Mybothsides

Tuesday, September 2, 2008

Melepas Topeng


Pada dasarnya, kita ini hanyalah manusia biasa. Segala jabatan, kekayaan, kesuksesan itu cuma tempelan, aksesoris, topeng. Tapi saking bangganya kita dengan topeng-topeng itu: kita jadi takut memperlihatkan wajah kita yang asli. Diri kita yang sebenarnya.
Misalnya: lho Mas, katanya bisnisnya miliaran kok masih naik motor? Eh, masa' Sekretaris PPPI Jogja makan di angkringan pake celana pendek? Pssst, kemarin aku lihat Ketua ADGI Jogja beli majalah bekas lho di shopping.. Mas Arief ngapain disini? Sedang nunggu bis kota? Ah, Taksi kali?

Hal-hal yang seperti itu.

Jika bicara image: saya sudah lama mengatakan image itu takhayul. Terlihat seolah sukses, seolah kaya, seolah cerdas: itu tidak penting. Pada dasarnya dalam diri setiap orang, selalu ada ketidaksempurnaan. Jadi saya tak hendak membungkus kenyataan dalam kehidupan saya sebagai lambang kesuksesan. That's bullshit.

Hari minggu kemarin adalah hari yang luar biasa buat saya.

Bersama calon istri saya, kami jalan-jalan muterin Jogja. Dari Glagah Sari ke Plaza Ambarrukmo naik bus Trans Jogja. Mungkin karena salah jalur, jadi muter lewat bandara. Lalu nonton film Hancock yang keren. Dilanjutkan ke Karita naik Trans. Karena tak ada halte yang dekat, kitapun berbecak ria ke Karita. Lalu pulang lagi ke Glagah Sari naik biskota jalur 4 melewati Malioboro.

That's a wonderful day for both of us. Berapa biayanya? Yang mahal hanya nonton film, Rp 50.000,- berdua. Bus Trans Jogja hanya Rp 3.000,- sekali naik, biskota Rp 2500,- sekali naik.

Tapi bukankah lebih pantas naik taksi atau naik mobil? Kata siapa? Apakah seorang Direktur tak pantas naik bis kota atau jalan kaki di atas trotoar? Apakah seorang yang 'dianggap' sukses tak boleh tampil wagu? Apakah seorang penulis buku yang judulnya pake miliaran tak boleh duduk santai makan ketan bakar bersama tukang becak di Pasar Beringharjo?
Please, deh. Kita ini terlalu lama pake topeng sehingga jiwa kita justru terasing. Jadi diri sendiri itu lebih asyik, lebih murah dan lebih membahagiakan.

4 comments:

atma said...

mas arief, itu hancock keren kayaknya bukan karena filmnya deh, tapi dengan siapa nontonnya :P (hehehehehe)

apep said...

:D

iqbal_rekarupa said...

mudah2an selalu terjaga kebiasaan semacam itu mas.

alfone said...

ahahahahaha////..

pasti terpengaruh posting sebelumnya...

hayoooow...ngaku hayooow....