Mybothsides

Sunday, April 18, 2010

Kunci Sukses Bisnis (4)

Jumpa lagi teman-teman. Kemarin saya merencanakan untuk menuliskan lanjutan seri ini dari Lampung, sayangnya kesempatannya tak memungkinkan karena last minute saya kepikiran ide untuk mengubah presentasi saya untuk seminar creativepreneur di Unila. Padahal materi seminar udah ready sejak dari Jogja. Ya udahlah, saya mengalah pada slogan good is not enough. Dan baru sekarang bisa mulai tune in lagi.
 

Pada suatu hari di awal-awal saat memulai bisnis dulu, saya ketemu masalah seperti ini: saya janjian dengan 3 orang di Jakarta. Saat itu posisi saya di Jogja tanpa banyak kenalan di Jakarta dan cekak banget dananya. Begini jadualnya: Pak A janji ketemu hari Senin siang, Pak B hari Rabu pagi dan Bu C di hari Jumat sore. Jika saya mau gampang, saya harus berangkat naik kereta Minggu malam dan menginap di Jakarta 5 hari dan pulang Jumat malam. Sayanya yang bingung: nginep dimana, biaya makannya dimana? Duh ribet, padahal janjiannya udah di-arrange lama dan posisi orang yang mau saya temui itu Boss-boss semua untuk penawaran kerjaan promosi. Saya harus mengikuti jadual mereka, saya tak kuasa menentukan jadual karena saya yang butuh.

Pusinglah saya memikirkan jadual yang mustahil itu. Sampai seminggu menjelang harinya, saya ketemu seorang teman,yang ilmu agamanya lumayan. Karena belum menemukan solusi, saya pun curhat padanya. Teman saya mengangguk-angguk lalu bertanya,"Jadual sholatmu gimana?"

"Jadual sholat? Apa hubungannya?" saya keheranan.

"Sholat subuh jam berapa?" tanpa menjawab pertanyaan saya, dia meneruskan pertanyaannya.

" Errr... Jam setengah enam, jam enam. Sebangunnya lah.. Kenapa," jawab saya.

" Sholat dhuhur jam berapa?"

"Dhuhur? Jadual sholat dhuhur ya jam 12 lah..." jawab saya.

"Bukan, jadual sholat dhuhurmu jam berapa?" ia terus mendesak.

" Oooh, jam dua kadang setengah tiga biar langsung Asar. Eh, tapi apa hubungannya dengan masalahku tadi?" saya makin heran.

Temen saya tersenyum dan berkata,"Pantas jadual hidupmu berantakan."

"Lhooo.. kok? Apa hubungannya?" saya tambah bingung.

"Kamu bener mau beresin masalahmu minggu depan ke Jakarta?" tanyanya lagi.

"Lha iya, makanya saya tadi cerita...," saya menyahut.

"Beresin dulu jadual sholat wajibmu. Jangan terlambat sholat, jangan ditunda-tunda, klo bisa jamaah," jawabnya.

"Kok.. hubungannya apa?" saya makin penasaran.

"Kerjain aja dulu kalo mau. Enggak juga gak papa, yang punya masalah kan bukan aku...," jawabnya.

Saya pun pamit, jawabannya tak memuaskan hati saya. Joko sembung naik ojek, pikir saya. Gak nyambung, Jek. Saya pun mencari cara lain sambil mengumpulkan uang saku buat berangkat yang emang mepet. Tapi sehari itu rasanya buntu, buntu banget. Sampai saya berfikir, ok deh saya coba sarannya. Toh gak ada resiko apa-apa. Tapi ternyata beratnya minta ampun, sholat tepat waktu berat jika kita terbiasa malas-malasan, mengakhirkan pelaksanaannya. Tapi udahlah, tinggal enam hari ini.

Dua hari berjalan, tak terjadi apa-apa. Makin yakin saya bahwa saran teman saya itu tidak berguna. Tapi pada hari ketiga, hp berdering. Dari asisten Pak A,"Mas, mohon maaf sebelumnya. Tapi Pak A belum bisa ketemu hari Senin besok,. Ada rapat mendadak dengan direksi. Saya belum tahu kapan bisa ketemunya, nanti saya kabari lagi."

Di ujung telepon saya ternganga, bukannya jadual saya makin teratur ini malah ada kemungkinan di-cancel. Makin jauh logika saya menemukan solusinya, tapi apa daya. Karena bingung, saya pun terus melanjutkan sholat saya sesuai jadualnya.

