Mybothsides

Saturday, October 27, 2007

Arek Nekad


Biarpun capek karena jaga stand di Tradexpo 5 hari berdiri terus tanpa kursi tapi masih bisa leyeh-leyeh sambil tetap berpromosi (boleh dilangkahi tapi jangan diinjak, wa ka ka kaa... )

Hari Blogger Indonesia

Biar gak lupa aja, kalo ternyata para blogger sudah punya hari khusus untuk ngeblog secara nasional ya hari ini 27 Oktober. Kalo usul saya, Hari Blogger Indonesia ini mustinya libur nasional. Dan pada hari itu seluruh akses untuk ngeblog serta pake internet digratiskan. Nggak rugi kan kalo digratisin sehari? Gimana Pak Menteri, Ketua Asosiasi Warnet, Direktur Telkom Speedy, Ketua DPR, Pak Presiden? Gimana, setuju?

Saturday, October 13, 2007

Tribute to DPS & Ethan Hawke


Ziarah ke Diri Sendiri

Menyusuri sepanjang kota yang kosong dan toko serta supermarket yang tutup. Warung makan yang tutup. Pedagang kaki lima yang tutup. Merasakan kesendirian dalam jalan yang lengang. Mencoba mengakrabi sunyi, berlebaran dalam diam. Tak ada sms, tak ada telepon basa basi, seluruh maaf sudah kusiapkan sebelum kesalahan dilakukan. Tapi entahlah apakah dunia juga menyediakan maafnya untuk di-download gratisan, juga maafnya saudara dan handai taulan atas kesalahan yang kulakukan.

Sekali lagi, saya hanya perlu minggat dari tradisi, kapok oleh rutinitas dan melawan itu semua meskipun sekedar jadi negasi. Tak mudah mencari makna, tapi tak larut menjadi sekedar bebek budaya pastinya perlu diperjuangkan: kita kadang masih sungkan dan tak enak hati. Tapi relung hati terdalam juga perlu dikunjungi dan diajak silaturrahmi. Jiwa kita yang mati karena beban kerja dan tuntutan duniawi juga perlu diziarahi. Agar senyum itu mengembang dari dalam dan cahayanya menerangi yang di luar.

Saat sepi menyesap, kita sesungguhnya tak sendiri. Sungguh-sungguh tak sendiri...

Friday, October 12, 2007

Lebaran Itu...

Saat lebaran datang, pertanyaan itu hinggap: pantaskah saya lebaran?

Saat takbir bergaung di sudut-sudut kota, seseorang dalam gelap mengorek-ngorek sampah mencari yang tersisa. Saat keluarga berkumpul dalam tawa riang, seorang ibu menidurkan bayinya tanpa selimut di trotoar pinggir jalan. Saat milyaran sms terkirim bertarif 300-an, sebungkus nasi hampir basipun tak mudah didapatkan.

Mmmm... Mungkin tak penting benar bertanya tentang kepantasan. Ini hidup, begitulah warnanya. Setiap makhluk menerima nasibnya. Lebaran ya lebaran, tapi setelah itu hidup toh tak seluruhnya kembali suci. Tak banyak yang berubah, kasih sayang dan kemurahan yang ditempa Ramadhan pun akan kembali sunyi.

Tapi jangan bersedih, Saudaraku. Tak selamanya hidup akan bergelut kesedihan dan penderitaan. Tak selamanya mereka yang berlebihan akan sanggup menikmati kemewahan itu sendirian. Lebaran selalu datang setiap tahun, membawa nikmat yang mungkin sekejap. Tapi lebaran selalu hadir di hati, untuk yang tunduk dan ikhlas menyadari: tanpa hari sucipun, kebahagiaan hadir saat berbagi...

Wednesday, October 10, 2007

Ngapain?

