Mybothsides

Thursday, February 25, 2010

Setia Hingga Terakhir di Dalam Keyakinan

Saya tak tahu apa-apa tentang Robert Wolter Monginsidi, kecuali sekelumit cerita perjuangannya di buku PSPB saat masih sekolah dulu. Cerita kepahlawanan yang dituliskan dengan datar, tak menginspirasi anak-anak sekolah seperti saya dan teman-teman. Seperti kita semua mafhum, cerita tentang perjuangan kemerdekaan versi sekolahan adalah cerita tentang tanggal kejadian, isi perjanjian, deskripsi peristiwa lalu hafalan atas itu semua. Dan saya pun telah lama lupa.

Dan pagi ini nama itu terlintas kembali. Sebuah cerita di akhir hidup Bote (panggilan akrab Wolter Monginsidi) di sebuah situs membuat saya terpana:

Sesaat sebelum menuju ke tempat eksekusi, Wolter menjabat tangan semua yang hadir tidak ketinggalan pula regu penembak. Ia berkata,“Laksanakan tugas saudara, saudara-saudara hanya melaksanakan tugas dan perintah atasan, saya maafkan saudara-saudara dan semoga Tuhan mengampuni dosa saudara-saudara.“

Dengan hati yang tegar, Wolter menghadapi moncong-moncong senjata yang dibidikkan kepadanya dan menolak ketika matanya akan ditutup, ia berucap,“Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku.“


Dengan pekikan,”Merdeka!!!” dari Wolter, 8 butir peluru dimuntahkan ke tubuhnya: 4 peluru di dada kiri, 1 di dada kanan, 1 di ketiak kiri menembus ketiak kanan, 1 dipelipis kiri dan 1 di pusar dan seketika ia terkulai.

Pagi itu 5 September 1949, Wolter gugur dalam usia 24 tahun.

Dikutip dari: http://pajokka.blogspot.com/2009/08/wawancara-dengan-robert-wolter.html

Detail adegan yang menggetarkan ini tak pernah saya baca saat saya sekolah dulu. Membayangkan seorang anak muda usia 24 tahun berjalan dengan tenang menyalami orang-orang yang akan menembaknya dan memaafkan mereka: apa yang telah dipelajari Bote di usia semuda itu sehingga ia bisa menjelma malaikat di hari kematiannya?

Apa yang dilihatnya di detik terakhir hidupnya ketika delapan butir peluru meluncur dari senapan yang berasap mengoyak tubuhnya yang tegar tapi tak berdaya? Sesakit apa yang ia rasakan saat timah panas itu menderu, melubangi delapan bagian tubuhnya, membuat rohnya pamit detik itu juga menghadap-Nya?

Begitu banyak buku tentang Che Guevara yang juga mati di depan juru tembak pasukan Bolivia sehingga buku-buku dan posternya ada dimana-mana. Tapi cerita luar biasa di detik-detik kematian Bote ini lolos dari perhatian kita semua: keberanian dan ketegarannya untuk tak tunduk pada apapun selain keyakinannya.

Di usia saya yang ke-24 apa yang saya lakukan? Saya merasa sungguh kecil dan tak berarti: seseorang yang hidupnya penuh mimpi baru saja lulus kuliah dan tak pernah merasa menghadang bahaya apapun yang menakutkan saat berbicara tentang keyakinan. Hidup saya waktu itu tak ada bandingannya dengan hidup Wolter, bahkan dia telah menjadi guru bahasa Jepang saat usianya masih 18 tahun.

Siapakah pahlawan bagi saya?

Orang-orang yang tidak sempurna, yang penuh kekurangan, yang kadang berbuat naif dan konyol tapi maju terus tanpa gentar memperjuangkan apa yang diyakininya, apa yang diimpikannya. Hidupnya babak belur, jumlah kawan dan lawannya hampir sama banyaknya, bahkan seringkali harus berjuang sendiri karena dijauhi teman-teman seperjuangannya. Sampai saat tiba waktunya mereka pulang menghadap Tuhan, ribuan bahkan jutaan orang mengelu-elukan, mendoakan, menangisi, menyesali kepergiannya. Jejak kepahlawanannya tinggal di bumi saat jasadnya menyatu dengan tanah.

Dan kita ini seringkali terlambat mengenali orang-orang yang berpotensi jadi pahlawan. Kita baru sadar saat mereka pergi selama-lamanya dan tergopoh-gopoh memperingatinya ketika yang bersangkutan tinggal nama.

Dalam sebuah diskusi dengan Ibu Marie Pangestu (Menteri Perdagangan) bersama para finalis IYCEY beberapa tahun lalu saya berkata,”Bu, pemerintah lebih baik memperhatikan dan mendukung pemikiran dan kreativitas anak-anak muda sekarang, saat potensi, spirit dan energi mereka sedang dalam puncaknya. Jangan sampai kita terlambat lagi. Anak muda hebat seperti Soe Hok Gie tidak lahir dua kali, tapi hidupnya disia-siakan. Pemerintah tak peduli atau tak paham. Saat dia telah pergi barulah kita sadar betapa berharganya kesempatan ketika dia masih hidup. Tapi sudah terlambat. Kita kalah dengan ank-anak muda macam Jerry Yang, David Filo (pendiri Yahoo) atau Sergey Brin & Larry Page (pendiri Google) karena pemerintah dan orang-orang tua sukses berduit banyak itu terlalu sibuk untuk memperhatikan potensi dahsyat anak-anak muda kita.”

Saat menyampaikan masukan itu saya bersemangat sekali apalagi langsung didengarkan oleh Menteri. Saya merasa gagah sekali karena mampu menyampaikan apa yang saya yakini dan apalagi melihat Bu Menteri tersenyum dan mengangguk penuh arti.

Tapi ternyata saya memang anak muda culun, tak cukup jam terbang dan katrok dalam pengalaman. Senyum dan anggukan Bu Menteri itulah memang yang selalu dilakukannya karena dia tidak hanya bertemu saya tapi ribuan bahkan ratusan ribu lagi orang-orang yang mungkin pertanyaan dan masukannya lebih bermutu. Apa yang saya sampaikan menguap begitu acara salam-salaman selesai, keyakinan saya yang menggebu-gebu bagai monolog Togog yang didengar tapi tak dikehendaki, sumbang dan mengganggu.

