Mybothsides

Tuesday, December 21, 2010

Seminar Bareng Om Saptuari


Bingung mau bisnis apa? Mau bikin usaha tapi bngung cari ide? Pengen punya usaha tapi gak punya modal?

KOPMA UMY proudly presents SEMINAR CREATIVEPRENEUR "cara kreatif menjadi pengusaha tanpa modal" 

Selasa, 11 Januari 2011, Gd. Ar Fahrudin B lantai 5 Kampus UMY 

Speaker : 
M. Arief Budiman (Managing Director Petakumpet , Penulis buku jualan Ide Segar, Kadiv Pengembangan Ekonomi Kreatif Bidang Periklanan dan Multimedia Kadin DIY / 2010, Programme Director ADGI Pusat (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) 
Saptuari Sugiarto (founder Kedai digital corp. , Provokator enterpreneur, Juara Wirausaha Mandiri ) 

Fasilitas: lunch, snack, pin, seminar kit, relasi bisnis, doorprize, resep2 memulai usaha tanpa mikir modal

Investasi: mahasiswa Rp 65.000,- (daftar 5 gratis 1 tiket) umum Rp 100.000,- (daftar 5 gratis 1 tiket) informasi hub : linggar 0878 388 07893 winda 085790351375 lintang 085641365425 Bery 081370966617 

Tempat pendaftaran di Kopma Business Center (FC Kopma UMY) Jl. Ringroad barat tamantirto, kasihan, bantul atau Loby gedung D kampus umy  

Support by : KEDAI DIGITAL, PETAKUMPET, UMY

Thursday, December 16, 2010

Person of The Year 2010 Time Magazine

Mark Zuckerberg
Selamat ya Bro, keren bener ente udah ngetop padahal belum tua. Jangan lupa makan-makan, jangan cuma say tenkiu di wall doang ya. Kapan-kapan kumaen ke tempatmu deh. Masih yang di tempat lama kan? Atau udah pindah? Wis gak papa, nanti kucarinya via google map, atau nanya-nanya satpam yang biasa nongkrong ama pedagang siomay di perempatan itu. Oya, salam buat Pakde yaa :) Sejak gak bikin coding, ngapain aja doi? Btw, ternyata di facebook ada aplikasi dari Majalah Time untuk Person of The Year. Kucobain dulu yach :) 

Tuesday, December 14, 2010

Surat Cinta Dari Neraka

Di akhir Ramadhan itu, 35 puisi yang berkisah tentang cinta disampaikan oleh seorang pengirim paket kepada saya. Ya, cinta jika sudah ditulis dalam bentuk puisi, memang bisa 'dipaketkan'.

Tapi melihat judul yang menyertai paket itu, saya terhenyak. Di akhir Ramadhan - dimana surga-Nya sedang sibuk memanggil-manggil - saya malah mendapat 'Salam Cinta dari Neraka.' Sebuah surprise yang indah!

Menelusuri butir-butir kata puitis dan goresan ilustratif yang menyertainya, kumpulan kisah cinta ini mengajak kita untuk sejenak melangit. Melihat sisi tertinggi atas makna mencintai, membubungkan kesadaran bahwa cinta tak selalu bisa diungkapkan dengan bahasa manusia, cinta seringkali lebih dekat pada bahasa langit, bahasa-Nya.

Karena saat membicarakan cinta, benar salah, senang susah, bahagia derita, jauh dekat, nikmat pedih, menjadi relatif adanya, menjadi sangat tergantung pada kadar kecintaan yang sedang mengalaminya.

Maka absurditas, keterkejutan, kemustahilan, mimpi di dalam mimpi di dalam mimpi, apa saja bisa menjelma realitas yang masuk akal bagi yang sedang jatuh cinta atau putus cinta. Sekali lagi, cinta adalah pintu gerbang menuju segala kemungkinan. Ruh cinta melampaui kemampuan manusia untuk mencernanya.

Mbak Erike, dalam buku ini mengajak kita membuka mata, membuka ruang tergelap di hati kita, untuk menerima kehangatan dan kepedihan cinta dalam kadar yang mengejutkan. Ilustrasi yang menyertainya juga bukan sekedar mendeskripsikan puisi tapi menjadi bagian tak terpisahkan, utuh dalam penyampaian.

Buku ini akan menghangatkan hati Anda yang mungkin sedang kosong dari makna, akibat terlalu larut dalam rutinitas sehari-hari. Saat cinta menjadi hal yang biasa bahkan komoditas. Saat keajaiban perasaan cinta yang menakjubkan mulai memudar sekedar menjadi bagian upacara basa-basi dalam percakapan, pertemuan bahkan kebersamaan yang intim.

Tanpa cinta yang utuh - yang melebur seluruh kehendak kesementaraan pada keabadian - hidup hanyalah menunda kematian.

Buku 'Salam Cinta dari Neraka' ini akan mengisi waktu yang tertunda itu dengan embun yang menyejukkan. Yang membuat siapapun siap menyongsong kematian dengan senyuman, karena cinta akan membahagiakan setiap hati yang dirundung kesedihan.

Sunday, December 12, 2010

A Ding in The Universe

Berfikir bahwa engkau akan mengubah dunia, lalu menghidupkan siang dan malammu untuk mengejar itu, belum bisa jadi jaminan bahwa engkau akan mencapainya di ujung umurmu.

Seringkali orang-orang besar yang mengubah dunia, melakukannya tanpa niat yang besar, mereka menggelinding begitu saja mengikuti kata hatinya, melakukan apapun yang mereka lakukan dengan suka cita lalu... Bummm!!! Dunia pun berubah karena hal-hal kecil yang mereka lakukan.

The Social Network, sebuah film karya sutradara favorit saya David Fincher (Se7en, Fight Club, The Curious Cae of Benjamin Button, dll.) tidak lebih tidak kurang, menggambarkan kebetulan-kebetulan seperti itu. This a recommended movie if you have dreams to change the world.

Kalau balik lagi ke beberapa puluh tahun silam saat fajar industri komputer menjelang, Apple Computer dan Microsoft-pun melewati fase yang sama. Juga Starbucks, lalu Google, yang termutakhir Twitter. Benar bahwa sungguh sangat penting untuk berfikir besar - seperti kata Steve Jobs - to put a ding in the universe - tapi apa yang kemudian sungguh-sungguh mengubah dunia ini dengan kehadiran pemikiran dan tindakan kita adalah sesuatu yang sangat sederhana.

Percayalah pada keyakinan yang terdalam di hatimu. Lalu berjuanglah sekeras mungkin untuk mengikutinya.

