Mybothsides

Saturday, November 29, 2008

Belajar Dari Kampanye Promo Obama



Sebuah artikel yang menarik saya kutip dari sini

The ‘O’ in Obama

By Steven Heller


At the end of 2006, Mode, a motion design studio in Chicago, approached Sol Sender, a graphic designer, to create a logo for Barack Obama’s presidential campaign. The resulting “O” became one of the most recognizable political logos in recent history. I spoke with Mr. Sender a few days after the election to discuss the evolution of his design.

Steven Heller: How did you get the job of designing the Obama logo?

Sol Sender: We got the job through Mode. Steve Juras, a classmate of mine from graduate school is the creative director there. They have a long-standing relationship with AKP&D Message and Media, a campaign consulting firm led by David Axelrod and David Plouffe among others.

Q: Have you done other political logos in the past?

A: No, we had not.

Q: I have to ask, since many agencies that do political campaigns are simply “doing a job,” did you have strong feelings one way or the other for the Obama candidacy?

A: We were excited to work on the logo and energized by the prospect of Mr. Obama’s campaign. However, we didn’t pursue or develop the work because we were motivated exclusively by ideology. It was an opportunity to do breakthrough work at the right time in what’s become a predictable graphic landscape.

Q: How many iterations did you go through before deciding on this “O”? Was it your first idea?

A: We actually presented seven or eight options in the first round, and the one that was ultimately chosen was among these. In terms of our internal process, though, I believe the logo — as we now know it — came out of a second round of design explorations. At any rate, it happened quite quickly, all things considered. The entire undertaking took less than two weeks.

Q: How did David Axelrod, Mr. Obama’s chief strategist, respond to your initial presentation?

A: Mode handled that. My sense was that there was a lot of enthusiasm about the options we developed. I was part of a presentation with Mode and Mr. Axelrod to evaluate the final two or three options. There was a general sense that they were all good, but we felt strongly that the chosen logo was the most powerful one.

Q: Did Barack Obama have any input into the symbol at all?

A: None that was directly communicated to us. I believe he looked at the final two or three options, but I wouldn’t be able to accurately portray his reaction.

Q: What were you thinking when you conceived this idea?

A: When we received the assignment, we immediately read both of Senator Obama’s books. We were struck by the ideas of hope, change and a new perspective on red and blue (not red and blue states, but one country). There was also a strong sense, from the start, that his campaign represented something entirely new in American politics — “a new day,” so to speak.

Q: Were you responsible or cognizant of how many variations and applications were possible when you first introduced the “O”?

A: Honestly, we initially saw the mark through the lens of our work on more traditional consumer or corporate identity systems, and were concerned about it being misused. In retrospect, I think that was a narrow viewpoint. But this anxiety came before the campaign built such a strong internal design team.

Various vendors needed to reproduce the mark on signs, banners, and they needed some rules. So our initial concern was compliance and consistency. Having said that, we did think it was a strong mark — strong marks have the potential for broad successful application and viral growth — and we were cognizant of its possibilities. We saw (and visualized as part of the creative process) buttons, billboards, ads, Web banners, T-shirts and hats. We did not foresee the scope of the variations and the personal “ownership” that emerged, though.

We handed the logo and design assets off to the campaign in the summer of 2007. From that point on, everything that you’ve seen was done by the campaign, including the “demographic” variations of the logo. They also evolved the typography to uppercase, incorporated Joe Biden’s name and added a white line around the mark.

Q: Did you have any qualms about this symbol? Did you ever think it was too “branded” and “slick”?

A: We didn’t, though there were certainly instances where we sensed a need to be careful about its application. We never saw the candidate as being “branded,” in the sense of having an identity superficially imposed on the campaign. The identity was for the campaign, not just for the candidate. And to the degree that the campaign spoke to millions of people, it may have become a symbol for something broader — some have termed it a movement, a symbol of hope.

Q: Do you think the “O” had any major contribution in this outcome?

