Mybothsides

Wednesday, December 31, 2008

Tahun Berganti (Lagi)

Tak ada catatan khusus untuk mengakhiri tahun ini. Tak ada rencana detail untuk bergerak setelah jendela tahun baru terbuka. Ada hari-hari dalam pergantian waktu dimana saya biarkan semuanya bergulir alami, mengikuti arah angin dan arus air yang membawanya ke suatu tempat entah dimana. Ada hari-hari dimana saya menutup mata dan membiarkan peristiwa demi peristiwa mengalir tanpa campur tangan strategic planing yang saya susun.

Saya punya mimpi. Di daftar saya ada 36 jumlahnya yang ingin saya capai. 8 diantaranya sudah tercapai, tapi sejujurnya saya tak mau terbebani seolah-olah hidup saya ini hanya untuk mengejar mimpi-mimpi absurd itu.

Saya hanya ingin bisa menikmati setiap jengkal perjalanan ini, jika pun itu berarti seperti membuang naskah teks pidato yang telah disiapkan seminggu lamanya. Saya lebih menyukai berimprovisasi, selama saya paham betul di mana bingkai pembicaraan dalam pidato saya. Selalu ada passion dalam improvisasi, letupan-letupan bermakna dan kesegaran, tak sekedar menunduk patuh pada bunyi teks semata.

Ketika mimpi terwujud, kebahagiaan kita tentulah luar biasa. Tapi perjalanan mengejar mimpi pun sungguh berharga untuk dinikmati hikmahnya. Makanya setiap film selalu ada alur ceritanya, tak langsung sejak awal disuguhi ending-nya. Rasanya tak nikmat jika perjalanan itu tiba-tiba sampai tanpa kita tahu prosesnya.

Selamat tahun baru 1430 Hijriyah. Selamat berjuang kembali, semoga hanya yang terbaik yang kita bisa capai di tahun depan. Amien...

Sunday, December 14, 2008

Dari Spectacular Creative Sharing ADGI Jogja





Creative Economy Solusi Atasi Krisis Indonesia

ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) Jogja Chapter telah sukses menyelenggarakan Spectacular Creative Sharing di dua tempat pada Sabtu, 13 Desember 2008.

Acara yang pertama D’Edge diadakan di Akademi Desain Visi Yogyakarta (ADVY) mulai 08.30 – 12.00 WIB bertema Peran Desainer Grafis Dalam Creative Economy dengan pembicara Hastjarjo Boedi Wibowo, S.Sn, seorang alumnus ISI Yogyakarta sekaligus salah satu konseptor gerakan Creative Economy Indonesia dan dimoderatori oleh M. Arief Budiman, S.Sn, Chairman ADGI Jogja Chapter.

Acara kedua adalah Zoom In yang diadakan di Jogja National Museum mulai 14.00 – 17.00 bertema Peluang Bisnis Kreatif di Era Creative Economy dengan pembicara Hastjarjo Boedi Wibowo, S.Sn dan Firman (Pendiri Homygroup ‘Tela Krezz’) dan dimoderatori oleh Muh. Kurniawan (CEO Srengenge Ad.).

Hastjarjo dalam penyampaian materinya menegaskan pentingnya kreativitas di era sekarang ini, apalagi dunia sedang berada di ambang krisis yang berat. Creative Economy yang digerakkan oleh Sumber Daya Manusia penuh ide akan menjadi salah satu solusi penting untuk bangkit dari keterpurukan krisis. Karena Creative Economy menempatkan SDM sebagai human capital, jadi modal terpenting dalam era sekarang ini adalah manusianya dan bukan semata-mata uang (financial). Jogja dengan kekuatan di local culture-nya diyakininya menyimpan segudang bakat kreatif yang jika dimanfaatkan maksimal akan menjadi kekuatan ekonomi baru yang terus meningkat. Sampai pertengahan 2008, sumbangan kreatif ekonomi pada GDP Indonesia adalah 6,15% atau setara 104 trilyun rupiah. Sebuah angka yang luar biasa besar.

Firman yang diundang khusus oleh ADGI Jogja untuk memberikan pencerahan pada para desainer grafis sangat antusias menyampaikan materinya yang bertema Creativepreneur dengan mendirikan franchise Tela Krezz. Franchise snack unik berbasis ketela ini melabeli dirinya sebagai ‘bukan singkong biasa.’ Muatan bisnis dan sistem organisasi yang matang membuat Tela Krezz berkibar dengan 700 outlet di seluruh Indonesia dan omzet miliaran rupiah per bulan. Firman menunjukkan sudut pandang yang benar-benar fresh bagi audiens yang sebagian besar waktunya berkutat di layar monitor memelototi elemen-elemen grafis.

Kedua acara yang disupport oleh ADVY, JNM, Dagadu, Petakumpet, Syafaat, Homygroup, Srengenge dan Rekarupa ini dibanjiri oleh anak-anak muda kreatif Jogja tersebut berlangsung meriah, gayeng dan padat berisi. Para peserta mengaku mendapat banyak pencerahan dan tidak sabar untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu yang baru saja didapatkannya langsung dari tangan pertama alias para expert di bidangnya.

Sebagai asosiasi profesi yang telah berdiri pada 19 Juli 2008, ADGI Jogja sangat berkomitmen menyelenggarakan acara-acara sejenis untuk membuka wawasan masyarakat agar lebih kreatif dalam menyikapi setiap permasalahan kehidupan. Kreativitas tidak hanya identik dengan seniman atau desainer saja, tapi akan terus didorong sehingga menjadi the way of thinking untuk selanjutnya the way of live. Dengan berfikir kreatif, setiap tantangan akan menjadi peluang termasuk krisis yang kita alami sekarang. Selalu ada peluang di setiap krisis, semua kembali kepada kreativitas kita untuk mencarinya.

Tuesday, December 9, 2008

3 HARI LAGI: Spectacular Creative Sharing di Jogja


ADGI Jogja akan menyelenggarakan acara ZOOM IN dan D'EDGE pada Sabtu, 13 Desember 2008, detail acara terlampir dengan pembicara utama Mas Hastjarjo B. Wibowo. Silakan untuk menyebarkan info ini kepada yang membutuhkan, sebagai media untuk saling mencerdaskan. Dan jangan lupa, buat all member ADGI di seluruh Indonesia acara ini FREE, tinggal daftar ulang aja dengan menghubungi Iqbal 08179417881 (lampirkan scan atau fotokopi kartu anggota ADGI chapter manapun seluruh Indonesia).

Monday, December 8, 2008

Waktunya Install Ulang

Badan saya remuk. Dihajar perjalanan panjang dan tugas yang tak habis-habis. saya telah dholim pada diri saya sendiri, tubuh saya yang ringkih menjerit. Badan saya menggigil, mata saya merah dan batuk hadir bersahut-sahutan dengan deras hujan yang menyapu pelataran.

Sepulangnya saya dari Kongres PPPI di Bandung kemarin, tubuh saya pun menyerah. Saya ambruk, menerima resiko atas pemaksaan kemampuan yang keterlaluan. Saya terlalu memforsirnya. Padahal minggu sebelumnya saya sudah muntah-muntah dalam perjalanan dari Bandung ke Purwokerto via darat. Padahal minggu-minggu sebelumnya saya sudah mendekam di kamar hotel di Malang, menggigil karena demam di sela-sela memberikan workshop Indosat.

Ya, inilah pelajaran yang harus saya terima dengan besar hati. Saat malam-malam yang dingin dan basah saya sibuk batuk tak henti-henti. Tak sedikitpun mata bisa terpejam, capek sekali. Sebegitu capeknya sampai saya tertidur karena capek, bukan karena ngantuk. Tubuh lemas sekali tak mau digerakkan, ngilu-ngilu. Dan ya, di saat seperti ini saya memang harus meninggalkan segala yang berbau pekerjaan.

Hmmm... tidak mudah membawa mimpi yang menyalakan hasrat kita. Salah-salah, adrenaline yang memancar akan merusak hardware-nya, ya tubuh saya ini. Dengan software canggih super cepat yang siap ngegas tapi nyatanya hardware gak support. Lantas hang. Sehingga perlu restart, atau install ulang, atau format ulang.

Mungkin yang terakhir lebih cocok. Agar saya terlahir lagi. Seperti Gatotkaca keluar dari kawah Chandradimuka. Dengan kesaktian luar biasa, dengan kemampuan terbang secepat kilat, dengan daya tempur yang sempurna.

Tapi Gatotkaca yang tanpa kumis. Saya tak suka kumis. Karena kumis akan menyebabkan batuk saya makin parah. Tanpa kumis pun batuknya sudah keterlaluan, menyiksa saya berhari-hari dan belum tahu kapan berhenti.

Terima kasih atas peringatan ini ya Tuhan. Semoga makin menambah syukurku atas segala karunia-Mu yang kemarin-kemarin kusia-siakan. Kesehatan adalah harta termahal, yang untuk mendapatkannya seringkali kita tak bisa menawar.

Wednesday, December 3, 2008

50 Creative Enterpreneur Indonesia Versi Swa



Entahlah mengapa nama saya ikut-ikutan masuk di Majalah Swa untuk edisi ini. Rasanya saya tak punya dosa apapun yang membuat saya harus memikul beban ini. Disms-in orang-orang, dikasih selamat, diminta makan-makan...


Saya yang sama sekali tak tahu bagaimana mekanisme pemilihannya, tak pernah diwawancarai dan sampai majalah terbitpun juga tak dikonfirmasi atau mendapat satu copy gratisan majalahnya. Saya baru tahu setelah seorang teman baik memberi tahu saya: oalah, dasar saya memang wong ndeso kurang gaul...


