Mybothsides

Tuesday, March 30, 2010

Renungan Indah WS Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja

Image pinjem dari http://fsyofian.files.wordpress.com/2009/08/ws-rendra.jpg

Monday, March 29, 2010

Jangan Sia-siakan

Menjelang tidur setiap manusia menjenguk kematiannya. Tidak semua bisa bangun kembali. Yang diijinkan-Nya bisa bangun, terbukalah kesempatan menambah bekal untuk kematiannya sampai menjelang tidurnya lagi...

Image pinjem dari http://farm2.static.flickr.com/1277/1400177007_42a6c20648.jpg

Tuesday, March 23, 2010

Desain Grafis Sebagai Mindset

(01)

Waktu berlalu begitu cepatnya, sudah lebih dari 20 tahun sejak saya pertama mengenal desain grafis sebagai hobi lalu profesi lalu mindset (pola pikir). Kok mindset? Sebentar, saya akan jelasin nanti tentang mindset ini. Saat saya tengok sekumpulan folder di server kantor, sudah lebih dari 8500 creative artwork yang telah dihasilkan selama kurun waktu 10 tahun (1999-2010). Sebuah perjalanan panjang yang tak terasa lelahnya karena saya dan teman-teman di Petakumpet memulainya dari sebuah hobi.
 
Desain Grafis Sebagai Hobi

Sejak kelas 4 SD (Sekolah Dasar) saya telah membantu membuatkan ayah saya klise film sablon yang bergambar desain lambang SD untuk kebutuhan badge murid-murid se-kecamatan. Menggunakan pena yang dicelup tinta cina dan digambar dengan ekstra hati-hati di atas kertas kalkir bertumpuk-tumpuk (tergantung berapa jenis warnanya). Sebuah kebanggaan tak terkira saat saya melihat teman satu sekolah memakai badge yang saya bikin klise filmnya. “Kuwi aku lho sing gambar” (itu saya lho yang gambar), sering kali tanpa sadar saya menggumam sambil tersenyum senang. Saat itu saya tak berfikir berapa keuntungan ayah saya atas sablon yang ribuan itu, hadiah satu piring nasi goreng pun tak habis saya makan. Saya senang, itu sudah melampaui bayaran apapun yang saya bisa terima dari pekerjaan itu. Kesenangan menggambar dan merancang sesuatu, jadilah itu hobi sejak kanak-kanak saya.

Desain Grafis Sebagai Profesi

(02)

Sebagai profesi, desain grafis telah menjadi bagian dari hidup saya sejak awal bersama teman-teman membuat sebuah komunitas bernama Petakumpet, 1995. Jadi Petakumpet itu awalnya memang menggeluti desain grafis, sementara dunia advertising dengan segala kompleksitasnya barulah diakrabi beberapa tahun belakangan. Dari sekedar hobi yang gak pake mikir ruwet-ruwet alias fun belaka, desain grafis sebagai profesi menghadirkan tantangan tersendiri: tak sekedar bagaimana mendesain, membuat lay out, memilih tipografi yang tepat, tapi juga bagaimana memahami klien, mengorganisir tim, menggauli mesin cetak, memelototi teknik finishing atau memilih kertas yang paling pas.

Uang pun mulai ambil perannya, ketika desain grafis secara sadar telah dipilih menjadi profesi. Sebutan desainer grafis alias graphic designer di kartu nama adalah kebanggaan saat itu, meskipun buat orang awam seringkali menimbulkan pertanyaan susulan: masnya ini kerjaannya bikin apa to? Eh, desainer grafis itu emang pekerjaan to?

Desain Grafis Sebagai Mindset

(03)

Lalu terbukalah gerbang internet di penghujung abad 20 dan mulailah terjadi pergeseran-pergeseran hampir dalam setiap segi kehidupan kita. Apa yang kemarin hanya berupa khayalan dan impian kini menjelma kenyataan. Kita tak harus tersandera pesawat telepon dan kabelnya, kita tak harus menunggui PC dan CPU berkabel di atas meja, kita tak perlu duduk tertib di depan televisi untuk menikmati siaran langsung sepak bola dunia, itu semua kadaluarsa!

