Mybothsides

Sunday, December 4, 2011

Here is LFL


Dari Mentor 'Lecture for Lecturer' Adgi



Tertarik? Bagi para Guru/ Dosen DKV, Ilmu Komunikasi dan sejenisnya, para pengajar kreatif diseluruh Indonesia, juga praktisi muda bidang kreatif yang suatu saat ingin menjadi pengajar/ pengisi workshop/ seminar. Daftarkan sekarang juga, tempat terbatas hanya untuk 30 orang. 

Cara mendaftarkan diri: 
  1. SMS ke 0817.941.7881 (Iqbal/Ketua Adgi Jogja Chapter), berisi nama_asal sekolah/kampus_kota 
  2. Atau email ke: iqbal@rekarupa.net 
  3. Transfer pendaftaran Rp 750,000,- ke rekening BCA 8020119838 an. Moh Arief Budiman SSn. Langsung SMS tanda bukti pembayaran di email ke iqbal@rekarupa.net 
  4. Datang di acara briefing pada hari Rabu, 14 Desember 2011 di Petakumpet jam 20.00 wib.
Ayo belajar bersama untuk peningkatan diri & kebaikan pendidikan kreatif Indonesia.

Wednesday, November 30, 2011

Light Up Design Spirit di Surabaya

Insya Allah bareng kawan-kawan Adgi Surabaya Chapter yang dikomandani oleh Mas Febri Koent, saya akan sharing tentang 'A Die Hard Designer'. Apa itu? Yang pasti akan seru kalo melihat topik yang dipilih oleh Mas Febri, spesial untuk warga kreatif di Surabaya, 14 Desember 2011 besok. 

Untuk memulai sebuah perjalanan panjang memaknai profesi kreatif, saya kutipkan sedikit kata-kata George Lucas (Creator Star Wars):
 
Anda harus menemukan sesuatu yang sangat Anda cintai untuk mampu mengambil resiko, melompati rintangan dan tembok yang akan selalu diletakkan untuk menghalangi jalan Anda. Jika Anda tidak mempunyai perasaan membara seperti itu, maka Anda akan terhenti pada rintangan besar pertama.


See? Akan sangat menarik saat harinya tiba. Yuk silaturrahim bersama. Sampai jumpa di Surabaya :)

Star Wars image from: http://2.bp.blogspot.com/-T0x-VqM6icE/Tlvm2ZwaSrI/AAAAAAAAAnY/l9a7D92lVBI/s1600/sw3.jpg

Wednesday, November 23, 2011

Wedangan Lecture for Lecturer

Kala peradaban bergerak mengikuti arus besar global, di semua penjuru tergerak mengikutinya dengan adaptasinya sendiri-sendiri. Era yang tengah kita hadapi bersama bukan harus membawa kita ke pusaran yang tak semestinya, tetapi memahami konstelasi dan memberi solusi adalah pilihan terbaik. 

Demikian adanya dengan program Lecture for Lecturer yang digagas Adgi adalah upaya menipiskan kesenjangan-kesenjangan dari dinamika dunia desain komunikasi visual, utamanya antara dunia praktisi dan edukasi.

Ayip Budiman, Chairman ADGI


Friday, November 11, 2011

Malika Alia Sofia, 11.11.11

Alhamdulillah telah lahir putri pertama kami, Malika Alia Sofia, dengan persalinan normal di RSIA Adinda Jl. Soragan Jogja, berat 2,5 kg, panjang 46 cm pada hari Jumat, pukul 22.35, 11.11.11. Terima kasih tak terhingga utk doa teman2 semua :)

Monday, November 7, 2011

Untuk Gadis Kecilku


Dear my sweet baby…

Bagaimanakah keadaanmu di dalam perut Bunda sekarang?
Semoga kau tetap sehat dan baik-baik saja ya, Nak...
Tak sabar rasanya ingin segera bertemu..
Ntah kapan kau kan datang dan bagaimana?

Bunda (dan Ayah juga…) dilanda kecemasan tak tercegah, menantimu
Tak sabar tuk bisa memandang wajahmu, menatap matamu, menggenggam jari-jemari mungilmu, mencium aroma tubuhmu, dan menjadi terbiasa dengan suara tangismu..
Membayangkan kau adalah gadis kecilku yang manis dan yaa..
Kau sangat istimewa..

Seakan mesin waktu begitu lamban berputar     
       
Doa yang selalu mengalir untukmu, untuk kita, semoga terus menguatkan hingga tiba saatnya kita bertemu..
Tuhan menitipkanmu..

Hadir dan tumbuh di rahim Bunda, menjadikannya karunia dan bahagia dalam hidup yang telah dipilih
Tuhan telah merangkaikan cinta di hati kita dengan cara yang sungguh ajaib, bahkan sebelum kita saling bertemu..
Tuhan menjadikanmu sebagai anugerah hidup kami, untuk bisa melihat lebih dekat dan menjalaninya dalam sujud yang penuh

Terimakasih, Nak.. telah berjuang bersama melewati hari-hari  yang terkadang berat tuk dilalui

Marah, sedih, cemas, dan hal-hal yang membuatmu ikut merasa tak nyaman, maafkan Bunda untuk semua itu
Tetapi tidakkah kau juga banyak mendengar tawa dan kadang kita juga mentertawakan Ayah bersama, bukan?
Hari ini genap 280 hari sudah kami menantimu..

Siapapun yang berkata bahwa menunggu adalah hal yang membosankan, pastilah karena tak merasakan keajaiban yang kami rasakan saat menunggu tangis pertamamu menyapa dunia

Seribu doa yang kami panjatkan tak akan putus menemani perjalananmu kelak, saat engkau mulai membuka mata indahmu yang berbinar dan menyapa kami dengan bahasa kanak-kanakmu yang menggemaskan

Bersama, kita akan mengarungi hidup yang keindahannya tak tergantikan, karena hadirmu

Mungkin kami tidak akan bisa menjadi orang tua yang sempurna, tapi percayalah Nak.. kami sungguh mencintaimu dengan cinta yang sempurna

Semoga kita segera berjumpa, gadis kecilku

Engkau kan mengisi ruang terindah di dalam hati kami, Ayah dan Bunda yang selalu mencintaimu, bahkan sebelum kita bertemu...

Yogyakarta, 7 November 2011


















*Puisi ini ditulis oleh Supie, istri saya saat kandungannya berusia 9 bulan 10 hari, HPL-nya hari ini

Friday, November 4, 2011

Ide yang Mengubah Dunia

Kita harus membentuk ide-ide dasar dari realitas alam
dengan pemikiran dan kreativitas kita.
Dengan itu kita akan menandai sejarah,
tidak sekedar larut di dalamnya.


- Steve Jobs, former CEO Apple Inc. -

Kisah mengenai bagaimana sebuah ide sederhana akhirnya membuat dunia yang kita tinggali ini menjadi tidak pernah sama lagi dengan sebelumnya, biasanya akan menjadi kisah yang inspiratif, menggugah kesadaran kita, menyalakan passion di hati kita yang terdalam, bahkan sampai menitikkan air mata.

Tapi biasanya juga: umur inspirasi itu tak panjang.

Beberapa saat setelah cerita itu berlalu dan kita mulai menggeluti lagi dunia dan segala permasalahannya sehari-hari, api itu pun memudar. Kesadaran itu menguap. Passion itu meredup dan padam. Kita pun menjelma kembali menjadi orang-orang biasa, orang-orang pada umumnya. Menjalani hidup dari pagi ke pagi lagi dengan jadual yang telah ditentukan, begitu-begitu saja melewati jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Tubuh kita berjalan, bergerak dan bekerja kesana-kemari memperjuangkan mimpi-mimpi di luar diri kita, sementara jiwa kita gersang, hati nurani tak lagi mendapat tempat tertinggi dalam tubuh yang lelah, dalam pandangan mata yang kosong tanpa daya.