Jika ini karena kesengajaan, saya akan bersyukur. Jika ini karena kesalahan redaksi memuat, saya pun akan bersyukur. Jika alasan masuknya nama saya untuk menggenapi 50 orang lantaran yang tersedia hanya 49 pun, pasti saya tetap bersyukur.

Saya ini lahir gak bawa apa-apa, disalahpahami tak tahu mesti bertanya ke siapa, mau ngajak makan-makan juga gak bisa semua, biarlah saya menyingkir di pinggir mendengarkan kaset Djunaidi pelawak kuno yang sedang Belajar Menjadi Guru Ngaji...

Saturday, November 29, 2008

Belajar Dari Kampanye Promo Obama



Sebuah artikel yang menarik saya kutip dari sini

The ‘O’ in Obama

By Steven Heller


At the end of 2006, Mode, a motion design studio in Chicago, approached Sol Sender, a graphic designer, to create a logo for Barack Obama’s presidential campaign. The resulting “O” became one of the most recognizable political logos in recent history. I spoke with Mr. Sender a few days after the election to discuss the evolution of his design.

Steven Heller: How did you get the job of designing the Obama logo?

Sol Sender: We got the job through Mode. Steve Juras, a classmate of mine from graduate school is the creative director there. They have a long-standing relationship with AKP&D Message and Media, a campaign consulting firm led by David Axelrod and David Plouffe among others.

Q: Have you done other political logos in the past?

A: No, we had not.

Q: I have to ask, since many agencies that do political campaigns are simply “doing a job,” did you have strong feelings one way or the other for the Obama candidacy?

A: We were excited to work on the logo and energized by the prospect of Mr. Obama’s campaign. However, we didn’t pursue or develop the work because we were motivated exclusively by ideology. It was an opportunity to do breakthrough work at the right time in what’s become a predictable graphic landscape.

Q: How many iterations did you go through before deciding on this “O”? Was it your first idea?

A: We actually presented seven or eight options in the first round, and the one that was ultimately chosen was among these. In terms of our internal process, though, I believe the logo — as we now know it — came out of a second round of design explorations. At any rate, it happened quite quickly, all things considered. The entire undertaking took less than two weeks.

Q: How did David Axelrod, Mr. Obama’s chief strategist, respond to your initial presentation?

A: Mode handled that. My sense was that there was a lot of enthusiasm about the options we developed. I was part of a presentation with Mode and Mr. Axelrod to evaluate the final two or three options. There was a general sense that they were all good, but we felt strongly that the chosen logo was the most powerful one.

Q: Did Barack Obama have any input into the symbol at all?

A: None that was directly communicated to us. I believe he looked at the final two or three options, but I wouldn’t be able to accurately portray his reaction.

Q: What were you thinking when you conceived this idea?

A: When we received the assignment, we immediately read both of Senator Obama’s books. We were struck by the ideas of hope, change and a new perspective on red and blue (not red and blue states, but one country). There was also a strong sense, from the start, that his campaign represented something entirely new in American politics — “a new day,” so to speak.

Q: Were you responsible or cognizant of how many variations and applications were possible when you first introduced the “O”?

A: Honestly, we initially saw the mark through the lens of our work on more traditional consumer or corporate identity systems, and were concerned about it being misused. In retrospect, I think that was a narrow viewpoint. But this anxiety came before the campaign built such a strong internal design team.

Various vendors needed to reproduce the mark on signs, banners, and they needed some rules. So our initial concern was compliance and consistency. Having said that, we did think it was a strong mark — strong marks have the potential for broad successful application and viral growth — and we were cognizant of its possibilities. We saw (and visualized as part of the creative process) buttons, billboards, ads, Web banners, T-shirts and hats. We did not foresee the scope of the variations and the personal “ownership” that emerged, though.

We handed the logo and design assets off to the campaign in the summer of 2007. From that point on, everything that you’ve seen was done by the campaign, including the “demographic” variations of the logo. They also evolved the typography to uppercase, incorporated Joe Biden’s name and added a white line around the mark.

Q: Did you have any qualms about this symbol? Did you ever think it was too “branded” and “slick”?

A: We didn’t, though there were certainly instances where we sensed a need to be careful about its application. We never saw the candidate as being “branded,” in the sense of having an identity superficially imposed on the campaign. The identity was for the campaign, not just for the candidate. And to the degree that the campaign spoke to millions of people, it may have become a symbol for something broader — some have termed it a movement, a symbol of hope.

Q: Do you think the “O” had any major contribution in this outcome?

A: The design development was singularly inspired by the candidate’s message. Like any mark, the meaning and impact really come from what people bring to it.

Q: Now that Mr. Obama is President-elect Obama, do you see the “O” as having another or extended life?

A: Well, the “O” was the identity for the Obama ’08 campaign and the campaign is over. That doesn’t mean that the mark will be forgotten; I think the memorabilia from this campaign will have a long shelf life and will stand as a visible symbol of pride for people who supported the candidate and for those who see it as a representation of a watershed moment for our country. As far as having another life, I can’t say. Perhaps the 2012 campaign will hark back to it in some way.

Thursday, November 20, 2008

Di Agrowisata Malang








Selesai memberikan Workshop Internal untuk Tim Indosat Banjarmasin di Klub Bunga Resort Malang, saya berkesempatan untuk mengunjungi Agrowisata Apel di Batu Malang. Sudah lama saya ingin ke tempat ini: saya belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa pohon apel yang asli.

Hari itu saya berkesempatan melihatnya, memetik buahnya dan mejeng wagu di depannya. Sebenarnya ini kunjungan yang saya jalani dengan sedih hati karena saya sendirian datangnya, Supie seharusnya ikut bersama saya tapi tak bisa. Kekasih saya itu juga sangat ingin mengunjungi Agrowisata Apel ini, jadi saya bawakan oleh-oleh untuknya 2 buah apel yang saya petik sendiri dari pohonnya (masih lengkap dengan daunnya) dan setumpuk foto via Nokia E51 yang kualitasnya standar.


Mmmm... keinginan saya untuk bikin perkebunan buah nampaknya makin kuat setelah saya melihat hamparan pohon apel dan buahnya yang ranum menggoda.


Terima kasih buat Pak Syamsul dan teman-teman Indosat Banjarmasin yang telah mengundang saya, semoga cita-cita untuk jadi Operator Nomor 1 di Banjarmasin bisa tercapai di 2009 ini. Pasti bisa Pak, asal terus mengasah kreativitas dan baca buku Jualan Ide Segar (halllaaaahh!)

Wednesday, November 19, 2008

Jepretan di Citra Pariwara 2008


Bareng Mas Taufik Dini Adv dan Mas Lulut JWT (Agency of The Year tahun ini), semoga nular


Trio Narsis bergaya standar (ngapain dipasang fotonya disini sih?)


Lihat siapa di dalam kurungan? Anak orang bukan?


Ampun Ded, tahun depan janji dapet gold deh! Ampun malam ini cuma dapet bronze!!!


Ayu, Dedy, Langlang, saya (yang motret)

Tuesday, November 18, 2008

Bronze Itu Diukir 14 Tahun Lalu


Hari itu, 16 November 2008. Seperti de ja vu.
Kalau mau jujur sih, sebenernya bukan saya yang pantas naik panggung dan menerima piala Bronze Citra Pariwara untuk kategori Sinematografi ini. Seharusnya Mas Iman Brotoseno yang lebih pas, sutradara iklan PSA Gudang Garam 'Kemerdekaan Sejati'. Tapi kata Mas Iman nanti saja pas kategori The Best Director, dimana kita juga jadi salah satu finalisnya. Tapi ternyata tak ada metal buat kita di kategori ini, alhasil Mas Iman gak jadi naik panggung. Nasib...
Ada keharuan sejenak. Mimpi lama saat masih semester 1 di Diskomvis ISI Jogja, 1994 dulu. Membayangkan bahwa sebuah nama lucu seperti Petakumpet akan dipanggil berbarengan dengan nama besar seperti Lowe, Ogilvy, Matari, dsb untuk menerima Citra Pariwara. Membayangkan para hadirin akan tertawa mendengar nama lucu itu. Nama agency yang aneh yang entah berasal dari mana tapi dapat Citra Pariwara.
14 tahun berlalu dan kejadiannya ternyata tak persis seperti yang saya bayangkan. Tepuk tangan bersahutan saat nama Petakumpet dipanggil, lalu ditayangkan iklan TV PSA-nya dan applaus pun memenuhi gedung di Senayan City. Tak ada satupun audiens yang tertawa, jadi rasanya aneh buat saya. Apakah Petakumpet tidak terdengar lucu buat mereka? Ataukah sudah terbiasa? Atau memang sudah terkenal brand-nya mampu menyusup di sela-sela gedung tinggi Jakarta?
Terima kasih buat Tim Gudang Garam yang telah mempercayakan iklan ini kepada agency anak bawang ini (Bu Lusi, Mas Minto, Pak Hoki, Pak Is, Pak Eddy, dan lainnya), temen-temen Orange Waterland untuk produksinya yang luar biasa (Mas Iman, Mas Lance, Mbak Paquita, dan lainnya), Udin (pemeran Budi, anak SD), Tim Petakumpet (Mas Eri, Ayu, Dedy, dan lainnya), Dody Telesklebes dan yang belum sempat saya sebutkan di sini tapi saya simpan dalam-dalam di relung hati.
Tahun depan harus bisa lebih baik. Saya syukuri bronze tahun ini, saya tinggalkan ia di masa lalu. Dan masa depan harus disiapkan sejak dini: agar pulangnya bawa gold atau Agency of The Year. Saya percaya jika mimpi 14 tahun lalu bisa jadi nyata, mengapa mimpi yang sekarang tidak? Hanya doa dan kerja keras yang akan mewujudkannya.
Amien...

