Mybothsides

Monday, March 15, 2010

Merekonstruksi Diskomvis

Rekonstruksi Kurikulum Deskomvis Berbasis Kompetensi:
Menemukan Missing Link Dunia Akademis dan Industri Kreatif

Menjadi seorang alumnus pendidikan tinggi yang siap bekerja - setidaknya sampai hari ini - masih menjadi harapan yang ‘agak’ tinggi jika dibandingkan dengan realitas yang ada.

Pertanyaan yang sering disampaikan kepada saya – ketika masih kuliah maupun setelah bekerja – adalah: apakah setiap mata kuliah yang telah dipelajari dengan susah payah di bangku kuliah akan digunakan ketika bekerja? Apakah nilai tinggi di SKS juga mencerminkan kualitas dan profesionalismenya di dunia kerja? Apakah mereka yang IP-nya bagus dan lulus cumlaude bisa jadi jaminan diterima bekerja?

Dari banyak kasus riil yang saya lihat, sangat disesalkan bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah: tidak selalu. Bisa ya, bisa juga tidak. Artinya: ada jurang cukup serius yang harus dijembatani oleh lembaga pendidikan tinggi dan dunia profesional untuk menciptakan keseimbangan dan simbiosis mutualisme di antara keduanya. Sehingga muncullah konsep link & match yang menghasilkan mata kuliah: magang, PKL (Praktek Kerja Lapangan), Kerja Profesi atau apapun namanya. Tujuannya agar mahasiswa bisa merasakan dan mempelajari situasi riil dunia kerja dengan segenap resiko dan tanggung jawabnya, sebelum ia benar-benar memasuki dunia tersebut. Sementara bagi perusahaan, mereka bisa memantau bibit-bibit kreatif unggul dari dunia pendidikan tinggi untuk direkrut setelah mereka menyelesaikan kuliahnya.

Back to Basic

Pada awalnya adalah paradigma. Darimana segala sesuatu dimulai dan selanjutnya akan dibawa kemana. Jika pertanyaan seperti ini diajukan ke Pendidikan Tinggi yang mempiunyai jurusan/prodi Disain Komunikasi Visual, maka bunyinya menjadi kurang lebih: seperti apa profil calon mahasiswa yang diharapkan oleh Diskomvis, serta akan dibentuk jadi apa?

Kita perlu melihat kembali titik awal sambil mengoreksi langkah kita yang terlewat, serta mempersiapkan pijakan demi pijakan di masa depan. Hanya dengan itu – lewat pengalaman yang hidup – kita tidak melenceng dari tujuan semula. Banyak hal yang tidak beres hari ini disebabkan oleh akar permasalahan yang tidak pernah terselesaikan. Mau tak mau kita harus menengok kembali jejak kita di belakang dan menemukan missing link antara dunia akademis dan industri kreatif

Pada tulisan singkat ini saya hanya akan sharing beberapa hal yang saya lihat dan alami, serta beberapa perspektif kemungkinan sinergis yang bisa dilakukan oleh dunia akademis, alumnus dan industri kreatif ke depannya.

Desainer Atau Ilmuwan Desain?

Apa yang perguruan tinggi inginkan dari ratusan bahkan ribuan orang yang antre memasukinya setiap tahun? Apakah mereka akan diproses menjadi seorang desainer atau ilmuwan desain saja. Dan kualifikasinya apa? Dari beberapa hal sederhana tentang proses seleksi mahasiswa baru misalnya, dimana materi yang diujikan meliputi teori, sketsa, gambar bentuk dan minat utama Diskom. Arahnya adalah mencari calon mahasiswa yang skill artistiknya tinggi dan kreatif. Lalu lihatlah output-nya di dunia kerja: sebagian besar menjadi Art Director, atau jika kurang mujur Visualizer. Dan itu adalah posisi yang paling laku untuk anak-anak DKV yang bertipe Seniman (Artist). Output-nya dianggap memiliki kualitas artistik yang handal. Tapi tentu saja lingkup profesionalnya akan terbatas hanya di bidang kreatif (dalam pengertian yang sempit: desainer grafis).

Tapi mereka yang bertipe ilmuwan desain sedikit berbeda. Start-nya bisa jadi sama: di awal kerja sebagai Art Director (sangat sedikit yang menjadi Visualizer) dan masih bisa berkembang lagi menjadi Creative Director, dan masih bisa berkembang lagi ke posisi lainnya. Tapi tidak dengan – sebagian besar – lulusan bertipe seniman di atas. Posisi Art Director seringkali adalah final position. Lalu mentok di situ. Posisi lainnya adalah pintu tertutup bagi mereka, selama ia tidak bersedia belajar lagi lebih luas dengan disiplin ilmu baru yang tak diperolehnya di kampus. Skill artisitik semata tak cukup untuk meng-handle tanggung jawab profesional yang complicated. Menangani kampanye promosi (di lingkup profesional) sebuah produk selama rentang 1 tahun misalnya, membutuhkan lebih dari sekedar pembuatan konsep perancangan dan art work desain. Di dalamnya terdapat manajemen waktu, pengelolaan SDM, lobbying, network, juga sistem operasional. Secara personal, semua ini membutuhkan basis intelektual yang memadai.

