenario langit sudah tercipta sejak zaman azali. Tugas kita menjalani peran masing-masing dengan ikhtiar yang terbaik. Lalu menunggu jalan ceritanya mengarah kemana.

Selebihnya - kalo hubungannya sama kehendak Tuhan - kita mah sami'na wa atho'na aja.

Wednesday, January 1, 2014

Dijemput 2014

Kita tidak menyongsong tahun baru. Kita dijemput. Tahun 2014 sesungguhnya bukan tahun baru. Ia sudah ada di sana sejak 2013. Bahkan sudah sejak tahun-tahun sebelumnya. Ia sudah dituliskan oleh Tuhan, bahkan sejak jaman sebelum Masehi disepakati oleh umat manusia sebagai hitungan waktu bersama.

Kita juga tidak meninggalkan 2013. Kita tak beranjak menjauh darinya. Ia tetap ada di sini, seperti lapisan kayu di batang pohon yang menua, garis-garis melingkar itu ada di sana. Sejak tahun 0. Sejak ia tumbuh sebagai pohon. Ia tetap ada di sana, meninggalkan jejak dan tak pergi kemana-mana. Ia melekat dengan kita. 2013 dan tahun-tahun yang telah kita lalui, melekat dengan riwayat hidup kita.

Kita menyebutnya masa lalu. Seperti diri kita ini, jika dihitung dari sejak masih bayi, pun pantas disebut bagian masa lalu. Terminologi pemisahan masa lalu, sekarang dan masa depan, hanyalah teknik untuk memudahkan penyebutan dan tenses untuk belajar bahasa Inggris.

Tapi sesungguhnya masa lalu, masa sekarang dan masa depan menyatu dengan setiap hembusan nafas yang kita hirup dan keluarkan.

Saat terompet berbunyi mengakhiri 2013 dan memulai 2014, kita menambah satublagi lapisan dalam kisah kita, kita menua. Mendekati masa kadaluarsa. Menuju titik selesai.

Mungkin tak langsung off mendadak. Mungkin masih ada 2015, 2016, 2020, tapi tak ada jaminan kita masih jadi orang yang sama. Kita akan makin menua. Dan off pada akhirnya.

Sambil menunggu masa itu datang, setiap detik yang ada kita maknai sebaik-baiknya. Agar saat kita pergi atau berpulang - kata yang beda tapi artinya sama - kita tak menyesal.

Masa lalu, masa sekarang dan masa depan itu akan kita tinggalkan di dunia ini sebagai kenangan untuk anak cucu kita, menjadi kisah yang akan diceritakan ulang kelak atau malah untuk dilupakan.

Dengan kesadaran ini hidup indah. Saat dijalani. Ataupun saat ditinggalkan.