Lalu datanglah hari itu – dua hari yang lalu - saat saya duduk di depan TV menyaksikan pandangan akhir Fraksi di DPR tentang Centurygate. Sejujurnya, saya tak tahu siapa yang benar dan salah dalam Centurygate ini, atau siapa yang hanya salah dan siapa yang memang jahat. Pandangan para fraksi tak menjawab dengan jelas, mereka berbicara dengan sangat meyakinkan untuk sebuah fakta yang masih abu-abu.

Ingatan atas apa yang saya sampaikan beberapa tahun lalu melintas lagi: mayoritas kita seringkali luput memotret potensi pahlawan ketika yang bersangkutan masih hidup. Tapi sesuatu di hati saya terusik saat seseorang seperti Boediono dengan track record yang – setahu saya - begitu bersih dan kapabilitas yang dihormati dunia internasional dihakimi beramai-ramai oleh anggota-anggota DPR seolah-olah ia penjahat besar yang merugikan negara dan sebaiknya disingkirkan jauh-jauh dari pemerintahan.

Logika saya mungkin telah mati saat mencoba memahami sengkarut Century ini, tapi keyakinan saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak benar sedang terjadi.

Jangan sampai dugaan-dugaan dan fakta setengah matang yang muncul membuat kita salah menilai. Jangan sampai Boediono, Sri Mulyani atau siapapun yang lain mengalami nasib seperti Syahrir yang meninggal dalam penjara negerinya sendiri atau Tan Malaka yang dibunuh bangsa sendiri. Atau bahkan Gus Dur yang terlanjur di-makzul-kan meskipun tuduhan skandal korupsinya tak pernah terbukti sampai beliau meninggalkan kita semua dan ditangisi oleh bangsa Indonesia.

Saya pun akan tunduk jika proses politik di DPR dan nanti proses hukumnya di KPK, Kejaksaan atau Kepolisian akhirnya mengarah pada si A, si B atau si C yang dianggap bertanggung jawab. Saya pun yakin Pak Boed, Bu Sri atau bahkan SBY akan bertanggung jawab penuh apapun hasil dari pencarian kebenaran ini.

Saya hanya tidak ingin bangsa ini nyahok berkali-kali di lubang yang sama, melakukan kesalahan berkali-kali hanya karena tak mau belajar dari sejarah. Dan terlambat insyaf.

Para anggota Pansus mungkin juga sedang merasakan bahwa yang mereka lakukan saat ini adalah sebuah tindakan kepahlawanan untuk menyelamatkan bangsa ini, saya hanya mengingatkan bahwa tak ada pahlawan yang tahu dan merasa bahwa dia pahlawan. Kita tidak bisa menjadi pahlawan dengan cara memakzulkan pahlawan lainnya. Yang memberinya kehormatan untuk menjadi pahlawan adalah orang lain, bukan diri kita sendiri.

Semoga apa yang telah diperlihatkan Wolter Monginsidi 61 tahun yang lalu bisa menyegarkan ingatan kita tentang beratnya ujian sebelum seseorang pantas disebut pahlawan.

Kesempatan ini terbuka buat kita semua: Boediono, Sri Mulyani, SBY, anggota Pansus, anda yang sedang membaca blog ini, kita semua. Termasuk Anda yang tak setuju dengan tulisan ini karena terasa condong ke Boediono, saya terima resiko ini. Saya tak diupah siapapun untuk menulis, saya hanya mengikuti jalan hati saya. Dan tentu ada kemungkinan salahnya. Wallahu a'lam.

Semoga Allah menuntun bangsa ini menuju cahaya, menuju kesucian.

Saat bangsa ini mengalami berbagai cobaannya yang tak ringan, itulah sesungguhnya saat pencucian-Nya. Kita bingung, kecewa, marah, sedih, takut, kuatir: perasaan-perasaan itulah yang sedang dibersihkan-Nya. Agar kita semua ingat, sadari dan yakini, tanpa ijin-Nya bangsa ini sudah bubar oleh pemberontakan dari dulu. Tanpa ijin-Nya, kita tak mungkin berada di posisi ini saat ini. 

Negeri ini adalah negeri yang besar, negeri para pahlawan. Negeri yang orang-orangnya berjiwa besar, berfikiran tajam jauh ke depan, negeri yang akan kita bela sepenuh hati sampai nanti Tuhan memanggil kita kembali.

Setia hingga terakhir di dalam keyakinan, sebuah tulisan tangan Wolter terselip di dalam Alkitab yang digenggamnya saat eksekusi mati di subuh hari itu terjadi. Tubuhnya rubuh dan tulisan itu tertinggal di bumi ini, mengingatkan kita semua tentang pentingnya menjaga sebuah keyakinan, sebuah prinsip, yang jauh lebih berharga daripada kehidupan.

Saat hari itu tiba, beranikah kita menatap kematian dengan mata terbuka sambil tersenyum? Sejujurnya saya malu pada Wolter Monginsidi…

Image pinjem dari: www.bode-talumewo.blogspot.com

Wednesday, February 17, 2010

Filosofi Ember























Mengapa kita yang telah bekerja keras dari pagi buta sebelum subuh sampai lepas Isya' bahkan larut malam sampe rumah, tapi rezeki tetep seret? Mengapa kita telah membanting tulang sampai capek-capek pegal tapi ATM  tetap kosong dan tiap tengah bulan keuangan masih minus? Mengapa uang yang puluhan tahun kita kumpulkan sedikit demi sedikit tiba-tiba habis tandas didongkel maling saat kita pergi? Mengapa kita sakit-sakitan tak kunjung sembuh? Mengapa hidup ini makin lama makin sulit kita jalani dan rasa-rasanya kebahagiaan itu cuma milik orang lain dan bukan kita?

Saya mengalami sendiri sulitnya mencari jawaban, saat pertanyaan di atas tak sekedar memenuhi kepala saya tapi menyatu dalam setiap tarikan nafas saya. Rasa bingung itu, capek itu, gelapnya perasaan saat membentur dinding yang tebal dan tinggi, sesak nafas saat masalah-masalah memuncak.