Lihatlah betapa ajaibnya hidup kita hari ini: semua yang diam di satu tempat di masa itu sekarang bisa berjalan-jalan mengikuti kemana kaki kita melangkah. Kita memasuki jaman mobile (bisnis, teknologi, komunikasi, kreativitas), dengan sikap mental yang tergagap-gagap.

Dulu saat kuliah masih semester 1, jelas betul dosen saya cerita mengenai perbedaan desain grafis dan desain komunikasi visual (deskomvis): bahwa desain grafis selalu berhubungan dengan graphic alias grafika alias cetak. Untuk melengkapinya bahkan saya pun belajar kuliah Metode Reproduksi Grafika. Saat itu profesi desainer grafis identik dengan bikin desain di depan komputer lalu bergelut dengan proses produksi di percetakan. Harus paham di luar kepala yang namanya CMYK, DPI, LPI, pass cross, hot print, emboss dan semacamnya.

Saatnya Melampaui Medium Konvensional

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, gelombang pasang internet telah menyapu banyak hal dalam kehidupan kita, melipat waktu dan ruang, dunia pun menjadi datar (flat). Bidang desain grafis pun tak luput dari akibat serbuan itu.

Pertanyaannya: masih relevankah jika hari ini (pukul 20.04, 9 Maret 2010) kata desain disandingkan dengan grafis dan dimaknai sebagai satu pengertian? Ini pertanyaan reflektif yang berbahaya karena jawaban atasnya bisa mengguncang masa depan desain grafis Indonesia, juga sejarah hidup saya sendiri yang bergelut dengan desain grafis sejak kanak-kanak.

Tapi sebagai bahan diskusi kita semua, baiklah saya sampaikan makna pergeseran itu (sekali lagi menurut saya): para stake holder industri desain grafis (desainer grafis, pengusaha, akademisi, mahasiswa, asosiasi terkait) harus mulai berfikir serius tentang kemungkinan desain grafis untuk melampaui medium-nya (beyond graphic), jenis bidang keilmuannya atau profesi awalnya. Desain grafis harus me-metamorfosa-kan dirinya menjadi sebuah mindset alias pola pikir.

Nah, sudah waktunya kita kembali ke mindset lagi!

Mindset-lah yang menentukan bagaimana kita memandang sebuah potensi, tantangan dan peluang yang dihadirkan setiap jaman sebagai sebuah proses yang harus diupayakan dengan komitmen penuh untuk mewujudkan tujuan tertentu yang kita tetapkan.

Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan kita lakukan. Mindset ini tak sekedar hobi atau profesi yang bisa jadi selingan atau aksesoris semata. Mindset ini manunggal (integral) dalam diri kita dan mempengaruhi karakter, kebiasaan dan kreativitas kita. Sebuah transformasi pola pikir harus terjadi, jika kita ingin melihat sesuatu dengan sudut pandang yang benar-benar beda untuk menangkap peluang-peluang baru yang sebelumnya tak ada.
Lihatlah contoh-contoh kasusnya: wedding invitation kini makin jarang dicetak di atas kertas eksklusif karena telah menjelma online dengan website khusus atau bahkan jadi content wall di facebook dan email (grafisnya dimana?), kop surat dan stasionery set telah menjelma template email dan tak membutuhkan kertas lagi (grafisnya dimana?), surat kabar dan majalah dimana desain grafis mewarnai tiap halamannya makin berkurang oplaag-nya digeser oleh media online, iklan-iklan televisi bisa menggunakan animasi yang based on typography, hadirnya ebook reader macam Kindle atau Ipad pun tak bisa dicegah lagi akan menggantikan buku konvensional, kertas-kertas akan berkurang penggunaannya dan mesin-mesin cetak kelelahan mengejar duplikasi tak terbatas (copy, cut, paste, share) dunia online.

