Mybothsides

Sunday, March 30, 2008

Kurang Wawasan



Saya nemu berita ini di detik.com, dan sebenernya pengin cuek aja setiap kali melihat berita anggota DPR yang komentar sesuatu tapi jadi aneh karena nggak nyambung. Tapi entah kenapa - mungkin saya sedang sebel sama yang sok mewakili rakyat di DPR ini - saya harus menuliskan pendapat saya disini sebagai rakyat.

Oya, sebelumnya saya mesti bilang saya bukan pendukung atau pembela SBY. Bukan saudaranya atau bagian dari Partai Demokrat. Saya pembela logika dan akal sehat. Dan ya, saya termasuk yang mengacungkan dua jempol untuk film Ayat-ayat Cinta yang ditonton bareng-bareng itu: secara kualitas penyajian, maupun secara hasil bisnisnya. Biar gak salah paham.

Adalah kurang wawasan jika menyebutkan bahwa apresiasi Presiden, Wapres dan lebih dari 80 duta besar dari negara sahabat yang menonton AAC dianggap sebagai tidak adanya empati dan menyakitkan rakyat.

Ini apresiasi yang luar biasa dari seorang kepala negara terhadap kesuksesan sebuah film yang telah mendatangkan 3,5 juta penonton (rekor terbanyak), mengkomunikasikan nilai-nilai kebaikan Islam kepada dunia dan SBY sendiri bilang inilah salah satu bukti riil creative economy yang sedang coba dikembangkan di negeri ini. Lihatlah bahwa SBY pun punya visi tentang potensi ekonomi dunia film untuk menyumbang pendapatan negara, entah lewat pajak tontonan atau yang lain. Dan masa depan ekonomi negeri ini, akan sangat ditentukan dari keberhasilan kita membangun creative economy.

Kesuksesan AAC ini yang akan direnungkan dan dibikin strateginya di kabinet sehingga bisa diaplikasikan di bidang kreatif yang lain sehingga bermanfaat buat rakyat banyak, bukan sekedar cerita filmnya Mas DPR... Paham gak sih? Gaul dong (keluh!)

Dan yang ditonton pastinya bukan sembarang film. Jika para petinggi negara nonton film horor yang wagu bareng-bareng, boleh deh kita kritik dengan keras. So, anggota DPR yang beginian sebaiknya belajar lebih banyak kalau ingin terpilih lagi di 2009.

Empati kepada rakyat tidak boleh dimonopoli pengertiannya hanya dari satu sisi apalagi sisi politik doang, kita harus melihatnya secara lebih luas sehingga empan papan. Misalnya: mengembangkan industri pesawat terbang bukan berarti anti rakyat yang naik sepeda, men-support industri kreatif bukan berarti tidak peduli harga yang membubung tinggi. Kalo semua itu disikapi hitam putih ya repot. Rakyat kita sudah makin cerdas lho Mas, masa' wakilnya sedangkal itu pemahamannya.

With all respect, apalagi jika wawasan cekak dan sok membela rakyat dengan argumentasi yang wagu: please dong ahhh...

Saturday, March 29, 2008

Buku Kedua yang Lahir Pertama


Siapa yang bisa mengerti kemana takdir akan membawa kita? Buku Jualan Ide Segar yang sedang saya tulis berat banget rasanya, perjalanan itu telah sampai di halaman 192 dari sekitar 250 halaman yang saya targetkan. Molor dari jadual saya yang harus kelar 21 Maret kemarin.

Di sela-sela kebuntuan otak saya, berkelebat sebuah ide tak diundang (kayak jaelangkung aja!) Dan saya ikuti aja kemana ide sialan itu membawa saya, saya benamkan diri dalam-dalam menyelami apa dan bagaimananya, saya bongkar catatan-catatan lama, saya diskusikan dengan beberapa teman, saya koreksi berulang-ulang, lalu hadirlah sebuah buku yang tak pernah saya bayangkan: ia nongol begitu saja dengan kurang ajar.

