Mybothsides

Wednesday, December 30, 2009

Mengantar Gus Dur Pulang

Selamat jalan, Gus. 

Bukan asisten atau paspamres yang mengawalmu lagi, tapi ribuan malaikat Allah yang takjub atas kebesaran jiwamu.

Banyak pelajaran yang telah kau bagikan saat hidupmu bersama kami, makin banyak gagasan dan pelajaran yang kau wariskan setelah kau pergi. Beristirahatlah dengan tenang setelah mewakafkan ...seluruh pikiran, waktu dan seluruh umurmu bagi negeri ini, negeri yang tak kunjung dewasa menyikapi perbedaan, negeri yang tak kunjung sadar bahwa perbedaan adalah rahmat bukan alasan pertikaian.

Dari yang saya rasakan beberapa hari terakhir, Malaikat Izrail 'seolah' membocorkan rahasia-Nya sehingga Gus Dur tahu  bahwa waktunya telah dekat.

Sekitar dua minggu sebelum wafat, Gus Dur telah membaca tanda-tanda itu dan mengikuti kata hatinya. Maka diapun pulang ke Jombang untuk berziarah ke makam beberapa kyai besar. Saat balik dari Jombang ke Surabaya, sesampainya di Mojokerto ia minta balik lagi ke Jombang karena merasa wajib lapor dulu ke Kakeknya Hasyim Asy'ari. Allah meminjamkan tenaga dan kesehatannya di hari mendatang, sehingga Gus Dur nampak lebih bugar. Ia pun tak mau dirawat di RS Dr. Soetomo Surabaya. Ia tahu tak banyak waktu lagi. Bahkan saat dirawat di RSCM, sempat-sempatnya ia minta diantar ke kantor PBNU untuk menengok dan serah-serahan NU sama Pak Hasyim Muzadi. Ia selesaikan semua urusan dunianya karena Allah memberikannya cukup waktu. Gus Dur telah menunaikan semua tugasnya di dunia fana ini.

Tidak semua kita mendapat keistimewaan itu: tahu kapan akan dipanggil-Nya sehingga sempat siap-siap. Bukan karena kita tak selevel Gus Dur, tapi karena kita masih harus mengajar maqam (level) totalitas perjuangan Gus Dur dalam menegakkan kalimat Allah dengan cara-cara yang begitu demokratis dan berbudaya. Gus Dur bepergian ke seluruh pelosok negeri dan menyapa jutaan warganya laksana memiliki kebugaran fisik dan kekuatan super, padahal kita semua tahu banyak kekurangan dalam kesehatannya. Semangat dan ketabahan luar biasa yang tak mungkin bisa dijalani jika ia bukan Gus Dur.

Insya Allah, khusnul khatimah adalah balasan terbaik bagi orang besar ini yang baru saja meninggalkan kita semua di RSCM Jakarta, 30 Desember 2009, 18.45 WIB waktu berita-berita nasional masih sibuk menyiarkan peristiwa George Aditjondro 'mengeplak' Ramadhan Pohan dalam diskusi buku Membongkar Gurita Cikeas, Skandal Century, Prita vs Omni Internasional, Luna Maya vs infotainment dan semacamnya.

Dibandingkan apa yang telah disumbangkan Gus Dur untuk bangsa ini, rasa-rasanya segala hiruk pikuk kasus dan pertikaian yang sedang rame di media saat ini: sungguh tidak ada apa-apanya. Laksana jutaan buih yang riuh tapi tak bisa dibandingkan dengan satu hantaman gelombang besar yang memecah karang di pantai.

Semoga kami bisa lanjutkan cita-cita muliamu itu dan saat waktunya tiba kelak, kami pasti menyusulmu. 