Di hari berikutnya, hp saya berdering kembali. Dari sekretaris Pak B,"Mas, semoga belum beli tiket ya? Pak B ternyata ada hjadual general check up Rabu depan jadinya gak bisa ketemu. Tadi Bapak nanya bisa nggak ketemu Jumat aja, jamnya ngikut Mas."

Yang ini saya bener-bener terkejut. Jumat? Kan bareng harinya ama Bu C? Saya pun menyahut,"O iya, tidak apa-apa Pak. Jumat pagi gitu, jam 9 bisa ya?"

Dari seberang sana dia menjawab,"OK Mas, nanti saya sampaikan."

Syeep, batin saya berteriak senang. Belum hilang rasa kaget saya, hp saya berbunyi lagi. Sebuah sms masuk, bunyinya: Mas, Pak A minta ketemuannya hari Jumat setelah Jumatan. Jam 13.30. Diusahakan ya Mas, tidak lama kok. 1 jam cukup.

Saya makin heran! Tanpa campur tangan saya sama sekali, itu jadual menyusun dirinya sendiri. Jadilah saya berangkat Kamis malam, ketemu 3 orang di hari Jumat dan Jumat malem bisa balik ke Jogja tanpa menginap!

Saya sujud sesujud-sujudnya. Keajaiban model begini takkan bisa didapatkan dari Seven Habits-nya Stephen Covey, tidak juga dari Eight Habbits. Hanya Allah yang kuasa mengatur segala sesuatu dari arsy-Nya sana.

Sampai saya meyakin satu hal yang sampai sekarang saya usahakan terus jalani: Dahulukan jadual waktumu untuk Tuhan maka Tuhan akan mengatur jadual hidupmu sebaik-baiknya.

Karena saya muslim, saya coba konfirmasikan ini ke beberapa teman non muslim dan mereka menyetujuinya. Jika dalam hidup ini kita mengutamakan Tuhan, maka Tuhan akan menjaga betul hidup kita. Tuhan itu mengikuti perlakuan kita kepadanya, makin disiplin kita menyambut-Nya, makin bereslah jadual hidup kita.

Jadi, kunci sukses bisnis ke-3 yang saya bisa share ke teman-teman: Sholatlah tepat waktu, usahakan jamaah. Jika mau lebih top, tambahin sholat sunnahnya: qobliyah, bakdiyah, tahajjud, dhuha, semampunya.

Silakan dipraktekkan, Insya Allah jadual kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan nyaman dijalani. Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah 24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika kita tak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tak kemrungsung, tak buru-buru tapi tanggung jawab terjalani dengan baik.

Jika suatu hari saya menemukan jadual saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadual sholat saya. Pasti disitulah masalahnya dan saya harus segera beresin sehingga jadual saya akan teratur lagi sebaik-baiknya. Seperti teman-teman sekalian, istiqomah alias konsisten menjalankan ini tentu banyak godaannya. Tapi kalo gak pake godaan, pasti semua orang akan sukses dong. Jadi emang mesti tough, kuat menjalaninya, jangan malas, jangan cengeng.

OK, next saya akan cerita kunci sukses bisnis berikutnya. Bagaimana membangun bisnis itu tidak boleh grusa-grusu, buru-buru diambil untungnya. Bisnis tak bisa dibangun dengan keserakahan dan jika pun mulai nampak untungnya, kita pun tak boleh sembarangan memakainya. 

Untuk membangun sukses bisnis yang tak terbatas, kita harus pintar membatasi diri.

Apa maksudnya? Saya akan jelaskan lebih detailnya pada kesempatan berikutnya. Jangan berhenti bersabar, saya berdoa untuk kebaikan teman-teman sekalian yang telah berkunjung. Semoga bermanfaat kita akan ketemu lagi, Insya Allah

Saya mau ngopi dulu, rehat sejenak. Untuk berlari lagi besok, meminjam energi-Nya :)

Sumber images: http://pantjasurya.files.wordpress.com/2009/08/kerja-stress.jpg // http://yudhaindrawan.files.wordpress.com/2009/11/anak-perjuangan.jpg // http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/45/A_small_cup_of_coffee.JPG

Sunday, April 11, 2010

Kunci Sukses Bisnis (3)

Sempat terjadi dalam periode kehidupan saya saat awal-awal bersama teman-teman memulai Petakumpet, waktu 24 jam sehari rasanya tak cukup. Hari-hari itu begitu melelahkannya, rasanya tak kuat saya menyelesaikan begitu banyak tanggung jawab menyangkut komunitas, pekerjaan, kehidupan persoanl saya yang berantakan. Saya pun mengadu pada Allah,"Ya Allah, jika sehari bisa lebih dari 24 jam rasanya saya akan punya kesempatan lebih banyak untuk menyelesaikan semua tanggung jawab saya..."