Maka jumlah orang-orang yang bersedia memperjuangkan ide-idenya sepenuh hati sangatlah sedikit. Sebagian besar dari kita memilih menyerah di awal atau pertengahan perjalanan karena tak sanggup menanggung resiko untuk berbeda, untuk disalahpahami, untuk dicemooh, untuk dikritik dan difitnah. Mayoritas kita tak cukup kuat untuk menelan hinaan-hinaan itu, perlakuan yang merendahkan itu, sehingga memilih menukarkan inner voice (suara hati) itu dengan kenyamaan, ketenangan, ketentraman. Secara tak sadar, kita bahkan mulai ikut-ikutan mengatakan bahwa keajaiban yang dibawa oleh setiap ide baru adalah sesuatu yang tidak logis, tidak masuk akal, karena saat menjalaninya tanpa hasrat, kita pernah gagal dan menolak bangkit. Ide-ide itu terlihat terlalu tinggi dan sia-sia karena kita tak pernah serius memperjuangkannya.

Bahkan pun saat engkau telah berniat untuk mengubah dunia, lalu menghidupkan siang dan malammu untuk mengejar itu, belum bisa jadi jaminan bahwa engkau akan mencapainya di ujung umurmu.

Alam semesta ini punya mekanisme seleksi alam yang kejam tapi adil. Engkau yang tak sungguh-sungguh bersedia bersikap kejam pada dirimu sendiri untuk memperjuangkan terwujudnya ide-ide besar yang kau yakini, akan diperlakukan dengan kejam tanpa basa-basi oleh realitas, oleh hukum sebab akibat, bahkan oleh akal sehatmu sendiri.

Kecuali jika engkau termasuk orang-orang jenius. Yang setahu saya, bukanlah merupakan keturunan.

Apple Computer dalam iklan legendarisnya tahun 1997 Think Different mencatat nama-nama ini: Albert Einstein, Bob Dylan, Martin Luther King, Jr., Richard Branson, John Lennon, Buckminster Fuller, Thomas Edison, Muhammad Ali, Ted Turner, Maria Callas, Mahatma Gandhi, Amelia Earhart, Alfred Hitchcock, Martha Graham, Jim Henson, Frank Lloyd Wright, Pablo Picasso.

Tentu masih ada jenius-jenius lainnya yang tak tercatat di iklan ini. Termasuk Steve Jobs, CEO Apple sekaligus kreator iklan tersebut yang bahkan sempat merekam suaranya sendiri sebagai narrator.

Copy writing
iklan ini sungguh menggetarkan hati:

Here’s to the crazy ones. The misfits. The rebels. The troublemakers. The round pegs in the square holes. The ones who see things differently. They’re not fond of rules. And they have no respect for the status quo. You can quote them, disagree with them, glorify or vilify them. About the only thing you can’t do is ignore them. Because they change things. They push the human race forward. While some may see them as the crazy ones, we see genius. Because the people who are crazy enough to think they can change the world, are the ones who do.
 
Lihat iklannya disini

Jenius adalah orang-orang yang mampu mempertanggungjawabkan kegilaannya. Dan jumlah mereka adalah minoritas. Tanpa kemampuan untuk mempertanggungjawabkan ‘keanehannya’, maka posisi orang-orang yang berbeda dan dianggap gila itu akan dipinggirkan, dijauhkan dari kehidupan sehari-hari yang normal karena dianggap pengganggu keharmonisan dan ketertiban.

Seringkali orang-orang besar yang mengubah dunia, melakukannya tanpa niat yang besar, mereka menggelinding begitu saja mengikuti kata hatinya, melakukan apapun yang mereka lakukan dengan suka cita lalu... Bummm!!!

Dunia pun berubah karena hal-hal sederhana yang mereka lakukan, diiringi dengan kebetulan-kebetulan dan dukungan yang mengalir deras dari arah yang tak pernah mereka perkirakan. Setiap kisah kesuksesan bisnis dan kehidupan, tidak lebih tidak kurang, menggambarkan dukungan alam semesta yang aneh seperti itu.

Kalau balik lagi ke beberapa puluh tahun silam saat fajar industri komputer menjelang, Apple Computer dan Microsoft-pun melewati fase yang sama. Juga Starbucks, lalu Google, Facebook, yang termutakhir Twitter.

Benar bahwa sungguh sangat penting untuk berfikir besar - seperti kata Steve Jobs - to put a dent in the universe - tapi apa yang kemudian sungguh-sungguh mengubah dunia ini dengan kehadiran pemikiran dan tindakan kita adalah sesuatu yang sangat sederhana.

Dunia ini penuh dengan kebisingan dari orang-orang yang teriak ramai tentang hal-hal yang tidak penting, hal-hal sampah yang makin menggunung dan menyesakkan mata hati kita. Sampah-sampah yang dikemas dengan bungkus yang mewah, glamour, indah dan menggoda iman. Sampah-sampah yang diiklankan sebagai kebutuhan nomer satu dan bukti kesuksesan tertinggi. Sampah-sampah yang menggiurkan dan menjadikan kita konsumen rakus yang membeli hal-hal yang tak kita butuhkan.

Tengoklah sampah-sampah itu: sinetron kejar tayang, infotainment gosip, politik kekuasaan, iklan-iklan tanpa kedalaman makna, pengajian yang menidurkan jamaahnya, mereka yang mengaku membela agama tertentu sementara tingkah lakunya justru merusak apa yang dibelanya.

Lawanlah kebisingan itu. Dengarlah suara lirih dalam hatimu. Lalu berjuanglah sekeras mungkin untuk mengikutinya. Memperjuangkan ide-ide yang kau yakini justru karena ditolak orang lain, justru karena dicemooh dan dijauhi.

Engkau – dan siapapun yang punya kemauan – bisa menjadi bagian dari orang-orang besar yang dicatat oleh dunia dengan tinta emas. Selama engkau bersedia membayar ‘harga’nya. Selama engkau bersedia menggenggam erat ide-idemu dan memperjuangkannya sepenuh hidupmu.

Suatu hari kelak - saat waktunya tiba - engkau akan menjadi gila. Atau legenda. 


Image sources:
http://www.icouple.sg/blog/wp-content/uploads/2007/04/apple_think_different.jpg
http://www.iphonespecialist.com.au/_/rsrc/1317883989663/steve-jobs-think-different-tribute-video/Steve-Jobs-1955-2011.png

Seminar Entrepreneur di Undip Semarang


Thursday, October 27, 2011

Menghajar Kemalasan

Bagaimana jika tulisan yang jelek nongol di blogmu? Bagaimana jika para pengunjung membacanya lalu memutuskan untuk tak mau lagi mengulang kunjungannya? Bagaimana jika apa yang kau tuliskan ternyata salah data atau salah fakta? Bagaimana jika engkau tak punya ide apa-apa, lalu apa yang harus dituliskan? Bagaimana jika blog sudah terlalu lama nganggur sehingga berdirilah tembok tinggi yang angkuh menghalangi hasrat untuk mulai menulis lagi?

Kekuatiran-kekuatiran seperti inilah yang sering menghinggapi setiap blogger untuk mulai lagi menggoyangkan jarinya di tuts keybord, keypad atau capasitive screen. Bukan kekuatiran yang berlebihan memang, karena ini real. Nyata. Dan umum dialami oleh banyak orang yang kesulitan untuk memelihara kedisiplinan posting. 

