Mybothsides

Wednesday, December 30, 2009

Mengantar Gus Dur Pulang

Selamat jalan, Gus. 

Bukan asisten atau paspamres yang mengawalmu lagi, tapi ribuan malaikat Allah yang takjub atas kebesaran jiwamu.

Banyak pelajaran yang telah kau bagikan saat hidupmu bersama kami, makin banyak gagasan dan pelajaran yang kau wariskan setelah kau pergi. Beristirahatlah dengan tenang setelah mewakafkan ...seluruh pikiran, waktu dan seluruh umurmu bagi negeri ini, negeri yang tak kunjung dewasa menyikapi perbedaan, negeri yang tak kunjung sadar bahwa perbedaan adalah rahmat bukan alasan pertikaian.

Dari yang saya rasakan beberapa hari terakhir, Malaikat Izrail 'seolah' membocorkan rahasia-Nya sehingga Gus Dur tahu  bahwa waktunya telah dekat.

Sekitar dua minggu sebelum wafat, Gus Dur telah membaca tanda-tanda itu dan mengikuti kata hatinya. Maka diapun pulang ke Jombang untuk berziarah ke makam beberapa kyai besar. Saat balik dari Jombang ke Surabaya, sesampainya di Mojokerto ia minta balik lagi ke Jombang karena merasa wajib lapor dulu ke Kakeknya Hasyim Asy'ari. Allah meminjamkan tenaga dan kesehatannya di hari mendatang, sehingga Gus Dur nampak lebih bugar. Ia pun tak mau dirawat di RS Dr. Soetomo Surabaya. Ia tahu tak banyak waktu lagi. Bahkan saat dirawat di RSCM, sempat-sempatnya ia minta diantar ke kantor PBNU untuk menengok dan serah-serahan NU sama Pak Hasyim Muzadi. Ia selesaikan semua urusan dunianya karena Allah memberikannya cukup waktu. Gus Dur telah menunaikan semua tugasnya di dunia fana ini.

Tidak semua kita mendapat keistimewaan itu: tahu kapan akan dipanggil-Nya sehingga sempat siap-siap. Bukan karena kita tak selevel Gus Dur, tapi karena kita masih harus mengajar maqam (level) totalitas perjuangan Gus Dur dalam menegakkan kalimat Allah dengan cara-cara yang begitu demokratis dan berbudaya. Gus Dur bepergian ke seluruh pelosok negeri dan menyapa jutaan warganya laksana memiliki kebugaran fisik dan kekuatan super, padahal kita semua tahu banyak kekurangan dalam kesehatannya. Semangat dan ketabahan luar biasa yang tak mungkin bisa dijalani jika ia bukan Gus Dur.

Insya Allah, khusnul khatimah adalah balasan terbaik bagi orang besar ini yang baru saja meninggalkan kita semua di RSCM Jakarta, 30 Desember 2009, 18.45 WIB waktu berita-berita nasional masih sibuk menyiarkan peristiwa George Aditjondro 'mengeplak' Ramadhan Pohan dalam diskusi buku Membongkar Gurita Cikeas, Skandal Century, Prita vs Omni Internasional, Luna Maya vs infotainment dan semacamnya.

Dibandingkan apa yang telah disumbangkan Gus Dur untuk bangsa ini, rasa-rasanya segala hiruk pikuk kasus dan pertikaian yang sedang rame di media saat ini: sungguh tidak ada apa-apanya. Laksana jutaan buih yang riuh tapi tak bisa dibandingkan dengan satu hantaman gelombang besar yang memecah karang di pantai.

Semoga kami bisa lanjutkan cita-cita muliamu itu dan saat waktunya tiba kelak, kami pasti menyusulmu. 


Wednesday, December 23, 2009

Jalan yang Lebih Baik, Bukan yang Lebih Mudah (Bagian 1)


Datang sebuah kabar kepada saya: Mas, pengumuman CPNS-nya udah keluar. Aku gak diterima. Teman-temanku yang diterima ada 6 orang padahal formasinya waktu awal diumumkan hanya 4 orang. Dan mereka memang memenuhi 'syarat-syarat'nya. Bayar Rp 70 - 100 juta/orang. Gimana ya Mas? Mengapa untuk jadi pegawai negeri syaratnya bukan lebih pinter, lebih capable tapi malah berdasar uang semata?

Datang lagi kabar yang lain dari sohib saya: Eh, Si A kemana aja ya Rief? Kok lama gak terdengar kabarnya. Facebooknya gak aktif. 

Saya coba maen ke facebook-nya, temen saya itu jadi member 'gerakan tuntut klarifikasi pencairan dana ustad lihan'. Saya belum berhasil kontak, tapi sepertinya dia juga ikut menitipkan sejumlah uang ke Ustadz Lihan - entah berapa puluh atau ratus juta - untuk investasi dan belum jelas bagaimana memintanya kembali. 

Dua kabar ini membuat saya merenung. 

Yang pertama, sebulan sebelum CPNS, saya sudah menyarankan sobat saya ini untuk tidak membayar Rp 70 jt yang diminta oleh 'panitia' jika ingin masuk jadi PNS di kabupaten tersebut. Tempuhlah jalan yang halal dan jadikan upaya menggapai PNS sebagai riyadhah, ibadah untuk menggapai Ridho Allah. Sholat wajibnya benerin agar tepat waktu, sholat tahajud dan dhuha-nya ditambah, puasa sunat kerjakan dan sedekahlah dengan sedekah terbaik. Daripada bayar Rp 70 jt lebih baik cari anak-anak yang tidak mampu bayar SPP, bayarin. Cari guru-guru yang ekonominya susah, bantulah. Cari anak-anak yatim yang pengen sekolah, bayarin. Begitu. Diapun mengikuti saran saya. 

Dan saat tiba pengumuman: dia tidak diterima.

Apakah saya terkejut mendengar dia sedikit protes udah ibadah kok masih gak dikabul doanya? Alhamdulillah tidak, saya pun kirim sms padanya: Dijalani saja ujiannya dengan sabar. Sholatnya ditambah, sedekahnya ditambah, doanya ditambah. Lebih baik pake jalan lurus tapi tidak diterima PNS daripada diterima jadi PNS tapi diawali dengan dosa. Jalan benar biasanya tidak mudah. Tapi Allah tidak tidur, Allah akan berikan ganti yang lebih baik jika kita khusnudzon & istiqomah di jalan-Nya...

Apakh sms saya ini hanya untuk menghibur hatinya yang gundah? Demi Allah, tidak! Sms ini adalah sms jujur yang saya tulis dari dalam hati saya dan Insya Allah benar. Saya yakin itu. Seyakin-yakinnya. Lha, tapi kan sms itu tidak membuatnya jadi PNS Mas? Jika nanti akhirnya nganggur, sms motivasi begitu mana ada manfaatnya?

Saya yakinnya begitu. Rejeki itu dari Allah, bukan dari pemerintah, makelar CPNS atau lainnya. Lebih baik dapet rejeki banyak tapi halal daripada pas-pasan tapi haram. Betul?

Coba bayangin. Jika kita masuk CPNS - dalam kasus ini lowongannya adalah guru - dan lewat jalan tidak halal karena menyuap, rejeki yang masuk tiap bulan sebagai gaji kita kan gak halal, gak bersih. Bibitnya aja sudah gak bersih (suap). Lalu keluarga akan diberi makan dari rejeki itu, anak-anak akan dipelihara dan dibesarkan dengan harta haram dan ketidakjujuran. Jika ia jadi guru, mana bisa dia bilang ke murid-muridnya untuk menjadi generasi masa depan yang mulia: dia jadi guru aja daftarnya dengan menyuap. 