Tapi rasanya Allah tak mendengar doa saya. Atau saya nya yang tak punya kemampuan mendengarkan-Nya. Pekerjaan seperti nya mengalir tak habis-habis, ada duitnya emang, tapi duit nya pun mengalir lancar keluar tak pernah terpegang barang sebentar. Hidup saya begitu capeknya, badan pegel-pegel tiap malam, Sabtu Minggu pun dihajar pekerjaan.

Saat-saat seperti itu, saya melihat buku karangan Stephen Covey The Seven Habits of Highly Effective Peopledi Shopping Center (pusat buku murah) Jogja. Dengan uang tersisa saya pun memaksakan diri membelinya. Resikonya saya tahu pasti: jatah makan pun harus berkurang baik kuantitas maupun kualitasnya.
Buku itu memberikan begitu banyak pencerahan untuk manajemen waktu saya, saya akan coba kutipkan beberapa tipsnya Om Covey: 

1. Bersikap Proaktif
Saat ketemu masalah, kita bisa memilih bersikap reaktif atau proaktif. Kita reaktif saat cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan yang sulit. Sikap proaktif adalah bertanggung jawab atas setiapsegi kehidupan kita, membuat kita mengambil inisiatif dan tindakan. Dengan sikap proaktif, kita tidak membiarkan diri terhanyut oleh keadaan, tetapi justru kita yang mengendalikan keadaan. Dalam konsep stimulus dan respons, keadaan adalah stimulus yang tidak dapat dikendalikan, tetapi manusia mempunyai daya untuk memilih respons apa yang akan dia ambil.

2. Menentukan Tujuan Akhir
Banyak orang memiliki cita-cita dan tujuan hidup, tetapi sedikit yang mampu memvisualisasikan dan menuangkan visi hidupnya itu dalam suatu pernyataan. Dengan membuat Pernyataan Misi Pribadi, kita dibantu untuk berkonsentrasi dan mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi apa yang akan dihadapi sebelum kita bertindak.
 
3. Dahulukan Yang Utama
Kita harus mempunyai skala prioritas untuk tujuan-tujuan jangka pendek, dengan tidak melupakan tugas-tugas yang walaupun terlihat tidak mendesak tetapi ternyata penting. Dengan sempitnya waktu, seorang pemimpin harus mampu mendelegasikan sebagian tugasnya. Pendelegasian tersebut akan efektif bila sejak awal ada kesepakatan hasil yang ingin dituju, jadi bukan semata rincian rencana kerja dari atas.

4. Berfikir Saling Memenangkan
Bila kita terbiasa memikirkan solusi yang saling menguntungkan (win-win solution) bagi kedua belah pihak, maka kita dapat meningkatkan hubungan kerja sama yang lebih efektif dalam mencapai tujuan. Merasa menang sendiri itu mungkin menyenangkan tapi hanya sesaat, sekalinya ada pihak yang merasa dikalahkan dalam sebuah hubungan maka rapuhlah hubungan itu, tak akan berdimensi jangka panjang.

5. Berusaha Mengerti Dulu, Baru Dimengerti
Bila kita memberi suatu nasehat tanpa berempati atau tanpa memahami situasi orang tersebut, kemungkinan besar nasehat tersebut akan ditolak atau tidak berguna. Maka biasakan untuk “paham dulu baru bicara” agar komunikasi berjalan dengan efektif. Mendengarkan adalah ibu dari pemahaman, modal terbesar sebelum didengarkan.

6. Bersinergi
Berusahalah untuk mencapai sinergi positif bila bekerja dalam tim. Perbedaan nilai-nilai yang ada harus dihormati, dibangun kekuatannya, dan saling men-support kelemahan masing-masing. Memaksimalkan potensi dan kontribusi setiap anggota tim. Jika sinergi dapat dicapai, maka hasil satu tim lebih besar daripada hasil anggota bila bekerja sendiri-sendiri. Ingat TEAM adalah Together Everyone Acieves More.

7. Asahlah Gergajimu

Kebiasaan ini berfokus pada pembaharuan diri secara mental, fisik, emosional/sosial, dan spiritual yang seimbang. Untuk dapat terus produktif, seseorang juga harus menyegarkan dirinya dengan memiliki aktivitas-aktivitas rekreasi. Jangan sampai pekerjaan yang menggunung membuat burn out, selingi dengan belajar, memperbaharui ilmu dan me-refresh otak agar siap bertempur kembali.

