Mybothsides

Monday, October 15, 2012

Tuesday, August 28, 2012

Prolog Buku Spiritual Creativepreneur

Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing
dan akan kembali pula dalam keadaan asing,
maka berbahagialah orang-orang yang dikatakan asing.

HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar RA


Kisah mengenai bagaimana sebuah ide sederhana yang asing dan aneh akhirnya membuat dunia yang kita tinggali ini menjadi tidak pernah sama lagi dengan sebelumnya, biasanya akan menjadi kisah yang inspiratif, menggugah kesadaran kita, menyalakan passion di hati kita yang terdalam, bahkan sampai membuat kita menitikkan air mata.

Lihatlah cerita orang-orang yang telah mengubah dunia, semuanya diawali dengan penolakan yang dahsyat saat ide itu pertama kali dikemukakan, saat ikhtiar perubahan itu mulai dijalankan. Mereka dituduh gila, ditertawakan, dianggap merongrong status quo, diasingkan dari pergaulan sehari-hari dan hal-hal menyakitkan lainnya.

Lihatlah saat Nabi Nuh menyampaikan pada kaumnya tentang perintah Allah untuk membangun sebuah kapal di tengah padang pasir. Apa kata kaumnya? Mereka menganggapnya gila. Di masa sekarang pun, saya kira mayoritas akan menganggap gila seseorang yang membuat perahu besar di tengah padang pasir tanpa air setetespun. Itu perahu mau berlayar dimana?

Lihatlah saat Nabi Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih Ismail putra tercintanya. Jika kejadian itu diteleportasikan ke masa sekarang, kita pasti akan menganggap Nabi Ibrahim psikopat pembunuh anak-anak dan melaporkannya ke polisi terdekat.

Lihatlah saat Rasulullah menyampaikan dakwahnya pada kaum Thaif. Rasulullah yang mulia itu dilempari batu sampai berdarah-darah dan kotoran unta sampai berbau-bau.

Pada awalnya, Bill Gates ditertawakan saat menyampaikan bahwa nanti aka nada satu komputer di setiap meja, menjalankan aplikasi Windows. Steve Jobs juga ditertawakan saat memutuskan kembali ke Apple untuk menyelamatkan perusahaan itu dari kebangkrutan. Perusahaan yang sama yang menendangnya 11 tahun sebelumnya. Colombus juga dicap gila saat mengatakan akan memutari bumi dengan kapal layar karena saat itu mayoritas bangsa di dunia percaya bahwa bumi ini pipih dan Colombus akan terjatuh hilang saat mencapai ujung dunia. Dan seterusnya. Wright bersaudara saat memulai eksperimennya membuat pesawat terbang juga diejek-ejek dan tak dianggap.

Semua yang mengubah dunia mengawalinya dari sesuatu yang asing. Yang belum pernah ada sebelumnya.

Nah, inspirasi itu berkobar-kobar saat pertama kali menyetrum kesadaran kita. Tapi biasanya juga: umur inspirasi itu tak panjang.

Beberapa saat setelah cerita itu berlalu dan kita mulai menggeluti lagi dunia dan segala permasalahannya sehari-hari, api itu pun memudar. Kesadaran itu menguap. Passion itu meredup dan padam. Kita pun menjelma kembali menjadi orang-orang biasa, orang-orang pada umumnya. Menjalani hidup dari pagi ke pagi lagi dengan jadual yang telah ditentukan, begitu-begitu saja melewati jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Tubuh kita berjalan, bergerak dan bekerja kesana-kemari memperjuangkan mimpi-mimpi di luar diri kita, sementara jiwa kita gersang, hati nurani tak lagi mendapat tempat tertinggi dalam tubuh yang lelah, dalam pandangan mata yang kosong tanpa daya.

Maka jumlah orang-orang yang bersedia memperjuangkan ide-idenya sepenuh hati sangatlah sedikit. Sebagian besar dari kita memilih menyerah di awal atau pertengahan perjalanan karena tak sanggup menanggung resiko untuk berbeda, untuk disalahpahami, untuk dicemooh, untuk dikritik dan difitnah. Mayoritas kita tak cukup kuat untuk menelan hinaan-hinaan itu, perlakuan yang merendahkan itu, sehingga memilih menukarkan inner voice (suara hati) itu dengan kenyamaan, ketenangan, ketentraman.

Secara tak sadar, kita bahkan mulai ikut-ikutan mengatakan bahwa keajaiban yang dibawa oleh setiap ide baru adalah sesuatu yang tidak logis, tidak masuk akal, karena saat menjalaninya tanpa hasrat, kita pernah gagal dan menolak bangkit. Ide-ide itu terlihat terlalu tinggi dan sia-sia karena kita tak pernah serius memperjuangkannya.

Bahkan pun saat engkau telah berniat untuk mengubah dunia, lalu menghidupkan siang dan malammu untuk mengejar itu, belum bisa jadi jaminan bahwa engkau akan mencapainya di ujung umurmu.