Riyadhah 40 Hari

Lagi susah? Punya hajat? Terjerat hutang? Coba ngebut di Riyadhah 40 hari. Sekalian jadi upaya tolak bala dari banyaknya bencana di negeri kita ini:
  • 40 hari jaga sholat berjamaah, di masjid, tanpa ketinggalan takbir pertama imam. Bila Anda adalah perempuan, minta izin sama suami atau jalan sama muhrim. Kalo ga aman, jangan. Ga apa-apa di rumah. Tapi standby sebelum azan.
  • 40 hari jaga shalat sunnah dhuha dan shalat malam. 40 hari jaga qobliyah ba'diyah.
  • 40 hari jaga puasa senen kamis, syukur-syukur bisa puasa daud, sehari puasa sehari engga.
  • 40 hari baca Surat Al Waaqi'ah saban habis shubuh dan habis ashar, Yaasiin saban habis isya, dan Al Mulk saban jelang tidur. Di antara itu, khatamin Qur'an. Ga usah 40 hari khatam. Yang penting ada usaha mengkhatamkan.
  • Awali dengan sedekah yang besar, yang bernilai, yang sebelumnya susah untuk dikeluarkan. Yang lebih besar pokoknya.
  • 40 hari baca laa hawla walaa quwwata illaa billaah 300x, bebas jamnya, pokoknya 300x. Istighfar harian 100x, shalawat 100x.
  • Tetap kerja, tetap dagang, tetap belajar, tetap beraktifitas seperti biasa. Hanya jadiin ibadah, dengan awal baca bismillah dan selesainya baca alhamdulillah.
  • Saban habis shalat, baik yang wajib dan sunnah, berdoa. Doa masing-masing. Boleh bahasa indonesia.
Sumber: www.wisatahati.com
Image: http://rosodaras.files.wordpress.com/2010/08/bk-berdoa-ok.jpg

Monday, November 1, 2010

Yuk Join Mawas ADGI

Adgi sangat berduka dan prihatin terhadap bencana yang tengah menimpa Indonesia. Longsor di Wasior, banjir di Jakarta, Tsunami di Mentawai dan bencana di Merapi seakan tengah menguji kita semua. Selaku organisasi asosiasi desainer grafis di Indonesia, Adgi mengajak seluruh komponen bangsa dengan segala kemampuan dan upaya untuk membantu saudara kita yang terkena bencana.

Adgi juga mengajak para desainer grafis tanggap dan peduli bencana ini. Menyoal desainer tanggap bencana, Adgi melakukan koordinasi cepat turut membantu meringankan beban masyarakat yang terkena bencana dengan mengajak publik memberikan bantuan baik berupa finansial maupun kebutuhan lainnya.

Adgi menterjemahkan ajakan ini dalam konsep komunikasi untuk “Mawas”
Dimana dalam ajakan tersebut yang paling penting adalah:
  1. Mawas terhadap bencana bagi siapapun kita semua, dari bencana apapun dan di daerah manapun karena waspada adalah melakukan upaya preventif.
  2. Mawas terhadap mereka yang memrlukan pertolongan yang diakibatkan bencana.
Gerakan moral Adgi ini terbuka direspon oleh anggota Adgi dimanapun. Untuk itu merespon dan menampung gagasan lain sebagai bentuk program tetap dimungkinkan untuk ditambahkan dalam program ini. Program baru yang relevan dengan dunia kreatifitas khususnya profesi desain grafis tentu saja sangat diutamakan.

Sumbangan bisa disalurkan lewat Rekening ADGI Pusat an. Tri Anugrah 6310268303 BCA Cab. Pegambiran

Silakan bantu menyebarluaskan ajakan ini di kalangan internal organisasi, jejaring organisasi dan kalangan umum. Yang menjadi koordinator program ini adalah mas M. Arief Budiman, Direktur program Adgi 2010-2012, untuk itu silakan berkoordinasi bagi kelangsungan program yang baik. Semoga bentuk kepedulian ini merupakan bagian dari tanggung jawab profesi desainer grafis yang sangat penting bagi pembangunan masyarakat.

Untuk keterangan dapat menghubungi:
M. Arief Budiman
Direktur Program Adgi
HP: 081578700488
Email: arief_009@yahoo.com

Monday, October 25, 2010

Pemilu Raya Adgi Jogja 2010

Buat all member Adgi Jogja: Ikuti Pemilu Raya Ketua Adgi Jogja 2010-2012, dimohon hadir di Sekretariat, Dreamlab Building, Jl. Nogotirto 77B Gamping Sleman, Selasa, 26 Oktober 2010, 15.30-17.00 WIB. Untuk konfirmasi kehadiran dan info lebih lanjut silakan hubungi: Iqbal Rekarupa 08179417881

Sunday, October 24, 2010

Menikmati Godaan Tuhan

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 24 Oktober 2010
Resensi Buku Tuhan Sang Penggoda
Penulis: M. Arief Budiman
Penerbit Galang Press
Cetakan Pertama 2010, 298 Halaman
Harga Rp 46.500,-
''TUHAN aku ingin berbicara dengan Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya bahwa Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan munafik tapi juga benci pada pikiran-pikiran munafik, yaitu pikiran-pikiran yang  tidak berani memikirkan pikiran yang timbul dalam pikirannya atau pikiran-pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.''

Itulah setangkup kegelisahan Ahmad Wahib dalam Catatan Harian Pergolakan Pemikiran Islam tertanggal, 9 Juni 1969 yang bertudung Tuhan, Maklumilah Aku. Dalam larik-larik kalimat itu jelas membekas gurat-gurat kegalauan seorang pemuda kelahiran Madura terhadap nalar ketuhanan. Wahib tenggelam dalam sebuah renungan kelam yang tidak sembarang orang berani menyelam ke sana.

Ritme kegalauan tersebut serasa dilantangkan kembali oleh Arief Budiman dalam Tuhan Sang Penggoda. Memang, sejak membuka halaman pertama buku itu, kesan Wahibian sama sekali tak bisa dielakkan. Roh kemerdekaan berpikir yang diletupkan Wahib pada era 1970-an benar-benar merasuki logika berpikir Budiman.

Hanya jika dibandingkan dengan catatan harian Ahmad Wahib, konstruksi logika berpikir Budiman dalam buku tersebut masih kurang sistematik. Setidaknya itu bisa diurai dari latar keilmuan dan faktor lingkungan. Logika berpikir Budiman diasah di lingkungan akademik lnstitut Seni Indonesia (ISI) sehingga dia bisa menjaring serangkum peristiwa dengan cara jenaka.

Tapi, justru di situlah kelebihan buku Budiman. Dia tidak terjebak pada formalisme doktrinal serta mampu mengesampingkan batas-batas ideologis dan akademis. Sehingga, catatannya - meski meruang-mewaktu - serasa bernyawa, segar, selalu hidup dan berdialektika dengan pembaca di ruang-waktuyang lain.

Apalagi Budiman kerap menggunakan pronomina saya. Dengan begitu, dia telah menerabas rentang psikologis pembaca buku. Walau semula saya merujuk kepada Budiman, saya akan merepresentasikan eksistensi masing-masing pembaca sehingga seolah-olah pembaca terlibat dalam setiap peristiwa yang berkelebat dan mengalami langsung perjalanan rohani tempat kesadaran nurani yang paling hakiki menemukan kesejatian makna. Setiap pembaca adalah saya yang senantiasa bergerilya dalam rimba belantara kehidupan. Dengan begini, ketika membaca Tuhan Sang Penggoda, penting berintrospeksi dan mengevaluasi diri pun amat lempang.