Logika yang lalu muncul: jika sampai tak tahu apa yang akan dituliskan, masa' kita paksain menulis juga? Nanti malah mengada-ada, malah tak berguna alias sia-sia. 

Sejujurnya, perasaan masygul seperti inipun hinggap juga di saya. Saya pun terjangkit penyakit enggan ngeblog. Saya pun beberapa kali kalah oleh kemalasan. Saya juga manusia biasa yang iman ngeblognya naik turun. Nah, di sinilah sesungguhnya perbedaan para pejuang blogger dan blogger-blogger biasa.

Mereka akan memaksakan diri menulis walaupun merasa tak dalam kondisi terbaik untuk menulis. Walaupun tak sedang ingin menulis. Motion creates emotion. Bergeraklah saja dulu nanti suasana hati akan mengikuti. Misalnya engkau ngantuk. Kalau tak melakukan apa-apa, engkau pasti akan tertidur sebentar lagi. Tapi coba paksakan untuk berlari, walaupun berat. Engkau pasti takkan mengantuk. Mana ada orang berlari bercucuran keringat sambil ngantuk?

Dalam bahasa saya, putus asa dalam sebuah usaha menggapai mimpi, harapan dan keinginan itu boleh. Tapi teruslah bekerja dalam keputusasaan itu. Selamat mengisi kemalasan Anda dengan produktivitas.


Saturday, October 8, 2011

Ngobrol & Nonton Bareng: Tribute to Steve Jobs

Teman-teman, seorang legenda telah pergi. Selamanya.

Untuk menghormatinya dan berupaya menangkap cahaya terbaiknya sebagai refleksi yang memperbaiki hidup kita, kawan-kawan di Petakumpet yang dimotori Mas Dedi Rokkinvisual akan mengadakan acara nonton bareng 'Pirates of Silicon Valley.' Sebuah film tentang bagaimana Steve Jobs dan sahabat sekaligus kompetitornya Bill Gates membangun dua perusahaan teknologi raksasa saat ini, Apple Inc. dan Microsoft Corp. A GREAT Movie! 

Rencananya saya akan sharing sedikit tentang Steve Jobs, apa yang kita bisa pelajari dari hal-hal terbaik dari The Insanely Great Legend ini. Kawan-kawan semua yang merasakan sentuhan keajaiban Steve Jobs dan Apple, kami undang datang ke Petakumpet, acara ini GRATIS. Kami akan menyediakan snack dan minuman serta obrolan dan tontonan yang semoga menginspirasi. Sampai jumpa Selasa, 11 Oktober 2011, Jam 19.00. 

*desain publikasi acara ini disiapkan oleh Dedi Rokkinvisual, thanx Ded :)

Tuesday, September 27, 2011

Wedangan 9 Series 'Tantangan Kreatif'

Wedangan Creative Sharing Creative Giving


Menghadirkan Pidie Baiq & Ujang Koswara
(The Panas Dalam Institute Bandung)

Jum'at 30 September 2011 Jam 19.00 WIB bertempat di Indraloka Homestay, Jl. Cik Di Tiro 18 Yogyakarta (150 meter selatan Bunderan UGM)

FREE, Tidak Dipungut Biaya. Akan ada kotal amal untuk program creative giving**


**Creative Giving
Belajar menghargai sekaligus sebagai tanggung jawab profesi yang kita cintai, hal itulah yang menjadi alasan kuat penyelenggara memberi kesempatan kepada hadirin untuk belajar sambil beramal dengan memenuhi kotak amal yang tersedia, 100% isi dari kotak tersebut akan dibagi empat dengan perincian:
25% pertama
Diberikan kepada dua pembicara dengan tujuan memberi penghargaan yang setinggi-tingginya tanpa melihat nominal yang didapatkan.
25% kedua
Meyediakan sedikit konsumsi saat acara berlangsung.
25% ketiga
Penyelenggara yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengurus acara ini.
25% keempat
Disisihkan untuk pelaksanaan creative giving (penyampaian amal secara kreatif  dengan memberikan materi produktif, bukan konsumtif)

Saturday, September 24, 2011

Sedekah Sambil Berharap…Why Not?

Ust. Yusuf Mansur    
Monday, 06 June 2011 04:05 
Bolehkah sedekah sambil berharap? Banyak orang yang mencibir terhadap orang yang bersedekah karena berharap kepada Allah. Apakah kita tidak ikhlas hanya karena beribadah sedekah dan berharap akan kebenaran janji-Nya?

Persoalan meminta sama Allah itu bukan persoalan ikhlas atau tidak ikhlas. Itu persoalan ibadah. Meminta adalah do’a. Silahkan saja sedekah tanpa berharap. Tapi kalau sedekah sambil berharap, maka dapat dua ibadah; pahala sedekah dan pahala berharap. Namun kita tidak boleh memaksa, hanya boleh meminta dan berharap.Dan bukanlah disebut meminta dan berharap, kecuali yakin bahwa apa yang diminta dan yang diharap adalah bisa dikabulkan. Ilmu penyertanya adalah sabar, tawakkal, juga ikhlas. Termasuk ikhlas bila Allah tidak mengabulkan. Husnudzan kepada Allah adalah seninya. Yakinlah Allah Maha Tahu apa yang terbaik.

Sementara itu, mengikuti seruan-Nya, percaya akan janji-Nya; yang akan mengganti 2x, 10x, 700x, lebih banyak lagi, atau mengganti dengan yang lebih baik, adalah juga sebuah keutamaan. Tauhid itu. Percaya sekali sama Allah.

Saking percayanya ya kita ikuti seruannya. Dan apa sebutannya kalo bukan ikhlas juga? Nyari duit setengah mati, tiba-tiba ketika datang tawaran bersedekah dari Allah dengan janji akan dilipatgandakan-Nya, lalu kita percaya? Hingga kita menyerahkan semuanya? Apa gak di sebut ikhlas tuh? Bahwa kemudian jangan meminta hanya dunia, itu betul.

Minta juga ampunan-Nya, keselamatan dari-Nya, kasih sayang-Nya, bisa hafal qur’an, bisa istiqomah, bisa tambah sehat. Pengetahuan akan ilmu konversi juga penting. Sesiapa yang sedekah 1 di kali 10. Lalu sepuluhnya gak dapet, pertanyaannya: benarkah gak dapat? Apakah itu dikarenakan bodohnya kita?

Sesungguhnya Allah sudah membalas. Hanya balasannya kita gak paham hingga bertambah ilmu kita dan hikmah. Juga ketika kita baik sangka. Subhanallah, betapa rahasia ilmu Allah itu luas sekali. Belum lagi kalau bicara bahwa ternyata bayaran Allah itu terus dan terus. Kita anggap udah gak akan dibayar lagi. Ternyata setelah kita malah lupa sama do’a kita, eh Allah tetep kabulkan. Rupanya, “panen” pertama, bukan ke apa yang kita minta. Sementara kita bersabar, rupanya tanaman kita panen yang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga sampailah pada apa yang kita minta.

Waba’du, meminta kepada Allah, tidaklah salah. Demikian juga berharap dari-Nya. Gak sedekah aja, boleh meminta, boleh berharap. Apalagi dengan bersedekah, tambah boleh meminta, tambah boleh berharap.
 

Sesiapa yang berdo’a dengan amal soleh sebagai pendahuluannya, jelas akan lebih bertenaga do’anya. Dan amal soleh itu banyak, sedekah adalah hanya salah satunya. Begitupun do’a. Do’a akan menjadi pendorong yang hebat buat sedekah.