Thursday, November 13, 2008

Sedekah Mencegah Bala'

Sekitar dua minggu yang lalu saya kehilangan Hp saya Nokia 6300. Terjatuh saat naik bis Damri ke bandara di pagi hari yang terburu-buru saat harus berangkat ke Denpasar. Hilang begitu saja tanpa saya tahu prosesnya. Mungkin ini peringatan Allah karena saya selalu pelupa. Penyakit kambuhan yang saya masih belajar menyembuhkannya. Tapi saya marahi diri sendiri: ini karena kamu kurang sedekah. Atau karena Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik (ini sih kegeeran!).

Sayapun ganti Hp dengan Nokia E51. Allah memang menggantinya dengan lebih baik, tapi harga yang harus saya bayar lebih mahal (secara materi). Jadi saya menyetujui hikmah dari kejadian kehilangan kemarin adalah saya kurang bersedekah. Jadi saya harus lebih rajin sedekah. Case closed.

Hari Kamis, 13 November 2008 kemarin saya sholat dhuhur di masjid sebelah kantor. Sholat yang seperti biasanya. Saat saya keluar pintu masjid ada seorang penjual sandal sepatu dengan muka yang sangat letih dan kecapekan menaruh dagangannya yang berat di sebelah pintu masjid dan berkata kepada saya,"Mas, tolong saya. Saya sudah seharian belum makan, uang saya habis. Pinjami saya uang mas, saya akan bayar. Mas catat KTP saya, saya belum makan. Belilah sepatu saya mas.."

Saya lihat sandal dan sepatunya (emang waktu itu saya lagi perlu nyari sandal), tapi gak ada yang cocok karena bahan dan desainnya. Iseng saya tanya lagi,"Sandal yang ini berapa harganya?"

"70 ribu Mas, tolong saya..."

Hati saya tidak tergerak karena sandalnya emang tidak sesuai yang saya harapkan. Tapi saya ingat sesuatu: mungkin Allah yang sedang datang menyapa. Tanpa alasan yang jelas saya berikan padanya 50 ribu. 

Penjual sandal berkata,"Mas, jangan 50 ribu dong. Ini 70 ribu harganya." Saya tidak menjawab, hanya memegang tangannya bersalaman. Saya tidak mengambil sandalnya. Saya pergi.

Dan malam harinya, saya mengikuti sesi Meet The Jury Citra Pariwara. 

Saya pindah tempat duduk beberapa kali. Entah bagaimana prosesnya saya juga tidak inget,beberapa saat kemudian saya lihat Mas Lulut Asmoro (Bossnya JWT) nampak berbincang dengan seorang panitia sambil memberikan sebuah Hp, persis di sebelah saya yang duduk di belakang. Reflek saya menengok: eh, itu kayaknya Hp saya (yang ternyata tertinggal di kursi paling depan) tanpa Mas Lulut tahu itu Hp saya, sementara undangan penuh sekitar seratusan orang. Sayapun menghampiri Mas Lulut dan mengatakan itu Hp saya dan dikembalikan sebelum diumumkan. Setelah mengucapkan terima kasih saya pun duduk kembali.

Saya terdiam. 

Hp ini baru saya beli dua minggu lalu dan sekarang hampir hilang lagi. Atau seharusnya sudah hilang karena jarak kursi saya di depan dan di belakang jauh banget. Tapi mengapa Mas Lulut yang menemukan? Mengapa bukan orang lain yang dapat rejeki nomplok lalu mengantonginya pulang? Mengapa pula memberikannya ke panitia tepat di sebelah saya sehingga saya bisa melihatnya? Sedangkan jika diumumkan pun saya belum tentu ngeh karena saat itu saya tidak merasa kehilangan hp saya?

Allah Maha Besar. Caranya menyusun skenario agar saya belajar lagi untuk berbagi sungguh dahsyat. Malam itu seharusnya Hp saya yang harganya 2,5 jt hilang. Secara materi saya akan rugi 2,5 jt jika harus beli lagi. Tapi doa bapak penjual sandal dan rahmat Allah menyelamatkan saya dari bala'. Uang 50 ribu sedekah tadi siang telah mengembalikan Hp saya dengan utuh.

Semoga Allah melindungi saya dan kita semua dari penyakit riya'. Jika karena cerita nyata ini saya dianggap arogan dan berlebihan, semoga Allah mengampuni saya. Saya hanya ingin berbagi hikmah dan semoga bisa menginspirasi Anda yang setia membaca blog ini. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran terbaik untuk selalu percaya: jika kita ingin Allah menolong kita, mari kita mulai dengan menolong hamba Allah yang lain terlebih dahulu. Semampu kita.

Wallahu 'alam...


Sunday, November 9, 2008

Doa Untuk Imam Samudera, Amrozi, Mukhlas


Kabar itu akhirnya datang. Trio bomber Bali telah dieksekusi kemarin malam jam 00.15. Serangkaian kontraversi atas proses persidanganpun berakhir. Seiring letusan peluru yang mengoyak dada dan menembus jantung, semoga dendam dan kebencian yang mewarnai bangsa ini, para korban dan saudara korban bom di Bali, rakyat Australia: semua luruh dan pergi mengangkasa bersama terbitnya mentari hari minggu ini.

Sebagai seorang muslim yang sangat percaya bahwa setiap perjuangan untuk menegakkan syiar Islam jalan terbaiknya adalah melalui Rahmatan lil 'Alamien: tak ada sedikitpun perjuangan kekerasan tanpa cinta yang diusung Amrozi cs yang bisa saya setujui. Karena Islam adalah agama penyebar damai, yang bahkan nabi Muhammad pun malah mendoakan orang-orang yang telah melemparinya dengan batu agar beroleh Rahmat Allah.

Nabi junjungan kita juga telah memberi tauladan keindahan yang sungguh luar biasa. Saat ada serombongan mengangkat keranda berisi mayat untuk dikuburkan, Nabi berdiri menghormati. Sahabat berkata," Ya Rasul, yang meninggal itu orang Yahudi. Mengapa engkau menghormatinya, bukankah mereka adalah musuh agama Allah?"

Sang Rasul Agung dengan tenang menjawab,"Bukankah Yahudi itu manusia juga seperti kita, sehingga dia juga adalah sesama hamba Allah yang wajib kita hormati?"

Rasul adalah manusia luhur seluhur-luhurnya. Dan kebijaksanaannya bergaung melewati abad demi abad.

Di saat pertama kali saya mendengar pagi ini bahwa di Batu Nusakambangan ada 3 orang hamba Allah yang dipanggil menghadapnya, saya pun tercenung. Mereka menghadapi regu tembak dengan mata terbuka, tanpa penutup. Dan mereka bukan pahlawan, seperti Robert Wolter Mongisidi yang dieksekusi oleh Belanda saat jama perjuangan dulu. Mereka hanyalah orang-orang yang memang harus bertanggung jawab atas tindakannya yang di luar kepantasan, kekejamannya yang merenggut jiwa-jiwa tak bersalah. Mereka meninggal sebagai pesakitan, di ujung senapan hukum dan keadilan.

Pagi ini, saya berdoa agar jiwa-jiwa para pembom yang kita menyebutnya teroris itu bisa beristirahat dengan tenang dan kepergian mereka menghadap-Nya tak menyeret serangkaian dendam yang tidak perlu. Saya percaya, akhir hidup di dunia bukanlah akhir segalanya. Pertanggungjawaban itu masih akan menunggu di akhirat, dimana keadilan tegak setegak-tegaknya.

Selamat jalan Imam Samudera, Amrozi, Mukhlas. Semoga kalian semua menjadi generasi terakhir dari umat Islam yang percaya bahwa kekerasan akan membawa damai. Semoga tak ada lagi yang mengikuti jejak kalian sebagai fatalis, karena sesungguhnya jalan jihad terbuka 1001 macamnya dan tak satupun yang memerlukan jatuhnya korban tak bersalah. Semoga hidup yang telah kalian jalani membuka tabir dan keindahan Islam sebagai agama penyebar damai.

Hanya dengan itu, ada setitik cahaya yang hadir bersama kepergian kalian menghadap Allah. Dan dengan setitik cahaya itu, semoga Allah mengampuni kesalahan kalian dan menyayangi semua korban bom bali, sanak saudaranya dan kita semua sebagai bangsa.

Semoga umat Islam dimanapun di seluruh dunia bisa bercermin dengan cermin buram dan retak ini. Kesalahan akan tetap menjadi sekedar kesalahan jika kita tak mau mengambil hikmahnya. Trio bomber dan segenap keyakinannya telah pergi dan meninggalkan kepada kita pelajaran hidup yang sungguh berharga. Sebagai sesama hamba Allah, sepotong doa untuk mereka telah saya panjatkan demi kedamaian yang lebih panjang untuk kita nikmati sepeninggalnya.