Keluarga yang rejekinya gak bersih tidak akan diberikan Allah ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Bener bahwa dia akan bisa kredit rumah, kredit mobil dan jadi kaya. Tapi jika ketentraman tak ada di rumah itu: buat apa? Kalo Allah mau, rumah semahal apapun takkan bisa dinikmati penghuninya. Dengan cara mengusirnya dari rumah sendiri: harus mondok di rumah sakit karena serangan jantung, dipenjara karena korupsi atau sembunyi di goa-goa jadi buronan polisi.

Yang kedua, karena penasaran saya pun gabung jadi member 'gerakan tuntut klarifikasi pencairan dana ustad lihan'. Hanya ingin tahu, apa yang sesungguhnya terjadi dengan temen saya Si A. Seperti santer diberitakan media massa, Ustadz Lihan sedang diuji Allah dengan banyaknya dana titipan investasi yang belum bisa dibayarkan kepada investornya. Marahlah orang-orang itu karena duitnya gak balik malah katanya nasib investasinya juga gak jelas. Sejujurnya saya tidak tahu persis masalahnya, saya hanya ingin tahu ada apa dengan Si A teman saya itu.

Saya jadi ingat korban Century yang telah mendeposito dan menabung di bank almarhum itu (sekarang jadi Mutiara Bank). Ada yang 7 milyar, 80 milyar, 900 juta dan sebagainya. Mereka semua marah merasa ditipu, dianiaya, uangnya raib tak bisa kembali. Lalu demo, nginep di banknya, menunjuk pengacara, perang kata-kata di media. Riuh sekali.

Jika saya menjadi salah satu nasabah itu atau salah satu investor itu, wajar rasanya untuk marah-marah atas ketidakadilan itu, atas kebohongan janji dan sebagainya. Ini uang saya kumpulkan puluhan tahun masa' amblas hanya karena saya percaya investasi dalam 3 bulan saja? Saya kerja keras membanting tulang nabung dikit-dikit kok tega bank merampok uang saya yang hanya 3 milyar?

Tapi apakah kita sempat bertanya: benarkah uang yang saya kumpulkan itu benar-benar uang kita, hak kita, rejeki kita sesungguhnya? Benarkah tidak bercampur selisih nota pembelian bensin dan alat-alat kantor, komisi karena membantu melobi pimpinan untuk mengegolkan proyek, proyek-proyek fiktif, biaya perjalanan kantor yang di-mark up dan hal-hal serupa itu? Benarkah untuk mengumpulkan duit itu kita tak berbuat dholim, merugikan hak orang lain, menyuap? Benarkah tidak tercampur hak anak-anak yatim dan fakir miskin yang tak pernah kita keluarkan zakat dan sedekahnya?

Dan jika itu terjadi puluhan tahun lalu Allah bersihkan harta kita dari yang bukan hak kita dengan cara-cara-Nya: benarkah itu yang sering kita sebut ketidakadilan? Bukankah itu justru malah keadilan yang sesungguhnya dan kebersihan itu malah menguntungkan hidup kita di akhirat kelak?

Tapi kita marah dan gelaplah akal pikiran. Tapi kita memekik-mekik protes dan menafikan Cahaya Tuhan yang sedang bersinar. Kita mengutuk dan melupakan introspeksi diri.

Bank Century, Ustadz Lihan atau siapapun yang dituduh mencuri uang kita, menipu, merampok hanyalah bahasa dunia yang dipilih Allah untuk membersihkan diri dan harta kita. Jika tak hangus harta kita di Century, maka akan ada kejadian lain yang hasilnya sama: bablaslah harta yang memang bukan rejeki kita. Entah lewat arisan berantai, kebakaran, biaya obat stroke, sengketa rumah dan sebagainya.

Apa sih masalah itu? Masalah adalah jika kita jauh dari Allah. Ustadz Yusuf Mansur sering bilang begitu, saya mengamininya. Masalah itu bukan kita tidak diterima CPNS, bukan kita kehilangan uang di tabungan, bukan ditipu orang, bukan. Demi Allah bukan. Jika kejadian-kejadian buruk itu membuat kita sadar, tobat dan makin mendekati Allah: itu bukan masalah tapi justru jalan terang.

Tapi jika kita diterima PNS setelah menyuap, uang yang di Century bisa balik setelah kita bayar polisi untuk mengurusnya, menang tender dengan menyuap: maka inilah sesungguhnya masalah, karena akan menjauhkan kita dari Allah, dari keberkahan rejeki yang kita dapatkan secara tidak halal.

Hidup kita akan selamat selama kita mengikuti jalan-Nya. Memang tak mudah, tapi pasti akan membawa kita ke tempat yang lebih baik, lebih tenang, lebih tentram. Hidup yang mengikuti hawa nafsu mungkin akan terlihat glamour, mentereng, bergaya, tapi pasti membuat kita kemrungsung, tegang, panik, tak ada sedikitpun waktu menikmati kesuksesan duniawi kita. 

Semoga kita bisa bercermin dari dua cerita nyata di atas. Siapapun ingin kaya, sukses dan bahagia. Tempuhlah jalan Tuhan agar prosesnya nyaman dan bisa dinikmati dengan hati tenang. Jikapun harus mendaki, penuh onak, duri dan ujian. Jalan lurus layak ditempuh dengan pengorbanan apapun: karena di ujungnya ada Ridho Allah. Allah tempat asal dan kembali kita yang sejati.

Jangan malah nyasar kemana-mana karena silau oleh nafsu benda dan tipu daya duniawi yang membutakan akal sehat dan keimanan kita. 

Tulisan ini ada lanjutannya, di sini.

Monday, December 14, 2009

Soe Hok-gie di Grand Indonesia


Disinilah saya, menjelang tengah hari di cafe Gramedia lantai 3 Grand Indonesia dengan secangkir coffee latte dan sebuah buku yang baru saja saya beli: Soe Hok-gie... Sekali lagi, dengan editor Rudy Badil dan teman-teman Gie yang lain.

Di seberang jalan, di pinggiran bundara HI nampak tiga puluhan orang sedang demo dengan topik yang tidak begitu jelas, kemungkinan tentang revisi peraturan pemerintah. Spanduk-spanduk dibentangkan asal-asalan tanpa semangat, beberapa orang berdasi orasi dengan memekik-mekik sementara peserta demo melihat dengan tatapan mata kosong menyiratkan ketidakmengertian.

Tahulah saya - sebagai mantan demonstran amatir - dari gerak-gerik dan antusiasme-nya yang palsu dan menyedihkan, sebagian peserta adalah pendemo bayaran.

Dari seorang ojek yang kebetulan melintas - sebelum saya masuk Grand Indonesia - saya ketahui bahwa tarif pendemo bervariasi, antara 35 rb sampai 50 rb tergantung atas suruhan siapa. Si ojek kemarin ikut demo kasus Century di dekat Istana Negara dibayar 50 rb untuk demo beberapa jam. "Lumayan Mas, apalagi saat sepi gak ada penumpang," katanya.

Dari sejuk ruang ac di toko buku yang diklaim terbesar di Asia Tenggara itu, mata saya menatap cover buku merah bergambar silhuet Gie, dengan sedih, sekaligus marah. Anak muda lurus dengan kata-kata yang tajam menyilet ketidakadilan itu mati keracunan di puncak Semeru dan kita semua di tahun 2009 - 40 tahun sejak Gie pergi - tak juga mampu memahami kemarahan atas nama kejujuran itu.

Bangsa ini mengulang kesalahan yang sama, berulang-ulang. Kita tak berhulu pada kejujuran saat berteriak di bawah mentari siang yang terik. Kita bertekuk lutut pada sejumlah rupiah untuk proyek bernama demonstrasi bayaran.

Di seberang tempat duduk saya nampak beberapa orang sedang minum kopi mahal, makan siang yang pastinya lebih dari seratus ribu rupiah sekali santap. Siapa tahu salah satu diantaranya adalah pemesan demo di bundara HI siang itu, melihat kumpulan manusia dipanggang terik mentari, berteriak parau sambil menghirup harum espresso, capuccino atau chococino. Orang berduit besar yang membayar para pendemo dengan duit recehan.