Wednesday, December 23, 2009

Jalan yang Lebih Baik, Bukan yang Lebih Mudah (Bagian 1)


Datang sebuah kabar kepada saya: Mas, pengumuman CPNS-nya udah keluar. Aku gak diterima. Teman-temanku yang diterima ada 6 orang padahal formasinya waktu awal diumumkan hanya 4 orang. Dan mereka memang memenuhi 'syarat-syarat'nya. Bayar Rp 70 - 100 juta/orang. Gimana ya Mas? Mengapa untuk jadi pegawai negeri syaratnya bukan lebih pinter, lebih capable tapi malah berdasar uang semata?

Datang lagi kabar yang lain dari sohib saya: Eh, Si A kemana aja ya Rief? Kok lama gak terdengar kabarnya. Facebooknya gak aktif. 

Saya coba maen ke facebook-nya, temen saya itu jadi member 'gerakan tuntut klarifikasi pencairan dana ustad lihan'. Saya belum berhasil kontak, tapi sepertinya dia juga ikut menitipkan sejumlah uang ke Ustadz Lihan - entah berapa puluh atau ratus juta - untuk investasi dan belum jelas bagaimana memintanya kembali. 

Dua kabar ini membuat saya merenung. 

Yang pertama, sebulan sebelum CPNS, saya sudah menyarankan sobat saya ini untuk tidak membayar Rp 70 jt yang diminta oleh 'panitia' jika ingin masuk jadi PNS di kabupaten tersebut. Tempuhlah jalan yang halal dan jadikan upaya menggapai PNS sebagai riyadhah, ibadah untuk menggapai Ridho Allah. Sholat wajibnya benerin agar tepat waktu, sholat tahajud dan dhuha-nya ditambah, puasa sunat kerjakan dan sedekahlah dengan sedekah terbaik. Daripada bayar Rp 70 jt lebih baik cari anak-anak yang tidak mampu bayar SPP, bayarin. Cari guru-guru yang ekonominya susah, bantulah. Cari anak-anak yatim yang pengen sekolah, bayarin. Begitu. Diapun mengikuti saran saya. 

Dan saat tiba pengumuman: dia tidak diterima.

Apakah saya terkejut mendengar dia sedikit protes udah ibadah kok masih gak dikabul doanya? Alhamdulillah tidak, saya pun kirim sms padanya: Dijalani saja ujiannya dengan sabar. Sholatnya ditambah, sedekahnya ditambah, doanya ditambah. Lebih baik pake jalan lurus tapi tidak diterima PNS daripada diterima jadi PNS tapi diawali dengan dosa. Jalan benar biasanya tidak mudah. Tapi Allah tidak tidur, Allah akan berikan ganti yang lebih baik jika kita khusnudzon & istiqomah di jalan-Nya...

Apakh sms saya ini hanya untuk menghibur hatinya yang gundah? Demi Allah, tidak! Sms ini adalah sms jujur yang saya tulis dari dalam hati saya dan Insya Allah benar. Saya yakin itu. Seyakin-yakinnya. Lha, tapi kan sms itu tidak membuatnya jadi PNS Mas? Jika nanti akhirnya nganggur, sms motivasi begitu mana ada manfaatnya?

Saya yakinnya begitu. Rejeki itu dari Allah, bukan dari pemerintah, makelar CPNS atau lainnya. Lebih baik dapet rejeki banyak tapi halal daripada pas-pasan tapi haram. Betul?

Coba bayangin. Jika kita masuk CPNS - dalam kasus ini lowongannya adalah guru - dan lewat jalan tidak halal karena menyuap, rejeki yang masuk tiap bulan sebagai gaji kita kan gak halal, gak bersih. Bibitnya aja sudah gak bersih (suap). Lalu keluarga akan diberi makan dari rejeki itu, anak-anak akan dipelihara dan dibesarkan dengan harta haram dan ketidakjujuran. Jika ia jadi guru, mana bisa dia bilang ke murid-muridnya untuk menjadi generasi masa depan yang mulia: dia jadi guru aja daftarnya dengan menyuap. 