Alam semesta ini punya mekanisme seleksi alam yang kejam tapi adil. Engkau yang tak sungguh-sungguh bersedia bersikap kejam pada dirimu sendiri untuk memperjuangkan terwujudnya ide-ide besar yang kau yakini, akan diperlakukan dengan kejam tanpa basa-basi oleh realitas, oleh hukum sebab akibat, bahkan oleh akal sehatmu sendiri.

Kecuali jika engkau termasuk orang-orang jenius. Yang setahu saya, bukanlah merupakan keturunan.

Kita harus membentuk ide-ide dasar dari
realitas alam dengan pemikiran dan kreativitas kita.
Dengan itu kita akan menandai sejarah,
tidak sekedar larut di dalamnya.

- Steve Jobs, former CEO Apple Inc. -

Apple Computer dalam iklan legendarisnya tahun 1997 Think Different mencatat nama-nama ini: Albert Einstein, Bob Dylan, Martin Luther King, Jr., Richard Branson, John Lennon, Buckminster Fuller, Thomas Edison, Muhammad Ali, Ted Turner, Maria Callas, Mahatma Gandhi, Amelia Earhart, Alfred Hitchcock, Martha Graham, Jim Henson, Frank Lloyd Wright, Pablo Picasso.

Copy writing iklan ini sungguh menggetarkan hati:

Here’s to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. The round pegs in the square holes. The ones who see things differently. They’re not fond of rules. And they have no respect for the status quo. You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them. About the only thing you can’t do is ignore them. Because they change things. They push the human race forward. While some may see them as the crazy ones, we see genius. Because the people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do. 

Jenius adalah orang-orang yang mampu mempertanggungjawabkan kegilaannya. Dan jumlah mereka adalah minoritas. Tanpa kemampuan untuk mempertanggungjawabkan ‘keanehannya’, maka posisi orang-orang yang berbeda dan dianggap gila itu akan dipinggirkan, dijauhkan dari kehidupan sehari-hari yang normal karena dianggap pengganggu keharmonisan dan ketertiban.

Seringkali orang-orang besar yang mengubah dunia, melakukannya tanpa niat yang besar, mereka menggelinding begitu saja mengikuti kata hatinya, melakukan apapun yang mereka lakukan dengan suka cita lalu... Bummm!!!

Dunia pun berubah karena hal-hal sederhana yang mereka lakukan, diiringi dengan kebetulan-kebetulan dan dukungan yang mengalir deras dari arah yang tak pernah mereka perkirakan. Setiap kisah kesuksesan bisnis dan kehidupan, tidak lebih tidak kurang, menggambarkan dukungan alam semesta yang aneh seperti itu.

Kalau balik lagi ke beberapa puluh tahun silam saat fajar industri komputer menjelang, Apple Computer dan Microsoft-pun melewati fase yang sama. Juga Starbucks, lalu Google, Facebook, yang termutakhir Twitter.

Benar bahwa sungguh sangat penting untuk berfikir besar - seperti kata Steve Jobs - to put a dent in the universe - tapi apa yang kemudian sungguh-sungguh mengubah dunia ini dengan kehadiran pemikiran dan tindakan kita adalah sesuatu yang sangat sederhana.

Dunia ini penuh dengan kebisingan dari orang-orang yang teriak ramai tentang hal-hal yang tidak penting, hal-hal sampah yang makin menggunung dan menyesakkan mata hati kita. Sampah-sampah yang dikemas dengan bungkus yang mewah, glamour, indah dan menggoda iman. Sampah-sampah yang diiklankan sebagai kebutuhan nomer satu dan bukti kesuksesan tertinggi. Sampah-sampah yang menggiurkan dan menjadikan kita konsumen rakus yang membeli hal-hal yang tak kita butuhkan.

Tengoklah sampah-sampah itu: sinetron kejar tayang, infotainment gosip, politik kekuasaan, iklan-iklan tanpa kedalaman makna, pengajian yang menidurkan jamaahnya, mereka yang mengaku membela agama tertentu sementara tingkah lakunya justru merusak apa yang dibelanya.

Lawanlah kebisingan itu. Dengarlah suara lirih dalam hatimu. Lalu berjuanglah sekeras mungkin untuk mengikutinya. Memperjuangkan ide-ide yang kau yakini justru karena ditolak orang lain, justru karena dicemooh dan dijauhi.

Engkau – dan siapapun yang punya kemauan – bisa menjadi bagian dari orang-orang besar yang dicatat oleh dunia dengan tinta emas. Selama engkau bersedia membayar ‘harga’nya. Selama engkau bersedia menggenggam erat ide-idemu dan memperjuangkannya sepenuh hidupmu, saat semua orang seolah-olah menentangmu.

Sebuah hadits Rasulullah dari Anas bin Malik RA. telah memotret persis akan hadirnya masa-masa seperti ini “Akan tiba nanti masa dimana menggenggam nilai-nilai kebenaran itu seperti menggenggam bara api.”

