Mybothsides

Saturday, May 31, 2008

Mr. SGM di JEC




Hari itu Jumat, 30 Mei 2008 saat untuk pertama kalinya saya melihat aksi Mr. SGM live di JEC pada acara pameran Komik Gramedia di JEC. Presentasi teman akrab masa kecil ini dibanjiri oleh hadirin, semua kursi hampir sepenuhnya terisi. Hanya selama 2 jam presentasi berlangsung, karena emang maksudnya cuma preview sekaligus warming up untuk launching bukunya yang diterbitkan Gramedia Juni ini Super Great Memory.
Irwan yang saya kenal, telah berubah begitu dahsyat. Sekarang ia jagoan presentasi: sesuatu yang tak pernah saya lihat dari SD bahkan SMP. Sosoknya yang pendiam dan kutu buku, selain penggemar pelajaran hitung-menghitung (matematika, fisika dan sejenisnya) telah mengalami metamorfosa yang luar biasa. Dia dengan sangat komunikatif bisa mengajak audiensnya tertawa, bergerak dengan penuh semangat, membuat mereka berani dan ya.. menularkan antuasiasme yang meledak-ledak agar audiensnya mau menghargai kedahsyatan otaknya masing-masing.
Dari tidak bisa menghafal 10 kata acak yang ditulis urut, Irwan mampu membuat audiensnya menghafal 40 kata secara urut tanpa salah dengan metode Super Great Memory-nya. Pemegang Rekor Muri untuk daya ingat ini akan hadir lagi di Jogja besok 14 Juni 2008. Tentu dengan durasi yang lebih panjang, tak sekedar 2 jam. Anda yang tertarik mengikuti silakan hadir, infonya ada di image di bawah postingan ini.
Hari itu saya belajar banyak. Irwan telah membuktikan satu hal yang telah lama saya yakini: kita akan berubah sesuai keyakinan kita. Pikiran kita itulah blue print masa depan kita. Apa yang terjadi dengan diri kita itu bagian dari masa lalu: baik atau buruknya.
Hari ini kita bisa berubah. Seperti yang saya kutipkan dari dialog di film Vanilla Sky-nya Tom Cruise: setiap menit yang kita miliki adalah kesempatan untuk merubah masa depan kita. Inilah peluang yang sepenuhnya ada di tangan kita, bukan di tangan yang lain.
Kita bisa jadi apa saja, modalnya ya keyakinan yang diwujudkan dengan tindakan. Setiap menitnya, setiap detiknya. Kita bisa manfaatkan atau justru kita hanya akan lewatkan begitu saja.

Sunday, May 25, 2008

Golden Macbook Pro


Just curious saja. Kesan dari Macbook Pro versi emas ini yang muncul elegan, berkelas tapi kok rasa-rasanya tidak berasa Mac. Ataukah emang ada golden edition beneran atau sekedar orang iseng. Nggak tahu deh, enjoy...
(Image pinjaman dari berbagai sources)

Friday, May 23, 2008

Bulan Dibingkai Jendela

Tepat di seberang jendela kaca ruangan saya di Dreamlab Building, tampak bulan megah sedang bertahta. Lalu ada pesawat melewati bola cahaya itu sepertinya mau landing dengan lampu merah kelap-kelip, membelah terangnya. Di atas ada langit yang terang sumringah, di bawah terbentang sawah hijau yang kini redup diselimuti gelap. Menjadi silhuet garis-garis hitam. Komposisi luar biasa dari kesederhanaan warna dan suasana.

Lalu, apakah itu keindahan jika kita hanya ingin menikmatinya dalam gemerlap warna warni pesta yang hingar bingar? Atau dalam candle light di sebuah resto dengan bangunan menyerupai kastil yang menu makannya cukup buat sarapan ana-anak satu sekolahan?

Saya memilih menyingkir dalam sunyi. Berpesta dalam keheningan. Semilir angin yang berhembus dan suara jengkerik yang mengundang ratusan kunang-kunang menari di atas silhuet embun malam: segala yang yang luar biasa indah dalam hidup biasanya hadir tanpa kita harus membayar.

