Mybothsides

Friday, July 27, 2007

Menuju Titik Terang

Beberapa minggu terakhir ini saya menghabiskan malam-malam panjang saya untuk memasuki dunia yang sebetulnya bukan hal baru: internet. Fokus saya satu: bisnis kreatif seperti yang dibangun oleh Petakumpet saat ini akan saya duplikasi 'wujudnya' sehingga tersedia di website dan bisa diakses oleh siapapun di bagian bumi manapun. Setiap proses bisnis dari penawaran, presentasi termasuk pembayaran: semuanya bisa ditangani lewat internet. Sejujurnya, saya merasa agak terlambat untuk take action di wilayah ini. Menyesuaikan infrastruktur di internal Petakumpetpun bukan hal mudah, meskipun saya yakin bisa. But I'm taking action now. It will take time for a while, but this is the right track.

Going global mungkin terlalu muluk, tapi saya yakin: masa depan bisnis Petakumpet berada di dunia internet. Saya yang aslinya gaptek jadi mesti berkeringat mempelajari banyak hal termasuk teknis dasar website, web counter yang saya cek tiap malam untuk memastikan bahwa setiap posting, setiap perubahan desain, penambahan link, warna yang saya pilih untuk blog atau web dan elemen-elemen web lainnya memberikan sumbangan untuk makin banyaknya pengunjung.

Saya juga sedang berfikir untuk men-translate seluruh materi di blog saya ini dengan bahasa Inggris, tapi itu bisa menyusul. Yang paling urgent adalah melaksanakan integrasi dari seluruh situs dimana saya terlibat di dalamnya sehingga proses maintenance-nya bisa simple, efektif dan kontinyu. Situs harus terlihat hidup, terasa denyut nadinya dan dynamic changes adalah hal terpenting yang menarik para netter untuk berkunjung. Syukur-syukur bisa dimaksimalkan sebagai business tools yang meningkatkan revenue.

Saya selalu over spirited setiap kali memasuki hal baru untuk belajar maupun berkembang: rasanya energi tak habis-habis. Di kalangan internal, saya termasuk telat bikin blog. Saya juga merasa ndeso dan katrok ketika baru ngeh untuk berfikir serius tentang internet di 2007. Kemarin-kemarin saya ngapain aja?

Tapi saya percaya: setiap hal yang saya lalui dan jalani (baik atau buruk) memberikan sumbangan postif bagi pemahaman saya dalam menjalani hidup ini. Mungkin siapnya baru sekarang: jadi jalan yang saya lalui tidak tiba-tiba terang. Dari gelap pekat perlahan muncul semburat cahaya yang saya ikuti dengan tertatih-tatih, tapi saat Allah menerbitkan kuasa-Nya dengan kun fayakun: cahaya itu hadir menerangi jalan dan menghangatkan tubuh lelah saya yang terus melangkah.

Sekarang saya siap berlari di jalur super cepat: melesat menuju titik terang. Hello world, i'm coming ;)

Monday, July 23, 2007

Never Ending Journey



Saat ini saya sedang membaca sebuah buku yang sangat inspiratif. Untuk belajar bagaimana membangun perusahaan, biasanya saya memilih buku-buku dengan penulis para praktisi bukan akademis. Lebih dekat, tidak mengawang. Tidak berbelit-belit alias teori doang. Buku ini pas banget dengan sudut pandang saya: ringkas, tanpa tedeng aling-aling, langsung bercermin pada realitas.

Judulnya: Never Ending Journey, tentang seorang entrepreneur bernama Buntoro yang awalnya jatuh bangun membesarkan perusahaannya PT. Mega Andalan Kalasan. Pada tahun 2004 perusahaan ini tercatat sebagai urutan 2 dalam Enterprise 50 (untuk perusahaan omzet di atas 10 milliar) pilihan Majalah Swa. Sebuah prestasi yang membanggakan, terutama karena sekitar tahun 1987 badai menerpa usaha awal mereka yang memproduksi bumper mobil.

Badai – yang jika tidak dihadapi dengan keras hati – akan meniadakan perjalanan ke tahap berikutnya. Badai yang cukup untuk menutup sebuah usaha. Mengubur mimpi dan masa depan. Badai yang akan membuat ciut nyali setiap pengusaha, tapi tidak mampu menghentikan Buntoro untuk terus melangkah.