Mungkin saya terlalu terburu-terburu menyampaikan kemungkinan pergeseran yang revolusioner ini, hal-hal dramatis di atas bisa jadi belum akan terwujud 5-10 tahun lagi. Tapi siapapun tahu bahwa pola percepatan penyebaran informasi ini bertambah kecepatannya mengikuti deret hitung bukan deret ukur. Bahkan kolom status di Facebook yang diketik 45 detik yang lalu bisa disebut kiriman lawas alias lama. 45 detik itu sudah masuk terminology lama di abad internet sekarang, bandingkan makna kata ‘lama’ saat 5 tahun lalu. Waktu dan ruang sudah dilipat.

Jadi yang paling logis untuk mereka yang telah belajar desain grafis sejak kecil, sejak kuliah atau saat mulai jadi profesional: pemahaman terhadap knowledge-nya, portfolio karya-karyanya, jam terbang sebagai profesional harus segera dikonversikan ke dalam sebuah mindset yang baru. Tak sekedar jenis medium-nya semata.

Mindset Membuka Kemungkinan Baru

Dengan menjadikannya mindset, berarti kita akan menggunakan ilmu desain grafis itu secara lebih membebaskan, bukan terkungkung definisi yang kaku dan sempit.

Desain grafis akan mendapatkan peluang terbesarnya justru di abad dimana barrier atas medium benda (hard copy, offline) telah menjadi sangat minimal karena menjelma virtual dan online. Sehingga yang tertinggal adalah core competency kita: kreativitas tanpa embel-embel dan topeng, baik yang berupa medium, teknologi ataupun biaya.

Ide yang merupakan hasil olah kreativitas itulah yang akan tumbuh menjadi fondasi mindset baru bagi orang-orang yang – dulunya – bergelut di dunia desain grafis konvensional. Pemahaman atas mindset itu membuat kita bisa berprofesi apa saja untuk memaksimalkan fungsi desain grafis, tak harus desainer grafis. Kita pun bebas menjelajah medium apa saja untuk menghasilkan creative output, tak harus print on paper, offset printing, sablon, air brush dan semacamnya. Kita pun berpeluang membongkar sekat-sekat pergaulan desain grafis dengan ilmu-ilmu lainnya (kedokteran, sastra, teknik, tari, teater, pedalangan, animasi, game developer, pertanian, dll.). Proses interaksi itu akan menimbulkan gesekan, kebaruan yang memperkaya dan sinergi satu sama lain.

Saat kita bisa mulai meng-inject mindset baru ini sebagai landasan pola pikir pengembangan ide kreatif, desain grafis akan dilahirkan kembali oleh ibunya yang lama (dunia offline) menuju dunia baru yang bukan saja medium-nya online. Pola pikir kita pun seharusnya online. Selalu berada di atas (on) garis (line) pencapaian kita dalam wujud dunia kemarin, selalu mengeksplorasi wilayah baru, meninggalkan pola pikir lama yang terjajah oleh medium, leaving the comfort zone as far as we can.

(04)

Itulah mindset yang saya maksudkan: reposisi atas pengertian desain grafis menjadi sesuatu yang menginspirasi kemajuan, bukan yang terseret-seret oleh kereta jaman yang ngebut ke masa depan. Sebuah landasan berfikir kreatif yang membebaskan desain grafis dari kungkungan pemahaman lamanya, untuk membuka ruang-ruang kemungkinan yang belum pernah kita fikirkan sebelumnya.

Saya takkan keberatan untuk kembali jadi kanak-kanak dan memulai segala sesuatunya dari nol lagi, saya hanya perlu yakin dan menikmati prosesnya tanpa harus tahu akhir ceritanya.
Mata saya berbinar-binar mengakhiri tulisan ini. Betapa luar biasa jika ini yang akan terjadi pada masa depan desain grafis Indonesia!