Saya sendiri masygul. Lha saya ini ngapain disini? Kalo tiba-tiba arwah Soe Hok-gie (ya, bener.. Ini spelling yang bener, bukan Soe Hok Gie) datang dan mendamprat saya serta menumpahkan caffee latte-nya karena marah melihat saya mulai dijangkiti penyakit modernisme, seperti banyak pejabat mantan demonstran yang meng-gendut perutnya karena 'mencairkan' jasanya ketika jadi pendemo mahasiswa dalam bentuk jabatan, kekayaan, kekuasaan.

Minuman hangat berbusa itu sudah tandas setengah, saya minum setengah hati.

Bayangan wajah Gie yang keras, yang hidupnya dihajar situasi revolusioner tahun 60-an berkelebat di dinding kaca tebal di hadapan saya. Seperti menyapa dengan sorot mata yang dingin. Saya buka pelan-pelan halaman buku itu - yang dibikin sebagai dedikasi untuk perjuangannya yang tak kenal kompromi - dan masa lalu saat-saat saya masih mahasiswa menyergap, saat saya belum mengenal dunia bisnis, saat belum memikirkan membangun perusahaan, saat impian untuk nongol sebagai cover majalah Fortune belum tumbuh di angan saya.

Saat itu saya adalah seorang mahasiswa sok patriotik yang dibakar oleh Catatan Harian Soe Hok-gie dan Ahmad Wahib, ikut-ikutan demo, merasa gagah karena ikut nyumbang upaya membersihkan bangsa. Ah, anak muda yang kobaran semangatnya menyentuh atap langit.

Ketika usia mulai merambat, idealisme itu pun bertransformasi. Jakob Oetama yang dulu menjadi wartawan Kompas, tempat Gie mengirimkan tulisannya telah menjelma konglomerat media. Kawan-kawan seperjuangan Gie telah berumur 60-an tahun, beruban dan mulai lupa atas peristiwa indah - sekaligus - tragis masa itu, saat Gie hidup di antara mereka.

Apakah idealisme saya mulai luntur seiring makin jauhnya saya dari jalanan dan konfrontasi di lapangan? Apakah secangkir coffee latte ini adalah racun yang meninabobokkan semangat juang itu? Apakah AC yang dingin, sofa yang empuk, view gedung-gedung tinggi modern telah membekukan lantangnya teriakan dan kerasnya kepalan tangan?

Saya terdiam dan menutup buku itu setelah membaca beberapa halaman. Saya malu. Saya pun menyelesaikan tegukan terakhir, mengelap mulut dengan tisue lalu beranjak pergi. Pandangan saya menatap ke bawah, ke kedua kaki saya yang bersendal jepit di tempat 'mewah' begini.

Saya tersenyum geli, saya tak benar-benar beranjak modern ternyata. Sendal jepit hitam itu sedikit menyelamatkan saya dari beban rasa bersalah.

Saya berkata pada diri saya sendiri: saya takkan mau dibeli oleh gaya, gengsi dan kesuksesan semu. Saya takkan mau di-rupiah-kan. Saya takkan mau di-dunia-kan.

Saya pun meninggalkan Grand Indonesia. Demonya juga barusan bubar, arahnya terpencar-pencar. Sebagian pulang ke kantor, sebagian jadi ojek lagi, sebagian jadi pedagang kaki lima lagi, sebagian kembali ke kehidupan awalnya dengan beberapa lembar puluhan ribu di tangan.

Sebuah taxi menghampiri dan saya tolak dengan halus. Seorang ojek menghampiri dan sayapun naik di boncengannya. Yang pantes ya begini, pake sendal jepit ya naiknya ojek denga helm lama yang putus talinya. Bukannya minum caffee latte di ruang ber-AC sambil mikir yang aneh-aneh.

Ah, hidup. Begitulah paradoksnya. Dengan buku Gie yang akan menemani saya beberapa hari ke depan, semoga diri saya yang asli akan hadir kembali. Proses itu mungkin tak mudah, bahkan menyakitkan. Tapi saya harus menempuhnya. Sekali lagi mentalitas sok sukses itu harus dihajar dan dibenturkan realitas idealisme yang kejam. Kemanjaan lantaran sudah mulai banyak fasilitas harus dihancurkan karena manja merapuhkan jiwa raga.

Sedangkan Gie dan Wahib mati muda dalam keaslian. Saya yang beranjak tua, harus terus bergulat melepaskan kepalsuan-kepalsuan yang makin canggih dan seolah tak terlawan.

Kata-kata Gie terngiang sekali lagi,"Yang terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Atau dilahirkan tapi mati muda. Yang paling sengsara adalah mati tua, sakit-sakitan, ditinggalkan. Berbahagialah mereka yang mati muda."

Berbahagialah engkau di sana, Gie. Doakan saya kuat meneruskan apimu itu, membawanya dalam perjalanan berdarah-darah di tengah kepalsuan hidup yang begini besar. Saya memang tidak berharap mati terlalu muda, saya sudah 34 tahun.

Jika saya suatu hari nanti saya mati tua, semoga saya bisa mati tua dalam keaslian. Semoga.

Sunday, December 13, 2009

Online Online

Dari yang awalnya begitu menarik saat memulai aktivitas online, pelan-pelan dunia online mulai meningkat jamnya. Dari dua-tiga jam seminggu, sekarang setiap hari rasanya tak lengkap kalo tak nongol di halaman muka facebook, mengganti status dan melongok status teman-teman.

Dunia online adalah dunia yang dinamis, tidak berhenti di satu titik. Ibarat kendaraan, dia bergerak dari O km/jam menjadi 20km/jam lalu 200 km/jam, makin lama makin cepat. Tak terasa, dunia online mulai mengabiskan jatah waktu offline kita untuk membaca buku, bersosialiasi, maen bola, jalan-jalan ke gunung. Rasanya jika pun kita berwisata di pedesaan, blackberry, iphone atau hp lainnya terus 'menginterupsi' keheningan kita. Rasanya kurang jika tak mendengar kabar terkini dari dunia online. Terlebih lagi, banyak di antara kita yang tak menyadari perubahan cara kita hidup ini, online dan online secara berlebihan. Kita menjelma katak yang masuk ke dalam air di panci, pelan-pelan dipanaskan dan tak pernah mau melompat (karena tak terasa perubahan suhunya) sampai airpun mendidih dan segalanya terlambat.

Apapun yang berlebihan akan punya dampak, kita tak harus larut dan ikut-ikutan menggerus kehidupan nyata kita dengan tenggelam terlalu lama di negeri online. Online-lah secukupnya, sewajarnya, dapatkan manfaat sebanyak-banyaknya dari triliyunan arus informasi jagad online tapi jangan lupakan dunia sesungguhnya: panas yang terasa panas, dingin yang terasa dingin.

Indahnya matahari terbenam, segarnya kecipak air laut saat merendam kaki, serunya menangkap belut di sawah, indahnya melihat pelangi setelah hujan mengguyur, asyiknya menyusuri lorong-lorong pasar rakyat, mungkin suatu hari kelak akan bisa diduplikasi di dunia online.

Tapi saat ini belum, jadi kita nikmati edisi offline-nya dengan hati bahagia yang penuh syukur. Offline offline.... Offlineeeee....

Bedah Buku TSP di Semarang


Saturday, December 5, 2009

Hidup Melampaui Kematian

Entah mengapa akhir-akhir makin banyak saja yang bunuh diri. Yang lompat dari lantai atas mall, dari hotel, nggantung di dalam kamar, minum racun, menabrakkan diri ke kereta yang melaju, belum lagi yang pake bom bunuh diri.