Saturday, November 8, 2008

Kekuatan Konsistensi

Mudahkah untuk menjadi konsisten? Bener, mudah di mulut. Tapi setengah mati dikerjakan. Jadi saya pun mengamini ketika ada yang mengatakan bahwa untuk menjadi kebiasaan, sebuah perilaku yang baik harus dilakukan terus menerus minimal 40 hari. Ini agar secara integral: hati, otak dan fisik kita dibiasakan untuk menerima perilaku baru dan berakrab-akrab dengannya sehingga tak timbul penolakan dalam pelaksanaannya. Sehingga perilaku baru itu tak asing.

Misalnya yang paling sederhana: bangun pagi. Jam berapa Anda bangun pagi? Jam 4, jam 5 atau jam 8? Seorang teman yang pernah melihat saya bangun pagi jam 6, sambil menelungkupkan selimutnya bilang,"Ngapain bangun sepagi ini Rief, kayak petani aja!"

Dia biasa bangun jam 11 siang.

OK, misalnya kebiasaan bangun jam 8 pagi deh dan pengen bangun jam 4 pagi supaya bisa jamaah Subuh. Bagus to? Udara pagi yang sejuk menyegarkan paru-paru, membuat pikiran jernih dan sholat subuh berjamaah ditambah sholat Fajar kebaikannya lebih dari dunia seisinya. So, gimana prakteknya?

Tentulah tak bisa langsung besok pagi jam 4 buka mata dan bersemangat ambil air wudlu lantas meluncur ke mesjid. Pastinya menjelang jam 4 kantuknya bakal makin berat, jam weker yang bunyinya super kenceng terdengar kayak di-silent. Atau jika terdengar juga bakal dilempar membentur dinding. Atau dimatikan buru-buru. Mencoba membuka mata, beratnya minta ampun. Buka sedikit, tutup lagi. Memaksa diri bangkit dari tempat tidur, kasur empuk jadi magnet yang menariknya kembali. Begitu terus.

Alhasil, bener-bener bisa bangun baru jam 7. Menyesal minta ampun kenapa tidak memenuhi komitmen. Lalu melangkah dengan gontai ke kamar mandi sambil menyalahkan dirinya yang tak berjuang lebih keras. Lalu menjelang berangkat tidur lagi di malam hari bertekad bangun lagi jam 4 besok paginya.

Kemungkinannya adalah, jika ia terus-menerus berjuang dan konsisten, maka bangun jam 4 pagi akan menjadi kebiasaan yang natural. Tak perlu weker, tak perlu bertarung melawan kasur, tak perlu menyiksa diri dengan memaksa bangun. Praktekkan selama 40 hari terus menerus: kebiasaan baik itu akan jadi milik kita sepenuhnya.

Tapi jika besok paginya ia mencoba lalu gagal dan menyerah: maka selesailah upaya itu. Dia akan bangun jam 8 terus menerus. Rasa percaya dirinya akan runtuh dan menganggap bangun jam 4 itu sesuatu yang tidak mungkin. Atau tidak perlu. Yang paling parah: ia akan menyalahkan orang lain yang biasa bangun jam 4. Padahal sebabnya karena ia tidak mampu, meskipun ia tahu bangun jam 4 itu baik.

Begitulah manusia, dan konsistensi adalah ujian dasar dari Tuhan untuk mengukur kekuatan kemauan kita. The power of will. Tanpa kemauan yang kuat, teguh dan sabar mengelola tantangan: kita hanya akan jadi manusia biasa-biasa saja.

Lihatlah Obama yang berteriak: Yes We Can! Jutaan orang di Amerika mengikutinya: Yes We Can! Karena Obama memulainya dari lubuk hatinya yang paling dalam. Karena Obama konsisten selama 21 bulan masa kampanyenya dan tetap bertahan saat badai menghadang. Yes We Can yang keluar dari mulut Obama ada ruhnya, beda jauh jika yang bilang politisi Indonesia.

Mari kita belajar bersama-sama. Sayapun masih terus belajar. Menjadi konsisten memang tak mudah, tapi bukan tidak mungkin. Yes We Can!

Friday, November 7, 2008

Creative Sharing Concept & ADGI Jogja


To All ADGI-ers dan teman-teman kreatif Jogja, ada kesempatan untuk nambah ilmu murah meriah tapi berbobot di acara yang dikerjasamakan bareng dengan Majalah Concept ini. Khusus ADGI Members ada diskon khusus 20%. Segera daftar ya :)

Wednesday, November 5, 2008

Being Happy on The Road

Sejak Petakumpet membuka representative office di Jakarta dan buku saya terbit, saya mulai sering menghabiskan waktu di jalan. Kota tujuan saya pun makin beragam. Yang paling sering Jakarta, bisa sebulan 2 sampai 3 kali. Kermarin ke Pangkal Pinang (ini untuk urusan keluarga: sudah saatnya saya bertanggung jawab dan lebih serius memikirkannya), balik ke Jogja, beberapa hari kemudian ke Jakarta lagi lalu ke Denpasar untuk mengikuti Konferensi CAAAA (Confederation of Asia Advertising Agencies Associations), balik lagi ke Jogja dan Senin depan saya berangkat ke Jakarta lagi untuk presentasi.

Dari Jakarta saya balik ke Jogja 17 November untuk mengisi Creative Sharing bersama founder Concept Mas Djoko Hartanto, sehari setelahnya berangkat ke Malang untuk undangan diskusi. Minggu depannya lagi ke Bandung mengisi seminar dan ke Purwokerto menghadiri pernikahan seorang klien lama, teman baik saya.

Hmmm... terkesan sok sibuk ya?

Apa yang bisa saya katakan adalah saya sepenuhnya menikmati perjalanan hidup saya, di rumah, di kantor, maupun di jalanan. Capek? Tentu saja.. Tapi yang membahagiakan adalah bahwa saya tidak merasa terpaksa melakukan itu semua, saya memang berniat menjalaninya sepenuh hati. Saat ini saya sedang latihan mengatur waktu, saya tahu waktu saya begitu terbatas sementara keinginan kita dan kebutuhan orang atas kita seolah tak mau tahu.

Saya bocorkan rahasia kecil bagaimana bisa menang dalam pertempuran melawan kesibukan yang seolah tak pernah habis, yang jika dibiarkan akan membuat kita remuk jiwa raga.

Kata Yusuf Mansur - saya mengamininya - sholatlah tepat waktu. Bukan hanya 5 kali sehari, tapi 5 kali dan tepat waktu, saat adzan berkumandang kita sudah stand by di mesjid atau musholla.

Sesederhana itu? Ya, tapi awalnya memang sangat berat. Saya juga masih belajar. Tapi jika kita kerepotan mengatur skedul, sholat tepat waktu akan meluangkan waktu kita. Mengapa? Karena Allah yang akan mengatur jadual kita sebaik-baiknya. Bukan orang lain, klien raksasa, tamu penting yang lain, sahabat, dsb.

Berani mencoba?

Sunday, November 2, 2008

Pengurus PPPI DIY & Sultan HB X


Ketua PPPI DIY, Drg. Eddy Purjanto menyampaikan beberapa buku karya praktisi periklanan Indonesia, yang sebagian besar ditulis oleh orang-orang Jogja

Ah yaa, seremoni foto barengan gini emang perlu buat release ke media kan?

Saturday, November 1, 2008

Creative Sharing di Bali


Ah, segarnya jika bisa nyebur sebentar ke kolam

So lovely place, diskusi di outdoor yang begitu inspired

Beberapa hari sebelumnya Mas Hermawan Tanzil juga sharing pengalamannya di sini

Di malam terakhir setelah penutupan Konferensi CAAA (Confederation of Asia Advertising Agencies Associatios), atas kebaikan Mas Ayip saya dapat kesempatan untuk sharing dengan teman-teman ADGI Bali tentang Creativepreneurship di acara Casual Gathering di daerah Hang Tuah, Denpasar. Beberapa hari sebelumnya Mas Hermawan Tanzil (Le Bo Ye Design) juga hadir dan sharing di sini. Beritanya selengkapnya di sini.

Saya membaca antusiasme temen-temen muda kreatif Bali yang sungguh luar biasa, keinginan untuk maju dan berkompetisi dengan energi yang penuh. Mas Ade (Ketua ADGI Bali Chapter) bersama tim ADGI tanggal 9 November besok akan menggelar Zoom In 2 dengan menghadirkan pembicara Mas Danton Sihombing (Chairman ADGI/Inkara) dan Mas Ayip jadi moderatornya.

Sedangkan acara Zoom In dan D'Edge ADGI Jogja sedang kita siapin dan baru bisa tayang sekitar awal Desember.

Terima kasih untuk kesempatannya bisa bertukar pikiran di sebidang kebun yang sejuk, di pinggir kolam renang bening dihias bintang gemerlapan. Next time kita akan jumpa lagi. Buat teman-teman Bali: terus bergerak, terus kreatif, terus maju. See you at the top!

Wednesday, October 22, 2008

Sebuah Cerita dari Pulau Timah

Bukan yang dipotret tapi siapa yang motret (Emangnya siapa? Ada deh.. Hallahh!!!)
Kebun sawit (sayang motretnya terlalu dekat)
Tambang timah di Pulau Bangka
Alam asri di Belinyu (sssttt... ada gadis manis terlihat dari belakang)
My favourite: lengkap banget menu makannya

Ya, ini pertama kali saya berkesempatan untuk menaruh hati dan menginjakkan kaki saya di Pulau Bangka. Pulau yang telah membesarkan calon istri saya sampai menjadi makhluk Tuhan yang begitu mengagumkan (buat saya tentunya). 