Buku itu merupakan cermin pergulatan hidup Budiman yang terserak dalam rentang waktu 11 tahun, 1998-2009. Waktu yang terasa tidak terlampau panjang sebenarnya untuk menggambarkan secara utuh pola konstruktif kedirian. Namun, dengan kejelian ekstrem, dia sanggup merekam puzzle-puzzle pemikiran atas sengkarut nomena dan fenomena yang dialami saban hari.

Hanya, puzzle pemikiran itu tak disusun secara kronologis, tetapi tematis dengan empat klusterisasi besar: Mencari Jalan Pulang, Menuju Batas Langit, Mencari Rumah Tuhan dan Mengais Remah Kehidupan.

Masing-masing kluster berbicara tentang satu bahasan khusus sehingga satu sama lain dihubungkan seutas benang merah yang membentuk gambaran besar mengenai upaya serius untuk mewujudkan impian dalam kehidupan. Budiman merentangkan impian itu sepanjang jangkauan. Namun, seperti lazimnya mimpi, tak semua mudah dinyata.

Budiman mengobarkan semangat alang-alang. Sebagian besar catatan pemikirannya dilandasi optimisme yang begitu teguh. Nyali yang kukuh. Simak selarik catatan tersebut: ''Tuhan, Engkau baik hati meskipun kadang kurang ajar. Saya tahu Engkau tidak akan menghadirkan keajaiban pada hamba-Mu yang lemah. Karena itu, saya tidak menyerah.'' (him 92).

Begitulah kegupdahan optimistis yang tanpa malu-malu diungkap secara telanjang. Budiman mengemas kegundahan yang bertalu-talu menjadi sebongkah rindu yang begitu menggebu-gebu kepada Tuhan. Persoalan ketuhanan selama ini yang diasumsikan rumit dan berbelit-belit di tangan ajaib Budiman berubah menjadi hal yang mudah seperti air yang mengalir dari dataran tinggi menuju dataran rendah.

Hal lain yang tak kalah dilantangkan Budiman terutama terkait dengan otokritik sosial. Budiman lihai membidik peristiwa anomali sosial secara kocak. Slengekan. Tapi, malah menyemai benih-benih edukatif secara substantial. Laiknya melakukan tembakan ribon, kesalahan seolah ditimpakan liyan, namun justru kembali tertuju kepada diri.

Lihat misalnya, kegelisahan Budiman terhadap budaya instant televisi yang telah meracuni karakter anak-anak: ''Bahwa lingkungan dan media televisi telah mengajari mereka secara otomatis tanpa disadari. Terkadang merasa sebagai Sun Goku, Ksatria Baja Hitam, Saras 008, atau yang lain. Dan, anak-anak hanyalah sekedar kaca jernih pemantul realitas.'' (him. 255)

Menyimak aliran catatan Budiman dalam buku ini kita serasa dituntun untuk mengeja kembali kenaifan, memakzulkan kealpaan, mengevaluasi diri seraya berbenah dan berubah. Masih terbuka kesempatan lempang untuk menginsyafi kekeliruan kembali mengangsur perubahan yang lebih baik. Dan, Budiman telah menggarisbawahi bahwa setiap peristiwayangterjadi, betapa pun buruknya, mesti disyukuri dan diterima dengan besar hati. Sebab, pada akhirnya akan ditemui sintesis betapa Tuhan sebenarnya hanya menggoda.

Rasa-rasanya saat membaca Tuhan Sang Penggoda, kita tersundut pada sebuah keniscayaan sebagai searing banksia yang terus berkelana, mengembara dalam alunan simfoni merdu alam raga demi mengulik misteri kehidupan.

Dan, kita patut angkat topi tinggi-tinggi alas kebersahajaan Budiman memandu kita melakukan ziarah spiritual menikmati godaan Tuhan yang sangat mengasyikkan. Sungguh! (*)

Peresensi:
Saiful Amin Ghofur
Redaktur Jurnal Millah MSI UII
Jogjakarta

Saturday, October 16, 2010

Berbagi Batik Untuk Wasior


Banjir di Wasior tak hanya membuat sedih warganya, tapi juga seluruh anak bangsa negeri ini. Bencana Wasior tak hanya membawa korban dan duka di sana tapi juga di hati kita yang terdalam.

Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat Saudara-saudara kita di Wasior tumbuh semangatnya membangun puing-puing kampung halamannya menjadi Wasior yang lebih baik?

Mari kumpulkan pakaian-pakaian Batik terbaik kita untuk Saudara-saudara terkasih kita di Wasior, kami tunggu sampai 25 Oktober 2010 jam 15.00 WIB ke: Petakumpet, Jl. Kabupaten No. 77B Nogotirto Gamping, Sleman, Yogyakarta, Telp. 0274 6415079

Bisa juga berupa uang yang akan dibelikan pakaian batik baru, silakan transfer ke: Rek. Bank Mandiri No. 1370006999359 an. Rizal Osakananto, konfirmasi atas transfer mohon sms ke Rizal 081328383388.

Wednesday, October 13, 2010

Wedangan #3 Bareng ADGI Jogja


WEDANGAN creative sharing, creative giving yang telah lama dinantikan, akhirnya datang juga. 

Creative event garapan ADGI YOGYAKARTA CHAPTER dan dilaksanakan oleh Rekarupa Unconventional Media Specialist yang akan datang telah masuk pada edisi ketiga.

Marsudi atau Jendral Mukidevic yang lebih akrab dengan sapaan “lik di” (creative director) dan Junno Mahesa (Marketing Communication Officer) PT. Aseli Dagadu Djokdja akan berbagi mengenai pengalaman mereka menjelajahi industri kaos (T shirts). Dengan bermodalkan ide dan kreatifitas kemudian disulap menjadi sebuah produk komersial yang laku keras dipasaran baik di Yogyakarta maupun di Indonesia. “HOLOPIS KUNTUL BARIS Mendulang Gagasan nggak Habi-habis” itulah judul yang mereka pilih. Acara tersebut akan diselenggarakan pada Jum’at 22 Oktober 2010 di Dreamlab Building PT. Petakumpet, Jl. Kabupaten No. 77B, Sleman, Yogyakarta.

Konsep yang dibawa tetap yaitu sebagai wadah berbagi ilmu dan pengalaman bagi mereka para profesional senior industri kreatif khususnya desain grafis dan media belajar mempresentasikan karya, ide dan gagasan bagi para junior desainer grafis. Belajar menghargai profesi yang kita cintai, hal itulah yang menjadi alasan kuat penyelenggara memberi kesempatan kepada hadirin untuk memenuhi kotak amal yang tersedia, isi dari kotak tersebut akan dibagi empat dengan perincian:
25% untuk pembicara sebagai penghargaan atas apa yang telah dibagi/sampaikan,
25% untuk meyediakan sedikit konsumsi saat acara berlangsung,
25% untuk penyelenggara yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengurus acara ini dan
25% disisihkan untuk pelaksanaan creative giving (penyampaian amal secara kreatif/bersedekah dengan material produktif bukan material konsumtif).

Monggo silakan hadir berombongan, semoga manfaat untuk masa depan Anda, membuatnya lebih cerah lagi penuh berkah :)

Tuesday, October 5, 2010

Petakumpet: @pbjogja adalah Event yang Luar Biasa

Desain iklan yg menarik merupakan salah satu hal yang menentukan kesuksesan suatu acara. @pbjogja 2010 sangat beruntung berpartner dengan advertising agency yang sangat tepat, Petakumpet. advertising agency ini adalah The Most Creative Local Agency yang telah memenangi 89 award nasional.