Industri awal berupa bumper mobil yang sedang laris-larisnya, mendadak terjun bebas ketika ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) otomotif nasional mengeluarkan produk mobil yang full pressed body dengan bumper yang melekat langsung.

Tidak mudah menyelamatkan perusahaan dari titik minus, ketika hutang lebih besar dari piutang bahkan lebih besar dari aset. Bersama Hendy Rianto, Buntoropun menyiapkan usaha penyelamatan. Alasannya sederhana: harus ada yang bertanggung jawab. Buntoro bahkan bersedia melepaskan saham kepemilikan kepada pihak ketiga. Beberapa calon investor sempat datang ke Kalasan, tapi deal tak pernah terjadi. Besarnya permasalahan membuat mereka mundur teratur.

Tapi putus asa bukan pilihan, berawal dari kesediaan mengerjakan apa saja asal bisa hidup, pikiran Buntoro sampai pada pilihan memproduksi peralatan rumah sakit (hospital equipment). Berawal dari tempat tidur, tempat tidur operasi sampai kursi roda. Lalu bagaikan bola salju yang bergulir: orderpun datang dari rumah sakit kecil sampai rumah sakit besar yang mencapai ratusan pesanan. Cash flow mulai bergerak positif.

Dari sekedar bengkel biasa, pola operasional produksipun mengarah ke industrialisasi uantuk menyesuaikan diri dengan tuntutan konsumen. Dan berikutnya, perusahaan sekarat inipun mulai bisa tersenyum dan bahkan siap ngebut di jalan tol industri.

Dan lahirlah Prambanan Technopark: sebuah kawasan industri seluas 4.968 m2 di daerah Prambanan yang merupakan obsesi berikutnya dari seorang Buntoro yang mulai meningkatkan kemampuannya dengan memproduksi mesin, bahkan sedang berancang-ancang masuk industri otomotif. Masa gelap telah berganti, meskipun Buntoro menikmatinya dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Dalam hidup ini tak ada makan siang gratis. Kesuksesan tak akan langgeng, keculai kita selalu waspada. Only the paranoid survive, kata Andy Groove (mantan CEO Intel).

Buku setebal 200 halaman yang ditulis Teguh Sri Pambudi (Redaktur Majalah SWA) ini menjelaskan detail bagaimana melaksanakan upaya penyelamatan, dari recovery sampai melakukan turnover mengubah titik minus menjadi surplus. Bisnis yang dibangun dengan kemandirian selalu menarik dijadikan cerita, juga pelajaran bagaimana menjalani hidup dengan besar hati, tak mudah patah arang.

Buntoro dan seluruh keluarga besar PT. Mega Andalan Kalasan telah membuktikan itu. Mereka sedang menantang diri untuk menuju milestone berikutnya. Akankah mereka meraih kesuksesan yang lebih besar lagi? Demi kemajuan industri Indonesia yang masih terpuruk saat mobil Proton
bikinan Malaysia justru mulai merambah Asia, tentu kita layak berharap pada sosok tangguh seperti Buntoro.

Cerita tentang kesuksesan PT. Mega Andalan Kalasan ini bukanlah akhir, tapi hanyalah akhir dari sebuah permulaan. Buku inipun dilabeli Vol 1, artinya akan ada volume berikutnya.

Saya akhiri review singkat ini dengan mengutip Paulo Coelho di buku Alkemis: ketika kita menginginkan sesuatu dengan sepenuh hati, seluruh alam semesta akan membantu mewujudkannya.

Sunday, July 22, 2007

Discipline for Otak Buntu

Menjadi disiplin adalah pelajaran seumur hidup yang harus terus-menerus dijalankan. Menjadi habit alias kebiasaan yang awalnya pasti sangat sulit sekali. Tapi kedisiplinan adalah syarat mutlak jika ingin sukses: tanpanya kesuksesan hanyalah mimpi tak berarti.

Celakanya, kedisiplinan paling sulit justru saat menyangkut diri sendiri. Kita cenderung permisif saat situasinya memungkinkan. Ah, entar aja bikinnya. Ah, nanti kan diberesin si fulan. Ah, masih capek nih.. istirahat dulu. Akibatnya, begitu banyak waktu terbuang karena kita tidak disiplin.

Bagi seorang pemimpin, situasinya lebih kompleks lagi. Makin tidak disiplin seorang pemimpin, makin besar kemungkinannya ia gagal memimpin. Biarpun bukan pemimpin tentara, komandan grup lawakpun perlu disiplin. Juga penulis, termasuk blogger. He he he...

