Mybothsides

Thursday, June 28, 2007

Backpacker

Entah kenapa tiba-tiba saya kepikiran untuk melakukan petualangan, lagi. Lagi? Ya, benar. Dulu saat masih di SMA (sekarang disebut SMU), saya senang sekali bepergian keluar kota dengan bekal seadanya. Gak lama sih, satu sampe tiga hari. Perginya naik bis, numpang truk atau nebeng mobil pribadi yang baik hati. Nginepnya seringkali di masjid, bahkan pernah di pangkalan bis antar kota. Kalo kebetulan kebelet pipis di terminal, sering minta ijin sama yang jaga toilet agar digratiskan. Dan boleh kok, asal pasang tampang miskin. He he he :)

Tidak nyaman memang, tapi super fun. Pagi ini saya ketemu situs backpacker. Hobi aneh jalan-jalan tanpa tujuan pasti ini ternyata banyak peminatnya. Kayaknya asyik jika turun lagi ke jalan. Feeling free to create living without goals even for a few dayz. Mmmm... Kerjaan di kantor toh tinggal segunung untuk diselesaikan. Yang dua gunung udah terlewatkan, he he he :)

Tuesday, June 26, 2007

Belajar Ikhlas

Dengan keikhlasan, seseorang tidak akan mudah lelah dalam beramal, tetap tabah dan semangat sekalipun berbagai ujian datang silih berganti. Seakan-akan ia memiliki cadangan energi yang tidak habis-habis. Ia tetap beramal di saat orang-orang tidak mau/mampu lagi melakukannya. Ia mampu melalui ujian demi ujian dengan jiwa yang lapang di saat orang-orang merasa sempit dadanya. Keikhlasan merupakan sumber mata air kekuatan. Keikhlasan itulah sumber kenikmatan yang tidak pernah kering dan senantiasa memancarkan keutamaan dan keberkahan.

(Kutipan dari tulisan Rahmat Hidayat Nasution)

Farewell Henry



May force be with you...

Monday, June 25, 2007

Buat Temen-temen Mahasiswa


Info selengkapnya di sini.

Keramahan Jogja

Saat itu sekitar jam 10.00 pagi, saat mesti ngejar waktu untuk kasih presentasi tentang Pinasthika di Komunikasi UGM. Jam menunjuk 09.30 ketika melaju menuju lokasi lalu tiba-tiba inget belum sarapan karena alarm di perut berbunyi minta diisi. Sayapun berhenti di sebuah angkringan di depan Computa Jl. Cik Di Tiro. Simak dialognya berikut:

Mas Angkringan (MA): Silakan duduk Mas, cari tempat yang paling asoy. Di sini boleh, di situ juga boleh. Mau duduk di tempat duduk saya, silakan..

Saya (S): Makasih Mas, saya minta teh anget aja. Ama sendoknya buat makan (sambil ambil nasi kucing)

MA: Yang ini nasinya pake kering tempe, yang daunnya dibalik pake sambel. Masih anget, baru ngepul dari dapur, selamat menikmati...

S: (Teh sudah saya minum setengah tapi masih haus) Mas, nambah air panasnya dong..

MA: Siap, Boss! Nambah tehnya lagi boleh, nambah gula juga OK. Dan ndak perlu nambah bayarnya...

S: (Hp berbunyi, dari panitia untuk konfirmasi sampai dimana) Masih di Cik Di Tiro Mas, sarapan dulu. Segera menuju ke Fisipol..

MA: Wahh, sibuk ya Boss. Masih sempet-sempetin mampir di angkringan saya, langsung segera bertugas nih. Tapi jangan buru-buru, dinikmati dulu hidangannya biar nanti tambah joss kerjanya..

S: Ahh, bisa aja. Mas, saya udah dulu nih. Saya makan nasi kucingnya 2, gorengan 3, satenya 1 tambah teh panas.. Berapa?

MA: Siap Boss! Transaksi hari ini jumlahnya 'tiga juta'..

S: (sambil memberikan uang lima ribuan) Ini Mas..

