Mybothsides

Wednesday, December 30, 2009

Mengantar Gus Dur Pulang

Selamat jalan, Gus. 

Bukan asisten atau paspamres yang mengawalmu lagi, tapi ribuan malaikat Allah yang takjub atas kebesaran jiwamu.

Banyak pelajaran yang telah kau bagikan saat hidupmu bersama kami, makin banyak gagasan dan pelajaran yang kau wariskan setelah kau pergi. Beristirahatlah dengan tenang setelah mewakafkan ...seluruh pikiran, waktu dan seluruh umurmu bagi negeri ini, negeri yang tak kunjung dewasa menyikapi perbedaan, negeri yang tak kunjung sadar bahwa perbedaan adalah rahmat bukan alasan pertikaian.

Dari yang saya rasakan beberapa hari terakhir, Malaikat Izrail 'seolah' membocorkan rahasia-Nya sehingga Gus Dur tahu  bahwa waktunya telah dekat.

Sekitar dua minggu sebelum wafat, Gus Dur telah membaca tanda-tanda itu dan mengikuti kata hatinya. Maka diapun pulang ke Jombang untuk berziarah ke makam beberapa kyai besar. Saat balik dari Jombang ke Surabaya, sesampainya di Mojokerto ia minta balik lagi ke Jombang karena merasa wajib lapor dulu ke Kakeknya Hasyim Asy'ari. Allah meminjamkan tenaga dan kesehatannya di hari mendatang, sehingga Gus Dur nampak lebih bugar. Ia pun tak mau dirawat di RS Dr. Soetomo Surabaya. Ia tahu tak banyak waktu lagi. Bahkan saat dirawat di RSCM, sempat-sempatnya ia minta diantar ke kantor PBNU untuk menengok dan serah-serahan NU sama Pak Hasyim Muzadi. Ia selesaikan semua urusan dunianya karena Allah memberikannya cukup waktu. Gus Dur telah menunaikan semua tugasnya di dunia fana ini.

Tidak semua kita mendapat keistimewaan itu: tahu kapan akan dipanggil-Nya sehingga sempat siap-siap. Bukan karena kita tak selevel Gus Dur, tapi karena kita masih harus mengajar maqam (level) totalitas perjuangan Gus Dur dalam menegakkan kalimat Allah dengan cara-cara yang begitu demokratis dan berbudaya. Gus Dur bepergian ke seluruh pelosok negeri dan menyapa jutaan warganya laksana memiliki kebugaran fisik dan kekuatan super, padahal kita semua tahu banyak kekurangan dalam kesehatannya. Semangat dan ketabahan luar biasa yang tak mungkin bisa dijalani jika ia bukan Gus Dur.

Insya Allah, khusnul khatimah adalah balasan terbaik bagi orang besar ini yang baru saja meninggalkan kita semua di RSCM Jakarta, 30 Desember 2009, 18.45 WIB waktu berita-berita nasional masih sibuk menyiarkan peristiwa George Aditjondro 'mengeplak' Ramadhan Pohan dalam diskusi buku Membongkar Gurita Cikeas, Skandal Century, Prita vs Omni Internasional, Luna Maya vs infotainment dan semacamnya.

Dibandingkan apa yang telah disumbangkan Gus Dur untuk bangsa ini, rasa-rasanya segala hiruk pikuk kasus dan pertikaian yang sedang rame di media saat ini: sungguh tidak ada apa-apanya. Laksana jutaan buih yang riuh tapi tak bisa dibandingkan dengan satu hantaman gelombang besar yang memecah karang di pantai.

Semoga kami bisa lanjutkan cita-cita muliamu itu dan saat waktunya tiba kelak, kami pasti menyusulmu. 


1 comment:

Dian Dwi A said...

Nilia-nilai kearifan dan kebaikkan Gus Dur akan menular, bahkan tak akan yang ada bisa membatasi.... Moga kanjeng kyai ini mendapatkan maqom yang terbaik di kampung akherat.