Mybothsides

Monday, March 23, 2009

Join 8th INS.IDE

Atas undangan Mas Eric dari Thinking Room, Insya Allah saya akan hadir untuk presentasi 10 menit tentang sebuah topik yang masih saya rahasiakan. Pesan Panitia, topik yang saya bawakan bebas, terserah mau presentasi apaan aja. Cool! Peraturannya hanya waktu present-nya 10 menit. Presentasi ini akan di-record dan semoga hasilnya bisa di-upload ke web sehingga bisa diakses lebih banyak orang. Bersama saya akan presentasi juga: Bernhard Subiakto, Hanung Bramantyo (sutradara hebat), Anton Ismail (fotografer hebat), juga Ramya Prajna S. & Anantya. Buat teman-teman yang mau join, berikut informasinya. Insya Allah seru deh!



Friday, March 13, 2009

Perasaan Bersalah

Apakah di hati Anda akan terbit perasaan bersalah ketika seorang faqir lapar berpapasan dengan Anda dan di dompet Anda tersimpan uang 300 ribu rupiah sementara kebutuhan Anda 500 ribu rupiah sehingga Anda terdiam membiarkannya pergi berlalu?

Apakah di hati Anda akan terbit perasaan bersalah ketika Anda membelikan hp anak Anda senilai lebih dari sejuta rupiah sementara saat temannya yang tak punya apa-apa mencoba meminjam hp itu anak Anda tak meminjamkannya?

Apakah di hati Anda akan terbit perasaan bersalah ketika Anda menghadiri seminar motivasi mahal dengan pembicara internasional dari pagi sampai sore tapi Anda tak ingat sedikitpun waktu Dhuhur dan Asar yang lewat di sela kutipan kata-kata mutiara yang disampaikan pembicara?

Apakah di hati Anda akan terbit perasaan bersalah ketika mobil Anda melaju di kampung-kampung becek kumuh melewati kaum miskin karena Anda menghindari kemacetan jalan besar?

Apakah di hati Anda akan terbit perasaan bersalah ketika anak Anda minta dibelikan buku tulis tapi uang terakhir Anda sudah terlanjur disedekahkan pada seseorang di jalan pulang menuju rumah?

Mari kita bercermin.

Daftar di atas bukan pertanyaan benar salah. Ini pertanyaan yang akan menuntun kita untuk memilih dengan bijak setiap pilihan yang hadir di hadapan kita. Kebaikan dan keburukan bisa setipis silet perbedaannya. Percayalah bahwa mengikuti hati nurani itulah yang terbaik, meskipun pasti bukan yang termudah. Siapa Anda sesungguhnya akan terbaca dari jawaban-jawaban Anda atas pertanyaan di atas.

Seperti yang dikatakan oleh seorang bijak, lidah memang bisa bersilat tapi kejujuran hati lebih memikat.

Tuesday, March 10, 2009

Snapshot from Cebu 2


Delegasi Young Enterpreneur Indonesia ke Cebu: Dicky Sukmana (Bandung), Jeff Kristianto (Bali) dan eh... siapa sih yang satu lagi nih?


Tarian para penghuni CPDRP yang menampilkan foto orang-orang besar sebagai inspirasi yang luar biasa bagi para napi untuk mempunayi harapan tinggi

Tarian anak-anak muda saat latihan di acara One Visayas

Maen melulu lu!

Bersama Kepala Penjara CPDRP dengan napi yang berseragam oranye. Seger banget kan jika dibanding seragam napi Indonesia? He he he :)

Friday, March 6, 2009

Snapshot from Cebu 1

Sunset di Cebu
Para pengunjungn sedang berdoa di pelataran gereja Basilica Santo Nino sambil membakar lilin
He he he... Ada Extra Joss di Cebu, Cool!
Parklane Hotel, tempat delegasi Creative Programme Asia Pasifik menginap
Jeepney, kendaraan umum khas Cebu. Perpaduan bisa 3/4 dan kereta kelinci.

Inside Jeepney, bersama arek-arek Cebu asli

Monday, March 2, 2009

Creative Visit Trip ke Cebu

Just inform buat teman-teman yang mau ketemu saya atau ada keperluan, selama tgl. 4 -12 Maret saya off sementara karena ada creative visit trip ke Cebu atas undangan British Council bersama Mas Jeff dari Bali, Mas Ridwan Kamil dan Mas Daniel dari Bandung. Semoga banyak oleh-oleh hal baru yang bisa dipelajari dari sana untuk mengembangkan industri kreatif di Jogja maupun Indonesia tentunya. Jika bisa terkoneksi internet, saya usahakan untuk bisa posting dan balas email.

Kunjungan ini salah satunya juga akan mendasari pembuatan jejaring creative city: Bandung Jogja Bali dalam waktu tidak lama lagi. Mohon doanya.

Sunday, March 1, 2009

Ikut Asuransi Allah

Apa bedanya asuransi manusia dengan asuransi Allah?