Tapi kita sering lupa pada kesederhanaan yang anggun. Kita berlari memuja kesibukan. Kita berlari memburu dunia. Kita berebut mengejar kehampaan. Untuk lalu kelelahan saat malam menjelang, melupakan bulan megah yang sedang bertahta. Mata hati kita tak mampu menyesapi indahnya.

Membangun Surga di Antara Neraka

Bersyukur tidak selalu mudah. Berbagi biasanya juga tidak mudah, apalagi jika kita berada dalam kondisi kekurangan. Berbahagia bahkan menjadi sangat sulit ketika situasinya begitu menyesakkan dada dan menyedihkan hati. Dan ikhlas terlebih lagi, rasanya ketidakadilan itu yang selalu kita terima. Rasanya kenikmatan itu hinggapnya selalu di orang lain, bukan di kita.

Ah, kepicikan pikiran dan perasaan kita memang sangat berbahaya. Karena untuk bersyukur kita tidak membutuhkan syarat. Untuk berbagi kita tidak membutuhkan kelebihan harta. Untuk berbahagia kita tak harus lari dari pahitnya kenyataan. Untuk menikmati ikhlas, kita hanya perlu menerima dengan besar hati pemberian dan takdir-Nya.

Jadi, mudah atau sulit? Anda pilih sendiri ya, pilihan Anda akan menentukan warna hidup Anda dan bagaimana Anda menikmatinya: sebagai neraka yang chaos atau surga yang damai.

Saturday, May 17, 2008

Thanks to Youtube, Slideshare, Etc.

Ini membuktikan sekali lagi bahwa proses belajar mengajar segera akan mengalami revolusi yang sangat luar biasa: jika kita mulai memasang radar untuk mengantisipasi gelombang perubahan yang akan menyentuh seluruh sisi kehidupan kita. Pendidikan akan didefinisikan ulang. Marketing akan didefinisikan ulang. Konsumen akan didefinisikan ulang. Bahkan spritualitas akan didefinisikan ulang.

Seharian saya belajar bareng Bill Gates, Steve Jobs dan Steve Ballmer. Bejar mata kuliah yang menarik: tentang bisnis, tentang presentasi, tentang marketing, tentang bagaimana membuat hidup jadi lebih baik, lebih luar biasa. Lewat interview dimana Bill Gates dan Steve Jobs berada dalam satu panggung, lalu launching Ibook, Ipod, Iphone. Lalu Windows Vista, lalu gaya Ballmer untuk membangkitkan antusiasme. Yeah, big thanks to Youtube, Slideshare, Google, Yahoo dan pionir teknologi yang memungkinkan ini semua terjadi. Sesuatu yang tidak mungkin bisa saya lakukan misalnya 5 tahun yang lalu.

Dan ya: semua kembali kepada diri kita masing-masing. Apakah kita melihat air bah kemajuan teknologi ini dengan khawatir atau justru antusias? Apakah kita bisa makin cerdas atau malah jauh ketinggalan? Terlalu banyak pilihan yang akan membingungkan Anda semua jika tak punya pegangan kemana akan melangkah.

And let's look at the highest sky. The wings are ready, the sky is blue, the landscape is amazing. The big question is: do you want to fly or not? Have you choosen your genuine dreams or not? It's all depend on you. Not Steve Jobs, Bill Gates, Steve Ballmer or me.

Yes, it's just you and you are, alone.