Seorang sahabat saya sarjana ilmu sosial yang lama tak jumpa suatu hari tiba-tiba bertanya: aku itu heran sama orang-orang yang tiba-tiba demam sedekah. Ngapain kalo cuma ngasih gelandangan sebungkus nasi? Besok toh mereka lapar lagi. Ngapain kalo cuma ngasih seribu rupiah, nasib pengamen kecil itu toh tak berubah. Besok pasti ngamen lagi di sini. Ngapain bagi-bagi Supermi sama orang miskin, mereka toh miskin karena malas. Lagipula, emang punya kompor? Kasih kompor dong ama minyaknya sekalian. Memberantas kemiskinan itu tidak bisa dengan memberikan ikan, you harus kasih kailnya. Klo ngasih ikan doang, you nggak mendidik mentalnya. Mereka akan terus meminta-minta, bahkan mungkin jumlahnya makin bertambah. Karena sepertinya orang-orang itu memberi sedekah niatnya cuma pengin dapat balasan rejeki dari Allah yang berlipat tapi males berfikir yang lebih sistemik. Yang memberdayakan gitu loh, bukan cuma kenyang sebentar besoknya tetep jadi gelandangan.

Saya hanya menelan ludah dan menerawang. Memangnya saya ini siapa sehingga dianggap 'mampu' memanggul problem kemiskinan struktural seberat itu? Sedangkan Khalifah Umar memberi tauladan dengan memanggul sekarung gandum agar rakyatnya yang kelaparan bisa makan. Benar bahwa berbagi sebungkus nasi atau sekeping uang logam tak akan mengubah apa-apa, yang miskin mungkin tetap miskin. Tapi sedekah itu manfaat terbesarnya bukan buat yang diberi, tapi yang memberi.

Sedekah akan membawa hati kita menjadi kaya, semiskin apapun kita. Lagipula, tak semua sedekah bisa sampai ke tangan yang tepat. Bahkan oleh Tuhan, sedekah pada orang yang salah pun (orang kaya, orang jahat, orang kafir) tetap diterima-Nya. Tapi namanya belajar, segala sesuatu harus melewati proses. Yang bersedakah karena pamrih agar Allah menolongnya dari kesulitan ya tidak apa-apa. Yang bersedekah agar cepet dapat jodoh ya boleh saja. Bahkan yang bersedekah agar terlihat bahwa ia pemurah 'mungkin sedikit lebih baik' ketimbang yang khotbah doang tak bersedekah apa-apa. Wallahu 'alam.

Suatu hari nanti, kita akan bertemu lagi dan berfikir yang lebih sistemik untuk tidak sekedar bersedekah secara konsumtif. Kita akan ngobrol panjang lebar tentang kultur sedekah, tak cuma buat yang kaya tapi juga buat Saudara kita yang miskin. Allah sendiri telah berjanji bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta, malah menambah dan menambah. Jadi pasti cocok kalo diterapkan pada Saudara kita yang kekurangan dan pengin tercukupi kebutuhannya.

Tapi sampai segala sesuatunya siap, tolong jangan melarang siapapun yang mampunya hanya sedekah ikan, bukan kail. Kita bahkan tak tahu, apakah Saudara kita di luar sana, di gubug tak berlampu dan pinggiran sungai rawan banjir masih bisa menikmati hidupnya besok pagi dengan senyuman, jika di malam dingin ini tak ada sesuatu yang bisa dimakan.

Monday, October 8, 2007

Blank!

Kadang ada waktu-waktu tertentu ketika kita merasa blank, gak tahu mau ngapain, bingung mesti gimana, mengerjakan hal yang remeh temeh padahal ada tugas besar yang harus diselesaikan. Jadinya malah bengong, gak ngapa-ngapain. Plus rasanya males banget, bahkan untuk tidur aja masih males. Ayo, siapa yang pernah ngalamin pegang mouse-nya... (nah, banyak yang pegang kan?)

Sebenernya ini gejala wajar. Sangat manusiawi sehingga tak perlu kuatir. Kalo di komputer ini seperti proses download atau upload. Terlihat di monitor gak ngapa-ngapain kecuali kedip-kedip doang, tapi sebenernya di internalnya kerja keras luar biasa. Jika kapasitasnya gak kuat, bisa hang deh komputernya.