Keterangan image:
(01) Tulisan ini ditujukan utk memperingati 3 Tahun DGI
(02) Komunitas Petakumpet Diskomvis 1994 FSR ISI Yogyakarta
(03) Karya Desain Grafis Stefan Sagmeister dengan medium tubuhnya sendiri
(04) Google men-Desain Grafis HUT Kemerdekaan Indonesia

Artikel aslinya oleh M. Arief Budiman dimuat di sini

Monday, March 15, 2010

Seminar Creativepreneur di Medan

Merekonstruksi Diskomvis

Rekonstruksi Kurikulum Deskomvis Berbasis Kompetensi:
Menemukan Missing Link Dunia Akademis dan Industri Kreatif

Menjadi seorang alumnus pendidikan tinggi yang siap bekerja - setidaknya sampai hari ini - masih menjadi harapan yang ‘agak’ tinggi jika dibandingkan dengan realitas yang ada.

Pertanyaan yang sering disampaikan kepada saya – ketika masih kuliah maupun setelah bekerja – adalah: apakah setiap mata kuliah yang telah dipelajari dengan susah payah di bangku kuliah akan digunakan ketika bekerja? Apakah nilai tinggi di SKS juga mencerminkan kualitas dan profesionalismenya di dunia kerja? Apakah mereka yang IP-nya bagus dan lulus cumlaude bisa jadi jaminan diterima bekerja?

Dari banyak kasus riil yang saya lihat, sangat disesalkan bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah: tidak selalu. Bisa ya, bisa juga tidak. Artinya: ada jurang cukup serius yang harus dijembatani oleh lembaga pendidikan tinggi dan dunia profesional untuk menciptakan keseimbangan dan simbiosis mutualisme di antara keduanya. Sehingga muncullah konsep link & match yang menghasilkan mata kuliah: magang, PKL (Praktek Kerja Lapangan), Kerja Profesi atau apapun namanya. Tujuannya agar mahasiswa bisa merasakan dan mempelajari situasi riil dunia kerja dengan segenap resiko dan tanggung jawabnya, sebelum ia benar-benar memasuki dunia tersebut. Sementara bagi perusahaan, mereka bisa memantau bibit-bibit kreatif unggul dari dunia pendidikan tinggi untuk direkrut setelah mereka menyelesaikan kuliahnya.

Back to Basic

Pada awalnya adalah paradigma. Darimana segala sesuatu dimulai dan selanjutnya akan dibawa kemana. Jika pertanyaan seperti ini diajukan ke Pendidikan Tinggi yang mempiunyai jurusan/prodi Disain Komunikasi Visual, maka bunyinya menjadi kurang lebih: seperti apa profil calon mahasiswa yang diharapkan oleh Diskomvis, serta akan dibentuk jadi apa?

Kita perlu melihat kembali titik awal sambil mengoreksi langkah kita yang terlewat, serta mempersiapkan pijakan demi pijakan di masa depan. Hanya dengan itu – lewat pengalaman yang hidup – kita tidak melenceng dari tujuan semula. Banyak hal yang tidak beres hari ini disebabkan oleh akar permasalahan yang tidak pernah terselesaikan. Mau tak mau kita harus menengok kembali jejak kita di belakang dan menemukan missing link antara dunia akademis dan industri kreatif

Pada tulisan singkat ini saya hanya akan sharing beberapa hal yang saya lihat dan alami, serta beberapa perspektif kemungkinan sinergis yang bisa dilakukan oleh dunia akademis, alumnus dan industri kreatif ke depannya.

Desainer Atau Ilmuwan Desain?

Apa yang perguruan tinggi inginkan dari ratusan bahkan ribuan orang yang antre memasukinya setiap tahun? Apakah mereka akan diproses menjadi seorang desainer atau ilmuwan desain saja. Dan kualifikasinya apa? Dari beberapa hal sederhana tentang proses seleksi mahasiswa baru misalnya, dimana materi yang diujikan meliputi teori, sketsa, gambar bentuk dan minat utama Diskom. Arahnya adalah mencari calon mahasiswa yang skill artistiknya tinggi dan kreatif. Lalu lihatlah output-nya di dunia kerja: sebagian besar menjadi Art Director, atau jika kurang mujur Visualizer. Dan itu adalah posisi yang paling laku untuk anak-anak DKV yang bertipe Seniman (Artist). Output-nya dianggap memiliki kualitas artistik yang handal. Tapi tentu saja lingkup profesionalnya akan terbatas hanya di bidang kreatif (dalam pengertian yang sempit: desainer grafis).

