Mybothsides

Monday, August 25, 2008

Happiness is Priceless

Kesuksesan apapun yang telah Anda dapatkan, jangan sampai memenjarakan diri, otak dan hati Anda. Karena yang terpenting - di ujung semua upaya kerja keras kita - apa sih yang sebenarnya kita cari? Ya, dengan susah payah kita mencari kebahagiaan: sometimes dengan cara yang lurus-lurus aja, kadang belak-belok bahkan nyerempet bahaya. Tapi dimana sebenarnya kebahagiaan?

Setiap hari, Tuhan selalu - tak pernah alpa - mengguyur alam semesta ini dengan butir-butir kebahagiaan dalam jumlah tak terbatas. Tapi memang, tak semua bisa melihatnya, merasakannya di kedalaman hatinya masing-masing.

Dalam setiap moment, saya selalu mencoba untuk menangkap sepercik kebahagiaan itu. Saya menyebutnya stealing happiness, mencuri kebahagiaan di sela-sela kesibukan.

Misalnya: saya selalu mencoba fokus 100% saat sedang menikmati makanan di atas meja. Pikiran tercurah di sana, hp saya silent atau off, saya tidak ingin diganggu dalam moment penting saat memasukkan makanan sebagai sumber energi ke tubuh saya. Saya selalu merasa kasihan setiap berada di warung makan atau buffet di hotel (ini jika ada yang mbayarin) melihat seseorang bertampang eksekutif sukses sedang makan sambil tergesa-gesa mengangkat hpnya, mondar-mandir, minta maaf sama temannya yang makan bareng lalu balik lagi. Makan satu dua sendok, hpnya yang nyaring berbunyi lagi. Diangkat lagi, ngobrol dengan buru-buru lalu makan dengan tidak tenang.

Pssttt, ini rahasia diantara kita aja: Anda pernah begitu juga kan? Saya pun dulu begitu, it's OK. Tapi sekarang tidak lagi.

Untuk menyebut satu lagi, saya adalah penggemar sore hari. Moment satu atau dua jam menjelang sunset selalu amazing buat saya. Di sela kesibukan presentasi, pitching atau di tengah kemacetan lalu lintas (jika sedang di Jakarta) saya selalu mencoba menikmati keindahan tata cahaya sore itu dengan penuh rasa syukur. Ketegangan yang memuncak di siang hari, kekesalan pada peristiwa buruk hari itu, seolah bisa ter-delete sempurna saat ada ruang hening ketika hati saya bersapaan dengan cahaya menjelang senja. Di saat seperti itu, saya betul-betul tak ingin diganggu.

Jika saya sedang butuh ide dahsyat: saya akan menghentikan semua gangguan. Tak ada telepon, tak ada obrolan, tak ada staf yang ingin ketemu. Saya akan duduk tenang menyerap warna kuning keemasan, menghirup secangkir kopi atau teh, menikmati lalu lalang orang dimandikan cahaya dan bersyukur dengan hati yang penuh. Saat proses download kebahagiaan itu selesai (bisa 15 menit bisa 1 jam): saya akan berinteraksi lagi. Eksplorasi lagi, presentasi lagi, brainstorm lagi seringkali sampai tengah malam dalam kondisi full energy.

Tidak mudah untuk menyayangi diri kita dengan cara sesederhana ini. Tak semua orang berani. Yang paling sering kita akan mengikuti budaya yang sudah umum: waktunya kerja ya kerja. Setiap saat hp harus nyala 24 jam seolah dunia selalu dalam bahaya sehingga alarm emergency di otak kita terus berdering. Betapa melelahkan hidup dengan cara seperti itu: jiwa raga diforsir terus menerus tak pernah di-recharge.

Mari selamatkan hidup kita dari rongrongan beban pekerjaan dengan kembali ke hal-hal sederhana. Kebahagiaan harus kita perjuangkan, meski tak harus dengan gegap gempita.

Mungkin bisa kita mulai dengan sebuah sms sederhana: Boss, meetingnya kita undur setengah jam lagi ya. Saya sedang nyeruput secangkir kopi kental dan sepiring ketela goreng kepul-kepul ditemani sunset yang luar biasa indah.

