Mybothsides

Tuesday, November 17, 2009

First Edition Promo


Rumah di Atas Pohon


10 Juni 1998

Jadi inget masa kecil: saat dulu punya rumah-rumahan di atas pohon jambu air di belakang rumah. Rasanya asyik banget, bisa makan dan minum di atas pohon, yang dikerek pake tali. Bawa buku buat dibaca di atas, maksudnya mau belajar tapi emang lebih asyik ambil jambu dan memakannya langsung dari pohon, tanpa dicuci.

Entah sekarang masih ada atau tidak pohonnya, karena setelah itu saya pindah rumah. Rumah di atas pohon pas banget buat merenung, kontemplasi dan sisi adventure-nya juga luar biasa. Tentu bukan kesalahan jika kelak saya masih ingin membangun rumah di atas pohon, sekali lagi. Paling tidak anak saya (anak? Ha ha ha...) bisa tertular kebahagiaan masa kecil bapaknya (bapak? Ha ha ha...).

Dikutip dari Buku Tuhan Sang Penggoda
Penulis: M. Arief Budiman 
Penerbit Galangpress, 298 hlmn, 130 x 200 mm 
www.mybothsides.com


Thursday, November 12, 2009

Tuhan Sang Penggoda Hadir di Gramedia




Akhirnya punya waktu juga menyempatkan diri menengok Buku Tuhan Sang Penggoda (TSP) ke Gramedia Sudirman, Jogja. Mungkin setelah ini saya akan mampir juga ke Gramedia Plaza Ambarrukmo, Gramedia Malioboro, Social Agency dan toko buku lainnya.

Kalo mau nyari, tempatnya di bagian Buku Laris atau Buku-buku Islam Populer (wee.. ternyata masuk kategori Islam Populer Rek!). Sebelahan sama Buku Zona Ikhlas-nya Erbe Sentanu dan serial Sedekah-nya Ustadz Yusuf Mansur. Hmmm... Lega deh sekarang jika ditanyain bukunya dimana Alhamdulillah sudah mulai nongkrong di display.

Hope Buku TSP juga udah ready untuk dibawa pulang jika temen-temen mencarinya di toko buku lain. Saya akan melaporkan jika menemukan Buku TSP ini di toko lainnya, kebetulan akan ada kerjaan di Jakarta, Surabaya dan Bandung sehingga bisa mampir.

Mohon doa dan dukungannya, semoga buku kecil ini bisa bermanfaat bagi teman-teman semua dan menjalankan fungsi sederhananya untuk mewartakan konsep Rahmatan lil 'Alamien...

Tuesday, November 10, 2009

Jernih. Hening. Bening.

Jangan. Jangan habiskan seluruh energi dan waktu dalam hidupmu untuk memelototi kasus-kasus yang menyelimuti negeri ini beberapa pekan terakhir. Dengan segala penghormatan untuk aksi luar biasa yang telah ditunjukkan oleh elemen rakyat baik di dunia offline maupun online sebagai perwujudan cinta tanah airnya, masalah yang harus diselesaikan oleh anak bangsa masih begitu banyak, baik dalam level kebangsaan, kemasyarakatan maupun keluarga dan perorangan.


Heninglah sejenak. Ambil jarak. Menjadi jernih dalam mengambil sikap adalah sebaik-baik pilihan. 


Saya percaya, kasus KPK-Polisi-Kejaksaan-Masaro-Century-Bibit-Candra-Anggodo-Yulianto-dst. dengan segala implikasi dan side effect-nya telah ditangani oleh orang-orang yang terbaik yang dimiliki bangsa ini. Saya percayanya begitu.



Yang harus saya ingatkan sekali lagi, apapun masalah yang terjadi adalah jalan yang dihadirkan untuk makin mendekatkan bangsa ini kembali pada Tuhan. Hari-hari yang melelahkan melihat kasus ini terus berlarut-larut di semua media (tv, internet, koran, dll.) harus segera diakhiri dengan berbaik sangka, dengan mengembalikannya kepada kasih sayang Tuhan.