A: The design development was singularly inspired by the candidate’s message. Like any mark, the meaning and impact really come from what people bring to it.

Q: Now that Mr. Obama is President-elect Obama, do you see the “O” as having another or extended life?

A: Well, the “O” was the identity for the Obama ’08 campaign and the campaign is over. That doesn’t mean that the mark will be forgotten; I think the memorabilia from this campaign will have a long shelf life and will stand as a visible symbol of pride for people who supported the candidate and for those who see it as a representation of a watershed moment for our country. As far as having another life, I can’t say. Perhaps the 2012 campaign will hark back to it in some way.

Thursday, November 20, 2008

Di Agrowisata Malang








Selesai memberikan Workshop Internal untuk Tim Indosat Banjarmasin di Klub Bunga Resort Malang, saya berkesempatan untuk mengunjungi Agrowisata Apel di Batu Malang. Sudah lama saya ingin ke tempat ini: saya belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa pohon apel yang asli.

Hari itu saya berkesempatan melihatnya, memetik buahnya dan mejeng wagu di depannya. Sebenarnya ini kunjungan yang saya jalani dengan sedih hati karena saya sendirian datangnya, Supie seharusnya ikut bersama saya tapi tak bisa. Kekasih saya itu juga sangat ingin mengunjungi Agrowisata Apel ini, jadi saya bawakan oleh-oleh untuknya 2 buah apel yang saya petik sendiri dari pohonnya (masih lengkap dengan daunnya) dan setumpuk foto via Nokia E51 yang kualitasnya standar.


Mmmm... keinginan saya untuk bikin perkebunan buah nampaknya makin kuat setelah saya melihat hamparan pohon apel dan buahnya yang ranum menggoda.


Terima kasih buat Pak Syamsul dan teman-teman Indosat Banjarmasin yang telah mengundang saya, semoga cita-cita untuk jadi Operator Nomor 1 di Banjarmasin bisa tercapai di 2009 ini. Pasti bisa Pak, asal terus mengasah kreativitas dan baca buku Jualan Ide Segar (halllaaaahh!)

Wednesday, November 19, 2008

Jepretan di Citra Pariwara 2008


Bareng Mas Taufik Dini Adv dan Mas Lulut JWT (Agency of The Year tahun ini), semoga nular


Trio Narsis bergaya standar (ngapain dipasang fotonya disini sih?)


Lihat siapa di dalam kurungan? Anak orang bukan?


Ampun Ded, tahun depan janji dapet gold deh! Ampun malam ini cuma dapet bronze!!!


Ayu, Dedy, Langlang, saya (yang motret)