Pencarian itu membawa saya pada sebuah benda: ember

Ember? Kok? Bagaimana bisa ember menjawab persoalan seberat itu?

Anggaplah ember itu tampungan untuk rejeki kita. Ukuran ember kita masing-masing tidak sama, tergantung besarnya mimpi kita. Ada orang yang puas dengan pendapatan sejuta rupiah sebulan, embernya ya seukuran itu. Ada yang lima juta rupiah, ada yang ingin jadi orang terkaya se-Indonesia, ada yang pengen punya puluhan perusahaan go public, ada yang mengangankan sawah berhektar-hektar, ada yang pengen perusahaannya jadi The Most Adnmired Company in The World dan dimuat di cover Majalah Fortune (sampai sekarang saya masih heran ada impian seliar itu di otak saya), itu ukuran ember masing-masing. Kita bebas pilih ukuran ember itu karena besar kecilnya ember itu kita bisa pilih sendiri, fasilitas gratis dari Tuhan. Tapi kalo kita gak punya mimpi alias gak tahu tujuan hidup ya artinya kita gak milih ember, hidup kita akan menggelinding saja. Rezeki tak tertata, berkah tak terkumpul.

Rezeki itu seperti aliran air yang mengisi ember itu, makin banyak kebaikan kita, kerja keras kita makin deraslah air yang mengalir. Jadi bukan hanya kerja keras saja yang bisa bikin ember kita penuh (alias makin kaya) tapi juga amal kebaikan. 

Nah, amal buruk alias dosa itu seperti lubang di ember. Makin banyak dosa kita, makin banyaklah lubang, makin besar dosa kita makin besarlah lubang di ember itu. Kalo amal baik dan kerja kerasnya makin sedikit maka keringlah ember itu: ATM yang isinya tiga milyar rupiah tiba-tiba kosong, tak mampu bayar obat, bayaran anak sekolah tertunggak dan masalah-masalah lain yang hadir sebagai akibat keringnya rezeki kita karena dosa.

Ini mungkin menjawab mengapa kerja keras kita saja tak cukup, banting tulang doang gak menjawab permasalahan. Karena cara mennjemput rezeki juga mesti teliti: benarkah sudah sesuai dengan jalan yang dituntunkan-Nya?

Mari bercermin. Ketika rezeki kita sempit, ketika hutang mencekik leher, ketika tagihan kita macet: apa solusi kita? Seumumnya ya negosiasi dengan para penagih, mengejar mereka yang hutang sama kita jika perlu pake debt collector, berhutang untuk membayar hutang dengan bunga berganda (yang penting selamat dulu sebentar), jika tak bisa berhutang - seperti yang sekarang marak di berita - mencuri motor, ngembat ATM orang lain, bahkan menjual anak kandung. 

Lalu kita lihat praktek bisnis kita: untuk meng-entertain klien kita bisa keluarkan ratusan ribu bahkan puluhan juta untuk lunch, hotel bintang lima untuk menginap, setor mobil mewah terbaru, karena merasa bahwa rezeki itu dari klien. Tapi saat ada panti asuhan yatim piatu yang datang, ngasih seratus ribu pun rasanya masih pengen minta kembalian, karena kita pikir itu amal kita (bukti kita masih punya kepedulian) dan rezeki kita tak ada hubungannya dengan penderitaan mereka. 

Jadual terpenting kita adalah saat meeting, presentasi, negosiasi dengan klien yang sering berlangsung berjam-jam sambil dengan sadar kita lupakan meeting kita sama Yang Maha Memberi Rezeki. Adzan bergaung-gaung dan kita hanya pause sebentar untuk bilang,"Mari kita dengarkan adzan dulu. Presentasi akan saya lanjutkan setelah ini." Setelah merasa diri kita tergolong 'orang baik' karena memberi kesempatan adzan, presentasi pun berlanjut sampai waktu sholat terlewat tanpa sesal sedikitpun di dalam hati. 

Rapat, melayani konsumen, berdagang, brainstorm, kita rasakan jauh lebih penting karena hubungan yang secara logika dekat dengan rejeki kita. Tuhan yang memanggil kita pada kebahagiaan (hayya 'alal falaah) dicuekin, sementara kita malah bingung mencari kebahagiaan di antara tumpukan harta yang fana.

Beberapa orang bilang setengah mencibir: cari rezeki haram aja sekarang susah Mas, apalagi yang halal.

Benarkah? Mengapa Allah menciptakan manusia di bumi jika hanya untuk mengejar yang haram karena yang halal susah? Dan siapa bilang nyari rejeki halal lebih susah daripada yang haram? Tengoklah di dalam penjara: siapa yang nasibnya lebih susah, yang mengejar harta haram atau yang halal?

Allah tunjukkan jalannya yang mudah: jika engkau sedang disempitkan rezekinya, maka bersedekahlah. Jika engkau bertaqwa (menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya) maka Allah akan berikan jalan keluar dari masalah dan memberikan rezeki-Nya dari arah yang tak disangka-sangka.

Untuk mencegah air (alias rezeki) mengalir keluar dari ember, maka Allah hadirkan mekanisme tutup lubang yang luar biasa bernama taubat. Taubat yang serius (taubat nasuha) atas dosa dan kesalahan kita 'otomatis' akan menutup lubang ember. Syaratnya cuma satu: jangan melakukan dosa lagi, jangan melubangi ember lagi. Lalu mulailah mengisi ember yang telah diperbaiki itu dengan amal kebaikan dan kerja keras, Insya Allah rezeki akan manggon (menetap), tidak masuk sebentar ke dompet lalu langsung keluar lagi kayak angin.

Meskipun tentu prakteknya tak mudah tapi sesungguhnya konsepnya ya sesederhana ini.

Tentukan ember yang sesuai dengan mimpi kita, lalu beramal sebanyak-banyaknya (ibadah, kerja cerdas, kerja keras), tahan diri dari dosa dan kesalahan (jangan terlambat sholat, hindari mendekati zina, perbaiki silaturrahim, dsb.). Insya Allah akan dimudahkan dalam hidup, ditunjukkan jalan terang, diamanati rezeki yang berkah lagi berlimpah.

