Mybothsides

Thursday, May 31, 2007

Iklan Hard Sale atawa Heart Sale?



Berbicara iklan media cetak, setahu saya pilihannya tak banyak: kalo nggak hard sale ya branding. Agency yang creative minded tentu lebih senang yang branding, meskipun bikinnya sering lebih sulit dan makan waktu. Tapi agency yang pro selling tentu akan lebih recommend iklan hard sale karena impact jangka pendeknya lebih cepat dan lebih sering bisa memuaskan klien yang butuh bukti cepet bahwa iklannya efektif. Tapi jika iklan media cetak tersebut merupakan bagian dari strategi kampanye promosi yang meliputi above the line maupun below the line: dua-duanya bisa digunakan untuk mencapai target jangka panjang tanpa melupakan pencapaiannya dalam jangka pendek.

Mencari Ide Dari Akarnya

Saat ini iklan pemenang award tersedia dimana-mana, dari buku, cd, dvd bahkan youtube dan milis di internet.Begitu juga image bank, getty images atau free image yang lain. Karena saya berada di Jogja, saya sungguh merasakan kemudahan yang luar biasa untuk mengakses iklan-iklan terbaik di dunia dari internet jika dibandingkan beberapa tahun lalu saat masih kuliah. Efek positifnya banyak, kita bisa membandingkan kualitas iklan bikinan kita dengan iklan kelas dunia yang lain. Kita udah imbang belum, lebih baik atau masih lebih buruk. Akses ini membuat agency di manapun punya kesempatan hampir sama untuk menyerap informasi terbaik dan menghasilkan output iklan terbaik. Tak peduli apakah agency itu berasal dari Srandakan Bantul, Mbrosot, Jakarta, New York atau London.

Tapi melihat iklan-iklan di surat kabar maupun di award competition (yang biasanya jarang terlihat di surat kabar), sejujurnya saya mulai boring. Jiwa dan raga. Karena efek dari kebiasaan mengkonsumsi iklan award winning, iklan yang kita bikin jadi ‘berbau’ iklan-iklan luar negeri. Kita mampu mengejar kulitnya, tapi luput menangkap soul-nya. Dan sampai kapanpun, jika kita terus menjadi follower, kita takkan pernah jadi lebih baik daripada yang kita ikuti.

Dan yang bahaya, pelan-pelan kita mulai malas. Daripada pusing cari consumer insight dan menghabiskan banyak energi, mending adaptasi ide iklan yang udah jadi tapi gak begitu terkenal, di-lay out beda, selesai. Daripada motret, mending copy dulu aja dari image bank. Nanti kalo klien udah OK, kita baru bikin photo session. Atau, karena deadline mepet, image yang ini dikombinasi ama image yang itu lalu diblur sedikit, beres deh.

Saya lalu terfikir untuk mencari jalan sendiri, bukan lewat jalan tol mulus yang telah dibikin orang tapi lewat jalan tanah berbatu yang kemungkinan jika berhasil dilalui akan menjadi rute baru. Tapi jika tidak berhasil, saya tentu akan tersesat di rimba raya. Inovasi pada iklan media cetak membutuhkan keberanian dan saya tahu tak banyak agency yang punya.

Misalnya pemahaman bahwa tujuan agency adalah membuat klien jadi lebih cerdas, bukan lebih boros. Meskipun klien boros akan disayang agency karena keuntungannya besar dalam jangka pendek, tapi hidup dan berkembangnya agency dalam jangka panjang justru akan sangat terbantu oleh makin banyaknya klien yang cerdas, yang memahami fungsi utama sebuah agency.

Yuk ‘Mencuri’ Ide

Big artists copy, great artists steal
Picasso repeated by Steve Jobs repeated by Bill Gates

Saya sungguh tak pandai memberi tips untuk tentang iklan media cetak yang baik, jadi saya memilih untuk ‘mencuri’. Interface Apple yang terkenal itu adalah curian dari Research Center-nya Xerox. Sementara Windows adalah curian dari Apple. Tidak ditiru mentah-mentah tentunya, karena Steve Jobs dan Bill Gates menggunakan konsep ATM (Amati, Tiru, Modifikasi).