M. Arief Budiman, Managing Director Petakumpet mengatakan, “Sebenarnya tak ada konsep serius dalam mendesain pekerjaan kreatif untuk pesta blogger jogja yang puncaknya berlangsung pada 9 oktober nanti. kita hanya menerjemahkan tema pbjogja 2010 aja, jadi bagaimana mentransformasikan kekuatan budaya lokal jogja ke masa depan dengan tools media online”.

Laki-laki yang biasa dipanggil Arief yang mengaku blogger ini mendukung acara pesta blogger jogja 2010 karena pbjogja adalah event yang luar biasa. pbjogja 2010 digawangi anak-anak muda yang berorientasi masa depan dan menggunakan media online.

Namun secara serius ia mengatakan, tujuan utamanya berpartisipasi di pbjogja ia ingin bersilaturrahim dengan para blogger. Utamanya karena ia ngefans dengan @hermansaksono (Ketua Pesta Blogger Jogja 2010). “Ia guru blogger saya, “tambahnya. 

Petakumpet saat ini merupakan agency iklan terbesar di kota pelajar itu. Kesuksesan Petakumpet bukan tiba-tiba. namun melalui proses yang panjang. petakumpet berdiri pada pada 1 Mei 1995. Sebenarnya petakumpet adalah nama angkatan ‘94 Diskomvis FSR ISI Jogja. Menurut Arief, nggak ada konsep tertentu, nama itu dipilih karena unik, lucu, different. Banyak nama yang lebih gagah sebetulnya, tapi tak seunik Petakumpet. Saat jadi perusahaan, pemakaian nama Petakumpet itu adalah sebuah penghormatan pada sejarah.

Waktu itu semua “member” komunitas masih berstatus mahasiswa. Petakumpet saat itu baru memproduksi stiker, sablon, poster, spanduk, dan komik. Karena saat itu belum ada social media, publik mengenal petak umpet pelan-pelan dari mulut ke telinga. komunitas terus berkembang. maka pada september 1999, lima orang member-nya: Itok, Arief, Eri, Yudi, dan Bagoes, sepakat mengubah komunitas tersebut menjadi perusahaan yang berbadan hukum.

Perubahan signifikannya, mulai ada aturan main, prosedur kerja, job descriptions dan gaji yang jelas. Dengan hanya bermodal dua komputer 386 DX, satu scanner, satu printer, dan sebuah kompresor, markas dipindah dari pakuncen ke rumah yang harus ditempuh melewati gang sempit di daerah sorowajan.


Tak hanya advertising, petak umpet sampai sekarang mengerjakan hal yang berhubungan dengan illustration dan multimedia. Arief yang punya akun twitter: @mybothsides tersebut menganggap bisnis ide adalah bisnis yang paling murah karena tak harus mengeluarkan modal rupiah. 

Namun sekarang @petakumpet telah berkembang begitu pesat. Dari awalnya 12 institusi dan personal, kini lebih dari 350 klien. Petakumpet juga sudah memiliki dua kantor besar di sleman, jogja, dan di bellagio boutique mall, mega kuningan, jakarta. Ini berkaitan dengan komitmennya untuk memberikan yang terbaik buat kliennya. Seperti tampak pada banner di webnya, semurah apapun, iklan jelek tetap lebih mahal ketimbang iklan yang baik.

Selain sibuk aktif mengurus bisnis, petakumpet juga mempunyai program petakumpet creative giving berupa Parcel on The Street. ini merupakan kegiatan sosial dengan membagi-bagi parcel kepada anak-anak jalanan. seperti yang dilakukan sekarang ini. 

Mengenai program ini Arief menceritakan begini, “Kegiatan tersebut diawali dari konsep bahwa rejeki itu Tuhan yg punya. Daripada hanya kirim parcel ke klien dan pejabat, sebaiknya dikirim aja ke saudara-saudara kita di jalanan yang mungkin belum pernah terima parcel seumur hidupnya. Karena Tuhan bilang, jika engkau ingin ditolong Tuhan maka tolonglah saudara-saudaramu yang lebih susah”.

Perbincangan via instant messanger ini sempat terputus dua kali karena ia sangat sibuknya.

*Artikel di atas berasal dari sini.

Wednesday, September 29, 2010

Seribu Masjid Satu Jumlahnya

Emha Ainun Najib


Satu

Masjid itu dua macamnya
Satu ruh, lainnya badan
Satu di atas tanah berdiri
Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunyaa
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

Dua
 
Masjid selalu dua macamnya
Satu terbuat dari bata dan logam
Lainnya tak terperi
Karena sejati
 
Tiga
 
Masjid batu bata
Berdiri di mana-mana
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya
Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita
Di dalam jiwa, di pusat sukma

Membisikkannama Allah ta'ala
Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata
Kita melangkah, kemudian bersujud
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna
 
Empat
 
Sangat mahal biaya masjid badan
Padahal temboknya berlumut karena hujan
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban
Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan
Masjid badan gmpang binasa
Matahari mengelupas warnanya
Ketika datang badai, beterbangan gentingnya
Oleh gempa ambruk dindingnya
Masjid ruh mengabadi
Pisau tak sanggup menikamnya
Senapan tak bisa membidiknya
Politik tak mampu memenjarakannya
 
Lima
 
Masjid ruh kita baw ke mana-mana
Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya
Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota
Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya

Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala
Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya
Sebab majid ruh adalah semesta raya
Jika kita berumah di masjid ruh
Tak kuasa para musuh melihat kita
Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya 
Mereka menembak hanya bayangan kita
 
Enam
 
Masjid itu dua macamnya
Masjid badan berdiri kaku
Tak bisa digenggam
Tak mungkin kita bawa masuk kuburan
Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita
Melampaui ujung waktu nun di sana
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta
Hinggap di keharibaan cinta-Nya
 
Tujuh
 
Masjid itu dua macamnya
Orang yang hanya punya masjid pertama
Segera mati sebelum membusuk dagingnya
Karena kiblatnya hanya batu berhala
Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua
Berkeliaran sebagai ruh gentayangan

Tidak memiliki tanah pijakan
Sehingga kakinya gagal berjalan
Maka hanya bagi orang yang waspada
Dua masjid menjadi satu jumlahnya
Syariat dan hakikat
Menyatu dalam tarikat ke makrifat
 
Delapan
 
Bahkan seribu masjid, sejuta masjid
Niscaya hanya satu belaka jumlahnya
Sebab tujuh samudera gerakan sejarah
Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah
Sesekali kita pertengkarkan soal bid'ah
Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah
Itu sekedar pertengkaran suami istri
Untuk memperoleh kemesraan kembali
Para pemimpin saling bercuriga
Kelompok satu mengafirkan lainnya
Itu namanya belajar mendewasakan khilafah
Sambil menggali penemuan model imamah
 
Sembilan

Seribu masjid dibangun
Seribu lainnya didirikan
Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun
Tagihan masa depan kita cicilkan
 
Seribu orang mendirikan satu masjid badan
Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan
Hadir engkau semua menyodorkan kawruh
 
Seribu masjid tumbuh dalam sejarah
Bergetar menyatu sejumlah Allah
Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan
Melainkan dengan hikmah kepemimpinan
 
Allah itu mustahil kalah
Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah
Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah
Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya 'Alal Falah!