Harapan hidup rasanya begitu pendek, dunia gelap, Tuhan entah di mana saat momen itu tiba. Perasaan terasing, sendiri, ditinggalkan bahkan dunia yang penuh keindahan ini pun telah begitu menakutkan dan membosankan bagi para pelaku bunuh diri. Cinta tak bisa menyelamatkan pikiran yang kalut, hati yang tertutup oleh cahaya.

Di sini kita harus belajar, tak ada jaminan bahwa di diri kita masing-masing ini tak pernah kepikiran sedikitpun untuk mengakhiri hidup kita tanpa seijin Tuhan, Sang Pemilik tubuh kita. Kadang masalah sebrek datang menggulung masa depan kita, lamanya waktu terbenam dalam kesulitan rasanya bakal selamanya.

Tapi ternyata tidak. Andai mereka yang pernah bunuh diri diijinkan-Nya untuk menemui kita sekali lagi dan bercerita seperti apa di alam sana setelah meninggal atas inisiatifnya sendiri: tentulah kesadaran untuk mencintai kehidupan - seburuk apapun - adalah pilihan yang terbaik.

Tapi mereka yang telah pergi tak pernah kembali. Mereka pasti sangat sibuk dengan masalahnya sendiri di alam barzakh sana. Padahal kematian adalah 'jalan keluar' yang mereka harapkan dari beratnya masalah kehidupan yang tak mampu diselesaikan.

Kita yang masih tinggal bertanya-tanya: seperti apa solusinya jika masalah itu menimpa hidup kita.

Seberat apapun masalahnya, jangan pernah lari darinya. Sekali kita kabur dari masalah, seumur hidup masalah serupa akan terus mengejar kita. Jika kita tak lulus dalam cobaan hidup, maka cobaan itu akan setia menyapa kita sampai kita menegakkan kepala dan bertarung seperti pendekar sejati menghadapi keroyokan penyamun.

Saya yakin Anda yang membaca tulisan ini tidak akan bunuh diri suatu hari nanti. Sebaiknya begitu. Yang saya harus ingatkan apakah kita semua sadar bahwa setiap hari kita melakukan bunuh diri kecil-kecilan tanpa sadar: dengan memelihara putus asa, dengan meninggalkan Tuhan, dengan mengambil segala sesuatu yang bukan hak kita, dengan menindas kaum tak berdaya, dengan melarikan diri dari tanggung jawab.

Kematian sejati hanya datang sekali dalam hidup kita. Tapi begitu banyak di antara kita yang mati harapannya, mati semangatnya, mati kreativitasnya padahal tubuhnya masih hidup dan beredar kemana-mana. 

Hidup yang tanpa tujuan sangat rentan disinggahi kematian diam-diam. Tapi kabar terbaiknya adalah jika kita hidup 30 tahun belum tentu umur kita 30 tahun. Bahkan mereka yang hidup hanya 28 tahun umurnya bisa 100 bahkan 1000 tahun bahkan mungkin selamanya.

Merekalah oarang-orang yang telah memenangkan pertarungan kehidupan. Umurnya melebihi jatah waktu hidupnya di dunia. Orang-orang yang tak sejaman masih mengenang dan belajar darinya. Tubuhnya sudah menyatu dengan tanah tapi cita-citanya tak ikut terkuburkan.

Kita biasa menyebutnya Legenda, mereka yang mati tapi tak sungguh-sungguh mati. Mereka terus hidup di dalam hati para penerusnya.


Tuesday, November 17, 2009

First Edition Promo


Rumah di Atas Pohon


10 Juni 1998

Jadi inget masa kecil: saat dulu punya rumah-rumahan di atas pohon jambu air di belakang rumah. Rasanya asyik banget, bisa makan dan minum di atas pohon, yang dikerek pake tali. Bawa buku buat dibaca di atas, maksudnya mau belajar tapi emang lebih asyik ambil jambu dan memakannya langsung dari pohon, tanpa dicuci.

Entah sekarang masih ada atau tidak pohonnya, karena setelah itu saya pindah rumah. Rumah di atas pohon pas banget buat merenung, kontemplasi dan sisi adventure-nya juga luar biasa. Tentu bukan kesalahan jika kelak saya masih ingin membangun rumah di atas pohon, sekali lagi. Paling tidak anak saya (anak? Ha ha ha...) bisa tertular kebahagiaan masa kecil bapaknya (bapak? Ha ha ha...).

Dikutip dari Buku Tuhan Sang Penggoda
Penulis: M. Arief Budiman 
Penerbit Galangpress, 298 hlmn, 130 x 200 mm 
www.mybothsides.com


Thursday, November 12, 2009

Tuhan Sang Penggoda Hadir di Gramedia




Akhirnya punya waktu juga menyempatkan diri menengok Buku Tuhan Sang Penggoda (TSP) ke Gramedia Sudirman, Jogja. Mungkin setelah ini saya akan mampir juga ke Gramedia Plaza Ambarrukmo, Gramedia Malioboro, Social Agency dan toko buku lainnya.

Kalo mau nyari, tempatnya di bagian Buku Laris atau Buku-buku Islam Populer (wee.. ternyata masuk kategori Islam Populer Rek!). Sebelahan sama Buku Zona Ikhlas-nya Erbe Sentanu dan serial Sedekah-nya Ustadz Yusuf Mansur. Hmmm... Lega deh sekarang jika ditanyain bukunya dimana Alhamdulillah sudah mulai nongkrong di display.

Hope Buku TSP juga udah ready untuk dibawa pulang jika temen-temen mencarinya di toko buku lain. Saya akan melaporkan jika menemukan Buku TSP ini di toko lainnya, kebetulan akan ada kerjaan di Jakarta, Surabaya dan Bandung sehingga bisa mampir.

Mohon doa dan dukungannya, semoga buku kecil ini bisa bermanfaat bagi teman-teman semua dan menjalankan fungsi sederhananya untuk mewartakan konsep Rahmatan lil 'Alamien...

Tuesday, November 10, 2009

Jernih. Hening. Bening.

Jangan. Jangan habiskan seluruh energi dan waktu dalam hidupmu untuk memelototi kasus-kasus yang menyelimuti negeri ini beberapa pekan terakhir. Dengan segala penghormatan untuk aksi luar biasa yang telah ditunjukkan oleh elemen rakyat baik di dunia offline maupun online sebagai perwujudan cinta tanah airnya, masalah yang harus diselesaikan oleh anak bangsa masih begitu banyak, baik dalam level kebangsaan, kemasyarakatan maupun keluarga dan perorangan.


Heninglah sejenak. Ambil jarak. Menjadi jernih dalam mengambil sikap adalah sebaik-baik pilihan. 


Saya percaya, kasus KPK-Polisi-Kejaksaan-Masaro-Century-Bibit-Candra-Anggodo-Yulianto-dst. dengan segala implikasi dan side effect-nya telah ditangani oleh orang-orang yang terbaik yang dimiliki bangsa ini. Saya percayanya begitu.



Yang harus saya ingatkan sekali lagi, apapun masalah yang terjadi adalah jalan yang dihadirkan untuk makin mendekatkan bangsa ini kembali pada Tuhan. Hari-hari yang melelahkan melihat kasus ini terus berlarut-larut di semua media (tv, internet, koran, dll.) harus segera diakhiri dengan berbaik sangka, dengan mengembalikannya kepada kasih sayang Tuhan.


Saya bermimpi acara-acara TV yang ditonton oleh seluruh lapisan bangsa ini menayangkan berita yang membahagiakan, kesantunan cara menyampaikan pendapat, kedamaian, pemimpin yang sayang dan peduli pada rakyat, rakyat yang mengingatkan pemimpin dengan kasih sayang. Tak perlu ada demo yang memacetkan jalan, tak perlu ada adu mulut, tak perlu ada tuduh-menuduh dan rekayasa.