Jangan hanya mengandalkan otak, energi, tenaga, waktu dan modal kita untuk menjemput rezeki, akhir-akhirnya capek. Jika berhasil kita jadi sombong (Saya sukses itu karena terus belajar, kerja keras // Ini semua hasil usaha saya yang tak kenal lelah) tapi jika tidak berhasil kita marah, protes, putus asa, menyalahkan pihak lain (Sialan, kita kalah tender gara-gara kompetitor ngasih suap lebih besar // Katanya Tuhan Maha Adil mana buktinya, saya udah kerja keras buat makan aja malah susah?).

Tuhan sudah kasih jalan yang lurus, yang mudah, yang membawa kebahagiaan. Libatkan Tuhan dalam ikhtiar kita menjemput rezeki karena emang Dia-lah sumber semua rezeki. Pemerintah, manajemen kantor, klien, pembeli, kolega, buyer luar negeri itu hanyalah saluran dari rezeki-Nya. Kita hormati saluran itu, kita jaga baik-baik tapi jangan pernah lupakan sumber aslinya: Tuhan.

Oya, ngomong-ngomong soal ember: sekarang waktunya mengecek ember kita masing-masing. Semoga hati makin tenang, makin tambah syukurnya, makin kenceng ibadahnya, makin ikhlas ikhtiarnya. Saya temani dengan doa dari sini, semoga Allah selalu berikan kemudahan apapun yang temen-temen semua impikan.

Ingatlah sekali lagi bahwa masalah sesungguhnya itu bukan kekurangan harta, sakit yang tak kunjung sembuh, hutang yang menumpuk dan semacamnya. Masalah sesungguhnya adalah saat kita jauh dari Allah. Sukses sesungguhnya juga bukan ketika kita punya perusahaan besar, mobil puluhan, apartemen di pusat kota atau uang bejibun seolah tanpa nomor seri, bukan. Sukses sesungguhnya adalah ketika kita dekat ama Allah.

Allah-lah satu-satunya tempat kita bersandar, berdoa, mengharapkan keajaiban hadir dalam hidup kita. Allah-lah yang menciptakan kita, menciptakan ember, bahkan tulisan ini pun takkan bisa hadir tanpa ijin-Nya

Image pinjem dari http://hanzrick.files.wordpress.com/2006/07/ember-copy.jpg

Sunday, February 14, 2010

HOT NEWS: Info Recruitment Petakumpet

SYARAT UMUM

Teman-teman, Petakumpet buka recruitment lagi. Utamanya untuk kantor yang di Jogja. Berusia tidak lebih dari 28 tahun, menyukai tantangan untuk terus menciptakan ide-ide segar
dalam suasana kerja dinamis progresif, mampu bekerja mandiri/teamwork, nyaman bekerja dengan deadline ketat.

SYARAT KHUSUS


ACCOUNT MANAGER (AM)
Pria/wanita, S1/S2/D3 segala jurusan, diutamakan berpengalaman menangani klien min. 3 tahun, berjiwa pemimpin, memahami industri advertising, berpenampilan menarik, komunikatif, menyertakan CV

FINANCE MANAGER (FM)
Pria/wanita, diutamakan S1/S2 Ekonomi/Akuntansi, jujur, memahami UU Perpajakan,
diutamakan berpengalaman min. 2 tahun, menyertakan CV

FRONT OFFICE/ADMINISTRATION STAFF (FO)
Wanita, diutamakan D3 Sekretari, berpenampilan menarik, komunikatif, menyertakan CV

Lamaran dikirim paling lambat Senin, 22 Pebruari 2010 ke:
HRD Department PT. PETAKUMPET CREATIVE NETWORK
Dreamlab Building, Jl. Kabupaten No. 77B
Nogotirto Gamping, Sleman, Yogyakarta
Telp. 0274 6415079, Fax. 0274 6415080
Email: mybothsides@gmail.com
www.petakumpetworld.com

Monday, February 8, 2010

Yang Lebih Baik, Bukan yang Lebih Mudah (Bagian 2)

Pada 23 Desember 2009 lalu saya pernah tuliskan sebuah kisah nyata tentang seorang pelamar CPNS yg tidak lolos seleksi karena tidak mau membayar 70-100 jt rupiah sebagai 'syarat'nya. Selengkapnya silakan baca lagi di sini.


Saat saya menulisnya, yang ada adalah duka cita dan ketidakpuasan dari pelakunya karena hajatnya tidak terkabul meskipun dia 'merasa' telah beribadah yang cukup pada Allah dan menempuh jalan yang lurus untuk mewujudkan harapannya jadi PNS. 


Saya kutipkan lagi sms saya ketika dia memberi kabar bahwa dia tidak diterima, ketika sedang galau dan merasa saran saya tidak berguna sama sekali: amal shalih yang dikerjakannya gak tembus, gak berfaedah, tumpul tidak berguna. Sedekahnya ke panti asuhan, bayarin anak orang lain sekolah, ber-qurban dengan jumlah sekitar 7 juta rupiah seolah 'menguap'.


Begini bunyi sms saya waktu itu: Dijalani saja ujiannya dengan sabar. Sholatnya ditambah, sedekahnya ditambah, doanya ditambah. Lebih baik pake jalan lurus tapi tidak diterima PNS daripada diterima jadi PNS tapi diawali dengan dosa. Jalan benar biasanya tidak mudah. Tapi Allah tidak tidur, Allah akan berikan ganti yang lebih baik jika kita khusnudzon & istiqomah di jalan-Nya...

Dia yang menerima sms ini mungkin berfikir: lhaaah, ini mah sama aja sama sarannya kemarin. Udah dijalanin semua ikhtiarnya ke Allah dengan sholat, puasa, sedekah tapi hasilnya nehi, nol, gak kabul. Ini udah tidak diterima jadi PNS masih harus nglanjutin lagi ikhtiarnya? Please deh, Mas... Malaikat aja kali yang bisa!


Sekitar dua minggu setelah pengumuman ketidaklulusan itu, hp saya berdering, sebuah suara di ujung telpon menyapa,"Mas, lagi di Jogja atau di Jakarta? Aku mau minta tolong nih, boleh ngrepotin dicariin laptop gak ya. Suamiku butuh nih buat nulis-nulis, soale komputer satunya lagi agak ngadat."


