Mybothsides

Wednesday, August 22, 2007

Terus Melangkah...

Satu yang saya pelajari dari Buku Pursuit of Happyness, saat keadaan memaksa kita untuk menyerah atau bertahan: kita harus terus maju. Saat sepasukan menyerang dan satu atau dua anggotanya tertembak tewas tepat di sebelah kita, kita harus terus maju. Kehidupan punya seribu sisi, yang setahu saya tak ada manusia yang mampu menjaga semuanya dalam kondisi sempurna. Selalu ada kekurangan, selalu ada kesalahan, selalu ada cacat.

Saat kita merasa hidup tak berguna, saat orang-orang mulai menyalahkan, saat teman-teman terbaik mulai pergi meninggalkan, saat seolah-olah kita tinggal sendirian saja di bumi yang kejam ini, saat otak buntu bahkan linglung, saat doa tak terjawab, saat-saat kita merasa segala sesuatu menjadi tidak mungkin kecuali menyerah, teruslah melangkah maju. Meskipun selangkah, meskipun setengah langkah...

Terus melangkah maju, itulah inti permainannya. Kesuksesan adalah bagaimana memahami yang tak dipahami logika, dan mengikuti keyakinan kita yang terdalam. Tuhan sudah tak sabar ingin menemui para pemenang yang babak belur dengan hadiah utama-Nya yang tak main-main.

Jangan menoleh ke belakang, jangan berbelok, teruslah melangkah maju...

Tuesday, August 21, 2007

Big Ideas are Like Wells

What is a big idea?

The easy way out, would be to say that a big idea is something opposite to a one off, a stand alone idea. Another attempt: a big idea is an idea bigger than just one ad.

That's a nice start; something like: a big idea is a container for more, other ideas. And I guess that is true. A big idea is like a well - it is a source for further thinking. It offers a basic thought that is interesting in itself but might also spark further thinking.

Because, I agree to what I read from other planners: ideas can be too big. They can be so big that they rule out other ideas, fresh thinking and renewal. In particular ideas that are highly executional, visual tend to work as a harness rather than a springboard.

Personally I like ideas based on compelling truths - some point of view that at least a vast group of people can easily embrace. When the all guiding thought takes the form of an opinion, when it is about taking sides, then it gets really interesting. Such ideas organize people pro and contra. They create some sort of tention. They are high in energy and can even get electrifying. Yet, big ideas are like wells.

There's a lot where it came from and like water wells, you automatically keep coming back for more.

Notes: saya dapet artikel ini dari milis CCI, dari copy postingannya Mas Daniel Rembeth. Kayaknya keren buat recharge dan dibaca ulang. Enjoy :)

Saturday, August 18, 2007

Tribute to ISI


Tak ada yang lebih menggembirakan selain mengerjakan sesuatu yang kita sangat senangi dan mendapatkan respon positif dari apa yang kita kerjakan. Tanpa penghargaanpun, selama kita mencintai pekerjaan kita: itu adalah anugerah yang luar biasa.

Mungkin jarang sekali saya menulis hal yang membanggakan tentang ISI Yogyakarta, dalam 5 tahun terakhir rasanya saya selalu mengritik dan gregetan karena segala sesuatu tentangnya tak beranjak jadi lebih baik.


Nah, hari ini - seperti dejavu - keunggulan ISI yang saya tahu dan rasakan: mahasiswanya punya bakat/talenta seni yang luar biasa kuat, jika sedang dalam top form-nya jarang bisa ditandingi oleh kampus lain.

Berikut perinciannya, thanx buat Bengbeng (Teh Jahe Komik, Akademi samali) yang udah share via MILISI (saya menyesal gak bisa hadir di BBJ karena sedang Mukerda PPPI DIY) :



  1. Komik Terbaik : Tekyan (Penerbit Balai Pustaka), M. Arief Budiman & Yudi Sulistya (Diskomvis 1994 / Petakumpet)
  2. Gambar Terbaik : Panggil Aku Wartini Saja (DepBudPar), Ahmad Faisal Ismail (Disain Interior '92) dan Cahyo Baskoro (Diskomvis 1994)

  3. Komik Indie Terbaik : Old Skul (Indie), Athonk (Seni Grafis 1992)
  4. Komik Cyber Terbaik : http://www.gibug.com/, Wisnoe Lee (Diskomvis 1991)

  5. Komik Terapi Terbaik : Keberanian, Harapan dan Cita-cita (Kompilasi Jogja 5,9 SR), Mario Diaz (Diskomvis 2000)
  6. Cerita Terbaik : Tidur Panjang (Kompilasi Jogja 5,9 SR), Beng Rahadian (Diskomvis 1995)

Kosasih Award ini menumbuhkan rasa syukur yang terdalam, sebuah tribute buat Institut Seni yang – bagi kami alumnusnya – masih yang terbaik di Indonesia. Tapi apakah kita bisa menjadikan kemenangan ini sebagai proses untuk menciptakan kesuksesan yang terus berulang dan bukannya karena faktor luck semata?