Keluarga yang rejekinya gak bersih tidak akan diberikan Allah ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Bener bahwa dia akan bisa kredit rumah, kredit mobil dan jadi kaya. Tapi jika ketentraman tak ada di rumah itu: buat apa? Kalo Allah mau, rumah semahal apapun takkan bisa dinikmati penghuninya. Dengan cara mengusirnya dari rumah sendiri: harus mondok di rumah sakit karena serangan jantung, dipenjara karena korupsi atau sembunyi di goa-goa jadi buronan polisi.

Yang kedua, karena penasaran saya pun gabung jadi member 'gerakan tuntut klarifikasi pencairan dana ustad lihan'. Hanya ingin tahu, apa yang sesungguhnya terjadi dengan temen saya Si A. Seperti santer diberitakan media massa, Ustadz Lihan sedang diuji Allah dengan banyaknya dana titipan investasi yang belum bisa dibayarkan kepada investornya. Marahlah orang-orang itu karena duitnya gak balik malah katanya nasib investasinya juga gak jelas. Sejujurnya saya tidak tahu persis masalahnya, saya hanya ingin tahu ada apa dengan Si A teman saya itu.

Saya jadi ingat korban Century yang telah mendeposito dan menabung di bank almarhum itu (sekarang jadi Mutiara Bank). Ada yang 7 milyar, 80 milyar, 900 juta dan sebagainya. Mereka semua marah merasa ditipu, dianiaya, uangnya raib tak bisa kembali. Lalu demo, nginep di banknya, menunjuk pengacara, perang kata-kata di media. Riuh sekali.

Jika saya menjadi salah satu nasabah itu atau salah satu investor itu, wajar rasanya untuk marah-marah atas ketidakadilan itu, atas kebohongan janji dan sebagainya. Ini uang saya kumpulkan puluhan tahun masa' amblas hanya karena saya percaya investasi dalam 3 bulan saja? Saya kerja keras membanting tulang nabung dikit-dikit kok tega bank merampok uang saya yang hanya 3 milyar?

Tapi apakah kita sempat bertanya: benarkah uang yang saya kumpulkan itu benar-benar uang kita, hak kita, rejeki kita sesungguhnya? Benarkah tidak bercampur selisih nota pembelian bensin dan alat-alat kantor, komisi karena membantu melobi pimpinan untuk mengegolkan proyek, proyek-proyek fiktif, biaya perjalanan kantor yang di-mark up dan hal-hal serupa itu? Benarkah untuk mengumpulkan duit itu kita tak berbuat dholim, merugikan hak orang lain, menyuap? Benarkah tidak tercampur hak anak-anak yatim dan fakir miskin yang tak pernah kita keluarkan zakat dan sedekahnya?

Dan jika itu terjadi puluhan tahun lalu Allah bersihkan harta kita dari yang bukan hak kita dengan cara-cara-Nya: benarkah itu yang sering kita sebut ketidakadilan? Bukankah itu justru malah keadilan yang sesungguhnya dan kebersihan itu malah menguntungkan hidup kita di akhirat kelak?

Tapi kita marah dan gelaplah akal pikiran. Tapi kita memekik-mekik protes dan menafikan Cahaya Tuhan yang sedang bersinar. Kita mengutuk dan melupakan introspeksi diri.

Bank Century, Ustadz Lihan atau siapapun yang dituduh mencuri uang kita, menipu, merampok hanyalah bahasa dunia yang dipilih Allah untuk membersihkan diri dan harta kita. Jika tak hangus harta kita di Century, maka akan ada kejadian lain yang hasilnya sama: bablaslah harta yang memang bukan rejeki kita. Entah lewat arisan berantai, kebakaran, biaya obat stroke, sengketa rumah dan sebagainya.

