Mybothsides

Thursday, November 29, 2007

Bad Dayz

Saat hari buruk datang, apa yang akan kau lakukan?

Kemarin, saya berangkat ke Jakarta. Berangkatnya agak pagi karena ada titipan dari seorang kolega dan janjian ketemu di bandara. Dan ada satu lagi titipan klien, mesti nyampe Jakarta jam 12 siang. Berikut beberapa kejadian yang saya alami hari itu:
  • Pesawat saya delay dari jam 08.40 menjadi 09.00
  • Sampai Jakarta udah jam10.00 lebih nungguin bagasinya molor lalu naik Damri, ketiduran buru-buru turun di Gambir jam 11.45. Buku saya Ultimate Money Machine-nya Robert G. Allen ketinggalan di bawah kursi. Saat mau kembali buat ngambil, malah bingung karena kurang lebih 10 bis Damri di Gambir. Tadi saya naik bis yang mana?
  • Naik Taxi Bluebird di Gambir dapet sopir yang gak hafal jalan, diminta nanyain alamat malah balik minta saya yang nanyain. Waktu mau turun, ongkosnya Rp 15.000,- tapi uang Rp 50.000,- gak ada kembaliannya. Mmmm.. akhirnya tanpa kembalian.
  • Titipan klien diterima on time. Tapi kolega yang titip tadi malah pulang ke Jogja dan gak jadi ambil titipannya minta dibawa lagi ke Jogja. Lho, buat apa titip ya?
  • Sorenya mau Kebayoran Baru, ketemu sopir bajaj yang gak hafal jalan lagi, tanya-tanya lagi dehh...
  • Pulangnya mau ke Town Square naik bajaj, yang ini lebih parah: malah muter-muter di Kemang padahal waktu ditanya bilangnya tahu jalan. Setelah bayar Rp 10.000,- pindah naik Taxi Bluebird lagi. Yang ini mendingan agak pinter sopirnya.

Jika dirasakan tentu bikin kesel, hari itu segala sesuatu seperti tidak pada tempatnya. Tapi kalo direnungkan lebih dalam lagi: emangnya kenapa? Dan apakah melampiaskan amarah akan membuat hati kita menjadi lebih damai dan segala sesuatunya menjadi lebih beres? Saat ketemu sopir yang nyebelin, saya hanya diam. Saya ingin tersenyum sok positive feeling, tapi sejujurnya berat banget. Dan saat memberikan lima puluh ribuan dan gak dapet kembalian - secara manusiawi - juga berat. Terutama karena itu sopir nyebelin banget: tapi ya sudahlah. Kan Tuhan juga yang ngatur rejeki tiap orang. Mungkin udah rejeki dia, kita cuma tempat lewat aja.

Jadi lepaskan saja: biarkan hal-hal buruk berlalu. Malam itu di Town Square, seorang teman lama menraktir hot green tea di Coffee Bean, lalu pulangnya dianter naik mobilnya. Masuk kamar hotel dan mandi air panas. Rasanya seger banget.

Tuhan memang Maha Adil. Secangkir green tea gratis dan dianter ke hotel saja sudah melebihi jumlah 'kerugian' saya hari itu. Belum nginep di hotelnya.

Jadi sebenarnya saat kita pasrah dan tak mengeluh, hal-hal buruk akan menyingkir dan berganti kebaikan semata. Jangan menyalahkan siapapun saat keburukan datang, tetaplah berfikir positif. Dan jika ingin tak terbebani, kita nikmati saja saat keburukan menghampiri. Dengan tetap bersyukur. Enjoy aja. Seperti saat Kevin Costner ditanya tentang kariernya yang naik turun di film ia menjawab,"Saya nikmati saja perjalanannya. Namanya juga kehidupan..."

Oya, ada cerita dari Mahatma Gandhi yang saya kutip dari bukunya Robin Sharma Who Will Cry When You Die. Suatu ketika saat mau naik kereta yang mau berangkat, salah satu sepatunya terjatuh ke rel. Tak sempat lagi untuk diambil karena kereta sudah mulai melaju, Gandhi malah melepas sepatunya satu lagi dan dilemparkannya ke dekat sepatunya yang jatuh duluan. Temannya sangat heran dan bertanya,"Apa yang kamu lakukan?"