Modal dan potensi, kita sudah punya bahkan berlebih. Pilihannya adalah: kita akan maksimalkan atau malah disia-siakan.

Terima kasih ISI, saya pribadi berhutang banyak untuk semua hal-hal luar biasa yang telah dilalui di kampus Gampingan dan Sewon. Tetaplah tegak dan berbenah diri.

ISI itu burung elang perkasa, bukan ayam petelur yang lembek tak punya daya. Saat kesadaran telah memenuhi rongga dada, silakan terbang mengangkasa.

ISI itu harimau raja rimba, bukan kucing rumahan yang bisanya mengeong kalo lapar. Sudah takdir kalo ISI bakal merajai dunia kreatif Indonesia, jika itu belum terlaksana mungkin karena kurang pas dalam mengelola.

Itulah kenapa saya memilih kuliah di ISI, bukan melanjutkan kuliah saya di UGM atau berangkat daftar ulang setelah diterima di ITB.

Friday, August 17, 2007

Merdeka! Merdeka?

Wacana tentang hari kemerdekaan biasanya berkutat pada pertanyaan: emang sih kita udah merdeka dari penjajahan fisik selama 62 tahun? Tapi apa benar kita emang udah merdeka hari ini? Bukankah penjajahan hanya berubah bentuk: menjadi hegemoni merk-merk internasional, ketakutan pada Amerika, kalah bersaing dengan Cina dan India? Ahhh, sedaaappp...

Kata Emha, kita ini bangsa yang hobinya cengengesan dan tidak serius merawat nilai-nilai. Jadinya nasib enggan berubah, ya dari situ ke situ aja. Hebohnya aja udah kayak pindahan dari bumi ke mars: meski realitasnya tidak beranjak sejengkalpun dari titik awal bergerak.

Bener lho: saya coba bercermin pada diri saya sendiri. Bakat cengengesan itu saya lihat asyik ngendon tak mau pergi. Begitu banyak saya coba lakukan tapi rasanya saya tak kemana-mana. Nowhere. Sampai hari inipun, 17 Agustus 2007: saya habiskan waktu saya buat bengong dan coba memikirkan hidup yang saya jalani ini dengan lebih serius.

Saya berdoa nasib temen-temen semua lebih baik daripada saya dalam hal kemerdekaan diri. Toh membuat sebuah bangsa merdeka dalam arti sesungguhnya, hanya bisa dicapai jika secara individu anak-anak bangsanyapun mampu berfikir merdeka. Ini bukan pekerjaan mudah, meskipun saya yakin pasti sangat menantang.

Jadi, sebelum ngobrol panjang lebar tentang kemerdekaan, ijinkan saya memerdekakan diri saya dulu. Setelah proses perang kemerdekaan internal ini selesai, saya tidak akan sungkan untuk nulis yang lebih gagah lagi tentang Indonesia.

Thursday, August 16, 2007

Keganasan 100% Indonesia



Buat yang udah gak sabar nunggu harinya, nikmati dulu iklannya yach. Just info: iklan ini hasil kerja keras timnya Dedy, dengan fotografi ciamik dari Wonderland. Pemasangannya di blog ini adalah bentuk dukungan saya untuk iklan Indonesia yang seharusnya jadi jawara di tingkat dunia, bukannya selalu dapat nomer sepatu! Info selengkapnya maenlah ke sini.

Tuesday, August 14, 2007

Iklan Luar Ruang yang Mempercantik Wajah Kota dan Penghuninya

Disampaikan Dalam Sarasehan Penataan Iklan Media Luar Griya di Provinsi DIY yang Berwawasan Budaya
Dewan Kebudayaan Provinsi DIY - Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Sabtu, 4 Agustus 2007


Permasalahan Beriklan di Media Luar Ruang

Berapa lama (detik/menit) waktu yang diperlukan oleh seorang pengendara atau pejalan kaki untuk mencerna sebuah iklan luar ruang yang penuh pesan? Maaf Mas saya gak punya waktu kecuali iklan itu sangat menarik dan bermanfaat buat saya!

Saya ingin mengingatkan bahwa iklan termahal adalah iklan yang tidak pernah dibaca audiens! Stop Pemborosan! Bagaimana caranya?

