Mybothsides

Monday, June 27, 2011

Lelang Buku Bisnis untuk Wedangan

Untuk menikmati kehidupan kita sehari-hari dengan totalitas, seringkali diperlukan sebuah gebrakan, sebuah spontanitas, suatu tindakan yang seolah-olah merusak harmoni keteraturan. Agar hidup tak berjalan monoton, begitu-begitu doang.

Nah, salah satu yang saya begitu tergila-gila dalam hidup ini adalah buku. Yup, buku! Bukan pakaian yang mahal, gadget yang keren, makanan kelas hotel atau tamasya ke luar negeri. Nop, hanya buku. Dalam sebulan, rata-rata saya menghabiskan Rp 200.000,- sampai Rp 500.000,- untuk belanja buku baru. Itu adalah anggaran terbesar saya, lebih besar daripada biaya beli baju atau makan, bahkan lebih besar daripada biaya pulsa langganan Blackberry atau internet unlimited.

Nah, suatu hari tibalah ide spontan yang membuat saya sendiri terkaget-kaget. Setelah komitmen hanya akan memiliki maksimal 10 potong  pakaian dan mengikhlaskan sisanya udah terlaksana, sasaranpun berlanjut. Saya punya begitu banyak koleksi buku:  akan menjadi sesuatu yang berbeda jika saya melepaskan juga sebagian besar diantaranya. Mulai dari buku-buku yang jarang saya baca, yang tak begitu saya sukai isinya. Tidak terlalu sulit mengerjakan ini, masukin buku-buku di kardus dan kirimkan ke siapa saja yang membutuhkan. Done!

Tapi penyakit iseng ini kumat lagi, menantang keberanian saya sekali. Bagaimana jika yang kau lepaskan adalah buku-buku yang begitu kau sukai, yang bersejarah, yang membentuk karakter dan mengisi kepribadianmu selama ini. Beranikah untuk melepaskannya pergi?

Nah, sejujurnya ini sulit. Berat di hati. Pak Roni Yuzirman, sahabat saya founder TDA yang menerapkan simplicity dalam kehidupannya pun mengaku sulit untuk berpisah dengan buku-bukunya. Karena buku beda dengan benda yang lain, misalnya pakaian atau harta lainnya.

That’s it, because book is a part of his life. Me too, book is integrated in me.

Tapi inilah asyiknya, saya dengan sadar menerapkan ilmu memaksakan diri, saya masih bisa hidup merdeka tanpa buku-buku ini. Ilmu yang saya pelajari darinya takkan menguap saat buku-buku ini pergi. Sehingga, hadirlah keputusan itu: saya akan hibahkan sebagian besar buku-buku bisnis terbaik saya kepada Tim ADGI Jogja Chapter bekerja sama dengan TDA Jogja yang akan melelangnya di acara Wedangan, besok Jumat 1 Juli 2011.

Seluruh hasil lelang buku-buku ini akan digunakan untuk membiayai kegiatan Wedangan selanjutnya yang harus terus berjalan agar manfaatnya makin besar bagi masyarakat kreatif Jogja. Juga untuk kegiatan sosial lainnya bagi yang kurang mampu. Teman-teman di ADGI Jogja dan TDA Jogja lah yang akan mengatur pemanfaatan hasil lelangnya. 

Manfaatnya untuk saya? Saya sedang belajar melepas keterkaitan saya dengan benda-benda yang saya sukai. Saya sedang belajar bahwa sesungguhnya saya ini tak punya hak milik apa-apa di dunia ini, apapun yang sekarang dipercayakan pada saya oleh Yang Maha Memiliki, statusnya adalah pinjaman. Saat waktunya sampai, Ia akan mengambilnya dari saya.

Berikut daftar buku-buku yang akan dilelang: 






