Mybothsides

Thursday, October 22, 2009

Pesta Blogger 2009


Apa kabar kawan-kawan semua? Para pembaca setia blog ini, Anda yang tak sengaja berkunjung, Anda yang menemukannya di medan per-google-an, Anda yang terjerumus jejak netter sebelumnya di warnet sehingga membaca tulisan ini: doa saya untuk kesuksesan, keselamatan dan keberlimpahan rejeki yang hinggap di kehidupan Anda sekalian, sahabat-sahabat saya semua.

Atas persahabatan baik saya dengan Mas Iman Brotoseno (Chairman Pesta Blogger 2009), saya pun mulai berkenalan dengan teman-teman blogger negeri ini. Berawal dari blog, sudah 2 TVC saya garap bareng dengan Mas Iman: sebuah awal yang mungkin gak nyambung. Tapi begitulah hidup, nyambung gak nyambung: jalannya memang sudah dituliskan. Terakhir, saya menjadi saksi atas Pesta Blogger mini di JNM Jogja, 15 Oktober kemarin.

Mengenang pertama kali saya ngeblog kira-kira 4 tahun lalu, rasanya baru kemarin saat teman-teman sekantor di Petakumpet rame-rame jadi blogger. Kurang lebih 15-an orang. Sebagian besar blog yang diawali dengan gegap gempita itu sekarang mulai dicuekin pemiliknya, bagai tanah tandus yang dihiasi rumput kering: ada kenangan yang tertinggal tapi terawat. Saya berdoa ada teman-teman blogger Petakumpet yang protes dengan mulai menghidupkan lagi blognya, membuktikan bahwa tuduhan saya salah.

Bahkan untuk setia mengisi blog ini pun: saya seringkali harus memaksa diri saya untuk peduli. Selalu ada kemalasan yang tak terlawan lantaran didera kesibukan kerjaan atau tumpulnya ide menulis. Sehingga posting-nya jarang-jarang. Biasanya seminggu bisa dua tiga kali, sekarang sebulan empat kali aja sudah lumayan.

Tapi inilah menariknya: seleksi alam akan menyapa kita tanpa permisi. Blog yang gugur sebagai kenangan adalah wujud kejamnya seleksi alam. Blog yang sekarang terus tumbuh bahkan makin berkibar adalah penghargaan atas kekuatan dan konsistensi untuk merawat, menyiangi, menanaminya dengan ide-ide baru, melayani para blog walker yang mulai berpaling muka ke rumput tetangga yang lebih segar (baca: facebook).

Sehingga tibalah hari Sabtu besok, 24 Oktober 2009 saat Mas Iman dan teman-teman blogger Indonesia merayakan Pesta Blogger 2009 di Gedung SMESCO Gatot Soebroto, Jakarta. rasa cinta saya pada dunia blog telah melewati bilangan tahun dan besok rasa cinta itu diuji lagi. Saya mendapat kehormatan diundang menjadi salah satu pembicara (sekaligus moderator) di Pesta Blogger dengan Tema Creative Industry di Room F, jam 14.00-16.00, bersama Wahyu Aditya (Hellomotion)*, Widi Nugroho (Telkom), Pandji & Munir (for Acer) dan Hanny.

Teman-teman yang ingin meneguhkan niat menjadi blogger beneran silakan bergabung, saya termasuk yang percaya bahwa blog akan terus tumbuh seperti siang yang selalu menggantikan malam. Bahwa seleksi alam yang terjadi itu wajar di semua bidang kehidupan. Akan selalu lahir blogger-blogger baru yang jauh lebih cerdas, lebih berani, lebih kreatif untuk menggantikan blogger-blogger lawasan yang loyo, kurang semangat dan pemalas.

Selalu indah untuk memelihara api harapan, mimpi yang menerangi kegelapan. Saya bersyukur dari blog ini telah lahir buku Jualan Ide Segar yang Alhamdulillah cetakan ke-2-nya udah hampir habis. Dan sebentar lagi akhir bulan Oktober ini akan terbit satu lagi buku saya Tuhan Sang Penggoda, yang 60% materi mentahnya berasal dari tulisan di blog ini.

Apa yang kita anggap penting, akan memberikan manfaat terbesarnya pada kita. Ini yang saya yakini saat saya pulang lagi menjenguk rumah saya di ranah maya, blog ini. Ada rasa haru, kangen, juga syukur.

Sampai jumpa di Pesta Blogger besok. Teruslah ngeblog, teruslah menulis, teruslah bermimpi.

Wednesday, October 7, 2009

Ke Ujung Senyap

Sampai kapan aku mesti menunggu
Nasib berkeping terpenjara alam hidupmu
Terseok melangkahi rentang waktu
Rubuh dan berpeluh untuk seteguk madu


Lalu kapan kuraih cahaya
Tafakkur di balik dinding membara
Berlari merajuti hayat semesta
Tegak menenggak hakikat semesta


Perjalanan ini semakin panjang
Semakin letih tuk kaki merentang
Terengah menengadah bersimbah darah


Kutunggu ruang beradu waktu
Merayap dalam malam yang gemerlap
Aku sendiri berhening dalam makrifat


Rembang Jogja (1993-2009)

Thursday, October 1, 2009

Logika Politik yang Tidak Logis

Berapa modal yang diperlukan untuk sukses dalam politik? Jawabnya bisa bikin miris: untuk kelas legislatif kabupaten bisa sampai 300 juta rupiah, untuk bupati 10-30 milyar, untuk presiden kira-kira 1 triliun rupiah. Bisa lebih karena selalu ada biaya lain-lain.