Sambil berjalan memasuki gerbong kereta bertelanjang kaki, Gandi menjawab,"Jika ada yang menemukan sepatuku, dia akan menemukannya lengkap sehingga bisa dimanfaatkan. Kalau cuma satu, maka sepatuku hanya jadi sampah dan takkan berguna buat siapapun."

Gandhi tidak mengutuki musibah, ia mengubahnya menjadi ibadah.

Monday, November 26, 2007

Agenda Acara Citra Pariwara 2007

Berikut agenda acaranya. Siapa tahu ada temen-temen yang perlu dicopy aja. Insya Alllah saya datang, semoga lebih gayeng tahun ini...

Saturday, November 24, 2007

Sukses itu Berbahaya

Kesuksesan adalah kegagalan yang tertunda. Entah kenapa saya kok menyenangi kutipan plesetan begini. Karena yang saya alami, kalo kita sedang sukses rasanya gampang banget merasa bangga. Merasa apa-apa bisa, merasa tak ada orang lain yang lebih baik dari kita. Dan setahu saya disitulah bahayanya. Karena formula kesuksesan sering tak bisa diulang, melainkan harus dipikirkan ulang terus menerus.

Kesuksesan tak pernah sempurna, makanya kita mesti waspada. Saat kita melewati sebuah tikungan dalam perjalanan ke masa depan, kita tak pernah tahu apa yang menunggu di baliknya. Kesuksesan adalah saudara kembar kegagalan: hanya bentuk dan rasanya yang tidak sama.

Jika saat ini Anda masih berkubang kegagalan, tersenyumlah. Jika saat ini Anda sedang menikmati kesuksesan, berbagilah. Kedua hal tersebut tak abadi. Saat situasi sebaliknya terjadi - baik pelan-pelan maupun tiba-tiba - kita tak lantas kaget, euphoria dan lupa diri. Dan jangan lupa bersyukur, inilah wujud kesuksesan yang sesungguhnya.

Thursday, November 22, 2007

Kuliah Umum Tentang Koran Merapi

Buat temen-temen mahasiswa Atmajaya peserta kuliah umum saya kemarin, berikut beberapa sample materi promosi Koran Merapi untuk menambah wawasan. Jika ada hal-hal yang perlu ditanyakan silakan email saya di arief_009@yahoo.com






Monday, November 19, 2007

Ada yang Baru


Thanks to Pak Eko, website Petakumpet kini berganti tampilan. Sangat melegakan melihatnya berubah dari dominan hitam bergeser ke putih, terasa lebih dinamis dan lebih menjual (Hallahh!)

Sunday, November 18, 2007

Usulan Buat PSSI


Buat calon pengganti Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, saya punya usulan yang sangat serius: jadikan Jose Mourinho Pelatih Timnas Indonesia. Masa' orang-orang super kaya Indoensia kalah sama Thaksin Sinawatra yang mampu bayar Sven Goran Ericsson? Duuh, Pak Putera Sampoerna, Pak Budi Hartono (Djarum), Aburizal Bakrie.. tolong dunk do something for this lovely country.

Jika bener Mourinho jadi pelatih Timnas, saya janji akan beli kostum asli timnas buat dipake ngantor deh. Demi Indonesia apa sih yang enggak?

Demi Perdamaian

Menurut Anda, apa yang perlu dilakukan bangsa Indonesia agar bisa hidup damai dengan Malaysia?
a. Mengakui Isabella sebagai lagu nasional Indonesia
b. Mendirikan Partai TKI di Malaysia
c. Menawarkan pindah KTP Indonesia kepada Siti Nurhaliza
d. Mengekspor lumpur Lapindo ke Malaysia
e. Obbie Mesakh mengarangkan lagu nasional untuk Malaysia

Belajar Adil

Menurut Anda, jika seorang polisi naik kendaraan roda dua melewati sebuah operasi SIM & STNK yang diadakan kepolisian, dia akan tetap diperiksa atau dipersilakan tanpa diperiksa?

Saturday, November 17, 2007

Muka Bloon Mana Dipercaya Orang?

Cuma mau cerita pengalaman kecil aja. Jumat sore kemarin, saya harus transfer uang sejumlah 300 ribu ke rek Mandiri. Rencananya mau lewat bank, tapi tak sempat setor ke Mandiri sampai baknya tutup jam 15.00 sementara saya adanya cash. Lalu disetorlah ke mesin setor BCA, karena di Jogja Mandiri tak punya mesin setor. Mikirnya sih nanti akan ditransfer ke Mandiri lewat ATM Bersama. Tapi sampai malem nyoba ATM kemana-mana hasilnya nihil. Bisanya cuma cek saldo ama tarik tunai aja, transfer tidak bisa. Dan bank tentu saja tutup. Saya nyari teman yang punya ATM Mandiri tidak ketemu, yang ketemu saldonya tak cukup.