  1. Good Design – David B. Berman 
  2. Inside Larry &  Sergey’s Brin (Menyimak Pemikiran Pendiri Google) – Richard L. Brand 
  3. Rich Dad’s Guide to Investing – Robert Kiyosaki
  4. Membuka Pintu Langit – KH Mustofa Bisri 
  5. Winning – Jack Welch (Ex CEO General Electric) 
  6. Outliers (Rahasia di Balik Sukses) – Malcolm Gladwell 
  7. The Success Principles – Jack Canfield 
  8. Pemasaran Duct Tape – John Jantsch
  9. Inside Steve’s Brain – Leader Kahney (Edisi Inggris) 
  10. Blue Ocean Strategy – W. Chan Kim, Renee Mauborgne
  11. Near Death Experiences – Tammy Cohen 
  12. Donal Trump, Master Appretice – Gwenda Blair (Edisi Inggris)
  13. Kun Fayakun – Ust. Yusuf Mansur
  14. Business @ The Speed of Thought – Bill Gates 
  15. Blink – Malcolm Gladwell 
  16. Start with The Answer – Bob Seelert (Chairman Saatchi & Saatchi) 
  17. The Road Ahead – Bill Gates 
  18. The Seven Lost Secrets of Success – Joe Vitale (The Secret Guru) 
  19. Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie
  20. Jack, Straight from The Gut – Jack Welch (Edisi Inggris)
  21. Jack, Straight from The Gut – Jack Welch 
  22. Manajemen Gaya Microsoft – Michael Cusumano, Richard W. Selby
  23. The Mindgym (Edisi Inggris) 
  24. Made to Stick – Chip Heath, Dan Heath 
  25. The Audicity of Hope – Barack Obama 
  26. Dari Pojok Sejarah – Emha Ainun Nadjib 
  27. Mereka Bicara JK – National Press Club of Indonesia
  28. Results – Gary L. Neilson, Bruce A. Pasternack
  29. Meraih Cinta Illahi – Jalaluddin Rakhmat
  30. Who Says Elephants Can’t Dance – Louis V. Gestner, Jr.
  31. The Last Words of Chrisye – Alberthiene Endah
  32.  Metamorfosis Sang Nabi – Agus Mustofa 
  33. Inside Obama’s Brain – Sasha Abramsky
  34.  The Lenovo Affair – Ling Zhijun 
  35. Unleash Your Other 90% - Robert K. Cooper
  36. Korean Advertising – Jung Soon-kyun, CEO Kobaco 
  37. Getting Unstuck – Timothy Butler 
  38. Gaya Hidup Sehat Rasulullah – Egha Zainur Ramadhani
  39. Sosok Nabi Khidir – Khalifi Elyas Bahar
  40. Rich Dad’s Conspiracy of The Rich – Robert Kiyosaki 
  41. Free – Chris Anderson
  42. What The Dog Saw – Malcolm Gladwell 
  43. No Rules! – Dan S. Kennedy 
  44. Ngaji Online – Agus Mustofa 
  45. The Monk Who Sold His Ferrari – Robin Sharma
  46. The Impossible Just Takes a Little Longer – Art Berg
  47. The Accidental Billionaires (The Social Network) – Ben Mezrich 
  48. Tuhan Sang Penggoda – M. Arief Budiman (versi draft)
  49. Tuhan Sang Penggoda – M. Arief Budiman (versi original)
  50. Jualan Ide Segar – M. Arief Budiman
Terus bagaimana mekanisme lelangnya? Mulai dari harga berapa? Tunggu info berikutnya. Dan Anda juga bisa bergabung untuk menyumbangkan buku-buku yang akan dilelang di acara ini. Insya Allah akan jadi acara lelang yang asyik, karena akan berlangsung secara offline (di tempat acara Wedangan) maupun di online (via account @wedangan di twitter). So, segera follow @wedangan untuk dapet update infonya. Anda juga bisa bertanya langsung jika ingin ikut menyumbang.

Mari berlomba-lomba dalam  kebaikan. Ngebut dalam kebaikan. Insya Allah tak ada yang kalah, semua akan menang :)

Notes: thanx to Iqbal Rekarupa dan Rahmat Rekarupa untuk organize acara dan siapin foto-foto bukunya

Tuesday, June 21, 2011

Designers Weekend Gathering

Teman-teman saya di ADGI Jakarta Chapter bikin kegiatan seru nih! Jika Anda praktisi, mahasiswa dan dosen kreatif yang berada di seputaran Jakarta, silakan bergabung, karena semua orang boleh datang. Jadi acara ini untuk umum, bukan hanya anggota ADGI. Dan GRATIS!


Designers Weekend Gathering

Sabtu, 25 Juni 2011 jam 10.00-13.00 WIB
Bertempat di ADGI Jakarta Creative Center
Ged. Kemang Point Lt. Dasar,  Jl. Kemang Raya No.3 Jakarta

Monggo diramaikan :)

Thursday, June 9, 2011

Yuk Memaksakan Diri

Jika engkau ingin sekali untuk naik haji tapi tak punya cukup uang dan harta berharga yang tertinggal hanya sebuah rumah senilai ongkos naik haji, apakah engkau akan tetap memaksakan diri naik haji dengan menjual rumahmu satu-satunya?