MA: Habisnya tiga juta, uangnya lima juta, kembali dua juta. Dua juta banyak lho Boss, dihitung dulu. Selamat bertugas Boss. Bungkus nasi dan sendoknya biarin aja saya urus semuanya, jangan kuatir. Yang hati-hati mengemudi di jalan, tengok kanan kiri kalo mau belok. Tetep semangat, jalani hidup santai saja nggak perlu ngoyo. Semoga sukses hari ini, rejeki mengalir terus. Doa saya menyertai perjalananmu selalu...

S: (agak kaget mendengar epilog yang panjang) Ehh.. ya ya yaaa.. Makasih Mas...

Dan sayapun kembali menderu membelah jalan, sambil tersenyum. Badan saya yang semula meriang kurang tidur tiba-tiba terasa bugar. Keramahan Jogja selalu membuat saya terpaku bahagia. Sulit untuk pergi dari sini, sulit untuk menghindari kebahagiaan senilai tiga ribu rupiah berbonus perut kenyang (panggilan Boss-nya dianggap bonus aja).

Saya tahu mengapa banyak yang selalu kangen Jogja, mungkin Andapun sekarang juga mulai merasakannya...

Thursday, June 21, 2007

Jangan Membaca Tulisan Ini Karena Sangat Rahasia

Review Buku The Secret (Terjemahan) Terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama
Size: 17 x 13,5 cm, tebal buku 232 halaman




Segala sesuatu yang datang ke dalam hidup Anda ditarik oleh Anda sendiri.
Dan segala sesuatu itu tertarik oleh apa yang Anda pikirkan.
Apapun yang Anda pikirkan akan menariknya ke diri Anda.


- Bob Proctor, Filsuf, Pengarang dan Pembimbing Pribadi -

Entah apa yang Anda pikirkan sebelum ini, kekuatan semesta telah menarik dan menggerakkan Anda membaca tulisan ini, untuk sebuah alasan. Karena majalah inipun telah mencetak tulisan ini, dengan sebuah alasan. Sayapun menulisnya, juga dengan sebuah alasan.

Faktanya, ada banyak kemungkinan Anda dan saya tidak bertemu lewat tulisan ini. Misalnya: mengapa Anda pilih majalah ini, sementara tersedia banyak majalah lainnya? Mengapa Anda membaca tulisan ini sementara ada banyak tulisan lain di majalah ini yang mungkin lebih menarik? Apalagi saya sudah melarang Anda membacanya, mengapa Anda terus membaca? Atau mengapa saya yang dipilih untuk me-review Buku The Secret tulisan Rhonda Byrne ini dan bukannya Pak Tung Desem Waringin yang sebentar lagi bikin seminar ‘The Great Secret’ yang mengupas buku ini? Atau penulis motivator lainnya? Lha saya ini siapa kok berani-beraninya menulis disini? Biasanya Anda akan bilang: ah, ini kan kebetulan Mas. Ini semua nggak sengaja kok.

Saya akan teruskan cerita saya.

Suatu hari Mbak Greti dari Gramedia – saya dan Mbak Greti belum kenal sebelumnya - sms saya,”Halo Mas Arief. Waktu Seminar 1001 Inspirations, Mas Arief menyebut2 buku The Secret. Kebetulan Gramedia menerbitkan terjemahannya. Apakah Mas Arief berminat menulis review buku itu untuk dimuat di majalah kami?

Tentu saja saya kaget ketika sms saya baca, karena tangan satunya sedang pegang buku The Secret terjemahan Gramedia yang saya baca untuk kali kedua. Lebih kaget lagi karena ternyata ada yang inget saya menyebut The Secret di seminar itu, wong saya cuma iseng menyebutnya sekali dan The Secret tidak ada dalam materi presentasi saya.

Persisnya yang saya katakan di seminar itu adalah: kita akan mengundang apa yang kita yakini. Ini namanya hukum ketertarikan. Kalau kita percaya rakyat Indonesia bodoh dan terus bikin iklan yang membodohi, maka makin bodohlah kita semua. Tapi kalo kita yakin rakyat Indonesia cerdas dan bikin iklan yang mencerdaskan, maka makin banyaklah orang cerdas tumbuh di Indonesia. Tiba-tiba Anda akan ketemu lebih banyak orang Indonesia yang cerdas. Bacalah buku The Secret, maka Anda akan percaya.