Invitation for Steve


Thursday, May 15, 2008

Ciri-ciri Narsis

Waspadalah bahwa di sekitar Anda ada tipe teman-teman yang punya potensi atau penyakit narsis alias hobinya membanggakan diri sendiri. Atau jangan-jangan Anda sendiri virus penyebarnya. Biar tidak terjebak, saya akan bagi tips untuk mengenali ciri-ciri pengidap narsis:
  • Jika di kamarnya ada lima bingkai, dimana yang empat berisi tokoh-tokoh dunia dan salah satunya kosong tapi ditaruh cermin.
  • Jika ada cover majalah yang desain sampulnya agak aneh karena dimasukin paksa wajahnya yang tidak fotogenik. Narsis yang parah tidak peduli lagi pada jenis majalahnya asal wajahnya bisa nongol, termasuk majalah binatang, tumbuhan maupun majalah khusus teka-teki silang.
  • Fotonya dipake sebagai pengganti umpan jebakan tikus
  • Jika bikin lukisan di atas kanvas, di bawah tanda tangan ditaruh tanggal lahir dan nomer hp.
  • Kata-katanya berbunyi,"Aku tuu paling sebel sama anak-anak kantor sini. Narsis banget, dikit-dikit nonjolin diri, sok membanggakan, huhh.. kayak paling hebat aja. Di kantor ini, cuma aku yang nggak bisa narsis. Aku nggak pernah bilang kalo motorku udah lunas. Aku nggak pernah cerita kalo pacarku dua. Apalagi bilang kalo aku ganteng, ente tahu sendirilah aku kayak apa. Amit-amit deh tuu narsis!!!"
  • Setiap bikin desain atau ilustrasi yang butuh banyak obyek/orang, selalu mencuri kesempatan memasukkan mukanya di sela-selanya. Jika tempatnya gak ada, bisa juga buat ganti kepala hewan piaraan yang ada. Norak lebih baik ketimbang nggak menonjol.
  • Setiap ada pemilihan ketua regu atau ketua kelas, biasanya memilih diri sendiri meskipun gagal jadi calon.
  • Jika diminta jualan cermin, tidak boleh ada yang membeli. Tidak laku lebih baik daripada kekurangan cermin buat nampang.
  • Setiap ada diskusi pasti mengacungkan tangan meskipun belum tahu mau nanya apa. Yang penting nampang dulu biar dianggap cerdas. Jika otaknya ketinggalan nanti bisa diurus belakangan.
  • Selalu mengejar-ngejar paparazzi karena maniak difoto.
  • Saat pas photo suka mengedipkan mata biar fotonya diulang berkali-kali.
  • Jika disuntik dokter, tidak mau di pantat karena membelakangi. Selalu pengin menghadap ke depan agar terlihat wajahnya.
  • Setiap ada pemilihan lurah atau bupati, ikut menempelkan foto di jalan-jalan yang berukuran sama. Padahal jadi bakal calon aja enggak.

Demikianlah sebagian dari ciri-ciri pengidap narsis. Waspadalah atas pengaruh jahatnya. Sebagai bukti bahwa saya tidak narsis, saya tidak memasang foto saya di postingan ini. Tapi kalau mau, Anda bisa cari di postingan sebelumnya. (Halllllaaaah! Konangaaaan!!)

Monday, May 12, 2008

Tidak Usah Kuliah

Ini bukan saran yang nyaman dibaca, terutama buat yang mampu kuliah. Ya kemampuan berfikirnya, ya kemampuan finansialnya, ya dukungannya dari keluarga.

Tapi ini adalah kabar gembira buat adik-adik kelas saya yang kebingungan mencari tempat kuliah. Yang daftar UMPTN (eh, sekarang apa namanya?) tapi gagal, yang kesulitan bayar uang gedung atau sumbangan ini itu. Yang merasa tersingkirkan karena teman-teman sebayanya kuliah semua, meskipun universitasnya mungkin juga gak jelas. Yang murung, bingung, malu pergi kemana-mana karena tak punya kampus yang bisa dibanggakan. Oya, ini juga saran yang berbahaya: orang tua yang tak siap mental untuk berubah bisa stres membacanya.

Saran ini memang berasal dari orang yang kuliahnya lulus, IPK-nya 3,7. Oleh karena itu bisa diasumsikan bahwa saya cukup memahami apa saja yang terjadi di bangku kuliah. Jadi saya telah melewati fase-fase yang diperlukan selama kuliah sehingga saran saya tidak turun dari langit dan awang-awang. Tapi justru nongol dari bawah bumi, dimana kedua kaki saya berpijak.