Untuk mewujudkan ilmuwan desain yang ready to grow, tidak sekedar ready to be used, kampus sebaiknya membekali mahasiswanya dengan kemampuan penalaran dan logika, sekaligus kreativitas sejak awal seleksi mahasiswa baru lewat materi tes yang tepat. Tidak saja dibutuhkan hasil desain yang bagus, tapi prosesnya juga harus runtut dan benar. Proses ini penting, terutama ketika menyangkut hal-hal dengan kompleksitas tinggi, misalnya kampanye yang melibatkan kerjasama dengan banyak pihak dan rentang waktu panjang.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua perguruan tinggi Diskomvis harus menggunakan metoda seperti itu untuk mengejar ketertinggalannya. Setiap perguruan tinggi punya visi dan misinya sendiri, yang terwadahi dalam mata kuliah local contents.

Dan tantangan untuk rekonstruksi ulang bagi seleksi awal mahasiswa Diskomvis bisa jadi wacana baru. Dan ini bisa berlanjut dengan hal-hal lain, seperti sebaran mata kuliah (kurikulum) yang lebih banyak memberdayakan mahasiswa daripada sekedar menghafal. Termasuk sumber bacaan dan akses atas teknologi yang kadaluarsa dan minimnya referensi text book bagi mahasiswa Diskomvis.

Inti Universitas di Kepala

Saya meminjam kata-kata di atas dari Emha Ainun Nadjib. Bahwa universitas bermula di dalam diri manusia sendiri, di dalam kepalanya. 

Lalu hal semacam ini dilembagakan dan muncullah sekolah-sekolah. Dan logika semacam itu sudah terbolak-balik. Sekarang, sekolah dijadikan tumpuan untuk garansi masa depan dan modal mencari kerja. Tentu saja ini bukan merupakan kesalahan besar. Tapi jika kita menganggap nilai macam ini suatu ‘kebenaran’ dan diyakini maka efek biasnya akan bagai bola salju yang menggelinding. Seolah-olah, tanpa universitas, tanpa institusi perguruan tinggi tak pernah ada pemikiran ilmiah. Sehingga mitos perguruan tinggi (apalagi negeri) lalu disembah dan dijadikan rebutan oleh ribuan orang.

Sesungguhnya kampus (dan seluruh infra strukturnya) hanya media, sarana dan ia lebih bersifat sebagai passive object. Mahasiswa, dosen, karyawan adalah subject dari proses pembelajaran yang dinamis. Jika ini tidak terjadi dan masing-masing pihak sudah merasa puas 'hanya menjadi' bagian dari sebuah nama besar institusi, maka selesailah sudah fungsi akademiknya. Dan kita tak bisa berharap hal-hal baru, temuan-temuan yang bermanfaat bagi masyarakat akan tercipta dari sebuah institusi pendidikan yang tak punya kegairahan untuk bergerak me-manage dirinya sendiri ke masa depan.

Rekonstruksi keilmuan, pemaknaan ulang atas mitos, pembaharuan asumsi yang selama ini kita yakini dan pertahankan sebagai satu-satunya acuan nilai selayaknya mulai dilakukan, sebelum kita semua ketinggalan kereta. Dengan pertimbangan yang rasional, obyektif dan kedewasaan pemikiran.

Dari Kampus ke Industri: Peluang Kerja di Bisnis Kreatif

Dari sangat banyak profesi yang tersedia bagi para alumnus pendidikan tinggi desain (creative director, art director, designer, copy writer, illustrator, animator, web designer, account executive, photographer, dsb.) secara garis besar bisa diklasifikasikan menjadi tiga pilihan, yaitu:
-    Bekerja di perusahaan
-    Menjadi creative freelance
-    Membangun perusahaan kreatif sendiri

Setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing, dengan tingkat tantangan dan kesulitan yang bervariasi. Mana yang akan dipilih oleh alumnus perguruan tinggi Diskomvis?

Bekerja di Perusahaan

Yang menjadi primadona adalah bekerja sebagai desainer grafis (DG) di perusahaan yang sudah mapan. Hampir tiap hari puluhan bahkan ratusan curiculum vitae dan sample karya berdatangan, utamanya di perusahaan-perusahaan desain grafis atau biro iklan di kota besar. Jika diterima, DG – seperti staf perusahaan lainnya - ngantor dari pagi sampai sore. Meskipun tidak jarang ketika jumlah order memuncak mendekati deadline, jam pulang bisa diundur sampai 00.00 atau bahkan keesokan harinya.