Tapi mereka yang bertipe ilmuwan desain sedikit berbeda. Start-nya bisa jadi sama: di awal kerja sebagai Art Director (sangat sedikit yang menjadi Visualizer) dan masih bisa berkembang lagi menjadi Creative Director, dan masih bisa berkembang lagi ke posisi lainnya. Tapi tidak dengan – sebagian besar – lulusan bertipe seniman di atas. Posisi Art Director seringkali adalah final position. Lalu mentok di situ. Posisi lainnya adalah pintu tertutup bagi mereka, selama ia tidak bersedia belajar lagi lebih luas dengan disiplin ilmu baru yang tak diperolehnya di kampus. Skill artisitik semata tak cukup untuk meng-handle tanggung jawab profesional yang complicated. Menangani kampanye promosi (di lingkup profesional) sebuah produk selama rentang 1 tahun misalnya, membutuhkan lebih dari sekedar pembuatan konsep perancangan dan art work desain. Di dalamnya terdapat manajemen waktu, pengelolaan SDM, lobbying, network, juga sistem operasional. Secara personal, semua ini membutuhkan basis intelektual yang memadai.

Untuk mewujudkan ilmuwan desain yang ready to grow, tidak sekedar ready to be used, kampus sebaiknya membekali mahasiswanya dengan kemampuan penalaran dan logika, sekaligus kreativitas sejak awal seleksi mahasiswa baru lewat materi tes yang tepat. Tidak saja dibutuhkan hasil desain yang bagus, tapi prosesnya juga harus runtut dan benar. Proses ini penting, terutama ketika menyangkut hal-hal dengan kompleksitas tinggi, misalnya kampanye yang melibatkan kerjasama dengan banyak pihak dan rentang waktu panjang.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua perguruan tinggi Diskomvis harus menggunakan metoda seperti itu untuk mengejar ketertinggalannya. Setiap perguruan tinggi punya visi dan misinya sendiri, yang terwadahi dalam mata kuliah local contents.

Dan tantangan untuk rekonstruksi ulang bagi seleksi awal mahasiswa Diskomvis bisa jadi wacana baru. Dan ini bisa berlanjut dengan hal-hal lain, seperti sebaran mata kuliah (kurikulum) yang lebih banyak memberdayakan mahasiswa daripada sekedar menghafal. Termasuk sumber bacaan dan akses atas teknologi yang kadaluarsa dan minimnya referensi text book bagi mahasiswa Diskomvis.

Inti Universitas di Kepala

Saya meminjam kata-kata di atas dari Emha Ainun Nadjib. Bahwa universitas bermula di dalam diri manusia sendiri, di dalam kepalanya. 

Lalu hal semacam ini dilembagakan dan muncullah sekolah-sekolah. Dan logika semacam itu sudah terbolak-balik. Sekarang, sekolah dijadikan tumpuan untuk garansi masa depan dan modal mencari kerja. Tentu saja ini bukan merupakan kesalahan besar. Tapi jika kita menganggap nilai macam ini suatu ‘kebenaran’ dan diyakini maka efek biasnya akan bagai bola salju yang menggelinding. Seolah-olah, tanpa universitas, tanpa institusi perguruan tinggi tak pernah ada pemikiran ilmiah. Sehingga mitos perguruan tinggi (apalagi negeri) lalu disembah dan dijadikan rebutan oleh ribuan orang.

Sesungguhnya kampus (dan seluruh infra strukturnya) hanya media, sarana dan ia lebih bersifat sebagai passive object. Mahasiswa, dosen, karyawan adalah subject dari proses pembelajaran yang dinamis. Jika ini tidak terjadi dan masing-masing pihak sudah merasa puas 'hanya menjadi' bagian dari sebuah nama besar institusi, maka selesailah sudah fungsi akademiknya. Dan kita tak bisa berharap hal-hal baru, temuan-temuan yang bermanfaat bagi masyarakat akan tercipta dari sebuah institusi pendidikan yang tak punya kegairahan untuk bergerak me-manage dirinya sendiri ke masa depan.