Jika engkau punya uang yang hanya cukup beli obat sakit kepala setelah Jumatan dan ongkos pulang ke rumah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk menyedekahkannya ke mesjid saat Jumatan?



Ketika engkau menggenggam lima puluh ribu rupiah untuk membayar biaya sekolah anakmu hari itu dan tiba-tiba tetangga datang meminjam uang itu untuk membayar uang sekolah anaknya, apakah engkau akan memaksakan diri untuk meminjaminya?



Jika di tanganmu ada sebungkus nasi goreng yang baru saja kau beli dengan uang terakhirmu untuk makan malammu setelah seharian tidak sempat makan karena sibuk dan sejurus langkahmu seorang pengemis mengiba meminta sedekah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk memberikan makan malammu dan menyiksa perutmu sampai pagi menjelang?



Jawablah: TIDAK. Atau: YA.

Dan kedua jawaban itu bisa sama-sama benar. Lha, maksudnya gimana? 

Sabar, begini lho maksud saya. 

Jika engkau menjawab TIDAK, artinya engkau telah menggunakan akal sehatmu dengan benar. Engkau bersandar pada pepatah "Engkau harus kuat dulu agar bisa menolong yang lemah, engkau harus menyelamatkan dirimu terlebih dahulu sebelum menyelamatkan yang lain." Pepatah ini mengandung arti, tak mungkin engkau bisa menolong orang sakit jika engkau sendiri sakit. Engkau tak bisa menolong orang miskin kalau engkau sendiri tergolong orang miskin. Jeruk tak bisa makan jeruk. Itulah yang saya maksudkan sebagai akal sehat. Lihat petunjuk untuk memakai zat asam di pesawat, jangan menolong orang lain walaupun anakmu sendiri sebelum engkau memasang zat asam untukmu duluan.



Lha, terus mengapa yang menjawab YA juga benar?



Karena kebenaran jawabanmu tergantung keyakinanmu. Tak ada kebenaran tunggal di dunia nyata, seperti kebenaran eksak di dunia akademis. Kalo engkau yakin TIDAK itu artinya betul, menurutmu. Begitu juga jika jawabanmu adalah YA. Itu juga betul, menurutmu. 

Tapi jawaban yang berbeda itu akan menghasilkan akibat yang berbeda pula.

Hidup di dunia realitas ini, tak semua berjalan dengan hitungan matematis, 1+1 tidak selalu sama dengan 2. Dan mereka yang memilih ya alias memilih memaksakan dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan akal sehat, tentulah wajar jika dituduh tidak memiliki akal sehat alias tidak masuk akal.

Tapi sebentar dulu, menurut Anda: apa sih pengertian tidak masuk akal?



Ada yang mau jawab? Kok sepi? Yang di depan, belakang? Ya.. Anda yang sedang pegang Blackberry. Apa artinya tidak masuk akal? (penulis ngaco, mana bisa tulisan dibikin interaktif? Sok tahu! Heheheh :)



Tidak masuk akal itu ada dua pengertiannya. Ini menurut saya lho, lha tadi saya tanya menurut Anda, Anda diam saja. Hehehe, makin parah ngaconya!



Yang pertama, tidak masuk akal berarti memang faktanya salah.

Alias logika berfikirnya salah. Misalnya: meja kayu adalah meja yang terbuat dari roti. Ya jelas salah. Yang betul atau yang masuk akal adalah meja yang terbuat dari besi, eh kayu. Ya.. Kayu. Itu yang masuk akal.



Yang kedua, tidak masuk akal juga bisa berarti akal kita tidak bisa menjangkaunya alias belum mampu memahaminya.

Misalnya: dulu membayangkan pendaratan manusia di bulan dianggap gak masuk akal. Karena belum pernah ada yang melakukannya. Columbus yang berniat memutari bumi dianggap nggak masuk akal karena pengertian umum orang-orang pada jaman itu: bumi itu datar. Nanti di ujung bumi, Columbus akan nyemplung dan hilang entah kemana. Di dunia kedokteran, santet dianggap nggak logis. Bagaimana mungkin bisa ada sendok garpu masuk perut tanpa melukai tubuh korbannya? Lewat mana masuknya? Dengan teknologi apa?