Alhasil, saya nyoba cara tradisional: nunggu di ATM Mandiri buat nitip transfer ke orang yang mau ambil duit. Nanti saya akan minta mereka transfer dan bukti transfernya saya tukar uang cash. Simple banget. Pikir saya, toh cuma 300 ribu ini.

Tapi ternyata, setiap orang yang saya temui mukanya jadi aneh: sepertinya takut dan tak ada satupun yang mau menolong. Beberapa malah curiga. Saya udah nyoba pake cara baik-baik minta tolongnya bahkan dibantuin ngomong ama pacar saya (anaknya imut, berjilbab, sopan dan ramah: ups!), tetep aja tak berubah. Tak ada yang percaya pada muka bloon saya (dan pacar saya) yang kecapekan nunggu di ATM Mandiri berjuang untuk bisa nitip transfer. Sayapun pasrah, saya tidak menyalahkan mereka. Hari gini sungguh beresiko untuk menolong orang asing, apalagi di ATM ada stiker berbunyi: Awas, Hati-hati penipuan di ATM.

Lemaslah saya sambil pergi meninggalkan ATM. Saya berjanji pada diri sendiri: jika suatu saat kondisinya berbalik, semoga Allah membukakan mata hati saya untuk menghilangkan syak wasangka dan suudzon, siapa tahu mereka yang kita curigai penipu bener-bener orang yang sangat membutuhkan pertolongan. Tapi karena kita menutup mata, hilanglah kesempatan untuk menjadikannya ladang amal. Inilah dunia kita sehari-hari, makin sedikit orang yang bisa dipercaya, makin banyak orang menjadi asing, yang berarti makin besar peluang kita untuk berbuat kebajikan, untuk menjadi rahmatan lil 'alamiin.

Keesokan harinya - saat dalam kebingungan - suaminya Mbak Rina (seorang staf saya di kantor) ternyata punya ATM Mandiri, masih ada saldonya. Dan Alhamdulillah masih percaya sama saya, sehingga kisah inipun - atas pertolongan Allah -bisa happy ending..

Tuesday, November 13, 2007

Keajaiban Diam-diam...

Saat itu tahun 1995, di kontrakan Kuncen. Ada Itok, Udin, saya dan Eri. Yang lain saya lupa, tapi kita ngobrol tentang Studio Petakumpet: bagaimana membagi pekerjaan dan hasilnya (untungnya). Waktu itu ada yang bilang,”Pren, kita gak bisa begini terus. Kerja selesai lalu untungnya dibagi semua, lagipula belum ada aturannya sehingga tergantung koordinatornya siapa. Kalo koordinatornya adil, semua akan hepi. Tapi jika tidak? Sekarang mungkin belum terasa masalahnya karena kita baru bagi-bagi seratus atau dua ratus ribu rupiah. Tapi kalo besok yang dibagi seratus atau dua ratus juta gimana? Apa gak malah jadi bertengkar hebat antar teman? Dan sekarang di tahun 2007, kita bicara lebih dari seratus dua ratus juta dan syukurlah semua sudah ada aturannya sehingga tak perlu bertengkar antar teman.

Pada saat bikin Company Profile bertema Fresh Ideas for a New World tahun 1998, oranye sebagai warna korporate Petakumpet disepakati: tanpa konsep dan alasan apa-apa kecuali terlihat semangat dan segar aja. Nah, waktu kantornya pindah ke Gedongkiwo yang ditumbuhi pohon nangka tahun 1999.. saat nangkanya berbuah dan dibuka: dagingnya berwarna oranye. Bukan kuning seperti biasanya. Serius! Rasanya kayak warna korporatnya telah direstui alam semesta.