Jika kau pegang terus kebenaran itu, maka tanganmu akan terbakar dan itu sungguh sakit luar biasa. Tapi jika kau tak tahan menggenggamnya, maka lepaslah kebenaran itu dari tanganmu dan datanglah kesesatan dalam hidupmu.

Saya merasakan, masa itu telah tiba. Masa di mana menjadi orang yang memegang teguh keyakinan Islam, sama dengan mendaftarkan diri untuk diasingkan. Bahkan oleh mayoritas umat Islam sendiri.

Inilah masa-masa terbaik untuk mereka yang ingin mengubah dunia. Untuk mengumpulkan keberanian menjalani kehidupan yang asing demi perbaikan dunia yang semakin tua.

Kapal yang berisi perlengkapan untuk kembali jika pasukan Islam gagal menjalani misi untuk menaklukkan Andalusia (sekarang Spanyol) telah terbakar. Panglima Jabal Tariq telah membakarnya saat seluruh pasukan telah mendarat. Sehingga seluruh pasukan tak bisa pulang jika gagal, jika kalah.

Kapal untuk pelarian bagi jiwa-jiwa muslim yang kerdil seharusnya dibakar sekali lagi. Sehingga tak ada lagi peluang untuk kembali jika kita gagal mengubah dunia.

Pilihan umat Islam di masa sekarang adalah menjadi umat yang memenangkan perjuangan untuk kebaikan. Kita akan berjuang dengan gagah berani. Dengan resiko diejek, ditertawakan, dianggap gila. Tapi bukankah itu resiko yang sama yang telah ditempuh oleh banyak orang biasa sebelum kelak, dunia ini akan mengenangnya sebagai legenda?

Buku ini adalah salah satu ikhtiar untuk menyongsong perubahan itu. Untuk mengingatkan kita semua – termasuk saya – bahwa membangun bisnis kreatif sebagai implementasi dari nilai-nilai otentik Islam bukanlah sekedar ditujukan untuk mengumpulkan keuntungan, meningkatkan ROI (Return on Investment) atau menyumbang devisa negara.

Tapi saya besarkan niat saya, untuk mengubah dunia.

Mari mulai melangkah dengan yakin. Sekaranglah Waktunya.

Bismillaahirahmaanirrahiim…

Launching Buku Spiritual Creativepreneur



Silakan cek info lebih detailnya disini

Testimony untuk Buku Memorize Everything



Berikut ini adalah testimony saya untuk buku tulisan kawan baik saya sejak SD dulu di Rembang, Mr. SGM (Irwan Widiyatmoko, ST, CHt, NLP Pract):

Buku Memorize Everything ini adalah alat penggali terbaik untuk menemukan harta karun yang tersimpan - dan sering kita lupakan - di dalam otak kita. Sebuah super komputer yang kekuatannya berlipat-lipat kali server tercanggih saat ini, yang sayangnya jarang sekali dimanfaatkan kecanggihannya. Mas Irwan yang  memegang Rekor Pertama MURI untuk kekuatan daya ingat yang dahsyat, membongkar rahasia kekuatan otak kita untuk mampu mengingat apa saja. Semacam Google yang diinstall langsung di otak kita. Kapan pun kita panggil keyword-nya.. boom! Informasi itu akan tersedia tepat pada saat kita butuhkan.

Dan bagian terbaik buku ini, tentu saja: proses mengingat itu bisa dilakukan dengan cara yang fun, menyenangkan, super cepat.. Khas otak kanan! Buku Memorize Everything ini adalah kunci pembuka untuk memaksimalkan potensi otak kita yang luar biasa untuk mewujudkan kesuksesan yang memang menjadi hak setiap orang, selama ia mau dan berani bertindak!

------------

Sinopsis Buku Memorize Everything:
Cara Mudah, Cepat, dan Menyenangkan untuk Mengingat Semua Bentuk Informasi

Daya ingat Anda sesungguhnya amat sangat luar biasa! Apabila seluruh informasi di dunia ini dimasukkan ke dalam otak Anda, otak Anda tidak akan penuh. Bahkan Dr. Bill Lucas mengatakan, “Jika 10 informasi kita masukkan ke dalam otak kita per detik, otak kita belum terisi separuhnya sampai umur kita seratus tahun.” Namun kenyataannya banyak orang yang merasa daya ingatnya kurang atau lemah. Ini disebabkan mereka belum menemukan teknik atau cara yang tepat untuk mengingat informasi-informasi yang dibutuhkannya.

Dalam buku ini, Mr. SGM (Irwan Widiatmoko, ST, CHt, NLP Pract) yang memegang Rekor MURI Daya Ingat Pertama menawarkan cara-cara efektif dalam mengingat semua bentuk informasi, antara lain melalui jurus cerita, jurus lokasi, jurus angka, dan masih banyak lagi, untuk membantu Anda meningkatkan daya ingat dalam waktu singkat. Temukan semua rahasianya dalam buku ini!