Btw, kenapa sih saya nulis yang sok serius begini? Inilah hukuman buat diri saya sendiri lantaran beberapa hari ini gak posting. Saya harus belajar disiplin, meskipun munculnya tulisan yang kering begini.

Seperti apapun hasilnya, ini adalah bagian memperbaiki diri. Mendisiplinkan. Buku yang yang sedang saya tulispun rasanya tak beranjak dari dari Bab 3, sekitar 40an halaman (rencananya 12 Bab, 250 halaman). Rasanya otak ini buntu, gak maju-maju.

Nunggu mood datang? Nggak deh.. Saya putuskan untuk tetap menulis meskipun gak sedang mood. That's the way I know to finish the works. Be disciplined! No need to argue!

Tekyan: Balada Anak Jalanan



Yudi Sulistya dan M. Arief Budiman
Balai Pustaka, Cetakan I, 2000





Menggabungkan antara realitas, seni grafis/gambar dan sastra memang bukan hal yang mudah, tapi setidaknya komik bisa menjembatani pertemuan antara seni gambar dan sastra yang berpijak pada suatu realitas sosial. Apa yang coba dilakukan Arief Budiman dan Yudi Sulistya dalam karya komiknya memang patut kita hargai. Mengingat saat ini posisi komik sangat terpinggirkan dan dicap sebagai sesuatu yang tidak serius. Sangat berbeda dengan media kesenian lain seperti film, sastra atau seni lukis.

Membaca komik Tekyan yang merupakan salah satu pemenang sayembara komik Direktorat Kesenian Departemen Pendidikan Nasional tahun 1997/1998, kita disuguhi sebuah potret sosial yang sangat dekat dengan lingkungan kita sehari-hari yaitu tekyan atau anak jalanan. Kehidupan kaum terpinggirkan yang menjadi latar cerita komik ini memang bukan hal yang baru, Garin Nugroho pun pernah mengangkatnya dalam film Daun di Atas Bantal. Namun demikian tema-tema kritik sosial memang bukan tema mainstream di pasaran komik. Melihat pasar komik Indonesia komik-komik yang menjadi top of mind pembaca anak-anak dan remaja seperti Dragon Ball, Conan the Detective, Sailor Moon dll, yang laku keras di pasaran jelas akan sulit untuk digeser oleh komik-komik lokal kita. Boleh jadi komik seperti Tekyan hanya bisa menjadi pilihan komik alternatif dari sisi cerita maupun grafis, yang saat ini didominasi gaya komik Jepang (manga) dan Amerika (Marvel, DC atau Image comics).

Dari sisi cerita, komik ini sebetulnya sangat realis, kisah dua tekyan yang bersahabat, Hamid dan Sarwan digambarkan sebagai anak-anak yang harus menghadapi kerasnya hidup di jalanan. Tokoh sentral komik ini adalah Hamid, anak Kyai yang minggat dari rumah dan bersama Sarwan hidup bersama di jalanan. Karakter Hamid seolah mewakili nilai-nilai kebaikan, meski jadi anak jalanan tidak lupa sholat dan tidak mau mencuri, sangat berbeda dengan Sarwan yang jago mencopet. Kebenaran menjadi relatif, ketika mereka tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup, Sarwan harus mencuri demi membiayai sahabatnya, Hamid yang terluka akibat digebuki polsus.

Kegelisahan terhadap nasib dan ketidakadilan yang dialami para tekyan sering terlontar dalam dialog-dialog antara Hamid dan Sarwan. Hamid yang alim sering dimaki oleh Sarwan, seperti saat mereka berdebat soal uang hasil copetan. "Halal haram itu urusan kyai, bukan tekyan macam kita..." Barangkali sebuah protes terhadap ketertindasan yang harus mereka alami.


Perjalanan dua sahabat ini harus berakhir ketika Sarwan tertangkap oleh petugas. Dengan bantuan Jatmiko, seorang aktifis mahasiswa yang peduli pada mereka, Sarwan dapat ditemukan di sel polisi dalam keadaan babak belur. Akhirnya, Sarwan harus berurusan dengan polisi sementara Hamid dengan uang hasil copetan Sarwan mendaftar ke pesantren.