Darimana semua dana itu berasal? Dan berapa persen dari dana-dana tersebut yang terjaga kebersihan asal-usulnya? Prediksi saya, tingkat kebersihannya tak lebih dari separuhnya. Bisa lebih kecil karena dipotong biaya lain-lain.


Tapi yang mengherankan saya, asal usul dana itu bukan sesuatu yang penting sebagai bahan pertimbangan dari para pelaku kontes politiknya. Tujuan untuk memenangkan pertarungan perebutan kursi jauh lebih-lebih penting dari pertanyaan sederhana saya tentang halal haramnya modal untuk bertarung tersebut.


Mungkin justru saya yang naif, politik kok ngomong halal haram. Politik itu menang kalah, berkuasa atau dikuasai, mengumpulkan harta atau diperas hartanya, Berjaya di singgasana atau tersingkir. Meminjam istilah teman saya, menang cacak kalah mbecak. He he he :)


Tapi inilah konyolnya, saya malah memimpikan seorang pemimpin yang lahir dari proses politik yang bersih. Yang setiap langkahnya sejak mulai pencalonan, sosialisasi, promosi, debat sampai proses pemilihannya, semua menjadi rahmat bagi seluruh alam, menjadi manfaat, tidak mubadzir seperti yang sudah-sudah. 


Berapa budget yang telah dihabiskan bangsa Indonesia lewat KPU dan kantong tim-tim sukses capres sampai kita mendapatkan SBY-Boediono sebagai Presiden & Wapres terpilih? Lebih dari 4 triliun.


Berapa budget yang dibutuhkan untuk mendapatkan Ir. Soekarno & Mohammad Hatta sebagai Presiden & Wapres pertama Indonesia? Hampir nol.


Engkau tentu akan bilang: ya beda dong Rief, jaman dulu dan jaman sekarang. Situasinya beda, masyarakatnya beda, orangnya beda. Jangan disama-samakan karena parameter-parameter yang mendasarinya berbeda.


Betul, saya juga setuju. Saya setuju saya naif jika langsung melakukan direct benchmarking. Tapi coba jika kita lihat produk akhirnya, kita akan sepakat bahwa Soekarno Hatta tidak kalah kelas dengan SBY Kalla atau SBY Boediono. Dua yang terakhir adalah produk pemilu demokratis yang modern (makanya mahal).


Doa saya sesungguhnya adalah agar bangsa ini dijauhkan dari proses politik yang berlebihan, yang boros, yang mubadzir, pesta demokrasi yang tidak memberikan kemanfaatan pada jiwa raga, kecerdasan dan kemakmuran bangsa ini hanya karena kita semua menganggap bahwa apa yang terjadi sudah semestinya.


Padahal ini sudah tidak semestinya.


Contoh: seorang calon gubernur/bupati yang incumbent – untuk mengumpulkan milyaran rupiah modalnya – melakukan pemungutan sistematis dan massif untuk apa saja yang berada dalam kewenangannya. Setiap proposal yang diajukan, setiap pendaftar CPNS, setiap permintaan bantuan, setiap sertifikat tanah yang disahkan: untuk modal nyalon sekali lagi. Nanti jika dia terpilih lagi, upaya pertamanya bukan untuk menyejahterakan rakyat yang memilihnya tapi untuk mengembalikan modal-modalnya. Tapi jika dia tidak terpilih, nasibnya bakal jauh lebih sederhana: menjawab pertanyaan KPK tentang ini itu untuk akhirnya menghuni hotel prodeo. Bukan happy ending yang diharapkan.


Ah, politik. Takkan selesai jika kita bicara kepentingan dan nafsu manusia. Jika manusia diberikan satu gunung emas, ia akan meminta satu gunung lagi, begitu seterusnya. Nafsu duniawi adalah seperti minum air laut yang asin, makin diminum makin haus. Hanya segenggam tanah yang akan menghentikannya, saat sang pelaku masuk lubang kuburan.


Saya akan berhenti cerita di sini. Saya tak sampai hati melanjutkan kisah horror di alam kubur, di akhirat, di hari pembalasan kelak. Saya sendiri meyakini bahwa neraka tidak berada di tempat yang jauh, kita bisa mencicipinya di dunia ini jika mau. Dalam bentuk stroke, kanker, serangan jantung, harta hangus terbakar, penjara, kehilangan nama baik dan ditinggalkan keluarga, handai taulan, kerabat terdekat.


Surgapun juga tak jauh, hanya karena seringkali sekelilingnya dihias duri, penderitaan, cemooh, caci maki dan umat manusia yang tidak trendy, kita dengan sadar menjauh, menutup hidung, bahkan meludah.


Ah, politik. Kita tahu persis mana yang benar. Tapi kita takut tak kebagian.