Begitulah, berbekal tips dari Om Covey saya mencoba memperbaiki jadual hidup saya. Alhamdulillah pelan-pelan mulai tertata. Tapi namanya manusia, ini pun pasang surut. Disiplin pribadi adalah bagian tersulit dari setiap perjalanan untuk mewujudkan sukses di masa depan.

Sampai akhirnya saya pun mencapai satu titik pemahaman, bahwa logika dan kebiasaan baik yang saya jalani ini - termasuk setelah menerapkan saran-sarannya Om Covey - belumlah cukup karena kesalahan saya sendiri: cita-cita saya yang terlalu besar butuh persiapan yang extra ordinary. Jadi setelah saya tata pekerjaan-pekerjaan saya, awalnya memang tertata. Lalu jumlah pekerjaan itu makin banyak menggunung, saya tata sedemikian rupa pun: tak terselesaikan juga. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun saya menjadi budak atas cita-cita saya sendiri. Saya bekerja bagai kuda, tak menikmati prosesnya yan penting rampung tanggung jawab untuk menuju tahapan berikutnya. Saya kembali kecapekan, jiwa raga.

Sampai suatu hari saya menemukan beberapa ciri-ciri yang dikemukakan Ustadz Yusuf Mansur dalam kehidupan saya: sibuk tiada henti, kurang tiada cukup, rugi tiada untung

Begitulah, saya sibuk tiada henti. Pekerjaan satu belum selesai datang lagi pekerjaan berikutnya. Presentasi ke satu klien sedang berjalan, hp sudah berbunyi karena klien berikutnya sudah tidak sabar nunggu. Jadual berantakan, banyak acara penting datangnya barengan, seolah-olah solusi yang tersedia adalah menjadi amuba yang bisa membelah diri jadi dua atau sepuluh. Saya ditarik ke kanan, ditarik ke kiri rasanya tak punya hak untuk menentukan jadual sendiri. Seringkali dalam kondisi pikiran penuh dan penat, badan luluh lantak tapi harus pasang senyum manis di depan klien yang tak ramah, sampai sebuah lagu dangdut pun menyindir: itu senyum membawa luka. Saya tak punya lagi waktu baca buku, nulis catatan harian apalagi nonton film. Saya sibuk sesibuk-sibuknya, terlihat sukses di luaran karena jarang bisa ketemu jika janjian tapi sungguh menderita di dalam. Tidur pun jadi begitu mahal buat saya padahal jiwa raga saya sudah ringsek seringsek-ringsiknya.


Dan anehnya lagi, rejeki saya tidak bisa terjamin karena kerja keras itu. Betul bahwa puluhan bahkan ratusan juta rupiah bersliweran saat itu tapi rasanya cuma numpang lewat aja di rekening. Berapapun uang yang kita terima, selalu kurang untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga saat kantor butuh komputer baru untuk mengimbangi permintaan, terpaksa hutang atau kredit. Bahkan saat sakit dan harus periksa ke dokter dan butuh obat ratusan ribu rupiah, uangnya tak tersedia. Klien yang harusnya bayar sekian juta saat itu - sehingga bisa dikasbon dulu untuk beli obat - tak ada kabarnya, ditelepon tidak aktif, didatangi kantornya sepi. Jadual masuknya uang seringkali tidak tepat waktu sesuai kebutuhan. Saat perlu banget, kas malah kosong. Hari-hari saya diisi kepanikan karena takut mengecewakan orang lain, mengecewakan klien, saya selalu merasa kekurangan tak pernah cukup.


Lalu puncaknya, kerugian demi kerugian melengkapi penderitaan saya. Tadi saya cerita di awal, beberapa komputer didatangkan dengan kredit untuk memenuhi permintaan pekerjaan. Tapi justru pekerjaannya itu malah ada aja yang keliru, lalu dikomplain, jika bukan kita yang salah malah kliennya yang mencari cara agar bisa bayar murah dengan mencari-cari kesalahan. Bikin divisi bisnis baru untuk mengembangkan sayap, bangkrut juga. Hanguslah ratusan juta. Sehingga karena cash flow tak lancar, kita pun makin menumpuk hutang untuk memenuhi tanggung jawab. Seringkali di akhir hari menjelang tidur, saya berfikir ini gimana ceritanya bikin perusahaan biar bisa mandiri dan menolong banyak orang malah jadi menyusahkan diri sendiri begini. Pengennya untung malah buntung, duuuhhh....


Setelah saya bercermin pada apa yang saya lakukan setiap hari, saya coba mengambil jarak dari semua masalah-masalah berat yang hadir, ketemulah saya sebabnya mengapa saya jadi begini. Ketemulah saya asal-muasal mengapa hidup saya minus, rugi melulu, panik terus-menerus, rasanya kurang dan selalu kelelahan mengejar cita-cita.