Happiness is priceless. Berani mencoba?

Saturday, August 23, 2008

Gamang

Kadang kita gamang. Bingung mau berbuat apa atau memilih yang mana. Kadang kita ragu, takut dan khawatir. Seolah-olah apa yang kita jalani ini mungkin akan salah di ujungnya. Atau hal-hal yang tak kita inginkan bakal terjadi. Dan itu bakal buruk buat kita, buat masa depan kita, buat perjalanan mencapai impian kita.

Dan ternyata, saya dan Anda tidak sendirian. Semua orang di dunia ini bahkan orang-orang besar yang mewarnai sejarah: mereka juga mengalami keraguan itu. Mereka juga dihinggapi mental block. Mereka juga menangis karena dihimpit beban maha dahsyat yang secara logika akal sehat tak mungkin dipanggul. Mereka juga mengaduh pada Tuhan, mereka menggigil ketakutan bahkan kalut dan bingung.

Perbedaan antara para pemenang dan pecundang bukanlah pada kegamangan itu: dua-duanya pasti mengalami. Para pemenang hanya terus bertahan sambil bergerak mencari solusi, terus bergerak bahkan dalam kegelapan saat mata tak tahu kemana mesti bergerak. Mereka dihimpit beban tapi tetap bergeser ke depan selangkah demi selangkah. Mereka kebingungan tapi mencoba percaya kepada hati nuraninya yang juga goyah.

If you lose your target, just keep moving. Jangan diam. Jangan menyerah. Jangan menjadikan diri sendiri korban tak berdaya. Just keep moving, teruslah bergerak.

Di titik tertentu di depan langkah kita, sang cahaya sedang berharap-harap cemas menantikan perjuangan itu mencapai ujungnya. Dan menyalami sang pemenang.

Anda semua yang tidak menyerah.

Wednesday, August 20, 2008

Surprise: Jadi Kontributor Kolom TDA

Atas kebaikan hati Pak Nukman Luthfie, salah satu tulisan saya berjudul Jualannya Nggak Nyata, Hasilnya Nyata dimuat di Kolom TDA www.tangandiatas.com, baca selengkapnya di sini. Kalau mau baca tulisan selengkapnya tentang bisnis ide bisa membeli buku ini. (Halllaaaah promosi maneh!)

Sunday, August 17, 2008

Pahlawan yang Tersingkirkan


Hari ini 17 Agustus 2008. Tapi perasaan saya berkecamuk dahsyat. Ada beberapa kejadian yang saya alami beberapa hari ini menjelang detik-detik proklamasi.

Sehari menjelang peringatan kemerdekaan, di jalan raya Klaten menuju Solo saya melihat seorang bapak tua berpakaian hijau tua ala pejuang kemerdekaan berseragam lengkap dengan atributnya serta topi kain berdiri tegak di tengah jalan menghormat setiap mobil yang melewatinya. Begitu terus menerus, dengan sikap tegap dan serius.

Dan hari ini menjelang maghrib, saya melihat seorang bapak lagi berpakaian prajurit kemerdekaan warna krem sedang duduk di pinggir trotoar Jl. Serangan, tatapannya kosong ke depan. Mukanya lusuh seperti bajunya. Saat saya melewatinya, matanya seolah berkata: apa yang telah kau lakukan pada negeri yang dulu telah kuperjuangkan untuk merdeka? Saya - anak muda setengah tua ini - merasa jadi tertuduh. Serba salah di depan mata kosong mantan pejuang itu.

Menjelang jam 12 tengah malam di tengah jalan Godean, seseorang membawa tongkat panjang. Di ujung atasnya terlilit bendera merah putih yang terbakar sebagian, hangus tinggal setengah. Orang itu rambutnya gondrong. Membawa bendera seolah memegang panji kehormatan, berjalan tegap seperti komandan pasukan membelah jalan di tengah malam. Mobil dan motor bersliweran di kanan kirinya.