Sinopsis ini saya kutip dari sini

Tuesday, June 26, 2012

Puncak Acara Roadshow Berbagi Ide Segar


Puncak Agenda Berbagi Ide Segar 
40 Hari 40 Kota se-Jawa-Bali
-------------------------------------------------------------------
Kamis, 28 Juni 2012
Jam: 19.15 WIB
Tempat: Gedung JBN (Jogja Business Network) Yogyakarta,
Jl. Yos Sudarso Kotabaru Yogyakarta

--------------------------------------------------------------
Agenda acara:
  1. Keynote Speech Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ibu Mari Elka Pangestu 
  2. Saptuari Sugiharto, CEO Kedai Digital, Founder Sedekah Rombongan “Creativity in Social Movement” + Peluncuran Buku “ Tweet Sadiz Bikin Mringis ! ” Karya Saptuari Sugiharto
  3. M. Arief Budiman, CEO Petakumpet “Great Ideas from Amazing 40 Cities”
----------------------------------------------------------
Tiket:
Mahasiwa: Rp. 50.000,-
Umum: Rp. 75.000,-

50% Penjualan Tiket disumbangkan via #SedekahRombongan

Tiket Box:

Petakumpet, Jl. Kabupaten 77B Nogotirto Gamping Sleman up. Rizal
Kedai Digital Deresan & Kedai Digital Demangan

Pemesanan tiket (via SMS) :
Iqbal: 081 7941 7881
Jimmy: 089 9511 2859

Saturday, May 19, 2012

Berbagi Ide Segar #01 Sleman

Mau main-main  dan dibayar mahal? Inilah event seminar kreatif dahsyat di Sleman! Yuk kita main bareng M. Arief Budiman(Co Founder & CEO Petakumpet)

LPP Garden Hotel, Jl. Solo
Minggu, 20 Mei 2012, 10.00 WIB
HTM: Rp 80.000,- (mhs), Rp 110.000,- (umum).
Kalo Bawa buku tulis baru + pensil untuk Creative Giving Diskon Rp 30.000,-
Fasilitas: Coffee Break + Sertifikat

Daftarkan dirimu dan follow twitter kami @idesegarSLEMAN CP: 08995142295 (Tita)

Akber Jogja Edisi Special


Thursday, May 10, 2012

Buku Spiritual Creativepreneur


BUKU SPIRITUAL CREATIVEPRENEUR
M. Arief Budiman
Metagraf, Mei 2012
XIV + 218 hlm.
14,5 cm x 20 cm

Perjalanan membangun bisnis
adalah perjalanan spiritual menuju Tuhan

Buku ini adalah percik pemikiran-pemikiran yang telah berinteraksi dengan realitas di lapangan sebagai ikhtiar untuk menggali lebih dalam lagi nilai-nilai Islam yang kontekstual dengan progresifitas gerak jaman, untuk menemukan nukleus dari konsep Islam tentang bisnis kreatif.

Satu lagi karya terbaru CEO Petakumpet (perusahaan kreatif dengan 105 award tingkat nasional untuk karya-karya iklan dan desain grafis) sekaligus penulis
Buku Best Seller 'Jualan Ide Segar' dan 'Tuhan Sang Penggoda' ini akan mengajak Anda untuk memikirkan ulang apa itu konsep tentang Islam, bagaimana implementasi Tauhid, bagaimana menerapkan konsep Taqwa dalam operasional bisnis sehari-hari.

Buku ini akan menarik pemikiran Anda kembali ke garis start, mundur kembali ke titik nol untuk bercermin dan bertanya pada diri sendiri: sudah Islamikah bisnis saya, sudah kreatifkah bisnis saya? 



Tulisan-tulisan yang blak-blakan tapi - sekaligus - jernih akan membawa Anda untuk melihat ke depan dan mengajak Anda untuk mempraktikkan konsep-konsep yang mungkin awalnya terlihat tidak logis tapi akan klop jika disinergikan dengan kekuatan iman.

Buku dengan tebal 218 halaman yang dihadirkan dengan pilihan 3 cover berbeda (oranye, hijau muda dan biru muda) ini terbagi dalam 8 Bab yang bisa dijadikan pegangan dalam membangun dan mengembangkan bisnis kreatif islami. 


Jadi, inilah buku yang akan membantu Anda agar bisa merasakan dengan pengalaman sendiri: keunggulan bisnis yang Islami dibanding yang belum Islami sekaligus keunggulan bisnis yang kreatif dibanding yang belum kreatif. Serta, keajaiban yang akan dihadirkan ketika mampu mensinergikan kreativitas dengan nilai-nilai Islami.

-----------------------------------
 
Monggo yang ingin Pre Order Buku Spiritual Creativepreneur, sila kontak Penerbit Tiga Serangkai: HP 08112642333, hanya berlaku sampai 19 Mei 2012. Launching buku baru ini Insya Allah pada 21 Mei 2012 di Solo.