Nah, jika suatu hari (ini bisa berlangsng berhari-hari bahkan berminggu-minggu) mengalami kondisi seperti ini: pikiran kita jangan dipaksa. Apapun pekerjaannya, segawat apapun, tinggalkan dulu sementara, bener-bener dilupakan. Lalu kerjakan hal-hal yang menjadi kesukaan kita, hobi misalnya. Atau sekedar bengongpun ok. Atau jalan keluar makan di angkringan. Atau kabur ke tepi pantai (buat yang rumahnya deket pantai). Intinya, segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan persoalan yang memberatkan pikiran kita. Tujuannya, ya biar gak hang: nanti lebih repot. Biar relaks, biar gak tegang.

Kalo saya lebih senang untuk mengikuti irama hati: asal masih dalam batas wajar, saya ikuti aja maunya keinginan dan tubuh saya. Kalo pengin tidur, saya puas-puasin tidur sampe sehari semalam kalo perlu. Sampe bosen tidur pokoknya. Kalo mau nonton film, nonton aja. Kalo mau sendiri di pinggir sawah sampe malem, ya ayo aja. Selalu ada mentalitas anak kecil di diri kita yang kadang harus kita penuhi keinginannya. Karena setelah itu melewati titik ambang batasnya - percayalah - air bah ide dan kreativitas akan membanjiri hari-hari selanjutnya: sampai kita kehabisan waktu, sampai kita lupa bahwa pernah blank beberapa hari sebelumnya.

Begitulah, selamat menikmati kebengongan. Selalu bersyukur dan tetap semangat!

Sunday, October 7, 2007

Mencari Teladan

Rasa-rasanya memang tak mudah untuk mencari teladan di dunia yang tak sempurna ini. Atau memang tak perlu, lantaran selalu terdapat kekurangan dari siapapun tokoh yang dianggap 'pantes' jadi teladan. Tak juga presiden, penyair, pemusik, penyanyi, bahkan ustadz. Ustadz? Ya, atau kyai. Rasanya masih belum lama saat AA Gym menikah lagi, banyak umat yang sebelumnya menjadikan beliau teladan lalu berpaling tak mau datang mengaji lagi. Trus Yusuf Mansur yang sempat bikin klarifikasi ke publik lantaran 'merasa' dituduh ustadz komersil lewat postingan di sebuah blog. Juga Zainuddin MZ dai sejuta umat, kemana beliau sekarang? Bahkan Emha Ainun Nadjib atau Nurcholish Madjidpun tak luput dari aspek manusiawi: mereka tak sempurna sehingga 'dianggap' tak pantas diteladani sepenuhnya.

Kita ini jadi umat ya aneh, maunya niru terus gak mencoba mengembangkan penalaran dan kreativitas sendiri untuk belajar dan mengembangkan diri dengan merdeka. Mentalitas kita itu diberi ilmu bukan mencari ilmu. Jadi saat sang patron ternyata tak sesuai yang diharapkan lantaran punya cacat, kaburlah kita sambil menyumpah-nyumpah sang patron yang dianggap mengecewakan hatinya. Lha ya repot to kalo gitu terus, sebagai bangsa kita bakal jalan di tempat.

Buat saya pilihannya ada dua, yang pertama jangan meneladani tokohnya alias orangnya. Jadi kalo besok ketahuan sang tokoh punya belang, kita tak kecewa. Toh yang kita teladani, pemikiran dan tindakannya yang baik-baik aja dan yang berguna buat mendewasakan hidup kita. Yang kedua, total sekalian kalau mau meneladani. Ya baiknya, ya buruknya, satu paket sebagai manusia. Jadi kita bisa menerima karena toh setiap manusia punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Kita juga tak lalu kecewa di tengah jalan, kita tahu persis untuk tak berharap lebih pada sosok manusia.

Mmm, sebenarnya ada pilihan ketiga. Kita teladani saja Tuhan, Dia Maha Sempurna. Tapi gimana caranya wong kita ini potongane gak sempurna gini? Nah, sekarang saatnya mikir serius ketimbang sibuk nyalahin orang lain, ketimbang sibuk mengutuki tokoh ini dan itu. Insya Allah, segala sesuatunya akan baik-baik saja. Silakan mengambil teladan dari siapapun yang pantas diteladani, tetap open mind dan selalu sabar setiap terjadi hal yang tak sesuai keinginan kita...