Oya, mencuri itu bahasa sononya: STEAL. Biar terlihat agak keren, STEAL adalah singkatan dari: sold, tactical, enlighten, ashtonish, lovely. Iklan akan dianggap sukses jika punya 5 hal tersebut. Saya akan coba jelaskan satu persatu.

Sold artinya terjual atau laku. Syarat dasar sebuah iklan memang bisa menjual. Agency bisa menjual idenya ke klien. Klien bisa menjual produknya ke konsumen. David Ogilvy bilang: if it doesn’t sell, it is not advertising. Saya setuju, tapi fungsi iklan untuk menjual tentu bukan segalanya. Setelah bisa menjual, lalu apa? Menurut saya: if it just sells, it doesn’t need advertising. Semua orang berbakat bisa menjual, mulai dari pedagang mainan di pasar sampai kesepakatan import export antar negara. Presiden Indonesia ketemu Perdana Menteri Thailand untuk barter pesawat terbang dengan ketan. Proses dealing bisa terwujud tanpa iklan. Jadi selain laku, kita butuh elemen lainnya agar iklan bisa sukses.

Tactical berbasis strategi. Tanpa strategi promosi yang dipersiapkan dengan matang, iklan seperti peluru yang terhambur dari senapan mesin yang memberondong ke segala arah. Meskipun terlihat gemuruh dan heroik, tapi biayanya mahal dan sia-sia. Strategi akan mengarahkan iklan di tiap media seperti pemanah melesatkan anak panahnya ke titik merah di pusat bulatan dan menancap sempurna. Tak banyak menghabiskan budget tapi super efektif untuk menancapkan pesan di benak audiens.

Enlighten atau pencerahan adalah kriteria berikutnya. Di tengah hidup keseharian yang begini sumpek dengan makin banyaknya persoalan dan bencana, audiens tak lagi jernih berfikirnya. Maunya marah, terburu-buru dan menyalahkan kondisi yang ada. Iklan yang menawarkan pencerahan dan hal-hal positif akan mengobati dahaga khalayak, sehingga justru malah menjadi pusat perhatian. Ketika makin banyak iklan mengumbar janji dan pesan berlebihan justru menuai masalah, iklan yang mencerahkan mempunyai tingkat efektifitas yang luar biasa.

Ashtonish itu mengejutkan. Masyarakat sekarang tak punya banyak waktu membaca surat kabar atau majalah, tak punya kesempatan cukup untuk melihat dan memahami iklan-iklan yang ditayangkan di dalamnya. Apalagi jika iklan yang muncul begitu egois dengan pesan yang puuuuanjang dan visualnya begitu-begitu saja. Jadi kita perlu mengejutkan pembaca. Membuat mereka menghentikan aktivitas speed reading-nya dan tertegun melihat iklan kita. Dan ketika waktu berhenti, itulah bukti keberhasilan efek kejut iklan kita.

Lovely itu disukai atau dicintai. Jika audiens merasa iklan tertentu ‘gue banget’ sebagai akibat pemahaman consumer insight yang tepat, maka audiens-pun dengan sukarela akan menyayangi brand yang diiklankan, atau bahkan mengoleksi iklannya. Pengen ketemu kreatornya untuk foto bareng dan minta tangan. Saya tidak bercanda, art director saya yang bikin iklan Kedaulatan Rakyat Pincang Berhati Emas sering diajak foto bareng fansnya waktu pameran Adex beberapa waktu lalu. Saya malah nggak pernah.


Sebuah Formula Kuno

Baik hard sale maupun branding, yang penting iklan harus jujur. Harus sesuai dengan hati nurani dan kenyataan. Saran terakhir saya terkesan kuno ya? Entahlah, akhir-akhir ini saya memang cenderung kuno. Modernitas sungguh terasa menyesakkan, terutama karena saya merasa makin banyak di antara kita mulai mengasingkan hati nuraninya sendiri untuk mengejar setoran (keuntungan finansial, kemajuan perusahaan dan banyaknya order). Klien maunya gini, gimana lagi?