1987

Image pinjem: http://nurudin.jauhari.net/engine/i/2004/12/Gempa-Tsunami-Aceh-2004-Masjid-Agung-Kokoh-Berdiri.jpg | http://jogjanews.com/wordpress_j09j4/wp-content/uploads/2010/08/emha1-450x300.jpg

Wednesday, September 22, 2010

Berbagi Amplop Rejeki

Ini adalah program untuk secara kecil-kecilan mencoba mengurangi jumlah para pengemis di negeri ini, utamanya yang menjadikan mengemis sebagai profesinya, karena keterdesakan kurangnya harta atau karena malas tidak mau bekerja yang lain. Sedangkan untuk pengemis berdasi, biarlah KPK dan kepolisian yang urus saja, program ini tidak mengarah ke sana.

Ide awalnya berasal dari pembicaraan antara teman-teman di Petakumpet, Rekarupa (Iqbal, Rahmat) dan Mas Bram Satya (Lunar).

Oya, sekali lagi target audiens yang disasar adalah: pengemis, baik asli maupun tiban. 

Program ini bertujuan mengubah mindset dari pola pikir miskin menjadi berpola pikir kaya. Dari kebiasaan meminta menjadi memberi. 

Intinya: daripada ngasih duit doang ke pengemis yang tidak mendidik, dengan ini dikasih bonus pemahaman sederhana tentang manfaat memberi dan mencari rezeki dengan cara yang benar. 

Kita siapin beberapa Amplop Rejeki di dashboard mobil sehingga bisa dibagikan di lampu merah, saat Sholat Ied, saat selesai Jumatan, saat di pasar, dimana saja kita melihat Saudara-saudara kita yang perlu diperbaiki mental dan pola pikirnya dalam mencari rezeki. 

Tingkat keberhasilan program ini seperti apa? Jika kita berikan 10 amplop, Insya Allah 1 atau 2 orang yang tergerak hatinya untuk mulai berfikir ulang tentang pekerjaannya mengemis itu sudah cukup. 1 orang pengemis saja mau mulai memberi lima ratus rupiah pada kawannya sesama pengemis itu modal awal yang cukup. Tentu, program ini akan ada kelanjutannya lagi.



Program ini telah mulai dijalankan di akhir Ramadhan 1431 H kemarin, saat Lebaran maupun setelahnya. Program ini pun terus dilanjutkan karena para pengemis masih banyak di sekitar kita.


Desain ini juga silakan disebarkan seluas mungkin, sebanyak-banyaknya, oleh siapapun yang tertarik untuk sama-sama berjuang menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang kuat, bangsa yang gemar berbagi, bukan bangsa dengan mental peminta-minta. Tak perlu sebutkan sumbernya, desainer awalnya, konseptornya, tak perlu. Ini semacam software Linux, biarlah menggelinding bagai bola salju menebarkan kebaikan. Mau kasih nama perusahaan, merk atau apapun di materi amplopnya juga boleh, it's freedom to do good things. 



Demikian, mohon masukan, kritikan untuk perbaikannya. Dan mari bekerjasama untuk melakukan hal-hal yang baik, mewujudkan Rahmatan lil 'Alamiin.

Friday, August 20, 2010

WEDANGAN Creative Sharing #2


WEDANGAN creative sharing, creative giving adalah acara yang dimotori oleh ADGI Jogja. 

Sebagai wadah berbagi ilmu dan pengalaman bagi mereka para profesional senior industri kreatif khususnya desain grafis dan media belajar mempresentasikan karya, ide dan gagasan bagi para junior desainer grafis. Belajar menghargai profesi yang kita cintai, hal itulah yang menjadi alasan kuat penyelenggara memberi kesempatan kepada hadirin untuk memenuhi kotak amal yang tersedia, isi dari kotak tersebut akan dibagi empat dengan perincian, 25% diberikan kepada pembicara dengan tujuan memberi penghargaan yang setinggi-tingginya tanpa melihat nominal yang didapatkan, 25% untuk meyediakan sedikit konsumsi saat acara berlangsung, 25% untuk penyelenggara yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengurus acara ini dan 25% disisihkan untuk pelaksanaan creative giving (penyampaian amal secara kreatif).

Buat yang mau belajar kreatif sambil beramal, silahkan membawa bekal seikhlasnya

Thursday, August 19, 2010

Kunci Sukses Bisnis 7 (End)

Apa kabar temen-teman pengunjung blog saya? Makasih lho masih bersedia mampir, berikut saya lunasi hutang tulisan terakhir saya dalam rangkaian Kunci Sukses Bisnis. 

Kunci sukses yang terakhir ini mengalami penundaan yang lama untuk saya tuliskan. rasanya saya terserang mental block. Bukan apa-apa, lantaran saya sendiri belum bisa menjalankannya walaupun ingiiiin sekali. Tapi biarlah saya selesaikan saja sebatas pengetahuan yang saya pahami maupun pengalaman dari beberapa orang yang telah menjalankannya.

Kunci terakhir ini adalah Naik Haji sebagai wajibnya dan Umroh sebagai sunnah-nya. Konsep dari haji adalah kembalinya kita pada asal-usul penciptaan kita sebagai manusia, sebagai hamba Allah, sebagai makhluk yang pada kelahirannya tidak membawa apa-apa.

Makanya pada episode naik haji, yang wajib dikenakan adalah pakaian ihram, putih bersih dan hanya itu. Tak boleh kita memakai jaket kulit Louis Vutton yang puluhan juta rupiah, walaupun punya. Tak boleh kita memakai perhiasan bertabur intan permata walaupun peninggalan Majapahit. Tak boleh, semua itu harus ditinggalkan. Diikhlaskan.

Dalam kehidupan bisnis pun begitu, apa yang dicapai, dikumpulkan, dikejar siang malam 'seolah-olah' menjadi hak kita. Seolah-olah merupakan upaya kerja keras kita sepenuhnya, kesuksesan yang kita inilah penyebabnya. Sehingga seringkali kesuksesan, kekayaan, gemerlapnya harta benda itu menyilaukan diri kita sendiri dan menutupi mata hati kita dari kepedulian atas nasib saudara-saudara kita yang kurang beruntung.

Tapi kesuksesan apapun yang kita dapatkan di dunia ini - saat Allah memanggil kita ke alam akhirat - harus tetap tinggal di dunia. Tak ada yang bisa kita bawa ke alam kubur, tak ada manfaatnya. Mobil Jaguar, iPad, real estate, apa saja kesenangan duniawi: suka tidak suka, ikhlas tidak ikhlas, harus kita tinggalkan.

Haji adalah miniatur kematian yang akan kita alami

Tak ada duniawi yang boleh dibawa saat kita penuhi panggilan Allah di rumah-Nya. Kita ikhlaskan semua, kita bawa badan dan jiwa kita saja dan selembar kain ihram, seperti sang mayat yang hanya dibekali sepotong kain kafan di lubang kuburnya.