Dan tahun-tahun pun berlalu....


Alhamdulillah hari ini saya masih bisa menyelesaikan baca 3-5 buku setiap minggu. Nonton film pun bisa sekali seminggu. Setiap sore masih sempat ngopi atau ngeteh dengan tenang, kerjaan di kantor juga ada aja dan sangat sangat sangat jarang komplain-nya. Saya bertanggung jawab atas pekerjaan yang lebih banyak saat ini dibanding dulu tapi saya lebih bisa menikmati prosesnya, tak terburu-buru, tak panik, tidak kelelahan di ujung hari. Hidup saya lebih tenang, lebih damai.


Ok, cerita saya masih akan berlanjut. Apa yang diperlukan untuk mengendalikan kesibukan, mengundang keuntungan dan mendapatkan waktu yang cukup untuk menikmatinya?

Pesan saya masih sama: sabar ya nunggunya. Kisah yang saya sampaikan ini berlangsung bertahun-tahun, jadi menunggu beberapa hari untuk tahu jawabannya rasanya tak lama.

Tetap semangat menyapa hari Senin, kuatkan doanya maksimalkan ikhtiarnya. Percayalah keajaiban akan selalu hadir jika kita mau mengundangnya, dengan kesungguhan menengadahkan tangan kepada-Nya, sambil berbagi pada sesama semampu kita. Semaksimal kemampuan kita. Seperti teman-teman semua, saya pun harus kembali bekerja. Salam :)
Notes:
Uraian ttg 7 Habbits of Highly Effective People dilengkapi juga dari http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_10539/title_the-seven-habits-of-highly-effective-people/

Saturday, April 3, 2010

Kunci Sukses Bisnis (2)

Kita ini terlalu lama terkungkung standar keilmuan modern sehingga paling hobi dan paling percaya pada kerumitan sebuah formula. Coba cek ke konsultan-konsultan itu, formula mereka sebagian besar - emang tidak semua - biasanya begitu kompleks. Makin kompleks, makin terlihat betapa cerdas konsultannya. Makin klien terpukau oleh kelihaian presentasi dan banyaknya jargon ilmiah, makin mahal harganya. Banyak orang berlindung di balik data-data dan kutipan-kutipan untuk menyembunyikan kegagalannya memahami substansi persoalan.

Saya percaya, bahwa kecerdasan seseorang tergantung dari kemampuannya untuk membuat persoalan serumit apapun menjadi sederhana. Makin sederhana makin jenius lah orang. Steve Jobs bilang: simplicity is the ultimate sophistication.


OK. Karena apa yang akan saya sampaikan ini adalah hal-hal yang sederhana, yang kita pernah dengar atau tahu suatu waktu dan sebagian besar menafikannya karena merasa kegunaannya yang terbatas pada teritory tertentu, tak berhubungan dengan dunia bisnis.
 
Dan kunci sukses bisnis ini - to be honest - saya peroleh dari pemahaman sederhana atas dasar-dasar Islam. Sebuah agama indah yang sering disalahartikan sebagai agamanya agen kekerasan dan terorisme. Padahal sesungguhnya, Islam adalah agama kehidupan, yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamien)
  
Kunci sukses ini sebangun dengan Rukun Islam, ada lima macamnya:
    1.    Mengucap dua kalimat syahadat (Keyakinan)
    2.    Menunaikan sholat wajib (Manajemen Waktu)
    3.    Mengeluarkan zakat (Berbagi)
    4.    Berpuasa di bulan Ramadhan (Menahan diri)
    5.    Menunaikan Haji (Mengikhlaskan)

Keyakinan

 
Keyakinan itu pondasi terpenting dalam membangun bisnis. Tanpa keyakinan, bisa jadi yang kita lakukan adalah upaya dagang semata alias mengambil untung saja dalam kegiatan yang kita anggap bisnis. Saat situasi lagi bagus, kita akan semangat sekali untuk berbisnis karena hasilnya melimpah. Tapi saat krisis datang dan prospek bisnis yang kita pilih tanpa keyakinan itu mulai oleng dan merugi, pilihan paling mudah bisanya adalah menutup bisnis itu dan nyoba bikin bisnis baru lagi. Hanya kurang dari 20% bisnis pemula yang bisa bertahan melewati 5 tahun pertamanya. 80% nya rontok tinggal nama.