Rekonstruksi keilmuan, pemaknaan ulang atas mitos, pembaharuan asumsi yang selama ini kita yakini dan pertahankan sebagai satu-satunya acuan nilai selayaknya mulai dilakukan, sebelum kita semua ketinggalan kereta. Dengan pertimbangan yang rasional, obyektif dan kedewasaan pemikiran.

Dari Kampus ke Industri: Peluang Kerja di Bisnis Kreatif

Dari sangat banyak profesi yang tersedia bagi para alumnus pendidikan tinggi desain (creative director, art director, designer, copy writer, illustrator, animator, web designer, account executive, photographer, dsb.) secara garis besar bisa diklasifikasikan menjadi tiga pilihan, yaitu:
-    Bekerja di perusahaan
-    Menjadi creative freelance
-    Membangun perusahaan kreatif sendiri

Setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing, dengan tingkat tantangan dan kesulitan yang bervariasi. Mana yang akan dipilih oleh alumnus perguruan tinggi Diskomvis?

Bekerja di Perusahaan

Yang menjadi primadona adalah bekerja sebagai desainer grafis (DG) di perusahaan yang sudah mapan. Hampir tiap hari puluhan bahkan ratusan curiculum vitae dan sample karya berdatangan, utamanya di perusahaan-perusahaan desain grafis atau biro iklan di kota besar. Jika diterima, DG – seperti staf perusahaan lainnya - ngantor dari pagi sampai sore. Meskipun tidak jarang ketika jumlah order memuncak mendekati deadline, jam pulang bisa diundur sampai 00.00 atau bahkan keesokan harinya.

DG tidak hanya bekerja di biro iklan atau perusahaan kreatif saja. Perusahaan-perusahaan besar yang mempunyai kegiatan promosi yang padat, biasanya memiliki inhouse designer (biro desain internal) sendiri untuk melayani kebutuhan internal publication/promotion, di bawah koordinasi Departemen Marketing, Promosi atau Public Relation.

Perbedaan yang cukup signifikan antara biro iklan dan inhouse adalah pada jenis order yang dikerjakan. Di biro iklan, jenis media maupun konsep kreatifnya sangat variatif tergantung brand/corporate yang ditangani. Sementara di inhouse, kita hanya bekerja dengan satu corporate, yang menangani event-event atau kegiatan promosi perusahaan induknya. Jabatan seorang DG diatur dengan jenjang tertentu: dari Visualizer, Art Director sampai Creative Director. Kenaikan jenjang jabatan itu berarti peningkatan tanggung jawab profesional yang juga berimplikasi pada kenaikan gaji, tunjangan dan bonus pula.

Menjadi Creative Freelance

Creative freelance - atau lebih spesifik disini: desainer freelance (DF) - bisa diartikan sebagai profesi yang menangani pekerjaan desain grafis secara individual. DF mengerjakan order tunggal atau berurutan, dengan pola kerja yang tidak terikat. DF memiliki kebebasan untuk menangani pekerjaan yang diinginkannya saja, dan pendapatan yang diterima biasanya dihitung per proyek dan bukan dalam rentang waktu seperti staf. DF memiliki keleluasaan berkreasi, terutama jika klien telah percaya penuh dengan kemampuannya.

DF menjadi boss atas dirinya sendiri dan mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Alur kerjanya sederhana, tidak berbelit-belit seperti misalnya birokrasi sebuah perusahaan. DF akan mempunyai bargaining position yang kuat terhadap klien, hanya jika ia mempunyai kualitas karya dan kedisiplinan yang tinggi dalam penyelesaian ordernya. Dalam dua hal ini, seorang DF bersaing dengan DF lainnya dan juga dengan perusahaan kreatif yang bergerak di bidang yang sama. Jika dua hal tersebut tidak bisa dicapai oleh DF, maka posisinya sangat lemah dan calon klien tidak mudah percaya kepadanya. Klien  akan mudah mempermainkannya dalam  masalah  harga dan waktu pembayaran. DF harus bisa mandiri, me-manage sendiri kemampuan kreatifnya dan bisa menjualnya dengan nilai yang pantas.