Buku ukuran 16x23 cm setebal 190 halaman yang berisi kumpulan catatan harian saya (offline dan online) ini pun selesai saya siapkan, pas tanggal 21 Maret 2008. Dummy-nya telah beredar untuk saya mintakan komentar beberapa teman. Saat ini saya masih negosiasi dengan salah satu penerbit yang kebetulan juga teman baik saya untuk proses editing dan produksinya. Jadual launching-nya belum ditentukan, masih nunggu itungan weton yang tepat. Wa ka ka kaa...
Rencana judul bukunya: Tuhan Sang Penggoda. Terima kasih untuk Kekasih Kecil saya untuk sumbangan judul buku ini. Biar gak terlalu penasaran, saya kutipkan kata pengantarnya di sini:

Pengantar
Tuhan Sang Penggoda
Ini bukan buku memoar atau biografi, sama sekali bukan. Emangnya saya siapa kok berani-berani bikin biografi? Ini juga bukan tulisan ilmiah, novel apalagi kumpulan puisi. Atau Teka-teki Silang. Anda tahu lah bedanya. He he he...
Ini hanyalah cermin kusam atas perjalanan yang telah saya tapaki selama 33 tahun, jumlah usia yang menurut saya masuk dalam kategori keramat. Gak ada alasan khusus kenapa saya menyebutnya keramat, mungkin karena angkanya sama: 33. Jadi jangan kecewa jika banyak hal keramat dalam hidup kita ternyata tak jelas asal usul maupun konsepnya. Misalnya perusahaan yang saya dirikan bareng teman-teman - Petakumpet namanya - juga sering bikin kecele orang. Saat ditanya mengapa namanya Petakumpet, saya jawab gak ada alasannya. Lho kok? Kok lho, saya jujur kok emang awalnya nama lucu itu hanya terlintas begitu saja.
Mungkin ini lebih pas disebut kumpulan catatan harian karena sebagian content-nya mengambil tulisan saya di blog, sayapun melengkapinya dengan catatan harian offline yang mulai saya tulis saat masih kuliah di tahun 1998. Buku ini saya maksudkan sebagai kumpulan puzzle pemikiran sehari-hari yang saya upayakan bisa membentuk gambaran besar mengenai upaya mewujudkan impian kita yang paling sejati.
Edisi pertama yang hadir dalam bentuk buku on paper yang bisa dipegang dan dibaca dimana-mana – termasuk di toilet atau kuburan – sebagai upaya sharing saya dengan Anda semua para pembaca tercinta yang yang lebih nyaman untuk menikmati membacanya secara offline. Untuk online edition-nya, saya sedang mencari cara untuk menyajikannya dengan teknologi yang lebih manusiawi, sambil menunggu hadirnya hardware e-book sehingga tak hanya bisa dinikmati di depan layar monitor saja.
Dalam banyak segi, saya yang sok jadi editor dengan sadis telah melakukan proses deleting yang brutal untuk materi tulisan yang saya anggap tak menyokong ide besar yang dibawa buku ini. Ratusan jam dengan bahagia saya habiskan untuk menambahkan lagi beberapa cuatan ide yang membanjir saat proses penyusunan materi dan editing berlangsung, sayapun berusaha membatasi ide-ide yang tumpah tapi – entah bagaimana – tumpahan itu dengan pas mengisi ruang-ruang kosong puzzle yang telah tersusun.
Dengan upaya ini, semoga Anda para pembaca tercinta menemukan tautan benang merah yang kuat dari setiap keping judul yang hadir di masing-masing babnya. Tulisan di dalam buku ini disusun tidak urut waktu tapi urut tema bahasan. Saya membagi tulisan ini dalam 4 bagian besar: Mencari Jalan Pulang yang berisi proses berliku dalam pencarian diri yang sejati, Menuju Batas Langit yang berisi upaya-upaya untuk menghasilkan gagasan-gagasan besar, Mencari Rumah Tuhan yang mengungkap upaya pencarian spiritual dan pemahaman atas takdir Tuhan dalam hidup keseharian dan Menikmati Pelangi Kehidupan yang memotret hal-hal sederhana yang penuh makna dalam hidup ini. Masing-masing bab berbicara dalam satu bahasan khusus: ada yang ringan, yang berat, yang lucu juga tidak ketinggalan: yang kurang ajar.
Oya, mungkin Anda bertanya mengapa judulnya Tuhan Sang Penggoda? Mmm.. Tolong dilanjutin baca isinya aja deh. Ini kan cuma pengantar, masa' saya harus ceritakan semua di sini?
Kekayaan makna yang hadir akan mencerahkan jika Anda berinteraksi sendiri dengannya.
Menubrukkan pemahaman Anda dengan ide-ide dalam tulisan ini adalah cara terbaik untuk menemukan substansi makna dan kandungan rahasia hidup yang saya maksudkan.
Selamat menikmati igauan seorang blogger yang terus berusaha menguak rahasia mewujudkan mimpi tertinggi dalam hidup dengan tak berhenti mencari jalan terbaik untuk mati. Karena jika kita tak siap mati, kemungkinan besar kita juga tak siap untuk melanjutkan kehidupan.
Yogyakarta, 21 Maret 2008