Jika wakil rakyat, polisi, kejaksaan atau siapapun yang berwenang tak mau mendengar suara rakyat kecil seperi kita, kita masih punya Tuhan yang pasti mau mendengarkan 24 jam nonstop. Kita adukan semua keluh kesah kita sehingga tak ada lagi sakit hati, dendam, buruk sangka.


Dengan ijin Allah, semua kebohongan, konspirasi, rekayasa akan terungkap tidak lama lagi. Merekayasa penyelesaian masalah dengan kebohongan, menutupi kebenaran dengan teori konspirasi secanggih apapun adalah kebodohan dan kehinaan. Semua itu akan tersingkap dan kebenaranlah yang akhirnya muncul di akhir cerita.


Dengan keyakinan itu kita tak perlu ngotot-ngototan dan marah-marah pada pihak-pihak yang tak sepaham. Mereka yang mengikuti jalan kebenaran akan selamat, yang ngotot dalam kekerdilan pemikiran bahwa kepintaran manusia akan mengalahkan kuasa Tuhan akan tersesat dan kesepian meratapi keburukan-keburukannya sendiri.


Di tengah malam seperti ini, kita semua akan lebih dekat pada kesejatian, kejernihan. 


Anggodo yang kebingungan pastinya menyebut-nyebut Tuhan dalam suaranya yang lirih dan parau untuk memohon pertolongan-Nya setelah sekian lama melupakan-Nya saat mengejar kekayaan sampai ujung usianya. Susno Duaji yang telah bersumpah tidak menerima suap akan berintrospeksi apakah tindakannya dalam kasus ini bersumber pada cahaya Tuhan ataukah hanya menjalankan perintah atasan ataukah mengikuti nafsunya belaka. Anggoro yang tensi darahnya naik, makan minum tak selera, tidur tak nyaman di rumahnya yang super mewah di Singapura, dijauhi ketentraman hidup, sesuatu yang tak bisa diberikan oleh harta duniawinya yang bertumpuk, harta yang justru menjerumuskannya ke lembah kegelapan dan kenestapaan. 


Semua yang terjerat kasus ini - siapapun - hakikatnya sedang diberi pakaian kesusahan dari Tuhan untuk mengingatkan mereka kembali pada jalan yang benar. Jalan yang tak mereka pilih saat mengejar kesuksesan, berletih-letih menguber kekayaan.


Diri kita pun - dalam kadar yang berbeda-beda - mendapatkan jatah ujian dan azabnya sendiri-sendiri. Kita pun tak lepas dari masalah. Sunatullah-nya begitu.


Pelajaran terbesar saya malam ini dari kasus Cicak Buaya yang masih terus menggelinding adalah tentang pentingnya memperjuangkan kejernihan di tengah keriuhan. Kebeningan di tengah kekeruhan. Kepercayaan di tengah kebohongan. Kebersamaan di tengah pertengkaran. Kedamaian di tengah kekisruhan. Kesejatian di dalam kesementaraan.


Hanya kepada Tuhanlah kita kembali. Dengan kepolosan. Sama seperti saat kita mulai mendaftar jadi anak bangsa yang terlahir negeri ini.

Thursday, November 5, 2009

Cermin Retak Kita

Yang benar sudah jelas
Tentu kita, bukan mereka
Yang salah sudah tegas
Bukti-bukti sudah jelas
Kita sudah tahu siapa


Yang tak berbuat jadi terlibat
Yang terlibat makin nekat
Karena kiamat makin dekat


Bergulung-gulung sapu menyapu
Berputar-putar sambar menyembar
Saling serang saling terkam
Terjang menerjang tendang menendang
Berpeluh, berpuluh-puluh, seluruh

Lalu sepi, semua rubuh
Tak tersisa rupa bahkan air mata

Hanya tersisa Ia
Yang geleng-geleng kepala
Menyaksikan kebodohan umat-Nya

Wednesday, November 4, 2009

Preview Bab 1: Pulang


21 April 1997

Saat saya masih kecil, rasanya kenikmatan tertinggi sebagai anak sekolah adalah saat bisa pulang pagi karena bapak ibu guru ada rapat, ada pertemuan atau acara apapun sehingga tidak ada pelajaran. Sekolah Dasar yang biasanya selesai jam 12.00 dimajukan pulangnya jadi jam 10.00. Hanya 2 jam diskonnya, tapi bersama teman-teman saya langsung menyusun acara mau ngapain aja: maen bola, maen petakumpet atau perang-perangan. Indahnya tak terbayangkan!

Saat beranjak dewasa, mendapatkan free time karena jadual acara yang ditunda atau dibatalkan kadang masih membuat saya gembira, meskipun mungkin tak bisa lepas seperti saat masih kanak-kanak. Resiko manusia yang beranjak tua adalah mulai didatangi masalah-masalah kehidupan, yang membuat hidupnya tak lepas lagi. Jika tertawa tak bisa sepenuhnya, jika pengin nangispun – demi gengsi – sebisa mungkin tak terdengar suaranya.

Tapi saat-saat beban hidup menghimpit, saat pekerjaan meremukkan otak dan tulang, saat pandangan atas masa depan mulai pating blasur (baca: semrawut), menjadi kanak-kanak kembali adalah pilihan terbaik. Mentertawakan beban hidup, bermain sepenuh hati, menjadi diri sendiri.

Resiko manusia yang beranjak tua adalah mulai didatangi masalah-masalah kehidupan, yang membuat hidupnya tak lepas lagi. 


Saat-saat itu betapa saya merindukan pulang. Seperti saat pelajaran yang meletihkan di kelas usai, membayangkan ibu di rumah memasak makan siang kesukaan saya, membayangkan berkaos singlet bercelana pendek menenteng bola plastik di lapangan hijau, melepaskan semua penat di masa lalu sehingga ringan menjelajahi masa depan.

Saat keruwetan hidup menyeret kita ke wilayah asing sehingga akal dan hati kita tersesat: cara terbaik untuk mengendalikan lagi hidup kita seringkali sesederhana menyusuri kembali jalan pulang.

Tuesday, November 3, 2009

Telah Terbit Buku Tuhan Sang Penggoda


Ini bukan buku memoar atau biografi, sama sekali bukan. Emangnya saya siapa kok berani-berani bikin biografi? Ini juga bukan tulisan ilmiah, novel apalagi kumpulan puisi. Atau Teka-teki Silang. Anda tahu lah bedanya. He he he...

Ini hanyalah cermin kusam atas perjalanan hidup yang telah saya tapaki selama ini, yang menginjak angka 34. Sebuah angka yang lebih dari keramat. Gak ada alasan khusus mengapa saya menyebutnya demikian, mungkin karena angkanya hadir setelah 33. Sejujurnya, angka 33 inilah yang keramat.

Jadi jangan kecewa jika banyak hal keramat dalam hidup kita ternyata tak jelas asal usul maupun konsepnya. Misalnya perusahaan yang saya dirikan bareng teman-teman - Petakumpet namanya -  juga sering bikin kecele orang. Saat ditanya mengapa namanya Petakumpet, saya jawab gak ada alasannya. Lho kok? Lha saya jujur kok emang awalnya nama lucu itu hanya terlintas begitu saja. Terjadilah yang mesti terjadi.

Mungkin buku ini lebih pas disebut catatan harian seorang blogger karena sebagian content-nya bersal dari tulisan online saya di blog, sayapun melengkapinya dengan catatan harian offline yang mulai saya tulis saat masih kuliah di tahun 1998.