Saya jawab,"Laptop yang gimana kira-kira?"


Penelpon,"Yang bagus lah, sekitar 5-6 jutaan gitu.."


Saya,"Tumben, biasanya suka cari yang murah. Lagi banyak duit?"


Penelpon,"Alhamdulillah kemarin suamiku dapat rejeki dari saudaranya.."


Saya,"Alhamdulillah..."

Penelpon,"70 juta rupiah, Mas.."


Subhanallah!  

Saya terdiam setelah itu dan menyadari bahwa kisah ini bukan ditujukan untuk sang penelpon tapi buat saya. Allah seolah menyampaikan kepada saya: Aku tak pernah mengingkari janji-Ku. Takkan pernah. Jikapun kamu tidak yakin, jikapun kamu tidak percaya, jikapun kamu bingung, gundah gulana, cemas, khawatir: ikutilah jalan-Ku maka akan selamat. Pasti selamat.


Saya pun membelikan titipannya sebuah laptop HP Compaq seharga 4,6 jt. Saya sampaikan sendiri kepada suaminya ketika janjian ketemu di Semarang.


Allahu Akbar!


Yang saya tahu belakangan adalah suaminya itu yang ridho untuk mendukung istrinya menempuh jalan-jalan halal dalam mewujudkan harapannya jadi PNS. Saat istrinya tidak diterima, ia pun hadir terus mendampingi agar berkurang perasaan su'udzon-nya sama Allah. Sehingga ibadah itu terus berlanjut meskipun hati manusiawinya kecewa dan sedih. Dan ketika Allah tidak kabulkan doanya jadi PNS, Allah ganti 7 juta sedekah dan amal shalihnya dengan 70 juta rupiah dan keberkahan rejeki yang mengiringinya. Keberkahan inilah yang sungguh penting karena tanpa keberkahan, 70 juta itu tak ada harganya jika Allah bukan yang meridloi.


Dan ikhtiar ini berlanjut, tidak berhenti sampai di situ saja. Ketika dia mendengar kabar orang tuanya ingin pergi haji, dengan uang yang masih ada dia pun membantu. Seperti saya, dia pun tak bisa memastikan apa yang akan diberikan Allah sebagai ganti-Nya. Tapi dia tidak peduli, tugas hamba Allah adalah berikhtiar salah satunya dengan berbagi. Allah pasti ganti, baik kita minta ganti ataupun tidak. Allah pasti ganti, baik kita dituduh orang lain gak ikhlas karena pamrih. Ikhlas itu hanya berharap sama Allah, bukan selain-Nya.

Hukum berbagi persis dengan hukum gravitasi. Anda lemparkan batu dari lantai 3 ke bawah, batu itu akan turun sampai lantai dasar tidak peduli apakah Anda berharap atau tidak. Tak peduli apakah anda percaya dan paham hukum gravitasi atau tidak. Berbagi (giving) juga begitu. Kita lepaskan saja yang terbaik dari kita, hukum Allah akan memprosesnya dengan sempurna. Sesungguhnya semua bisnis, usaha, perdagangan, perniagaan berpotensi rugi, kecuali jika berniaga dengan Allah. 


Saya tahu persis cerita ini karena yang saya ceritakan dari awal dulu itu - sengaja saya samarkan awalnya - adalah adik kandung saya. 

Semoga Allah jauhkan saya dari penyakit riya', sejauh-jauhnya. Ini saya ceritakan agar menjadi peringatan sekaligus pelipur lara buat yang masih punya banyak masalah, masih diuji Allah untuk lebih sabar, masih disempitkan rejekinya. 

Saya pun termasuk golongan yang masih diberikan Allah kesempatan untuk memecahkan masalah-masalah hidup saya sendiri, Alhamdulillah. Kadang saya ragu, kadang cemas, kadang kuatir, tapi seperti saran saya pada adik saya: saya jalan terus, saya ikhtiar terus, saya tempuh terus jalan lurus ini meskipun secara manusiawi tidaklah mudah.


Semoga Allah berkahi Anda semua yang membaca tulisan ini dengan keberkahan rejeki yang melimpah, yang mendatangi Anda semua dari arah yang tak terduga-duga. Amien amien amien ya Robbal 'Alamien...

Sunday, February 7, 2010

Pondasi Bisnis

Setiap kali saya diberi kesempatan untuk sharing tentang bisnis di depan teman-teman mahasiswa, saya selalu wanti-wanti satu hal: saya akan mulai dari hal yang paling mendasar dan itu pasti tidak menarik. Tapi karena ini paling penting, saya harus sampaikan meskipun sesungguhnya saya tak ingin dan audiens tidak tertarik.

Saya bicara tentang pondasi, landasan, dasar-dasar sebelum membangun bisnis. 

Gedung STIE Kerjasama setelah gempa 2006, sepintas bangunan terlihat utuh tapi lantai turun satu tingkat sehingga untuk perbaikan akhirnya diruntuhin semua karena harus membangun ulang pondasinya (sumber: http://img116.imageshack.us/i/gempa1minimedium0zx.jpg/)

Ini kan kalau direfleksikan dalam bisnis praksis: tidak men-support gerakan bisnis yang cepet untungnya. Audiens jadi gak sabar karena yang mereka inginkan sesungguhnya Tips & Tricks agar bisa berbisnis dengan mudah, cepat dan untungnya banyak. Tiga kata itulah definisi sukses yang umum kita pahami: bisnisnya mudah dikelola, cepat tumbuhnya dan depositonya miliaran bahkan trilyunan hasil dari keuntungan.

Saya siapkan hati untuk mengecewakan audiens karena tanpa pemahaman yang bener tentang pondasi, maka bisnis sesukses apapun akan runtuh tak berbekas saat ujian pertama hadir. Misalnya dulu saat krismon 1998, berapa puluh bank tutup, berapa ratus perusahaan gulung tikar sesarung-sarungnya, berapa yang akhirnya harus menanggung utang jutaan dollar, direkturnya bunuh diri, dan kepahitan-kepahitan bisnis serupa itu. 