Pesawat yang mengangkut para jamaah haji ke Mekkah laksana keranda raksasa yang mengantarkan para penumpangnya menuju Tuhan. Kita dilatih untuk menuju akhir saat belum sampai di akhir yang sebenarnya.

Dengan mentalitas bahwa tak akan ada kesuksesan yang dibawa dan dibanggakan saat maut menjemput, kita akan menjalankan bisnis dengan sangat hati-hati, berfikir seribu kali sebelum melanggar jalur-Nya. Takkan ada korupsi, penyuapan, pencurian, pemalsuan, karena itu semua akan menghancurkan diri kita sendiri.

Dalam pemahaman saya, bisnis itu dibangun karena kita punya impian, punya tujuan yang besar, bahkan lebih besar dari kehidupan itu sendiri.

Bisnis yang dibangun hanya untuk mengejar kekayaan, uang dan kesuksesan duniawi semata, akan rapuh karena tak bersandar pada kekekalan. Sebuah buku bagus berjudul Built to Last tulisan James C. Collins dan Jerry I. Porras menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang bertahan sampai puluhan bahkan ratusan tahunan didasarkan atas fondasi dan visi yang besar, melebihi sekedar pengumpulan kekayaan semata-mata.

Kita awali hidup tanpa apa-apa dan kita pun akan pergi meninggalkan dunia ini tak membawa apa-apa. Jadi apa yang bisa dibanggakan? Tak ada kesuksesan yang abadi, semua itu akan runtuh pada waktunya. Dunia ini penuh cerita bangsa-bangsa dan orang-orang besar yang toh tak bisa menang melawan kematian.

Dan yang terpenting, Tuhan tidak menilai kesuksesan kita dari berapa banyaknya aset perusahaan kita, berapa trilyun dollar kekayaan kita, berapa banyak award yang kita telah kumpulkan.

Tapi dari ketaqwaan semata. Ketaqwaan itu gratis sehingga siapapun bisa meraihnya tanpa perlu keluar biaya. Dan keyakinan saya mengatakan: taqwa inilah harta termahal itu, tapi seringkali kita sia-siakan. Seringkali kita acuhkan, seringkali kita taruh di pinggiran saja dalam business plan yang kita susun.

Semoga apa yang telah saya tuliskan dalam 7 seri tulisan Kunci Sukses Bisnis ini bukanlah akhir dari ikhtiar saya dan teman-teman semua untuk terus berjuang menggapai Ridho-Nya melalui bisnis yang sekarang kita coba bangun, rawat dan kembangkan.

Perjalanan yang lebih menggairahkan dan menantang, sesungguhnya baru akan dimulai.

Allah menunjukkan kompasnya dalam Rukun Iman, pemahaman yang lebih mendalam yang melampaui logika manusia. Jika Rukun Islam yang saya telah bahas semampu saya ini adalah fondasi bisnis alias Business for Beginner maka Rukun Iman  adalah Advance Level-nya.

Tertarik?

Image pinjem dari: http://kartinihadi.blogspot.com/2010/03/12-barisan-di-akhirat.html || http://www.overdrive.com/resources/ContentWireArchive.asp?CW=20081209 || http://image.healthhaven.com/Informasi_Haji_Indonesia.htm

Kuliah Malam di Dreamlab Building

Monday, July 19, 2010

It’s Time for Real Action!


Dari Jogja Plawang Merekonstruksi  Desain Grafis Indonesia

Selama dua hari itu, para pendekar desain grafis dari pusat dan empat chapter (Jakarta, Jogja, Surabaya dan Bali) berkumpul, berdialog, berdiskusi, berdebat, tukar menukar jurus untuk men-sinergi-kan kesaktian masing-masing bagi kemajuan industri desain grafis di Indonesia, negeri yang subur tapi kurang kreatif ini. Rasa syukur atas berlimpahnya tanah surga yang menyulap tongkat dan batu jadi tanaman ini juga menumbuhkan keprihatinan masih lemahnya kemampuan dan kemauan, passion anak bangsa untuk memanfaatkan harta karun terbesarnya: kreativitas di otak kita.


Maka Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (Adgi) dikomandani Ketua Terpilih Arief ‘Ayip Budiman’ mulai membedah persoalan-persoalan mendasar menyangkut desainer grafis, industrinya, korelasinya dengan masyarakat dan pemerintah serta meneropong potensi perkembangannya di masa datang. Antusiasme dari peserta Adgi Summit berpadu dengan keaslian alam yang menyelubungi bumi Joglo Plawang meletupkan ide-ide dahsyat sepanjang pertemuan.

Kebersamaan itulah yang mengemuka dalam diskusi panas selama 2 hari itu, membawa spirit Together Empowering Potentials, seluruh peserta meyakini bahwa dengan kebersamaan yang saling mengutuhkan dan dinamis dari semua elemen dan stake holders-nya, Adgi yakin mampu membangunkan semua potensi kreatif yang selama ini masih lelap tertidur.

Sampai di ujung acara, saat seluruh peserta mulai mengepak perlengkapannya, hakikatnya kita semua sedang berangkat ke medan uji yang sesungguhnya: realitas keras dunia dimana Adgi berada, bergesekan, bertarung. 


Pilihan tegas ini akan membawa konsekuensi logis bagi Adgi untuk bekerja makin keras membangun asosiasi profesinya menjadi mandiri, menghidupi kegiatannya sendiri dengan program-program yang  mentransformasikan ide kreatif menjadi bisnis. Diharapkan program-program yang strategis, konseptual dan kontekstual inilah yang membuat Adgi makin kuat secara fondasi finansial dan bargaining power untuk lebih keras mendorong majunya industri kreatif negeri ini. 

Dari Joglo Plawang inilah, Adgi Summit 2010 ini akan menjadi momentum terimplementasikannya Program Lokomotif Adgi 2010-2012 dalam wujud yang nyata, yang progresif, yang bukan sekedar wacana. 

Mari berjuang bersama! It’s time for real action!

Catatan Adgi Summit 2010 | Joglo Plawang Jogja, 26-27 Juni  2010

Untuk foto-foto lebih lengkap bisa dilihat di Situs DGI

M. Arief  Budiman
Program Director Adgi

Sunday, July 18, 2010

Mobile Blogging

Ini nyoba aja posting via Blackberry, dari kemarin belum bisa juga. Ni trial dlu, klo OK bisa deh mobile blogging. Salam :)

Berlari

Aku berlari Ya Rabbi
Aku sungguh-sungguh berlari
Seribu tahun kujejaki matahari
Untuk menggapai-Mu
Sampai hampir tiada
Sampai justru tiada

Doa Menjelang Ramadhan

Aku menghadap-Mu Ya Allah
Dalam compang-campingnya hidupku
Ketaatanku pada-Mu nol besar
Sementara maksiatku menghampar-hampar

Kupersembahkan diriku yang basah kuyup oleh kemunafikan ini
Di ujung jalan lurus-Mu yang sering kuingkari
Aku tak berhak membela diri
Karena Engkau adalah Maha Hakim yang Maha Mengerti

Betapa malu diriku Ya Allah
Kasih sayang-Mu telah kusia-siakan dengan kerendahan akhlaqku

Kini aku kembali pada-Mu
Dalam kecemasan yang menghantui hari-hariku
Ampunan-Mu Ya Allah
Satu-satunya alasan yang membuatku berani melangkah lagi di jalan-Mu

Ijinkan aku mengetuk pintu rumah-Mu
Ijinkan aku berlindung dalam dekapan kasih sayang-Mu
Kubutuhkan cahaya-Mu
Untuk mengutuhkan kembali jalan hidupku

Wednesday, June 30, 2010

Saat Hidup Begitu Melelahkan

Jumat, 18 Juni 2010 kemarin saya dijadualkan oleh panitia untuk menjadi khotib pada Sholat Jumat di Hotel Gumaya saat acara Caraka Festival Kreatif. Tapi gak tahu gimana ceritanya, saat saya sampai di tempat sholat, seorang bapak sudah berada di mimbar khotib dan muadzin pun mulai mengumandangkan adzan. 

Allah pasti punya alasan tertentu mengapa saya urung jadi khotib hari itu. Sambil mendengar khotbah tentang Palestina-Israel saya pun tertunduk, mohon ampun atas segala dosa dan kekhilafan saya. Sesungguhnya tak ada kejadian apapun yang menimpa kita semua kecuali akibat perbuatan kita sendiri, baik atau buruk.

Saya memang sudah siapkan catatan untuk khutbah itu - meskipun tidak jadi saya sampaikan - saya masih bisa memuatnya di sini. Bahkan hikmahnya mungkin bisa dinikmati lebih luas oleh lebih banyak orang, tidak hanya jamaah Jumat saja. Ini sekaligus sebagai permohonan maaf saya untuk teman-teman yang hadir di seminar Caraka yang menunggu khotbah saya tapi nyatanya saya tak pernah berada di mimbar untuk menyampaikannya.

Mohon maaf jika tulisan arab aslinya disajikan dengan versi latin, semata-mata karena keterbatasan saya yang tak paham bagaimana memasukkan huruf Arab di blog ini. Monggo: 


Alhamdulillahi robbil ‘alamien
Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasuulullah
Allahummma shalli wa sallim wa barik ala sayyidina Muhammadin wa ala ali sayyidina Muhammad
Yaa ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna illaa wa antum muslimuun


Ma’asyirol muslimin rohimakumullah
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Saya akan mulai khotbah ini dengan sebuah puisi dari Kyai Mustofa Bisri, seorang ulama besar, tetangga saya di Rembang yang berjudul Syahadat:

Inilah kesaksianku
Inilah pernyataanku
Inilah ikrarku:

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh memperhambaku kecuali Allah
Tapi nafsu terus memperhambaku

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh menguasaiku kecuali Allah
Tapi kekuasaan terus menguasaiku

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh menjajahku kecuali
Allah Tapi materi terus menjajahku

Laa ilaaha illa Llah

Tak ada yang boleh mengaturku kecuali Allah
Tapi benda mati terus mengaturku

Laa ilaaha illa Llah

Tak ada yang boleh memaksaku kecuali Allah
Tapi syahwat terus memaksaku

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh mengancamku kecuali Allah
Tapi rasa takut terus mengancamku

Laa ilaaha illa Llah
Tak ada yang boleh merekayasaku kecuali Allah
Tapi kepentingan terus merekayasaku

Laa ilaaha illa Llah
Hanya kepada Allah aku mengharap
Tapi kepada siapa pun aku mengharap

Laa ilaaha illa Llah
Hanya kepada Allah aku memohon
Tapi kepada siapa pun aku memohon

Laa ilaaha illa Llah
Hanya kepada Allah aku bersimpuh
Tapi kepada apa pun aku bersimpuh

Laa ilaaha illa Llah
Hanya kepada Allah aku bersujud
Tapi kepada apa pun aku bersujud

Laa ilaaha illa Llah
Masya Allah!
 
Untuk memperjelas makna dari puisi indah ini, saya akan bercermin pada perjalanan hidup yang telah saya lalui.

Sempat terjadi dalam periode kehidupan saya saat awal-awal bersama teman-teman memulai Petakumpet sekitar 10 tahun lalu, waktu 24 jam sehari rasanya tak cukup. Hari-hari itu begitu melelahkannya, rasanya tak kuat saya menyelesaikan begitu banyak tanggung jawab menyangkut komunitas, pekerjaan maupun kehidupan personal saya yang berantakan.

Saya pun mengadu pada Allah,"Ya Allah, jika sehari bisa lebih dari 24 jam rasanya saya akan punya kesempatan lebih banyak untuk menyelesaikan semua tanggung jawab saya..."

Tapi rasanya Allah tak mendengar doa saya. Atau saya nya yang tak punya kemampuan mendengarkan-Nya. Pekerjaan sepertinya datang tak habis-habis, ada duitnya emang, tapi duit nya pun mengalir lancar keluar tak pernah terpegang barang sebentar.

Hidup saya begitu capeknya, badan pegel-pegel tiap malam, Sabtu Minggu pun dihajar pekerjaan.

Sampai suatu hari saya menemukan ciri-ciri yang dikemukakan Ustadz Yusuf Mansur dalam kehidupan saya:
-        Sibuk tiada henti
-        Kurang tiada cukup
-        Rugi tiada untung
Begitulah, saya sibuk tiada henti. Pekerjaan satu belum selesai datang lagi pekerjaan berikutnya. Presentasi ke satu klien sedang berjalan, hp sudah berbunyi karena klien berikutnya sudah tidak sabar nunggu. Jadual berantakan, banyak acara penting datangnya barengan, seolah-olah solusi yang tersedia adalah menjadi amuba yang bisa membelah diri jadi dua atau sepuluh. Saya ditarik ke kanan, ditarik ke kiri rasanya tak punya hak untuk menentukan jadual sendiri. Seringkali dalam kondisi pikiran penuh dan penat, badan luluh lantak tapi harus pasang senyum manis di depan klien yang tak ramah, sampai sebuah lagu dangdut pun menyindir: itu senyum membawa luka. Saya tak punya lagi waktu baca buku, nulis catatan harian apalagi nonton film. Saya sibuk sesibuk-sibuknya, terlihat sukses di luaran tapi sungguh menderita di dalam. Tidur pun jadi begitu mahal buat saya padahal jiwa raga saya sudah ringsek seringsek-ringsiknya.

Dan anehnya lagi, rejeki saya tidak terjamin karena kerja keras itu. Betul bahwa puluhan bahkan ratusan juta rupiah bersliweran saat itu tapi rasanya cuma numpang lewat aja di rekening. Berapapun uang yang kita terima, selalu kurang untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga saat kantor butuh komputer baru untuk mengimbangi permintaan, terpaksa hutang atau kredit. Bahkan saat sakit dan harus periksa ke dokter dan butuh obat ratusan ribu rupiah, uangnya tak tersedia. Klien yang harusnya bayar sekian juta saat itu - sehingga bisa dikasbon dulu untuk beli obat - tak ada kabarnya, ditelepon tidak aktif, didatangi kantornya sepi. Jadual masuknya uang seringkali tidak tepat waktu sesuai kebutuhan. Saat perlu banget, kas malah kosong. Hari-hari saya diisi kepanikan karena takut mengecewakan orang lain, mengecewakan klien, saya selalu merasa kekurangan tak pernah cukup.

Lalu puncaknya, kerugian demi kerugian melengkapi penderitaan saya. Tadi saya cerita di awal, beberapa komputer didatangkan dengan kredit untuk memenuhi permintaan pekerjaan. Tapi justru pekerjaannya itu malah ada aja yang keliru, lalu dikomplain, jika bukan kita yang salah malah kliennya yang mencari-cari kesalahan agar bisa bayar murah. Bikin divisi bisnis baru untuk mengembangkan sayap, bangkrut juga. Hanguslah ratusan juta. Sehingga karena cash flow tak lancar, hutang pun makin menumpuk untuk memenuhi tagihan-tagihan. Seringkali di akhir hari menjelang tidur, saya termenung: ini gimana ceritanya bikin perusahaan biar bisa mandiri dan menolong banyak orang malah jadi menyusahkan diri sendiri begini. Pengennya untung malah buntung....

Setelah saya bercermin pada apa yang saya lakukan setiap hari, saya coba mengambil jarak dari semua masalah-masalah berat yang hadir, ketemulah saya sebabnya mengapa saya jadi begini. Ketemulah saya asal-muasal mengapa hidup saya minus, rugi melulu, panik terus-menerus, rasanya kurang dan selalu kelelahan mengejar cita-cita. 

Ketemulah saya dengan Al Qur’an Surat At Talaq ayat 2 dan 3:

Wa mayyatakillahaa yaj’all lahu makhrajaa / wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib / wa may yatawaqqal ‘alallahi fahuwa hasbuh / innallaha ballighu amri qad ja’alallahu kulli syai’in qadra

Barangsiapa bertakwa kepada Allah tentu diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari pintu yang tidak diduga-duga. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Tuhan akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan segala urusan-Nya dan Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.

Lalu apa yang diperlukan untuk mengendalikan kesibukan, mengundang keuntungan dan mendapatkan waktu yang cukup untuk menikmatinya?

Jarak saya dengan Allah begitu jauuuuhnya karena saya tidak berada di jalur taqwa. Saat adzan memanggil, saya masih mendesain di depan komputer, saya masih presentasi di depan klien, saya masih negosiasi, saya masih dalam perjalanan ke PH, saya masih syuting. Adzan yang merupakan panggilan-Nya untuk menyelamatkan hidup saya, saya anggap hanya sebagai backsound belaka, sebagai ringtone, saya luput menangkap makna.
 
Jawaban yang saya dapatkan adalah: bereskan dulu jadual shalat kita. Dari mulai shalat wajib 5 waktu yang jarang lengkap, jauhnya jarak sholat kita dari adzan memanggil, jarangnya jamaah di mesjid. Itulah masalah terbesar yang menghancurkan jadual hidup saya.

Sholatlah tepat waktu, usahakan jamaah. Jika mau lebih hebat lagi, tambahin sholat sunnahnya: qobliyah, bakdiyah, tahajjud, dhuha, semampunya.


Sholat akan memberikan kita tambahan waktu, ketenangan dan ketentraman.

Makin tertib dan makin tinggi frekuensi sholat kita, makin banyaklah Allah akan sediakan tambahan waktu luang pada kita. Makin tertib kita pada jadual-Nya, Allah akan atur jadual kita sebaik-baiknya. Insya Allah jadual kehidupan kita (baik bisnis, keluarga maupun personal) akan nyaman dijalani.

Alhamdulillah hari ini saya masih bisa menyelesaikan baca 3-5 buku setiap minggu. Nonton film di bioskop pun bisa sekali seminggu. Setiap sore masih sempat ngopi atau ngeteh dengan tenang, kerjaan di kantor juga lancar dan sangat sangat sangat jarang komplain-nya. Saya bertanggung jawab atas pekerjaan yang lebih banyak saat ini dibanding dulu tapi saya lebih bisa menikmati prosesnya, tak terburu-buru, tak panik, tidak kelelahan di ujung hari. Hidup saya lebih tenang, lebih damai.

Sampai hari ini, saya belum pernah berdoa lagi untuk menambah 24 jam sehari menjadi lebih banyak jamnya. 24 jam sehari itu sudah cukup, jika kita tak hanya mengandalkan logika untuk mengaturnya. Tak kemrungsung, tak buru-buru tapi tanggung jawab terselesaikan dengan baik.

Jika suatu hari saya menemukan jadual saya kembali berantakan, banyak tabrakan waktunya atau tidak jelas karena menunggu konfirmasi terlalu lama: segera saya cek jadual sholat saya. Pasti di situlah masalahnya dan saya harus segera beresin sehingga jadual saya akan teratur lagi sebaik-baiknya.

Barakallahu lii wa lakum fill qur’aanil azhiim wa nafa’nii wa iyyaakum bima fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qowlii hadzaa wa astaghfirullaaha lii wa lakum wa lisaa iril muslimiina min kulli danbin fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiimu.

  

Alhamdulillahi robbil ‘alamien
Allahummma shalli wa sallim wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin wa ala ali sayyidina Muhammad


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Istiqomah alias konsisten menjalankan ini tentu banyak godaannya. Tidak semua orang bisa sukses kecuali yang telah melewati godaan, hambatan, rintangan. Jadi emang harus tough, kuat menjalaninya, jangan malas, jangan cengeng.

Semoga Allah menemani ikhtiar dalam perjuangan kita di dunia ini. Banyak yang tidak mungkin jika kita hanya bergantung pada akal semata. Tapi bersama-Nya, impossible is nothing. Di tangan-Nya tak ada yang tak mungkin.

Innama amruhuu idza arodza syai’an / ayyakuulalaahu kun faya kun. Fasubhanalladzii biya dzihii mala kuutukulli syaii’ wa ilaihi turja’uun


Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata ‘Jadilah’ maka jadilah sesuatu itu. Mahasuci Allah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.

QS. Yasin: 82-83

Mari kita berdoa bersama untuk mengundang keajaiban kuasa-Nya.

Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati.
Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa.

Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa hamaltahuu ‘alalladziina min qoblinaa.
Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fu‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina.
Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

Demikian, semoga manfaat. Dan kepada Allah-lah segala kebaikan dikembalikan. Amien amien ya Robbal 'Alamien... 

Image pinjem dari:
- http://agustian.files.wordpress.com/2008/10/sbsh0402.jpg
- http://www.pasarkreasi.com/dirmember/00001/sinun/content/content-1440-20081023-6-32-74/large/herianus-sholat_1440_l.jpg
- http://problemamuslim.files.wordpress.com/2009/04/shalat-jumat.jpg
- http://divapress-online.com/katalog/Mengapa_Saya_Menjadi_Sangat_Sibuk_ok.jpg
- http://i266.photobucket.com/albums/ii279/kolorbolong_album/picdump-19wwwbildschirmarbeiter2.jpg

- http://khasanah3.files.wordpress.com/2009/07/p1010673.jpg