Tuesday, November 18, 2008

Bronze Itu Diukir 14 Tahun Lalu


Hari itu, 16 November 2008. Seperti de ja vu.
Kalau mau jujur sih, sebenernya bukan saya yang pantas naik panggung dan menerima piala Bronze Citra Pariwara untuk kategori Sinematografi ini. Seharusnya Mas Iman Brotoseno yang lebih pas, sutradara iklan PSA Gudang Garam 'Kemerdekaan Sejati'. Tapi kata Mas Iman nanti saja pas kategori The Best Director, dimana kita juga jadi salah satu finalisnya. Tapi ternyata tak ada metal buat kita di kategori ini, alhasil Mas Iman gak jadi naik panggung. Nasib...
Ada keharuan sejenak. Mimpi lama saat masih semester 1 di Diskomvis ISI Jogja, 1994 dulu. Membayangkan bahwa sebuah nama lucu seperti Petakumpet akan dipanggil berbarengan dengan nama besar seperti Lowe, Ogilvy, Matari, dsb untuk menerima Citra Pariwara. Membayangkan para hadirin akan tertawa mendengar nama lucu itu. Nama agency yang aneh yang entah berasal dari mana tapi dapat Citra Pariwara.
14 tahun berlalu dan kejadiannya ternyata tak persis seperti yang saya bayangkan. Tepuk tangan bersahutan saat nama Petakumpet dipanggil, lalu ditayangkan iklan TV PSA-nya dan applaus pun memenuhi gedung di Senayan City. Tak ada satupun audiens yang tertawa, jadi rasanya aneh buat saya. Apakah Petakumpet tidak terdengar lucu buat mereka? Ataukah sudah terbiasa? Atau memang sudah terkenal brand-nya mampu menyusup di sela-sela gedung tinggi Jakarta?
Terima kasih buat Tim Gudang Garam yang telah mempercayakan iklan ini kepada agency anak bawang ini (Bu Lusi, Mas Minto, Pak Hoki, Pak Is, Pak Eddy, dan lainnya), temen-temen Orange Waterland untuk produksinya yang luar biasa (Mas Iman, Mas Lance, Mbak Paquita, dan lainnya), Udin (pemeran Budi, anak SD), Tim Petakumpet (Mas Eri, Ayu, Dedy, dan lainnya), Dody Telesklebes dan yang belum sempat saya sebutkan di sini tapi saya simpan dalam-dalam di relung hati.
Tahun depan harus bisa lebih baik. Saya syukuri bronze tahun ini, saya tinggalkan ia di masa lalu. Dan masa depan harus disiapkan sejak dini: agar pulangnya bawa gold atau Agency of The Year. Saya percaya jika mimpi 14 tahun lalu bisa jadi nyata, mengapa mimpi yang sekarang tidak? Hanya doa dan kerja keras yang akan mewujudkannya.
Amien...

Thursday, November 13, 2008

Sedekah Mencegah Bala'

Sekitar dua minggu yang lalu saya kehilangan Hp saya Nokia 6300. Terjatuh saat naik bis Damri ke bandara di pagi hari yang terburu-buru saat harus berangkat ke Denpasar. Hilang begitu saja tanpa saya tahu prosesnya. Mungkin ini peringatan Allah karena saya selalu pelupa. Penyakit kambuhan yang saya masih belajar menyembuhkannya. Tapi saya marahi diri sendiri: ini karena kamu kurang sedekah. Atau karena Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik (ini sih kegeeran!).

Sayapun ganti Hp dengan Nokia E51. Allah memang menggantinya dengan lebih baik, tapi harga yang harus saya bayar lebih mahal (secara materi). Jadi saya menyetujui hikmah dari kejadian kehilangan kemarin adalah saya kurang bersedekah. Jadi saya harus lebih rajin sedekah. Case closed.

Hari Kamis, 13 November 2008 kemarin saya sholat dhuhur di masjid sebelah kantor. Sholat yang seperti biasanya. Saat saya keluar pintu masjid ada seorang penjual sandal sepatu dengan muka yang sangat letih dan kecapekan menaruh dagangannya yang berat di sebelah pintu masjid dan berkata kepada saya,"Mas, tolong saya. Saya sudah seharian belum makan, uang saya habis. Pinjami saya uang mas, saya akan bayar. Mas catat KTP saya, saya belum makan. Belilah sepatu saya mas.."

Saya lihat sandal dan sepatunya (emang waktu itu saya lagi perlu nyari sandal), tapi gak ada yang cocok karena bahan dan desainnya. Iseng saya tanya lagi,"Sandal yang ini berapa harganya?"

"70 ribu Mas, tolong saya..."

Hati saya tidak tergerak karena sandalnya emang tidak sesuai yang saya harapkan. Tapi saya ingat sesuatu: mungkin Allah yang sedang datang menyapa. Tanpa alasan yang jelas saya berikan padanya 50 ribu. 

Penjual sandal berkata,"Mas, jangan 50 ribu dong. Ini 70 ribu harganya." Saya tidak menjawab, hanya memegang tangannya bersalaman. Saya tidak mengambil sandalnya. Saya pergi.

Dan malam harinya, saya mengikuti sesi Meet The Jury Citra Pariwara. 