DG tidak hanya bekerja di biro iklan atau perusahaan kreatif saja. Perusahaan-perusahaan besar yang mempunyai kegiatan promosi yang padat, biasanya memiliki inhouse designer (biro desain internal) sendiri untuk melayani kebutuhan internal publication/promotion, di bawah koordinasi Departemen Marketing, Promosi atau Public Relation.

Perbedaan yang cukup signifikan antara biro iklan dan inhouse adalah pada jenis order yang dikerjakan. Di biro iklan, jenis media maupun konsep kreatifnya sangat variatif tergantung brand/corporate yang ditangani. Sementara di inhouse, kita hanya bekerja dengan satu corporate, yang menangani event-event atau kegiatan promosi perusahaan induknya. Jabatan seorang DG diatur dengan jenjang tertentu: dari Visualizer, Art Director sampai Creative Director. Kenaikan jenjang jabatan itu berarti peningkatan tanggung jawab profesional yang juga berimplikasi pada kenaikan gaji, tunjangan dan bonus pula.

Menjadi Creative Freelance

Creative freelance - atau lebih spesifik disini: desainer freelance (DF) - bisa diartikan sebagai profesi yang menangani pekerjaan desain grafis secara individual. DF mengerjakan order tunggal atau berurutan, dengan pola kerja yang tidak terikat. DF memiliki kebebasan untuk menangani pekerjaan yang diinginkannya saja, dan pendapatan yang diterima biasanya dihitung per proyek dan bukan dalam rentang waktu seperti staf. DF memiliki keleluasaan berkreasi, terutama jika klien telah percaya penuh dengan kemampuannya.

DF menjadi boss atas dirinya sendiri dan mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Alur kerjanya sederhana, tidak berbelit-belit seperti misalnya birokrasi sebuah perusahaan. DF akan mempunyai bargaining position yang kuat terhadap klien, hanya jika ia mempunyai kualitas karya dan kedisiplinan yang tinggi dalam penyelesaian ordernya. Dalam dua hal ini, seorang DF bersaing dengan DF lainnya dan juga dengan perusahaan kreatif yang bergerak di bidang yang sama. Jika dua hal tersebut tidak bisa dicapai oleh DF, maka posisinya sangat lemah dan calon klien tidak mudah percaya kepadanya. Klien  akan mudah mempermainkannya dalam  masalah  harga dan waktu pembayaran. DF harus bisa mandiri, me-manage sendiri kemampuan kreatifnya dan bisa menjualnya dengan nilai yang pantas.

Membangun Perusahaan Kreatif Sendiri

Pilihan ketiga ini membutuhkan syarat yang jauh lebih berat. Tidak sekedar skill kreatif yang memadai tapi juga keberanian mengambil resiko yang terukur serta pemahaman manajerial yang mendalam. Artinya ada proses yang harus ditangani secara berkesinambungan antara bidang desain grafis dengan bidang lainnya (marketing, administrasi, keuangan, client service, research, personalia, dsb.). Pilihan ini biasanya diambil oleh para profesional yang sudah merasa capek bekerja di perusahaan besar. Mereka memiliki modal dan pengalaman setelah berkecimpung cukup lama di perusahaan yang sudah eshtablished, lalu mengimplementasikannya di perusahaannya sendiri, dengan beberapa modifikasi. Tapi fenomena yang ada sekarang, keinginan mendirikan perusahaan sendiri ini juga marak dilakukan oleh para alumnus pendidikan tinggi, atau bahkan oleh mereka yang drop out kuliah. Perjalanan waktulah nantinya yang akan menentukan apakah perusahaan-perusahaan yang didirikan (start up company) ini akan bisa terus berkembang atau berhenti di tengah jalan.

Dengan membangun perusahaan sendiri, artinya kita menciptakan lapangan kerja baru dan mempunyai keleluasaan untuk menentukan arah dan strategi perusahaan kita ke depan, dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Jika perusahaan itu sukses, kita juga akan mendapatkan kebebasan finansial.

Alumnus Pendidikan Tinggi yang ‘Ideal’

Dari fakta yang saya dapatkan di lapangan kerja, jelas terlihat bahwa kita tidak bisa mengandalkan sepenuhnya perolehan ilmu dari bangku kuliah. Tapi paling tidak, mata kuliah yang telah dipelajari bisa digunakan sebagai modal awal, sebagai pondasi untuk terus mengembangkan diri. Yang paling penting bukan sekedar tingginya IP di transkrip nilai, tapi justru antisipasi kreatif terhadap tantangan profesionalisme yang nantinya menjadi tanggung jawab kita. Nah, adakah konsep ideal seorang alumnus jika dihubungkan dengan dunia kerja? Kemampuan apa yang harus dimilikinya sehingga ia tidak saja disebut cerdas tapi juga sekaligus sellable: lolos saringan masuk dunia kerja.