Dengan membayar jumlah tertentu untuk premi asuransi, maka perusahaan asuransi manusia akan meng-cover biaya recovery, pengobatan dan penggantian jika terjadi musibah pada klausul yang diasuransikan. Misalnya: jika bayar premi asuransi kesehatan Rp 200.000,-/bulan (Rp 2.400.000,-/tahun), maka saat kita sakit akan ter-cover biaya pengobatannya sampai maksimal Rp 15.000.000,- Jika tidak sakit ya uang preminya habis (jadi haknya perusahaan asuransi), atau jika sakitnya butuh biaya lebih ya nambahin sendiri.

Yang saya maksudkan sebagai asuransi Allah adalah dengan amalan zakat dan sedekah. Bedanya adalah jika asuransi manusia mengganti setelah musibah, asuransi Allah ini manfaatnya jauh lebih banyak:  
  • Mencegah datangnya musibah 
  • Menyembuhkan penyakit
  • Membuka pintu rejeki 
  • Memperpanjang umur   
Masih ditambah faktor kali 10, 700 bahkan tak terhingga tergantung kasih sayang Allah dan amal kebaikan kita lainnya. Jika misal sedekah kita Rp 2.400.000,- per tahun maka benefit-nya bisa sampai Rp 24.000.000,- ditambah terjaga keselamatan kita di dunia dan akhirat.

Banyak orang berbondong-bondong ikut asuransi karena khawatir masa depannya, anak-anaknya dan hartanya sehingga memperkaya perusahaan asuransi yang sekarang malah ruwet terlilit krisis moneter dunia. Lihat apa yang terjadi pada perusahaan asuransi terbesar di dunia, AIG yang tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan malah butuh bantuan pemerintah Amerika Serikat.

Banyak orang mau membayar mahal semata-mata demi keselamatan duniawi. Banyak orang yang tak ragu-ragu mengeluarkan jutaan bahkan ratusan juta rupiah untuk melindungi dirinya sendiri sambil melupakan bahwa di sekitarnya banyak sesamanya yang jangankan melindungi dirinya sampai setahun ke depan, buat makan besok saja masih belum terpikirkan.


Cobalah pertimbangkan asuransi Allah, saya menyediakan diri sebagai salesman-nya dengan senang hati: fee dari jualan saya tentang asuransi Allah ini tak usah Anda bayarkan ke saya, karena Allah yang akan membayar saya.

Bayarnya asuransinya pun bukan ke saya tapi langsung ke bank-nya Allah. Ke saudara-saudara kita yang kekurangan, anak-anak yatim, korban bencana, korban perang, silakan pilih sendiri yang sesuai hati dan keinginan. Tak perlu melapor ke saya atau repot bikin kontrak segala macam, karena Allah tidak pernah tidur dan malaikat-Nya tak berhenti mencatat.


Insya Allah dengan berbekal keimanan yang kuat, musibah akan jauh, rejeki akan deras mengalir jika Anda istiqomah mengikuti asuransi Allah. Bersama Allah, tak ada perniagaan yang rugi. Pasti menguntungkan, dunia dan akhirat. 

Ini bukan sekedar janji saya - salesman yang baru belajar - tapi janji Allah dan Rasul-Nya. Ini saatnya Anda memikirkan ulang apakah asuransi yang selama ini Anda bayarkan mampu melindungi semua musibah yang mungkin terjadi saat perusahaan asuransi itu sendiri belum tentu mampu melindungi dirinya sendiri saat musibah terjadi.

Jika belum pernah berfikir tentang hal ini, saran saya cobalah. Mantapkan hati, ucapkan bismillah. Kabari saya jika tiba-tiba ada keajaiban dan rejeki dari arah tak disangka-sangka mendatangi Anda. Saya tidak akan minta bagian, tapi jika Anda ingin berbagi: berbagilah ke Allah

Sang pemilik alam semesta ini adalah satu-satunya yang paling mampu melindungi Anda, keluarga Anda, anak-anak Anda dan harta Anda. Bukan perusahaan asuransi manusia. Atau yang semacamnya.

Berikut saya kutipkan cerita yang bisa menjelaskan Asuransi Allah dengan lebih baik:

Ada dua saudagar, salah satunya berasal dari Kuwait dan satunya lagi berasal dari Saudi Arabia. Mereka adalah dua sahabat karib yang dipersatukan oleh satu agama: Islam. Mereka bersepakat untuk melakukan afiliasi dalam usaha bisnis yang bisa mempererat tali persaudaraan dan mengokohkan bangunannya. Allah telah membimbing mereka dalam bisnis yang legal, dan keduanya menjadi teladan yang baik bagi Ukhuwah Islamiyah yang tulus dan sejati. Bisnis mereka pun maju pesat dan menjadi besar. Banyak sekali proyek yang mereka garap, dan atas karunia Allah Ta’ala proyek-proyek itu meraup keuntungan yang sangat banyak.

Pada suatu hari, keduanya duduk berbincang-bincang mengenai berbagai hal diantara mereka. Saudagar yang berkebangsaan Kuwait berkata kepada rekannya, “Kenapa kita tidak mengasuransikan bisnis kita ini?”