Alur cerita komik ini sebenarnya biasa saja, tapi cukup enak untuk diikuti. Nilai-nilai ideal yang diwakili oleh Hamid bisa jadi tak seideal kenyataan sebenarnya yang dialami para tekyan. Hidup di jalanan tanpa bimbingan keluarga, bagi anak-anak adalah sebuah mimpi buruk. Karena komik ini adalah hasil sayembara yang diselenggarakan Departeman Pendidikan, kita masih bisa melihat pesan-pesan moral melalui Hamid si anak Kyai yang jadi tekyan. Sementara dari sisi grafis, komik ini cukup bisa menggambarkan suasana, perpindahan adegan antar panel dan sudut pandang yang diambil tidak membosankan. Kejenakaan justru muncul dari olahan grafisnya yang sangat komikal, misalnya sisipan adegan demonstrasi mahasiswa dan ekspresi aparat keamanan saat menghadapi demonstran, atau adegan cicak jatuh di awal cerita sebagai prolog cukup menggelitik. Tanpa olahan grafis yang menarik mungkin komik ini bisa jadi komik drama yang serius dan biasa-biasa saja.

Lepas dari semua itu, mengerjakan sebuah komik memang dibutuhkan kreatifitas, keseriusan dan stamina yang kuat untuk mengolah ide menjadi komik yang menarik.

Ditulis oleh Agung Arif Budiman, Editor Komikaze99.com

Tuesday, July 17, 2007

Doa Si Pemalas

Mengetahui bahwa doa kita pasti dijawab oleh-Nya adalah kebahagiaan yang tak ternilai. Terima kasih Tuhan, apa yang kuimpikan selama ini telah Kau kabulkan. Permasalahan sesulit apapun yang hadir dalam hidupku telah Engkau selesaikan. Beban yang memberatkan langkahku telah Kau angkat.

Tuhan pasti mendengarkan setiap detak jantungku, mengabulkan bahkan permintaan yang belum terucapkan di lidah bahkan yang tersirat di hati. Langkahku sekarang ringan karena digerakkan oleh-Nya. Sekarang aku tak punya doa lagi. Semua telah kutuntaskan, aku berdoa hari ini untuk seumur hidupku di dunia dan akhirat.

Yang sekarang sibuk kulakukan adalah bersyukur, katanya untuk mengundang mukjizat-Nya turun.

Monday, July 16, 2007

Flame On!


Posting via Mac 4.0

Membiasakan diri pake Safari on Mac saat posting blog, rasanya agak kaku. Terutama karena tidak semua fitur blogger nongol di Safari. Misalnya link, milih font, warna, dsb. Yang ada di pikiran hanya content: teksnya bunyinya apa. Lay outnya pasrah bongkokan ama Blogger + Safari.

Tapi gpp deh, namanya kebiasaan ya memang harus dinikmati dan diulang-ulang. Dengan penyempurnaan OS Mac berikutnya, kelemahan kecil ini Insya Allah akan teratasi. I love Mac, meskipun rasanya agak janggal melihat bintang iklan Mac (I'm Mac, I'm PC) maen di Die Hard 4.0. Rasanya agak maksain, tapi ya sudahlah. Action + business mesti berjalan seiring. Toh filmnya cukup menarik, John Mc.Clane masih cukup bertenaga. Tapi kalo ada yang kurang puas ya maklum aja, John Mc.Clane toh bisa tua. Harry Potter aja bisa tua kok.

Ehh, kok malah ngelantur kemana-mana? Terlanjur deh, maaf ya. Toh ini cuma blog, sekali-kali diisi tulisan ngawur boleh kan?

The Different Indonesia





Ini project saya untuk Showcase IYCEY 2007 kemarin. Kalah sih, he he he.. Btw, selamat buat Mas Gustaff yang akhirnya berangkat ke London. Tapi beberapa juri bilang project ini menarik, mmmm... saya sih gak begitu percaya. Kalo Anda juga gak percaya, silakan maen ke sini. Please enjoy Indonesia in different face ;)

Sunday, July 8, 2007

Foto Bareng Tiger Wood


Buat yang pengin foto norak beginian, silakan nyoba di Plaza Indonesia. Semoga neonbox iklan Tag Heuer-nya belum diganti. Wa ka ka ka kaakkk...