Nah, saat waktu berlalu: kita tahu bahwa hal-hal aneh ini bisa terjadi, nyata terjadi meskipun secara logika mungkin kita tetap tak bisa mempercayainya.

Nah, saat akal tak menjangkau, kita mengenal yang disebut sebagai iman. Makanya, ada ungkapan sami’na wa atho’na dalam Islam, yang artinya: saya dengarkan dan taati. Ini khas dunia pesantren, yang biasanya sering diartikan: seorang kyai itu dianggap mutlak perintahnya, santri-santri harus sami’na wa atho’na. Lebih parah lagi, ungkapan ini dianggap anti demokrasi, anti kritik, taqlid buta, tidak menjunjung azas persamaan dan egalitarianisme.

Padahal dalam hidup kita, pemaknaan sami’na wa atho’na ini begitu luasnya. Coba kita tengok saat kita bayi dan ibu melatih kita untuk belajar jalan. Apakah Ibu menjelaskan dulu manfaat-manfaat belajar jalan kepadamu? Apakah Ibu meminta persetujuanmu untuk melatihmu belajar jalan? Apakah engkau protes? Tidak. Tak ada persetujuan, engkau juga tak protes. Semua berjalan alamiah sampai saatnya nanti engkau – setelah belajar, setelah Iqra’ - paham manfaatnya bisa berjalan dengan kedua kaki.

Lalu saat menginjak Taman Kanak-kanak dan mulai belajar membaca, menulis dan berhitung. Apakah guru meminta persetujuanmu untuk mengajarkan ilmu itu? Apakah engkau protes? Tidak. Saat engkau menguasai ilmu itu, dengan berjalannya waktu engkau akan paham manfaatnya.

Kita telah menerapkan sami’na wa atho’na saat masih kecil, tapi menolak menerapkannya saat dewasa karena alasan demokrasi dan sebagainya. Anak-anak muda seringkali mengedepankan logikanya, sehingga babak bundas dihajar realitas. Pemerintah, pengusaha hanya menggunakan logika semata-mata untuk sukses, akhirnya kecapekan untuk hanya ketemu jalan buntu. 

Saat iman ditinggalkan, saat kita tak menyediakan diri untuk ‘diatur’ oleh yang Maha Mengatur malah makin menjauh dari-Nya, seringkali kita tak berdaya di hadapan masalah-masalah duniawi yang bertumpuk-tumpuk menenggelamkan kita pada jurang keputusasaan.

Untuk belajar sesuatu yang saya tak paham sama sekali, saya menggunakan metoda sami’na wa atho’na. Nanti, metoda berikutnya yang namanya Iqra’ alias belajar dengan menggunakan logika diperlukan untuk mentransformasikan ilmu itu ke dalam pola-pola pikir logis agar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak.

Persis seperti Sunan Kalijaga yang diminta menjaga tongkatnya Sunan Bonang di pinggir sebuah sungai selama 40 hari 40 malam. Tidak bertanya untuk apa, tidak protes, dijalani saja karena iman. Persis seperti Bruce Lee yang diharuskan guru kungfunya berdiri melatih belajar kuda-kuda, tidak bergerak setiap hari selama seminggu penuh. Ia bosan dan protes mengapa tak dilatih cara menendang, memukul atau bertarung. Gurunya diam saja dan hanya memberi isyarat untuk melanjutkan latihan kuda-kudanya. Logika Bruce Lee menolak tapi keyakinannya membuatnya menuruti gurunya.

Lalu Sunan Kalijaga menjadi anggota Wali Sanga yang paling terkenal. Lalu Bruce Lee jadi bintang martial art Hollywood yang terkenal dan pendiri Jeet Kun Do yang kuda-kudanya terkuat, karena kuda-kuda adalah pondasi mendasar dari semua ilmu beladiri.

Kembali ke pertanyaan awal saya.

Jika engkau ingin sekali untuk naik haji tapi tak punya cukup uang dan harta berharga yang tertinggal hanya sebuah rumah senilai ongkos naik haji, apakah engkau akan tetap memaksakan diri naik haji dengan menjual rumahmu satu-satunya?