Harga: Rp 49.500
Bebas ongkos kirim
Plus tanda tangan penulis
Berlaku: 10-19 Mei 2012

KIRIM KE:
telp.: (0271) 714344 ext. 120
SMS: 081 126 423 33
Faks.: (0271) 713607

CARANYA:
Tulis Nama lengkap pemesan
Alamat lengkap
No Hp.
Bukti transfer

TRANSFER:
a/n Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Bank Mandiri Kantor Cabang Solo, Slamet Riyadi
No. Rekening: 138 00 15021962

Thursday, April 19, 2012

A Legend Inside You


To understand yourself better, you can seek by defining who your heroes are. The best part of them will mirror in you. If you want to be a legend, around yourself with legends. And someday - if you have fought hard enough with all the passion in your heart - you will become one of them. At that day, you will never be the same again.

Sunday, April 1, 2012

Siap-siap


Setetes Embun di Kebun Ide

Untuk Mas Handoko Hendroyono*

Sejurus setelah saya menyelesaikan membaca ‘Brand Gardener’, saya teringat sebuah peribahasa: saat murid siap, guru akan datang.

Begini ceritanya: seperti siapapun yang terlibat dalam bisnis advertising by choice (alias tidak terpaksa ),saya pun selalu mencoba untuk memikirkan ulang industri yang saya geluti sejak 1996 ini. Mungkin 15 tahun barulah seumur jagung kalau bicara pengalaman, tapi setidaknya saya pelan-pelan mulai memahami industri seperti apa yang saya masuki ini.

Pertanyaan besar yang selalu mengganggu saya adalah: apakah industri ini cukup syarat untuk dijalankan dan dihidupi oleh orang-orang yang punya niat, passion, cinta dan keyakinan yang kuat untuk memberikan sebesar-besarnya manfaat bagi masyarakat dan lingkungannya?

Ataukah ia hanya sekedar menjadi perpanjangan corong bagi kekuatan brutal kapitalisme yang ideologinya adalah: jualan, jualan, jualan? Saya pun mulai bertanya-tanya, pada siapapun atau apapun yang saya pikir memiliki jawabannya.

Kebimbangan saya menemui jalan buntu. Kemana pun saya bertanya, justru makin membingungkan setelah mendapat seribu versi jawaban. Bahkan tak sedikit yang justru merasa heran atas pertanyaan sederhana saya itu, “Kamu ini aneh, iklan itu tujuannya untuk memaksimalkan terjadinya penjualan. Menumbuhkan pasar. Memperlancar arus barang dari gudang ke konsumen. Iklan yang menyadarkan orang untuk mengurangi pembelian bukanlah iklan. Itu pengajian!”

Saya makin sulit menemukan ketentraman hati di tengah hiruk-pikuk dunia advertising yang meramu teknik-teknik canggih komunikasi dan bombardir media untuk ‘memerangkap’ target audiens agar membeli, menghabiskan uangnya yang sedikit untuk menggemukkan pundi-pundi para pemilik industri raksasa.  

Lalu Buku Brand Gardener tulisan Mas Handoko Hendroyono ini menyapa saya.

Menyadarkan saya bahwa masih ada orang-orang baik yang berani berfikir bebas dan jernih di industri yang pressure-nya begini keras dan berdarah-darah.

Hitunglah berapa jumlah advertising company di negeri ini? Saya merasa lebih pas dengan istilah company ketimbang agency, apalagi sejak cara berbisnis advertising berubah, tak lagi dapat ‘jatah’ agency fee media placement. Entry barrier-nya rendah sekali, setiap orang bisa membuka advertising company. Betapa mudahnya pula nanti, untuk menutupnya karena persaingan yang brutal atau lantaran para pendirinya terlalu cepat putus asa.

Saya jatuh cinta pada istilah Brand Gardener. Ada kemurnian pada kata Gardener. Ada kejujuran dalam proses alamiah untuk tumbuh. Industri advertising yang telah bergeser menjadi sekedar karnaval endorser yang mengiklankan produk yang tak dipakainya dan hiasan sampah visual luar ruang yang tak menentramkan, seperti menemukan setetes embun. Mungkin embun ini tak cukup untuk menyejukkan seluruh taman yang mulai mengering, tapi kilaunya yang diterpa matahari pagi adalah sebuah doa. Dan harapan.

Saat murid siap, guru akan datang.

Saya merekomendasikan buku ini kepada siapapun yang masih memiliki passion dalam dirinya untuk membangun industri advertising yang lebih membumi, lebih manusiawi, lebih mendengarkan suara hati.

Saya mendaftarkan diri menjadi murid dengan riang hati, karena Pak Guru Handoko mengajari saya dengan story telling-nya untuk menggunakan hati dalam bekerja, berkarya, mencipta.

Siapapun bisa mengubah dunia, jika mau. Seperti yang dikatakan Steve Jobs, people with passion can change the world. Buku ini adalah percikan renungan, pemikiran dan pengalaman penulisnya sebagai praktisi aktif periklanan yang akan menyalakan lagi passion itu, untuk membuat dunia jadi lebih baik.