Rekannya itupun menimpali ucapannya, “Buat apa kita mengasuransikan bisnis kita?”

Dia berkata “Kebanyakan komoditi kita datang melalui jalur laut dan tentu rentan terhadap insiden. Seandainya saja terjadi – semoga saja tidak - sesuatu yang tidak diinginkan terhadap komoditi kita, maka kita tidak akan mengalami kerugian apa pun, dan perusahaan asuransi akan mengganti semua biayanya. Lalu apa pendapatmu?”

Rekannya berkata kepadanya, “Tidak tahukah kamu bahwa kita sudah mengasuransikan seluruh komoditi kita.”

Dia bertanya, “Kepada siapa?”

“Kepada Allah Ta’ala” jawab rekannya.

Dia berkata, “Sebaik-baik Dzat yang dipasrahi. Akan tetapi sikap kehati-hatian itu harus”.

Rekannya kembali berkata, “Bukankah kita sudah mengeluarkan zakat bisnis kita?”

Dia menjawab, “Benar.”

“Kalau begitu, janganlah kamu takut pada apa pun. Ini merupakan asuransi terhadap komoditi kita yang paling aman. Bertawakallah kepada Allah dan jangan panik”. Ujar rekannya kepadanya.

Dia pun berucap, “Aku beriman kepada Allah dan bertawakkal kepadaNya.”

Hari-hari berlalu sedang bisnis mereka semakin maju dan berkembang. Suatu hari, salah satu kapal kargo mengangkut banyak sekali barang komoditas. Di antaranya barang dagangan kedua saudagar ini. Sebelum sampai ke pelabuhan, kapal itu mengalami kecelakaan dan akibatnya kapal pun karam.

Seseorang memberi tahu dua saudagar itu, dan seketika mereka pun tergopoh-gopoh menuju pelabuhan. Di sana, keduanya berdiri mengamati aktifitas penyelamatan. Seorang dari mereka tetap tenang dan tak gundah hatinya, sedang yang lainnya terlihat sedikit panik dan gusar. 

Rekannya berkata kepadanya, “Kamu jangan panik, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Setelah tuntas semua prosesi penyelamatan. Apa yang terjadi? Sungguh amat mencengangkan. Hampir seluruh barang komoditi tenggelam dan rusak. Kecuali barang dagangan kedua rekan bisnis ini. Barang dagangan mereka bisa dikeluarkan dari kapal dalam kondisi baik, tak tersentuh apa pun. 

Rekannya berujar kepadanya, “bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa barang dagangan kita dijamin Dzat yang tak akan menyia-nyiakan semua titipan dan amanat?".

Dia berkata, “Kamu benar, wahai sobatku”.

“Demi Allah, kepercayaanku pada Allah tidak pernah pudar, dan aku pun tidak pernah merasa cemas dan panik. Aku percaya sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala akan menyelamatkan barang dagangan kita. Hal itu karena kita rajin mengeluarkan zakat dengan penuh kerelaan dan keimanan, dan ini merupakan jaminan terbesar dan asuransi paling kuat.” Ujar rekannya kepadanya.

Dia pun berkata, “Dan aku juga demikian, meski aku merasa sedikit cemas”.

Akan tetapi, bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan bagaimana seluruh komoditi tenggelam kecuali komoditi kedua saudagar ini?

Kejadiannya adalah pada waktu semua barang komoditi diangkut ke atas kapal, maka barang dagangan kedua saudagar ini dikelilingi karung-karung berisi tepung dalam jumlah yang besar. Ketika kapal tenggelam dan air mulai masuk ke dalamnya, maka air itu pun merusak seluruh komoditi yang ada selain komoditi kedua saudagar ini. Air tersebut tidak sampai kepadanya karena terhambat dan terhalang oleh karung-karung yang berisi tepung tadi. Mengingat, pada saat air sampai kepada karung-karung yang berisi tepung itu, maka tepung itu sedikit larut lalu melahap air itu dan dia pun menjadi keras. Tepung itu menjadi seperti tembok yang membentengi komoditi tersebut sehingga -atas izin Allah- air pun tidak sampai menjangkaunya.

Kedua saudagar ini adalah dua insan yang beriman kepada Allah dengan tulus. Kepercayaannya kepada Allah sangat kuat, takkan pernah goyah selamanya. Keduanya senantiasa menunaikan hak Allah atas diri mereka dengan mengeluarkan zakat. Hal itu merupakan asuransi yang paling utama dan paling kuat. Maka, Allah pun melindungi harta mereka.

Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, yang artinya, : “Bentengilah harta kalian dengan zakat, obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah, dan hadapilah cobaan dengan do’a.” (HR. Al Baihaqi dan Thabrani, dishahihkan Syaikh Al Albani).

Sumber: Serial Kisah Teladan kumpulan Kisah-Kisah Nyata, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Qahthani. Cet. Darulhaq

Cerita ini dikutip dari www. alsofwah.or.id
Image pinjem dari http://www.rozhlas.sk/inetportal/rsi/core.php?page=showSprava&id=8877&lang=2