Jangan hanya bersedekah. Tapi juga berdo’a. Di rawat itu sedekah dengan do’a. Jangan ditinggal begitu saja. Meskipun saya yakin, seperti biji cabe, yang di aurin (dibiarin) aja dia tumbuh, namun jika dirawat, dikawal, hingga ia tumbuh banyak dan bagus, adalah sebuah keutamaan yang lain adanya. Selamat menuntut ilmu terus, terus, dan terus. Hingga sampai kepada hikmah yang kita mintakan dari Allah datangnya. Amin.

Emang juga diam aja Allah udah akan aturin. Tapi kita ga dapet pahala do’a. Bahkan do’a itu kepalanya ibadah. Jika ibadah, ibadah doangan, kaga berdo’a, maka kita hanya ampe leher. Itu ibadah ga ada kepalanya. Dengan berdo’a, itu menyatakan kelemahan kita juga di hadapan Allah Yang Begitu Kuasa. Sekaligus pernyataan-pernyataan menghamba, penuh harap, menjadikan Allah sandaran, dan lain-lain. Masya Allah dah. Rugi mereka yang ga mau berdo’a. Sedang do’a sendiri adalah sebuah ibadah tersendiri.
 

Dan bahkan do’a adalah perintah Gusti Allah langsung. Ayat-ayat tentang do’a tidak hanya di satu ayat. Tapi di banyak ayat. Dan tidak ada do’a yang tidak dikabulkan kecuali ia menjadi pengampunan buat yang berdo’a, menjadi penolak bala, dan disimpan sebagai kebaikan yang lain dari hal yang tidak diminta. Nah, apakah yang tidak berdo’a bakalan dapat keistimewaan yang berdo’a? Tentu saja tidak. 

Salam, Yusuf Mansur

Tulisan dikutip dari: http://www.sedekah.net/artikel/152-sedekah-sambil-berharapwhy-not.html
Foto pinjem dari: http://www.madinaprima.info/wp-content/uploads/2011/07/Ust-Yusuf-Mansur-MadinaPrimaInfo.jpg

Thursday, September 15, 2011

Kejernihan di Tengah Kegaduhan

Image pinjem dari http://blue4tomorrow.files.wordpress.com/2011/03/clear_cut_light_by_callu.jpg

Dalam hidup kita, banyak hal baik yang kita tahu persis akan besar manfaatnya untuk dikerjakan tapi tidak juga kita kerjakan. Atau kita kerjakan sebentar lalu terhenti karena kesibukan, keperluan lain, tak ada waktu dan gangguan-gangguan lainnya yang membuat aktivitas yang baik itu tak bisa kita kerjakan secara kontinyu.

Misalnya: sholat tepat waktu jamaah, olah raga rutin, merenung, puasa senin kamis, sedekah, membaca buku, minum air putih yang cukup, dan sebagainya. Oya satu lagi: menulis alias ngeblog. Sejak mulai ada facebook dan twitter, rasanya memang waktu banyak tersita untuk dua hal itu, apalagi dengan adanya mobile internet via blackberry yang makin memudahkan untuk akses online. Makin mudah aksesnya, jadi makin sering aksesnya. Makin jauhlah dari kemungkinan menulis dengan tenang dan jernih.

Tapi saya mengamati satu kecenderungan yang bisa jadi kelemahan atau kekuatan, twitter dan status facebook menghasilkan respon atas pemikiran kita yang pendek (140 karakter), seringkali respon interaktif itu yang membuat asyik, menenggelamkan saya untuk menyingkat pemikiran-pemikiran yang pendek, singkat, padat sekaligus mulai menjadi tembok yang menghalangi otak ini untuk mau menggali sedikit lebih ke dalam dan menuangkannya menjadi pemikiran yang komprehensif, deep dan utuh.

Dan alarm di kepala saya terus berdenging, mengingatkan bahwa cara-cara yang singkat dan gaduh lewat twit dan update status di facebook itu tak akan mampu mengajak para follower dan teman-teman online untuk merenung dan menyesapkan makna yang lebih mendalam, yang lebih, di situlah peran tulisan di blog yang tak bisa tergantikan. 

Bahkan jika ingin lebih khusyuk lagi untuk berkomunikasi dengan hati, seringkali buku berbasis kertas lebih bisa menjaga keintiman komunikasi antara penulis dan pembacanya, tak terdistorsi dengan gangguan dari situs-situs lain yang terbuka pada waktu bersamaan.

Image pinjem dari: http://1.bp.blogspot.com/_6J2JrfZe8kE/TMPBNY3JOMI/AAAAAAAAAfg/sCRcfHSvRPI/s640/tetesan-jernih.jpg 

Pagi ini, kesadaran untuk memulai hal-hal baik itu muncul kembali, seolah bangun dari tidurnya yang mungkin juga tak nyenyak. Saya tak merasa terbebani harus menulis, karena memang bukan kewajiban saya. Tak ada yang marah jika saya tak menulis di blog ini, ah tapi memang ada yang sering mengingatkan saat tak ada tulisan baru selama berminggu-minggu. Jadi bukanlah kewajiban yang mendorong saya mengetik lagi tapi kesadaran untuk membongkar tembok itu, mensinergikan kejernihan berfikir dan berkomunikasi secara interaktif. Toh twitter dan facebook bisa menjadi jembatan agar lebih banyak calon pembaca berkunjung ke blog ini. Kualitas materi tulisan dan keunikan isu yang diangkat jadi topik tulisanlah yang akan membuat para pembaca mau berlama-lama berkunjung atau melakukan kunjungan ulang esok hari.

Hal-hal baik jangan dikerjakan makbreg sekaligus, nanti berat dan kita akan hilang semangat. Sedikit-sedikit saja yang penting kontinyu dan kita bisa bahagia menjalaninya dan merasa makin bersemangat setiap kali memulainya lagi. Saya pamit dulu untuk sementara, saya akan kembali. Menyapa bagian terdalam diri saya, untuk saya bagikan kepada Anda semua pengunjung blog ini yang lama tak saya sapa dengan inspirasi jernih, yang semoga menjernihkan di tengah kabut pemberitaan media massa yang mengaburkan benar salah.

Walaupun mungkin hujan masih mengguyur di luar, hawa dingin mendekap, tapi kita bisa teruskan untuk berkarya dan berbuat baik. Bukan karena harus, tapi karena kita bahagia mengerjakannya. Dan orang lain menjadi lebih bahagia karenanya.

Tuesday, September 13, 2011

Sang Maha Menepati Janji

Ini sebuah kisah nyata, sekitar tahun 2009 lalu. Sebuah kisah yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. 

Siang itu HP saya berbunyi. Mengalun sebuah lagu dari Peter Pan sebagai ringtone-nya ‘Tak Ada yang Abadi’. Sebuah nama tertulis di layar hp. Adik saya. Dan ia menyapa, ”Assalamu’alaikum.. Apa kabar Mas?”

Saya,”Wa’alaikum salam, Alhamdulillah kabar baik. Ada apa nih?”

