Mybothsides

Sunday, February 15, 2009

Sebuah Cerita Tentang Otak



Dalam sebuah lelang tingkat dunia di London, nampaklah beberapa otak yang akan dilelang kepada penawar dengan harga tertinggi. Nampak otak para ilmuwan dan tokoh top dunia seperti Einstein, Thomas Alva Edison, Benjamin Franklin juga beberapa lagi lainnya.


Pengunjung 1:

Lihat itu otak Einstein, nampaknya capek sekali. Pasti selama hidupnya sudah digunakan secara maksimal sehingga sisa energinya tinggal sedikit. Harganya juga gak mahal, mulai dari 1000 dollar.


Pengunjung 2:

Otak Edison juga tuh, pemiliknya pasti terus menggunakannya untuk menemukan hal-hal penting saat hidup. Ini juga mulai dari 1000 dollar.


Pengunjung 3 (dengan mata-berbinar-binar):

Lihat itu ada otak yang masih segar, nampaknya belum pernah dipake. Ayo kita beli aja yang itu. Sedikit lebih mahal sih, mulai dari 1500 dollar...


Pengunjung 1:

Oooo... Itu otaknya orang Indonesia, ya ya ya... katanya emang jarang dipake. Jadi fresh banget! Ya udah, masing-masing kita beli 10 deh. Sekalian buat persediaan.


Tiba-tiba petugas lelang yang sedang berdiri di belakang mereka berkata:

Tuan-tuan, otaknya orang Indonesia itu memang boleh dibeli. Tapi tidak sekarang, paling tidak sepuluh tahun lagi atau tergantung kabar dari Indonesia.

Pengunjung 2:

Maksudnya?


Petugas lelang:

Otak itu baru boleh dibeli kalo pemiliknya sudah meninggal. Nanti rumah sakit di sana akan memberi kabar. Pemilik otak dari Indonesia itu sekarang masih hidup, mereka menitipkan otaknya buat dipajang di sini karena katanya jarang dipakai. Apalagi mereka sekarang sibuk kampanye pemilu, bikin repot katanya kalo mesti pake otak dalam kampanyenya...


Pengunjung 1, 2 dan 3:

???!!!#%***


(sebuah humor untuk mengingatkan bahwa menyia-nyiakan harta termahal adalah lelucon yang paling tragis) Image pinjem dari http://www.simpsonstrivia.com.ar/simpsons-photos/wallpapers/homer-simpson-wallpaper-brain-1024.jpg

Tuesday, February 10, 2009

Sekali Lagi: Jihad

Anda sudah pernah melihat video Manhattan Raid? Film ini sendiri diproduksi oleh As-Sahab, sayap media dari Al Qaidah. Persiapan Ekspedisi Manhattan (11 September 2001). Tokoh utamanya Usamah bin Laden (di film ini disebut sebagai Syaikh) yang melepas para pelaku serangan 11 September. Dalam video ini disebutkan sebab-sebab dilakukannya aksi itu. Versi Indonesianya dikeluarkan oleh Ar Rahmah Media. VCD-nya banyak tersedia di persewaan.

Jika kita perhatikan apa yang disampaikan Usamah, hampir semua kata-katanya mengatasnamakan Allah, Muhammad dan penderitaan Palestina. Orang-orang Al Qaeda sangat yakin bahwa upaya-upaya di luar serangan yang mengandalkan TNT dan bom bunuh diri sudah tidak mempan lagi untuk menyadarkan Amerika, Israel dan sekutu-sekutunya. Nyawa dibayar nyawa, darah diganti darah: dan keyakinan penuh bahwa setiap yang melakukan serangan untuk menimbulkan kerusakan pada kaum kafir (mereka menyebutnya begitu) adalah jalan terbaik memasuki surga-Nya.