Saya pindah tempat duduk beberapa kali. Entah bagaimana prosesnya saya juga tidak inget,beberapa saat kemudian saya lihat Mas Lulut Asmoro (Bossnya JWT) nampak berbincang dengan seorang panitia sambil memberikan sebuah Hp, persis di sebelah saya yang duduk di belakang. Reflek saya menengok: eh, itu kayaknya Hp saya (yang ternyata tertinggal di kursi paling depan) tanpa Mas Lulut tahu itu Hp saya, sementara undangan penuh sekitar seratusan orang. Sayapun menghampiri Mas Lulut dan mengatakan itu Hp saya dan dikembalikan sebelum diumumkan. Setelah mengucapkan terima kasih saya pun duduk kembali.

Saya terdiam. 

Hp ini baru saya beli dua minggu lalu dan sekarang hampir hilang lagi. Atau seharusnya sudah hilang karena jarak kursi saya di depan dan di belakang jauh banget. Tapi mengapa Mas Lulut yang menemukan? Mengapa bukan orang lain yang dapat rejeki nomplok lalu mengantonginya pulang? Mengapa pula memberikannya ke panitia tepat di sebelah saya sehingga saya bisa melihatnya? Sedangkan jika diumumkan pun saya belum tentu ngeh karena saat itu saya tidak merasa kehilangan hp saya?

Allah Maha Besar. Caranya menyusun skenario agar saya belajar lagi untuk berbagi sungguh dahsyat. Malam itu seharusnya Hp saya yang harganya 2,5 jt hilang. Secara materi saya akan rugi 2,5 jt jika harus beli lagi. Tapi doa bapak penjual sandal dan rahmat Allah menyelamatkan saya dari bala'. Uang 50 ribu sedekah tadi siang telah mengembalikan Hp saya dengan utuh.

Semoga Allah melindungi saya dan kita semua dari penyakit riya'. Jika karena cerita nyata ini saya dianggap arogan dan berlebihan, semoga Allah mengampuni saya. Saya hanya ingin berbagi hikmah dan semoga bisa menginspirasi Anda yang setia membaca blog ini. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran terbaik untuk selalu percaya: jika kita ingin Allah menolong kita, mari kita mulai dengan menolong hamba Allah yang lain terlebih dahulu. Semampu kita.

Wallahu 'alam...


Sunday, November 9, 2008

Doa Untuk Imam Samudera, Amrozi, Mukhlas


Kabar itu akhirnya datang. Trio bomber Bali telah dieksekusi kemarin malam jam 00.15. Serangkaian kontraversi atas proses persidanganpun berakhir. Seiring letusan peluru yang mengoyak dada dan menembus jantung, semoga dendam dan kebencian yang mewarnai bangsa ini, para korban dan saudara korban bom di Bali, rakyat Australia: semua luruh dan pergi mengangkasa bersama terbitnya mentari hari minggu ini.

Sebagai seorang muslim yang sangat percaya bahwa setiap perjuangan untuk menegakkan syiar Islam jalan terbaiknya adalah melalui Rahmatan lil 'Alamien: tak ada sedikitpun perjuangan kekerasan tanpa cinta yang diusung Amrozi cs yang bisa saya setujui. Karena Islam adalah agama penyebar damai, yang bahkan nabi Muhammad pun malah mendoakan orang-orang yang telah melemparinya dengan batu agar beroleh Rahmat Allah.

Nabi junjungan kita juga telah memberi tauladan keindahan yang sungguh luar biasa. Saat ada serombongan mengangkat keranda berisi mayat untuk dikuburkan, Nabi berdiri menghormati. Sahabat berkata," Ya Rasul, yang meninggal itu orang Yahudi. Mengapa engkau menghormatinya, bukankah mereka adalah musuh agama Allah?"

Sang Rasul Agung dengan tenang menjawab,"Bukankah Yahudi itu manusia juga seperti kita, sehingga dia juga adalah sesama hamba Allah yang wajib kita hormati?"