Oya, sampai saat ini ijazah sarjana saya tidak pernah saya gunakan.

Begini: mari kita buka mata dan hati lebar-lebar. Open mind. Apapun ilmu pengetahuan yang kita butuhkan saat ini, semua tersedia di internet. Apapun yang ingin engkau pelajari: ilmu merakit komputer, ilmu komuikasi, ilmu public relations, ilmu desain grafis, menggambar komik, menari, teater bahkan merancang software dan arsitek: semua tersedia di internet, lebih dari 90% gratis. Orang yang membimbing alias guru juga buanyak, gabung aja milis dengan topik grup yang kau sukai, ikuti perkembangannya, baca postingannya, lihat siapa yang paling berpengaruh dan paling cocok dengan Anda: kirim imel dan belajarlah kepadanya.

Jika masuk kuliah, maka mata kuliah dan dosennya ditentukan kampus. Literatur yang harus kita baca ditentukan dosen, nilaipun ditentukan dosen. Tapi lewat proses belajar mandiri berbasis internet: Anda menentukan sendiri subyek yang akan dipelajari, Anda cari sendiri dosennya, Anda nilai sendiri kemampuan Anda untuk menguasai ilmunya.

Anda masih butuh gelar? Kuno!

Bill Gates, Steve Jobs, Larry Elison: orang-orang sukses itu drop out semua meskipun tak pernah menyarankan untuk mahasiswa drop out.

Anda dan orang tua takut terjebak dalam lautan situs porno dan kekerasan? Dewasalah, di muka bumi ini segala bentuk kebaikan pasti berdampingan dengan kejahatan. Setiap kesempatan pasti didampingi ancaman. Cari yang baik dan bermanfaat, tinggalkan yang jorok-jorok. Gampang kan? Gitu aja kok repot...

Satu yang tidak bisa dilakukan oleh internet adalah menentukan cita-cita Anda besok ingin jadi apa.Impian tertinggi yang ingin Anda capai. Tujuan hidup yang Anda merasa perlu perjuangkan. Itu tugas Anda sendiri, tak ada orang lain yang bisa melakukannya untuk Anda. Tidak orang tua, kakak, pacar atau tetangga. Apalagi teknologi.

Sekarang carilah waktu yang tenang untuk merenung menemukan tujuan sejati hidup Anda. Mulai ditata hidupnya untuk sebuah perjalanan ke masa depan yang mendebarkan karena tak ada peta yang tersedia. Cari cara bagaimana bisa online (syukur bisa gratisan), dan mulailah belajar subyek yang membuat Anda paling bersemangat. Belajar, praktekkan. Belajar, praktekkan. Belajar, praktekkan. Terus begitu.

Jikapun terpaksa bayar sewa Rp 2500,-/jam, itupun pasti lebih murah dari biaya uang kuliah. Dalam waktu 5 tahun (waktu tempuh kuliah S1) saya garansi Anda akan lebih jago ketimbang lulusan S2 kuliahan. Asal Anda mau berkomitmen, konsisten, tidak mudah menyerah. Asal Anda mau melakukan apapun yang diperlukan untuk sukses. Tidak usah kuliah.

Berani?

Friday, May 9, 2008

Catatan Kecil dari Presidential Lecture


(Image pinjem dari: www.detik.com / setpres)

Terlepas dari beberapa aspek kebetulan yang mewarnai perjalanan saya bertemu Bill Gats di acara Presidential Lecture di Plenary Hall JCC, 9 Mei kemarin: berikut beberapa cerita kecil mengenainya.

Pertama kali saya mengenal manusia bernama Bill Gates saat saya berusia 25 tahun (sekitar tahun 1995), awal mulai kuliah di ISI. Tak sengaja saya membeli sebuah majalah Fortune dengan fotonya sebagai cover. Sejak itu saya selalu mengikuti berita, artikel, pidato tentang Gates. Juga ketularan beli majalah Fortune, ngecer dunk.