Setiap kali saya sampai di tempat yang saya belum pernah berkunjung sebelumnya, selalu ada rasa rasa ingin tahu dan berdebar-debar yang anehnya saya sangat nikmati, apa saja hal-hal baru yang akan saya alami di tempat ini. Bagaimana tanggapan keluarganya setelah melihat makhluk aneh kayak saya berkunjung ke rumah mereka. Mmmm... i feel so good to step in a new environments.

Di bandara Depati Amir, doi telah menunggu bersama saudara-saudaranya dengan senyum yang manis. Tidak. Jangan bayangkan ada spanduk Selamat Datang di Pulau Bangka, Mr. Blogger: tentu saja tak ada. Juga tak ada bacaan shalawat mengiringi saya turun dari pesawat. Atau kalungan bunga dan antrian tanda tangan. Tak ada kegempitaan itu: emangnya saya siapa? 

Hanya ada senyum yang manis dan genggaman tangan erat dari orang yang paling saya cintai. Itu sudah lebih dari cukup.

Lalu kami semobil meluncur ke Penagan, satu jam perjalanan dari Pangkal Pinang. Melewati kebun-kebun kelapa sawit, sahang (lada), karet dan beberapa tambang timah di kejauhan. Jika kita naik pesawat, tambang timah ini jelas terlihat dari udara. Di Penagan, saya menemui kenyataan yang menakjubkan. Belum ada listrik yang masuk ke desa itu. Ini serius, tapi jangan bayangkan bahwa ini jadi daerah yang gelap gulita. Kebutuhan listrik di-supply dari genset dan diesel yang masing-masing rumah punya. Dan hampir semua rumah terlihat cukup lengkap fasilitasnya: ada motor (banyak keluaran terbaru), mobil (beberapa keluaran terbaru) bahkan parabola nongkrong di setiap rumah. 

Mengapa daerah Penagan jadi nampak gemerlap? Karena timah. 

Sebagian besar penduduknya bekerja di bidang ini, dengan pendapatan yang lumayan besar untuk ukuran ekonomi masyarakat kebanyakan. Para penambang timah di Bangka biasanya dibagi 2 macam: yang beroperasi secara resmi dengan surat dari pemerintah tapi ada juga yang tanpa ijin alias kucing-kucingan. Tapi kabarnya, hukum sudah mulai ditegakkan dengan tegas menyangkut timah ini.

Pada suratnya untuk Lord Minto saat berada di pulau Bangka, Thomas Stanford Raffles berkata,"Saya telah menemukan Bangka, sebuah pulau yang akan menjadi penghasil timah terbesar di dunia." Saya tidak tahu apakah saat ini Bangka jadi penghasil timah terbesar atau tidak, tapi kata-kata Raffles beberapa abad yang lalu masih terbukti benar: timah telah menghidupkan ekonomi rakyat Bangka. 

Alhamdulillah saya disambut sangat hangat di rumah calon mertua. Tidak screw up kayak di film Meet The Parents. A nice family, sebuah keluarga yang sangat menarik. Yang begitu ramah meskipun saya hampir sama sekali tak paham bahasa daerahnya. Jika berbicara dalam bahasa Bangka, saya hanya tekun mendengarkan dengan hati. Tak paham artinya tapi saya coba serap ketulusannya dengan hati. Jika saya lihat yang lain tertawa, kegembiraan itu menular. Sayapun ikut terbahak tanpa tahu artinya. Saya hanya percaya bahwa perbincangan itu lucu. Kebetulan saya juga banyak main dengan Kholil, adiknya yang terkecil. Dia berbicara dengan bahasa Bangka dan saya pake bahasa Indoenesia. Saya tak paham artinya, diapun mungkin tak paham maksud saya. Tapi kita bisa ngobrol dan bermain sangat akrab seolah sudah lama kenal dan terus tertawa dalam kegembiraan yang utuh. Main mobil-mobilan, menggambar, mewarnai. Apa saja.

Ketika kita saling percaya, komunikasi akan mudah terjalin. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan bahasa jiwa. Atau bahasa buana, kata Paulo Coelho di buku Alchemist.

Hari pertama saya lewatkan dengan menghadiri pernikahan adiknya di Simpang Katis dan sayapun dikenalkan dengan saudara dan handai taulan. Sekali lagi, senyum tulus saya cukup membantu untuk mencairkan komunikasi. Saya tak sempat belajar bahasa Bangka sebelum berangkat. Hari kedua barulah ada waktu yang cukup untuk jalan-jalan: ke Gramedia, beli oleh-oleh, ke Belinyu, perjalanan yang indah seharian. Dari jam 9 pagi sampai balik jam 8 malam.
Besok paginya, subuh-subuh saya dan Supie bersama adiknya harus segera pamit ke Jogja karena flight Lion Air jam 06.30 pagi. Tentulah masih belum cukup waktu untuk menikmati keindahan di Bangka: ini seperti undangan untuk berkunjung lagi lain waktu. 

Kami pun meninggalkan Bangka bersama pesawat yang mengangkasa, dengan hati penuh syukur. Di bawah, nampak hijau kebun sawit, hutan, rumah-rumah dan tambang timah menghampar mengantarkan kami semakin tinggi menuju 2700 kaki dari permukaan laut. Yang tertinggal adalah rasa damai dan kangen yang menyergap untuk menyapa lagi pulau timah ini lain waktu. Di seberang lautan sana telah menunggu Jogja - kampung halaman saya yang kedua - dengan senyum ramahnya mengiming-imingi kopi jos, sop cak nur, nasi kucing dan hijau sawah menghampar dengan bunyi kodok ngorek setiap malam selepas hujan.
Dimanapun - berbekal hati yang penuh syukur - hidup ini akan selalu sangat indah untuk dijalani. 

Saya mengajak Anda untuk bergabung dalam barisan orang-orang yang bersyukur dan menjalani hari-hari kita dengan penuh kedamaian. Semoga ada lagi cerita bercahaya yang saya bisa sajikan esok hari nanti.

Monday, October 13, 2008

Doa yang Mengancam


Aming, dari banci kaleng ke cowok tulen
Setelah kesuksesan luar biasa sutradara Hanung Bramantyo dengan Ayat-ayat Cinta (AAC), film Doa yang Mengancam (DYM) mungkin bisa jadi sesuatu yang beresiko untuk dikerjakan. Karena kemungkinan sangat sulit untuk mengulang kesuksesan yang pernah diraih. Ya, ekspektasi penonton pasti tinggi saat menyaksikan DYM. Seperti yang diduga, penonton DYM tak sebanyak AAC yang tembus di atas 3 juta orang.

Tapi di tulisan ini, saya ingin menyampaikan salut pada upaya seorang Hanung yang berani take risks dengan memfilmkan sebuah cerpen karya Jujur Prananto ini. Secara cerita cukup kuat dan skenariopun rasanya cukup padat mengemas cerpen (yang secara nature memang pendek). Dalam skenario filmnya, telah ditambahkan beberapa tokoh, adegan dan ending yang berbeda ketimbang cerpennya.
Meski temanya mengangkat ritual agama berupa sholat dan doa, tapi sudut pandang yang diambil cukup segar: ini bukan sekedar film agama.
Jika di-compare dengan film Kun Fayakun-nya Yusuf Mansur: secara story telling saya lebih menyukai DYM, lebih bisa mengatur suspens penonton dan alurnya tidak segampang KFK untuk ditebak. Tapi sebagai syiar Islam, kedua film barusan saya rasa cukup layak untuk diberi pujian, dengan kelebihan dan kelemahannya.

Yang menarik lagi dari film DYM adalah kesengajaan Hanung untuk merombak total karakter aktor dan aktris terkenal di film ini. Aming (Madrim) yang bisa kita kenal dengan karakter banci kaleng disulapnya menjadi sosok laki-laki yang hidupnya keras, menderita dan bermasalah. Laki-laki sekali. Lalu Nani Wijaya yang terkenal sebagai aktris dengan peran ibu baik-baik dibuatnya harus merokok dan di masa muda menjadi seorang pelacur (diperankan anak Nani Wijaya yang wajahnya persis ibunya). Dedy Sutomo pemeran Pak Syukri di film lama Rumah Masa Depan yang terkenal sebagai bapak bijaksana dan baik-baik dijadikan tokoh koruptor buron polisi yang kaya raya, licik dan jahat (Tantra).

Pujian pantas diberikan pada Aming untuk penghayatannya yang total di film ini, sekaligus menepis keraguan atas kemampuan aktingnya yang spesialis 'dua alam'.

Satu pelajaran penting dari film ini, selalu bersangka baik pada Allah (khusnudzon) akan membuat kita lebih tenang menjalani ujian kehidupan. Allah tahu yang terbaik buat kita karena kita ini ciptaan-Nya. Cuma kita yang kadang tak sabar dan sok tahu sehingga seringkali protes dan putus asa karena belum mampu memahami skenario indah hasil kreasi-Nya.

Untuk melengkapi tulisan ini saya sertakan cerpen asli Doa yang Mengancam yang saya link dari sini:

Doa yang Mengancam
Jujur Prananto

“Ya Tuhan, bertahun-tahun aku berdoa pada-Mu, memohon agar Kau lepaskan aku dari kemiskinan yang sekian lama menjerat kehidupanku, tapi nyatanya sampai kini aku tetap miskin dan bahkan bertambah miskin, hingga aku menganggap bahwa Engkau tak pernah mendengar doaku, apalagi mengabulkannya. Karena saat ini aku sudah tak punya apa-apa lagi selain badan dan sepasang pakaian yang kukenakan, aku ingin memohon pada-Mu untuk yang terakhir kali. Kalau sampai Matahari terbit esok hari Engkau tak juga mengabulkan doaku, aku mohon ampun pada-Mu untuk yang terakhir pula, sebab setelah itu aku akan meninggalkan-Mu.”