Rasul adalah manusia luhur seluhur-luhurnya. Dan kebijaksanaannya bergaung melewati abad demi abad.

Di saat pertama kali saya mendengar pagi ini bahwa di Batu Nusakambangan ada 3 orang hamba Allah yang dipanggil menghadapnya, saya pun tercenung. Mereka menghadapi regu tembak dengan mata terbuka, tanpa penutup. Dan mereka bukan pahlawan, seperti Robert Wolter Mongisidi yang dieksekusi oleh Belanda saat jama perjuangan dulu. Mereka hanyalah orang-orang yang memang harus bertanggung jawab atas tindakannya yang di luar kepantasan, kekejamannya yang merenggut jiwa-jiwa tak bersalah. Mereka meninggal sebagai pesakitan, di ujung senapan hukum dan keadilan.

Pagi ini, saya berdoa agar jiwa-jiwa para pembom yang kita menyebutnya teroris itu bisa beristirahat dengan tenang dan kepergian mereka menghadap-Nya tak menyeret serangkaian dendam yang tidak perlu. Saya percaya, akhir hidup di dunia bukanlah akhir segalanya. Pertanggungjawaban itu masih akan menunggu di akhirat, dimana keadilan tegak setegak-tegaknya.

Selamat jalan Imam Samudera, Amrozi, Mukhlas. Semoga kalian semua menjadi generasi terakhir dari umat Islam yang percaya bahwa kekerasan akan membawa damai. Semoga tak ada lagi yang mengikuti jejak kalian sebagai fatalis, karena sesungguhnya jalan jihad terbuka 1001 macamnya dan tak satupun yang memerlukan jatuhnya korban tak bersalah. Semoga hidup yang telah kalian jalani membuka tabir dan keindahan Islam sebagai agama penyebar damai.

Hanya dengan itu, ada setitik cahaya yang hadir bersama kepergian kalian menghadap Allah. Dan dengan setitik cahaya itu, semoga Allah mengampuni kesalahan kalian dan menyayangi semua korban bom bali, sanak saudaranya dan kita semua sebagai bangsa.

Semoga umat Islam dimanapun di seluruh dunia bisa bercermin dengan cermin buram dan retak ini. Kesalahan akan tetap menjadi sekedar kesalahan jika kita tak mau mengambil hikmahnya. Trio bomber dan segenap keyakinannya telah pergi dan meninggalkan kepada kita pelajaran hidup yang sungguh berharga. Sebagai sesama hamba Allah, sepotong doa untuk mereka telah saya panjatkan demi kedamaian yang lebih panjang untuk kita nikmati sepeninggalnya.



Saturday, November 8, 2008

Kekuatan Konsistensi

Mudahkah untuk menjadi konsisten? Bener, mudah di mulut. Tapi setengah mati dikerjakan. Jadi saya pun mengamini ketika ada yang mengatakan bahwa untuk menjadi kebiasaan, sebuah perilaku yang baik harus dilakukan terus menerus minimal 40 hari. Ini agar secara integral: hati, otak dan fisik kita dibiasakan untuk menerima perilaku baru dan berakrab-akrab dengannya sehingga tak timbul penolakan dalam pelaksanaannya. Sehingga perilaku baru itu tak asing.

Misalnya yang paling sederhana: bangun pagi. Jam berapa Anda bangun pagi? Jam 4, jam 5 atau jam 8? Seorang teman yang pernah melihat saya bangun pagi jam 6, sambil menelungkupkan selimutnya bilang,"Ngapain bangun sepagi ini Rief, kayak petani aja!"

Dia biasa bangun jam 11 siang.

OK, misalnya kebiasaan bangun jam 8 pagi deh dan pengen bangun jam 4 pagi supaya bisa jamaah Subuh. Bagus to? Udara pagi yang sejuk menyegarkan paru-paru, membuat pikiran jernih dan sholat subuh berjamaah ditambah sholat Fajar kebaikannya lebih dari dunia seisinya. So, gimana prakteknya?