Friday, March 21, 2008

Tribute to Myself

33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33
33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33
33 33 33 33 33 33 33 33 33 33 33

Thursday, March 20, 2008

Tribute to Mr. Jobs


What can I say? You deserve it, Mr. Jobs. Congratulations :)
(Image from www.fortune.com)

Wednesday, March 19, 2008

Berfikir

Orang-orang yang berfikir adalah mereka yang senantiasa gelisah. Kegelisahan itu sendiri adalah bukti adanya kedinamisan berfikir. Segala sesuatu yang merupakan hasil dari pemikiran harus terus dipertanyakan dan diaktualisasikan dengan konteks yang juga selalu berubah.

Seorang pemikir juga harus mempunyai keberanian untuk – jika diperlukan – menabrak pakem atau aturan yang membelenggu kebebasannya. Bahkanpun jika ada ajaran agama yang tidak logis (atau menurutnya tak logis) tetap akan dipertanyakan dengan dasar-dasar yang akurat dan bukan sekedar protes membabi buta.

Seorang pemikir, kadangkala juga terpaksa berhadapan dengan pendapat umum tentang suatu kebenaran. Kebenaran yang dibawa seseorang tidak jarang bertentangan dengan kebenaran banyak orang. Ini tidak perlu dirisaukan. Yang penting adalah bahwa masing-masing pihak saling menghormati dan senantiasa terus mencari kebenaran yang sejati.


Untuk menjadi seorang pemikir, mungkin bagus jika memulainya terlebih dahulu sebagai pengamat. Ia mengamati dengan cermat segala hal yang menjadi ladang pemikirannya: bisa secara langsung atau lewat sumber-sumber lain yang relevan (buku-buka, data, informasi pihak lain, dll.)

Dari pengamatan itu, data dan fakta diformulasikan, di-cross check dan dikronologikan. Kemudian ditarik hal-hal substansial yang menjadi ujung benang merahnya. Semacam metode ilmiah yang lebih praktis.

Proses ketertarikan seseorang menjadi pemikir, biasanya dimulai dari hal-hal yang kecil yang unik dan membawa suasana fun. Misalnya: senang pada bacaan-bacaan ringan yang tak membuat dahi berkerut. Jika proses ini berlanjut, ia harus mulai merambah hal-hal mendasar, ilmu-ilmu beneran sebagai pijakan proses berfikirnya. Proses ini tentu saja tak sebentar, masing-masing orang berhak menentukan tahapannya sendiri dan memasukkan input yang terbaik untuk perkembangan pemikirannya.

Dan tentu saja tak setiap orang harus jadi pemikir. Ada sunatullah yang mengatur peran dan posisi sosial tiap-tiap manusia supaya kehidupan bisa terus berjalan. Seorang pemikir tak memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada orang yang tak suka berpikir. Yang harus dikembangkan adalah sikap toleransi dan saling menghormati.

Tapi barangkali, seorang pemikir yang gelisah adalah suatu kutukan. Adakah kebahagiaan yang bisa diperoleh dalam kegelisahan? Ataukah kegelisahan yang terus menerus ini akan menemukan kebahagiaan di ujungnya?

Entahlah, wallahu ’alam bis shawab...