Mengapa saya harus datang susah payah dari Jogja untuk mengikuti kuliah umumnya Gate yang berdurasi hanya 45 menit? Di salah satu Dream Card saya, saya punya mimpi untuk bertemu Bill Gates di Microsoft Campus, Redmond. Nah, ini orangnya malah datang ke Jakarta. Paling tidak, setengah impian saya tercapai. Lebih ngirit. Tinggal ke Redmond kelak, tapi mungkin saat saya kesana, Pak Bill udah pensiun.

Alasan yang lain: seseorang bisa memberikan pengaruh yang besar buat hidup kita sementara yang lain mungkin lewat begitu saja tanpa memberi banyak arti. Gates telah mengubah jalan hidup saya: secara tidak langsung tentu saja. Lewat bukunya The Road Ahead, The Speed of Thought, Microsoft Inside Out atau lewat buku yang ditulis tentangnya: Over Drive dan masih banyak lagi. Dia tak kenal lelah berkompetisi, sangat kejam terhadap kompetitornya dan visinya tajam menembus masa depan. Jadi menemuinya secara riil adalah upaya untuk menyerap energi, mendonlot ilmu pengetahuan dan meng-upgrade pemikiran dan visi saya ke tingkat yang lebih tinggi.

Ya, bagi orang lain mungkin Bill Gates tak menarik. Gaya presentasinya tak semegah Steve Jobs. Apalagi slide show-nya, tak punya karakter dan secara artisitik gak bikin inspired. Produk Microsoft juga banyak yang berbau copycat. Dia juga dibenci komunitas open source karena kekuatan monopoli Windows-nya yang luar biasa. Tapi sampai detik ini, Bill Gates masih jauh lebih kaya ketimbang Steve Jobs. Microsoft masih jadi perusahaan software terbesar di dunia. Sumbangan Bill Gates buat kemanusiaan hanya kalah dari Warren Buffet. Suka tidak suka, saya harus angkat jempol untuk beberapa hal yang Steve Jobs belum bisa melakukannya.

Melihatnya berdiri menyampaikan pikirannya yang bertema The Second Digital Decade, melihatnya sangat membanggakan Microsoft sehingga Anda takkan mungkin melihat produk kompetitor diapresiasi positif di presentasinya. Tidak, hanya Microsoft dan produk yang mendukung software-nya. Misalnya untuk menggambarkan komputer tercanggih saat ini Bill menampilkan PC layar datar biasa dengan desain yang kaku dan obsolete. Menaruh Zune untuk menggantikan Ipod. Memilih image Hp Samsung sliding norak ketimbang Iphone. Egonya yang tinggi tak membolehkannya menaruh Ipod, Macbook atau Imac: menurut saya produk Apple dengan desain yang ciamik lebih bisa represent kemajuan dunia komputer. Tapi itulah Bill: kebanggaannya pada Microsoft kadang terlihat naif, tapi mungkin disitulah kekuatannya. Jika kita tak bangga pada produk sendiri: lalu siapa yang akan?

Bill Gates saya terima dalam satu paket: lebih dan kurangnya akan dicerna oleh otak dan hati saya dengan hati-hati. Yang baik akan terdonlot, yang buruk akan masuk ke recycle bin. Dan karena saya masih punya mimpi untuk sekaya Bill Gates - semoga Anda tidak menganggapnya berlebihan - kesempatan untuk menemuinya langsung adalah seperti meminjam cermin dari masa depan untuk melihat kehidupan saya 5, 10 atau 20 tahun mendatang. Kehidupan Bill sekarang adalah gambaran masa depan saya: dan semoga begitu kenyataannya kelak. Atau lebih baik dari itu. He he he...