Tentulah tak bisa langsung besok pagi jam 4 buka mata dan bersemangat ambil air wudlu lantas meluncur ke mesjid. Pastinya menjelang jam 4 kantuknya bakal makin berat, jam weker yang bunyinya super kenceng terdengar kayak di-silent. Atau jika terdengar juga bakal dilempar membentur dinding. Atau dimatikan buru-buru. Mencoba membuka mata, beratnya minta ampun. Buka sedikit, tutup lagi. Memaksa diri bangkit dari tempat tidur, kasur empuk jadi magnet yang menariknya kembali. Begitu terus.

Alhasil, bener-bener bisa bangun baru jam 7. Menyesal minta ampun kenapa tidak memenuhi komitmen. Lalu melangkah dengan gontai ke kamar mandi sambil menyalahkan dirinya yang tak berjuang lebih keras. Lalu menjelang berangkat tidur lagi di malam hari bertekad bangun lagi jam 4 besok paginya.

Kemungkinannya adalah, jika ia terus-menerus berjuang dan konsisten, maka bangun jam 4 pagi akan menjadi kebiasaan yang natural. Tak perlu weker, tak perlu bertarung melawan kasur, tak perlu menyiksa diri dengan memaksa bangun. Praktekkan selama 40 hari terus menerus: kebiasaan baik itu akan jadi milik kita sepenuhnya.

Tapi jika besok paginya ia mencoba lalu gagal dan menyerah: maka selesailah upaya itu. Dia akan bangun jam 8 terus menerus. Rasa percaya dirinya akan runtuh dan menganggap bangun jam 4 itu sesuatu yang tidak mungkin. Atau tidak perlu. Yang paling parah: ia akan menyalahkan orang lain yang biasa bangun jam 4. Padahal sebabnya karena ia tidak mampu, meskipun ia tahu bangun jam 4 itu baik.

Begitulah manusia, dan konsistensi adalah ujian dasar dari Tuhan untuk mengukur kekuatan kemauan kita. The power of will. Tanpa kemauan yang kuat, teguh dan sabar mengelola tantangan: kita hanya akan jadi manusia biasa-biasa saja.

Lihatlah Obama yang berteriak: Yes We Can! Jutaan orang di Amerika mengikutinya: Yes We Can! Karena Obama memulainya dari lubuk hatinya yang paling dalam. Karena Obama konsisten selama 21 bulan masa kampanyenya dan tetap bertahan saat badai menghadang. Yes We Can yang keluar dari mulut Obama ada ruhnya, beda jauh jika yang bilang politisi Indonesia.

Mari kita belajar bersama-sama. Sayapun masih terus belajar. Menjadi konsisten memang tak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Yes We Can!

Friday, November 7, 2008

Creative Sharing Concept & ADGI Jogja


To All ADGI-ers dan teman-teman kreatif Jogja, ada kesempatan untuk nambah ilmu murah meriah tapi berbobot di acara yang dikerjasamakan bareng dengan Majalah Concept ini. Khusus ADGI Members ada diskon khusus 20%. Segera daftar ya :)

Wednesday, November 5, 2008

Being Happy on The Road

Sejak Petakumpet membuka representative office di Jakarta dan buku saya terbit, saya mulai sering menghabiskan waktu di jalan. Kota tujuan saya pun makin beragam. Yang paling sering Jakarta, bisa sebulan 2 sampai 3 kali. Kermarin ke Pangkal Pinang (ini untuk urusan keluarga: sudah saatnya saya bertanggung jawab dan lebih serius memikirkannya), balik ke Jogja, beberapa hari kemudian ke Jakarta lagi lalu ke Denpasar untuk mengikuti Konferensi CAAAA (Confederation of Asia Advertising Agencies Associations), balik lagi ke Jogja dan Senin depan saya berangkat ke Jakarta lagi untuk presentasi.