Tapi saya tahu ini bukan kebetulan atau ketidaksengajaan. Dan di buku The Secret, Anda akan belajar ilmunya.

The Secret adalah jawaban bagi semua yang pernah ada,
yang sekarang ada dan yang akan ada di masa mendatang.


- Ralph Waldo Emmerson -

Ini salah satu buku luar biasa yang menurut saya mampu menjelaskan fenomena hukum ketertarikan (law of attraction) dengan begitu sederhana dan menakjubkan. Anda yang biasa membaca buku self help, motivasi atau how to akan merasakan spirit yang berbeda karena buku ini hadir untuk memenuhi visi luar biasa penulisnya untuk membagikan rahasia terbesar kehidupan ke lebih banyak manusia. Rahasia yang selama berabad-abad hanya diketahui oleh Plato, Shakespeare, Newton, Beethoven, Lincoln, Edison, Einstein, dan tokoh besar yang mempengaruhi dunia lainnya. Visi yang sama telah membuat beberapa tokoh dunia yang masih hidup saat ini mencapai kesuksesan luar biasa. Rhonda Byrne pun mencari tokoh-tokoh ini untuk memberikan testimoni, tersebutlah: Jack Canfield, Bob Doyle, Dr. John Gray, Bob Proctor, Dr. Joe Vitale, Marrie Diamond, John Assaraf, dll.

Buku The Secret ‘Mukjizat Berpikir Positif’ berukuran 17 x 13,5 cm dengan tebal 232 halaman ini dibungkus desain kover yang indah bernuansa manuskrip kuno kecoklatan dengan logo The Secret yang sangat artistik. Selain buku ini, Rhonda Byrne juga menerbitkan DVD The Secret dan Audio Book-nya yang luar biasa.

Dibagi dalam 10 bab, buku ini akan menyingkap Rahasia Uang, Rahasia Relasi, Rahasia Kesehatan, Rahasia Dunia, Rahasia Anda dan Rahasia Kehidupan. Kutipan kata-kata dan pengalaman nyata tokoh-tokoh dari masa lalu maupun masa kini bertebaran di buku ini, memberikan kesaksian tentang keajaiban The Secret serta bagaimana mewujudkannya dalam kehidupan dengan cara yang sangat sederhana dan mudah difahami bahkanpun oleh Anda yang pertama kali membaca buku inspirasional sejenis.

Segala sesuatu yang Anda inginkan - kegembiraan, cinta, kelimpahan, kemakmuran, kebahagiaan - ada di sana, siap untuk Anda raih. Anda hanya perlu niat yang kuat. Dan ketika Anda berniat sangat kuat serta bersemangat untuk apa yang Anda inginkan, semesta akan mengirim setiap hal yang Anda inginkan.

- Lisa Nichols, Penasehat Pemberdayaan Pribadi -


Beberapa bulan terakhir, saya mencoba menggunakan pemahaman saya tentang The Secret untuk hal-hal kecil di sekitar saya. Saya membuat Reality Card Series yang berupa kartu-kartu seukuran kartu nama berisi daftar impian saya dan saya taruh di dompet sehingga saat waktu luang saya bisa selalu melihatnya. Proses visualisasi ini meningkatkan kepercayaan saya bahwa hukum ketertarikan sedang bekerja mewujudkan impian saya.

Salah satu kartu bertuliskan: setiap saya lewat, jalanan selalu kosong dan lampu lalu lintas selalu hijau.

Saya tahu saya tidak sendirian ketika mengharapkan jalanan tidak macet dan lampu lalu lintas selalu hijau. Apalagi Anda yang berada di pusat kota, apalagi di Jakarta. Saya mencatatnya dengan statistik sederhana. Hasilnya: baik di Jogja, Solo, Jakarta maupun Palembang saya telah melewati lebih dari 200 lampu lalu lintas dan rata-rata lebih dari 90% sedang menyala hijau alias jalan terus.