Saya bermimpi acara-acara TV yang ditonton oleh seluruh lapisan bangsa ini menayangkan berita yang membahagiakan, kesantunan cara menyampaikan pendapat, kedamaian, pemimpin yang sayang dan peduli pada rakyat, rakyat yang mengingatkan pemimpin dengan kasih sayang. Tak perlu ada demo yang memacetkan jalan, tak perlu ada adu mulut, tak perlu ada tuduh-menuduh dan rekayasa.


Jika wakil rakyat, polisi, kejaksaan atau siapapun yang berwenang tak mau mendengar suara rakyat kecil seperi kita, kita masih punya Tuhan yang pasti mau mendengarkan 24 jam nonstop. Kita adukan semua keluh kesah kita sehingga tak ada lagi sakit hati, dendam, buruk sangka.


Dengan ijin Allah, semua kebohongan, konspirasi, rekayasa akan terungkap tidak lama lagi. Merekayasa penyelesaian masalah dengan kebohongan, menutupi kebenaran dengan teori konspirasi secanggih apapun adalah kebodohan dan kehinaan. Semua itu akan tersingkap dan kebenaranlah yang akhirnya muncul di akhir cerita.


Dengan keyakinan itu kita tak perlu ngotot-ngototan dan marah-marah pada pihak-pihak yang tak sepaham. Mereka yang mengikuti jalan kebenaran akan selamat, yang ngotot dalam kekerdilan pemikiran bahwa kepintaran manusia akan mengalahkan kuasa Tuhan akan tersesat dan kesepian meratapi keburukan-keburukannya sendiri.


Di tengah malam seperti ini, kita semua akan lebih dekat pada kesejatian, kejernihan. 


Anggodo yang kebingungan pastinya menyebut-nyebut Tuhan dalam suaranya yang lirih dan parau untuk memohon pertolongan-Nya setelah sekian lama melupakan-Nya saat mengejar kekayaan sampai ujung usianya. Susno Duaji yang telah bersumpah tidak menerima suap akan berintrospeksi apakah tindakannya dalam kasus ini bersumber pada cahaya Tuhan ataukah hanya menjalankan perintah atasan ataukah mengikuti nafsunya belaka. Anggoro yang tensi darahnya naik, makan minum tak selera, tidur tak nyaman di rumahnya yang super mewah di Singapura, dijauhi ketentraman hidup, sesuatu yang tak bisa diberikan oleh harta duniawinya yang bertumpuk, harta yang justru menjerumuskannya ke lembah kegelapan dan kenestapaan. 


Semua yang terjerat kasus ini - siapapun - hakikatnya sedang diberi pakaian kesusahan dari Tuhan untuk mengingatkan mereka kembali pada jalan yang benar. Jalan yang tak mereka pilih saat mengejar kesuksesan, berletih-letih menguber kekayaan.


Diri kita pun - dalam kadar yang berbeda-beda - mendapatkan jatah ujian dan azabnya sendiri-sendiri. Kita pun tak lepas dari masalah. Sunatullah-nya begitu.


Pelajaran terbesar saya malam ini dari kasus Cicak Buaya yang masih terus menggelinding adalah tentang pentingnya memperjuangkan kejernihan di tengah keriuhan. Kebeningan di tengah kekeruhan. Kepercayaan di tengah kebohongan. Kebersamaan di tengah pertengkaran. Kedamaian di tengah kekisruhan. Kesejatian di dalam kesementaraan.


Hanya kepada Tuhanlah kita kembali. Dengan kepolosan. Sama seperti saat kita mulai mendaftar jadi anak bangsa yang terlahir negeri ini.