Itulah doa terakhir Monsera, seorang penduduk miskin yang tinggal di pinggiran Kota Ampari, ibukota negeri Kalyana. Setelah itu ia menutup pintu rumah tempat tinggalnya, menguncinya dan menyerahkan kunci pada si empunya rumah yang telah berbulan-bulan menagih tunggakan uang sewa padanya.

"Suatu saat saya akan kembali untuk membayar utangku.”

Si empunya rumah cuma tersenyum sinis dan membiarkan Monsera pergi.

Monsera lalu berpamitan pada para tetangga, pemilik warung makan, pemilik toko kelontong, penjual minyak tanah, ialah semua yang berpiutang padanya dengan ucapan sama, “Suatu saat saya akan kembali untuk membayar semua utangku.” Dan semua juga membiarkannya pergi tanpa berharap Monsera akan menepati janjinya.

Lelaki berbadan kurus itu lalu meninggalkan ibukota, berjalan kaki memasuki wilayah berhutan, mencari kelinci, umbi-umbian, dan buah-buahan, untuk bersantap malam, alu tidur di dahan sebuah pohon besar menanti datangnya pasgi.

Monsera terbangun oleh tetesan embun yang membasahi mukanya, dan setelah itu tak bisa tidur lagi sampai ufuk timur memerah. Ia berdebar-debar menunggu terbitnya Matahari, berharap-harap cemas membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

“Apakah Tuhan mendengar doaku? Apakah Tuhan terusik oleh ancamanku?”

Sampai Matahari terbit dan Monsera meneruskan perjalanannya yang tanpa tujuan ini, tak ada kejadian istimewa terjadi. Monsera mulai kesal dan putus asa, tapi terus berjalan meninggalkan hutan dan memasuki padang rumput savana.

Seperti ingin bunuh diri, Monsera menantang teriknya Matahari tanpa berbekal setetes pun air dan menantang dinginnya malam tanpa berbekal selembar pun selimut. Pada hari ketujuh, Monsera tergeletak tanpa daya di atas permukaan rumput. Saat itu hujan turun deras. Kilat bekerjap-kerjap menerangi malam yang gelap. Guntur menggelegar. Seleret petir melesat menukik tajam, menyambar tubuh Monsera.

Paginya, seorang saudagar kuda bernama Sinaro menemukan tubuh Monsera yang hangus dan mengiranya sudah menjadi mayat. Sinaro menggali liang kubur, mendoakan Monsera dan menguburnya. Tapi begitu gumpalan tanah mengenai muka Monsera, mulutnya sedikit bergerak. Ternyata Monsera cuma mari suri. Sinaro kaget sekali dan membawa Monsera pulang ke rumahnya di negeri Salaban.

*

Setelah sebulan lebih dirawat keluarga Sinaro, luka bakar yang diderita Monsera berangsur sembuh. Kesadarannya berangsur pulih. Monsera mulai bisa bicara sepatah dua patah kata, tapi masih menderita amnesia. Masuk bulan ketiga barulah ingatannya kembali normal, dan bisa berbincang secara wajar dengan orang-orang di sekitarnya.

Suatu hari Monsera tertarik pada foto lama keluarga ayah Sinaro yang ditaruh di atas almari pakaian. Lama Monsera mengamati foto itu, lalu menunjuk seorang bocah yang ada di situ dan menanyakannya pada Sinaro. “Ini saudaramu?”

Sinaro agak kaget, lalu bercerita dengan perasaan sedih. “Ya, namanya Sridar. Ia hilang waktu ikut perang saudara sepuluh tahun yang lalu. Sampai sekarang tak pernah ada kepastian dia masih hidup atau sudah meninggal.”

“Dia masih hidup,” kata Monsera penuh kepastian. “Belum lama ini saya bertemu dia di Rodamar.”

Sinaro terperanjat. “Kamu yakin?”

“Saya yakin.”

“Tapi itu foto dua puluh lima tahun yang lalu, Monsera. Bagaimana kamu yakin yang kamu temui di Rodamar itu adalah Sridar adikku?”

“Sebaiknya kita sama-sama pergi ke Rodamar. Sridar tinggal di salah satu perumahan rakyat di pinggiran kota.”

Antara percaya dan tidak, Sinaro berangkat ke Rodamar bersama sanak saudara yang lain, mengikuti petunjuk Monsera. Tiga hari dua malam mereka berkuda menyeberangi padang pasir dan berhasil mencapai Rodamar dengan selamat. Dengan mudah Monsera menunjukkan jalan-jalan dalam kota yang harus dilalui, sampai akhirnya menemukan perumahan rakyat yang dimaksud. Dan berhasil menemukan Sridar!

Tak terkira betapa gembira Sinaro dan sanak saudara lainnya, bisa berjumpa lagi dengan Sridar yang sudah sepuluh tahun mereka anggap hilang ini. Dan tak terkira pula rasa terima kasih mereka pada Monsera yang telah membantu menemukan Sridar.

Belakangan Monsera merasa takut dan heran pada dirinya sendiri, setelah sadar bahwa sebelum ini ia sama sekali belum pernah pergi ke Rodamar. Jadi bagaimana ia bisa tahu seseorang bernama Sridar yang belum pernah dikenalnya tinggal di sebuah kota yang belum pernah didatanginya pula?

Sekembali ke rumah Sinaro, Monsera meminjam foto-foto yang lain, mengamati wajah-wajah dalam foto itu. Dalam waktu singkat ia ternyata bisa melihat perjalanan kehidupan orang yang diamatinya bagaikan sebuah film panjang. Melihat Sinaro melamar calon istrinya. Melihat istrinya melahirkan anak pertama. Dan melihat saat ini istrinya sedang berbelanja di pasar.

Tak ayal. kemampuan lebih yang dimiliki Monsera cepat diketahui orang-orang. Mereka berbondong-bondong mendatangi Monsera, menanyakan anak atau ayah atau suami atau sanak saudara mereka yang hilang pada waktu perang saudara. Banyak yang sedih setelah Monsera mengatakan yang mereka cari sudah meninggal. Namun banyak pula yang bergembira seperti Sinaro, berhasil bertemu kembali dengan yang selama ini menghilang entah ke mana. Hadiah berupa uang, emas, maupun barang-barang berharga lainnya, mengalir deras ke pundi-pundi Monsera. Sampai akhirnya pemerintah negeri Salaban mendengar pula kehebatan Monsera, lalu mengangkat Monsera sebagai pejabat khusus di kepolisian dengan gaji yang sangat tinggi, dan memberinya tugas melacak para penjahat yang melarikan diri.

Monsera pun menjadi orang yang kaya raya. Dan di tengah-tengah kekayaannya yang melimpah itu, ia merasa telah berhasil mengancam Tuhan lewat doanya.

*

Setelah cukup lama berbakti bagi rakyat dan pemerintahan Salaban, Monsera pulang ke negerinya. Yang pertama dilakukannya ialah menemui para mantan tetangga, dan membayar semua piutang mereka. Setelah itu Monsera meninggalkan Kota Ampari, pergi ke sebuah dusun termiskin di negeri Kalyana, menemui ibunya yang selama ini ditinggalkannya begitu saja.

Si ibu yang tua dan renta nyaris tak mengenali Monsera yang gemuk dan bersih.

“Tuhan akhirnya mengabulkan doa saya, Ibu! Bahkan lebih dari sekadar terbebas dari kemiskinan, saya sekarang jadi kaya raya!”

Monsera lalu membawa ibunya pindah ke kota untuk tinggal bersamanya di sebuah kastil termegah dan termahal di Ampari yang sudah dibelinya. Kekayaan ibunya yang dibawa dari dusun cuma sebuah tas kecil berisi selembar kain dan foto-foto lama. Monsera membakar kain tua itu dan meminta para pembantunya membelikan lusinan kain sutera sebagai pengganti. Monsera membeli pula bingkai-bingkai emas untuk memasang foto-foto keluarga yang dibawa ibunya.

Monsera tersenyum sendiri melihat sebuah foto ibunya waktu masih muda.

“Cantik sekali,” gumam Monsera. Lalu, di luar kehendaknya, kilasan-kilasan gambaran masa lalu mulai berkelebat secara bening dan meyakinkan.

Seorang wanita bernama Lastina berdandan di muka cermin. Malam hari dia berjalan di kaki lima mengenakan pakaian seronok, melambaikan tangan pada setiap kereta kuda yang lewat, sampai salah satu berhenti dan membawanya pergi... Sekilas nampak Lastina digauli seorang pria... Lastina hamil, gagal menggugurkan kandungan, merayu seorang preman jalanan untuk minta dinikahi... Lastina menikah dengan preman itu... Si preman kaget setelah tahu Lastina hamil... Si preman meninggalkan Lastina begitu saja... Lastina melahirkan anaknya... Dan diberi nama Monsera.

*

“Ini pasti salah! Tak mungkin ibuku seorang pelacur!” Monsera berteriak dalam hati sambil membuang foto-foto di tangannya. Perasaannya terguncang hebat, merasa begitu takut kalau pandangannya benar belaka. “Katakanlah padaku, ya, Tuhan, bahwa pandanganku kali ini keliru.”

Namun jawaban dari Tuhan dalam bentuk apa pun tak pernah diterimanya. Dan tetap saja setiap ia melihat foto ibunya, gambaran masa lalu yang kelam itu kembali bekerjap-kerjap. Bahkan kian lama kian benderang sekaligus menjijikkan.