Mari kita bercermin saat terjadi gempa dahsyat di jogja, 27 Mei 2006. Sehari sebelumnya, begitu banyak bangunan yang terlihat kokoh, megah, bertingkat-tingkat. Saat bencana tiba-tiba mengguncang bumi, rubuhlah sebagian besar bangunan itu. Yang tersisa hanyalah sebagian kecilnya. Ada dua sebabnya: karena tidak dilewati akar gerakan gempa dan jika dilewati dan tetap berdiri tentu karena bangunan itu pondasinya kuat luar biasa.

Pondasi, semua tukang bangunan dan arsitek tahu betapa pentingnya. Padahal jika tanah digali dan batu-batu gunung, semen, pasir, besi baja dan beton mulai ditanam di dalamnya, di permukaan tidak terlihat apa-apa. Padahal biaya sudah keluar sangat besar tapi rasanya hanya menutup lubang tanah belaka. Artinya: karena pondasi itu paling penting dan harus kuat maka biayanya (dana dan waktu pembuatan) pun besar dan jika pondasi itu sudah selesai tak ada yang terlihat di atas tanah. 

Pondasi tak bisa dibanggakan saat sedang dibikin. Bentuk dan desain bangunan lah yang dipuji orang, dikagumi, difoto-foto untuk majalah Griya dan iklan perumahan. Pernah lihat perumahan yang memamerkan pondasinya bukan rumahnya? Rasanya saya kok belum pernah ketemu developer senekad itu. 

Tapi jika gempa datang dan bangunan itu masih berdiri tegak dan kokoh, barulah ramai orang memuji kekuatan pondasinya, memuji kepintaran arsitek dan pembangunnya. Mengapa? Karena bangunan tetangganya rubuh semua, barulah pondasi dihargai selayaknya.

Bisnispun begitu. Saat peluang bisnis terbuka lebar, ramai-ramai orang masuk memanfaatkan kesempatan yang terbuka lebar. Ramai-ramai orang menangguk keuntungan instant, membuka pinjaman besar ke bank untuk pengembangan, buka cabang-cabang, buka divisi-divisi baru, euphoria beginian selalu berulang. Lalu tibalah hukum alamnya, bisnis akan menghadapi ujian pertama sebelum layak jadi besar, ingat beberapa tahun lalu ada booming di bisnis berbasis internet (dotcom) dan ribuan trilyun modal itupun hangus karena belum ketemu mekanisme bisnisnya.

Saat memulai bisnis, mengatur nafas itu penting. Pertama kali saya bersama temen-temen memulai Petakumpet, seorang pengusaha memberi saran: cobalah dikuatin pondasinya dulu. Cari ilmu dulu banyak-banyak, cari untung itu gampang setelah paham prosesnya. Nanti jika telah melewati lima tahun, itu perusahaan baru ketahuan kekuatannya.

Saya waktu itu berfikir: lama banget 5 tahun, itu kan kalau bisnisnya pake ilmu kuno (pengusaha itu umurnya 50an tahun), kalo pake ilmu bisnis modern pasti bisa lebih cepat. Setahun paling lama dua tahun pasti bisa berpondasi kuat dan segera untung. Dan mulailah usaha, untung pun segera ngumpul. Buka divisi baru namanya Blank! Magazine dan tepat di tahun ketiga Petakumpet berdiri, divisi baru itu bangkrut dan harus ditutup. Ruginya 140 juta dan limbunglah tunas yang baru mekar-mekarnya. Dalam episode terakhir saat saya menutup pintu kantor Blank! setelah pembagian gaji terakhir dan pesangon, saran pengusaha teman saya yang mulanya saya anggap jadoel itupun teringat kembali.  

Pondasi itu lima tahun, bukan tiga tahun. Saya baru ngeh dan percaya. Tapi ongkosnya? 140 juta!!!

Beberapa saat lalu disinyalir lebih dari 80% bisnis franchise yang sedang marak, tutup dalam dua tahun. Padahal tak cuma di bisnis itu aja, semua bisnis menjalani hukum alam yang sama. Masih segar dalam ingatan saat bisnis tanaman booming, adenium, anthurium, jemani dan semacamnya menyentuh penjualan sampai puluhan bahkan ratusan juta satu potnya. Bahkan ada yang harganya dihitung dari jumlah daunnya! Lalu sekarang, tumbanglah juga para pedagang dan pembibit yang musiman. Juga di bisnis perbankan, advertising, property, eksportir, komputer, semua ada seleksi alamnya masing-masing.

OK, materi saya tentang pondasi mungkin sudah membuat Anda tak sabar. Ini mana tipsnya Mas? Ini mana yang ajaib-ajaibnya? 

Saya ingatkan, tanpa pondasi yang kuat tak ada itu namanya keajaiban menjual sekeping DVD seharga 188 juta rupiah, menjual 4 lembar konsep storyboard seharga 1,7 milyar rupiah. Harus kuat pondasinya dulu, harus ada kesabaran dan keikhlasan yang berdarah-darah (biar kuat mentalnya saya pake kata ini) untuk mencapainya. Petakumpet dapat PO (Production Order) bernilai miliaran itu setelah 9 tahun berjalan, bukan tiba-tiba saat salaman pendirian PT. 

Salah satu pondasi yang dipakai misalnya berasal dari sebuah kutipan Tibor Kalman 'If you believe in your ideas, money will follow. If you pursue money you should fail'. Sederhana, singkat, terlihat mudah tapi implementasinya luar biasa sulit!

Saat hampir semua biro desain grafis di Jogja nyari untung dengan mengambil margin dari biaya cetak, Petakumpet nekad pasang tarif untuk biaya desain saja, tanpa cetak. Cetak dihitung lain lagi. Maka geger lah dunia per-klien-an: Mas, mana ada desain yang bayar, di Jogja semua gratis!" Maka pergilah satu demi satu klien yang tak sudi membayar desainer-desainer Petakumpet yang kurus-kurus kurang makan waktu itu. Cash flow pun mulai seret, seringkali timbul diskusi brutal antara marketing yang ingin terima klien sebanyak-banyaknya apapun pekerjaannya, anak-anak kreatif yang idealis dan manajemen yang kukuh bertahan dengan pondasi aneh itu.