Thursday, November 5, 2009

Cermin Retak Kita

Yang benar sudah jelas
Tentu kita, bukan mereka
Yang salah sudah tegas
Bukti-bukti sudah jelas
Kita sudah tahu siapa


Yang tak berbuat jadi terlibat
Yang terlibat makin nekat
Karena kiamat makin dekat


Bergulung-gulung sapu menyapu
Berputar-putar sambar menyembar
Saling serang saling terkam
Terjang menerjang tendang menendang
Berpeluh, berpuluh-puluh, seluruh

Lalu sepi, semua rubuh
Tak tersisa rupa bahkan air mata

Hanya tersisa Ia
Yang geleng-geleng kepala
Menyaksikan kebodohan umat-Nya

Wednesday, November 4, 2009

Preview Bab 1: Pulang


21 April 1997

Saat saya masih kecil, rasanya kenikmatan tertinggi sebagai anak sekolah adalah saat bisa pulang pagi karena bapak ibu guru ada rapat, ada pertemuan atau acara apapun sehingga tidak ada pelajaran. Sekolah Dasar yang biasanya selesai jam 12.00 dimajukan pulangnya jadi jam 10.00. Hanya 2 jam diskonnya, tapi bersama teman-teman saya langsung menyusun acara mau ngapain aja: maen bola, maen petakumpet atau perang-perangan. Indahnya tak terbayangkan!

Saat beranjak dewasa, mendapatkan free time karena jadual acara yang ditunda atau dibatalkan kadang masih membuat saya gembira, meskipun mungkin tak bisa lepas seperti saat masih kanak-kanak. Resiko manusia yang beranjak tua adalah mulai didatangi masalah-masalah kehidupan, yang membuat hidupnya tak lepas lagi. Jika tertawa tak bisa sepenuhnya, jika pengin nangispun – demi gengsi – sebisa mungkin tak terdengar suaranya.

Tapi saat-saat beban hidup menghimpit, saat pekerjaan meremukkan otak dan tulang, saat pandangan atas masa depan mulai pating blasur (baca: semrawut), menjadi kanak-kanak kembali adalah pilihan terbaik. Mentertawakan beban hidup, bermain sepenuh hati, menjadi diri sendiri.

Resiko manusia yang beranjak tua adalah mulai didatangi masalah-masalah kehidupan, yang membuat hidupnya tak lepas lagi. 


Saat-saat itu betapa saya merindukan pulang. Seperti saat pelajaran yang meletihkan di kelas usai, membayangkan ibu di rumah memasak makan siang kesukaan saya, membayangkan berkaos singlet bercelana pendek menenteng bola plastik di lapangan hijau, melepaskan semua penat di masa lalu sehingga ringan menjelajahi masa depan.

Saat keruwetan hidup menyeret kita ke wilayah asing sehingga akal dan hati kita tersesat: cara terbaik untuk mengendalikan lagi hidup kita seringkali sesederhana menyusuri kembali jalan pulang.

Tuesday, November 3, 2009

Telah Terbit Buku Tuhan Sang Penggoda


Ini bukan buku memoar atau biografi, sama sekali bukan. Emangnya saya siapa kok berani-berani bikin biografi? Ini juga bukan tulisan ilmiah, novel apalagi kumpulan puisi. Atau Teka-teki Silang. Anda tahu lah bedanya. He he he...

Ini hanyalah cermin kusam atas perjalanan hidup yang telah saya tapaki selama ini, yang menginjak angka 34. Sebuah angka yang lebih dari keramat. Gak ada alasan khusus mengapa saya menyebutnya demikian, mungkin karena angkanya hadir setelah 33. Sejujurnya, angka 33 inilah yang keramat.

Jadi jangan kecewa jika banyak hal keramat dalam hidup kita ternyata tak jelas asal usul maupun konsepnya. Misalnya perusahaan yang saya dirikan bareng teman-teman - Petakumpet namanya -  juga sering bikin kecele orang. Saat ditanya mengapa namanya Petakumpet, saya jawab gak ada alasannya. Lho kok? Lha saya jujur kok emang awalnya nama lucu itu hanya terlintas begitu saja. Terjadilah yang mesti terjadi.

Mungkin buku ini lebih pas disebut catatan harian seorang blogger karena sebagian content-nya bersal dari tulisan online saya di blog, sayapun melengkapinya dengan catatan harian offline yang mulai saya tulis saat masih kuliah di tahun 1998.