Waktu bikin Company Profile bertema Dreamlight tahun 2004, ikon yang dipakai adalah kunang-kunang: juga masih tanpa konsep dan alasan yang jelas kecuali ingin berbeda ketimbang tahun sebelumnya. Desainnya penuh kunang-kunang sampai semua Corporate ID-nya juga. Dan saat tahun 2007 kita pindah kantor ke Dreamlab Building di Jl. Kabupaten keanehanpun berlanjut: di sekitar gedung seluas 970 m2 itu terhampar sawah nan luas. Dan bila malam tiba: sawah-sawah itu penuh kunang-kunang. Bukan satu dua, tapi penuh kunang-kunang. Ya Allah, takjub saya!

Dan selanjutnya, apakah keajaiban ini akan terus hadir? Saya belum tahu, tapi saya sudah mimpi siang malam Petakumpet bakal jadi covernya Fortune Magazine. Saya mimpi Petakumpet jadi The Most Creative Agency di Citra Pariwara. Btw, bukan tugas saya mengundang semua keajaiban ini hadir. Tuhan telah mengatur semua itu. Saya hanya sejenak bermimpi untuk lalu harus kembali bekerja, terus bekerja…

Monday, November 12, 2007

Ada Titipan dari Langit Ketujuh


Preview Tekyan Page 1, 2, 3





Tekyan diterbitkan oleh Balai Pustaka, merupakan pemenang lomba cergam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mengambil tema sosial yang sangat relevan dan jarang dimunculkan dalam komik Indonesia: tentang anak jalanan. Dari kisah si anak jalanan (istilah jalanannya: tekyan ), kita dibawa menengok secercah suasana gerakan reformasi 1997-1998.
Salah satu sindiran nakal dalam komik ini adalah gambaran sipir penjara yang mirip sekali dengan (mantan presiden) Soeharto. Masih bisa ditemui di toko-toko buku atau saat pameran buku IKAPI. Anda yang suka ini mungkin tertarik pula membaca
Kecoak, Ayam Majapahit, dan Panggil Aku Wartini Saja.
- Comment Ruang Baca Edisi Cetak Tempo, 26 Februari 2006 -

Busy Monday

What a busy day! Start woke up at 4 am, watching Die Hard 3 (With Vengeance), at 6 doing some design works with a cup of hot coffee. Wrote and checked new emails. Meeting in the morning, some instruction to staffs, going outside to meet client (Angkasapura, Plaza Ambarrukmo), PPPI meeting, back to office in hard rain (some billboard's falling down), meeting with President Director, some instructions to staffs (again), writing letters to clients (so many letters today), took a bath in the office (give time to go home), start working again... Finally, there's time to write blog for a while. Thank God!

But, my day hasn't over yet. Time counting... Go go go....

Friday, November 9, 2007

Bisnis yang Dholim

Tahukah Anda bahwa di negeri ini: orang miskin memberi harta pada orang kaya, orang bodoh memberi nafkah pada orang pinter dan perusahaan kecil memperkaya perusahaan raksasa? Dan segeralah terkejut: sistem seperti ini telah berlangsung begitu lama dan hampir setiap orang melihatnya sebagai kewajaran, sebagai sesuatu yang baik-baik saja.

Satu contoh, berapa jam waktu yang dihabiskan masyarakat kita untuk nonton sinetron sampah dengan sukarela? Rata-ratanya sekitar 1 - 2 jam sehari, atau malah lebih. Berapa banyak iklan yang tayang pada durasi 1-2 jam tersebut? Mungkin lebih 30 iklan. Berapa tarif iklan 30 detiknya? Sekitar 5 - 15 juta rupiah tergantung rating acaranya. Siapa yang paling untung? Para pembuat sinetron sampah. Para pengiklan. Siapa yang dalam rantai makanan paling dirugikan? Ya mayoritas masyarakat kita. Dan sialnya, kita nggak nyadar. Atau sadar, tapi tetap nontoooon terus...

Contoh kedua, lihat anak-anak kita yang sekarang sekolah dari mulai SD sampai SMU. Lihat buku pelajarannya. Siapa yang bikin? Orang-orang 'pinter'. Berapa banyak buku yang dibikin? Puluhan bahkan ratusan juta eksemplar. Siapa yang paling diuntungkan? Penerbit, Distributor, Pengarang. Siapa yang harus membayar mereka? Orang tua murid atau muridnya sendiri. Apakah mereka menjadi pinter setelah belajar buku paket? Tidak juga, lihatlah jumlah penganggur di negeri ini. Lalu pertanyannya, kok bisa proses pembodohan ini diterus-teruskan? Karena kita menganggapnya wajar, anak sekolah ya perlu belajar. Belajar perlu buku paket. Padahal segala yang baunya paket bikin tidak kreatif. Kalo tidak kreatif berarti gak siap memecahkan persoalan. Nah!