Seartistik atau sesukses apapun, iklan yang tidak jujur akan berakibat buruk tidak saja buat audiens tapi juga buat kreator dan kliennya. Jika fondasinya salah, bangunan semegah apapun yang berdiri di atasnya takkan bertahan lama.

Jadi saya lebih memilih iklan heart sale, iklan yang menjual dengan hati. Iklan yang dibuat dengan hati akan berkomunikasi dengan hati, tidak sekedar dengan mata dan otak audiens semata. Dan kalau masih pengin dapetin award di AP Adfest, coba deh bikin iklan heart sale. Selain akan lebih berkah, kompetitor yang bikin iklan sejenis ini saya kira tak banyak. Kans menangnya akan jauh lebih besar.

Tapi ini rahasia antar kreator iklan aja ya, kearifan kuno bernama kejujuran itulah yang akan menyelamatkan nurani kita dari perasaan bersalah karena telah ikut memperkeruh otak bangsa ini dengan menghasilkan ‘iklan-iklan sampah’.

(Artikel ini dimuat di Majalah Cakram Edisi Khusus Majalah & Tabloid, Mei 2007)

Tuesday, May 29, 2007

Libur Kecil Kaum Kusam

Nikmat kau hisap asap tembakau
Di bangku rumah kontrakan
Sore selesai kerja sehari
Tunggu istri berdandan
Janji pergi berkencan
Tak kalah dengan orang gedean
Dalam rasakan senang

Walau lembaran gaji sebulan
Hanya cukup untuk kakus
Soal rekreasi sih harus
Setianya anak istri
Menantikan bahagia
Sehari bagaikan sang raja

Selesai anak istri berdandan
Tembakau kau matikan
Jendela pintu lalu kau kunci
Tentu tak sabar mereka pergi
Stop bis kota dengan pasti

Libur kecil kaum kusam
Yang teramat manis begitu romantis
Walau sekali setahun
Tuhan rangkullah
Jangan kau tinggalkan
Waktu mereka

Pergilah derita ini hari
Berilah tawa yang terkeras
Untuk obati tangis lalu
Limpahkan senang paling indah
Agar luka tak nyeri
Agar duka tak menari

Catatan:
Album Wakil Rakyat 1987Iwan Fals mengakui bahwa lagu ini adalah lagu yang paling disukai dia selama berkarya. Dan jujur, ini juga lagu favorit saya jika kebetulan sedang lupa bersyukur. Lagu ini begitu sederhana sehingga kemiskinan dalam keikhlasan nampak begitu bercahaya.

Miracle? Ah Ndak Juga

Malam ini saya lewat 8 lampu lalu lintas, yang persis lampu hijau pas saya lewat ada 7 buah. Not bad lah... Dan yang penting, ini bukan kebetulan karena saya merencanakannya demikian. Tentu saja dibantu Tuhan. He he he :)

Monday, May 28, 2007

Sedekah Memundurkan Kereta

Minggu 27 Mei 2007, kereta api Lodaya yang saya naiki dari Bandung ke Jogja berhenti di Warung Bandrek (bukan warung, tapi semacam stasiun kecil). Entah kenapa iseng saya kumat, saya ingin sedekah pada orang yang saya temui yang saya anggap pantes menerima. Di saku saya ada uang 40 ribu, saya niatkan 20 ribu untuk sedekah.

Kebetulan keretanya agak lama, jadi saya sempat turun mencari-cari dan tidak ketemu. Hanya ada para penumpang dan petugas PJKA. Tiba-tiba dari jarak sekitar 50 meter, ada seorang bapak membawa sabit dan karung untuk mencari rumput berjalan tapi arahnya menjauhi saya. Saya pikir: Nah, ini dia! Agar saya bisa menyampaikan sedekah dengan cara wajar (agak aneh rasanya kalo saya lari mengejar dia trus memberikan sedekah) di dalam batin saya memanggilnya: Ayo Pak, tolong saya.. Balik, balik, balik..

Tapi dia terus saja berjalan semakin jauh. Batin sayapun iseng lagi: Kalo Bapak gak balik, maka kereta ini yang akan mundur.

Sebentar kemudian penumpang diminta naik. Dan Subhanallah.. keretanya mundur searah perginya Bapak tadi. Ternyata kereta yang berhenti di persimpangan rel ini berpapasan dengan kereta lain yang perlu ditarik keluar jalurnya dengan cara mundur dulu.