“Begini Mas. Di tempatku sekarang sedang ada pendaftaran guru CPNS, rencananya aku mau ikut lagi. Kan tahun kemarin gagal to. Nah, kemarin itu aku ditawarin ama orang kepercayaannya Bupati kalau mau lewat jalurnya dia, dijamin pasti diterima. Tapi dia minta Rp 70.000.000,- dan aku hanya punya Rp 30.000.000,- mbok aku tolong dipinjami dulu Mas…”

Saat itu saya sedang tak memiliki uang sebanyak itu. Jadi saya tak bisa meminjaminya. Tapi agar terdengar lebih gagah sebagai kakak yang dianggap 'sukses', inilah jawaban saya,”Begini Dik, bukannya aku gak mau minjemin uangnya. Tapi coba deh dipikir lagi, kalaupun misalnya nanti diterima jadi guru CPNS, sadarkah kalau gaji yang akan kau terima setiap bulan selama jadi PNS itu haram? Karena tanamannya haram. Masa’ keluarga akan diberi hasil yang haram? Belum lagi kalau si A yang mau bawa bahkan Bupatinya diganti sebelum pengumuman, apa nggak hangus uangnya? Sebaiknya tidak usah lewat jalur itu, lewat jalur biasa aja.”

Adik saya,”Tapi kalo lewat jalur biasa tidak mungkin diterima Mas. Teman-temanku yang ikut jalur khusus itu udah 4 orang, jaminan diterima. Aku kuatir nanti gak diterima lagi…”

Saya jawab,”Begini, ini ada jalan yang jauh lebih baik kalau mau diterima jadi guru. Berapa tadi bayarnya? Rp 70.000.000,- ya? Tempuhlah jalan yang halal dan jadikan upaya menggapai PNS sebagai riyadhah, ibadah untuk menggapai Ridho Allah. Sholat wajibnya benerin agar tepat waktu, sholat tahajud dan dhuha-nya ditambah, puasa sunat Senin Kamis dikerjakan dan sedekahlah dengan sedekah terbaik. Daripada bayar Rp 70.000.000,- lebih baik sedekahin 10%nya saja. Sekitar Rp 7.000.000,- Dan berdoa ama Allah agar dimudahkan jalannya. Lalu cari anak-anak yang tidak mampu bayar SPP, bayarin. Cari guru-guru yang ekonominya susah, bantulah. Cari anak-anak yatim yang pengen sekolah, bayarin. Begitu.”

Pembicaraan berlanjut, tapi intinya: adik saya akhirnya – setelah saya yakinkan - bersedia mengikuti saran kakaknya. 

Telepon ditutup dan sayapun melanjutkan aktivitas saya di biro iklan yang saya dirikan bersama teman-teman.

Dan kurang lebih sebulan berlalu.

Siang itu telepon saya berdering. Dari adik saya.

“Mas, pengumuman CPNS-nya udah keluar. Aku gak diterima….”

Lalu terdengar isak tangis… Hening…..

“Teman-temanku yang membayar semuanya diterima ada 6 orang padahal formasinya waktu awal diumumkan hanya 4 orang. Dan mereka memang membayar Rp 70 - 100 juta/orang. Aku sudah jalanin semua saran Mas yang kemarin, tapi tetep gak diterimaaaa…”

Tangisnya meledak. Dan telepon pun terputus.

Saya terdiam. Memandang langit, seolah tidak percaya. Saya terkejut mendengar dia sedikit protes: udah ibadah kok masih gak dikabul doanya? Amal sholeh yang dikerjakannya ternyata tak mampu membuat harapannya terkabul, gak berfaedah, tumpul tidak berguna. Sedekahnya ke panti asuhan, bayarin anak orang lain sekolah, ber-qurban dengan jumlah sekitar 7 juta rupiah seolah 'menguap'. Hilang tak berbekas.

Tapi saya masih punya setitik keyakinan bahwa meyakini pertolongan Allah itu tidak mungkin salah. Dalam kegalauan hati saya, saya pun kirim sms padanya: Dijalani saja ujiannya dengan sabar. Sholatnya ditambah, sedekahnya ditambah, doanya ditambah. Lebih baik pake jalan lurus tapi tidak diterima PNS daripada diterima jadi PNS tapi diawali dengan dosa. Jalan benar biasanya tidak mudah. Tapi Allah tidak tidur, Allah akan berikan ganti yang lebih baik jika kita khusnudzon & istiqomah di jalan-Nya...

Dan sent.

Apakah sms saya ini hanya untuk menghibur hatinya yang gundah? Demi Allah, tidak! Sms ini adalah sms jujur yang saya tulis dari dalam hati saya dan Insya Allah benar. Saya yakin itu. Seyakin-yakinnya. Lha, tapi kan sms itu tidak membuatnya jadi PNS? Jika akhirnya nganggur, sms motivasi begitu mana ada manfaatnya?

Di ujung sana sambil membaca sms saya, adik saya mungkin berfikir: lhaaah, ini mah sama aja sama sarannya kemarin. Udah dijalanin semua ikhtiarnya ke Allah dengan sholat, puasa, sedekah tapi hasilnya nehi, nol, gak kabul. Ini udah tidak diterima jadi PNS masih harus nglanjutin lagi ikhtiarnya? Please deh... Malaikat aja kali yang bisa!

Tapi saya yakinnya begitu. Rejeki itu dari Allah, bukan dari pemerintah, makelar CPNS atau lainnya.

Coba bayangin. Jika kita masuk CPNS - dalam kasus ini lowongannya adalah guru - dan lewat jalan tidak halal karena menyuap, rejeki yang masuk tiap bulan sebagai gaji kita kan gak halal, gak bersih. Bibitnya aja sudah gak bersih (suap). Lalu keluarga akan diberi makan dari rejeki itu, anak-anak akan dipelihara dan dibesarkan dengan harta haram dan ketidakjujuran. Jika ia jadi guru, Untuk menegur murid yang menyontek saja, sudah tidak layak. Mana bisa dia bilang ke murid-muridnya untuk menjadi generasi masa depan yang mulia. Dia jadi guru aja daftarnya dengan menyuap. 

Keluarga yang rejekinya tidak bersih tidak akan diberikan Allah ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Bener bahwa dia akan bisa kredit rumah, kredit mobil dan jadi kaya. Tapi jika ketentraman tak ada di rumah itu: buat apa? Kalo Allah mau, rumah semahal apapun takkan bisa dinikmati penghuninya. Dengan cara mengusirnya dari rumah sendiri: harus mondok di rumah sakit karena serangan jantung, dipenjara karena korupsi atau sembunyi di goa-goa jadi buronan polisi.

Dan waktupun berlalu. Tak ada komunikasi lagi setelah itu.

Dan sekitar dua minggu setelah pengumuman ketidaklulusan itu, hp saya berdering, sebuah suara di ujung telpon dari adik saya menyapa,"Mas, lagi di Jogja atau di Jakarta? Aku mau minta tolong nih, boleh ngrepotin dicariin laptop gak ya. Suamiku butuh nih buat nulis-nulis, soale komputer satunya lagi agak ngadat."

Saya jawab,"Laptop yang gimana kira-kira?"

Adik saya,"Yang bagus lah, sekitar 5-6 jutaan gitu.."

Saya,"Tumben, biasanya suka cari yang murah. Lagi banyak duit?"

Adik saya,"Alhamdulillah kemarin suamiku dapat rejeki dari saudaranya. Namanya tertulis di daftar waris Pakdenya dan suamiku mendapat bagiannya."

Saya,"Alhamdulillah..."

Adik saya,"70 juta rupiah, Mas.."

Subhanallah!” keterkejutan saya beriring dengan syukur yang luar biasa.

Saya terdiam setelah itu dan menyadari bahwa kisah ini bukan ditujukan untuk adik saya tapi buat saya. Rp 70.000.000,- itu adalah janji Allah yang tertunaikan setelah adik saya bersedekah Rp 7.000.000,-

Allah seolah menyampaikan kepada saya: Aku tak pernah mengingkari janji-Ku. Takkan pernah. Jikapun kamu tidak yakin, jikapun kamu tidak percaya, jikapun kamu bingung, gundah gulana, cemas, khawatir: ikutilah jalan-Ku maka pasti selamat. 