Memahami Content & Context

Mari mengurai permasalahan iklan outdoor yang bisa dibedakan menjadi Content (Materi Iklan) dan Context (Penempatan iklan di titik tertentu)

Content:
- Isi Iklan
- Ide/kreativitas iklan
- Cara Penyajian (Craftmanship)

Context:
- Titik Pemasangan
- Kompetitor
- Environtment

Nah, ini menjadi tantangan bagi para pakar desain urban, pemerintah kota, budayawan, biro iklan dan pelaku bisnis media ruang luar

Bisakah kita mengubah masalah content & context media luar ruang ini menjadi potensi yang mengubah wajah kota menjadi lebih cantik, lebih indah, lebih ramah?

Solusi Dengan Berbagi Tanggung Jawab

Content:
- Isi Iklan: Advertiser (single message)
- Ide/kreativitas iklan: Agency + Advertiser (simple, focus, unique, communicative)
- Cara Penyajian: Agency (optimum execution)

Context:

- Titik Pemasangan : Government (regulasi yang tepat dan pasti)
- Kompetitor: Agency (lewat dialog inter/antar asosiasi)
- Environment: Agency + Government + NGO Terkait (konsorsium/pengawas)

Dilema buat Pemerintah Kota & Masyarakat


Bagaimana menyeimbangkan income jangka pendek dan jangka panjang dalam konteks iklan luar ruang. Bukan memaksimalkan jangka pendek tapi merusak jangka panjang. Tapi optimal-kan pemasukan jangka pendek untuk membangun saluran income masa depan.

Income jangka pendek:
- Biaya pajak + sewa iklan media luar ruang konvensional
- Biaya pajak umum
- Biaya perijinan

Hasil jangka panjang:
- Biaya pajak + sewa iklan media luar ruang non konvensional
- Wajah kota lebih tertata dan memiliki keunikan (khas)
- Ruang publik yang lebih ramah
- Bangunan sejarah lebih terjaga/terawat
- Mengundang lebih banyak wisatawan (dalam/luar)
- Pemberitaan media massa yang lebih supportif

Bagaimana cara memaksimalkan iklan luar ruang untuk mempercantik wajah kota dan penghuninya?

Memaksimalkan fungsi ruang kota sebagai:
- Galeri seni raksasa
- Sarana pencerahan (enlightment)
- Sarana pembelajaran (edukasi)
- Media komunikasi (silaturrahmi)
- Media promosi yang cerdas

Ambient Media: Terobosan Bisnis yang Berbasis Kreatif*

Ambient Media adalah media beriklan yang memanfaatkan lingkungan (environment) dengan cara seunik mungkin sehingga setiap audiens yang melewatinya bisa tersenyum, tertawa, dan ingat akan pesan iklan tersebut. Kekuatannya terletak pada pesan iklannya yang terintegrasi dengan lingkungan.

Semakin banyaknya billboard yang penempatannya tidak teratur malah membuat pandangan menjadi tidak enak. Padahal media ruang luar tidak sesempit itu. Apapun yang kita lihat di sekitar kita, dipandu oleh kreativitas kita dalam mengolahnya, pasti bisa menjadi media iklan yang unik.

Contoh: dengan tidak menghilangkan aspek fungsionalnya, elemen-elemen ruang publik bisa didesain untuk menampilkan pesan kampanye iklan tanpa harus mengganggu. Tentunya harus dilandasi konsep yang kuat, agar pesan bisa tersampaikan. Bahkan sebuah tempat sampah pun bisa divisualkan menjadi iklan yang menarik. Seperti yang oleh Nike, dengan menaruh papan basket berlogo di belakang setiap tempat sampah.

Kalau di Indonesia, apapun yang terkait dengan perizinan media ruang luar, pasti harus berurusan dengan Pemerintah kota. Nah, sekarang saatnya berdialog untuk mencari titik temu (win-win solution).

*Sumber: media-ide.bajingloncat.com/2006/03/17/media-ruang-luar-untuk-iklan

Penutup: Saatnya Jadi Lebih Baik!

Sekaranglah saat terbaik untuk menjadikan Jogja sebagai pelopor media luar ruang ramah lingkungan di Indonesia. Dari pengamatan saya, media luar ruang di manapun di Indonesia baru sebatas diperah hasilnya sebagai pendapatan jangka pendek oleh Pemda dan pemasangannya pun untuk mendapatkan hasil jangka pendek bagi pengusaha.

