Mybothsides

Thursday, April 10, 2008

Budak Akal

Apa yang kita sebut sebagai tempat pembuangan sampah terakhir bisa jadi adalah ajang jamuan makan malam Saudara-saudara kita di jalanan. Apa yang kita sebut sebagai barang bekas tak terpakai bisa jadi adalah barang terbaikyang dimiliki oleh seseorang yang menemukannya di selokan. Apa yang kita sebut uang recehan bisa jadi adalah harta termahal Saudara-saudara kita yang tak pernah memegang uang kertas.

Apa yang kita sebut kemewahan bisa jadi adalah sampah di mata Tuhan. Apa yang kita sebut amal sholeh bisa jadi adalah kesia-siaan di mata Tuhan. Apa yang kita sangka kecerdasan bisa jadi adalah kebodohan di mata Tuhan.

Akal dan pikiran kita cenderung menipu hati nurani kita, begitu terbatas tapi sok mengetahui segalanya. Hanya iman dan kesediaan hati untuk selalu merasa kurang beramal dan terlalu banyak berdosa yang akan menyelamatkan kita dari kesia-siaan menjalani hidup sementara ini. Jangan hanya percaya pada akal dan pengalaman: akan lebih indah jika kita lebih sering bercermin pada hakikat keberadaan kita yang tak kekal.

4 comments:

Dermawan Muhammad said...

SALUT!! Kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah segala-galanya.

nico wijaya said...

Setuju saya!

husain assadi said...

setuju, secara global kesadaran ini tertuang dalam satu buku menarik yang berjudul "global modernization", dimana yang disebut "modern" bisa berasal dari yang tradisional dan modern. http://books.google.co.id/books?id=sXeXhHi0uSYC&dq=global+modernization&pg=PP1&ots=T0jl4FCere&sig=hcB51-93DdD0eKXnJzMHfCjt3Ao&hl=id&prev=http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:en-US:official&hs=zRa&q=global+modernization&btnG=Telusuri&sa=X&oi=print&ct=title&cad=one-book-with-thumbnail#PPA55,M1

ceria said...

#jleb, semoga kemilau dunia tak melalaikan kita dari kehidupan yang lebih kekal (akhirat)