Allah adalah Sang Maha Menepati Janji. Selama kita khusnudzon, sabar, istiqomah. Segala sesuatu akan indah pada waktu-Nya.

Monday, June 27, 2011

Lelang Buku Bisnis untuk Wedangan

Untuk menikmati kehidupan kita sehari-hari dengan totalitas, seringkali diperlukan sebuah gebrakan, sebuah spontanitas, suatu tindakan yang seolah-olah merusak harmoni keteraturan. Agar hidup tak berjalan monoton, begitu-begitu doang.

Nah, salah satu yang saya begitu tergila-gila dalam hidup ini adalah buku. Yup, buku! Bukan pakaian yang mahal, gadget yang keren, makanan kelas hotel atau tamasya ke luar negeri. Nop, hanya buku. Dalam sebulan, rata-rata saya menghabiskan Rp 200.000,- sampai Rp 500.000,- untuk belanja buku baru. Itu adalah anggaran terbesar saya, lebih besar daripada biaya beli baju atau makan, bahkan lebih besar daripada biaya pulsa langganan Blackberry atau internet unlimited.

Nah, suatu hari tibalah ide spontan yang membuat saya sendiri terkaget-kaget. Setelah komitmen hanya akan memiliki maksimal 10 potong  pakaian dan mengikhlaskan sisanya udah terlaksana, sasaranpun berlanjut. Saya punya begitu banyak koleksi buku:  akan menjadi sesuatu yang berbeda jika saya melepaskan juga sebagian besar diantaranya. Mulai dari buku-buku yang jarang saya baca, yang tak begitu saya sukai isinya. Tidak terlalu sulit mengerjakan ini, masukin buku-buku di kardus dan kirimkan ke siapa saja yang membutuhkan. Done!

Tapi penyakit iseng ini kumat lagi, menantang keberanian saya sekali. Bagaimana jika yang kau lepaskan adalah buku-buku yang begitu kau sukai, yang bersejarah, yang membentuk karakter dan mengisi kepribadianmu selama ini. Beranikah untuk melepaskannya pergi?

Nah, sejujurnya ini sulit. Berat di hati. Pak Roni Yuzirman, sahabat saya founder TDA yang menerapkan simplicity dalam kehidupannya pun mengaku sulit untuk berpisah dengan buku-bukunya. Karena buku beda dengan benda yang lain, misalnya pakaian atau harta lainnya.

That’s it, because book is a part of his life. Me too, book is integrated in me.

Tapi inilah asyiknya, saya dengan sadar menerapkan ilmu memaksakan diri, saya masih bisa hidup merdeka tanpa buku-buku ini. Ilmu yang saya pelajari darinya takkan menguap saat buku-buku ini pergi. Sehingga, hadirlah keputusan itu: saya akan hibahkan sebagian besar buku-buku bisnis terbaik saya kepada Tim ADGI Jogja Chapter bekerja sama dengan TDA Jogja yang akan melelangnya di acara Wedangan, besok Jumat 1 Juli 2011.

Seluruh hasil lelang buku-buku ini akan digunakan untuk membiayai kegiatan Wedangan selanjutnya yang harus terus berjalan agar manfaatnya makin besar bagi masyarakat kreatif Jogja. Juga untuk kegiatan sosial lainnya bagi yang kurang mampu. Teman-teman di ADGI Jogja dan TDA Jogja lah yang akan mengatur pemanfaatan hasil lelangnya. 

Manfaatnya untuk saya? Saya sedang belajar melepas keterkaitan saya dengan benda-benda yang saya sukai. Saya sedang belajar bahwa sesungguhnya saya ini tak punya hak milik apa-apa di dunia ini, apapun yang sekarang dipercayakan pada saya oleh Yang Maha Memiliki, statusnya adalah pinjaman. Saat waktunya sampai, Ia akan mengambilnya dari saya.

Berikut daftar buku-buku yang akan dilelang: 






  1. Good Design – David B. Berman 
  2. Inside Larry &  Sergey’s Brin (Menyimak Pemikiran Pendiri Google) – Richard L. Brand 
  3. Rich Dad’s Guide to Investing – Robert Kiyosaki
  4. Membuka Pintu Langit – KH Mustofa Bisri 
  5. Winning – Jack Welch (Ex CEO General Electric) 
  6. Outliers (Rahasia di Balik Sukses) – Malcolm Gladwell 
  7. The Success Principles – Jack Canfield 
  8. Pemasaran Duct Tape – John Jantsch
  9. Inside Steve’s Brain – Leader Kahney (Edisi Inggris) 
  10. Blue Ocean Strategy – W. Chan Kim, Renee Mauborgne
  11. Near Death Experiences – Tammy Cohen 
  12. Donal Trump, Master Appretice – Gwenda Blair (Edisi Inggris)
  13. Kun Fayakun – Ust. Yusuf Mansur
  14. Business @ The Speed of Thought – Bill Gates 
  15. Blink – Malcolm Gladwell 
  16. Start with The Answer – Bob Seelert (Chairman Saatchi & Saatchi) 
  17. The Road Ahead – Bill Gates 
  18. The Seven Lost Secrets of Success – Joe Vitale (The Secret Guru) 
  19. Catatan Seorang Demonstran – Soe Hok Gie
  20. Jack, Straight from The Gut – Jack Welch (Edisi Inggris)
  21. Jack, Straight from The Gut – Jack Welch 
  22. Manajemen Gaya Microsoft – Michael Cusumano, Richard W. Selby
  23. The Mindgym (Edisi Inggris) 
  24. Made to Stick – Chip Heath, Dan Heath 
  25. The Audicity of Hope – Barack Obama 
  26. Dari Pojok Sejarah – Emha Ainun Nadjib 
  27. Mereka Bicara JK – National Press Club of Indonesia
  28. Results – Gary L. Neilson, Bruce A. Pasternack
  29. Meraih Cinta Illahi – Jalaluddin Rakhmat
  30. Who Says Elephants Can’t Dance – Louis V. Gestner, Jr.
  31. The Last Words of Chrisye – Alberthiene Endah
  32.  Metamorfosis Sang Nabi – Agus Mustofa 
  33. Inside Obama’s Brain – Sasha Abramsky
  34.  The Lenovo Affair – Ling Zhijun 
  35. Unleash Your Other 90% - Robert K. Cooper
  36. Korean Advertising – Jung Soon-kyun, CEO Kobaco 
  37. Getting Unstuck – Timothy Butler 
  38. Gaya Hidup Sehat Rasulullah – Egha Zainur Ramadhani
  39. Sosok Nabi Khidir – Khalifi Elyas Bahar
  40. Rich Dad’s Conspiracy of The Rich – Robert Kiyosaki 
  41. Free – Chris Anderson
  42. What The Dog Saw – Malcolm Gladwell 
  43. No Rules! – Dan S. Kennedy 
  44. Ngaji Online – Agus Mustofa 
  45. The Monk Who Sold His Ferrari – Robin Sharma
  46. The Impossible Just Takes a Little Longer – Art Berg
  47. The Accidental Billionaires (The Social Network) – Ben Mezrich 
  48. Tuhan Sang Penggoda – M. Arief Budiman (versi draft)
  49. Tuhan Sang Penggoda – M. Arief Budiman (versi original)
  50. Jualan Ide Segar – M. Arief Budiman
Terus bagaimana mekanisme lelangnya? Mulai dari harga berapa? Tunggu info berikutnya. Dan Anda juga bisa bergabung untuk menyumbangkan buku-buku yang akan dilelang di acara ini. Insya Allah akan jadi acara lelang yang asyik, karena akan berlangsung secara offline (di tempat acara Wedangan) maupun di online (via account @wedangan di twitter). So, segera follow @wedangan untuk dapet update infonya. Anda juga bisa bertanya langsung jika ingin ikut menyumbang.

Mari berlomba-lomba dalam  kebaikan. Ngebut dalam kebaikan. Insya Allah tak ada yang kalah, semua akan menang :)

Notes: thanx to Iqbal Rekarupa dan Rahmat Rekarupa untuk organize acara dan siapin foto-foto bukunya

Tuesday, June 21, 2011

Designers Weekend Gathering

Teman-teman saya di ADGI Jakarta Chapter bikin kegiatan seru nih! Jika Anda praktisi, mahasiswa dan dosen kreatif yang berada di seputaran Jakarta, silakan bergabung, karena semua orang boleh datang. Jadi acara ini untuk umum, bukan hanya anggota ADGI. Dan GRATIS!


Designers Weekend Gathering

Sabtu, 25 Juni 2011 jam 10.00-13.00 WIB
Bertempat di ADGI Jakarta Creative Center
Ged. Kemang Point Lt. Dasar,  Jl. Kemang Raya No.3 Jakarta

Monggo diramaikan :)

Thursday, June 9, 2011

Yuk Memaksakan Diri

Jika engkau ingin sekali untuk naik haji tapi tak punya cukup uang dan harta berharga yang tertinggal hanya sebuah rumah senilai ongkos naik haji, apakah engkau akan tetap memaksakan diri naik haji dengan menjual rumahmu satu-satunya?



Jika engkau punya uang yang hanya cukup beli obat sakit kepala setelah Jumatan dan ongkos pulang ke rumah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk menyedekahkannya ke mesjid saat Jumatan?



Ketika engkau menggenggam lima puluh ribu rupiah untuk membayar biaya sekolah anakmu hari itu dan tiba-tiba tetangga datang meminjam uang itu untuk membayar uang sekolah anaknya, apakah engkau akan memaksakan diri untuk meminjaminya?



Jika di tanganmu ada sebungkus nasi goreng yang baru saja kau beli dengan uang terakhirmu untuk makan malammu setelah seharian tidak sempat makan karena sibuk dan sejurus langkahmu seorang pengemis mengiba meminta sedekah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk memberikan makan malammu dan menyiksa perutmu sampai pagi menjelang?



Jawablah: TIDAK. Atau: YA.

Dan kedua jawaban itu bisa sama-sama benar. Lha, maksudnya gimana? 

Sabar, begini lho maksud saya. 

Jika engkau menjawab TIDAK, artinya engkau telah menggunakan akal sehatmu dengan benar. Engkau bersandar pada pepatah "Engkau harus kuat dulu agar bisa menolong yang lemah, engkau harus menyelamatkan dirimu terlebih dahulu sebelum menyelamatkan yang lain." Pepatah ini mengandung arti, tak mungkin engkau bisa menolong orang sakit jika engkau sendiri sakit. Engkau tak bisa menolong orang miskin kalau engkau sendiri tergolong orang miskin. Jeruk tak bisa makan jeruk. Itulah yang saya maksudkan sebagai akal sehat. Lihat petunjuk untuk memakai zat asam di pesawat, jangan menolong orang lain walaupun anakmu sendiri sebelum engkau memasang zat asam untukmu duluan.



Lha, terus mengapa yang menjawab YA juga benar?



Karena kebenaran jawabanmu tergantung keyakinanmu. Tak ada kebenaran tunggal di dunia nyata, seperti kebenaran eksak di dunia akademis. Kalo engkau yakin TIDAK itu artinya betul, menurutmu. Begitu juga jika jawabanmu adalah YA. Itu juga betul, menurutmu. 

Tapi jawaban yang berbeda itu akan menghasilkan akibat yang berbeda pula.

Hidup di dunia realitas ini, tak semua berjalan dengan hitungan matematis, 1+1 tidak selalu sama dengan 2. Dan mereka yang memilih ya alias memilih memaksakan dirinya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan akal sehat, tentulah wajar jika dituduh tidak memiliki akal sehat alias tidak masuk akal.

Tapi sebentar dulu, menurut Anda: apa sih pengertian tidak masuk akal?



Ada yang mau jawab? Kok sepi? Yang di depan, belakang? Ya.. Anda yang sedang pegang Blackberry. Apa artinya tidak masuk akal? (penulis ngaco, mana bisa tulisan dibikin interaktif? Sok tahu! Heheheh :)



Tidak masuk akal itu ada dua pengertiannya. Ini menurut saya lho, lha tadi saya tanya menurut Anda, Anda diam saja. Hehehe, makin parah ngaconya!



Yang pertama, tidak masuk akal berarti memang faktanya salah.

Alias logika berfikirnya salah. Misalnya: meja kayu adalah meja yang terbuat dari roti. Ya jelas salah. Yang betul atau yang masuk akal adalah meja yang terbuat dari besi, eh kayu. Ya.. Kayu. Itu yang masuk akal.



Yang kedua, tidak masuk akal juga bisa berarti akal kita tidak bisa menjangkaunya alias belum mampu memahaminya.

Misalnya: dulu membayangkan pendaratan manusia di bulan dianggap gak masuk akal. Karena belum pernah ada yang melakukannya. Columbus yang berniat memutari bumi dianggap nggak masuk akal karena pengertian umum orang-orang pada jaman itu: bumi itu datar. Nanti di ujung bumi, Columbus akan nyemplung dan hilang entah kemana. Di dunia kedokteran, santet dianggap nggak logis. Bagaimana mungkin bisa ada sendok garpu masuk perut tanpa melukai tubuh korbannya? Lewat mana masuknya? Dengan teknologi apa?

Nah, saat waktu berlalu: kita tahu bahwa hal-hal aneh ini bisa terjadi, nyata terjadi meskipun secara logika mungkin kita tetap tak bisa mempercayainya.

Nah, saat akal tak menjangkau, kita mengenal yang disebut sebagai iman. Makanya, ada ungkapan sami’na wa atho’na dalam Islam, yang artinya: saya dengarkan dan taati. Ini khas dunia pesantren, yang biasanya sering diartikan: seorang kyai itu dianggap mutlak perintahnya, santri-santri harus sami’na wa atho’na. Lebih parah lagi, ungkapan ini dianggap anti demokrasi, anti kritik, taqlid buta, tidak menjunjung azas persamaan dan egalitarianisme.

Padahal dalam hidup kita, pemaknaan sami’na wa atho’na ini begitu luasnya. Coba kita tengok saat kita bayi dan ibu melatih kita untuk belajar jalan. Apakah Ibu menjelaskan dulu manfaat-manfaat belajar jalan kepadamu? Apakah Ibu meminta persetujuanmu untuk melatihmu belajar jalan? Apakah engkau protes? Tidak. Tak ada persetujuan, engkau juga tak protes. Semua berjalan alamiah sampai saatnya nanti engkau – setelah belajar, setelah Iqra’ - paham manfaatnya bisa berjalan dengan kedua kaki.

Lalu saat menginjak Taman Kanak-kanak dan mulai belajar membaca, menulis dan berhitung. Apakah guru meminta persetujuanmu untuk mengajarkan ilmu itu? Apakah engkau protes? Tidak. Saat engkau menguasai ilmu itu, dengan berjalannya waktu engkau akan paham manfaatnya.