Saat kereta mundur inilah saya melihatnya sedang menyabit rumput di pinggir rel dan saya sampaikan sedekah saya lewat pintu kereta yang terbuka. Allahu Akbar, hanya atas ijin-Nyalah keajaiban kecil ini terjadi…

Sunday, May 27, 2007

Catatan Setahun Gempa


Hanya syukur yang memenuhi rongga dada
Walau remuk redamnya nasib tak bisa terkata
Saat air mata darah mengalir bagai sungai dalam banjir
Saat nyawa pergi sebelum pagi hadir

Membawa nasib pada akhir

Satu tahun telah berlalu dalam jejak waktu
Saat Tuhan masih memberi hidup padaku
Tapi bukan jaminan bahwa gempa tak mampir lagi
Justru saat kita menikmati selamat
Masih ada waktu mengejar hakikat

Thursday, May 24, 2007

Tak Terasa Udah Setahun



Rasanya baru kemarin ketemu mereka-mereka ini, berdiskusi riuh sampai tengah malam dan mengagumi kiprah mereka di dunia desain Indonesia. Rasanya baru kemarin saat saya lantang berkata pada Ibu Mar'ie Pangestu agar tidak menyia-nyiakan talenta ajaib para Soe Hok Gie muda Indonesia ini. Agar pemerintah jangan menyesali keputusannya yang salah sehingga kelak baru mau mengenang sumbangsih luar biasa Soe Hok Gie saat yang bersangkutan telah mati. Jangan terlambat lagi setelah seringkali luput membaca potensi. Saat itu Bu Menteri manggut-manggut, tapi saya belum tahu persis apakah beliau setuju atau ngantuk.

Alumnus Finalis IYDEY 2006 ini saya yakin telah makin sukses. Dimuat di majalah-majalah nasional, dikenal bahkan di tingkat Internasional. Sampai 22 Juni 2007 ini akan digelar lagi ajang yang sama hanya beda brand: IYCEY (International Young Creative Enterpreneur of The Year 2007). Saya tidak tahu apakah finalis tahun lalu boleh daftar lagi, terus terang tidak jadi terpilih ke Inggris memang menyisakan hutang impian.

Tapi sudahlah, saya nikmati saja kegagalan tahun lalu itu dengan penuh rasa syukur. Saya masih harus berjalan. Menengok lagi tahun lalu telah menjadi pelajaran berharga sekaligus kenangan yang manis. Saya tidak tahu yang dipikirkan teman-teman saya sesama finalis. Tapi saya berharap mereka jauh lebih sukses sekarang. Saya yakin mereka terus belajar dan berkembang, karena sayapun begitu.

Tapi saya kurang yakin apakah Bu Menteri dan pemerintah sebagai penjaga gawang proses membangun creative economy negeri ini juga belajar. Yang saya tahu, menteri-menteri saat ini pasti sibuk bekerja, apalagi setelah reshuffle kemarin. Jadi waktunya terlalu sempit untuk belajar lagi ke level yang lebih tinggi.

Saya mulai takut bahwa para anak muda super kreatif di masa sekarang nasibnya lebih buruk daripada Soe Hok Gie saat itu. Tapi saya lebih takut lagi jika para decision maker mewarisi penyakit Soekarno ataupun Soeharto ketika semua keran kesempatan tidak disalurkan dan merasa kekuasaannya adalah cermin kebenaran.

Tapi jangan salahkan pemerintah, jangan kambinghitamkan menteri, jangan menurunkan Presiden. Jangan menuding siapapun untuk situasi buruk Indonesia saat ini. Itu bukan solusi. Yang terbaik arahkan telunjuk ke jidat sendiri, ambil cermin dan mulai introspeksi: apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi bagian dari solusi dan bukan memperkeruh masalah.

Toh banyak hal menarik yang bisa dikerjakan sebelum mati menyusul Soe Hok Gie yang asli. Setahun lalu yang saya sampaikan ini pernah jadi topik hangat. Saya menghangatkannya sekali lagi: agar kita semua terbangun dan bukan cuma manggut-manggut.

Sunday, May 20, 2007

Bukan Nyerah Tapi Pasrah

Dalam langkah mewujudkan impian kita, tahap terakhir sebelum mimpi itu menjadi nyata - dalam beberapa buku bahkan Al Qur'an - disebutkan satu sikap: pasrah. Merelakan. Ikhlas. Terwujud atau tidaknya kita serahkan pada Tuhan.

Setelah kerja keras setengah mati, membentur-bentur tembok, tubuh babak belur, Tuhan menyodorkan pilihan: mau keras kepala memaksakan kehendakmu atau kau percayakan pada-Ku untuk menentukan takdir terbaikmu?

Saya adalah orang yang sulit sekali menyerah. Tepatnya: tidak mungkin menyerah. Tapi pasrah adalah mempercayakan Tuhan dengan Kemahakuasaan-Nya menyempurnakan kerja keras kita.

Logikanya sederhana: kita hidup di dunia ini toh dikasih pinjem. Seluruh properti di dunia ini termasuk diri kita ini milik-Nya. Lha ya terserah Dia to mau mengabulkan doa yang mana atau mewujudkan impian siapa. Kalau Tuhan iseng meniup nyawa saya saat menulis blog ini, bablaslah saya tanpa sempat pamit kepada Anda semua.

Beberapa hari ini saya sering termenung di persimpangan. Beberapa keajaiban mendatangi saya, justru ketika saya merasa jalan keluar semakin sulit didapatkan. Saat saya terengah-engah kelelahan tanpa bayangan keberhasilan, cahaya itu datang: yang mustahil bukan tidak mungkin. Saya banyak terselematkan saat injury time. Justru saat saya pasrah, bukan saat saya onfire mengejar impian mati-matian.

Apa sih yang gak mungkin buat Tuhan? Kun fayakun maka terjadilah kehendak-Mu.

Tapi malam ini aku lelah ya Tuhan (entah mengapa kau ciptakan lelah untuk tubuhku), kubutuh istirahat sebentar agar besok bisa memenuhi kewajibanku pada-Mu lagi: menjadi rahmatan lil 'alamien.

Akan kuselesaikan masalah yang mampu kuselesaikan, tapi yang di luar batas kemampuanku kumohon Engkau hadir meminjamkan kekuatan-Mu. Aku tidak menyerah, kuhanya mencoba menjalani takdir-Mu dengan lebih ikhlas.

Sebagai satu-satunya Tuhan yang diakui di alam semesta ini, aku percaya Engkau pasti tidak menentukan takdir dan nasib seseorang dengan sembarangan.

Jadikan aku hamba-Mu yang ikhlas, yang pasrah, yang mampu membaca hikmah saat kun fayakun-Mu hadir untuk menjawab doa-doaku yang mungkin aneh di telinga manusia yang lain, tapi pasti tidak di telinga-Mu. Amien ya Robbal Alamien...

Monday, May 14, 2007

The Secret Behind Sluku-Sluku Bathok

Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang Solo
Oleh-olehe payung mutho
Pak jenthit lolo lo bah
Yen mati ora obah
Yen obah medeni bocah
Yen urip golekko dhuwit


Seorang guru saya memberikan pencerahan siang itu. Pak Nunuk namanya. Hidup – katanya – tidak boleh dihabiskan hanya untuk bekerja. Waktunya istirahat ya istirahat, untuk menjaga jiwa dan raga agar selalu dalam kondisi seimbang.


Lagu jaman Wali Songo menuturkan: Sluku-sluku bathok, bathok (kepala) kita perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemampuannya. Kalo diforsir terus bisa aus, stress, hang, macet daya pikirnya.

Bathoke ela-elo, dengan cara berdzikir (ela-elo = Laa Ilaaha Ilallah), mengingat Allah akan mengendurkan syaraf neuron di otak. Lalu Si Rama menyang Solo, siram (mandilah, bersuci) menyang (menuju) Solo (Sholat). Lalu bersuci dan dirikanlah sholat. Saya ingat ada kutipan berbunyi: Jadikanlah sholat itu istirahatmu. Lalu apa fadhilah sholat?

Oleh-olehe payung mutho, yang sholat akan mendapatkan perlindungan (payung) dari Allah, Tuhan kita. Kalo Allah sudah melindungi, tak ada satupun di dunia ini yang kuasa menyakiti kita. tak satupun.


Pak jenthit lolo lo bah, kematian itu datangnya tiba-tiba, tak ada yang tahu. Tak bisa dimajukan atau dimundurkan walau sesaat. Sehingga saat kita hidup, kita harus senantiasa bersiap dan waspada. Selalu mengumpulkan amal kebaikan sebagai bekal untuk dibawa mati.

Yen obah medeni bocah. Saat kematian datang, semua sudah terlambat. Kesempatan beramal hilang. Banyak ingin minta dihidupkan tapi Allah tidak mengijinkan. Jika mayat hidup lagi maka bentuknya menakutkan dan mudharat-nya akan lebih besar.

Yen urip golekko dhuwit. Kesempatan terbaik untuk berkarya dan beramal adalah saat ini. Saat masih hidup. Pengin kaya, pengin membantu orang lain, pengin membahagiakan orang tua: sekaranglah saatnya. Ketika uang dan harta benda masih bisa menyumbang bagi tegaknya agama Allah. Sebelum terlambat, sebelum segala pintu kesempatan tertutup.

Saturday, May 12, 2007

Quote of The Day

Uang dalam jumlah berlimpah
berebut datang kepada saya
dengan mudah dan terus menerus
tak peduli apapun yang saya lakukan
atau dimanapun saya berada

- Joe Vitale, Attractor Factor -

Wednesday, May 9, 2007

Menemukan Harta Karun


Desain Cover Aslinya
Sungguh kaget bercampur haru sewaktu gak sengaja menemukan apa yang saya dan teman-teman kerjakan di masa lalu saat masih kuliah, di-review orang lain dengan positif dan pake bahasa Inggris pula. Unbelievable!
Komik KECOA ini kami bikin berempat: Eri Setiyono (sekarang jadi animator sukses di Infinite Frameworks), Apriyadi Kusbiantoro (animator handal di Studio Urak-urek), Yudi Sulistya (Senior Illustrator di Petakumpet) dan saya (sebagai pelengkap).

Selain sukses memenangkan Juara I di Lomba Komik Nasional Depdiknas & Balai Pustaka tahun 1997, kisah sedihnya adalah kami tak punya lagi komik aslinya. Kayaknya ada di Balai Pustaka. Dan lantaran dulu waktu ngirimnya mepet, juga tak sempat punya fotokopi. Entah berapa dicetaknya, royaltinya juga gak tahu kemana karena laku atau enggak sayapun tak paham. Yang saya tahu, desain cover kami telah diedit sehingga mirip komik anak-anak dan dicetak dengan kualitas di bawah bagus.

Yang masih ada tinggal script dan hak ciptanya. Siapa tahu ada yang pengin bikin film kayak gini untuk nyaingin Saving Private Ryan-nya Spielberg? Cerita di komik ini based on true story saat penyerangan benteng Jepang di Kotabaru Jogja sebelum kemerdekaan, dengan beberapa tokoh dan adegan fiktif agar pesan humanisnya lebih kuat dan nggak kayak buku sejarah semata.
Kebetulan saya yang tugasnya bikin karena diantara kita berempat, sayalah yang paling jelek gambarnya. Daripada kalah bersaing, sayapun banting stir jadi script writer. Untungnya mereka bertiga cukup mengasihani saya dan mau mentransfernya jadi komik 49 halaman.

Btw, untuk Surjorimba ang telah me-review: terima kasih saja takkan cukup. Semoga Tuhan membalasnya dengan lebih banyak, lebih baik, lebih berkah. Amien :)


Cover Komik 'Bikinan' Balai Pustaka, 1997, ISBN 979-666-159-4


Komik halaman dalam (hitam putih)

KECOA was created by four incredible cartoonists: Yudi, Taddie, Eri and Arief (yes, only their first names were stated), and this comicbook won 1st prize in a comicbook competition sponsored by Education and Cultural Ministry, 1997. I don’t know if these guys are still active these days. But this b/w comicbook is truly a gem.


The story was about the life of Kaprawi, a young man in his early 20’s and very afraid of cockroaches. Set during the revolutionary Indonesian war against the Japanese invasion (circa 1945), the story became a milestone in today’s comicbook scene. Although revolution for independency was a common theme in the golden age of Indonesian comicbook history, we don’t find them exposed these days. Young cartoonists perhaps find the particular theme uninteresting and rather find other themes. But KECOA proved that war-fiction could be developed into a story with a million messages.

Kaprawi was very afraid of everything. He’s not a coward. He just didn’t have the confidence to act. He wanted to fight with his friends, but he couldn’t have the guts to pull the trigger. He’d seen his country suffered from Dutch and Japanese occupancy. He’d seen innocent people died. He’d seen hs country torn apart. Kaprawi wanted to do something.

Everything changed when Tagor, his best friend, sacrificed his life in saving Kaprawi. That incident was the turning point. Kaprawi disguised whenever he joined the war. He was afraid his won’t have faith from his band (he dissapointed his team many times). People then started to talk of this mysterious ally. Who was he? Why he didn’t want to reveal his identity?

There came a time when all his friends were cornered. Ammo won’t last much longer and only one grenade left. Kaprawi, still in disguised, voluntarily asked for the grenade and sneaked closer to the Jap’s last standing. Although the Indonesian soldiers tried to back him up, Kaprawi still got hit. Injured badly, Kaprawi gave everything he still had to be closer to Jap’s post. With his last strength, Kaprawi threw the granade and everything was over….

His friends celebrated the victory and rushed to aid, only to be shocked to discover who the mysterious person was. It was Kaprawi. The young man they always called the chicken heart. The cockroach. He risked his life.
I had tears in my eyes when I closed the book. Kaprawi was a kind of man who tried to kill the demon in him. He tried to defeat his fear. He tried to replace his best friend who gave his life for him. He wanted to pay all the doubts his team had on him. In the end he succeeded.

Artikel aslinya di sini

Tuesday, May 8, 2007

Menuju Kepunahan


Entah kenapa kangen saya tiba-tiba hadir ketika tak sengaja melihat uang lama seratus rupiah saat mengetikkan '100% Indonesia' di google. Desainnya yang keluaran 1977 terasa bersahaja. Illustrasi badak yang hampir punah, mungkin telah punah sekarang. Termasuk uang seratus rupiah kertas juga punah, jadi keping yang desainnya kurang inspired.
Dan sekilas, desain ini mirip-mirip juga dengan seratus ribu yang sekarang, dengan illustrasi Soekarno Hatta. Apakah nanti uang seratus ribu juga akan punah seperti Soekarno Hatta yang telah pergi meninggalkan kita semua? God knows, toh kita semua juga akan punah. Dengan uang di kantong seratus perak atau seratus ribu rupiah, kita tetap punah.
Maka bersahajalah dalam hidup, bukan uang atau kekayaan yang kita bawa mati. Tapi amal kebaikan. Dan keikhlasan. Meskipun nilainya cuma seratus rupiah. Wallahu 'alam...

Saturday, May 5, 2007

Kembali ke Masjid


Bersama teman-teman di Petakumpet, saya sedang menyiapkan satu kampanye promosi PSA (Public Service Advertisement) bertema Kembali ke Masjid. Kampanye ini ingin mengembalikan fungsi masjid yang utuh sebagai pusat menyelesaikan permasalahan manusia di dunia maupun akhirat, utamanya buat muslim meskipun masjid terbuka buat siapa saja yang mau datang.

Untuk memanggil kembali umat Islam yang stress, was-was, kuatir, tercerai berai, diperbudak pekerjaan, dirampas hak ekonominya, terpaksa jadi teroris karena salah didik: untuk kembali ke masjid menemui dirinya yang sejati. Kembali pada Allah dengan bersih hati.

Medianya terdiri dari above,below & aktivasi di Jogja dan sekitarnya tapi tidak menutup kemungkinan untuk dilaksanakan di seluruh Indonesia. Rencananya akan ditayangkan menyambut Ramadhan tahun ini. Pada tahun 2005 kemarin kami pernah membuat kampanye menyambur Ramadhan dengan media luar ruang berupa banner dan spanduk yang dipasang di areal kuburan Krapyak Jogja mendapat sambutan luar biasa, juga telah dimuat di Kedaulatan Rakyat dan Majalah Desain Grafis Concept

Nah, kebetulan saat ini saya sedang cari referensi, salah satunya kumpulan puisi Emha Ainun Nadjib yang berjudul 'Seribu Masjid Satu Jumlahnya' terbitan tahun 1990-an. Kebetulan pula, sampai saat ini belum nemu.

Jika ada temen-temen yang punya dan boleh dipinjem, tolong bisa menghubungi saya di arief_009@yahoo.com. Atau jika Anda tertarik dengan project ini dan ingin bergabung silakan menghubungi email saya. Semakin banyak yang terlibat maka makin asyiklah kampanye ini dilaksanakan. Saya tidak menyiapkan imbalan khusus, biar Allah yang melapangkan rejeki Anda. Dan karena kampanye PSA ini lebih condong ke akhirat, janji Allah untuk membantu hamba-Nya yang telah membantu agama Allah itu jauh melebihi imbalan apapun yang pernah kita semua bayangkan.

Saya tunggu kabar baiknya, yach :)

Tuesday, May 1, 2007

(Akhirnya) Ke Palembang


Seperti sudah digariskan namun tak pernah disangka, saya akhirnya dapat kesempatan maen ke Palembang selama 3 hari, 27-29 April 2007 kemarin. Adalah Mas Noor Udin Ung yang mengajak saya untuk mengisi Seminar & Workshop di Binus Center Palembang. Temanya sih normal aja "Bagaimana Membuat Iklan & Desain Grafis yang Kreatif". Tapi menurut penyelenggara, ini adalah Seminar pertama yang diadakan di Palembang dengan tema Iklan & Desain Grafis. Wah, ini namanya beruntung.

Di Palembang ada beberapa perusahaan advertising yang mengelola media luar ruang, beberapa sekolah desain grafis 3 bulanan (seperti Binus Center), tapi mungkin belum agency full service di sana. Jadi peluang buka advertising agency terbuka lebar di sana. Asal bisa edukasi pasar, langsung deh jadi market leader. Belum ada kompetitornya, oiii...

Btw, kemarin sempat mampir ke Jembatan Ampera (kayaknya ini jembatan terbesar di Indonesia dengan panjang 1,1 km). Dibangun oleh Jepang dengan konstruksi knock down sehingga bisa naik turun agar perahu besar bisa lewat membelah sungai Musi. Setelah diakuisisi Indonesia, jembatannya gak bisa naik turun lagi alias macet. Saya tidak heran, orang Indonesia kan hobinya bikin macet!

Jalan-jalannya lebar meskipun di beberapa ruas nampak kemacetan juga (yang ini macet berarti simbol kemakmuran karena kebanyakan mobil). Tapi yang aneh, saya sulit sekali nyari ATM yang buka 24 jam. Hampir semua ATM ditaruh di dalam bangunan dan saat malam sampai pagi ATM itu tutup. Saya menemukan kurang lebih 8 ATM di pusat kota saat jam 6 pagi, tutup semua. Sampai sekarang saya masih ingin tahu kenapa.

Audiens seminar yang berjumlah lebih dari 50 orang dan workshop yang diikuti 24 peserta berlangsung begitu meriah dan energik. Antusiasme mereka besar sekali untuk belajar tentang kreativitas. Saya dan Mas Ung duet membawakan Seminar sekaligus Workshop, ini juga duet kami yang pertama sejak saya diajari presentasi ama Mas Ung di Lingkom, 1999 lalu.

Btw, makasih buat Mas Beni (Binus Center) untuk kesempatannya, juga safari makannya di tempat yang unik dan super lezat. Tak lupa Mas Ung yang - entah kenapa - malah memilih saya menjadi partner (padahal masih banyak lebih baik). Hope someday kita bisa manggung lagi di tempat lain. Makassar, Balikpapan, Medan, atau malah keluar negeri.

Ha ha ha, siapa tahu? Amien ya Robbal 'Alamien...