Ada perkecualian bagi para pemilik brand international dan beberapa brand nasional yang faham betul bagaimana berkomunikasi lewat media luar ruang. Mereka tidak akan sembarangan beriklan, karena menjaga wajah/image brand dengan sangat hati-hati dan efektif. Bukan sekedar short term income yang dikejar tapi justru value. Dengan value yang tinggi maka public trust terhadap brand-pun main tinggi. Brand yang dikenal dan dihormati oleh public akan mempunyai keleluasaan untuk memarketingkan produknya dengan lebih elegan dan lebih laku.

Mari kita mulai perbaikan dari diri sendiri, mulai dari yang kecil-kecil, mulai sekarang. Dan dari ruangan ini.

Saturday, August 11, 2007

Jualan Ide Segar


Buku pertama yang sedang saya tulis bukan tentang materi yang ada di blog ini. Survey kecil yang saya lakukan dengan pertanyaan di side bar ini: maybe that's for second. Yang membuat saya sangat bersemangat adalah kenyataan bahwa di negeri ini ada banyak sekali anak muda yang super kretif, cerdas bahkan jenius. Tersebar sampai ke pelosok desa. Kalo Anda pernah baca bukunya Andreas Herata Laskar Pelangi: banyak jenius yang karena tak dapat referensi dan arahan yang pas akhirnya hilang bibit jeniusnya dan jadi manusia rata-rata (mediocre). Bercermin dari apa yang saya alami, ongkos belajar dari nol itu sangat mahal. Trial and error yang saya alami dalam membangun bisnis kreatif telah menghabiskan ratusan juta rupiah, seriously.
Jadi saya memaksa diri untuk menulis tentang creative enterpreneurship buat anak-anak muda Indonesia, sejujurnya tak banyak waktu yang saya punya untuk menulis. Tapi saya melihat potensi luar biasa bagi masa depan Indonesia dari calon-calon wirausahawan yang masih ada di bangku kuliah bahkan di SMU dan SMP. Saya masih ingat bisnis pertama yang saya jalani waktu SMP adalah bikin desain t-shirt dan dibayar dengan satu t-shirt gratisan yang desainnya saya bikin. Saya ingin menghemat biaya belajar adik-adik kelas saya dengan sharing pengalaman manis maupun pahit yang saya lalui.
Jadi saya pasang rencana covernya disini, bukannya untuk gagah-gagahan. Tapi lebih sebagai upaya self pressure pada diri saya sendiri untuk segera menghadirkan buku ini kepada teman-teman semua. Dan emang tidak mudah, saya baru beranjak dari bab 3 dari rencana 12 bab isi dalamnya. Bab 4-nya masih nunggu beberapa data yang sedang disiapin, memang butuh waktu mengaduk-aduk beberapa file lama.
Btw, paling lambat 21 Maret 2008: saya akan melaunching buku ini dan teman-teman akan melihatnya ini di toko-toko buku terdekat, saya juga berharap versi e-booknya telah tersedia di website. Mohon dukungan dan doanya, terlebih karena saya ingin memecahkan rekor Tung Desem Waringin dengan menjual buku ini 11.000 exp pada hari peluncurannya.
Saya akan bahagia jika teman-teman mau memberikan sumbang sarannya, mumpung buku ini masih on progress. Terima kasih sebelumnya.

Not Mr. Gates Anymore


The Richest Man on earth is now Carlos Slim. The son of a Mexico City shopkeeper has built a staggering $59 billion fortune. By Fortune calculations, the 67-year-old Slim has amassed a $59 billion fortune, based on the value of his public holdings at the end of July. This number puts him just ahead of perennial No. 1, Microsoft founder Bill Gates, whose net worth is estimated to be at least $58 billion. But Gates is selling off his single greatest source of wealth, Microsoft stock, to fund his foundation, while Slim's fortune is growing at a stunning clip. Read more here.
Now my question is answered. There is no eternity in this world. King is never be king forever. Coz up and down is the law of nature. Nobody knows what happens next. Maybe Gates will fight back or maybe Steve Jobs will arise. Nobody knows, just wait and see. Or joining to compete, like any other people in this: nobody knows if you will be the next richest man on this planet. But I will be, I just know. The toughest question that i have to answer every night to realize that dream would be: How?