The Secret of Giving


Ini adalah free download wallpaper, teksnya saya kutip dari Ust. Yusuf Mansur, silakan di-copy dan digandakan. Semoga bermanfaat sebagai sarana mengingat Allah, Sang Maha Pemberi...

Friday, October 5, 2007

Menyusun Mozaik Kebangkitan Iklan Indonesia

The future belongs to those who believe in their beautiful dreams
- F. D. Roosevelt -

Pada tahun 2010, sebuah agency lokal dari Indonesia terpilih sebagai Agency of The Year di Asia Pacific Adfest. Secara keseluruhan, agency-agency dari Indonesia jika digabungkan perolehan awardnya paling banyak dibanding tetangganya: Thailand, Jepang, Singapura, Malaysia dan Negara-negara lainnya. Oya, jangan lupa bahwa anak-anak muda kita kembali meraih The Best di Young Lotus Award, mengulang prestasi tahun sebelumnya. Dan di tahun 2010, senior-senior periklanan Indonesia akhirnya berhasil mengikuti jejak yuniornya dan meraih yang terbaik di AP Adfest.

Ahh, semoga Anda tidak kecewa jika saya memulai tulisan ini dengan bermimpi, yang mungkin akan dianggap terlalu mengada-ada. Lagipula, saya belum pernah sekalipun hadir di perhelatan AP Adfest sehingga makin absurd-lah mimpi yang saya tuliskan. Tapi karena mimpi masih gratis, jadi saya tak perlu bayar mahal untuk bermimpi yang tinggi-tinggi.

Yang saya tahu banyak di antara kita yang sangat berharap bisa dapat award di AP Adfest, Cannes Lions, New York Festival atau festival iklan internasional lainnya. Nyatanya, beberapa sudah mulai bawa pulang awardnya. Tapi mimpi ini harus dilanjutkan, beranilah menjadi yang terbaik di semua kategori: jadilah Agency of The Year di ajang kompetisi award tersebut.

Ok, setelah melanglang buana ke langit saya akan mengajak Anda sekalian menjejakkan kaki lagi di bumi. Jika tujuan sudah ditetapkan, sekarang kita cari tahu bagimana cara mencapainya. Apa yang sekarang kita punya dan apa yang kita perlu lakukan segera.

Mimpi Ini Bukan Hanya Tanggung Jawab Jakarta

Dari pelajaran yang didapatkan dari festival iklan internasional, mayoritas iklan award winning adalah hasil kolaborasi yang intens antara agency dan kliennya, sehingga dari sisi kreativitas, agency memiliki ruang yang cukup untuk bereksplorasi. Sementara klien di sisi lainnya sangat mempercayai bahkan memberikan dukungan sepenuhnya.

Industri ini terus bergulir dan tarik menarik kepentingan di dalamnya begitu kuat: dari agency, klien, media, media specialist bahkan pemerintah. Kepentingan masing-masing pihak untuk mendapatkan manfaat terbesar dari sebuah proses kampanye periklanan jarang menghasilkan kesepakatan terbaik: sehingga mayoritas output iklan yang dinikmati masyarakat lebih banyak berisi pengumuman, saran untuk segera membeli atau undian berhadiah sebagai cara instant untuk meningkatkan penjualan.

Tapi inipun OK, sejauh memang aspek jangka panjang dari industri periklanan ini juga menjadi bahan pertimbangan agar industri ini bisa berkembang dan makin besar kontribusinya bagi masyarakat luas. Bukannya makin berkurang revenue-nya dan punah karena kesalahan dalam sistem pengelolaannya.

Inilah yang saya maksudkan bahwa Jakarta tak bisa dibiarkan sendirian memanggul beban untuk mewakili wajah dunia periklanan Indonesia di mata internasional. Teman-teman kreatif di agency Jakarta bekerja begitu berat, selalu kelelahan di ujung hari saat melangkah pulang kantor, dihajar begitu banyak pitching, berperang dengan waktu untuk menghasilkan suatu kampanye promosi yang begitu complicated. Jangankan menghasilkan output yang layak tanding di award competition, bikin scam ad pun mungkin sudah tak punya waktu dan energi lagi.