Satu lagi untuk mengakhiri tulisan ini, saya pernah diberitahu teman saya bahwa dari Ciganjur ke Bandara Soekarno Hatta – saat itu Rabu pagi jam 07.00 - makan waktu tempuh lebih dari 2 jam, karena jauh dan karena macet akibat jam sibuk masuk kantor. Pesawat saya take off ke Jogja jam 09.30 dan artinya kemungkinan besar saya terlambat. Tapi atas kuasa Allah, saya menempuhnya dalam 1 jam 30 menit, termasuk ganti ban taxi yang bocor sekitar 15 menit dan nunggu bis bandara 10 menit. Di beberapa ruas jalan memang macet, tapi kendaraan yang saya naiki seolah diberi jalan di sela-sela mobil yang lain. Memahami The Secret telah membantu saya menghadapi kesulitan hidup dengan cara positif dan mengundang banyak keajaiban.

Anda bisa memulai tanpa apapun, dari ketiadaan
serta tanpa jalan karena jalan akan dibuatkan

- Michael Bernard Beckwith, Pelopor Life Visioning Process -

Keajaiban ini tidak eksklusif terjadi pada orang-orang tertentu saja. Anda – tidak peduli siapapun Anda – mempunyai hak yang sama untuk mengundang keajaiban yang Anda harapkan. Alam semesta ini penuh kelimpahan dan mampu memenuhi impian setiap anak manusia, seliar atau sebesar apapun impian itu. Dengan membaca, memahami dan menerapkan The Secret dalam kehidupan Anda, keajaiban itu akan menjelma ilmu pasti karena alam semesta akan siap sedia begitu Anda mengharapkan sesuatu terjadi. Impian Anda adalah perintah bagi semesta untuk mewujudkannya. Semesta akan menyusun ulang dirinya untuk mewujudkan impian itu ke alam nyata.

Yang perlu Anda lakukan hanya meminta, percaya dan menerima. Lebih dahsyat lagi jika Anda bersyukur dan berbagi. Keajaiban The Secret akan berlipat ganda jika Anda menggunakannya untuk membuat dunia ini menjadi tempat hidup yang lebih baik bagi banyak saudara kita yang tidak seberuntung kita.

Semakin banyak kita berbagi, semakin banyak yang akan kita terima. Dan bersiaplah, keajaiban hidup biasanya datang dari arah yang tidak pernah kita sangka-sangka.

Tuesday, June 19, 2007

aku Menyapa-Mu

Bukan kehendakku yang terjadi, tapi kehendak-Ku
Karena dengan mata-Ku aku melihat
Dengan telinga-Ku aku mendengar
Dengan tangan-Ku aku memegang

Akulah penentu takdirku
Akulah yang memperjalankan kaki-Ku
Menempuhi jalan-Ku

Aku dan aku sesungguhnya dua sisi koin
Tak mungkin kau pisahkan satu-satu

Sampai kujumpa akhir waktu-Ku

Monday, June 11, 2007

Ssssttt....

Hanya mau nyebar gosip. Festival Iklan Pinasthika (dulu bernama Pinasthika Ad.Festival) segera diadakan lagi tahun ini. 30 Agustus - 1 September 2007 di Hotel Melia Purosani Yogyakarta. Tunggu kejutan selanjutnya...

Friday, June 8, 2007

Kita Tidak Perlu Berkorban

Untuk sukses dan bahagia, atau dalam level yang lebih rendah misalnya kaya raya - menurut saya - kita tidak perlu mengorbankan apapun. Tidak perlu berkorban uang, waktu apalagi perasaan. Tidak perlu ngoyo alias membanting tulang. Tidak perlu menderita, tidak perlu susah hati, tidak perlu kecapekan setengah mati.

Ini serius. Dan mudah sekali penerapannya. Kita tidak perlu berkorban atau memposisikan diri sebagai korban. Karena rasanya pasti berat sekali di hati, atau lebih repot lagi kita jadi merasa sok pahlawan. Kata beberapa buku self help, konsep untuk mengawali sukses adalah berpura-pura sukses. Saya tidak mengatakan salah, tapi - sekali lagi menurut saya - kurang pas. Karena kita tidak perlu berpura-pura sukses. Berpura-pura bahagia. Berpura-pura apapun agar terlihat sempurna hidupnya.