Beberapa hal berikut sebaiknya disiapkan untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang makin keras:

1. Meningkatkan kemampuan teamwork

Untuk menciptakan kinerja yang tinggi, teamwork masih menjadi pilihan terbaik. Orang bilang, sepuluh kepala masih lebih baik dibanding satu kepala. Syaratnya adalah bahwa perbedaan ide, gagasan dan pandangan bisa disikapi secara positif dan disalurkan secara konstruktif sehingga bisa saling memperkuat. Egoisme dan sifat individual memang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tapi bisa disalurkan dengan bijak asalkan setiap orang bersedia menghargai ide orang lain. Hanya ide yang secara obyektif paling baik yang akan diterapkan, tidak penting apakah itu berasal dari diri kita maupun orang lain. Persamaan – kata Ahmad Wahib – tidak menggugah apa-apa, justru perbedaan yang akan menciptakan kedewasaan dan kemajuan. Tentu saja jika disikapi secara positif.

2. Mengubah kreativitas menjadi bernilai bisnis

Saya melihat masih banyak potensi unggul yang belum didayagunakan secara maksimal di kampus-kampus. Betapa banyak juara, mahasiswa cerdas bahkan jenius yang tidak mendapatkan jalur yang pas untuk masa depannya. Bagaimana ide-ide kreatif hanya selesai sebagai ide doank, padahal jika bisa me-manage prosesnya ide-ide tersebut bisa menjadi amunisi ampuh untuk menciptakan perusahaan-perusahaan masa depan yang profitable. Tidak mudah memang untuk mencapai standar profesionalisme dalam setiap pikiran dan tindakan kita sehingga orang lain bersedia menghargainya dengan nilai yang pantas. Dan ini harus diupayakan dengan langkah yang tepat, sistematis dan kontinyu.
3. Komitmen penuh dalam bekerja
Sesudah penguasaan skill atas bidang yang menjadi concern kita, saatnya membuat komitmen untuk bekerja sepenuh hati, dengan profesi idaman yang memang kita pilih sendiri. Bukan karena ikut-ikutan teman atau karena sedang trend. Tidak akan pernah tercipta komitmen jika kita tidak berpijak pada dasar dan alasan yang kuat kenapa kita bekerja dan untuk tujuan apa ke depannya. Hanya para profesional yang berkomitmen – yang bekerja tidak semata-mata demi gaji atau uang – yang akan mampu bertahan dalam era persaingan bebas seperti sekarang.

4. Terus belajar dan mengembangkan diri
Ilmu pengetahuan akan terus berkembang seiring percepatan gerak perubahan jaman. Kemampuan yang handal hari ini, bisa menjadi basi besok pagi. Budaya internet dan kemajuan teknologi informasi membuat perubahan semakin cepat terjadi. Tiap detik yang terlewat dan tiap byte yang terkirim adalah ancaman serius terhadap mereka yang cepat puas dan merasa ‘sudah pandai’. Selayaknya kita memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk mengembangkan diri lagi: dari praktek-praktek terbaik yang pernah dilakukan oleh orang lain, dari buku, internet dan terutama dari pengalaman atas keberhasilan dan kegagalan kita sendiri.

Catatan Akhir


Satu hal penting yang jadi catatan akhir dari saya: bahwa bekerja bukan akhir dari proses belajar. Justru dengan bekerja secara profesional maka proses belajar yang integral sedang dimulai: menciptakan sinkronisasi antara pengetahuan teori dan aspek praktis, menyambungkan missing link dunia akademis dan dunia industri. Seperti yang kita maklum, di dunia akademis orang harus menulis landasan teorinya dulu sebelum berbuat/bereksperimen, sementara di dunia bisnis para pengusaha biasanya berbuat dulu baru memikirkan bagaimana menuliskan teorinya sebagai buah dari pengalaman praksisnya. Nah, kalo dua hal ini ketemu: alangkah luar biasa manfaatnya bagi mahasiswa kita.



Apalagi proses belajar –setahu saya - tidak pernah mengenal kata selesai. Jadi bangku kuliah itu sebaiknya dibawa - dalam wujud konsep belajar di otak kita masing-masing - ke dunia kerja. Karena masa depan kita semua sangat membutuhkan mentalitas seperti itu.

Itulah satu-satunya tiket yang berlaku dalam sistem kompetisi kerja yang semakin keras ini.


No comments: