Mybothsides

Monday, October 25, 2010

Pemilu Raya Adgi Jogja 2010

Buat all member Adgi Jogja: Ikuti Pemilu Raya Ketua Adgi Jogja 2010-2012, dimohon hadir di Sekretariat, Dreamlab Building, Jl. Nogotirto 77B Gamping Sleman, Selasa, 26 Oktober 2010, 15.30-17.00 WIB. Untuk konfirmasi kehadiran dan info lebih lanjut silakan hubungi: Iqbal Rekarupa 08179417881

Sunday, October 24, 2010

Menikmati Godaan Tuhan

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 24 Oktober 2010
Resensi Buku Tuhan Sang Penggoda
Penulis: M. Arief Budiman
Penerbit Galang Press
Cetakan Pertama 2010, 298 Halaman
Harga Rp 46.500,-
''TUHAN aku ingin berbicara dengan Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya bahwa Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan munafik tapi juga benci pada pikiran-pikiran munafik, yaitu pikiran-pikiran yang  tidak berani memikirkan pikiran yang timbul dalam pikirannya atau pikiran-pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.''

Itulah setangkup kegelisahan Ahmad Wahib dalam Catatan Harian Pergolakan Pemikiran Islam tertanggal, 9 Juni 1969 yang bertudung Tuhan, Maklumilah Aku. Dalam larik-larik kalimat itu jelas membekas gurat-gurat kegalauan seorang pemuda kelahiran Madura terhadap nalar ketuhanan. Wahib tenggelam dalam sebuah renungan kelam yang tidak sembarang orang berani menyelam ke sana.

Ritme kegalauan tersebut serasa dilantangkan kembali oleh Arief Budiman dalam Tuhan Sang Penggoda. Memang, sejak membuka halaman pertama buku itu, kesan Wahibian sama sekali tak bisa dielakkan. Roh kemerdekaan berpikir yang diletupkan Wahib pada era 1970-an benar-benar merasuki logika berpikir Budiman.

Hanya jika dibandingkan dengan catatan harian Ahmad Wahib, konstruksi logika berpikir Budiman dalam buku tersebut masih kurang sistematik. Setidaknya itu bisa diurai dari latar keilmuan dan faktor lingkungan. Logika berpikir Budiman diasah di lingkungan akademik lnstitut Seni Indonesia (ISI) sehingga dia bisa menjaring serangkum peristiwa dengan cara jenaka.

Tapi, justru di situlah kelebihan buku Budiman. Dia tidak terjebak pada formalisme doktrinal serta mampu mengesampingkan batas-batas ideologis dan akademis. Sehingga, catatannya - meski meruang-mewaktu - serasa bernyawa, segar, selalu hidup dan berdialektika dengan pembaca di ruang-waktuyang lain.

Apalagi Budiman kerap menggunakan pronomina saya. Dengan begitu, dia telah menerabas rentang psikologis pembaca buku. Walau semula saya merujuk kepada Budiman, saya akan merepresentasikan eksistensi masing-masing pembaca sehingga seolah-olah pembaca terlibat dalam setiap peristiwa yang berkelebat dan mengalami langsung perjalanan rohani tempat kesadaran nurani yang paling hakiki menemukan kesejatian makna. Setiap pembaca adalah saya yang senantiasa bergerilya dalam rimba belantara kehidupan. Dengan begini, ketika membaca Tuhan Sang Penggoda, penting berintrospeksi dan mengevaluasi diri pun amat lempang.

Buku itu merupakan cermin pergulatan hidup Budiman yang terserak dalam rentang waktu 11 tahun, 1998-2009. Waktu yang terasa tidak terlampau panjang sebenarnya untuk menggambarkan secara utuh pola konstruktif kedirian. Namun, dengan kejelian ekstrem, dia sanggup merekam puzzle-puzzle pemikiran atas sengkarut nomena dan fenomena yang dialami saban hari.

Hanya, puzzle pemikiran itu tak disusun secara kronologis, tetapi tematis dengan empat klusterisasi besar: Mencari Jalan Pulang, Menuju Batas Langit, Mencari Rumah Tuhan dan Mengais Remah Kehidupan.

Masing-masing kluster berbicara tentang satu bahasan khusus sehingga satu sama lain dihubungkan seutas benang merah yang membentuk gambaran besar mengenai upaya serius untuk mewujudkan impian dalam kehidupan. Budiman merentangkan impian itu sepanjang jangkauan. Namun, seperti lazimnya mimpi, tak semua mudah dinyata.

Budiman mengobarkan semangat alang-alang. Sebagian besar catatan pemikirannya dilandasi optimisme yang begitu teguh. Nyali yang kukuh. Simak selarik catatan tersebut: ''Tuhan, Engkau baik hati meskipun kadang kurang ajar. Saya tahu Engkau tidak akan menghadirkan keajaiban pada hamba-Mu yang lemah. Karena itu, saya tidak menyerah.'' (him 92).

Begitulah kegupdahan optimistis yang tanpa malu-malu diungkap secara telanjang. Budiman mengemas kegundahan yang bertalu-talu menjadi sebongkah rindu yang begitu menggebu-gebu kepada Tuhan. Persoalan ketuhanan selama ini yang diasumsikan rumit dan berbelit-belit di tangan ajaib Budiman berubah menjadi hal yang mudah seperti air yang mengalir dari dataran tinggi menuju dataran rendah.

Hal lain yang tak kalah dilantangkan Budiman terutama terkait dengan otokritik sosial. Budiman lihai membidik peristiwa anomali sosial secara kocak. Slengekan. Tapi, malah menyemai benih-benih edukatif secara substantial. Laiknya melakukan tembakan ribon, kesalahan seolah ditimpakan liyan, namun justru kembali tertuju kepada diri.

Lihat misalnya, kegelisahan Budiman terhadap budaya instant televisi yang telah meracuni karakter anak-anak: ''Bahwa lingkungan dan media televisi telah mengajari mereka secara otomatis tanpa disadari. Terkadang merasa sebagai Sun Goku, Ksatria Baja Hitam, Saras 008, atau yang lain. Dan, anak-anak hanyalah sekedar kaca jernih pemantul realitas.'' (him. 255)

Menyimak aliran catatan Budiman dalam buku ini kita serasa dituntun untuk mengeja kembali kenaifan, memakzulkan kealpaan, mengevaluasi diri seraya berbenah dan berubah. Masih terbuka kesempatan lempang untuk menginsyafi kekeliruan kembali mengangsur perubahan yang lebih baik. Dan, Budiman telah menggarisbawahi bahwa setiap peristiwayangterjadi, betapa pun buruknya, mesti disyukuri dan diterima dengan besar hati. Sebab, pada akhirnya akan ditemui sintesis betapa Tuhan sebenarnya hanya menggoda.

Rasa-rasanya saat membaca Tuhan Sang Penggoda, kita tersundut pada sebuah keniscayaan sebagai searing banksia yang terus berkelana, mengembara dalam alunan simfoni merdu alam raga demi mengulik misteri kehidupan.

Dan, kita patut angkat topi tinggi-tinggi alas kebersahajaan Budiman memandu kita melakukan ziarah spiritual menikmati godaan Tuhan yang sangat mengasyikkan. Sungguh! (*)

Peresensi:
Saiful Amin Ghofur
Redaktur Jurnal Millah MSI UII
Jogjakarta

Saturday, October 16, 2010

Berbagi Batik Untuk Wasior


Banjir di Wasior tak hanya membuat sedih warganya, tapi juga seluruh anak bangsa negeri ini. Bencana Wasior tak hanya membawa korban dan duka di sana tapi juga di hati kita yang terdalam.

Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat Saudara-saudara kita di Wasior tumbuh semangatnya membangun puing-puing kampung halamannya menjadi Wasior yang lebih baik?

Mari kumpulkan pakaian-pakaian Batik terbaik kita untuk Saudara-saudara terkasih kita di Wasior, kami tunggu sampai 25 Oktober 2010 jam 15.00 WIB ke: Petakumpet, Jl. Kabupaten No. 77B Nogotirto Gamping, Sleman, Yogyakarta, Telp. 0274 6415079

Bisa juga berupa uang yang akan dibelikan pakaian batik baru, silakan transfer ke: Rek. Bank Mandiri No. 1370006999359 an. Rizal Osakananto, konfirmasi atas transfer mohon sms ke Rizal 081328383388.

Wednesday, October 13, 2010

Wedangan #3 Bareng ADGI Jogja


WEDANGAN creative sharing, creative giving yang telah lama dinantikan, akhirnya datang juga. 

Creative event garapan ADGI YOGYAKARTA CHAPTER dan dilaksanakan oleh Rekarupa Unconventional Media Specialist yang akan datang telah masuk pada edisi ketiga.

Marsudi atau Jendral Mukidevic yang lebih akrab dengan sapaan “lik di” (creative director) dan Junno Mahesa (Marketing Communication Officer) PT. Aseli Dagadu Djokdja akan berbagi mengenai pengalaman mereka menjelajahi industri kaos (T shirts). Dengan bermodalkan ide dan kreatifitas kemudian disulap menjadi sebuah produk komersial yang laku keras dipasaran baik di Yogyakarta maupun di Indonesia. “HOLOPIS KUNTUL BARIS Mendulang Gagasan nggak Habi-habis” itulah judul yang mereka pilih. Acara tersebut akan diselenggarakan pada Jum’at 22 Oktober 2010 di Dreamlab Building PT. Petakumpet, Jl. Kabupaten No. 77B, Sleman, Yogyakarta.

Konsep yang dibawa tetap yaitu sebagai wadah berbagi ilmu dan pengalaman bagi mereka para profesional senior industri kreatif khususnya desain grafis dan media belajar mempresentasikan karya, ide dan gagasan bagi para junior desainer grafis. Belajar menghargai profesi yang kita cintai, hal itulah yang menjadi alasan kuat penyelenggara memberi kesempatan kepada hadirin untuk memenuhi kotak amal yang tersedia, isi dari kotak tersebut akan dibagi empat dengan perincian:
25% untuk pembicara sebagai penghargaan atas apa yang telah dibagi/sampaikan,
25% untuk meyediakan sedikit konsumsi saat acara berlangsung,
25% untuk penyelenggara yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengurus acara ini dan
25% disisihkan untuk pelaksanaan creative giving (penyampaian amal secara kreatif/bersedekah dengan material produktif bukan material konsumtif).

Monggo silakan hadir berombongan, semoga manfaat untuk masa depan Anda, membuatnya lebih cerah lagi penuh berkah :)

Tuesday, October 5, 2010

Petakumpet: @pbjogja adalah Event yang Luar Biasa

Desain iklan yg menarik merupakan salah satu hal yang menentukan kesuksesan suatu acara. @pbjogja 2010 sangat beruntung berpartner dengan advertising agency yang sangat tepat, Petakumpet. advertising agency ini adalah The Most Creative Local Agency yang telah memenangi 89 award nasional.

M. Arief Budiman, Managing Director Petakumpet mengatakan, “Sebenarnya tak ada konsep serius dalam mendesain pekerjaan kreatif untuk pesta blogger jogja yang puncaknya berlangsung pada 9 oktober nanti. kita hanya menerjemahkan tema pbjogja 2010 aja, jadi bagaimana mentransformasikan kekuatan budaya lokal jogja ke masa depan dengan tools media online”.

Laki-laki yang biasa dipanggil Arief yang mengaku blogger ini mendukung acara pesta blogger jogja 2010 karena pbjogja adalah event yang luar biasa. pbjogja 2010 digawangi anak-anak muda yang berorientasi masa depan dan menggunakan media online.

Namun secara serius ia mengatakan, tujuan utamanya berpartisipasi di pbjogja ia ingin bersilaturrahim dengan para blogger. Utamanya karena ia ngefans dengan @hermansaksono (Ketua Pesta Blogger Jogja 2010). “Ia guru blogger saya, “tambahnya. 

Petakumpet saat ini merupakan agency iklan terbesar di kota pelajar itu. Kesuksesan Petakumpet bukan tiba-tiba. namun melalui proses yang panjang. petakumpet berdiri pada pada 1 Mei 1995. Sebenarnya petakumpet adalah nama angkatan ‘94 Diskomvis FSR ISI Jogja. Menurut Arief, nggak ada konsep tertentu, nama itu dipilih karena unik, lucu, different. Banyak nama yang lebih gagah sebetulnya, tapi tak seunik Petakumpet. Saat jadi perusahaan, pemakaian nama Petakumpet itu adalah sebuah penghormatan pada sejarah.

Waktu itu semua “member” komunitas masih berstatus mahasiswa. Petakumpet saat itu baru memproduksi stiker, sablon, poster, spanduk, dan komik. Karena saat itu belum ada social media, publik mengenal petak umpet pelan-pelan dari mulut ke telinga. komunitas terus berkembang. maka pada september 1999, lima orang member-nya: Itok, Arief, Eri, Yudi, dan Bagoes, sepakat mengubah komunitas tersebut menjadi perusahaan yang berbadan hukum.

Perubahan signifikannya, mulai ada aturan main, prosedur kerja, job descriptions dan gaji yang jelas. Dengan hanya bermodal dua komputer 386 DX, satu scanner, satu printer, dan sebuah kompresor, markas dipindah dari pakuncen ke rumah yang harus ditempuh melewati gang sempit di daerah sorowajan.


Tak hanya advertising, petak umpet sampai sekarang mengerjakan hal yang berhubungan dengan illustration dan multimedia. Arief yang punya akun twitter: @mybothsides tersebut menganggap bisnis ide adalah bisnis yang paling murah karena tak harus mengeluarkan modal rupiah. 

Namun sekarang @petakumpet telah berkembang begitu pesat. Dari awalnya 12 institusi dan personal, kini lebih dari 350 klien. Petakumpet juga sudah memiliki dua kantor besar di sleman, jogja, dan di bellagio boutique mall, mega kuningan, jakarta. Ini berkaitan dengan komitmennya untuk memberikan yang terbaik buat kliennya. Seperti tampak pada banner di webnya, semurah apapun, iklan jelek tetap lebih mahal ketimbang iklan yang baik.

Selain sibuk aktif mengurus bisnis, petakumpet juga mempunyai program petakumpet creative giving berupa Parcel on The Street. ini merupakan kegiatan sosial dengan membagi-bagi parcel kepada anak-anak jalanan. seperti yang dilakukan sekarang ini. 

Mengenai program ini Arief menceritakan begini, “Kegiatan tersebut diawali dari konsep bahwa rejeki itu Tuhan yg punya. Daripada hanya kirim parcel ke klien dan pejabat, sebaiknya dikirim aja ke saudara-saudara kita di jalanan yang mungkin belum pernah terima parcel seumur hidupnya. Karena Tuhan bilang, jika engkau ingin ditolong Tuhan maka tolonglah saudara-saudaramu yang lebih susah”.

Perbincangan via instant messanger ini sempat terputus dua kali karena ia sangat sibuknya.

*Artikel di atas berasal dari sini.