Mybothsides

Tuesday, April 15, 2008

Jika Jadi Orang Kaya

Seorang sobat lama bertanya pada saya,"Rief, jika suatu hari nanti engkau menjadi sangat kaya: apakah kepribadian dan dirimu akan berubah sesuai dengan jumlah kekayaanmu itu?"

Saya tegas menjawab,"Tidak, tidak akan ada yang berubah kawan. Sejak awal saya sudah membiasakan diri untuk kaya, secara mental sobatmu ini telah siap kaya. Bagaimana tidak? Saya membaca majalah Fortune, Time, Business Week - bacaan orang kaya - meskipun beli eceran atau mesti nunggu bekasnya nongol di shopping centre. Saya juga kemana-mana disopirin setiap naik mobil, baik mobil kantor warna oranye yang tanpa AC ataupun bis angkutan umum: sorry aja, saya tak pernah nyopir sendiri. Hmmm, karena emang belum lihai nyopir soalnya. He he he..."

Sobat saya ingin menyela, tapi langsung saya dahului,"Oke, mungkin bukan itu jawaban yang kau maksudkan. Kamu berfikir bahwa kekayaan akan membuat kita pelan-pelan jadi sombong, egois, semena-mena dan sok kuasa. Don't worry, saya tetap tak akan berubah. Beberapa orang telah menuduh saya arogan meskipun saya sudah ngaku secara lahiriah miskin. So, emang ada bakat arogan di diri saya, jadi pantes dong jika suatu hari saya kaya. Dan ya, saya egois jika berbicara menyangkut idealisme. Saya selalu ingin semena-mena terhadap kebatilan dan sok kuasa terhadap kedholiman. Penginnya sih begitu, tapi ya itu tadi: berbakat kaya dan menjadi kaya sebenarnya adalah hal yang berbeda."

Sobat saya mulutnya sudah terbuka siap melontarkan beberapa kata, tapi saya langsung nyerocos,"Ya, saya paham maksudmu. Kamu mau menuduhku sok bagi-bagi duit, sok kelebihan harta, sok sedekah: padahal hidup masih banyak kekurangan dan kemana-mana cuma naik motor doang. Oke, kelak jika kekayaan itu hadir: saya tetaplah orang yang sama: yang akan sok bagi-bagi, sok ngasih, sok sedekah. Toh, kamupun akan berpendapat: lihat itu mentang-mentang kaya bagi-bagi harta. Jadi semua yang dilakukan saat saya masih miskin maupun setelah kaya tetap saja salah di matamu: lalu buat apa saya mendasarkan yang akan saya lakukan dari sudut pandangmu, dari sudut pandang orang lain. Hanya satu yang sah: sudut pandang Tuhan."

Sobat saya mengacungkan tangannya memaksa bicara, saya sigap menutup mulutnya sambil bersabda,"Mau menuduhku sok spiritual kan? Walah Bro, kita ini masih sama-sama miskin mbok bersyukur saja bareng-bareng. Tak usah sibuk menyalahkan orang lain, tak usah ribut menggunjingkan dosa orang lain. Lebih baik bercermin, beristighfar."

Sobat saya marah, mukanya merah padam, mengibaskan tangan saya dan dengan nada tinggi berucap,"Kamu sok tahu. Tadi aku mau ngobrol tentang kekayaan soalnya butuh mau pinjem uang kamu malah diajak ngomyang ngalor ngidul sok ngonsep. Ada nggak dua ratus ribu, sini pinjem dulu."

Saya melongo,"Lho, aku kan belum kaya Broooo..."

Thursday, April 10, 2008

Budak Akal

Apa yang kita sebut sebagai tempat pembuangan sampah terakhir bisa jadi adalah ajang jamuan makan malam Saudara-saudara kita di jalanan. Apa yang kita sebut sebagai barang bekas tak terpakai bisa jadi adalah barang terbaikyang dimiliki oleh seseorang yang menemukannya di selokan. Apa yang kita sebut uang recehan bisa jadi adalah harta termahal Saudara-saudara kita yang tak pernah memegang uang kertas.

Apa yang kita sebut kemewahan bisa jadi adalah sampah di mata Tuhan. Apa yang kita sebut amal sholeh bisa jadi adalah kesia-siaan di mata Tuhan. Apa yang kita sangka kecerdasan bisa jadi adalah kebodohan di mata Tuhan.

Akal dan pikiran kita cenderung menipu hati nurani kita, begitu terbatas tapi sok mengetahui segalanya. Hanya iman dan kesediaan hati untuk selalu merasa kurang beramal dan terlalu banyak berdosa yang akan menyelamatkan kita dari kesia-siaan menjalani hidup sementara ini. Jangan hanya percaya pada akal dan pengalaman: akan lebih indah jika kita lebih sering bercermin pada hakikat keberadaan kita yang tak kekal.