Sebuah cerita yang disampaikan oleh ustadz Yusuf Mansur tentang seorang kakek yang nekad menjual rumah satu-satunya karena iman kepada Allah walaupun semua saudara dan anak-anaknya melarangnya, Allah ganti dengan rumah yang lebih bagus dan lebih besar sepulangnya dari ibadah haji.




Jika engkau punya uang yang hanya cukup beli obat sakit kepala setelah Jumatan dan ongkos pulang ke rumah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk menyedekahkannya ke mesjid saat Jumatan?



Saat uang terakhirmu masuk ke kotak amal, resikonya adalah engkau akan pulang jalan kaki dan kemungkinan sakit kepalanya makin parah. Tapi yang pernah saya alami itu tak terjadi, seorang teman tiba-tiba muncul di serambi mesjid menawari untuk mengantar ke rumah setelah sebelumnya menraktir makan siang. Sakit kepala yang tadi bikin senut-senut malah kabur tanpa permisi setelahnya.



Ketika engkau menggenggam lima puluh ribu rupiah untuk membayar biaya sekolah anakmu hari itu dan tiba-tiba tetangga datang meminjam uang itu untuk membayar uang sekolah anaknya, apakah engkau akan memaksakan diri untuk meminjaminya?

Ini juga cerita nyata dari ustadz Yusuf Mansur, sang Ibu yang ikhlas menyedekahkan uang yang sangat diperlukannya itu, tiga bulan kemudian Allah ganti dengan kecukupan biaya sekolah anaknya untuk bulan-bulan berikutnya karena sang anak terpilih untuk menggantikan seorang peserta lomba cerdas cermat yang tiba-tiba sakit dan timnya menjadi juara. Allahu Akbar!


Jika di tanganmu ada sebungkus nasi goreng yang baru saja kau beli dengan uang terakhirmu untuk makan malammu setelah seharian tidak sempat makan karena sibuk dan sejurus langkahmu seorang pengemis mengiba meminta sedekah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk memberikan makan malammu dan menyiksa perutmu sampai pagi menjelang?

Dengan senyum yang menghias wajah sang pengemis setelah perutnya kenyang oleh nasi goreng jatahmu, maka terkuaklah pintu langit. Allah takkan menyia-nyiakan hamba-Nya yang telah menolong hamba-Nya yang lain yang lebih lemah. Kejadiannya bisa saja tiba-tiba hpmu menerima sms yang berisi informasi transfer sejumlah uang tertentu yang bisa digunakan makan malam sepuluh hari. Atau di puncak laparmu, seseorang mengetuk pintu dan mengantarkan paket lengkap makan malam tak cuma nasi goreng tapi juga ayam goreng dan buah-buahan pencuci mulutnya sekaligus. Atau tak ada pengganti makan untuk malam itu, tapi Allah dengan kuasa-Nya menghilangkan laparmu sampai besok pagi untuk menghidangkan sarapan paling lezat yang pernah kau rasakan seumur hidupmu.

Saat kita telah melakukan ikhtiar yang terbaik melalui tuntunan-Nya, maka Allah akan menyelesaikan urusan-urusan kita dengan cara-Nya. Cara-cara yang mungkin takkan pernah kita bisa pahami dengan keterbatasan logika kita. Cerita tentang sedekah memang selalu begitu, Allah jualah Sang Maha Perancang Skenario yang sebaik-baiknya.

Kita tidak berhak memaksa orang lain untuk mengikuti prinsip hidup kita, memaksa orang lain untuk berbuat baik. Tidak. Apa yang dilakukan oleh FPI menunjukkan upaya seperti itu hanya akan menimbulkan kekerasan dan permusuhan.

Hak kita adalah memaksa diri kita untuk melakukan kebaikan, memaksa diri untuk berbagi saat kekurangan, memaksa diri untuk menolong orang lain saat kita justru butuh pertolongan. Nanti orang lain akan melihat keteladanan itu dan mengikutinya dengan suka rela dan suka hati.

Lha terus, kebutuhan kita siapa yang mencukupi Mas? Jawaban saya mungkin terdengar naïf, tapi saya yakin Allah yang akan memenuhi kebutuhan kita. Allah saja yang paling pantas kita harapkan dan gantungkan nasib kita.

Inilah sesungguhnya strategi dakwah yang belum banyak diterapkan oleh kita semua. Karena kurangnya keyakinan dan iman atas kekuasaan dan kekayaan Allah, kita ragu-ragu. Kita maju mundur, akhirnya tak jadi berbuat.