Apa sih masalah itu? Masalah adalah jika kita jauh dari Allah. Ustadz Yusuf Mansur sering bilang begitu, saya mengamininya. Masalah itu bukan kita tidak diterima CPNS, bukan kita kehilangan uang di tabungan, bukan ditipu orang, bukan. Demi Allah bukan. Jika kejadian-kejadian buruk itu membuat kita sadar, tobat dan makin mendekati Allah: itu bukan masalah tapi justru jalan terang.

Tapi jika kita diterima PNS setelah menyuap, uang yang di Century bisa balik setelah kita bayar polisi untuk mengurusnya, menang tender dengan menyuap: maka inilah sesungguhnya masalah, karena akan menjauhkan kita dari Allah, dari keberkahan rejeki yang kita dapatkan secara tidak halal.

Hidup kita akan selamat selama kita mengikuti jalan-Nya. Memang tak mudah, tapi pasti akan membawa kita ke tempat yang lebih baik, lebih tenang, lebih tentram. Hidup yang mengikuti hawa nafsu mungkin akan terlihat glamour, mentereng, bergaya, tapi pasti membuat kita kemrungsung, tegang, panik, tak ada sedikitpun waktu menikmati kesuksesan duniawi kita. 

Semoga kita bisa bercermin dari dua cerita nyata di atas. Siapapun ingin kaya, sukses dan bahagia. Tempuhlah jalan Tuhan agar prosesnya nyaman dan bisa dinikmati dengan hati tenang. Jikapun harus mendaki, penuh onak, duri dan ujian. Jalan lurus layak ditempuh dengan pengorbanan apapun: karena di ujungnya ada Ridho Allah. Allah tempat asal dan kembali kita yang sejati.

Jangan malah nyasar kemana-mana karena silau oleh nafsu benda dan tipu daya duniawi yang membutakan akal sehat dan keimanan kita. 

Tulisan ini ada lanjutannya, di sini.

Monday, December 14, 2009

Soe Hok-gie di Grand Indonesia


Disinilah saya, menjelang tengah hari di cafe Gramedia lantai 3 Grand Indonesia dengan secangkir coffee latte dan sebuah buku yang baru saja saya beli: Soe Hok-gie... Sekali lagi, dengan editor Rudy Badil dan teman-teman Gie yang lain.

Di seberang jalan, di pinggiran bundara HI nampak tiga puluhan orang sedang demo dengan topik yang tidak begitu jelas, kemungkinan tentang revisi peraturan pemerintah. Spanduk-spanduk dibentangkan asal-asalan tanpa semangat, beberapa orang berdasi orasi dengan memekik-mekik sementara peserta demo melihat dengan tatapan mata kosong menyiratkan ketidakmengertian.

Tahulah saya - sebagai mantan demonstran amatir - dari gerak-gerik dan antusiasme-nya yang palsu dan menyedihkan, sebagian peserta adalah pendemo bayaran.

Dari seorang ojek yang kebetulan melintas - sebelum saya masuk Grand Indonesia - saya ketahui bahwa tarif pendemo bervariasi, antara 35 rb sampai 50 rb tergantung atas suruhan siapa. Si ojek kemarin ikut demo kasus Century di dekat Istana Negara dibayar 50 rb untuk demo beberapa jam. "Lumayan Mas, apalagi saat sepi gak ada penumpang," katanya.

Dari sejuk ruang ac di toko buku yang diklaim terbesar di Asia Tenggara itu, mata saya menatap cover buku merah bergambar silhuet Gie, dengan sedih, sekaligus marah. Anak muda lurus dengan kata-kata yang tajam menyilet ketidakadilan itu mati keracunan di puncak Semeru dan kita semua di tahun 2009 - 40 tahun sejak Gie pergi - tak juga mampu memahami kemarahan atas nama kejujuran itu.

Bangsa ini mengulang kesalahan yang sama, berulang-ulang. Kita tak berhulu pada kejujuran saat berteriak di bawah mentari siang yang terik. Kita bertekuk lutut pada sejumlah rupiah untuk proyek bernama demonstrasi bayaran.