Buku ini adalah kumpulan puzzle pemikiran sehari-hari yang saya upayakan bisa membentuk gambaran besar mengenai upaya mewujudkan impian kita yang paling sejati. Sengaja dihadirkan dalam bentuk buku on paper  (bukan e-book) agar bisa dipegang dan dibaca dimana-mana, termasuk di toilet atau kuburan. Ini adalah upaya sharing saya dengan Anda semua para pembaca tercinta yang lebih nyaman untuk menikmatinya secara offline.
Dalam rentang waktu 11 tahun (1998-2009), tentulah tak semua potret kejadian dan pemikiran yang telah saya tuliskan bisa dimasukkan dalam buku ini. Dalam banyak segi, saya telah melakukan proses deleting yang brutal untuk materi tulisan yang saya anggap tak menyokong ide besar yang dibawa buku ini.  Ratusan jam dengan bahagia saya habiskan untuk menambahkan lagi beberapa cuatan ide yang membanjir saat proses penyusunan materi dan editing berlangsung, sayapun berusaha membatasi ide-ide yang tumpah tapi – entah bagaimana – tumpahan itu dengan pas mengisi ruang-ruang kosong puzzle yang telah tersusun.

Dengan upaya ini, semoga Anda para pembaca tercinta menemukan tautan benang merah yang kuat dari setiap keping judul yang hadir di masing-masing babnya.

Tulisan di dalam buku ini disusun tidak urut waktu tapi urut tema bahasan. Saya membaginya dalam 4 bagian besar: Mencari Jalan Pulang yang berisi proses berliku dalam pencarian diri yang sejati, Menuju Batas Langit yang berisi upaya-upaya untuk menghasilkan gagasan besar dan pencapaian, Mencari Rumah Tuhan yang mengungkap upaya pencarian spiritual dan pemahaman atas takdir Tuhan dalam hidup keseharian dan Mengais Remah Kehidupan yang memotret hal-hal sederhana yang mengandung makna dalam hidup ini. Masing-masing bab berbicara dalam satu bahasan khusus: ada yang ringan, yang berat, yang lucu, juga tidak ketinggalan: yang kurang ajar.

Untuk detail isi masing-masing babnya, silakan Anda gali sendiri. Kekayaan makna yang hadir akan mencerahkan jika Anda berinteraksi sendiri dengannya. Menubrukkan pemahaman Anda dengan ide-ide dalam tulisan di buku ini adalah cara terbaik untuk menemukan substansi makna dan kandungan rahasia hidup yang saya maksudkan.

Syukur saya tak terhingga kepada Allah, yang tanpa kasih sayang-Nya semua yang kita nikmati di dunia ini – bahkan diri kita sendiri – takkan pernah ada.

Terima kasih sedalam-dalamnya saya sampaikan untuk semua pihak yang memungkinkan buku ini hadir menyapa Anda sekalian: Penerbit Galang Press (Mas Julius Felicianus, Romo Totok, Amir ‘Ahenk’ Hendarsyah, Mas Kunto dan semua crew), teman-teman yang tergabung dalam keluarga besar Petakumpet, teman-teman Aktifis Smada Rembang 1993. Soe Hok Gie, Emha Ainun Nadjib dan Ahmad Wahib untuk inspirasinya yang mengobarkan keberanian untuk berbeda. Achmad Rif’an dan Sayap Empat Ombak, teman diskusi yang menghidupkan. Para pembaca setia blog saya (www.mybothsides.com). Keluarga besar saya di Rembang, juga keluarga besar di Penagan. Supie, kekasihku yang selalu setia menemani proses kreatif yang panjang dan berliku. Serta semua sahabat yang kebaikan dan dukungannya tidak terekam dalam ingatan saya yang terbatas tapi pasti tercatat dengan tinta emas para Malaikat di buku keabadian.

Selamat menikmati igauan seorang blogger yang terus berusaha menguak rahasia mewujudkan mimpi tertinggi dalam hidup dengan tak berhenti mencari jalan terbaik untuk mati.

Karena jika kita tak siap menghadapi kematian, kemungkinan besar kita juga tak siap untuk melanjutkan kehidupan.


Yogyakarta, 20 September 2009
M. Arief Budiman

-------------------------

Buku Tuhan Sang Penggoda
Penulis: M. Arief Budiman
Penerbit Galangpress, 298 hlmn
130 x 200 mm, Rp 46.500,-
www.mybothsides.com

Thursday, October 22, 2009

Pesta Blogger 2009


Apa kabar kawan-kawan semua? Para pembaca setia blog ini, Anda yang tak sengaja berkunjung, Anda yang menemukannya di medan per-google-an, Anda yang terjerumus jejak netter sebelumnya di warnet sehingga membaca tulisan ini: doa saya untuk kesuksesan, keselamatan dan keberlimpahan rejeki yang hinggap di kehidupan Anda sekalian, sahabat-sahabat saya semua.

Atas persahabatan baik saya dengan Mas Iman Brotoseno (Chairman Pesta Blogger 2009), saya pun mulai berkenalan dengan teman-teman blogger negeri ini. Berawal dari blog, sudah 2 TVC saya garap bareng dengan Mas Iman: sebuah awal yang mungkin gak nyambung. Tapi begitulah hidup, nyambung gak nyambung: jalannya memang sudah dituliskan. Terakhir, saya menjadi saksi atas Pesta Blogger mini di JNM Jogja, 15 Oktober kemarin.

Mengenang pertama kali saya ngeblog kira-kira 4 tahun lalu, rasanya baru kemarin saat teman-teman sekantor di Petakumpet rame-rame jadi blogger. Kurang lebih 15-an orang. Sebagian besar blog yang diawali dengan gegap gempita itu sekarang mulai dicuekin pemiliknya, bagai tanah tandus yang dihiasi rumput kering: ada kenangan yang tertinggal tapi terawat. Saya berdoa ada teman-teman blogger Petakumpet yang protes dengan mulai menghidupkan lagi blognya, membuktikan bahwa tuduhan saya salah.

Bahkan untuk setia mengisi blog ini pun: saya seringkali harus memaksa diri saya untuk peduli. Selalu ada kemalasan yang tak terlawan lantaran didera kesibukan kerjaan atau tumpulnya ide menulis. Sehingga posting-nya jarang-jarang. Biasanya seminggu bisa dua tiga kali, sekarang sebulan empat kali aja sudah lumayan.

Tapi inilah menariknya: seleksi alam akan menyapa kita tanpa permisi. Blog yang gugur sebagai kenangan adalah wujud kejamnya seleksi alam. Blog yang sekarang terus tumbuh bahkan makin berkibar adalah penghargaan atas kekuatan dan konsistensi untuk merawat, menyiangi, menanaminya dengan ide-ide baru, melayani para blog walker yang mulai berpaling muka ke rumput tetangga yang lebih segar (baca: facebook).

Sehingga tibalah hari Sabtu besok, 24 Oktober 2009 saat Mas Iman dan teman-teman blogger Indonesia merayakan Pesta Blogger 2009 di Gedung SMESCO Gatot Soebroto, Jakarta. rasa cinta saya pada dunia blog telah melewati bilangan tahun dan besok rasa cinta itu diuji lagi. Saya mendapat kehormatan diundang menjadi salah satu pembicara (sekaligus moderator) di Pesta Blogger dengan Tema Creative Industry di Room F, jam 14.00-16.00, bersama Wahyu Aditya (Hellomotion)*, Widi Nugroho (Telkom), Pandji & Munir (for Acer) dan Hanny.

Teman-teman yang ingin meneguhkan niat menjadi blogger beneran silakan bergabung, saya termasuk yang percaya bahwa blog akan terus tumbuh seperti siang yang selalu menggantikan malam. Bahwa seleksi alam yang terjadi itu wajar di semua bidang kehidupan. Akan selalu lahir blogger-blogger baru yang jauh lebih cerdas, lebih berani, lebih kreatif untuk menggantikan blogger-blogger lawasan yang loyo, kurang semangat dan pemalas.

Selalu indah untuk memelihara api harapan, mimpi yang menerangi kegelapan. Saya bersyukur dari blog ini telah lahir buku Jualan Ide Segar yang Alhamdulillah cetakan ke-2-nya udah hampir habis. Dan sebentar lagi akhir bulan Oktober ini akan terbit satu lagi buku saya Tuhan Sang Penggoda, yang 60% materi mentahnya berasal dari tulisan di blog ini.