Dan seringkali mereka yang tidak lulus uji bisa dirunut dari alasan yang sama: tidak yakin, putus asa, kurang keras kepala, tidak tahan menderita. Tak ada bisnis yang tutup karena krisis, dihancurkan kompetitor atau tidak didukung pemerintah. Tidak ada. Yang ada hanyalah pengelola bisnis yang gentar untuk bangkit lagi, takut melewati kegagalan, ciut nyali menghadapi krisis sehingga akhirnya menyerah. Alasan sebetulnya adalah karena pemilik cita-cita itu telah menyerah, alasan lainnya hanyalah pelengkap.

Kembali ke masalah keyakinan, untuk yang beragama Islam maka keyakinan itu mengacu pada 2 hal terpenting: keyakinan terhadap Allah Sang Maha Segala dan Muhammad Rasul-Nya untuk tuntunannya pada umat setelahnya, ya kita-kita ini.

Misalnya begini: keyakinan bahwa sumber rejeki satu-satunya itu dari Allah, yang lain-lainnya itu hanya kran salurannya saja. Sehingga kita tenang menjemput rejeki, memaksimalkan kreativitas kita di jalan yang benar dan tidak aneh-aneh. Kita juga tak menggantungkan nasib secara berlebihan pada dunia, pada kolega, pada klien, pada makelar, pada dukun (baik klenik maupun modern), pada pemerintah, pada yang selain-Nya.

Sudah berulang kali terjadi pada orang-orang di sekitar saya cerita sedih yang kira-kira rangkumannya begini: si A ingin anaknya bisa masuk tentara (atau polisi atau pegawai negeri atau guru atau jabatan pemerintah lainnya) dan tidak yakin untuk mengikuti seleksi secara wajar. Maka dicarilah orang-orang tertentu yang bisa 'mengantarkan' anaknya lewat jalur belakang. Ini disebabkan keyakinannya pada sang pengantar, bukan pada Tuhan. Maka sang pengantarpun minta uang saku (misalnya 80 juta dibayar setengahnya di depan, setengahnya jika sudah diterima). Padahal jika ikut jalur seleksi wajar biayanya tak sampai 1 juta rupiah. 

Seringkalinya uang suap itu menguap dengan berbagai alasan dan sang penyuap tidak bisa memintanya kembali. Misalnya si anak sudah 'diantar' sampai ke tahapan tertentu tapi kesehatannya gagal, atau bahkan karena ada anak yang lain dengan suap yang lebih tinggi nilainya macam lelang. Jika pun berhasil masuk, kita semua tahulah kualitas macam apa si pendaftar.Dan karena praktek macam begini dianggap biasa oleh banyak orang, maka korupsi kecil-kecilan untuk balikin modal pun dianggap wajar pula. Padahal siapapun tahu, apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Jika yang kita tamam pohon beracun, maka racun itulah yang akan kita tuai sampai akhirnya membunuh kita karena memang sifat racun begitu.

Apa yang terjadi saat ini di institusi Polri, Gayus Tambunan, konsultan pajak palsu, Dirjen Perpajakan itu akar masalahnya bisa jadi dari cara mendaftarnya yang sudah salah dari awal. Dan racun itu mulai memperlihatkan keampuhannya ketika satu per satu mereka dibawa ke ruang pemeriksaan, menjadi terperiksa atau tersangka, dicopot jabatannya, tak bisa menikmati milyaran uang yang dikorupsinya karena Tuhan pindahkan mereka ke dalam sel yang pengap. Hanya soal waktu saja nanti semua yang menanam racun akan meminum sendiri buahnya.


Yang kedua, menyangkut tauladan Nabi Muhammad SAW. Jika kita mau mengikuti cara dan gaya Nabi semasa beliau hidup dulu, rasanya takkan ada masalah yang berat dan rumit dalam kehidupan kita. Ini memang sulit, saya pun tidak selalu bisa istiqomah. Misalnya tentang bisnis, bahwa kita tidak boleh mengurangi timbangan dan wajib memberitahukan pada pembeli jika pada barang dagangan kita ada cacatnya, ada rusaknya. Jadi yang dikejar pertama adalah kepercayaan, trust. Bukan keuntungan. Bisa jadi jika diterapkan dengan betul, keuntungan awal malah berkurang. Tapi yang sedikit ini akan mengumpul dan bisa kita nikmati bukitnya karena caranya betul, bersih. Tapi memang tidak instant.


Kita lihat praktek bisnis saat ini: mengurangi timbangan itu sama dengan kontraktor yang mengurangi spesifikasi bangunan, jalan, jembatan, dsb. Saya pernah dengar cerita tentang kontrak pembuatan jalan aspal sepanjang puluhan kilometer yang dikurangi lebarnya 40 cm saja dan ketebalannya 3 cm saja itu bisa menguntungkan pemborongnya milyaran. Dan pelakukanya merasa sah-sah saja karena kontraktor lain juga begitu, sama saja, sami mawon. Lha jika tidak mengurangi spesifikasi, untungnya dari mana Mas?