Di seberang tempat duduk saya nampak beberapa orang sedang minum kopi mahal, makan siang yang pastinya lebih dari seratus ribu rupiah sekali santap. Siapa tahu salah satu diantaranya adalah pemesan demo di bundara HI siang itu, melihat kumpulan manusia dipanggang terik mentari, berteriak parau sambil menghirup harum espresso, capuccino atau chococino. Orang berduit besar yang membayar para pendemo dengan duit recehan.

Saya sendiri masygul. Lha saya ini ngapain disini? Kalo tiba-tiba arwah Soe Hok-gie (ya, bener.. Ini spelling yang bener, bukan Soe Hok Gie) datang dan mendamprat saya serta menumpahkan caffee latte-nya karena marah melihat saya mulai dijangkiti penyakit modernisme, seperti banyak pejabat mantan demonstran yang meng-gendut perutnya karena 'mencairkan' jasanya ketika jadi pendemo mahasiswa dalam bentuk jabatan, kekayaan, kekuasaan.

Minuman hangat berbusa itu sudah tandas setengah, saya minum setengah hati.

Bayangan wajah Gie yang keras, yang hidupnya dihajar situasi revolusioner tahun 60-an berkelebat di dinding kaca tebal di hadapan saya. Seperti menyapa dengan sorot mata yang dingin. Saya buka pelan-pelan halaman buku itu - yang dibikin sebagai dedikasi untuk perjuangannya yang tak kenal kompromi - dan masa lalu saat-saat saya masih mahasiswa menyergap, saat saya belum mengenal dunia bisnis, saat belum memikirkan membangun perusahaan, saat impian untuk nongol sebagai cover majalah Fortune belum tumbuh di angan saya.

Saat itu saya adalah seorang mahasiswa sok patriotik yang dibakar oleh Catatan Harian Soe Hok-gie dan Ahmad Wahib, ikut-ikutan demo, merasa gagah karena ikut nyumbang upaya membersihkan bangsa. Ah, anak muda yang kobaran semangatnya menyentuh atap langit.

Ketika usia mulai merambat, idealisme itu pun bertransformasi. Jakob Oetama yang dulu menjadi wartawan Kompas, tempat Gie mengirimkan tulisannya telah menjelma konglomerat media. Kawan-kawan seperjuangan Gie telah berumur 60-an tahun, beruban dan mulai lupa atas peristiwa indah - sekaligus - tragis masa itu, saat Gie hidup di antara mereka.

Apakah idealisme saya mulai luntur seiring makin jauhnya saya dari jalanan dan konfrontasi di lapangan? Apakah secangkir coffee latte ini adalah racun yang meninabobokkan semangat juang itu? Apakah AC yang dingin, sofa yang empuk, view gedung-gedung tinggi modern telah membekukan lantangnya teriakan dan kerasnya kepalan tangan?

Saya terdiam dan menutup buku itu setelah membaca beberapa halaman. Saya malu. Saya pun menyelesaikan tegukan terakhir, mengelap mulut dengan tisue lalu beranjak pergi. Pandangan saya menatap ke bawah, ke kedua kaki saya yang bersendal jepit di tempat 'mewah' begini.

Saya tersenyum geli, saya tak benar-benar beranjak modern ternyata. Sendal jepit hitam itu sedikit menyelamatkan saya dari beban rasa bersalah.

Saya berkata pada diri saya sendiri: saya takkan mau dibeli oleh gaya, gengsi dan kesuksesan semu. Saya takkan mau di-rupiah-kan. Saya takkan mau di-dunia-kan.

Saya pun meninggalkan Grand Indonesia. Demonya juga barusan bubar, arahnya terpencar-pencar. Sebagian pulang ke kantor, sebagian jadi ojek lagi, sebagian jadi pedagang kaki lima lagi, sebagian kembali ke kehidupan awalnya dengan beberapa lembar puluhan ribu di tangan.