Apa yang kita anggap penting, akan memberikan manfaat terbesarnya pada kita. Ini yang saya yakini saat saya pulang lagi menjenguk rumah saya di ranah maya, blog ini. Ada rasa haru, kangen, juga syukur.

Sampai jumpa di Pesta Blogger besok. Teruslah ngeblog, teruslah menulis, teruslah bermimpi.

Wednesday, October 7, 2009

Ke Ujung Senyap

Sampai kapan aku mesti menunggu
Nasib berkeping terpenjara alam hidupmu
Terseok melangkahi rentang waktu
Rubuh dan berpeluh untuk seteguk madu


Lalu kapan kuraih cahaya
Tafakkur di balik dinding membara
Berlari merajuti hayat semesta
Tegak menenggak hakikat semesta


Perjalanan ini semakin panjang
Semakin letih tuk kaki merentang
Terengah menengadah bersimbah darah


Kutunggu ruang beradu waktu
Merayap dalam malam yang gemerlap
Aku sendiri berhening dalam makrifat


Rembang Jogja (1993-2009)

Thursday, October 1, 2009

Logika Politik yang Tidak Logis

Berapa modal yang diperlukan untuk sukses dalam politik? Jawabnya bisa bikin miris: untuk kelas legislatif kabupaten bisa sampai 300 juta rupiah, untuk bupati 10-30 milyar, untuk presiden kira-kira 1 triliun rupiah. Bisa lebih karena selalu ada biaya lain-lain.


Darimana semua dana itu berasal? Dan berapa persen dari dana-dana tersebut yang terjaga kebersihan asal-usulnya? Prediksi saya, tingkat kebersihannya tak lebih dari separuhnya. Bisa lebih kecil karena dipotong biaya lain-lain.


Tapi yang mengherankan saya, asal usul dana itu bukan sesuatu yang penting sebagai bahan pertimbangan dari para pelaku kontes politiknya. Tujuan untuk memenangkan pertarungan perebutan kursi jauh lebih-lebih penting dari pertanyaan sederhana saya tentang halal haramnya modal untuk bertarung tersebut.


Mungkin justru saya yang naif, politik kok ngomong halal haram. Politik itu menang kalah, berkuasa atau dikuasai, mengumpulkan harta atau diperas hartanya, Berjaya di singgasana atau tersingkir. Meminjam istilah teman saya, menang cacak kalah mbecak. He he he :)


Tapi inilah konyolnya, saya malah memimpikan seorang pemimpin yang lahir dari proses politik yang bersih. Yang setiap langkahnya sejak mulai pencalonan, sosialisasi, promosi, debat sampai proses pemilihannya, semua menjadi rahmat bagi seluruh alam, menjadi manfaat, tidak mubadzir seperti yang sudah-sudah. 


Berapa budget yang telah dihabiskan bangsa Indonesia lewat KPU dan kantong tim-tim sukses capres sampai kita mendapatkan SBY-Boediono sebagai Presiden & Wapres terpilih? Lebih dari 4 triliun.


Berapa budget yang dibutuhkan untuk mendapatkan Ir. Soekarno & Mohammad Hatta sebagai Presiden & Wapres pertama Indonesia? Hampir nol.


Engkau tentu akan bilang: ya beda dong Rief, jaman dulu dan jaman sekarang. Situasinya beda, masyarakatnya beda, orangnya beda. Jangan disama-samakan karena parameter-parameter yang mendasarinya berbeda.


Betul, saya juga setuju. Saya setuju saya naif jika langsung melakukan direct benchmarking. Tapi coba jika kita lihat produk akhirnya, kita akan sepakat bahwa Soekarno Hatta tidak kalah kelas dengan SBY Kalla atau SBY Boediono. Dua yang terakhir adalah produk pemilu demokratis yang modern (makanya mahal).


Doa saya sesungguhnya adalah agar bangsa ini dijauhkan dari proses politik yang berlebihan, yang boros, yang mubadzir, pesta demokrasi yang tidak memberikan kemanfaatan pada jiwa raga, kecerdasan dan kemakmuran bangsa ini hanya karena kita semua menganggap bahwa apa yang terjadi sudah semestinya.


Padahal ini sudah tidak semestinya.


Contoh: seorang calon gubernur/bupati yang incumbent – untuk mengumpulkan milyaran rupiah modalnya – melakukan pemungutan sistematis dan massif untuk apa saja yang berada dalam kewenangannya. Setiap proposal yang diajukan, setiap pendaftar CPNS, setiap permintaan bantuan, setiap sertifikat tanah yang disahkan: untuk modal nyalon sekali lagi. Nanti jika dia terpilih lagi, upaya pertamanya bukan untuk menyejahterakan rakyat yang memilihnya tapi untuk mengembalikan modal-modalnya. Tapi jika dia tidak terpilih, nasibnya bakal jauh lebih sederhana: menjawab pertanyaan KPK tentang ini itu untuk akhirnya menghuni hotel prodeo. Bukan happy ending yang diharapkan.


Ah, politik. Takkan selesai jika kita bicara kepentingan dan nafsu manusia. Jika manusia diberikan satu gunung emas, ia akan meminta satu gunung lagi, begitu seterusnya. Nafsu duniawi adalah seperti minum air laut yang asin, makin diminum makin haus. Hanya segenggam tanah yang akan menghentikannya, saat sang pelaku masuk lubang kuburan.


Saya akan berhenti cerita di sini. Saya tak sampai hati melanjutkan kisah horror di alam kubur, di akhirat, di hari pembalasan kelak. Saya sendiri meyakini bahwa neraka tidak berada di tempat yang jauh, kita bisa mencicipinya di dunia ini jika mau. Dalam bentuk stroke, kanker, serangan jantung, harta hangus terbakar, penjara, kehilangan nama baik dan ditinggalkan keluarga, handai taulan, kerabat terdekat.


Surgapun juga tak jauh, hanya karena seringkali sekelilingnya dihias duri, penderitaan, cemooh, caci maki dan umat manusia yang tidak trendy, kita dengan sadar menjauh, menutup hidung, bahkan meludah.


Ah, politik. Kita tahu persis mana yang benar. Tapi kita takut tak kebagian.

Sunday, September 27, 2009

Kembali ke Dunia Nyata

Libur lebaran usai sudah. Hari ini, 28 Oktober kantor sudah mulai buka. Aktivitas bisnis akan mulai berdenyut lagi. Hari-hari yang riuh, kerjaan yang mulai hadir mengisi keseharian, order yang membanjir, deadline yang menyergap, semua itu akan mengembalikan kesadaran kita bahwa dunia nyata telah menyapa.


Setelah menyelesaikan puasa satu bulan, mengumpulkan kenangan dan kehangatan dalam silaturrahim lebaran, seharusnya itu bias menjadi bekal yang menguatkan kita untuk menjalani hari-hari baru dengan semangat baru, dengan cara-cara baru, dengan ilmu-ilmu baru. Bukannya tenggelam lagi dengan cara lama, stress yang makin parah dan kepayahan yang makin berat kita panggul.


Kejernihan untuk menatap hari-hari panjang masa depan dengan seribu problematikanya akan membuat hidup kita utuh tak pecah berkeping. Jiwa kita adlaha harta kita yang termahal, jangan korbankan hanya untuk mengejar hal-hal remeh dalam kehidupan. Jangan lagi kita pecundangi dengan kepalsuan-kepalsuan. Jangan kita biarkan ia kesepian lantaran kitra makin jauh dari cahaya kebenaran.


Berikhtiarlah sekeras mungkin untuk mencari yang lebih baik, lebih benar, lebih bersih. Jangan hanya yang lebih mudah, lebih nikmat, lebih glamour.