Membangun Perusahaan Kreatif Sendiri

Pilihan ketiga ini membutuhkan syarat yang jauh lebih berat. Tidak sekedar skill kreatif yang memadai tapi juga keberanian mengambil resiko yang terukur serta pemahaman manajerial yang mendalam. Artinya ada proses yang harus ditangani secara berkesinambungan antara bidang desain grafis dengan bidang lainnya (marketing, administrasi, keuangan, client service, research, personalia, dsb.). Pilihan ini biasanya diambil oleh para profesional yang sudah merasa capek bekerja di perusahaan besar. Mereka memiliki modal dan pengalaman setelah berkecimpung cukup lama di perusahaan yang sudah eshtablished, lalu mengimplementasikannya di perusahaannya sendiri, dengan beberapa modifikasi. Tapi fenomena yang ada sekarang, keinginan mendirikan perusahaan sendiri ini juga marak dilakukan oleh para alumnus pendidikan tinggi, atau bahkan oleh mereka yang drop out kuliah. Perjalanan waktulah nantinya yang akan menentukan apakah perusahaan-perusahaan yang didirikan (start up company) ini akan bisa terus berkembang atau berhenti di tengah jalan.

Dengan membangun perusahaan sendiri, artinya kita menciptakan lapangan kerja baru dan mempunyai keleluasaan untuk menentukan arah dan strategi perusahaan kita ke depan, dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Jika perusahaan itu sukses, kita juga akan mendapatkan kebebasan finansial.

Alumnus Pendidikan Tinggi yang ‘Ideal’

Dari fakta yang saya dapatkan di lapangan kerja, jelas terlihat bahwa kita tidak bisa mengandalkan sepenuhnya perolehan ilmu dari bangku kuliah. Tapi paling tidak, mata kuliah yang telah dipelajari bisa digunakan sebagai modal awal, sebagai pondasi untuk terus mengembangkan diri. Yang paling penting bukan sekedar tingginya IP di transkrip nilai, tapi justru antisipasi kreatif terhadap tantangan profesionalisme yang nantinya menjadi tanggung jawab kita. Nah, adakah konsep ideal seorang alumnus jika dihubungkan dengan dunia kerja? Kemampuan apa yang harus dimilikinya sehingga ia tidak saja disebut cerdas tapi juga sekaligus sellable: lolos saringan masuk dunia kerja.

Beberapa hal berikut sebaiknya disiapkan untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang makin keras:

1. Meningkatkan kemampuan teamwork

Untuk menciptakan kinerja yang tinggi, teamwork masih menjadi pilihan terbaik. Orang bilang, sepuluh kepala masih lebih baik dibanding satu kepala. Syaratnya adalah bahwa perbedaan ide, gagasan dan pandangan bisa disikapi secara positif dan disalurkan secara konstruktif sehingga bisa saling memperkuat. Egoisme dan sifat individual memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tapi bisa disalurkan dengan bijak asalkan setiap orang bersedia menghargai ide orang lain. Hanya ide yang secara obyektif paling baik yang akan diterapkan, tidak penting apakah itu berasal dari diri kita maupun orang lain. Persamaan – kata Ahmad Wahib – tidak menggugah apa-apa, justru perbedaan yang akan menciptakan kedewasaan dan kemajuan. Tentu saja jika disikapi secara positif.