Bukan sekedar brand building tapi brand gardening. Tak cukup hanya membangun brand, tapi bagaimana menjadikan brand sebagai elemen terindah di taman hati.

Saat menutup buku ini di halaman terakhir, saya merasakan benih cinta itu tumbuh pelan-pelan, ketika saya menatap dunia advertising sekali lagi dengan mata kanak-kanak yang jernih tanpa prasangka.

Semoga kehadiran buku langka ini di taman advertising tempat brand-brand bertumbuh, menjadi setetes embun yang menyejukkan jiwa-jiwa kreatif yang resah. Menjadi persemaian bibit-bibit kejujuran yang makin memanusiakan kita semua. 

*Tulisan ini adalah pengantar untuk Buku Brand Gardener karya Mas Handoko Hendroyono

Image from: http://www.gubukbuku.com/content/uploads/mtoc/product_images/40111010150563120436993110989191992928985160074781n.jpg dan http://www.mytulisan.com/wp-content/uploads/2012/03/BLOG.jpg

Saturday, March 17, 2012

Saya Terlalu Banyak Berbicara

Awalnya, setahun terakhir saya merasa lebih banyak bicara daripada berkarya. Saya memang tetap berkarya. Saya tetap berusaha profesional. Tapi saya merasa output kreatif yang saya hasilkan belum mencapai tahapan hebat. Sekali lagi, slogan itu menghantam saya sendiri: Good is not enough!
Jangan-jangan karena saya mulai terjebak rutinitas. Jangan-jangan karena saya mulai merasa nyaman dengan kondisi keseharian saya sendiri. Jangan-jangan... Karena saya terlalu banyak bicara. 

Refleksi saya pada apa yang saya lakukan sepanjang 2011 kemarin menunjukkan ketidakefektifan saya dalam memanfaatkan waktu saya yang memang terbatas ini.

Gawat!

Kesadaran seperti inilah yang tercetus di kepala saya saat mulai memikirkan untuk melakukan perjalanan ini: menjelajahi 40 kota dalam 40 hari untuk berbagi, berdiskusi, bersilaturrahim, bercengkerama membincangkan hal-hal apa saja untuk memajukan negeri ini. Dengan siapapun yang saya temui dalam perjalanan ini.

Pada 2011, bekerja sebagai Managing Director di Petakumpet – perusahaan kreatif yang saya dirikan bersama teman-teman Diskomvis  ISI1994 – adalah tanggung jawab utama saya. Di sela-sela kesibukan itu, saya sebisa mungkin mencoba memenuhi undangan dari beberapa pihak untuk sharing, tukar menukar pengalaman, seminar, workshop tentang kreativitas, entrepreneur, creativepreneur, creative giving, hal-hal yang main idea-nya adalah kreatif. Sepanjang 2011 itu, setidaknya saya melakukan presentasi rata-rata 4-6 kali sebulan, sekitar 50an kali setahun, di banyak tempat di negeri ini.

Saya mulai dikenal sebagai pembicara kreatif. Bahkan dianggap motivator (duh!). Bahkan diminta menjadi khotib Jumatan. Menjadi mentor bisnis. Menjadi coach presentasi. Menjadi apapun, yang intinya saya harus berbicara di depan banyak orang. Melihat ke belakang, saat saya SD lalu SMP, dimana saya menderita gagap alias sulit bicara di depan umum: ini adalah keajaiban yang nyata buat saya. Sungguh!

Tapi ketika saya mulai memikirkan dengan tenang: ternyata menjadi pembicara tidak pernah menjadi impian saya yang terbesar. Saya gali lebih dalam lagi – jika Allah mengijinkan – saya lebih ingin dikenal sebagai kreator. Sebagai orang yang menghasilkan karya-karya yang hebat. Sebagai pencipta. Bukan sebagai pembicara. Apalagi motivator.

Berbicara itu – dari pengalaman saya setelah lebih dari 300 kali presentasi – bukanlah hal yang sulit. Selama kita menggeluti dan menjalankan apa yang kita bicarakan, semuanya akan mengalir lancar. Permasalahannya adalah, ternyata hal-hal hebat di luar berbicara itu mulai jarang saya lakukan. Waktu saya tersita untuk mengurusi hal-hal regular di kantor, terbang kesana-kemari bertemu klien atau memenuhi undangan, brainstorm dengan tim kreatif untuk menghasilkan iklan yang mahal tapi agak kompromis, hal-hal seperti itu. Saya merasa kurang syarat untuk hanya membicarakan hal-hal yang sama, award yang itu-itu juga, cerita-cerita tentang kesuksesan masa lalu.

Lalu muncullah pemikiran ekstrem ini: bagaimana jika saya puasa untuk tidak berbicara dulu dengan publik dalam waktu tertentu. Hanya untuk fokus pada minat utama saya: menjadi kreator. Saya kira itu ide menarik. Saya merasa excited

Tapi saya melihat lagi fenomena yang sedang berlangsung progresif di negeri ini: kreativitas sedang menjadi primadona. Ekonomi kreatif sedang ngebut membangun pondasi pengembangannya, bahkan dengan mendirikan kementerian sendiri. Jika saya menarik diri di titik ini, tiba-tiba saya merasa bersalah.

