Mybothsides

Wednesday, December 31, 2008

Tahun Berganti (Lagi)

Tak ada catatan khusus untuk mengakhiri tahun ini. Tak ada rencana detail untuk bergerak setelah jendela tahun baru terbuka. Ada hari-hari dalam pergantian waktu dimana saya biarkan semuanya bergulir alami, mengikuti arah angin dan arus air yang membawanya ke suatu tempat entah dimana. Ada hari-hari dimana saya menutup mata dan membiarkan peristiwa demi peristiwa mengalir tanpa campur tangan strategic planing yang saya susun.

Saya punya mimpi. Di daftar saya ada 36 jumlahnya yang ingin saya capai. 8 diantaranya sudah tercapai, tapi sejujurnya saya tak mau terbebani seolah-olah hidup saya ini hanya untuk mengejar mimpi-mimpi absurd itu.

Saya hanya ingin bisa menikmati setiap jengkal perjalanan ini, jika pun itu berarti seperti membuang naskah teks pidato yang telah disiapkan seminggu lamanya. Saya lebih menyukai berimprovisasi, selama saya paham betul di mana bingkai pembicaraan dalam pidato saya. Selalu ada passion dalam improvisasi, letupan-letupan bermakna dan kesegaran, tak sekedar menunduk patuh pada bunyi teks semata.

Ketika mimpi terwujud, kebahagiaan kita tentulah luar biasa. Tapi perjalanan mengejar mimpi pun sungguh berharga untuk dinikmati hikmahnya. Makanya setiap film selalu ada alur ceritanya, tak langsung sejak awal disuguhi ending-nya. Rasanya tak nikmat jika perjalanan itu tiba-tiba sampai tanpa kita tahu prosesnya.

Selamat tahun baru 1430 Hijriyah. Selamat berjuang kembali, semoga hanya yang terbaik yang kita bisa capai di tahun depan. Amien...

Sunday, December 14, 2008

Dari Spectacular Creative Sharing ADGI Jogja





Creative Economy Solusi Atasi Krisis Indonesia

ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) Jogja Chapter telah sukses menyelenggarakan Spectacular Creative Sharing di dua tempat pada Sabtu, 13 Desember 2008.

Acara yang pertama D’Edge diadakan di Akademi Desain Visi Yogyakarta (ADVY) mulai 08.30 – 12.00 WIB bertema Peran Desainer Grafis Dalam Creative Economy dengan pembicara Hastjarjo Boedi Wibowo, S.Sn, seorang alumnus ISI Yogyakarta sekaligus salah satu konseptor gerakan Creative Economy Indonesia dan dimoderatori oleh M. Arief Budiman, S.Sn, Chairman ADGI Jogja Chapter.

Acara kedua adalah Zoom In yang diadakan di Jogja National Museum mulai 14.00 – 17.00 bertema Peluang Bisnis Kreatif di Era Creative Economy dengan pembicara Hastjarjo Boedi Wibowo, S.Sn dan Firman (Pendiri Homygroup ‘Tela Krezz’) dan dimoderatori oleh Muh. Kurniawan (CEO Srengenge Ad.).

Hastjarjo dalam penyampaian materinya menegaskan pentingnya kreativitas di era sekarang ini, apalagi dunia sedang berada di ambang krisis yang berat. Creative Economy yang digerakkan oleh Sumber Daya Manusia penuh ide akan menjadi salah satu solusi penting untuk bangkit dari keterpurukan krisis. Karena Creative Economy menempatkan SDM sebagai human capital, jadi modal terpenting dalam era sekarang ini adalah manusianya dan bukan semata-mata uang (financial). Jogja dengan kekuatan di local culture-nya diyakininya menyimpan segudang bakat kreatif yang jika dimanfaatkan maksimal akan menjadi kekuatan ekonomi baru yang terus meningkat. Sampai pertengahan 2008, sumbangan kreatif ekonomi pada GDP Indonesia adalah 6,15% atau setara 104 trilyun rupiah. Sebuah angka yang luar biasa besar.

Firman yang diundang khusus oleh ADGI Jogja untuk memberikan pencerahan pada para desainer grafis sangat antusias menyampaikan materinya yang bertema Creativepreneur dengan mendirikan franchise Tela Krezz. Franchise snack unik berbasis ketela ini melabeli dirinya sebagai ‘bukan singkong biasa.’ Muatan bisnis dan sistem organisasi yang matang membuat Tela Krezz berkibar dengan 700 outlet di seluruh Indonesia dan omzet miliaran rupiah per bulan. Firman menunjukkan sudut pandang yang benar-benar fresh bagi audiens yang sebagian besar waktunya berkutat di layar monitor memelototi elemen-elemen grafis.

Kedua acara yang disupport oleh ADVY, JNM, Dagadu, Petakumpet, Syafaat, Homygroup, Srengenge dan Rekarupa ini dibanjiri oleh anak-anak muda kreatif Jogja tersebut berlangsung meriah, gayeng dan padat berisi. Para peserta mengaku mendapat banyak pencerahan dan tidak sabar untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu yang baru saja didapatkannya langsung dari tangan pertama alias para expert di bidangnya.