Sampai akhirnya Monsera tak kuat bertahan dan memohon lagi kepada Tuhan. “Aku sungguh bersyukur Engkau telah memberiku rezeki yang melimpah, ya, Tuhan, tapi sekarang tolong bebaskan aku dari keahlianku melihat masa lalu, dan kembalikan aku sebagai manusia biasa.”

Setelah sehari, dua hari, seminggu, sebulan Monsera terus berdoa dan berdoa, kemampuan supranaturalnya tak kunjung menghilang. Ia mulai tak sabar dan terucaplah ancaman seperti yang dulu pernah dilakukannya. “Kalau Kau tak juga mengabulkan doaku, ya, Tuhan, aku akan segera meninggalkan-Mu.”

Kali ini ia merasa ancamannya pada Tuhan sama sekali tak mempan. Sedikitpun tidak ada perubahan terjadi dalam dirinya. Lama-lama Monsera berpikir, jangan-jangan dengan ancamannya yang pertama dulu Tuhan marah dan lebih dulu meninggalkannya. Kalau memang begitu, segala mukjizat yang diterimanya selama ini bisa jadi bukan anugerah dari Tuhan, melainkan pemberian dari setan.

Maka Monsera pun berkata, “Hai, setan! Jangan kau siksa aku dengan pemberianmu yang justru membuatku menderita. Kembalikanlah aku seperti manusia biasa! Kalau kau tidak mau melakukannya, aku akan kembali mengabdi pada Tuhan!”

Seketika hujan turun deras. Kilat berkerjap-kerjap menerangi malam yang gelap. Guntur menggelegar. Seleret petir melesat tajam, menyambar tubuh Monsera.

Paginya, orang-orang menemukan tubuh Monsera yang hangus dan mati suri. Mereka berebut membawa Monsera ke rumah sakit terbaik. Pemerintah pusat menginstruksikan Departemen Kesehatan agar mengerahkan semua dokter ahli di seluruh negeri untuk menyelamatkan aset negara berupa manusia bernama Monsera ini.

Tak lebih dari sebulan Monsera tersadar dari mati surinya. Yang pertama dia lihat adalah seorang perawat jaga bernama Datim yang berwajah sedih. Monsera mengajaknya berkenalan dan bertanya kenapa Datim nampak sangat bersedih.

“Suami saya memohon izin pada saya untuk menikah lagi karena setelah delapan tahun menikah saya tak bisa memberinya anak,” jawab Datim.

Monsera terdiam menatap Datim. Tiba-tiba, di luar kehendaknya, kilasan-kilasan adegan berkelebatan seperti biasa dia alami. Kali ini ia melihat Datim muntah-muntah di kamar mandi, lalu bicara dengan dokter yang mengucap selamat atas kehamilannya.

“Kenapa Tuan Monsera menatap saya seperti itu?”

“Aku lihat engkau hamil, Datim.”

“Ah. Tuan pandai menyenang-nyenangkan perasaan wanita. Kalau dalam benak Tuan terbayang di masa lalu saya hamil, tentulah sekarang saya sudah melahirkan atau malah anak saya sudah besar.”

Sekonyong-konyong Monsera menjadi cemas. “Jangan-jangan...”

“Jangan-jangan apa, Tuan Monsera?”

“Jangan-jangan aku melihat sesuatu yang belum terjadi.”

Ternyata benar! Seminggu setelah itu Datim muntah-muntah, pergi ke dokter dan dinyatakan hamil. Datim sangat gembira dan menceritakannya pada semua orang. Dalam tempo singkat seluruh warga negeri Kalyana tahu, bahwa sekarang Monsera bukan cuma bisa melihat kejadian yang sudah terjadi di masa lalu, tetapi juga kejadian yang belum terjadi di masa yang akan datang, hanya dengan menatap wajah orang yang akan mengalaminya. Maka berbondong-bondonglah orang mendatangi Monsera, menanyakan masa depan pekerjaan mereka, jabatan, jodoh, vonis hakim, nomor undian, dan segala sesuatu yang diharapkan atau tidak diharapkan oleh yang bersangkutan. Dan belakangan terbukti, bahwa yang dilihat secara maya oleh Monsera semuanya benar-benar terjadi!

Monsera kewalahan menampung imbalan berupa uang berjuta-juta, emas berkilo-kilo maupun berlian berkarat-karat, sampai ia sendiri tak sempat menghitung, apalagi menikmatinya. Sampai suatu saat ia merasa sangat lelah dan menyempatkan diri beristirahat sesaat, membasih muka di wastafel, dan menatap wajahnya di cermin. Monsera pun tertegun. Tak lama kemudian muncul kilasan-kilasan kejadian sebagaimana selalu terjadi setiap ia menatap wajah seseorang...

Kali ini yang nampak ialah seorang lelaki kaya raya berwajah letih yang merasa bosan dengan kekayaannya, menyamar sebagai rakyat bersahaja dan lari dari rumahnya sendiri di malam yang sunyi. Sekelompok penjahat mencegatnya, menodongkan senjata mereka ke tubuh laki-laki ini dan menghardiknya keras.

“Serahkan semua uangmu!”

“Saya tidak bawa uang sesen pun. Semua saya tinggal di rumah. Ambillah sesuka kalian kalau kalian mau.”

“Jangan main-main! Serahkan uangmu sekarang juga!”

Laki-laki ini mengulangi jawaban yang sama, hingga para penodongnya marah dan menghunjamkan senjata mereka berkali-kali ke tubuhnya.

“Tidaaaak!” Monsera berteriak. “Aku tidak mau mati dengan cara begituuu!!!”

Tapi kali ini Monsera tak tahu lagi kepada siapa ia harus berdoa.*

Jakarta, 29 Maret 2001

Wednesday, October 8, 2008

Ke Bumi Laskar Pelangi


Minggu depan kesempatan itu akhirnya hadir: Insya Allah saya akan berkunjung ke bumi Laskar Pelangi. Menjenguk kampung halaman calon istri saya di Pangkal Pinang. Dan rencananya juga main ke Belitung: yang telah melahirkan Andrea Hirata dan Laskar Pelangi-nya. Filmnya saya belum bisa nonton, masih nunggu antrian meskipun bukunya yang luar biasa ajaib sudah khatam saya baca.

Mmm... kayak apa ya suasana dan pemandangan di sana? Kalo ke Sumatera saya pernah ke Palembang. Tapi baru sekali saya ke Pangkal Pinang. Dan yach, saya paling seneng menuju ke tempat yang baru, mengalami hal-hal baru, meninggalkan kebiasaan yang lama-lama membelenggu.

Semoga ada banyak cerita indah yang saya bisa bagikan ke temen-temen semua pembaca blog ini. Dan semoga perjalanan ini bermakna sebagai pondasi masa depan saya. Saya merindukan hal-hal yang belum pernah saya alami. Dan seseorang yang setia menunggu saya di sana.

Monday, October 6, 2008

Oleh-oleh Bergambar


Beli jadah bakar di Pasar Kotagede menjelang buka puasa

Antrian menjelang lebaran di Stasiun Kereta Api Gambir Jakarta

Di Makam Notoprajan Rembang nyekar Kakek Nenek

'Bersihnya' Terminal Terboyo Semarang saat arus mudik

Menunggu di dalam bus Patas Semarang Jogja

Sunday, October 5, 2008

Back to Normal Dayz

Kegempitaan lebaran sebentar lagi usai dan kita akan segera menghadapi hari-hari selanjutnya, hari-hari yang berjalan seperti biasanya. Oase yang mengistirahatkan jiwa kita itu akan pergi meninggalkan, dan tantangan hari-hari penuh ketidakpastian - untuk kesekian kalinya - akan kembali menghadang.

Jika Ramadhan kemarin kita bisa lewati dengan penuh kesungguhan: tentulah hari-hari ini kita telah siap mengarungi jalan kehidupan dengan senyum mengembang. Tapi jika amal ibadah kita berantakan: maka ilmu hidup-pun akan sulit tergenggam. Kita akan kembali didera kesibukan, kehabisan waktu, kebingungan, panik dan ujung-ujungnya ditelantarkan oleh kehidupan karena tak punya pegangan.

Mumpung hari masih pagi, masih cukup waktu untuk menyiapkan diri. Mengumpulkan kembali impian-impian masa lalu yang terserak untuk ditata dan kembali diperjuangkan. Hidup kita setelah lebaran mungkin tidak akan lebih mudah - tanyalah Menteri Keuangan Amerika jika tak percaya - tapi Insya Allah akan bisa jadi lebih baik.

Hari-hari biasa saja di depan mata kita yang terasa menjemukan: kita bisa ubah formulanya sehingga menjelma luar biasa. Dengan keberanian dan kreativitas.

Juga keikhlasan.

Tuesday, September 23, 2008

Persiapan Lebaran

Apa yang telah Anda siapkan untuk lebaran tahun ini?

Tiket pulang kampung? Oleh-oleh? Baju baru? Bawaan seabrek karena naik mobil sendiri meskipun kreditan? Rumah yang dicat ulang karena akan dijadikan tempat berkumpulnya trah? Menukarkan uang jadi recehan untuk dibagi-bagikan? Bahan makanan yang berlimpah karena lebaran adalah pesta setahun sekali? Ketupat dan opor ayam? Parsel untuk rekanan bisnis Anda atau klien agar tidak berhenti memberi kerjaan setelah lebaran? Pulsa untuk sms yang pastinya harus lebih besar karena akan terpakai puluhan atau ratusan di malam lebaran? Kembang api di malam takbiran?