Entahlah, makin tambah tahun saya merasa bangsa ini kok makin sakit. Mungkin memang tidak semua, tapi satu hal yang saya percaya: kita begitu abai pada para pahlawan itu. Kita tak lagi memperhatikan mereka. Kita merasa bahwa kemerdekaan ini sudah take it for granted: sejak lahir, generasi pasca 1945 memang rasanya langsung merdeka.

Padahal kakek nenek kita bertaruh nyawa. Yang gugur sebagian jadi pahlawan, tapi banyak yang lain tak pernah tercatat di sejarah, kubunyapun tak jelas dimana. Yang masih hidup ternyata lebih banyak tersia-sia. Sehingga para pemenang perang kemerdekaan itu harus kalah saat melawan nasib, saat melawan penindasan dan ketidakadilan saudara-saudaranya sebangsa setanah air. Sehingga mereka merindukan lagi keindahan masa revolusi fisik itu. Mereka berseragam lagi, mereka mencoba melawan gerak jaman. Tapi mereka tetap kalah, kita generasi sekarang menjauhi mereka yang begitu mencintai tanah ini dan dengan ringan menyebut mereka yang tindakannya aneh-aneh itu sebagai terganggu ingatan alias kurang waras.

Hari ini saya ingin menyingkir bersama orang-orang yang dipinggirkan laju pembangunan itu. Yang merasa bahwa Belanda akan datang lagi sehingga bersiaga membawa tongkat panjang laksana bambu runcing untuk melawan. Yang merasa bahwa Bung Karno akan datang memasuki kota bersama Jenderal Sudirman mengendarai mobil sehingga terus menghormat setiap mobil yang dilewatinya. Yang merasa setelah merdeka kok malah menderita.

Hari ini saya ingin meneriakkan merdeka sekeras-kerasnya, dengan tangan mengepal meninju langit. Tapi saya tidak mampu. Saya masih terbayang-bayang: para pahlawan yang kesepian di dunianya sendiri itu, apakah mereka mau memaafkan kita semua pada 17 Agustus 2008 ini? Apa yang kita bisa lakukan untuk membuat mereka - meskipun sejenak - berbahagia atas kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan sepenuh jiwa itu?

Jika kemerdekaan yang kita rayakan justru menyingkirkan para pahlawan sesungguhnya, saya akan bertanya dalam sunyi: sudah merdekakah saya? Sudah merdekakah bangsa ini?

Tuesday, August 12, 2008

Jualan Ide Segar Menyapa Anda



Hadir sebagai New Arrival di Gramedia Pandanaran Semarang. Buku ini juga sempat ditulis Pak Nukman Luthfie di blognya. Berikut kutipannya:

Saya juga menghadiri acara peluncuran buku “Jualan Ide Segar” yang ditulis oleh M. Arief Budiman, S.Sn, salah satu Founder dan Direktur PetakUmpet, biro iklan berbasis di Jogja namun sudah merambah ke Jakarta. Sehari sebelumnya, saya mendapatkan buku itu langsung dari Arief. Saking asyiknya membaca, buku setebal 200-an halaman tersebut saya lahap dalam tempo sehari. Satu bab yang paling saya senangi adalah Bab IV. Jatuh Bangun Mengejar Mimpi yang dibuka dengan kutipan kalimat pebasket legendaris Michael Jordan: Jika saya kalah, saya akan kalah sambil menembak.

Terima kasih Pak Nukman atas tulisannya. Kutipan asli tulisan Pak Nukman saya copy dari sini. Jadi buat yang kemarin sempat bingung nyari, Insya Allah sekarang udah ready di toko-toko buku. Selamat menikmati ikhtiar kreatif untuk membangun bisnis ini. Semoga bisa menginspirasi. Untuk info selengkapnya tentang buku ini, mainlah ke sini.

Sunday, August 3, 2008

Dari Launching Buku Jualan Ide Segar





Ballroom Melia Purosani Hotel, 2 Agustus 2008, 15.30 WIB - selesai. Cerita selengkapnya bisa dibaca disini.