Thursday, March 13, 2008

Virus Ayat-ayat Cinta



Saya belum baca bukunya, tapi sudah nonton filmnya. Nice movie, sebuah upaya menunjukkan Islam yang manusiawi. Upaya untuk mem-branding Islam dengan cara yang cerdas dan soft. Kerja keras Hanung Bramantyo dan tim produksi Ayat-ayat Cinta untuk bermain di ranah abu-abu menyangkut pemahaman dan komunikasi nilai-nilai Islam yang universal patut diacungi jempol. Bagaimana di film ini digambarkan konsep Islam yang sempurna seringkali ditutupi oleh umatnya sendiri yang - mau gimana lagi - toh hanya manusia biasa.
Hmm, dasarnya memang novel Ayat-ayat Cinta sudah kuat konsep ceritanya - ini pendapat dari orang yang belum membaca - terlihat pada alur dalam filmnya yang begitu terjaga. Yang menarik, poligami ditampilkan dalam wajah yang 'lain'. Saat bukan sang suami yang menginginkan poligami tapi justru istrinya. Inipun bisa kontraversi dan bikin LSM wanita mencak-mencak: tapi inilah opsi dan pendapat yang harus juga dihargai. Meskipun saya bisa memahami alasan mengapa poligami bisa terjadi, toh itu tak mengubah pendapat saya bahwa poligami lebih baik tidak dilakukan untuk menjaga hati wanita yang kita cintai sekaligus hati kita sendiri.
Juga ada adegan ciuman di bibir sepersekian detik yang mungkin bisa dibilang vulgar jika menyangkut Islam, meskipun - di film ini - dilakukan oleh suami istri. Mmm... tapi inilah resiko yang menurut saya memang layak ditempuh, karena jika Islam digambarkan terlalu suci orang justru akan ogah menontonnya. Kalo mau mendapat materi dakwah - yang belum tentu entertain - ya mending ikut pengajian di mesjid aja yang jelas halalnya. Karena tanpa aspek entertain yang mengantarkan pesan Islam sehingga masuk di hati tanpa terasa dicekoki: dakwah bakal hambar, sepert sayur yang hanya dikasih garam. Bumbunya ketinggalan.
Ada sih sedikit catatan: poster film ini cenderung biasa-biasa saja seperti film yang lain, sayang sebetulnya karena banyak hal bisa digali sebagai bahasa visual yang unik dan menarik menyangkut tokoh maupun setting Mesir dan keindahannya.
Setelah Naga Bonar Jadi 2, mungkin ini film Indonesia yang masuk dalam perhatian khusus saya. Saya berharap akan ada lagi film seserius ini yang masuk daftar wajib tonton. Saya sedang menunggu Laskar Pelangi: satu lagi film yang berangkat dari novel sukses.
Semoga negeri ini makin kaya dengan film yang mendewasakan mental dan membangun karakter, tak sekedar banjir sinetron yang mendidik bangsa kita untuk konsumtif dan memenuhi hidupnya dengan mengkonsumsi sampah batin tiap hari...

Wednesday, March 12, 2008

Bincang-Bincang Wirausaha

Media Pressindo – Gramedia – Smartpreneur Club Penerbit Media Pressindo, bekerja sama dengan Smartpreneur Business Club dan Toko Buku Gramedia cabang Sudirman Yogyakarta akan menyelenggarakan Bincang-bincang Wirausaha. Acara tersebut akan dilaksanakan berturut-turut selama bulan Maret 2008, Terbuka untuk Umum dan GRATIS. Berikut Jadwalnya:

16 Maret 2008
Menghadirkan Indra Ismawan S.E (Penulis buku Langkah Awal Buka Usaha). Indra Ismawan juga adalah Direktur Media Pressindo Group, sebuah group penerbit dan percetakan di Yogyakarta dan Firmansyah Budi Prasetya,SH (Direktur HomyGroup dan TelaKrezz). Firmansyah, wirausahawan yang baru berusia 26 tahun ini membangun bisnis TelaKrezz nya hingga memiliki 260 outlet. Firmansyah adalah peraih ISMBEA 2007 untuk wirausahawan muda kreatif dan inovatif dari menteri Koperasi dan UKM.

23 Maret 2008
Akan dihadiri oleh Tjahyo Harry Wilopo (Penulis buku Jurus Jitu Membangun Merek Untuk UKM) dan M. Arief Budiman (Managing Director Biro Iklan Petakumpet), M. Arief Budiman berhasil membawa PT. Petakumpet menjadi salah satu dari 9 UKM Terbaik Djie Sam Soe Award 2006.

30 Maret 2008
Akan menghadirkan Tommy Suprapto, M.Si (Penulis buku Teknik Jitu Negosiasi dan Persuasi) Tommy Suprapto adalah staf pengajar Multi Media Training Centre Yogyakarta. Rianti Wulandani (Presdir perusahaan kontraktor dan general trading, PT Parama Adhirajhasa, Solo).

Seluruh acara tersebut dimulai pada pukul 15.30 WIB di Lantai 4 Toko Buku Gramedia Jl. Sudirman Yogyakarta , terbuka untuk umum dan gratis. Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Didik Adi Sukmoko (08882855643).

Tuesday, March 11, 2008

Mengapa Warren Buffet Terkaya?