Saya sepenuhnya setuju dengan budaya lebaran yang selama ini kita jalankan take it for granted. Semua itu baik-baik saja selama kita lakukan secukupnya, tidak berlebih-lebihan. Sehingga kita melakukannya dengan hati sadar, bukannya karena terjebak arus kebudayaan yang 'mengharuskan' kita untuk patuh dan tak berani menolak untuk berbeda.

Tapi inilah yang saya siapkan untuk lebaran besok, kalau-kalau Anda ingin tahu:
  • Bensin penuh untuk sepeda motor karena saya merencanakan untuk melakukan perjalanan menemukan diri saya sendiri
  • THR secukupnya untuk beli buku-buku yang akan saya lahap di masa liburan
  • Kopi, jahe dan milo untuk menemani malam-malam yang akan saya habiskan untuk mengedit content Buku Jualan Ide Segar yang sedang disiapkan untuk Cetakan Kedua
  • Puluhan parsel bersama teman-teman di Petakumpet untuk dipersembahkan pada saudara-saudara kita di jalanan
  • Mengunjungi lebih banyak masjid yang belum pernah saya singgahi
  • Sejuta maaf untuk sahabat dan handai taulan serta teman-teman dekat yang mungkin tak sempat saya balas sms-nya karena saya sibuk bersilaturrahmi dengan hati saya yang terdalam yang setahun ini sering saya cuekin
  • Dan beberapa hal lain yang idenya masih terus saya pikirkan sampai menjelang hari H.

Akhirnya, marilah kita persiapkan lebaran besok dengan memaksimalkan Ramadhan kita yang masih seminggu ini agar kita jadi pemenang yang sejati, bukan sekedar ikut-ikutan lebaran. Yang baik dari hari yang telah kita lalui, terus ditingkatkan setelah lebaran. Kesucian yang telah kita perjuangkan, selayaknya dipertahankan.

Selamat berlebaran dengan sanak saudara dan orang-orang yang Anda sayangi. Mohon maaf jika selama ini saya pernah menghidangkan kata-kata yang tak sesuai di hati Anda semua, para pembaca blog ini yang saya cintai. Bukan karena saya bermaksud seperti itu tapi semata-mata agar kita semua mulai bisa melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda. Meskipun jadi berbeda itu tidak nyaman dan tidak mudah.

Tapi ternyata bisa kan?

Monday, September 22, 2008

Balada Blackberry



Ya, ini bukan teknologi yang baru-baru amat. Tapi kebetulan saja beberapa teman dekat di PPPI sudah mulai menyeragamkan diri dengan gadget ini: maraklah komunitas blackberry yang anggotanya tokoh-tokoh periklanan Indonesia. Seperti testimony penggunanya: dengan blackberry maka urusan email dan YM jadi lebih mudah dan simple. Bisa terkontrol setiap saat dan gak perlu donlot lama karena GPRS-nya unlimited dan hanya Rp 150.000,-/bulan.
Nah, sebagai Sekretaris PPPI Pengda DIY: sayapun menjadi sasaran untuk dijadikan anggota berikutnya komunitas ini, supaya lebih gaul dan update informasi periklanan katanya. Hmm, tentu saja saya mau ter-update dan enggan menjadi anggota kaum jadul.
Tapi kok saya belum tertarik untuk melengkapi diri saya dengan gadget itu ya? Atau karena saya memang bukan gadget mania? Saya masih setia dengan Nokia 6300 yang begitu simple pengoperasiannya dan buat sms sangat nyaman. Tak ada fitur selengkap blackberry mungkin, tapi itu sudah cukup memenuhi kebutuhan saya. Sebagai seorang Executuve Creative Director, saya toh tak terlalu banyak kontak dengan klien, beda ama Marketing Director.
Dan yang penting - ini alasan sesungguhnya mengapa saya masih enggan ber-blackberry-ria: pelan-pelan benda canggih ini akan mulai memerangkap jadual saya sehingga harus siaga mencek email masuk setiap waktu dan mulai kehilangan waktu saya yang paling berharga, harta yang termahal karena saya sangat membutuhkannya untuk menghasilkan ide-ide dahsyat yang bisa dijual milyaran rupiah ke klien.
Bukan karena saya tak mau gaul, bukan karena saya alergi teknologi baru.
Saat kita mengatakan ya untuk hal-hal yang tak penting, itu artinya kita telah mengatakan tidak pada hal-hal yang sungguh penting. Suatu hari nanti mungkin saya kan pakai blackberry, tapi hanya setelah saya yakin sayalah tuannya. Dan bukan budaknya.

Sunday, September 21, 2008

Ramadhan yang Segera Pergi

Berapa kali seekor keledai jatuh di lubang yang sama? Tiga kalikah? Ok deh ngaku, jika dibandingkan keledai: saya pastilah lebih bodoh darinya. Atau lebih tolol. Saya memaki-maki wajah di cermin itu: kualitas ibadah saya tak mengalami peningkatan yang berarti di Ramadhan ini. Usia saya sudah 33 tahun, artinya Tuhan telah memberi kesempatan saya untuk memperbaiki diri - tidak jatuh di lubang yang sama - 33 kali. Keledai mana yang lebih bodoh dari saya coba?

Di tengah malam itu - saat i'tikaf di masjid Syuhada - saya merasa begitu kotor dan bodoh. saya telah menyia-nyiakan karunia agung Illahi itu. Saya hanya bisa menerawang, sayup-sayup terdengar lantunan shalawat dan dzikir dari sesama muslim yang sedang i'tikaf.

Tuhan, aku begitu takut Ramadhan meninggalkanku kembali - untuk kesekian kalinya - dalam kesepian yang sungguh. Saat amal tak bertambah, saat ajal semakin dekat. Kuserukan nama-Mu dalam kuatirku yang sangat.

Tuhanku, masihkah kau ijinkan aku tuk meraih-Mu di sisa Ramadhan ini? Dalam sujudku yang panjang aku hanya bisa pasrah. Kasih sayang itu hak-Mu, dan aku hanyalah sebutir debu di padang pasir. Termangu sendirian di ujung malam, merasa begitu kotor dan bodoh...

Wednesday, September 17, 2008

Lions for Lambs


Setelah menyaksikan Spy Game, saya mulai menyukai Robert Redford. Di Spy Game, ia bermain begitu smart. Beradu akting secara brilliant dengan Brad Pitt. Spy Game adalah film dengan skenario yang rapi dan ya.. saya belajar banyak tentang birokrasi dan keunggulan manusia atas sistem yang diciptakannya. Good movie, saya menontonnya beberapa kali.
Jadi ketika Redford sekali lagi menghadirkan Lions for Lambs, ini adalah hadiah yang saya siapkan buat diri saya sendiri. Saya pun tenggelam dalam film bertutur yang saya akui tak se-entertain Spy Game. But this movie - if you think deeper - is great!
Tidak terlalu entertain dan terkesan lamban bercerita: tapi jika kita perhatikan detail adegan-adegannya: banyak wisdom yang kita bisa ambil tentang kegagalan Amerika memerangi terorisme dan bagaimana anak muda, profesor, wartawati dan politisi negeri 'polisi dunia' itu berusaha keras untuk menemukan jati diri mereka dan melepaskan diri dari hegemoni propaganda pemerintah yang absurd.
Saya tak hendak berbicara mengenai bintangnya, di mana Tom Cruise (salah satu aktor favorit saya) juga ikut berperan di situ. Bukan, bukan itu. Tapi dengarkanlah dengan hati percakapan seorang profesor dengan mahasiswanya. Percakapan seorang senator dengan wartawati senior. Percakapan dua orang tentara Amerika yang ingin mengabdi pada negaranya tapi harus mati karena pemerintah mengirimnya ke tempat yang tak jelas keamanannya.
Ya, akan ada satu jaman saat singa-singa yang perkasa dipimpin oleh domba-domba yang bodoh tapi berkuasa. Beberapa orang cerdas Amerika - salah satunya Robert Redford - percaya saat inilah waktunya. Domba-domba dalam pemerintahan Bush telah membunuh ribuan singa Amerika dalam kebodohan yang utuh. Untuk memenangkan perang yang tanpa alasan, bahkan dengan alasan yang paling keliru.
Lions for Lambs: mari kita bercermin, mumpung sebentar lagi pemilu. Jangan sampai kebodohan Amerika terulang di sini. Indonesia adalah bangsa yang cerdas yang tak pantas dipimpin domba. Indonesia bisa lebih baik dari Amerika, meskipun tidak dalam bentuk kekuatan bersenjata atau ekonomi.
Bangsa kita punya hati bersih dan otak jenius, jika saja kita percaya. Dan para pemimpinnya adalah puncak dari kebersihan hati dan kejeniusan otak itu. Jika tak ada partai yang bersih dan cerdas, sebaiknya tak usah memilih. Ini adalah tindakan kecil yang kita bisa lakukan untuk tak mengulang kesalahan: setidaknya kita telah bertindak, tak sekedar membebek.
Indonesia bisa maju jika rakyatnya mempunyai sikap, prinsip dan kemandirian dalam bertindak. Dalam memilih untuk masa depannya. Dan bertanggung jawab atas konsekuensi pilihannya itu.
Kitalah singa-singa yang perkasa - yang seperti dikatakan sang Profesor Malley (diperankan oleh Robert Redford) - tak pantas dipimpin oleh domba-domba.