Hati nurani Anda tahu apa beda dari keduanya. Selamat menggapai prestasi baru lagi selepas lebaran ini, selamat menabung hal-hal baik dan sejauh mungkin berlari dari kemubadziran apalagi keharaman. Doa saya selalu untuk Anda, Allah yang Maha Memberi Petunjuk akan senantiasa menyertai. Jangan jauh-jauh dari-Nya agar ketentraman hidup terjaga…

Saturday, September 26, 2009

Teman Lama, Kisah Baru




Bertemu teman lama seolah melengkapi puzzle kehidupan kita. Yang mungkin sempat terkeping ketika kita jauh dari tempat asal, jauh dari kultur yang membesarkan kita, jauh dari mereka yang saat kita sedang tumbuh mengeja kehidupan senantiasa bersama menemani kita. Dan moment itu seringkali tiba ketika lebaran tiba, syawalan, halal bi halal.


Mengetahui prestasi apa yang dicapai kawan-kawan kecil kita dulu, bertukar cerita, me-rewind kisah lama dan menghidupkan sejarah sehingga up to date kembali: selalu mengasyikkan. Sejenak melepas beban dan memberikan variasi asupan informasi dan otak kita sehingga lebih fresh dan lebih siap saat waktunya tiba untuk menyelesaikan persoalan riil kita sehari-hari di waktu selanjutnya.


Tentu saja sambil bercermin adakah upaya kita di masa lalu telah cukup maksimal atau ternyata masih jauh dari harapan. Teman-teman lama kita menjadi cermin untuk melihat diri kita sendiri di kebeningan mata mereka. Juga sharing, saling belajar, saling mendoakan, saling mendukung dan memampukan. Atau rencana untuk membuat upaya pertemanan yang sejenak nyambung ini menjadi permanen. Ya, hal-hal besar seringkali dimulai dari sesuatu yang kecil. Setiap amal perbuatan, tumbuh pertama dari niat.


Keindahan pertemuan dan derai tawa itu akan kita bawa pulang kelak, saat mesti pulang ke habitat sehari-hari kita. Yang memang orang politik, segera menjadi politisi. Yang guru akan kembali menyapa murid-muridnya. Yang pengusaha, kembali dikejar jadual dan berlarian di bandara. Yang kyai, segera sibuk ceramah dan menyembuhkan hamba-hamba Tuhan yang sakit spiritualnya. Yang masih nganggur segera mengurung diri. 


Lalu hari baru akan segera menyapa, kita pun segera tenggelam dalam keseharian kita. Biasanya spirit untuk perbaikan masih akan tahan beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan. Tapi jika tak keras hati untuk istiqomah, kita segera akan tergulung dengan kesibukan sehari-hari, seperti biasanya. Menyapa teman lama seperlunya via sms, fesbuk, email dan sebagainya: kecuali yang secara bisnis menguntungkan kita. He he he, manusia itu tempatnya khilaf dan lupa.


Tapi sudahlah, perbaikan tak bisa dimulai sekaligus dan drastis nanti mental kita akan down dan patah. Akan lebih realistis untuk menikmati saja prosesnya. Mudik – dengan segala catatan kakinya – telah menjadi budaya yang mengembalikan kita semua ke akar dari mana kita berangkat. Dari mana perjalanan panjang ini dimulai. Dan seperti juga tradisi indah yang telah hidup ribuan tahun: tak peduli berapa kali pun KTP-mu berganti, berapa rumah kau tinggali, berapa kota dan perusahaan kau singgahi selama membangun karier dan kesuksesan, kita akan selalu kembali.


Saat Tuhan memanggil kita untuk pulang, tempat terbaik mengistirahatkan jasad kita adalah di kampung halaman. Di tempat dimana kita memulai segala sesuatunya. Dari titik nol kita akan kembali ke titik nol.


Tuesday, September 15, 2009

Successfully Selling Fresh Ideas with Petakumpet



By: Restituta Ajeng Arjanti

Becoming a creative person, according to Arief Budiman, is not a difficult thing. “If everyday we want to think differently, it means we're creative,” he said when contacted by QBHeadlines.com via telephone, Wednesday (29/10). The man born in Rembang, March 21, 1975, is one of creative people who initiated Petakumpet/Hideandseek, a company in advertising sector that has frequently receive advertising awards.
Becoming a commander of Petakumpet Creative Network business since 1999, there's one dream that Arief longs for. The Managing Director of Petakumpet wants to make his company to be “the most creative company in the world” and covered in international business magazine, Fortune Magazine.

Creative Agency
The company whose name, according to Arief, was taken randomly positions itself as a creative bridge between clients and various media, either printed, audio, visual, or audiovisual. What they sell is fresh ideas. The main business of the company is in advertising sector. Several services that they provide among others are campaign and promotion making, company logo, and branding.
Petakumpet was started from a community with the same name, founded in 1995 by student group from Visual Communication Design, Faculty of Fine Art, Indonesian Art Institute in Yogyakarta, class '94. Their basecamp at that time was in Pakuncen area, Yogyakarta. In 1999, Arief started to focus in bringing Petakumpet to business route, up until now.
The creative company often receives advertising awards. As an example, Cakram Award in 2007 for The Best Print Ad category, Dji Sam Soe Award in 2006 as 1 of 9 best Small Medium Businesses in Indonesia, and The Most Creative Agency award in Pinasthika Ad Festival year 2003, 2005, and 2006.
Currently, with 30 human resources, the company that started from a community can embrace big clients, such as holding company for Djarum Super, Djarum Black, and LA Lights brand; Kedaulatan Rakyat Group, Yogyakarta branch of Indonesian Advertisement Company Association, and PT Angkasapura I Yogyakarta.

Arief's Version of Creativity
Thanks to his ability in creating fresh ideas, Arief was twice chosen to be a finalist for International Young Creative Entrepeneur of The Year (IYCEY), in 2006 and 2007. He himself has tips to brush creativity. “Being different is a life stance. If everyday we think differently, that means we're creative,” he said. Finding a way to make something better, according to him, is a process to make something to be more creative.
Arief made an analogy for creative people, saying that if they're thrown by rocks, they can transform the rocks into a beautiful monument. It means, creative is an ability to transform troubles into opportunities.
For him, in advertising world, creativity becomes the most important thing, even more important than technology. “Technology is important, but not the most important thing. The most important thing is creative thoughts instead. Technology and internet support creativity. But technology itself can't create fresh ideas,” he elaborated.
His experiences in creative business was poured by Arief in a book titled “Jualan Ide Segar/Selling Fresh Ideas”. Through the book, he wanted to show how to transfer creativity into something with business value.

Smart Advertisements
In making advertisements, said Arief, request or brief from the client becomes an important point that should be noticed―what are the client's problems, their wishes, and what is the solution. “We have to be able to give creative approach for client's request,” he said.
If we take a look, in this country, advertisements tend to spoon-feed consumers with narrative oral advertisements compared to “smart” advertisements that invite people to think. On that, Arief thought, the reason is more because producers and advertising agencies are not brave enough yet to take risks in communicating with their consumers using a new way.
“What makes an advertising becomes smart is actually how it's conveyed. I see that many of Petakumpet's clients themselves are more successful with smart advertisements,” he elaborated.

Advertising in Crisis Period
The man who once taken the wrong course in Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University in 1994 sees the current economic situation with its crisis as a good opportunity instead to advertise. “Crisis condition reduces competition in advertising world instead. Society can also see, only the good brands can keep advertising in crisis period,” said Arief.
According to his judgment, only companies who are very established would still care to advertise their products in crisis times. “In 2009, advertising will definitely progress. Only in a different way, and probably with smaller budgets,” Arief explained. He himself is very optimistic with the development of creative industry in the nation. “I'm very optimistic, not only in Indonesia, but also in any country.”

Source here