Pengikut mereka ini banyak sekali, mungkin hampir dari pelosok dunia. Dengan home base di Afganistan, disini kitapun mengenal Imam Samudera, Ali Gufron, Amrozi sebagai otak bom Bali.

Kemarin di sebuah masjid saya mengikuti pengajian yang pembicaranya berasal dari salah satu ormas Islam bertema Serangan Israel ke Gaza. Setelah dipaparkan sejarahnya, penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, kesimpulan yang disampaikan pembicara sebagai solusi salah satunya adalah Jihad. Sudah tidak diperlukan perundingan lagi, dan jihad dalam hal ini adalah perang membela Palestina. Melawan Israel dan melawan para pemimpin negara Islam yang dianggap berkhianat karena tidak menolong perjuangan Hamas. Termasuk PLO (faksi lain di Palestina) yang dianggap boneka Amerika. Pemahaman jihad yang seperti ini membuat saya prihatin.

Bagi saya, menulis tema jihad ini bukanlah sesuatu yang mudah. Misalnya jika saya ajukan pertanyaan kepada Anda: Usamah bin Laden itu mujahid atau teroris?
Usamah bin Laden itu memperjuangkan Islam atau bukan? (jawaban atas pertanyaan ini akan lebih membingungkan lagi setelah Anda melihat videonya)

Saat saya menulis tentang eksekusi trio bomber, sikap saya dalam serangan Israel ke Gaza dan ketidaksetujuan saya untuk mendekatkan kata jihad dengan kekerasan: beberapa orang dengan sangat keras menentang pendapat saya. Sesuatu yang sudah saya perkirakan sebelumnya.

Pendekatan saya yang cenderung berbasis perdamaian dan rahmatan lil 'alamien sering diterima sebagai hal yang utopis dan tidak kontekstual di jaman sekarang. Jihad - celakanya - telah dimaknai oleh sebagian besar masyarakat bahkan kaum muslimin sendiri sebagai perang dalam arti yang sesungguhnya. Sebagai tindakan pembalasan, sebagai upaya untuk memenangkan pertempuran atas kaum kafir.

Untuk pertama kalinya di blog ini, saya ingin mengutip sebuah terjemahan ayat dalam Al Qur'an:

Dan (kenikmatan di sisi Allah bagi) orang-orang yang apabila diperlakukan dengan dzalim, mereka membela diri. Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya menjadi tanggungan Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim. Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dzalim pada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.

(QS. Al Syura: 39-43)

Jika kita membalas kejahatan yang ditimpakan kepada kita dengan balasan yang setimpal, Islam membolehkan. Jika para pejuang Hamas menembakkan roketnya untuk membalas serangan keji Israel: Islam mempersilakan. Saya hanya mengingatkan: itu bukan satu-satunya pilihan yang ada untuk dilakukan. Jika kita baca ayat di atas sekali lagi, saya memahaminya seperti ini: jika kita memilih untuk bersabar dan memaafkan, sesungguhnya itulah perbuatan yang yang diutamakan dalam pandangan Allah. Mengapa? Karena tentu saja ini lebih sulit: mengorbankan ego kita, melupakan penderitaan kita, mengikhlaskan kejahatan yang menimpa kita dan memberikan maaf pada orang-orang kafir penjahat? Allah sangat memahami kemampuan kita sebagai manusia biasa dengan segala kelemahannya, jadi Allah mempersilakan kita untuk membalas.
Tapi Allah juga men-challenge kita: mau nggak sampai di maqam yang lebih tinggi?

Bukan maksud saya untuk mengajak umat Islam menjadi lemah saat diperlakukan tidak adil. Bukan seperti itu. Tapi mendudukkan jihad dalam makna yang lebih positif adalah upaya kecil saya agar Islam yang ramah, yang bersinar sebagai rahmat, menjadi cahaya bagi terbitnya keindahan hidup bersama di muka bumi Allah ini.