Tolong koreksi saya jika salah, insting saya mengatakan bahwa naiknya kekayaan Warren Buffet secara signifikan sebesar 25% sehingga mengungguli Carlos Slim dan Bill Gates semata-mata karena kesediaannya berbagi yang luar biasa tahun kemarin. Persisnya sebesar 85% dari total kekayaannya. Ini adalah filantropi terbesar di dunia, bahkan lebih besar dari Bill Gates. Jadi wajar saja dengan matematika Tuhan yang tak terbatas nilainya, nilai saham dan nett income Berkshire Hathawaypun melonjak tinggi sementara krisis bursa efek sedang bertamu di Amerika dan seantero Eropa. Saat semua perusahaan tambah miskin, Berkshire Hathaway malah kinclong. Saat perusahaan lain mengetatkan ikat pinggang dan mengurangi pengeluaran tahun kemarin, Buffet malah menyumbangkan hampir semua kekayaannya.
Dan lihatlah hasilnya yang bagai bumi dan langit, now The Old Man is now The Richest Man on This Planet. Congratz Kakek Buffet, terima kasih telah kau ajarkan sekali lagi rahasia untuk menjadi kaya luar biasa - ilmu yang dipahami oleh para alkemis - yang begitu sederhana: mulailah dengan berbagi...

Monday, March 10, 2008

Sultan: Itu Manuver Politik


Hmm.. begitulah headline KR hari kemarin (10 Maret 2008) ketika menjelaskan mengapa beliau tidak bersedia dipilih lagi menjadi Gubernur DIY. Katanya agar pemerintah pusat mempercepat RUUK (Rencana Undang-undang Keistimewaan) DIY. Dan ya, boleh saja Pak Sultan merencanakan strategi seperti itu..

Ketika ribuan kepala desa unjuk rasa agar Gubernur Jogja ditetapkan dan bukan dipilih, ketika kalangan akademisi mulai melihat secercah cahaya demokrasi, ketika mahasiswa merasa Sultan mereka pro perubahan ke arah keterbukaan dan mulai melepaskan aspek feodalisme dalam tata pemerintahan, ketika beberapa balon Gubernur sudah mulai menabung dan kampanye diam-diam, ketika partai-partai sudah mulai mengelus-elus calon..

Eh, ternyata itu semua hanya manuver politik!

Jadi kita sebagai rakyat sebaiknya jangan gumunan, jangan buru-buru menuduh Si A demokratis, Si B otoriter. Si C korupsi, Si D pahlawan. Jangan deh, banyak kalkulasi rumit di sebuah pernyataan yang kita tak pahami asbabun nuzul-nya. Kita lihat baik-baik, telaah pelan-pelan dan jangan berharap terlalu banyak.. biar gak kaget, lalu kecewa. Biar gak teriak penuh kemenangan tapi sedih di akhir pertandingan.

Saya berdoa semoga Jogja hanya mendapatkan yang terbaik sebagai Daerah Istimewa.

Seperti apakah yang terbaik? Saya mengutip Sultan: jangan tanya ke saya, tanyaken saja ke rakyat Jogja keinginannya seperti apa. Ya, bercerminlah di hati nurani rakyat. Karena keinginan rakyat kita begitu sederhana.

Hanya pemimpin yang bisa bermanuver, tapi rakyat tidak. Pengertian manuver paling sederhana yang saya pahami adalah saat kita naik motor seolah-olah mau belok ke kiri dan lampu sign kiri sudah dinyalakan, ternyata beloknya malah ke kanan. Harapan saya kepada Sultan sebagai pemimpin alias sopirnya bis Jogja yang membawa rakyat ke masa depan: semoga tidak sering bermanuver, nanti penumpangnya kaget-kaget, khawatir, pusing-pusing...

Cuaca Aneh dan Bodi Ringkih

Beberapa hari ini, cuaca makin tak menentu. Hanya dalam hitungan kurang dari satu jam, dari panas terik lalu turun hujan, mendung lagi, terik lagi dan hujan (lagi). Cuaca panas terik membakar tapi badan basah kuyup diguyur air dari Tuhan. Akibatnya tubuhpun gampang remuk redam lantaran bingung beradaptasi. Yang pilek lah, batuk lah, pusing atau meriang. Sebenernya tidak sulit membentengi tubuh kita dari akibat kebocoran lapisan ozon ini: banyak makan yang bergizi dan banyak isirahat (paling baik ya cukup tidur).