Ok, tapi saat waktu berlalu, saat gempa menerjang banyak perumahan roboh dan ketahuan lah semua belang kontraktornya yang akhirnya dituntut warga untuk bertanggung jawab. Karena uang sudah ludes, menghilanglah sang kontraktor dan jadi buronan polisi. Para pejabat yang mengurangi ukuran jalan pun akhirnya ketahuan meskipun tak sengaja. Saat terjadi kecelakaan di sebuah ruas jalan yang berlubang karena emang tipis aspalnya, polisi pun mulai mengukur dengan cermat. Ia pun harus dipecat karena ketahuan korupsi, lalu bareng sama kontraktornya sebelahan kost di ruang berterali besi. 
Kasus Gayus Tambunan pun apalah bedanya. 28 milyar uang panas di rekeningnya - karena emang bukan hak dia - tak kan bisa dinikmati. Biarpun rumahnya mewah luar biasa, biarpun sering keluar negeri, biarpun punya keluarga bahagia: ia harus mendekam sendirian di dalam sel penjara. Kekayaan tidak halal yang dikumpulkannya bakal jadi kenangan buruk semata atas semua tindakan salahnya di masa lalu.


Yang terpenting lagi, dalam berbisnis kita harus mendahulukan keyakinan kita, bahwa Allah dan Rasul-Nya itulah yang utama, bukan yang lain-lain. Jika ada sebuah kesepakatan bisnis yang sesuai tuntutan-Nya ayolah Bismillah kita jalani. Tapi jika tidak, alias nyerempet-nyerempet wilayah tdak sah: tinggalkan apapun resikonya.


Jika hari ini kurang 3 hari lagi kantor kita harus menggaji karyawan 25 juta tapi belum tersedia uangnya. Lalu ada seorang klien (manajer) meminta dibuatkan sebuah proyek untuk perusahaan dengan keuntungan 50 juta tapi meminta fee 15% dari jasanya itu untuk dia pribadi: tinggalkan.


Jika seminggu lagi kita harus bayar hutang 10 juta dan sekarang di laci ada uang kelebihan proyek yang menjadi tanggung jawab kita sebesar 30 juta yang kita bisa sulap laporan keuangannya dan masih dapat pujian pimpinan karena kelebihan 20 juta: tinggalkan.


Jika kita telah melewati sekian tahapan yang sulit untuk menjadi pegawai negeri dan tinggal posisi penentuan dimana ada 2 orang kandidat dan hanya dipilih 1 orang, sang penguji akhir menawarkan untuk langsung diterima dengan membayar 10 juta lagi, bukan 70 juta karena ini sudah seleksi akhir: tinggalkan.


Lha lalu gimana nasib karyawan yang terancam gajiannya, gimana nanti debt collector yang harus kita hadapi dan gimana jika jadi pengangguran lagi karena sok suci begitu? 


Bismillah, saya yakinnya begitu. Yang pernah saya alami, nanti Allah akan hadirkan gantinya yang lebih baik, yang jauuuuh lebih baik, yang seringkali di luar perkiraan kita semua. Ilmu kita bukan ilmu Allah dan Allah tahu mengenai kebutuhan kita lebih dari diri kita sendiri yang seringkali mengandalkan logika doang saat ditimpa kesulitan hidup. Cara-cara-Nya yang luar biasa akan menghadirkan jalan keluar. Apa itu? 

Misalnya pas tanggalnya gajian ada tagihan lama yang kita udah lupa tiba-tiba ditransfer, lomba yang kita ikuti menang puluhan juta, klien lainnya datang ngasih pelunasan sebelum pekerjaan mulai. Misalnya untuk urusan hutang, sampai waktunya kita gak punya uang, debt collector-nya dibikin Allah gak dateng, jika pun dateng masih bisa di-nego lagi. Lalu jika malah pengangguran gak keterima PNS, malah ditawarin buka usaha sama teman lama, malah bisa melaporkan praktek suap yang membersihkan departemen itu, hal-hal semacam itu atau bahkan lebih ajaib lagi yang akan terjadi.
 

Yang kita perlukan hanyalah keyakinan dan kesabaran. Kombinasi dua hal itu sungguh luar biasa tak terkalahkan. Keyakinan untuk selalu mendahulukan Allah dan Rasul-Nya: kunci sukses bisnis yang pertama.