Hanya beberapa yang bertahan, mereka yang tahu betul apa manfaat kreatifitas dan konsep desain. Klien-klien inilah yang ingin maju dan tidak mau terima desain kelas dua. Mereka paham betul tentang value, tentang potensi bisnis, tentang kekuatan merk. Kombinasi keyakinan yang nekad dan klien-klien berhati mulia inilah yang akhirnya membawa Petakumpet ke level berikutnya, dianggap sebagai 'biro desain yang harganya mahal.' Sebutan yang jika tak sabar, akan mengundang bencana. Tapi ya sudah, kaki sudah nyemplung sebelah nyebur aja seluruh badan. Makin banyak klien kabur, tapi klien yang bertahan dan klien baru yang masuk budget-nya pun makin besar karena bisnis mereka berkembang. Agar sah dianggap biro desain serius, award pun mulai dikumpulin sampai 89 jumlahnya sekarang. Ini garansi tentang kualitas yang dikejar, harga akan mengikuti.

Singkatnya, kesediaan untuk menahan lapar mempertahankan prinsip dan keyakinan itulah semen pondasi yang terkuat. Kesediaan untuk tersenyum melihat teman-teman terlihat lebih sukses bisnisnya di awal (rumah baru, mobil baru, gedung kantor baru) sementara kita masih gelantungan di bis kota dan diasapi mobilnya lantaran naik motor di belakangnya memperjuangkan pondasi. Kesediaan untuk tidak buru-buru ingin terlihat sukses kalau memang belum waktunya sukses.

Ilmu tentang pondasi ini ilmu yang mahal tapi sangat mungkin dijauhi orang karena tidak menarik. Ini ilmu yang membedakan generasi muda instant dan generasi yang sungguh-sungguh berjuang. Ini ilmu yang membuat bisnis Anda built to last, termasuk 10% yang bertahan saat 90% lainnya ambruk loyo dihajar jaman yang berubah. Wajib buat saya menyampaikannya, sunnah buat Anda sekalian meneruskannya setelah membaca tulisan ini.

Lho Mas, baru ngobrolin pondasi udah panjang begini? Materi yang lain gak cukup waktunya dong? Tipsnya mana? Saran-sarannya buat audiens biar bisa sukses sebelum umur 30 tahun? Yang cespleng dan gak rumit-rumit?

Ijinkan saya pamit dulu, PR saya buat temen-temen mahasiswa: mulailah bikin pondasi bisnis sekuat mungkin, sesegera mungkin. Bab berikutnya akan saya lanjutkan 5 tahun lagi dari sekarang. 

Saya juga mau belajar lagi, belajar sabar dan tahu diri. Yang jelas pelajaran yang ini lebih lama waktunya, bahkan bisa seumur hidup. 

Udah dulu ya, makasih udah membaca blog ini. Selamat berjuang!

Tentang Hujan

Rasanya pertanyaan kapan mulai dan berakhirnya musim hujan, sudah tak relevan lagi. Kapan pancarobanya juga udah obsolete. Ramalan cuaca sama tidak bergunanya. Dulu waktu belajar geografi di sekolah, sudah ada bulan-bulan tertentu kapan jadual musim penghujan tiba kapan musim kemaraunya, di antara itu ada musim pancarobanya. Lalu waktu masih di Pertanian UGM, saya juga belajar bagaimana menggunakan alat peramal cuaca. Saya tidak tahu apakah ilmu geografi bisa mengimbangi kerusakan bumi akibat global warming dan kecanggihan para pawang hujan memindahkan awan-awan dan jadual hujannya.


http://foto.detik.com/images/content/2009/10/12/157/banjir-bandang01.jpg

Bumi makin tak bisa diprediksi, ilmu pengetahuan makin tidak konstekstual, bencana makin besar ancamannya, biaya untuk menjalani hidup aman yang biasa-biasa saja rasanya makin mahal saja. 

Dulu waktu masih kecil, hujan-hujan seharian badan saya selalu baik-baik saja, tapi sekarang langsung rombongan penyakit ikut saat air hujan mengguyur. Mungkin karena saya yang semakin tua atau bisa jadi lantaran air hujan tak lagi murni: polusi, limbah asap dan jenis-jenis gas kimia yang aneh-aneh sudah terlarut di dalamnya.

Lha terus gimana dunk jika udah begini? Saya juga belum tahu persis sebaiknya bagaimana. Karena tadipun saya melewati sebuah jembatan dengan sungai di bawahnya. Ada papan keluaran instansi pemerintah berbunyi: Kaline Resik, Uripe Dadi Becik (Sungainya Bersih, Hidup Jadi Baik) dan waktu saya tengok ke bawah: itu sampah menumpuk tepat di bawah papan nama peringatannya.

Jika kita keras kepala saat alam sekitar masih memberikan toleransinya dan mengabaikan dengan sadar peringatan-peringatan alamiah macam hujan salah musim, cuaca panas yang dilawan dengan AC yang mengeluarkan freon sehingga membuat udara di luar makin panas, mudahnya membuang sampah di sungai padahal tahu persis akibat buruknya: maka waktu buat alam untuk mulai menagih kita membayar hutang takkan lama.

Hari ini kita masih bisa melihat berita banjir di TV dengan segelas kopi panas di rumah yang berlapis karpet tebal hangat, kita masih bisa terharu melihat 220 juta rakyat Haiti meninggal karena gempa, kita masih bisa menyeduh popmie sambil meng-klik berita di internet tentang angin ribut, badai tropis, orang disambar petir.. Tapi sampai kapan wilayah 'aman' itu akan kita nikmati? Sampai kapan tiba gilirannya kita berteriak-teriak kedinginan minta tolong sambil disorot kamera jadi bahan berita siaran langsung televisi nasional?

Sementara bencana sudah mengetuk di depan pintu rumah kita pelan-pelan, kita dengar bunyinya tapi kita cuekin. Kita memilih bodoh dengan sengaja, yang penting rumah bersih sampahnya numpuk gak papa yang penting bukan di halaman rumah kita, ruangan dingin sejuk nyaman sementara di luar panasnya bisa membuat telur ayam matang.

Tulisan ini sesungguhnya lebih banyak saya tujukan buat diri saya sendiri, agar tak terperosok pada bencana yang kita undang dengan sadar. Menyadarkan diri sendiri itu jauh lebih sulit daripada bikin tulisan berlembar-lembar. Apalagi menyadarkan orang lain, aduh!!! Menteri Lingkungan Hidup aja belum tentu bisa, jadi ya monggo jadikan igauan ini sebagai cermin saja. Moga-moga bencana tak terjadi, jika terjadi juga ya mungkin sudah kasep (terlambat). 