Ini yang saya yakini: kita ini diciptakan Allah sudah sukses dari sejak lahir. Tak peduli anak milyarder atau anak gelandangan, seorang bayi bisa tertawa bahagia. Ketika kita memberikan sebagian harta titipan kita pada saudara kita yang lebih membutuhkan: itu bukan berkorban. Itu kewajaran. Tidak perlu dimaknai berlebihan. Ada konsep berbagi yang sangat indah: saat kesulitan datang dan kita memerlukan pertolongan Allah, kita harus menolong saudara kita yang lebih sulit hidupnya. Mendahulukan kepentingan orang lain saat kita juga perlu: itu bukan berkorban. Itu hal biasa saja, memang hukum alamnya begitu. Kita nikmati saja.

Kita sudah bahagia kemarin. Kita bahagia hari ini. Besokpun kita tetap bahagia. Karena kebahagiaan tidak tergantung pada sedih atau senang. Kebahagiaan tidak tergantung pada hal-hal apapun di luar diri kita. Kebahagiaan ada di dalam hati dan 100% akan mengikuti keinginan kita. Dalam situasi bencana terdahsyatpun, seseorang bisa bahagia saat diberikan kesempatan hidup meskipun luka-luka.

Saudaraku yang sekarang berada di rumah sakit menunggu kesembuhan datang, bersyukurlah sekarang jangan menunggu nanti saat pulang ke rumah. Saudaraku yang dijauhi harta benda sampai susah makan, bersyukurlah sekarang jangan menunggu kenyang. Saudaraku yang dikejar-kejar penagih hutang sampai susah tidur, bersyukurlah sekarang jangan menunggu pelunasan. Saudaraku yang berada di balik terali besi karena difitnah, bersyukurlah sekarang jangan menunggu saat dibebaskan. Jangan boroskan sedetikpun hidup kita untuk tidak bersyukur.

Syukur adalah pintu bahagia. Bahagia tak butuh syarat-syarat. Tak butuh apapun. Hidup kita ini punya Allah, kita tak akan rugi apa-apa. Berikan seluruh hidup kita pada Allah, kita tak rugi apa-apa. Matipun tak ada yang kita bawa. Jasad kita akan jadi tanah untuk akhirnya sirna. Buat apa merasa kehilangan karena hakikatnya kita memang tidak pernah memiliki apapun. Apa saja yang sedang dipercayakan Allah pada kita: kita syukuri sepenuhnya. Kita nikmati kebahagiaannya.

Yang mengajari saya nilai-nilai ini adalah seorang anak berumur sekitar 10 tahun namanya Puguh. Kisahnya pernah ditayangkan di Trans TV di acara Kejamnya Dunia, siang hari 7 Juni kemarin. Sayangnya saya cari infonya di internet belum ketemu. Di situs Trans TVpun gak ada.

Dia menjalani hidupnya dengan senyum, saat diwawancara mukanya yang tampan bercahaya, seringkali tertawa memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi. Hidup di desa dalam keluarga yang kekurangan, Puguh kecil langsung belajar jalan. Dia tidak pernah melewati fase merangkak. Sekarang dia menggembala sapi dan menjemur beras sendiri. Pake baju sendiri. Makan sendiri. Karena di rumahnya belum ada pancuran air, saat ini dia belum bisa mandi sendiri. Karena dia masih harus belajar memegang gayung.

Sedangkan Allah menakdirkannya hidup tanpa dua tangan sejak lahir.

Tapi Puguh bahagia, bukan pura-pura bahagia. Sayapun menangis. Sungguh-sungguh menangis.

Monday, June 4, 2007

Jangan Mau Dirayu Orang Iklan

Disampaikan Dalam Diskusi Jejak Iklan dan Imajinasi Konsumsi
Ruang Seminar Fisipol UGM Yogyakarta, 4 Juni 2007



Anak saya kalau pas nonton tv ada iklan makanan anak-anak, apalagi yang ada hadiah mainannya langsung minta dibeliin. Tapi alhamdulilah sekarang sedikit-sedikit sudah ngerti, karena sering kami ajak diskusi kalau penyedap, gula buatan, pewarna, dll. itu tidak sehat. Akibatnya kalau banyak makan yang seperti itu tidak baik buat kesehatan. Tapi namanya anak-anak, memang harus selalu diingatkan sih…