Selama ini, kalau kita bicara tentang kreativitas, yang paling sering mendapat porsi adalah teman-teman yang berada di kota besar, utamanya di ibukota propinsi. Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, dst. Tapi teman-teman di kota-kota yang size dan aksesnya lebih kecil, jarang mendapatkan porsi untuk bisa mengenal, memahami dan memanfaatkan gelombang baru yang bernama ekonomi kreatif ini. Padahal, di era serba internet seperti sekarang: semua fasilitas online yang menghubungkan ujung jari kita dengan seluruh informasidi dunia sudah banyak tersedia.

Teman-teman di kota-kota kecil itu - termasuk Rembang, kota kelahiran saya - hanya memerlukan api kecil untuk menyalakan passion. Memantapkan keyakinan. Menghidupkan mimpi. Membaca peluang yang berseliweran. Mereka adalah orang-orang cerdas dan pekerja keras yang hanya perlu ditemani, untuk bergerak merangkai masa depan dari tempatnya berpijak. Menjadi sukses dan berakar di tempatnya sendiri, tak berkiblat ke Jakarta, London, New York atau kota-kota besar lainnya. Karena jamannya, telah memungkinkan itu semua terjadi.

SBY dari Pacitan. Boediono dari Blitar. Soekarno dari pinggiran Surabaya. Jokowi dari Solo. Wahyu Aditya dari Malang. KH Mustofa Bisri dari Rembang.


Harus ada yang bergerak untuk menumbuhkan bintang-bintang baru, yang mampu bertahan dari kemilau ibukota. Berjuang habis-habisan untuk sukses di kotanya masing-masing. Agar negeri ini bisa maju serempak, tidak hanya terpusat pergerakannya. Jika pemerintah begitu sibuknya sehingga tak melihat ruang-ruang kosong ini, saya memilih tidak menyalahkan. Saya memilih untuk bergerak. Jika memungkinkan, bekerjasama tentu akan jauh lebih baik.

Jadi, beginilah deal-nya: saya akan melunasi hutang saya untuk semampu saya berkontribusi membangun fondasi mindset - character building kalo kata Bung Karno - dengan berkeliling di 40 kota selama 40 hari berturut-turut untuk melaksanakan Creative Sharing dan Creative Giving

Mengapa 40 hari? 

Entahlah, saya hanya merasa angka 40 itu menyimpan aura spiritual. Dan saya pernah belajar, jika ingin menanamkan sebuah habit (kebiasaan) tertentu, minimal membutuhkan waktu 40 hari sebagai pondasinya. Pengen membiasakan Sholat Tahajud, cobalah merutinkannya dalam 40 hari. Pengen ahli menulis, cobalah menulis setiap hari selama 40 hari. 40 hari adalah pondasi. Semacam syarat untuk sukses setelah melewati jam terbang 10.000 jam ala Malcolm Gladwell di Outliers.

http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/Ss8__STcU0I/AAAAAAAAAGs/UFuCnyhwJbQ/s1600/malcolm_gladwell_outliers-796414.jpg

Jadi setiap hari akan ada 2 kegiatan sekaligus yang saya lakukan di setiap kota: Creative Sharing dengan komunitas kreatif, kampus atau umum dengan EO profesional. Dan setelahnya atau sebelum acara itu – di hari yang sama – melaksanakan acara Creative Giving: berbagi dengan teman-teman di panti asuhan, anak-anak yatim, mereka yang kekurangan. Acaranya bisa berupa penyampaian bantuan, nonton film bareng, seminar gratis, pengajian bersama, apa saja yang sesuai dengan kontekstual permasalahan yang kita temui di kota tersebut. Akan menarik juga jika Creative Giving ini bisa bekerjasama dengan teman-teman di Akademi Berbagi, Tangan Di Atas, Pagi Berbagi, Sedekah Rombongan atau komunitas-komunitas berbasis kebaikan yang lain.

Setelah berembug dengan Mas Iqbal dan teman-teman Rekarupa yang mempunyai idealisme yang sama besarnya untuk bergerak memajukan negeri ini lewat pemberdayaan anak-anak bangsa, disusunlah sebuah rangkaian acara yang bertajuk ‘Berbagi Ide Segar’, 20 Mei – 29 Juni 2012 melewati 40 kota se-Jawa Bali. Acara ini juga melibatkan Koperasi Kreatif Bebarengan yang didirikan oleh teman-teman di Petakumpet yang akan menyiapkan merchandise dan bekerjasama dengan pihak-pihak yang ingin memperkenalkan produk-produk kreatifnya ke 40 kota.

Bagimana dengan kota-kota yang tidak dilewati perjalanan ini, Mas? 