Tapi cilakanya, namanya orang sakit ya gak doyan makan. Dan lantaran didera pekerjaan, tidurnya pun didiskon habis-habisan. Sehari bisa dapet 3-4 jam udah syukur luar biasa. Jadi, tubuh yang terus dihajar daya tahannya pun lama-lama ngambek. Tak berfungsi optimal. Gampang capek, gampang lemes. Gampang ambruk.

Dan gejala ambruknya kondisi fisik kita adalah alarm alamiah yang harus kita perhatikan benar-benar jika tak ingin segera kadaluarsa dari dunia ini. Untuk apa kaya raya kalo kekayaannya habis buat beli obat? Untuk apa sukses luar biasa kalau kita hanya bisa menikmatinya di ruang rawat inap rumah sakit meskipun VIP?

Jadi, untuk sementara udahan dulu yaa.. Saya mau tidur dulu. Saya ingin terus menulis karena saya mencintai teman-teman pengunjung blog ini tapi tentu saya lebih ingin mencurahkan cinta saya itu dengan tubuh yang segar, yang sehat, yang penuh rasa syukur...

Sunday, March 2, 2008

Mr. Super Genius Memory


Coba baca tulisan ini sejenak:
PEMEGANG REKOR MURI: PRIA INDONESIA PERTAMA YANG MAMPU MENGINGAT 1 ( SATU ) SET KARTU DALAM WAKTU 1 MENIT 48 DETIK.

Satu lagi pemenang dalam kompetisi daya ingat yaitu Irwan Widiatmoko adalah pria Indonesia yang mampu mengingat 1 (satu) set kartu dalam waktu 1 menit 48 detik, pada tanggal 24 Oktober 2002.

Dan, keajaibannya adalah: manusia super ajaib ini teman akrab saya sejak SD dan SMP di Rembang dulu. Saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan kegembiraan saya saat menemukan sahabat yang seolah hilang ditelan waktu, dan tahu-tahu: ada sms nyelonong dari Mr. SGM ini saat sedang maen ke teman SD saya satunya lagi yang juga sukses Yaqut Cholil Qoumas (sekarang Wakil Bupati Rembang).

Ok, sedikit mengenang sejarah. Saat SD itu hampir tiap beberapa hari sekali saya maen ke tempat Irwan, yang paling sering karena pengin makan jambu atau maen tulup-tulupan. Juga belajar kelompok. Saat mendaftar di SMP 2 pun kami termasuk sekelompok anak yang berangkat mendaftar sendiri tanpa ditemani orang tuanya. "Ditemenin kayak anak kecil aja", begitu pikiran 'nggaya' masa kecil dulu.

Belajar kelompok pun berlanjut sampai SMP, dan kebetulan anggotanya emang serius belajar. Setiap jadualnya belajar, saya sering jalan kaki dari rumah nenek ke ke rumahnya sekitar 20 menit. Saya sudah agak lupa siapa-siapa anggotanya dulu selain saya dan Irwan, sepertinya ada Sri Hardiono (Mr. Panjul), aduh siapa lagi ya lainnya. Tapi saya yakin Mr. Super Genius Memory masih mengingat mereka semua, gak kayak saya yang lebih pas disebut Mr. Super Lupa Mengingat ini.

Dan kitapun lulus SMP dengan nilai aman, di atas rata-rata (mungkin karena banyak vitamin dari jambu yang sering kita makan langsung sambil nangkring di atas pohon, he he he). Tanpa kesulitan, Irwan mendaftar di SMA 1 dan saya di SMA 2. Kita masih sering kontak sampai akhirnya pisah kota saat saya masuk UGM di Jogja dan dia ke ITS Surabaya.

Dan hilanglah dia si anak cerdas dari perjalanan saya sesudahnya, sampai ketika kemarin itu: sudah jadi Super Jenius! Waa saya rak yo seperti mendapat durian runtuh to? Mungkin Rabu atau Kamis ini saya akan ketemu dengannya di Jakarta. Kebetulan barengan ada meeting ADGI .

So, that's the power of the past. Tanamlah kebajikan dimanapun kapanpun, kita tak pernah tahu kapan dan dimana akan menuai. Hal-hal terbaik di masa lalu telah ditanam oleh teman saya ini dan dia telah mulai menuainya. Belajar lagi kepadanya adalah keindahan yang sungguh saya akan syukuri: demi masa kecil yang tak terulang dan masa depan yang penuh keajaiban.
(Source foto: istimewa)