Buku ini adalah kumpulan puzzle pemikiran sehari-hari yang saya upayakan bisa membentuk gambaran besar mengenai upaya mewujudkan impian kita yang paling sejati. Sengaja dihadirkan dalam bentuk buku on paper  (bukan e-book) agar bisa dipegang dan dibaca dimana-mana, termasuk di toilet atau kuburan. Ini adalah upaya sharing saya dengan Anda semua para pembaca tercinta yang lebih nyaman untuk menikmatinya secara offline.
Dalam rentang waktu 11 tahun (1998-2009), tentulah tak semua potret kejadian dan pemikiran yang telah saya tuliskan bisa dimasukkan dalam buku ini. Dalam banyak segi, saya telah melakukan proses deleting yang brutal untuk materi tulisan yang saya anggap tak menyokong ide besar yang dibawa buku ini.  Ratusan jam dengan bahagia saya habiskan untuk menambahkan lagi beberapa cuatan ide yang membanjir saat proses penyusunan materi dan editing berlangsung, sayapun berusaha membatasi ide-ide yang tumpah tapi – entah bagaimana – tumpahan itu dengan pas mengisi ruang-ruang kosong puzzle yang telah tersusun.

Dengan upaya ini, semoga Anda para pembaca tercinta menemukan tautan benang merah yang kuat dari setiap keping judul yang hadir di masing-masing babnya.

Tulisan di dalam buku ini disusun tidak urut waktu tapi urut tema bahasan. Saya membaginya dalam 4 bagian besar: Mencari Jalan Pulang yang berisi proses berliku dalam pencarian diri yang sejati, Menuju Batas Langit yang berisi upaya-upaya untuk menghasilkan gagasan besar dan pencapaian, Mencari Rumah Tuhan yang mengungkap upaya pencarian spiritual dan pemahaman atas takdir Tuhan dalam hidup keseharian dan Mengais Remah Kehidupan yang memotret hal-hal sederhana yang mengandung makna dalam hidup ini. Masing-masing bab berbicara dalam satu bahasan khusus: ada yang ringan, yang berat, yang lucu, juga tidak ketinggalan: yang kurang ajar.

Untuk detail isi masing-masing babnya, silakan Anda gali sendiri. Kekayaan makna yang hadir akan mencerahkan jika Anda berinteraksi sendiri dengannya. Menubrukkan pemahaman Anda dengan ide-ide dalam tulisan di buku ini adalah cara terbaik untuk menemukan substansi makna dan kandungan rahasia hidup yang saya maksudkan.

Syukur saya tak terhingga kepada Allah, yang tanpa kasih sayang-Nya semua yang kita nikmati di dunia ini – bahkan diri kita sendiri – takkan pernah ada.

Terima kasih sedalam-dalamnya saya sampaikan untuk semua pihak yang memungkinkan buku ini hadir menyapa Anda sekalian: Penerbit Galang Press (Mas Julius Felicianus, Romo Totok, Amir ‘Ahenk’ Hendarsyah, Mas Kunto dan semua crew), teman-teman yang tergabung dalam keluarga besar Petakumpet, teman-teman Aktifis Smada Rembang 1993. Soe Hok Gie, Emha Ainun Nadjib dan Ahmad Wahib untuk inspirasinya yang mengobarkan keberanian untuk berbeda. Achmad Rif’an dan Sayap Empat Ombak, teman diskusi yang menghidupkan. Para pembaca setia blog saya (www.mybothsides.com). Keluarga besar saya di Rembang, juga keluarga besar di Penagan. Supie, kekasihku yang selalu setia menemani proses kreatif yang panjang dan berliku. Serta semua sahabat yang kebaikan dan dukungannya tidak terekam dalam ingatan saya yang terbatas tapi pasti tercatat dengan tinta emas para Malaikat di buku keabadian.

Selamat menikmati igauan seorang blogger yang terus berusaha menguak rahasia mewujudkan mimpi tertinggi dalam hidup dengan tak berhenti mencari jalan terbaik untuk mati.

Karena jika kita tak siap menghadapi kematian, kemungkinan besar kita juga tak siap untuk melanjutkan kehidupan.


Yogyakarta, 20 September 2009
M. Arief Budiman

-------------------------

Buku Tuhan Sang Penggoda
Penulis: M. Arief Budiman
Penerbit Galangpress, 298 hlmn
130 x 200 mm, Rp 46.500,-
www.mybothsides.com