Kita telah menerapkan sami’na wa atho’na saat masih kecil, tapi menolak menerapkannya saat dewasa karena alasan demokrasi dan sebagainya. Anak-anak muda seringkali mengedepankan logikanya, sehingga babak bundas dihajar realitas. Pemerintah, pengusaha hanya menggunakan logika semata-mata untuk sukses, akhirnya kecapekan untuk hanya ketemu jalan buntu. 

Saat iman ditinggalkan, saat kita tak menyediakan diri untuk ‘diatur’ oleh yang Maha Mengatur malah makin menjauh dari-Nya, seringkali kita tak berdaya di hadapan masalah-masalah duniawi yang bertumpuk-tumpuk menenggelamkan kita pada jurang keputusasaan.

Untuk belajar sesuatu yang saya tak paham sama sekali, saya menggunakan metoda sami’na wa atho’na. Nanti, metoda berikutnya yang namanya Iqra’ alias belajar dengan menggunakan logika diperlukan untuk mentransformasikan ilmu itu ke dalam pola-pola pikir logis agar bisa dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak.

Persis seperti Sunan Kalijaga yang diminta menjaga tongkatnya Sunan Bonang di pinggir sebuah sungai selama 40 hari 40 malam. Tidak bertanya untuk apa, tidak protes, dijalani saja karena iman. Persis seperti Bruce Lee yang diharuskan guru kungfunya berdiri melatih belajar kuda-kuda, tidak bergerak setiap hari selama seminggu penuh. Ia bosan dan protes mengapa tak dilatih cara menendang, memukul atau bertarung. Gurunya diam saja dan hanya memberi isyarat untuk melanjutkan latihan kuda-kudanya. Logika Bruce Lee menolak tapi keyakinannya membuatnya menuruti gurunya.

Lalu Sunan Kalijaga menjadi anggota Wali Sanga yang paling terkenal. Lalu Bruce Lee jadi bintang martial art Hollywood yang terkenal dan pendiri Jeet Kun Do yang kuda-kudanya terkuat, karena kuda-kuda adalah pondasi mendasar dari semua ilmu beladiri.

Kembali ke pertanyaan awal saya.

Jika engkau ingin sekali untuk naik haji tapi tak punya cukup uang dan harta berharga yang tertinggal hanya sebuah rumah senilai ongkos naik haji, apakah engkau akan tetap memaksakan diri naik haji dengan menjual rumahmu satu-satunya?

Sebuah cerita yang disampaikan oleh ustadz Yusuf Mansur tentang seorang kakek yang nekad menjual rumah satu-satunya karena iman kepada Allah walaupun semua saudara dan anak-anaknya melarangnya, Allah ganti dengan rumah yang lebih bagus dan lebih besar sepulangnya dari ibadah haji.




Jika engkau punya uang yang hanya cukup beli obat sakit kepala setelah Jumatan dan ongkos pulang ke rumah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk menyedekahkannya ke mesjid saat Jumatan?



Saat uang terakhirmu masuk ke kotak amal, resikonya adalah engkau akan pulang jalan kaki dan kemungkinan sakit kepalanya makin parah. Tapi yang pernah saya alami itu tak terjadi, seorang teman tiba-tiba muncul di serambi mesjid menawari untuk mengantar ke rumah setelah sebelumnya menraktir makan siang. Sakit kepala yang tadi bikin senut-senut malah kabur tanpa permisi setelahnya.



Ketika engkau menggenggam lima puluh ribu rupiah untuk membayar biaya sekolah anakmu hari itu dan tiba-tiba tetangga datang meminjam uang itu untuk membayar uang sekolah anaknya, apakah engkau akan memaksakan diri untuk meminjaminya?

Ini juga cerita nyata dari ustadz Yusuf Mansur, sang Ibu yang ikhlas menyedekahkan uang yang sangat diperlukannya itu, tiga bulan kemudian Allah ganti dengan kecukupan biaya sekolah anaknya untuk bulan-bulan berikutnya karena sang anak terpilih untuk menggantikan seorang peserta lomba cerdas cermat yang tiba-tiba sakit dan timnya menjadi juara. Allahu Akbar!


Jika di tanganmu ada sebungkus nasi goreng yang baru saja kau beli dengan uang terakhirmu untuk makan malammu setelah seharian tidak sempat makan karena sibuk dan sejurus langkahmu seorang pengemis mengiba meminta sedekah, apakah engkau akan memaksakan diri untuk memberikan makan malammu dan menyiksa perutmu sampai pagi menjelang?

Dengan senyum yang menghias wajah sang pengemis setelah perutnya kenyang oleh nasi goreng jatahmu, maka terkuaklah pintu langit. Allah takkan menyia-nyiakan hamba-Nya yang telah menolong hamba-Nya yang lain yang lebih lemah. Kejadiannya bisa saja tiba-tiba hpmu menerima sms yang berisi informasi transfer sejumlah uang tertentu yang bisa digunakan makan malam sepuluh hari. Atau di puncak laparmu, seseorang mengetuk pintu dan mengantarkan paket lengkap makan malam tak cuma nasi goreng tapi juga ayam goreng dan buah-buahan pencuci mulutnya sekaligus. Atau tak ada pengganti makan untuk malam itu, tapi Allah dengan kuasa-Nya menghilangkan laparmu sampai besok pagi untuk menghidangkan sarapan paling lezat yang pernah kau rasakan seumur hidupmu.

Saat kita telah melakukan ikhtiar yang terbaik melalui tuntunan-Nya, maka Allah akan menyelesaikan urusan-urusan kita dengan cara-Nya. Cara-cara yang mungkin takkan pernah kita bisa pahami dengan keterbatasan logika kita. Cerita tentang sedekah memang selalu begitu, Allah jualah Sang Maha Perancang Skenario yang sebaik-baiknya.

Kita tidak berhak memaksa orang lain untuk mengikuti prinsip hidup kita, memaksa orang lain untuk berbuat baik. Tidak. Apa yang dilakukan oleh FPI menunjukkan upaya seperti itu hanya akan menimbulkan kekerasan dan permusuhan.

Hak kita adalah memaksa diri kita untuk melakukan kebaikan, memaksa diri untuk berbagi saat kekurangan, memaksa diri untuk menolong orang lain saat kita justru butuh pertolongan. Nanti orang lain akan melihat keteladanan itu dan mengikutinya dengan suka rela dan suka hati.

Lha terus, kebutuhan kita siapa yang mencukupi Mas? Jawaban saya mungkin terdengar naïf, tapi saya yakin Allah yang akan memenuhi kebutuhan kita. Allah saja yang paling pantas kita harapkan dan gantungkan nasib kita.

Inilah sesungguhnya strategi dakwah yang belum banyak diterapkan oleh kita semua. Karena kurangnya keyakinan dan iman atas kekuasaan dan kekayaan Allah, kita ragu-ragu. Kita maju mundur, akhirnya tak jadi berbuat.

Jika engkau bersedia bersikap kejam pada diri sendiri maka alam semesta akan memperlakukanmu dengan lebih mudah. Jika kita terlalu manja, terlalu nyaman dininabobokkan oleh comfort zone, tunggulah saat alam semesta memaksa kita dengan masalah, bencana atau kehilangan sehingga mau tidak mau kita dipaksa harus bangun, dipaksa harus lebih serius menjalani kehidupan.

Marilah kita mulai memaksakan diri melakukan kebaikan. Dengan keyakinan dan kegembiraan. Bismillah…