Saya pun sadar bahwa media massa barat dengan segala bentuknya
(yang modalnya banyak dikuasai Yahudi) telah melakukan manipulasi pemberitaan yang menjelek-jelekkan Islam, menyamakannya dengan teroris, mencap kaum muslimin sebagai kaum radikal dan ekstrim. Nah, jika Anda seorang muslim dan kebetulan mempunyai kekuasaan untuk mengendalikan media yang jaringannya meliputi seluruh dunia seperti itu: apakah hal yang sama akan Anda lakukan meskipun kali ini dengan obyek lawan-lawan Islam?

Saya tidak. Saya hanya akan menyiarkan kebenaran. Nothing but the truth. Nabi Muhammad menumbuhkan Islam tidak dengan memburuk-burukkan kafir Quraisy, tidak dengan membumihanguskan lawan-lawannya, tidak dengan fitnah dan tipu muslihat. Rasulullah menunjukkan suri tauladan, Islam masih hidup sampai sekarang bahkan sampai akhir zaman kelak karena Islam membawa perdamaian, keselamatan, kasih sayang dan kebersamaan yang menyejukkan bahkan untuk mereka yang tidak memeluk agama Islam.

Dengan tujuan indah seperti itu - dalam pemahaman saya - jihad seharusnya diarahkan. Wallahu A'lam.

Monday, February 2, 2009

Jangan Pernah Bilang Tidak Bisa




Saya termasuk orang yang sangat terganggu melihat polusi visual kampanye Caleg yang sekarang memenuhi seantero kota dan desa-desa, bahkan sampai kampung-kampung. Saya tidak menolak kampanye Pemilu, tapi saya katakan: sense of art dan daya komunikasi para Caleg itu sangat lemah. Bagaimana kita mau percaya bahwa Caleg-caleg itu akan mampu membawa suara kita di parlemen jika cara mereka menjual dirinya kepada calon konstituen-nya begitu 'menyedihkan'?

Asumsi yang selalu dipakai biasanya karena rakyat masih belum maju pemikirannya, sehingga sebaiknya dijejali saja dengan pas photo dan pesan-pesan politik yang ngecap: ayo, pilihlah saya! Tapi saya yakin, para politisi itu terlalu underestimate terhadap kecerdasan rakyat Indonesia. Buktinya film Laskar Pelangi & Ayat-ayat Cinta lebih laris ketimbang film Genderuwo, Suster Ngesot dan Tiren-nya Dewi Perssik! Jadi rakyat malah lebih punya taste of art ketimbang calegnya kan?


Nah, saya bawakan sample promosi ala Obama. Bener sih ini emang beda konteksnya, rakyat Amerika mungkin lebih maju pemikirannya, tingkat edukasi lebih tinggi: tapi toh kita sama manusianya. Kita bahkan bisa lebih baik daripada bangsa Amerika: paling tidak dalam kasus krisis ekonomi sekarang.

Jadi tolong jangan pernah bilang kita tidak bisa jadi bangsa yang lebih maju, yang promosi calegnya lebih bagus, yang lebih komunikatif, yang lebih demokratis. Jangan sibukkan diri mencari alasan ini-itu banyak sekali hanya untuk mengatakan bahwa perbaikan tidak bisa dilakukan.
Perbaikan pasti bisa dimulai sekarang, dari diri kita sendiri, dari yang kecil-kecil dulu. Ah, ngutip AA Gym lagi: jangan jadi Caleg ya Aa'.

Sunday, February 1, 2009

Tribute to Wedding Danan & Putri


Wong Ndeso Kondangan (lihat kadonya)

Dari desa mencium bau kota, semua kado asli dari kebun orang

Gerombolan Petakumpet setelah kenyang makan lalu pulang

Sang Penjaga Teh

Langlang menyumbangkan lagunya Tompi 'Saya Bundar'

Bima menyumbangkan keberaniannya menyanyikan lagu instrumentalia

Yang berbahagia Danan & Putri, Selamat ya.. :)