Dari Jakarta saya balik ke Jogja 17 November untuk mengisi Creative Sharing bersama founder Concept Mas Djoko Hartanto, sehari setelahnya berangkat ke Malang untuk undangan diskusi. Minggu depannya lagi ke Bandung mengisi seminar dan ke Purwokerto menghadiri pernikahan seorang klien lama, teman baik saya.

Hmmm... terkesan sok sibuk ya?

Apa yang bisa saya katakan adalah saya sepenuhnya menikmati perjalanan hidup saya, di rumah, di kantor, maupun di jalanan. Capek? Tentu saja.. Tapi yang membahagiakan adalah bahwa saya tidak merasa terpaksa melakukan itu semua, saya memang berniat menjalaninya sepenuh hati. Saat ini saya sedang latihan mengatur waktu, saya tahu waktu saya begitu terbatas sementara keinginan kita dan kebutuhan orang atas kita seolah tak mau tahu.

Saya bocorkan rahasia kecil bagaimana bisa menang dalam pertempuran melawan kesibukan yang seolah tak pernah habis, yang jika dibiarkan akan membuat kita remuk jiwa raga.

Kata Yusuf Mansur - saya mengamininya - sholatlah tepat waktu. Bukan hanya 5 kali sehari, tapi 5 kali dan tepat waktu, saat adzan berkumandang kita sudah stand by di mesjid atau musholla.

Sesederhana itu? Ya, tapi awalnya memang sangat berat. Saya juga masih belajar. Tapi jika kita kerepotan mengatur skedul, sholat tepat waktu akan meluangkan waktu kita. Mengapa? Karena Allah yang akan mengatur jadual kita sebaik-baiknya. Bukan orang lain, klien raksasa, tamu penting yang lain, sahabat, dsb.

Berani mencoba?

Sunday, November 2, 2008

Pengurus PPPI DIY & Sultan HB X


Ketua PPPI DIY, Drg. Eddy Purjanto menyampaikan beberapa buku karya praktisi periklanan Indonesia, yang sebagian besar ditulis oleh orang-orang Jogja

Ah yaa, seremoni foto barengan gini emang perlu buat release ke media kan?

Saturday, November 1, 2008

Creative Sharing di Bali


Ah, segarnya jika bisa nyebur sebentar ke kolam

So lovely place, diskusi di outdoor yang begitu inspired

Beberapa hari sebelumnya Mas Hermawan Tanzil juga sharing pengalamannya di sini

Di malam terakhir setelah penutupan Konferensi CAAA (Confederation of Asia Advertising Agencies Associatios), atas kebaikan Mas Ayip saya dapat kesempatan untuk sharing dengan teman-teman ADGI Bali tentang Creativepreneurship di acara Casual Gathering di daerah Hang Tuah, Denpasar. Beberapa hari sebelumnya Mas Hermawan Tanzil (Le Bo Ye Design) juga hadir dan sharing di sini. Beritanya selengkapnya di sini.

Saya membaca antusiasme temen-temen muda kreatif Bali yang sungguh luar biasa, keinginan untuk maju dan berkompetisi dengan energi yang penuh. Mas Ade (Ketua ADGI Bali Chapter) bersama tim ADGI tanggal 9 November besok akan menggelar Zoom In 2 dengan menghadirkan pembicara Mas Danton Sihombing (Chairman ADGI/Inkara) dan Mas Ayip jadi moderatornya.

Sedangkan acara Zoom In dan D'Edge ADGI Jogja sedang kita siapin dan baru bisa tayang sekitar awal Desember.

Terima kasih untuk kesempatannya bisa bertukar pikiran di sebidang kebun yang sejuk, di pinggir kolam renang bening dihias bintang gemerlapan. Next time kita akan jumpa lagi. Buat teman-teman Bali: terus bergerak, terus kreatif, terus maju. See you at the top!