Dengan kompetisi yang begitu berat dan margin keuntungan yang main tipis karena banyak agency tak bervisi panjang ke depan, saya khawatir industri ini terus menurun keuntungan ekonomisnya dan tidak menarik minat investasi lagi. Meskipun saya masih meyakini, industri ini secara fundamental masih sangat prospektif ke depannya.

Menengok Potensi di Luar Jakarta

Saya ingin mengajak Anda untuk melihat alternatif lainnya, keluar sebentar dari rutinitas dan keruwetan sehari-hari. Bagaimana jika kita bisa mengembangkan sentra kreatif (SDM, pembelajaran, pengerjaan) di luar Jakarta. Pertimbangannya: daily live-nya tidak seberat Jakarta, living cost lebih rendah, tuntutan bisnis belum begitu berat, sehingga masih cukup waktu untuk merenung, brainstorm dan bereksplorasi dalam eksekusi kreatifnya. Dan dengan mulai rutinnya kegiatan pengmbangan kreativitas iklan, saat ini tersedia lebih dari cukup mahasiswa calon SDM kreatif yang handal, yang saipa bersaing dengan senior-seniornya.

Pinasthika, Jawa Pos Adfest, Layang Kancana, ADOI Award dan Citra Pariwara adalah modal yang kita miliki sebagai ajang seleksi alam atas karya-karya iklan terbaik dari seluruh Indonesia. Tentu dengan karakteristik dan benchmark yang kontekstual di wilayah kompetisinya masing-masing. Dari output pemenang yang didapatkan pun, terbukti bahwa teman-teman agency dari Jogja, Solo, Surabaya, Bandung dan kota-kota lainnya mampu memberikan perlawanan yang manis terhadap kolega-koleganya dari Jakarta. Bahkan di Pinasthika, mayoritas pemenang berasal dari luar Jakarta. Bohlam Advertising, sebuah agency yang lahir di kampus Atmajaya Yogyakarta berhasil meraih The Best TV Ad. di Pinasthika 2007, mengalahkan semua agency lokal di Indonesia. Bayangkan!

PPPI sebagai induk advertising agency, tentu diperlukan perannya yang sangat signifikan dalam proses penataannya sehingga semua award competition di negeri ini terintegrasi dengan tujuan bersama untuk bertarung di kompetisi internasional yang lebih tinggi, demi Indonesia. PPPI bisa menatanya sedemikian rupa sehingga masing-masing award competition ini bisa saling melengkapi dan membawa manfaat sebesar-besarnya buat industri dan agency. Misalnya dari sisi jadual pelaksanaan, jenis entry, pilihan juri dan sebagainya, seperti mozaik yang kemilau karena ditata dengan sangat pas.

Waktunya Berubah

Mungkin agak naïf di jaman kompetisi bisnis begini brutal, saya masih bicara membawa nama Indonesia untuk menangin International Award. Biarlah para pakar periklanan lainnya yang akan membahas sisi bisnis kreatifnya. Tapi saya hanya ingin setia dengan apa yang menjadi alasan utama saat kita semua terjun di bisnis kreatif: mengapa kita memilih advertising sebagai core business, bukannya bidang lainnya.

Karena industri yang jualannya ide ini seharusnya mampu mengaktualisasikan diri dan kreativitas kita sepenuhnya, sehingga setiap jam kerja kita bisa dinikmati dan membahagiakan. Sehingga kita tak lagi lelah di ujung hari, bermimpi buruk dalam tidur yang pendek dan tergesa-gesa menyambut pagi untuk didera kesibukan bikin iklan yang makin membuat kita lelah hari demi hari.

Kita harus mulai berbenah. Mulai menghargai diri dan waktu kita, demi kelangsungan dan pengembangan industri ini ke depannya. Saya berharap kita bisa memulai upaya ini dari diri kita masing-masing meskipun dari yang kecil-kecil dulu dan jangan ditunda lagi.