Di tulisan berikutnya saya akan cerita tentang kunci sukses kedua: manajemen waktu. Saya akan bahas dari sudut pandang Stephen Covey (Seven Habits of Highly Effective People) dan satu metode lagi yang jauh lebih canggih dari sistem itu. Jangan berkurang kesabaran untuk menunggu, hal-hal baik akan datang untuk orang-orang yang sabar.


Selamat liburan, isilah dengan dengan rekreasi (re-creation): kegiatan ringan yang meningkatkan kreativitas kita kembali. Doa saya untuk teman-teman sekalian, semoga makin fresh di Senin besok. Salam :)


Notes: Image Steve Jobs dari http://virgintech.org/wp-content/uploads/2009/04/presentation.jpg // Foto Gayus Tambunan pinjem dari http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/03/31/1638214p.jpg // Foto sholat jamaah pinjem dari http://missdhani.files.wordpress.com/2009/06/menghadap-sang-pemberi-rezeki_733_l.jpg

Thursday, April 1, 2010

Kunci Sukses Bisnis (1)

Apa yang akan saya share dengan tulisan berseri ini adalah pemahaman sederhana saya atas beberapa hal yang mendasar dalam membangun kesuksesan, utamanya setelah bercermin saat banyak kejadian menimpa bisnis dan usaha yang saya geluti bersama teman-teman, keberhasilan maupun kegagalannya. Seperti yang pernah dikatakan oleh beberapa pengusaha yang telah puluhan tahun jatuh bangun: perjalanan membangun bisnis adalah perjalanan spiritual menuju Tuhan.

Sesungguhnya saya masih khawatir bahwa setelah saya tuliskan kunci-kunci yang mendasari kesuksesan ini, Anda akan meninggalkannya dan menganggapnya biasa saja, tak ada yang baru. Saya pun dulu menganggapnya begitu, kunci sukses ini telah saya tahu dari jaman kanak-kanak dulu. Tapi nyatanya, setelah usia beranjak saya baru pada tahapan tahu, belum memahami, apalagi mempraktekkannya.

Anda pun mungkin bisa menebak-nebak apa kunci yang akan saya sampaikan, ada 5 jumlahnya. Keyakinan saya mengatakan, kunci sukses inilah - jika saya dan teman-teman di Petakumpet menjalankan dengan penuh keyakinan - akan membawa perusahaan ini menjadi The Most Admired Company in The World pada 2020. 


Mengapa saya begitu yakin? Karena fakta-faktanya berbunyi demikian. Dari sekomplotan mahasiswa Diskomvis ISI bermodal semangat dan dengkul sampai menjadi perusahaan kreatif. Lalu pun pernah terpuruk dengan minus sekian ratus juta dan terancam gulung tikar setikar-tikarnya dan kemudian merangkak keluar dari kegelapan dan mulai menghasilkan iklan-iklan skala nasional dengan omzet yang Alhamdulillah.

Perjalanan remang-remang, gelap dan terang yang telah saya dan tim Petakumpet lalui sesungguhnya mengajarkan saya dengan cukup keras bahwa kepintaran, kecerdasan dan kekuatan logika saja takkan mampu membuat kita bahkan sekedar bertahan saat tantangan dan ujian menimpa bisnis kita, yang ukuran ujian itu bisa berlipat-lipat besarnya dari kemampuan yang kita 'anggap' kita punya. Rasanya sudah tak mampu, rasanya sudah tak sanggup, rasanya sudah tidak mungkin melangkah lagi: lalu tiba-tiba sebuah lubang cahaya muncul dan harapan pun tumbuh kembali.



Lalu satu demi satu klien menelpon, beberapa pitching dimenangkan, lalu lembur demi lembur dimulai, syuting di luar kota, editing, online, segala hiruk pikuk kreativitas yang penuh warna dan mulailah atm menjadi tempat yang nyaman didatangi setelah sekian lama nampaknya jarang terisi. 

Saya sudah tidak sabar ingin membagikan kunci-kunci itu tapi nampaknya saya harus pamit dulu sementara untuk meneyelesaikan beberapa hal yang menjadi tanggung jawab saya. Cukuplah jika perjumpaan awal ini membuat saya dan Anda yang membaca tulisan ini memiliki ketertarikan yang sama: untuk membangun kesuksesan dengan cara yang baik, yang benar, yang - saya ingatkan sekali lagi - tidak selalu mudah, tidak selalu nyaman, tidak akan diikuti banyak orang.
 

Adzan subuh sebentar lagi akan berkumandang, yuk siap-siap. Kita akan jumpa lagi di seri berikutnya dengan 5 Kunci Sukses Bisnis, selamat berkarya. 

Do the best today 'coz maybe we don't have more tomorrow.