Friday, July 6, 2007

Dikejar Deadline

Mmmm... rasanya saya sedang menyanyikan lagu lama, terutama buat Anda yang biasa kerja di biro iklan. Rasanya kita akan bayar berapapun untuk memperpanjang deadline, kalo bisa dimundurkan sehari, sejam atau bahkan beberapa menit saja.

Saya sendiri menyadari - sangat malah - bahwa ini hal basi, sebasi-basinya. Jika bukan karena true story: saya tak akan tega menulisnya di blog ini.

Malam ini klien saya sebuah perusahaan konstruksi besar di Jakarta, tiba-tiba memajukan deadline. Kerjaan yang mestinya di-present Senin siang dimajukan jadi Jumat malam. Jam 21.00 paling telat emailnya. Nah, pesoalannya jadi rumit karena ini pekerjaan berhalaman-halaman bukan satu dua desain. Tapi ya sudahlah. Client is the king, whatever it takes

Toh, kita sebenarnya punya kekuatan super di saat-saat gawat begini. Buktinya, tim saya bekerja menyelesaikan 16 halaman company profile hanya dalam hitungan 3 jam. Saya pun masih sempet nulis blog di sela attachment file. Tidak menyenangkan memang kalo dikejar deadline, tapi tanpa pressure begini kita akan selalu jadi manusia biasa.

Padahal Tuhan menciptakan keajaiban pada setiap makhluknya, terutama yang sedang dikejar deadline sambil menomorsatukan kliennya... Upps, attachment-nya udah.. Send dulu!

Wednesday, July 4, 2007

May The Force be With You

Here are names of ten finalists of IYCEY (International Young Creative Entrepreneur of the Year)Design 2007-2008, in alphabetical order:
  1. Bramono E. Sasongko (b.1979) is a product designer that has interest in automobile and motorcycle customization. In July 2006, he received an award for 1st place in Automotive Design Competition held by the Indonesian Motor Show. It was when he modified a family oriented multi-purpose minivan that was designed for Indonesia’s demographic condition.
  2. Bullitt Sesariza (b.1972) a game developer, designer, and programmer; and owner of A-Box Activation Games that builds games for advertisement purposes. One of his ambitions is to show to the world that video games is now a big part of design and creative industry in Indonesia
  3. Gregorius Supie Yolodi (b.1974) is a principal architect and work for a company named d-associates architect. His concept of design is to promote good design is a good life; and that reflects from his design works, like the transparent building at the corner of Jalan Kemang – Jakarta.
  4. Gustaff Hariman Iskandar (b.1974) is a media artist, researcher, and director of Bandung Centre for new media arts/Common Room Networks Foundation (a place where people in Bandung execute most programmes and activities).
  5. Jerry Aurum (b.1976) is a creative director and photographer; he’s also owner of Jerry Aurum Design Company and Jerry Aurum Photography. Jerry has successfully organised photos exhibition called Femalography, a celebration of women’s empowering beauty, in Senayan City – Jakarta last February 2007.
  6. M. Arief Budiman (b.1975) is a managing director of an advertising company, PT. Petakumpet, in Yogyakarta. The company’s services include promotion campaign, corporate ID, and media placement. In 2003, 2005 and 2006, Petakumpet was chosen as The Most Creative Agency at Pinasthika Ad. Festival; and in 2007, the advertising work is awarded The Best Print Ad by Cakram Magazine.
  7. Waluyohadi (b.1981) is an architect and industrial designer. He built his own company named Butawarna printing + design that provides printing and design service for low end market segment. Not like other designers who focus on established industries, his concern is more to urban problems like Angkot (public transport) and Gerobak PKL (street sellers).
  8. Wahyu Aditya (b.1980) is Founder, President Director, Teacher, Principal, Animator, and Creative Designer of Hello; Motion Corporation. Graduating from Sydney’s KvB Institute of Technology interactive multimedia and animation school, he went on to work as freelance comic illustrator and TV animator. His brainchild, the 8-monthly Hello; Fest educates schools and universities students about the art of motion picture.
  9. Wisman Tjiardy (b.1974) is an architect and a director of PT. Netpolitan, which area of work is in the eLearning field, especially financial sector. Their clients now are varied from Asean Secretariat, Bank Indonesia, Telkomsel, and other multinational companies.
  10. Yuni Jie (b.1977) an interior designer, owner of Jie Design, and author of first-three bilingual design books in Indonesia. Her interior design works have been selected to be one of the best interior selected by Skala+ magazine in 2005 and 2006.

    For further information, please visit
    here.