Jika engkau bersedia bersikap kejam pada diri sendiri maka alam semesta akan memperlakukanmu dengan lebih mudah. Jika kita terlalu manja, terlalu nyaman dininabobokkan oleh comfort zone, tunggulah saat alam semesta memaksa kita dengan masalah, bencana atau kehilangan sehingga mau tidak mau kita dipaksa harus bangun, dipaksa harus lebih serius menjalani kehidupan.

Marilah kita mulai memaksakan diri melakukan kebaikan. Dengan keyakinan dan kegembiraan. Bismillah…

Friday, June 3, 2011

Mencari Seni yang Islami

Seni selalu masuk dalam wilayah pembicaraan yang menarik dalam Islam, posisinya yang unik seringkali membangun dialog antara yang pro dan kontra. Bagaimana seni menurut Islam atau bagaimana Islam menurut seni? Atau adakah seni yang Islami dan seni yang tidak Islami? Dalam tataran yang lebih elementer saat bicara tentang halal atau haramnya seni di mata Islam, pertanyaan itu menukik: seni seperti apa yang seharusnya diharamkan dan seni seperti apa yang sebaiknya dihalalkan, disupport dan dikembangkan? 

Film Tanda Tanya karya Hanung Bramantyo yang menjadi Kontroversi

Dialog-dialog yang terbangun – dalam riuh kata-kata maupun dalam kesunyian hati masing-masing penikmatnya – hadir dengan segala macam konteks yang menyertainya. Menentukan karya seni mana yang layak atau tak layak sebagai representasi Islam, selain mengacu pada standar estetika, daya kreativitas, orisinalitas juga mempertimbangkan pentingnya menemukan ide-ide karya yang mampu berpijak pada konteks Islam yang lebih membumi.

Sebagai preparat penilaian itu, terlihat masih banyak yang harus kita gali dari kedalaman perspektif pemahaman Islam saat menuangkannya dalam sebuah karya seni.

Islam masih cenderung dipahami sebagai baju, sebagai packaging, sebagai sekedar ‘bahasa komunikasi’ dengan audiens. Sehingga banyak karya yang tampil di sekitar kita (lukisan, cerpen, film, sinetron, teater, puisi, lagu, dll.) terkesan ‘meminjam’ simbol-simbol yang sering dipersepsikan oleh khalayak sebagai representasi Islam: jilbab, peci, sajadah, Palestina, jihad, dan yang seperti itu.

Sehingga kita melihat seni Islam yang ditampilkan lebih cenderung berbau Islam, bertopeng Islam, belum menggali ke akar-akar terdalam nilai-nilai Islam yang hakiki. Dalam bahasa saya, belum sungguh-sungguh Islami.

Misalnya saat kita bicara tentang perjuangan Palestina, mengapa stereotype lama itu masih saja muncul? Pengungkapan secara verbal tentang kebencian pada kekejaman Yahudi (yang semua orang sudah tahu), jihad yang berarti perang sampai titik darah penghabisan (yang semua orang sudah tahu), bahasa visual yang berhias bentuk peluru, batu, darah, kafiyeh, nuansa dendam pada Yahudi (yang semua orang juga sudah tahu).

Tidak ada sesuatu yang baru kecuali pengulangan dan pengulangan tanpa inovasi kreativitas itu membosankan. Sejujurnya saya bertanya: dimana kecerdasan kita sebagai muslim untuk menggali sesuatu yang lebih fundamental dari itu semua? Bagaimana kita bisa menggunakan symbol-simbol Islam sebagai sebuah powerfull tools untuk bicara tentang - misalnya – memaknai konsep jihad secara benar menurut Islam.

Kita masih terjebak pada tataran dasar pemikiran ‘what to say’: apa yang akan saya ungkapkan dalam karya saya. Masih tergagap-gagap untuk memahami 'how to say'nya dengan cara yang sophisticated, efektif sekaligus inspiratif.

Seperti ketika misalnya saya menyukai seorang wanita, di detik itu juga saya langsung bilang ‘aku cinta kamu.’ Yang tentu saja akan mengagetkan sang wanita karena secara mental ia tak siap, karena kita tak menyiapkan penerimaannya dengan cukup baik. Kemungkinan kegagalan pernyataan cinta saya untuk diterima akan sangat besar. Tak ada daya tarik dan pemahaman insight yang cukup dari apa yang kita ungkapkan dengan mentah. Dan perasaan cinta kita akan terbanting sempurna karena ditolak atau ‘lebih parah lagi’ dicuekin.