Tapi karena saya tahu saya tak sejenius Bill, tak punya hasrat kompetisi yang sekejam Bill, tak mampu me-manage waktu sehebat Bill, tak punya resources sebanyak Bill, tak punya perusahaan se-powerful Microsoft: jadi saya harus datang untuk melihatnya langsung. Karena saya harus memperbaiki kelemahan-kelemahan saya. Karena saya harus belajar.

Terima kasih telah datang ke Indonesia, Bill. Terima kasih telah membuka mata dunia untuk negeri yang masih sibuk antre BBM ini. Terima kasih untuk mengenakan batik yang bukan made in Malaysia. Terima kasih untuk menunjukkan bahwa negeri ini aman. Terima kasih untuk mau membantu mengajak teman lamamu berkunjung juga ke Indonesia suatu hari nanti: Steve Jobs.

Presidential Lecture Featuring Bill Gates


Lihat di giant screen-nya, artinya Indonesia sudah 'mulai' dikenal di dunia. Thanx Bill!


Aplikasi Microsoft yang disiapkan untuk menyaingi Google Sky: rame deh Star Wars di dunia software bisa dimulai.


Dari kiri ke kanan: Chris Lee (Komikus), Bullit (Game Creators), Entahlah, Danu (Binus) dan Pak Irvan Nu'man (White Space), yang motret Mas Andi Boediman (Digital Studio)


Undangan kok dikoleksi? Norak banget deh! (Masih diupload lagi.. Ampun deh!)


Banner-banner di luar lokasi Presidential Lecture


Yup! Yang hitam itu mobil menteri bukan ya? Lalu ngapain juga diphoto?

Pintu masuk ber-metal detector atau Linux Detector? Au.. ahh!

Pak President sambutan pake bahasa Inggris, padahal tamunya dari Amerika? Lho!?

Thursday, May 8, 2008

Kun Fayakun-nya Bill Gates

Dari pertama sejak denger kabar bahwa Bill Gates dolan ke Indonesia, saya sudah mencoba mencari tahu bagaimana caranya agar bisa ikut acaranya. Saya pikir tentu lebih murah menemuinya di sini, ketimbang saya harus datang ke Redmond (markasnya Microsoft). Sejak awal membangun Petakumpet bersama teman-teman, kesuksesan Microsoft begitu menginspirasi saya, selain Apple-nya Steve Jobs tentu saja. Praktik manajemennya banyak yang saya terapkan. Tujuan ambisiusnya membakar adrenalin saya. Kenyataan bahwa Bill adalah orang terkaya di dunia (sekarang dia ada di nomer 3): membuat saya yakin saya tidak bakal miskin.

Banyak teman di Jakarta yang saya tanyakan, tapi hampir semuanya tak tahu pasti bagaimananya. Tak ada info tentang dimana tiketnya bisa dibeli, bahkan detail acaranya pun tak bisa saya dapatkan. Jadinya, saya hanya memantau kedatangan Pak Bill dari berita-beritanya di situs internet, tentang rencananya untuk hadir di Global Leader Forum maupun bersama SBY memberikan Presidential Lecture. Dan tanggalpun sudah sampai hari H-nya karena Pak Bill nyampe Jakarta Kamis subuh kemarin, saya pun pasrah tak bisa melihatnya secara live.

Dan Kamis siang hp saya berdering, Mas Hastaryo dari IDP (Indonesia Design Power) menelepon,"Rif, kamu mau ikut acaranya Bill Gates dan SBY gak? Ini ada undangan dari kementeriannya Bu Mar'ie Pangestu (Depperindag) tapi harus pasti hadir ya..."

Sayapun terdiam. Tapi hati saya melonjak-lonjak kayak anak kecil dapat hadiah permen. Hp saya tutup, telepon tiket pesawat dan malam ini berangkat ke Jakarta. Besok pagi saya Insya Allah hadir di Presidential Lecture-nya Om Gates dan Paklek SBY. Makasih banget ya Mas Has..

Inilah kuasa kun fayakun.. Saat kita punya niat yang kuat dan berupaya keras sampai tak tahu lagi kemana melangkah, maka Tuhan akan membuatkan jalan. Ternyata sesederhana itu jika Tuhan mau.