2. Mengubah kreativitas menjadi bernilai bisnis

Saya melihat masih banyak potensi unggul yang belum didayagunakan secara maksimal di kampus-kampus. Betapa banyak juara, mahasiswa cerdas bahkan jenius yang tidak mendapatkan jalur yang pas untuk masa depannya. Bagaimana ide-ide kreatif hanya selesai sebagai ide doank, padahal jika bisa me-manage prosesnya ide-ide tersebut bisa menjadi amunisi ampuh untuk menciptakan perusahaan-perusahaan masa depan yang profitable. Tidak mudah memang untuk mencapai standar profesionalisme dalam setiap pikiran dan tindakan kita sehingga orang lain bersedia menghargainya dengan nilai yang pantas. Dan ini harus diupayakan dengan langkah yang tepat, sistematis dan kontinyu.
3. Komitmen penuh dalam bekerja
Sesudah penguasaan skill atas bidang yang menjadi concern kita, saatnya membuat komitmen untuk bekerja sepenuh hati, dengan profesi idaman yang memang kita pilih sendiri. Bukan karena ikut-ikutan teman atau karena sedang trend. Tidak akan pernah tercipta komitmen jika kita tidak berpijak pada dasar dan alasan yang kuat kenapa kita bekerja dan untuk tujuan apa ke depannya. Hanya para profesional yang berkomitmen – yang bekerja tidak semata-mata demi gaji atau uang – yang akan mampu bertahan dalam era persaingan bebas seperti sekarang.

4. Terus belajar dan mengembangkan diri
Ilmu pengetahuan akan terus berkembang seiring percepatan gerak perubahan jaman. Kemampuan yang handal hari ini, bisa menjadi basi besok pagi. Budaya internet dan kemajuan teknologi informasi membuat perubahan semakin cepat terjadi. Tiap detik yang terlewat dan tiap byte yang terkirim adalah ancaman serius terhadap mereka yang cepat puas dan merasa ‘sudah pandai’. Selayaknya kita memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk mengembangkan diri lagi: dari praktek-praktek terbaik yang pernah dilakukan oleh orang lain, dari buku, internet dan terutama dari pengalaman atas keberhasilan dan kegagalan kita sendiri.

Catatan Akhir


Satu hal penting yang jadi catatan akhir dari saya: bahwa bekerja bukan akhir dari proses belajar. Justru dengan bekerja secara profesional maka proses belajar yang integral sedang dimulai: menciptakan sinkronisasi antara pengetahuan teori dan aspek praktis, menyambungkan missing link dunia akademis dan dunia industri. Seperti yang kita maklum, di dunia akademis orang harus menulis landasan teorinya dulu sebelum berbuat/bereksperimen, sementara di dunia bisnis para pengusaha biasanya berbuat dulu baru memikirkan bagaimana menuliskan teorinya sebagai buah dari pengalaman praksisnya. Nah, kalo dua hal ini ketemu: alangkah luar biasa manfaatnya bagi mahasiswa kita.



Apalagi proses belajar –setahu saya - tidak pernah mengenal kata selesai. Jadi bangku kuliah itu sebaiknya dibawa - dalam wujud konsep belajar di otak kita masing-masing - ke dunia kerja. Karena masa depan kita semua sangat membutuhkan mentalitas seperti itu.

Itulah satu-satunya tiket yang berlaku dalam sistem kompetisi kerja yang semakin keras ini.


Sunday, March 14, 2010

Yuk Berbagi Dengan Hati
















Keluarga Besar Petakumpet akan mengadakan kunjungan sosial ke beberapa Panti Asuhan Anak Yatim di Jogja, Kamis 18 Maret 2010.

Untuk teman-teman yang ingin bergabung dan berbagi kebersamaan (sedekah) dengan saudara-saudara kecil kita yang membutuhkan, kami tunggu sampai Kamis 18 Maret 2010 jam 12.00 WIB. Silakan ditransfer ke: Rek. BCA an. Nuraini 4450676506, konfirmasi atas transfer mohon bisa sms ke Rizal 081328383388.

Sunday, March 7, 2010

TVC GGM Sarjana Ojek

 
TVC Gudang Garam Merah Sarjana Ojek 60" / Klien: PT. Gudang Garam, Tbk / Agency: Petakumpet / Director: Dimas Djayadiningrat / PH: Velocity