Sebuah taxi menghampiri dan saya tolak dengan halus. Seorang ojek menghampiri dan sayapun naik di boncengannya. Yang pantes ya begini, pake sendal jepit ya naiknya ojek denga helm lama yang putus talinya. Bukannya minum caffee latte di ruang ber-AC sambil mikir yang aneh-aneh.

Ah, hidup. Begitulah paradoksnya. Dengan buku Gie yang akan menemani saya beberapa hari ke depan, semoga diri saya yang asli akan hadir kembali. Proses itu mungkin tak mudah, bahkan menyakitkan. Tapi saya harus menempuhnya. Sekali lagi mentalitas sok sukses itu harus dihajar dan dibenturkan realitas idealisme yang kejam. Kemanjaan lantaran sudah mulai banyak fasilitas harus dihancurkan karena manja merapuhkan jiwa raga.

Sedangkan Gie dan Wahib mati muda dalam keaslian. Saya yang beranjak tua, harus terus bergulat melepaskan kepalsuan-kepalsuan yang makin canggih dan seolah tak terlawan.

Kata-kata Gie terngiang sekali lagi,"Yang terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Atau dilahirkan tapi mati muda. Yang paling sengsara adalah mati tua, sakit-sakitan, ditinggalkan. Berbahagialah mereka yang mati muda."

Berbahagialah engkau di sana, Gie. Doakan saya kuat meneruskan apimu itu, membawanya dalam perjalanan berdarah-darah di tengah kepalsuan hidup yang begini besar. Saya memang tidak berharap mati terlalu muda, saya sudah 34 tahun.

Jika saya suatu hari nanti saya mati tua, semoga saya bisa mati tua dalam keaslian. Semoga.

Sunday, December 13, 2009

Online Online

Dari yang awalnya begitu menarik saat memulai aktivitas online, pelan-pelan dunia online mulai meningkat jamnya. Dari dua-tiga jam seminggu, sekarang setiap hari rasanya tak lengkap kalo tak nongol di halaman muka facebook, mengganti status dan melongok status teman-teman.

Dunia online adalah dunia yang dinamis, tidak berhenti di satu titik. Ibarat kendaraan, dia bergerak dari O km/jam menjadi 20km/jam lalu 200 km/jam, makin lama makin cepat. Tak terasa, dunia online mulai mengabiskan jatah waktu offline kita untuk membaca buku, bersosialiasi, maen bola, jalan-jalan ke gunung. Rasanya jika pun kita berwisata di pedesaan, blackberry, iphone atau hp lainnya terus 'menginterupsi' keheningan kita. Rasanya kurang jika tak mendengar kabar terkini dari dunia online. Terlebih lagi, banyak di antara kita yang tak menyadari perubahan cara kita hidup ini, online dan online secara berlebihan. Kita menjelma katak yang masuk ke dalam air di panci, pelan-pelan dipanaskan dan tak pernah mau melompat (karena tak terasa perubahan suhunya) sampai airpun mendidih dan segalanya terlambat.

Apapun yang berlebihan akan punya dampak, kita tak harus larut dan ikut-ikutan menggerus kehidupan nyata kita dengan tenggelam terlalu lama di negeri online. Online-lah secukupnya, sewajarnya, dapatkan manfaat sebanyak-banyaknya dari triliyunan arus informasi jagad online tapi jangan lupakan dunia sesungguhnya: panas yang terasa panas, dingin yang terasa dingin.

Indahnya matahari terbenam, segarnya kecipak air laut saat merendam kaki, serunya menangkap belut di sawah, indahnya melihat pelangi setelah hujan mengguyur, asyiknya menyusuri lorong-lorong pasar rakyat, mungkin suatu hari kelak akan bisa diduplikasi di dunia online.

Tapi saat ini belum, jadi kita nikmati edisi offline-nya dengan hati bahagia yang penuh syukur. Offline offline.... Offlineeeee....