Sebagai asosiasi profesi yang telah berdiri pada 19 Juli 2008, ADGI Jogja sangat berkomitmen menyelenggarakan acara-acara sejenis untuk membuka wawasan masyarakat agar lebih kreatif dalam menyikapi setiap permasalahan kehidupan. Kreativitas tidak hanya identik dengan seniman atau desainer saja, tapi akan terus didorong sehingga menjadi the way of thinking untuk selanjutnya the way of live. Dengan berfikir kreatif, setiap tantangan akan menjadi peluang termasuk krisis yang kita alami sekarang. Selalu ada peluang di setiap krisis, semua kembali kepada kreativitas kita untuk mencarinya.

Tuesday, December 9, 2008

3 HARI LAGI: Spectacular Creative Sharing di Jogja


ADGI Jogja akan menyelenggarakan acara ZOOM IN dan D'EDGE pada Sabtu, 13 Desember 2008, detail acara terlampir dengan pembicara utama Mas Hastjarjo B. Wibowo. Silakan untuk menyebarkan info ini kepada yang membutuhkan, sebagai media untuk saling mencerdaskan. Dan jangan lupa, buat all member ADGI di seluruh Indonesia acara ini FREE, tinggal daftar ulang aja dengan menghubungi Iqbal 08179417881 (lampirkan scan atau fotokopi kartu anggota ADGI chapter manapun seluruh Indonesia).

Monday, December 8, 2008

Waktunya Install Ulang

Badan saya remuk. Dihajar perjalanan panjang dan tugas yang tak habis-habis. saya telah dholim pada diri saya sendiri, tubuh saya yang ringkih menjerit. Badan saya menggigil, mata saya merah dan batuk hadir bersahut-sahutan dengan deras hujan yang menyapu pelataran.

Sepulangnya saya dari Kongres PPPI di Bandung kemarin, tubuh saya pun menyerah. Saya ambruk, menerima resiko atas pemaksaan kemampuan yang keterlaluan. Saya terlalu memforsirnya. Padahal minggu sebelumnya saya sudah muntah-muntah dalam perjalanan dari Bandung ke Purwokerto via darat. Padahal minggu-minggu sebelumnya saya sudah mendekam di kamar hotel di Malang, menggigil karena demam di sela-sela memberikan workshop Indosat.

Ya, inilah pelajaran yang harus saya terima dengan besar hati. Saat malam-malam yang dingin dan basah saya sibuk batuk tak henti-henti. Tak sedikitpun mata bisa terpejam, capek sekali. Sebegitu capeknya sampai saya tertidur karena capek, bukan karena ngantuk. Tubuh lemas sekali tak mau digerakkan, ngilu-ngilu. Dan ya, di saat seperti ini saya memang harus meninggalkan segala yang berbau pekerjaan.

Hmmm... tidak mudah membawa mimpi yang menyalakan hasrat kita. Salah-salah, adrenaline yang memancar akan merusak hardware-nya, ya tubuh saya ini. Dengan software canggih super cepat yang siap ngegas tapi nyatanya hardware gak support. Lantas hang. Sehingga perlu restart, atau install ulang, atau format ulang.

Mungkin yang terakhir lebih cocok. Agar saya terlahir lagi. Seperti Gatotkaca keluar dari kawah Chandradimuka. Dengan kesaktian luar biasa, dengan kemampuan terbang secepat kilat, dengan daya tempur yang sempurna.

Tapi Gatotkaca yang tanpa kumis. Saya tak suka kumis. Karena kumis akan menyebabkan batuk saya makin parah. Tanpa kumis pun batuknya sudah keterlaluan, menyiksa saya berhari-hari dan belum tahu kapan berhenti.

Terima kasih atas peringatan ini ya Tuhan. Semoga makin menambah syukurku atas segala karunia-Mu yang kemarin-kemarin kusia-siakan. Kesehatan adalah harta termahal, yang untuk mendapatkannya seringkali kita tak bisa menawar.

Wednesday, December 3, 2008

50 Creative Enterpreneur Indonesia Versi Swa



Entahlah mengapa nama saya ikut-ikutan masuk di Majalah Swa untuk edisi ini. Rasanya saya tak punya dosa apapun yang membuat saya harus memikul beban ini. Disms-in orang-orang, dikasih selamat, diminta makan-makan...


Saya yang sama sekali tak tahu bagaimana mekanisme pemilihannya, tak pernah diwawancarai dan sampai majalah terbitpun juga tak dikonfirmasi atau mendapat satu copy gratisan majalahnya. Saya baru tahu setelah seorang teman baik memberi tahu saya: oalah, dasar saya memang wong ndeso kurang gaul...


Jika ini karena kesengajaan, saya akan bersyukur. Jika ini karena kesalahan redaksi memuat, saya pun akan bersyukur. Jika alasan masuknya nama saya untuk menggenapi 50 orang lantaran yang tersedia hanya 49 pun, pasti saya tetap bersyukur.

Saya ini lahir gak bawa apa-apa, disalahpahami tak tahu mesti bertanya ke siapa, mau ngajak makan-makan juga gak bisa semua, biarlah saya menyingkir di pinggir mendengarkan kaset Djunaidi pelawak kuno yang sedang Belajar Menjadi Guru Ngaji...