- Kutipan pengakuan seorang ibu (dikutip dari sebuah milis) -


Sebenarnya inti tulisan ini sudah terwakili dengan penyajian satu kutipan di atas yang saya anggap telah lengkap unsur-unsurnya. Terdapat masalah yang hadir, sekaligus pembahasan solusi untuk mengatasinya. Tapi ternyata sobat saya masih penasaran dan membanjiri saya dengan pertanyaan-pertanyaan tajam. Namanya sobat, tentu saja saya tak kuasa menolak. Apalagi karena saya disandera di sebuah angkringan pinggir sawah dan ‘disuap’ dengan segelas teh poci panas gula batu, dua bungkus nasi kucing, beberapa gorengan dan tiga potong cakar ayam dibalut tepung.

Tugas saya menjawab pertanyaannya, tugas dia membayar apa yang saya makan. Cukup fair menurut saya. Berikut dialognya:

Kamu nggak bisa sok menyederhanakan persoalan begitu. Masalah konsumtivisme ini udah akut, udah super ruwet. Ayo kita kupas dari akarnya: mengapa kamu mendirikan biro iklan kalo hanya untuk memicu konsumtivisme?

Waduh, kok belum-belum udah sewot. Saya mendirikan biro iklan karena hobi. Saya suka menggambar dan segala hal yang berbau kreativitas. Saya berasal dari keluarga miskin, jadi tidak begitu faham apa itu konsumtivisme. Saya akui saya berlebihan jika belanja buku. Untuk kategori ini saya merasa bersalah dan mengaku bahwa saya memang konsumtif. Tapi saya bikin iklan untuk mendukung produsen agar produknya bisa diserap masyarakat. Tanpa lingkaran proses itu maka cash flow tidak mengalir. Perusahaan akan tutup lalu pengangguran membengkak. Siapa yang repot?

Dan saya tidak mengiklankan produk haram. Tapi kalo konsumen tidak membeli produk yang diiklankan, tidak masalah juga. Mereka tidak diancam atau diharuskan. Mereka memilih sendiri apa yang akan mereka beli. Ini negeri demokrasi Bung. Makannya apa saja, minumnya tidak harus teh botol. Air kendipun nggak papa.

Setahu saya, iklan sebagai produk budaya sifatnya netral. Emha pernah bilang, iklan itu anak jadah kebudayaan. Lha siapa yang salah, bapak ibunya alias kebudayaan kita juga kan. Iklan itu cermin budaya. Saya akui budaya kita remuk redam akhir-akhir ini, kamu lihatlah wajah iklan-iklan kita sebagai korban kerakusan dan selingkuh bapak ibunya, ya kebudayaan kita ini akarnya.

Lalu apa pertanggungjawabanmu wahai para pemilik biro iklan ketika masyarakat kita jadi semakin konsumtif dan mabuk belanja?

Konsumtivisme memang bisa dipicu iklan, tapi ingat: keputusan pembelian tetap di otak dan hati konsumen. Tapi saya percaya, rakyat Indonesia ini cerdas-cerdas dan tahu persis mana iklan yang tepat mana yang ngawur. Mana yang menawarkan kesejatian, mana yang mengumbar nafsu dan kerakusan. Tapi ya itulah repotnya, banyak rakyat kita yang tahu tapi tidak mau. Yang ngerti banget pentingnya berhemat tapi terus nguber diskon sampe pake beberapa kereta dorong. Sampai di rumah bingung, kok uangnya tinggal seuprit?

Tanggung jawab saya tentu saja tidak menambah jumlah iklan yang membodohi dan menyodor-nyodorkan produk yang artifisial dengan bumbu kreatif yang melebihi kewajaran. Tapi kalo bicara biro iklan se-Indonesia yang jumlahnya lebih dari seribu: tentu tak semudah membalikkan telapak tangan orang sekecamatan.

Karena kalo iklan memang berpotensi memicu konsumtivisme, iklan sebaiknya dilarang saja. Apa pendapatmu?


Saya sih setuju aja. Tapi tolong dilarang juga penjualan pisau dapur, karena bisa digunakan untuk membunuh. Atau korek api agar hutan kita tidak habis terbakar. Atau paku besi karena bisa dimasukkan ke perut korban oleh dukun santet.