Satu contoh lagi, banyak perusahaan kecil (seperti Petakumpet) yang melayani beberapa perusahaan besar. Benar-benar besar, beberapa malah multinasional. Ordernya tak selalu besar, kadang kecil-kecil. Gak pernah ngasih uang muka dan maunya bayar mundur di belakang kadang sampai 3 bulan bahkan 6 bulan. Semua biaya ditanggung pelaksana order padahal untungnya sering gak signifikan. Akibatnya cashflow gak lancar, sementara perusahaan besar punya keuntungan mainin cashflow 3 bulan. Udah modalnya jauh lebih besar masih tega memaksa perusahaan kecil memodali pekerjaan promosi mereka. Waktu saya pernah protes, mereka bilang: ini aturan main disini, kalau nggak setuju ya nggak usah kerjasama. Gobloknya, karena kerjaan emang gak mudah didapat order mustahil itu diterima juga. Perusahaan besar makin besar dengan menginjak perusahaan kecil, yang kecil tetep aja kecil jika masih kuat diinjak. Yang gak tahan diinjak akhirnya mati.

So, yang seperti ini menurut saya namanya dholim. Saya belum tahu bagaimana mengubahnya. Jelas betul bahwa semakin kuat dan semakin besar perusahaan maka kekuatan menindasnya juga makin besar meskipun caranya juga makin halus, makin tak kentara, malah seringkali sesuai hukum dan peraturan perundang-undangan.

Tapi jika negeri ini mau maju, sistem bisnis dholim ini mesti diluruskan. Aturan mainnya disesuaikan dengan nilai keadilan dan win win solution. Jika aturannya belum bisa ditegakkan, paling tidak kita mulai dari diri kita sendiri: perusahaan kecil kita jangan ikut-ikutan dholim. Jika kelak tumbuh dan berkembang jadi raksasa, juga gak boleh ikut arus jadi dholim. Semakin besar kekuatan, harusnya semakin besar tanggung jawab, harusnya semakin mengayomi yang kecil-kecil.

Tapi syukurlah bahwa Tuhan hanya menilai dari amal ibadah kita, bukan dari besarnya kekuasaan dan kekayaan bisnis kita di negeri fana ini..



Thursday, November 8, 2007

Mengajari Orang Berdoa

Ini cerita yang saya kutip dari seorang teman.

Di pintu surga, seorang kyai terkejut. Di depan antriannya ada seorang sopir: yang jika dilihat dari sisi apapun takkan bisa lebih sholeh darinya. Maka kyaipun bertanya pada malaikat penjaga,"Maaf lho mas malaikat.. Bukannya saya mau protes, tapi mengapa pak sopir ini antriannya ada di depan saya. Padahal (sambil membetulkan sorbannya) saya kan - ehem.. maaf lho - lebih banyak ibadahnya..."

Malaikat tersenyum dan balik bertanya,"Pak Kyai, berapa orang yang pernah belajar doa padamu dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh?"

"Yang belajar tak terhitung, mungkin ribuan.. Tapi saya tak tahu berapa yang sungguh-sungguh mengamalkan doanya.."

Malaikat kembali tersenyum dan berkata,"Makanya antrean Anda di belakang sopir bis ini, dia lebih banyak mengajak orang berdoa ketimbang Anda. Saat di dunia, dia memang tak banyak ibadahnya. Selama 40 tahun jadi sopir ia justru sering ugal-ugalan nyopirnya. Dan saat dia ngebut, seluruh penumpang bis berdoa begitu khusyuknya meminta keselamatan pada Tuhannya. Doa yang sesungguhnya, dari hati yang paling dalam. Banyak yang sampai cemas berkeringat dan mencucurkan airmata lantaran takut tak terkabul doanya."

"Gimana, sudah jelas Pak Kyai?"