Bedah Buku TSP di Semarang


Saturday, December 5, 2009

Hidup Melampaui Kematian

Entah mengapa akhir-akhir makin banyak saja yang bunuh diri. Yang lompat dari lantai atas mall, dari hotel, nggantung di dalam kamar, minum racun, menabrakkan diri ke kereta yang melaju, belum lagi yang pake bom bunuh diri.

Harapan hidup rasanya begitu pendek, dunia gelap, Tuhan entah di mana saat momen itu tiba. Perasaan terasing, sendiri, ditinggalkan bahkan dunia yang penuh keindahan ini pun telah begitu menakutkan dan membosankan bagi para pelaku bunuh diri. Cinta tak bisa menyelamatkan pikiran yang kalut, hati yang tertutup oleh cahaya.

Di sini kita harus belajar, tak ada jaminan bahwa di diri kita masing-masing ini tak pernah kepikiran sedikitpun untuk mengakhiri hidup kita tanpa seijin Tuhan, Sang Pemilik tubuh kita. Kadang masalah sebrek datang menggulung masa depan kita, lamanya waktu terbenam dalam kesulitan rasanya bakal selamanya.

Tapi ternyata tidak. Andai mereka yang pernah bunuh diri diijinkan-Nya untuk menemui kita sekali lagi dan bercerita seperti apa di alam sana setelah meninggal atas inisiatifnya sendiri: tentulah kesadaran untuk mencintai kehidupan - seburuk apapun - adalah pilihan yang terbaik.

Tapi mereka yang telah pergi tak pernah kembali. Mereka pasti sangat sibuk dengan masalahnya sendiri di alam barzakh sana. Padahal kematian adalah 'jalan keluar' yang mereka harapkan dari beratnya masalah kehidupan yang tak mampu diselesaikan.

Kita yang masih tinggal bertanya-tanya: seperti apa solusinya jika masalah itu menimpa hidup kita.

Seberat apapun masalahnya, jangan pernah lari darinya. Sekali kita kabur dari masalah, seumur hidup masalah serupa akan terus mengejar kita. Jika kita tak lulus dalam cobaan hidup, maka cobaan itu akan setia menyapa kita sampai kita menegakkan kepala dan bertarung seperti pendekar sejati menghadapi keroyokan penyamun.

Saya yakin Anda yang membaca tulisan ini tidak akan bunuh diri suatu hari nanti. Sebaiknya begitu. Yang saya harus ingatkan apakah kita semua sadar bahwa setiap hari kita melakukan bunuh diri kecil-kecilan tanpa sadar: dengan memelihara putus asa, dengan meninggalkan Tuhan, dengan mengambil segala sesuatu yang bukan hak kita, dengan menindas kaum tak berdaya, dengan melarikan diri dari tanggung jawab.

Kematian sejati hanya datang sekali dalam hidup kita. Tapi begitu banyak di antara kita yang mati harapannya, mati semangatnya, mati kreativitasnya padahal tubuhnya masih hidup dan beredar kemana-mana. 

Hidup yang tanpa tujuan sangat rentan disinggahi kematian diam-diam. Tapi kabar terbaiknya adalah jika kita hidup 30 tahun belum tentu umur kita 30 tahun. Bahkan mereka yang hidup hanya 28 tahun umurnya bisa 100 bahkan 1000 tahun bahkan mungkin selamanya.

Merekalah oarang-orang yang telah memenangkan pertarungan kehidupan. Umurnya melebihi jatah waktu hidupnya di dunia. Orang-orang yang tak sejaman masih mengenang dan belajar darinya. Tubuhnya sudah menyatu dengan tanah tapi cita-citanya tak ikut terkuburkan.

Kita biasa menyebutnya Legenda, mereka yang mati tapi tak sungguh-sungguh mati. Mereka terus hidup di dalam hati para penerusnya.