Friday, August 10, 2007

Kecoa di BBJ


Gak nyangka kalo Kecoa, komik yang dibikin kolaborasi saat masih kuliah dulu sekarang dipamerkan lagi di BBJ. Covernya dicetak segede gambreng dan nongol di Kompas. Secara personal, tentu bangga karya pas kuliahan masih layak dipamerkan. Tapi secara perkembangan komik Indonesia, saya kok nggak enak hati karena sekarang udah sangat sangat jarang lagi bersentuhan dengan dunia komik, terlanjur terjerumus di industri periklanan yang ternyata menyyita habis waktu saya. Mungkin minggu depan saya ke Jakarta untuk melihat pameran ini sekaligus ada undangan dari panitia buat dateng. Ini bisa untuk recharge: siapa tahu sisi komikal saya kembali kesetrum setelah melihat pameran ini. Dan oya, saya bisa mejeng lagi di depan karya kuno ini. Jarang-jarang gitu looohhh... He he he :)

Wednesday, August 8, 2007

Berakrab Ria Dengan Gempa

Setiap kali terjadi gempa - dalam skala richter berapapun - yang saya pikirkan biasanya apakah gempa ini akan terulang lagi dan apakah dalam skala yang lebih besar. Semalam saat sedang lembur tiba-tiba kentongan poskamling berbunyi sangat keras dan berulang: sayapun keluar kantor dan orang-orang bilang ada gempa. Tentu saja bukan karena dahsyatnya kentongan dipukul lalu terjadi gempa ;) Di jalan-jalan kampung banyak yang keluar rumah: untuk menyelamatkan diri tentu saja, sambil cek kondisi tetangga: jangan-jangan cuma rumah kita doang yang gempa. Nggak keren kan? He he he...

Dan refleks juga, biasanya orang-orang langsung nyari informasi. Bisa jadi gempanya gak keras disini, tapi siapa tahu di tempat lain sebuah kota terbalik? Atau tsunami bertamu diam-diam? Maka diserbulah radio, televisi atau detik.com. Setelah selama 1 sampai 2 jam memastikan kondisi aman, barulah boleh tidur lagi. Tentu ada yang gantian jaga dan pintu tak perlu dikunci.

Kalau-kalau gempa datang lagi, kita tak usah repot menyilakannya masuk. Dan tak perlu ribet meninggalkannya saat ia sibuk memporak-porandakan rumah kita. Kita bisa melihatnya dari luar sambil bersyukur: Tuhan masih mempercayakan nyawa-Nya pada kita.

Saturday, August 4, 2007

Ketangkep Robot Pencegah Spam Blogger

Waduh, gara-gara salah password beberapa kali.. begitu bisa login malah gak bisa upload posting. Ada kutipan tulisan begini bunyinya:

Blog ini telah dikunci oleh robot pencegah-spam Blogger. Anda tidak akan bisa mempublikasikan posting Anda, tetapi Anda akan dapat menyimpannya sebagai draft.

Waaa.. ada robotnya Coy!! Sampe ini saya tulis, memang hanya bisa disimpen. Gak bisa diupload dulu. Ya udah, sambil nunggu robotnya kerja lagi Senin besok.. Hope segera bisa menyapa temen-temen lagi secepatnya. Miss you all, Guys :)

Notes: Thanx God, sekarang dah bisa lagi.

Ngejar Siapa Pak?

Tiga hari lalu di utara Gramedia Sudirman Jogja saya ketemu dua orang polisi buser (buru sergap) sedang patroli, dua-duanya bawa senapan. Berpakaian lengkap, plus helm khusus dan sepatu boot. Yang satu jalan di depan tergesa-gesa. Satunya lagi menuntun motor trailnya dengan tergesa-gesa. Mereka terlihat tegang. Tapi yang jalan lalu berhenti, juga yang bawa motor.

Tepat di depannya ada tukang bensin eceran, ternyata karena motornya kehabisan bensin. Ah, ternyata Polisi patroli yang super gagah itu juga manusia. Bajunya basah berkeringat di punggung, bukan karena mengejar penjahat atau pelanggar lalu lintas. Tapi karena lupa gak ngecek bensin yang ada.
Jadinya ngos-ngosan menuntun motor trail...

Thursday, August 2, 2007

Telaaaattt...

Ada seorang teman saya di kantor yang - entah kenapa - setiap ada bercandaan fahamnya belakangan dan agak lama. Demi stabilitas dalam negeri, saya akan rahasiakan identitasnya. Sampai-sampai suatu ketika ada yang bilang,"Fulan, kamu itu kalo diajak bercanda hari Jumat, ketawanya baru hari Senin..."

Fulanpun protes,"Lho, kok sampe Senin. Biasanya kan Sabtu udah?" (wajah polos seperti sudah pasrah terus menerus diledek)

Jawaban temannyapun melesat seperti panah menghunjam,"Kan Sabtu ama Minggu kantor kita libur..."

Fulan bengong. Mungkin baru minggu depan dia tahu apa maksud postingan saya ini. Semoga..