Tapi janji lho jangan nyalahin siapa-siapa ya, toh kita-kita juga penyebabnya kan?

Monday, February 1, 2010

Lima Butir Kacang Ajaib


















Image pinjem dari http://images.mrbubba2002.multiply.com/image/2/photos/395/1200x1200/17/IMG-4967.JPG?et=qPdvjsUTUz%2C13G7sGq6lzg&nmid=111996576

Menjelang sore, sekitar jam 4. Saya sedang dalam perjalanan untuk balik ke Jogja dari kantor Jakarta. Di Gambir, saya pun antri dan mendapat tiket pulang malam itu, jam 8. Karena keberangkatan masih lama, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Monas sambil menunggu Maghrib tiba. Kebiasan untuk refresh begini, menurut saya penting setelah kita didera pekerjaan yang menguras otak habis-habisan. Sejenak melepaskan rutinitas dan menikmati view yang luas, udara yang bersih dan keajaiban sinar matahari sore yang keemasan.

Di sebuah lapangan di depan Monas yang menjulang, saya pun duduk men-defrag otak dan batin saya dengan earphone dan MP3 dari handphone. Damai sekali. Dari kejauhan mendekatlah seorang penjual minuman dan makanan ringan. Karena emang gak bawa bekal, saya pun beli secangkir kopi hitam panas (kopi adalah salah satu minuman favorit saya) dan 2 bungkus kacang bawang goreng sebagai temannya.

Mulailah ritual minum kopi, mendengarkan musik, melihat langit luas, mereka-reka bentuk awan dan mengunyah kacang bawang goreng yang gurih: what a perfect evening! Tanpa sadar, beberapa butir kacang terjatuh di rerumputan. Menjelang kacang bawang habis di tangan, saya menengok ke bawah. Ada 2 butir yang jatuh dan.... dikerubungi oleh puluhan semut dan barisan semut yang lain sedang menuju kesitu.

Melihat itu, iseng saya pun kumat. "Kasihan bener, 2 butir kacang jadi rebutan semut sekecamatan." Saya tambahin lah 3 butir kacang dengan agak disebar agar semut-semuat itu tak rebutan. Maka pasukan semut pun menyebar menuju sasaran.

Dari kejauhan, Adzan Maghrib berkumandang. Kopi saya udah tandas dari tadi, begitupun kacang bawang 2 bungkusnya. Selesailah jadual ritual defrag otak saya. Pasukan semut rupanya harus kerja lembur malam itu. Saya tinggalkan Monas dengan langit lembayung menggantung yang mempesona.

Perjalanan ke Jogja malam itu saya lalui dengan damai dan nyampai besok paginya. Selepas ngantor keesokan harinya, mainlah saya ke tempat Supie, calon istri saya. Saya sudah lupa kejadian sebelumnya, saya tak merasakan ada sesuatu yang sangat spesial dengan episode sore saya di Monas kemarin, saya tidak pernah cerita pada siapapun. Sampai Supie menunjukkan pada saya malam itu: kacang bawang goreng satu toples plastik yang dibelikannya untuk saya! 


















Image pinjem dari http://asri78.files.wordpress.com/2007/04/kacang-bawang-edit.jpg

Saya pun tertegun lalu tertawa terpingkal-pingkal: begini rupanya jika Allah ingin mengajari hamba-Nya. 5 butir kacang itu diganti-Nya dengan setoples kacang, jumlahnya mungkin lebih dari 1000 butir, saya gak ngitung. Allahu Akbar!

Teman-teman sekalian, ini kisah sepele memang. Tapi coba jika kita refleksikan 5 butir kacang ini dalam kehidupan sehari-hari: bisa berupa uang 5 ribuan untuk yang belum makan seharian, 5 ratus ribu untuk orang tua yang tak mampu ngobatin sakit anaknya, 5 baju untuk yang tak berpakaian, 5 buku tulis untuk anak sekolah di desa terpencil, 5 paket beasiswa untuk anak-anak yatim yang tak mampu sekolah, 5 rumah untuk gelandangan usia lanjut, alangkah indahnya hidup dengan semangat berbagi begini.

Dan dengan kuasa Allah, 10 kali atau 70 kali atau 700 kali lipat penggantinya akan segera dibungkus dan diantarkan kepada hamba-Nya yang bersedia menolong hamba Tuhan yang lain yang lebih membutuhkan, lebih susah, lebih kekurangan. 

Ada begitu banyak keajaiban yang akan dihadirkan Allah jika kita mau. Jika kita yakin dan menjalankan petunjuk-Nya. 

Saya ada true story bagaimana sedekah telah mengubah Hp Nokia E63 (seharga Rp 1,9 jt) menjadi Blackberry Bold 9000 (seharga Rp 5 jt) tanpa minta, tanpa beli, tanpa kredit. Diganti begitu saja. Juga cerita-cerita lainnya yang ajaib-ajaib. Insya Allah nanti jika ada kesempatan saya akan bagikan.

Kita mulai aja dulu dengan yang kecil-kecil, dari kita sendiri dan sekarang aja mulainya. Kita punya apa? Kita bisa apa? Siapa yang kita tolong hari ini? Mana harta kita yang tak pernah dipakai sehingga tak jelas gunanya? Buku mana yang telah kita selesaikan baca dan hafal isinya?

Di luar sana banyak yang tak seberuntung kita, bagikanlah kepada mereka agar tersenyum, agar tumbuh persaudaraan, agar hadir kebersamaan. 

Apakah keajaiban juga akan mendatangi teman-teman jika melakukan yang saya lakukan? Saya yakinnya begitu, saya pun dulu niru-niru. Untuk membuktikannya, kerjakan dulu, praktekkan dulu. Jangan kebanyakan makan teori nanti malah ragu-ragu. Yakin, kerjakan dan sabar. Jika waktunya tiba, Anda akan tahu bahwa Allah selalu memegang janji-Nya. Keajaiban akan hadir bahkan melebih impian Anda yang terliar.