Wednesday, November 7, 2007

The Next Big Thing


Rasanya gak sabar nunggu waktu itu datang: energi buat menyalakan industri kreatif berbasis komik meledak-ledak, tak dapat lagi ditahan. Tapi bikin komik lagi bukan sekedar klangenan alias cinta monyet semata. Ndak cuma hobi, ndak cuma balas dendam.
Setelah ngobrol panjang selepas lebaran kemarin, rasanya memang dunia komik Indonesia perlu mendapat tamparan super keras sekali lagi buat bangun!
Dan kamipun berkumpul: Yudi Sulistya (Senior Illustrator Petakumpet, Juara Komik Nasional), Apriyadi Kusbiantoro (Studio Urakurek, Animator Iklan, Juara Komik Nasional), Eri Setiyono (Infinite Frameworks, Animator, Multimedia Designer, Juara Komik Nasional), Ahmad Faisal Ismail (Sebikom, Kreator Sukribo Kompas, Juara Komik Nasional) dan saya (tukang bikin minum, motongin kertas dan juru ketik) untuk membicarakan project serius ini.
Dan projectpun dimulai: kami butuh satu tahun (tanpa diskon) hanya untuk bikin script yang inspired, baik untuk komik-komik kami yang di-reborn maupun judul yang Gress. Tanpa script yang kuat, illustrasi sekeren apapun pasti gak bunyi. Mmm.. apalagi jika asal-asalan demi kejar setoran.

Waktu setahun persiapan rasanya tak bakal cukup untuk karya yang sungguh-sungguh. Adrenalin ini terus bergolak, tak sabar menunggu karya itu lahir...

Sunday, November 4, 2007

Iseng

Hujan begitu deras di luar, saya terjebak di Dunkin Donuts Plaza Ambarrukmo. Tadi barusan present logo Ambarrukmo Phone Market. Karena kalo mau dapet internet akses mesti beli secangkir kopi dulu: jadi deh bekerja di Dunkin siang ini. Cek email, revisi desain logo, kontak klien-klien. Not so bad lah, thanx to Macbook. Kalo dulu laptop Toshibanya gak bisa wifi, jadi rasanya beruntung sekali hari ini. Mmmm.. gak terasa kopinya dah mau abis, dan kayaknya hujan mulai reda. I should go, ngejar setoran lagi. Nguber klien lagi. Sampe ketemu dengan postingan berikutnya. Hope dari tempat yang lebih cool...

Thursday, November 1, 2007

Hidup Itu Rapuh

Saya punya seorang teman. Teman saya itu punya Paman. Orangnya sehat, gagah, jarang banget sakit dan selalu menjaga kesehatan. Hidupnya tidak macem-macem, berjalan wajar apa adanya. Umurnya sekitar 45 tahun. Sampai pada suatu hari, dia naik motor. Juga tidak ngebut, sekitar 40 km/jam lah. Di tengah jalan dia merasa ada yang salah, nafasnya terasa sesak. Dia berhentikan motornya, mesin dimatikan. Kunci motornya masih ada di setang, belum dilepas. Lalu dia duduk sebentar, kemudian... meninggal.

Mungkin jalan hidup begini tidak terlalu mengagetkan buat Anda, cara meninggal yang lebih aneh juga pasti lebih banyak. Di koran Merapi (koran lokal Jogja) pernah diberitakan seorang Ibu sedang buang air besar di atas jumbleng (lubang yang berfungsi WC, tapi langsung gak pake diguyur). Ternyata pijakannya patah dan ibu itu masuk ke dalam jumbleng. Meninggal.

Tapi inilah misterinya hidup. Apa yang kita perjuangkan sepenuh hati, apa yang kita cintai mati-matian, apa yang kita bela sampai titik darah penghabisan, apa yang bikin Hitler kumat stresnya sehingga membunuh jutaan orang: semua itu rapuh. Sangat rapuh. Kita akan gampang kecewa jika menginginkan hidup ini mengikuti semua kemauan kita. Di film Bruce Al Mighty, jadi Tuhanpun ternyata bukan solusi untuk memenuhi keinginan manusia yang terus berubah, terus bertambah terus terus terus.

Keinginan manusia baru berhenti ketika mulutnya diberi makan tanah kuburan. Ada baiknya kita merasa bakal mati besok pagi, agar yang terbaik dari hidup yang rapuh ini bisa kita perbuat. Agar tak menyesal ketika malaikat maut menyapa di tengah jalan atau di dalam kamar saat kita sendirian, tapi kita lupa menyiapkan bekal untuk perjalanan panjang.

Dalam kelebihan atau kekurangan, dalam kekayaan atau kemiskinan, dalam sehat atau sakit, kita menjalani hidup yang rapuh. Justru karena itu kita mesti banyak bersyukur.