Tuesday, May 6, 2008

Hidup yang Makin Mudah

Sebentar lagi BBM naik 20-30%, dan sebagai ikutannya maka harga-harga yang lainpun akan ikut naik. Bukan dengan merangkak tapi naik jet: wusss... mulai dari transportasi, makanan pokok, kertas, apa saja naik. Termasuk tingkat kemiskinan juga akan meroket. Makin banyak protes dan kritikan. Makin banyak pemogokan, Makin banyak permusuhan dan caci maki. Rakyat pasti menyalahkan pemerintah yang gak becus ngurus BBM dan pemerintah akan berfikir bahwa rakyatnya yang demo tak memahami ekonomi makro dan harga minyak internasional yang naik gila-gilaan sehingga negara tekor kenbanyakan subsidi.

Nah, api yang berbenturan akan menimbulkan percik, lalu kebakaran. Ekses negatifnya akan jauh lebih besar. Jadi lewat tulisan ini, saya ada usulan supaya hati kita semua adem sedikit. Tak berkobar amarah lantaran besok belum tahu bisa bepergian tidak karena uang di saku tak cukup lagi beli bensin seliter.

Begini konkritnya: dalam setiap masa kemakmuran maupun krisis, jumlah rejeki yang beredar di muka bumi ini sama. Yang berbeda hanya tempatnya: kita mesti cerdas menyikapi hal ini dengan mulai menumbuhkan ide-ide kreatif untuk menjemput rejeki kita. Menyalahkan pemerintah bukanlah opsi terbaik: nanti kita terlena merasa diri kita yang bener sendiri. Kan kita juga yang dulu milih dan menyukai nyanyiannya. Selama pemerintah bertanggung jawab atas tugasnya - meskipun banyak kekurangan - kita biarkan mereka bekerja. Di jaman manapun di republik ini, tak pernah ada ceritanya pemerintah bisa menjamin kita bisa makan teratur, terpenuhi kebutuhan kesehatan dan pendidikannya sendiri.

Sebagai rakyat kita harus mandiri: berfikir, bertindak dan bertanggung jawab seperti layaknya manusia dewasa. Jika ada yang demo dan protes: silakan karena mekanisme demokrasi memang memungkinkan itu semua. Tapi jika ada tanggung jawab yang membuat kita harus berjuang, bekerja dan melayani untuk membuat kehidupan keseharian lebih berarti: mari makin digiatkan, jangan loyo hanya karena BBM naik.

Gak perlu ikut-ikutan demo jika justru malah bikin macet lalu lintas dan menebar permusuhan. Gak perlu juga mendukung pemerintah yang emang gak mampu mengurus kebutuhan rakyatnya sendiri. Saya sulit mendukung SBY-JK dalam menaikkan harga BBM tapi saya juga memilih tak menyalahkan dengan membabi buta. Saya memandang dengan hati-hati, untuk lalu bertindak berdasarkan pemikiran yang saya yakini. saya tahu memimpin itu susah, tapi hari gini jadi rakyat juga lebih susah.

Dan ini uniknya, makin sulit kelihatannya hidup ini: jika kita berfikir dan bertindak positif: maka peluang akan mulai muncul dimana-mana di tempat yang tak pernah kita sangka. Ladang amal terbentang dimana-mana: menunggu tangan kita untuk mengolah dan memetik hasilnya.

Kemiskinan makin meningkat? Kesempatan emas untuk berbagi lewat sedekah. Cari kerja sulit? Saat terbaik bikin usaha sendiri. Bensin mahal sehingga motor gak jalan? Naik sepeda justru bikin badan sehat. Makanan mahal tak terbeli? Puasa sunnah adalah ibadah terindah.

Tetaplah positif. Seburuk apapun situasinya. Insya Allah keberuntungan akan menyertai. Allah menyayangi hamba-Nya yang menjadi bagian dari solusi, bukan yang jago nambah masalah.