Akan berbeda akhir ceritanya, jika kita tak langsung menembakkan ‘aku cinta kamu’ pada pertemuan pertama. Dengan melakukan proses pendekatan, mengerti karakter seperti apa wanita yang kita harapkan cintanya. Apa kebiasaannya, apa kesukaannya, idolanya siapa, sampai kita paham betul insight-nya. Sesuatu yang pada pertemuan pertama tersembunyi oleh penampilan luarnya. Insight inilah data paling berharga untuk amunisi kita dalam merancang sebuah moment yang luar biasa, saat waktunya tiba kita menyatakan cinta.

Opick dan lagu-lagu Islami-nya

Sebagai seniman muslim, kita harus mulai mendaki makna yang lebih tinggi lagi. Mulai lebih serius untuk memikirkan strategi ‘how to say’, mempelajari insight audiens sebagai target yang akan mengapresiasi karya kita, menggali lebih dalam lagi apa sesungguhnya nukleus Islam, nilai-nilai fundamental apa yang akan menjadi sumbangan Islam dalam membangun sebuah peradaban dunia yang lebih baik.

Saya berharap bahwa proses menuju karya yang lebih baik, lebih komprehensif, lebih menggetarkan dalam merepresentasikan nilai-nilai Islami yang sejati.

Apakah karya-karya yang saya hasilkan sudah Islami? Apakah tulisan-tulisan saya di blog ini sudah Islami? Apakah tingkah laku saya sudah Islami?

Jawaban yang pasti: belum. Tak mudah menemukan model ideal karya-karya Islami. Tapi kita bisa bercermin pada puisi-puisi Emha Ainun Nadjib, Taufik Ismail dan Gus Mus. Pada lantunan lagu-lagu Opick dan Kiai Kanjeng. Pada novel-novel Andrea Hirata. Pada beberapa film Hanung Bramantyo. 

Kyai Kanjeng berpentas di Finlandia

Karya-karya yang saya sebutkan barusan pastinya juga masih akan mengundang perdebatan. Good! Perdebatan juga bagus, menunjukkan hidupnya dinamika, kita perlu bergesekan untuk maju, bukan saling setuju tapi tak bergerak kemana-mana.

Bukankah sebuah perjalanan panjang dimulai dari sebuah langkah awal?

Karya seni Islami itu adalah proses pencarian yang terus koma, takkan pernah mencapai titik. Titik tertinggi hanyalah batas imajinasi kita sebagai manusia, tapi dengan iman yang utuh pada-Nya, imajinasi itu akan mengembara menuju-Nya.

Emha Ainun Nadjib

Tapi di tengah segala kekurangan yang menjadi pekerjaan rumah kita semua, saya harus katakan salut untuk para seniman, sastrawan, desainer yang telah berkarya dengan intens sementara masih banyak di luar sana yang tak sempat lagi menggeluti nilai-nilai Islam karena terpenjara kehidupan profesionalisme, karier dan prestasi dunia.

Mari kita mulai dari diri kita sendiri, berkarya semampu kita. Seribu kritik dan saran yang saya tuliskan di sini, tak secuilpun layak disandingkan dengan karya nyata yang telah teman-teman sekalian kerjakan untuk merengkuh Ridlo-Nya.

Semoga ini menjadi ikhtiar kita semua untuk berjuang di jalan-Nya. Untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, mewujudkan cahaya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Sumber Image:
Film Tanda Tanya http://3.bp.blogspot.com/-c7ivBS3wtfY/TaUB4a0e87I/AAAAAAAAAoY/9GlpRQmfS_0/s1600/review+film+tanda+tanya.jpg
Album Opick http://1.bp.blogspot.com/_4f8b4j7_S_U/TUEHhGo-DkI/AAAAAAAAAA0/1TizGiZe_Ts/s1600/opick-dibawahlangitmu.jpg
Kyai Kanjeng http://multiply.com/mu/masarifbachtiar/image/8/photos/7/500x500/3/Kiai-Kanjeng-bershalawat.JPG?et=sK9jY2YKJP4%2C6MAqwnQ3mg&nmid=102656412
Emha Ainun NAdjib http://www.andikafm.com/images/news/68566_emha_ainun_nadjib_300_225.jpg