Saya yakin Indonesia bisa unggul tidak hanya di Asia Pasifik, tapi juga di dunia. Dan kita bisa menikmati prosesnya dengan riang hati. Dan saya juga yakin, apa yang akan terjadi tahun 2010 bukan hanya mimpi semata dimana orang-orang akan tertawa saat tidak menjadi kenyataan. Saya juga tahu saya tidak sendirian dengan mimpi ini, Andapun – dalam bentuk yang mungkin berbeda – berhak memimpikan pencapaian-pencapaian yang bahkan lebih baik.

Saya menyelesaikan tulisan ini menjelang pagi yang cerah saat angin dingin sepoi menemani. Tepat di depan saya gunung Merapi yang megah menyapa ramah. Di sebelah kanan semburat sinar matahari kemerahan yang lembut menerpa. Di bawah, hamparan sawah hijau diselimuti embun luas membentang, menyegarkan hati dan jiwa. Di Jogja, juga di kota-kota lain dimana kesibukan belum mengambil alih hidup kita: kemewahan sederhana ini masih mungkin kita nikmati sambil kreatif berkarya. Anda di Jakarta pun berhak menikmatinya.

Persoalannya, berani berubah tidak?



Notes: tulisan ini dimuat di Majalah Cakram Terbaru Edisi Oktober 2007, beberapa diedit oleh Redaksi dan memang lebih pas. Tapi di sini saya posting versi aslinya, sebelum diedit. Ada sedikit perbedaan, silakan temukan yang mananya.

Tuesday, October 2, 2007

Tuhan Ada di Emperan Jalan

Ya, Tuhan memang ada di emperan jalan dan di pojok-pojok tak terlihat mata. Tuhan bersembunyi, takut pada segala sesuatu yang terang. Tuhan tengkurap atau berbaring, atau menerawang jauh dan kosong. Tuhan berbalut kain robek, kotor dan bau, beralas kardus dan koran bekas. Tuhan mengais-ngais sampah mencari sisa makanan yang semoga belum basi. Tuhan merintih, perutnya melilit minta diisi tapi cuma ada angin dan air comberan. Tuhan yang disembah-sembah dengan khusyuk di mesjid dalam jamaah yang wangi dan bersih, menggigil kedinginan dimangsa angin malam yang jahat.

Tuhan menyapa kita semua dengan tatap mata kesakitan, kita menutup hidung dan pura-pura memandang kelap kelip lampu reklame di pertokoan raksasa. Tuhan menyingkir di pohon besar tempat orang kencing diam-diam, menikmati bau pesingnya dalam kesedihan yang tak terperikan.

Tuhan sering hadir tak seperti persangkaan kita. Tuhan sering menyelinap menggoda. Kita yang harus membuka mata dan hati lebar-lebar agar kehadiran-Nya dalam hidup kita tak sia-sia. Kita bilangnya muslim, atau mukmin bahkan pemuka agama, membaca Qur'an fasih dan ber-umroh puluhan kali. Tapi saat Tuhan menengadahkan tangan, kita tak paham malah menyapa,"Maaf tak punya uang recehan..."

Tuhan tak marah saat kita nilai lebih rendah dari recehan. Tapi alam semesta yang tak rela. Ketika Sang Pencipta tak disapa dengan cinta, maka Iapun pergi membawa kasih sayang-Nya. Dibiarkannya hamba yang tak peduli, yang tak menyapa, yang tak terbuka hatinya. Dibiarkannya dalam kesulitan hidup yang ia ciptakan sendiri, karena egoisme yang tumbuh dari keserakahan hatinya.

"Mengapa tak Kau jawab doa-doa kami ya Tuhan yang Maha Pengasih? Mengapa tak Kau selamatkan kami dari pemimpin yang dholim? Mengapa tak Kau tunjukkan jalan kami dengan cahaya-Mu? Mengapa Kau tinggalkan kami dalam masalah besar yang tak mampu kami selesaikan?"

Bagaimana doa kita akan didengar kalau saat Ia menyapa kita selalu membuang muka?