Iklan itu – sekali lagi menurut saya – sifatnya netral. Seperti harta, kekuasaan atau ilmu pengetahuan. Kalo digunakan sesuai aturan, tentu positif hasilnya. Kalo disalahgunakan ya bubrah hasilnya. Kalo hobimu melarang yang tak sesuai pendapatmu, nanti demokrasi kita remuk sebelum tumbuh.

Lho? Awalnya bilang setuju kok buntutnya malah tidak setuju. Tapi setelah semua keburukan terjadi akibat iklan, apa yang bisa dilakukan biro iklan untuk menebus dosanya dalam memicu konsumtivisme?

Yang pertama, iklan yang dihasilkan agency harus jujur. Harus sesuai dengan hati nurani (content) dan kenyataan (context). Baik what to say-nya ataupun how to say-nya. Yang ini tolong jangan ditawar. Seartistik atau sesukses apapun, iklan yang tidak jujur akan berakibat buruk tidak saja buat audiens tapi juga buat kreator dan kliennya. Jika fondasinya salah, bangunan semegah apapun yang berdiri di atasnya takkan bertahan lama. Iklan yang dibuat dengan kejujuran hati akan berkomunikasi dengan landasan kepercayaan tertinggi. Pesannya akan meresap di lubuk hati, tidak sekedar berhenti di panca indera semata.

Yang kedua, perlunya iklan penyadaran tentang konsumtivisme. Jika keburukan diiklankan begitu membabi buta, maka kesederhanaan dan kebersahajaan hidup pun sebaiknya dipromosikan dengan cara yang tepat. Iklan itu tergantung siapa yang ada di baliknya: inilah pekerjaan rumah kita semua.

Apa saranmu buat masyarakat Indonesia dalam memperlakukan iklan yang memasuki dunia mereka secara masif dari pagi sampai pagi lagi?

Saya tidak akan ragu untuk mengatakan: jangan mau diarah-arahkan oleh iklan. Jangan juga langsung percaya pada apa yang saya katakan ini. Carilah di kedalaman hati Anda-anda sekalian: carilah yang paling sejati dari hidup sementara ini. Berikan dukungan pada iklan yang menawarkan kebenaran dan kebaikan, tinggalkanlah iklan yang mengajak pada kesesatan. Dan jangan suka menghakimi sesuatu sebelum paham benar permasalahannya atau cengeng sedikit-sedikit protes kalo ada yang tak sesuai dengan keinginan. Nanti malah timbul fitnah yang tidak perlu. Mulailah perbaikan ini dari diri sendiri, mulailah dari yang kecil-kecil dan mulailah sekarang.

Ini satu lagi: setelah mengetahui efek samping yang buruk dari iklan, apakah kamu akan tetap berada di industri ini?


Pertanyaan aneh: tentu saja saya akan tetap disini. Ini hobi saya jee, punya hobi gak dosa kan? Kalo saya pindah ke bisnis penjualan tasbih dan sajadah, apakah engkau bisa menjaminku masuk surga? Kalo saya import kurma lewat bea cukai Indonesia, apakah efek negatifnya tidak ada? Jangan melihat dunia hitam putih, termasuk dunia periklanan. Jika masih banyak kekurangan di industri ini lantaran begitu banyak penjahatnya, biarlah ini menjadi ladang amal bagi yang mau berbuat baik meskipun mulainya dari dari dalam hati dulu.

Oya, kalo masih ada pertanyaan lagi tolong pesenin teh poci satu lagi. Haus banget nih ngomong terus…

Tapi sobat saya malah mengumpat dengan bahasa walikan dan keburu ngacir, membayar apa saja yang telah kita makan dan balik lagi ke bangku saya. Ini kutipan kalimat yang disampaikannya sambil cemberut,

Malam ini udahan dulu, aku sudah curiga dari tadi sama taktik kunomu. Ngobrolnya dipanjangin tapi tangannya gak berhenti nyomot gorengan. Ongkos makanmu malam ini tiga kali biasanya. Dasar wong iklan! Kapok aku!!!

Sayapun tersenyum, malam ini sobat saya terlihat lebih cerdas daripada sebelumnya.