Mybothsides

Sunday, February 27, 2011

Be Unstoppable!

Tidak semua yang bermimpi, akan mendapati impiannya terwujud. Secara statistik berbasis hukum paretto, maksimal hanya 20% dari para pemimpi yang akan mampu merealisasikan impiannya. Lha yang 80% kemana? Gugur di medan juang, terseleksi secara alamiah. Suka tidak suka, faktanya demikian.

Salah satu sebabnya, karena tak mampu melewati rintangan besar yang pertama. Tak cukup keras kepala untuk maju, tapi justru memilih berkompromi dan menegosiasikan tujuan. Atau tergoda oleh tawaran-tawaran yang memikat di sepanjang jalan menuju masa depan sebuah impian. Atau tiba-tiba kehilangan passion untuk mewujudkan mimpi itu lalu memilih berbelok pada impian yang lain. Rumput tetangga seringkali terlihat lebih indah, tapi begitu kita jatuh cinta pada rumput tetangga, saat itu juga rumput kita akan mulai menghitung hari menuju kematiannya.

80% jumlahnya dan itu adalah mayoritas. Artinya, jika engkau mempunyai sebuah impian, kemungkinan gagalnya adalah 80%, 4 banding 1. Makanya kita tidak melihat banyak pemenang di puncak. Mereka adalah minoritas, yang terus berjuang dan merangsek maju dengan keyakinan, tidak sekedar mengandalkan kekuatan logika. Karena logika saja takkan kuat menghadapi ujian yang dihadirkan-Nya.

Logika saja yang berbasis otak kiri akan cenderung berfikir logis dan menghindari resiko, utamanya resiko yang di luar bayangan logis. Dulu saya pernah belajar bahwa jika mengambil resiko sebaiknya yang terukur, bahwa jika berbuat kebaikan dan bermimpi sebaiknya terukur. Sehingga secara umum, hidup saya berjalan relatif aman tapi lambat. Tak secepat yang saya harapkan.

Yang sekarang saya sedang coba ikhtiarkan adalah mengambil resiko sebesar-besarnya untuk kebaikan, kemajuan, pengembangan, tidak secara terukur dalam logika manusia, tapi berlandaskan keyakinan bahwa tercapainya impian kita itu hanya atas ijin Tuhan semata-mata. Tidak terukur tidak apa-apa, selama saya yakin bahwa pilihan yang saya lakukan membuat Tuhan bersedia mendampingi di sepanjang perjalanannya.

Ini tidak mudah, saya pun masih sering takut dan khawatir. Saya masih sering bertanya-tanya, apa yang akan terjadi esok hari? Apakah saya akan mampu menangggung resikonya? Kadang kekuatiran itu pun tak terjawab oleh keterbatasan logika saya.

Tapi saya jalan terus, saya keraskan kepala, saya batukan tekad saya. Saya daftarkan diri saya sebagai militan untuk menggapai impian-impian yang tak terjangkau logika, menjadi tak terhentikan, menjadi extra ordinary, menggapai ridlo-Nya dengan memanfaatkan kemurahan-Nya yang tak terhingga.

Saya tetapkan pada timeline hidup saya, 2011 adalah tahun untuk memaksimalkan hal-hal luar biasa hadir dalam hidup saya. BE UNSTOPPABLE! adalah jargon saya tahun ini. Untuk menjadi yang terbaik di mata Tuhan, jadilah Tak Terhentikan!


Resume Arief Budiman 2011

Thursday, February 17, 2011

TDA di Wedangan Special ADGI Jogja

Rabu, 16 Februari 2011 pukul 19.30 WIB, Wedangan creative sharing creative giving special #5 terlaksana dengan suasana yang agak berbeda dari sebelumnya dikarenakan perlengkapan tambahan seperti kamera video dan perangkat live streaming yang akan merekam momentum bersejarah tersebut.

Dalam ruangan yang telah dipenuhi oleh sekitar 80an kawan-kawan yang hadir, Iqbal Rekarupa, Ketua ADGI Yogyakarta Chapter mempresentasikan apa dan mengapa Wedangan creative sharing creative giving itu ada. Selanjutnya acara tersebut dipandu oleh moderator M. Arief Budiman (program director ADGI pusat) dan inti acarapun dimulai.


Badroni Yuzirman (pendiri dan dewan penasehat TDA pusat, owner Manet Vision dan Actual Basic) memaparkan kisahnya. Berawal dari tiga toko busana muslimnya di Tanah Abang yang diterpa masalah bertubi-tubi, Mas Roni menyikapinya dengan kembali pada titik nol secara ikhlas. Di sanalah akhirnya Mas Roni menemukan solusi dari pola pikir kreatif yaitu menjadikan masalah yang hadir sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang. Tahun 2004, jualan via online adalah solusi yang dipilih untuk menjadikan waktu yang terbuang di perjalanan menuju outlet menjadi 0 menit, karena dapat memulai bekerja dari rumah. Di sela waktunya, ia berusaha memenuhi tugas mencari nafkah, juga mengembangkan bakat menulis di blog untuk menularkan pengalaman, dan dari situlah gagasan membentuk komunitas TDA muncul. 

Niat yang baik tersebut direspon positif oleh banyak kalangan, sehingga dari waktu yang singkat TDA mampu mengumpulkan banyak orang untuk menjadi member (jumlahnya sekitar 15.000 member) dan mau berbagi satu sama lain.


Try Atmojo (Direktur dan Business Development  Raxzel Creative dan Direktur TDA) menjelaskan, bahwa dalam dunia apapun khususnya bisnis, networking atau jaringan mutlak dibutuhkan. Networking bisa dicari dimanapun, salah satunya adalah di komunitas. TDA adalah salah satu komunitas yang telah dirasakan manfaatnya, sebagai ruang belajar, berbagi bahkan pasar dai produk yang dikembangkan. Dalam bisnis distro and clothing-nya melalui TDA, Mas Try menemukan solusi bisnis online dan mendapat manfaat berlipat.

Saptuari Sugiharto, pemilik Kedai Digital yang telah memiliki 52 gerai di 36 kota serta meraih Indonesia Young Entrepreneur Franchise & Business Opportunity Award 2010. Mas Saptu menyampaikan bahwa dalam berbisnis sangat penting untuk menjaga kredibilitas agar kepercayaan yang telah diberikan konsumen dapat terjaga, sehingga bisnis tersebut mampu bersaing saat banyak pihak yang mulai meniru yang kita lakukan dengan menjual produk/jasa serupa. Untuk terus maju, kita harus terus berinovasi, lebih cepat daripada kemampuan follower menjiplak ide kita.


Satya Brahmantya, Product Designer PT. Lunar Cipta Kreasi Yogyakarta yang fokus pada bisnis export furniture dengan konsep green dan sustaineble design menyampaikan bahwa, setiap komitmen yang dilakukan dengan konsisten maka suatu saat akan memetik hasilnya secara maksimal. Bram mengaku tidak memiliki kemampuan matang di bidang enterpreneur, tapi ia yakin mampu menghasilkan karya yang berkonsep dan artistik. Kesungguhannya ini membuahkan hasil dimana owner akhirnya merekrutnya sebagai salah satu pemegang saham.

Stay hungry, stay foolish” kutipan dari Steve Jobs pun disampaikan oleh moderator sebagai penanda usainya Wedangan Special #5. Sampai jumpa lagi dengan Wedangan berikutnya :)

*Tulisan oleh: Iqbal Rekarupa, Chairman ADGI Yogyakarta Chapter, aslinya berasal dari sini