Nah, itu juga jadi concern saya. Jika kota Anda tidak dilewati dan jaraknya tidak terlalu jauh, saya sarankan untuk datang. Beberapa kota mungkin bertiket, beberapa mungkin gratis tergantung kerjasama dengan EO lokalnya. Tapi jika tidak memungkinkan juga - misalnya untuk yang di Kalimatan, Sumatera dan luar pulau lainnya - teman-teman di Rekarupa sudah menyiapkan website khusus untuk acara ini  - tunggu launching-nya - yang berisi laporan perjalanan dan liputan, serta live streaming acaranya. Agar gaung dan spiritnya menyebar ke seluruh negeri.
Kembali ke pemikiran awal saya di atas, setelah acara ini saya akan puasa berbicara di depan publik sampai akhir tahun, 31 Desember 2012. Bukan karena apa-apa, tapi saya merasa inilah hal yang harus saya lakukan jika saya mau fokus menggapai cita-cita. Inilah konsekuensi pilihan yang harus saya ambil, walaupun itu sulit. Jadi – dengan segala hormat - jika ada teman-teman yang merencanakan untuk mengundang saya di 2012 ini: mohon disesuaikan jadualnya dengan kunjungan saya di kota-kota yang telah saya tuliskan ini. Insya Allah cara-cara untuk bekerjasama dengan EO utama acara ini (Rekarupa) akan diumumkan segera, minggu depan.

Saat saya berpuasa bicara setelah perjalanan 40 hari ini, fokus saya akan tertuju pada rencana IPO (Initial Public Offering) PT. Petakumpet Creative Network pada 2015 besok, 3 tahun sejak sekarang, saat saya berusia 40 tahun. Masih banyak kekurangan yang harus saya dan tim di Petakumpet perbaiki untuk menuju IPO tersebut, sebagai salah satu milestone mewujudkan impian tergila untuk menjadi The Most Admired Company in The World pada tahun 2020.


Apakah impian itu akan menjadi kenyataan? Saya tak tahu. Saya dan tim saya di Petakumpet hanya bisa berdoa, berupaya sekeras mungkin. Melakukan hal-hal yang bisa kami lakukan dengan cara-cara yang terbaik dan tidak memusingkan hal-hal yang tidak atau belum bisa kami lakukan saat ini. Saya percaya, jika kami memiliki cukup keyakinan untuk terus melangkah, Tuhan akan tunjukkan jalan-Nya. Dan seringkali pula, Dia akan siapkan pertolongan dari arah yang tak pernah kita sangka-sangka.

Saya perlu menceritakan ini semua – utamanya sebagai cermin bagi diri saya sendiri – sekaligus sebagai penjelasan awal kepada teman-teman sekalian karena saya akan sangat membutuhkan dukungan, bantuan dan kerjasamanya untuk acara yang akan kami lakukan dalam waktu yang tidak lama lagi ini.


40 hari perjalanan mengelilingi pulau Jawa dan Bali – sambil tetap menjalankan tugas utama saya sebagai CEO Petakumpet secara mobile – adalah tantangan yang menarik sekaligus menggairahkan. iPad dan Blackberry akan menjadi mobile office saya selama perjalanan ini, sekaligus sebagai beta tester sistem manajemen baru bagi Petakumpet di masa depan.

Dan ah ya, selama perjalanan 40 hari itu saya mungkin juga akan jarang bertemu keluarga kecil yang saya cintai sepenuh-penuh hati saya. Buah hati saya Alia (4 bulan) yang sedang lucu-lucunya dan ibunya yang sedang imut-imutnya. Karena merekalah saya bersedia melakukan hal-hal beresiko seperti ini. Sebagai suami dan ayah, saya mungkin berbeda daripada kebanyakan suami dan ayah yang lain yang bisa tertib menjalani kewajibannya setiap hari berada di rumah. Jika pun saya tidak bisa selalu hadir di sisi orang-orang yang saya cintai, saya ingin selalu hadir di hati mereka, dimanapun saya berada. Karena saya membawa cinta itu di hati saya - selain membawa fotonya di BB dan dompet - kemanapun saya pergi.


Semoga Tuhan menemani perjalanan ini. Juga perjalanan Anda sekalian, teman-teman saya dalam menggapi impian masing-masing. Se-absurd apapun impian itu, semustahil apapun kelihatannya. Mustahil kan bahasa kita, manusia yang penuh keterbatasan. Tapi bersama-Nya: tak ada yang tak mungkin.

People with passion can change the world 
Steve Jobs

Inilah yang ingin saya lakukan. Mengubah dunia dengan impian dan tindakan-tindakan kecil, tapi didasari keyakinan. Dan konsistensi. Bukan karena mengikuti trend atau pendapat orang, tapi karena mempercayai suara hati. Dengan keyakinan ini, melangkah akan ringan. Resiko – sebesar apapun – akan tenang untuk dijalani.

Bismillah, mohon doanya untuk langkah awal ini. Semoga kita bisa berjumpa di kota-kota yang saya dan tim akan kunjungi. Insya Allah…