Mybothsides

Tuesday, October 2, 2007

Tuhan Ada di Emperan Jalan

Ya, Tuhan memang ada di emperan jalan dan di pojok-pojok tak terlihat mata. Tuhan bersembunyi, takut pada segala sesuatu yang terang. Tuhan tengkurap atau berbaring, atau menerawang jauh dan kosong. Tuhan berbalut kain robek, kotor dan bau, beralas kardus dan koran bekas. Tuhan mengais-ngais sampah mencari sisa makanan yang semoga belum basi. Tuhan merintih, perutnya melilit minta diisi tapi cuma ada angin dan air comberan. Tuhan yang disembah-sembah dengan khusyuk di mesjid dalam jamaah yang wangi dan bersih, menggigil kedinginan dimangsa angin malam yang jahat.

Tuhan menyapa kita semua dengan tatap mata kesakitan, kita menutup hidung dan pura-pura memandang kelap kelip lampu reklame di pertokoan raksasa. Tuhan menyingkir di pohon besar tempat orang kencing diam-diam, menikmati bau pesingnya dalam kesedihan yang tak terperikan.

Tuhan sering hadir tak seperti persangkaan kita. Tuhan sering menyelinap menggoda. Kita yang harus membuka mata dan hati lebar-lebar agar kehadiran-Nya dalam hidup kita tak sia-sia. Kita bilangnya muslim, atau mukmin bahkan pemuka agama, membaca Qur'an fasih dan ber-umroh puluhan kali. Tapi saat Tuhan menengadahkan tangan, kita tak paham malah menyapa,"Maaf tak punya uang recehan..."

Tuhan tak marah saat kita nilai lebih rendah dari recehan. Tapi alam semesta yang tak rela. Ketika Sang Pencipta tak disapa dengan cinta, maka Iapun pergi membawa kasih sayang-Nya. Dibiarkannya hamba yang tak peduli, yang tak menyapa, yang tak terbuka hatinya. Dibiarkannya dalam kesulitan hidup yang ia ciptakan sendiri, karena egoisme yang tumbuh dari keserakahan hatinya.

"Mengapa tak Kau jawab doa-doa kami ya Tuhan yang Maha Pengasih? Mengapa tak Kau selamatkan kami dari pemimpin yang dholim? Mengapa tak Kau tunjukkan jalan kami dengan cahaya-Mu? Mengapa Kau tinggalkan kami dalam masalah besar yang tak mampu kami selesaikan?"

Bagaimana doa kita akan didengar kalau saat Ia menyapa kita selalu membuang muka?

2 comments:

Anonymous said...

Mas...ariefboediman...
hmmm...salut dg anda krn sebelumnya ak juga sering baca bbrp artikel motvasi dan spiritual disini,tp maaf jg sebelumnya, krn setelah aku baca yg ini, ada sesak di dadaku...ada tangis dalam hati ku karena kau saudaraku seiman semuslim tapi ketika aku baca artikel ini, hmm...aku pun tregerak utk segera ngasih koment utk artikel ini...hmm tampaknya ada yg tersinggung sebagai seorang muslim ketika TUHAN atau Alloh yg kita sembah diaktakan ada diemperan jalan?
kok...beda dg Alqur'an! Alloh ada di Arsy bukan diemperan jalan cukup hina Alloh yg begitu Mulia dg singgasananya mas bilang ada diemperan jalan? tak tahu juga apa maksud mas arief...semua temen2 yg baca artikel ini pun sedih ketika mas menuliskan artikel ini dan mas adalah saudara kita "seorang muslim" tolong di ganti nama TUHAN itu dg yg lain,krn jika orang salah mengartikan dan penafsiran bisa jadi ini adalah bentuk pelecehan thd ALLOH, apa mungkin mas arief yg sudah terlalu pintar sehingga bahasa perumpamaan yg mas tuliskan bahasa tingkat tinggi yg hanya bisa dipahami oleh org semacam mas? tp bagi kami yg dangkal ilmu janganlah mas itu penghinaan bagi kami karena Alloh tuhan kami sungguh tak serendah itu, Alloh TUHAN kami adalah Rabb semesta Alam yg selalu SUCI dan segala puji baginya DIA bersemayam di Arsy yg akan selalu memperhatikan setiap hambanya yg beriman dan bertaqwa kepadaNYA, melapangkan rizkinya dan mudah baginya utk mengabulkan do'a hambanya, tergantung atas rahmat dan ridlonya dan bagi setiap hamba yg mau benar benar ikhlas dan tulus menghamba kepadanya tentunya mudah bagiNYA utk mengabulkan do'a dan ALLOH benar2 maha tau mana dan apa yg terbaik buat Hambanya yg beriman dan bertaqwa...POsitif thinking aja dg Alloh mas! karena setiap persangkaan yg baik mnrt kita blom tentu baik menurut ALloh dan apa yg menurut kita buruk belum tentu juga Buruk buat Anda bagio ALloh, jd positif thinking aja atas apa2 yg telah Alloh tentukan...tetaplah selalu pada jalanNYA utk senantiasa beriman dan bertaqwa pada NYA dan gunakan perumpamaan2 yg lebih sopan dan baik dan sungguh betapa teganya anda menempatkan tuhan serendah dan sehina itu...cukup mas arief dan kami harap anda beristighfar krn telah buat salah paham thd kami umat muslim brngkali...tapi kami juga berharap semoga maksud anda menuliskan seoperti itu tdk seperti yg kami maksud semoga,...tapi ada baiknya diganti aja nama TUHAn dg perumpamaan yglain,...saya ari yg baru belajar memaknai hidup ini dan hakekat keberadaanNYA serta tujuan segala penciptaaNYA.maaf mas arief yah aku tetep CINTA DG MAS ARIEF karena mas MUSLIM tho...he...he..I love YOU Dhub...

M. Arief Budiman said...

Mmm, terima kasih Mas atau Mbak (?) atas comment-nya yang panjang dan serius, saya tersanjung. Tapi mari kita sedikit diskusi, menurut saya Tuhan (atau Allah karena saya 100% Muslim) tidak hanya bersemayam di 'arasy tapi juga di kedalaman hati kita, di gubuk reyot dan di kolong jembatan menemani hambaNya yang kelaparan.

Dalam satu riwayat, seorang Nabi pernah diminta kaumnya untuk mengundang Tuhan hadir dalam jamuan makannya: untuk menguji. Sang Nabipun menghadap Tuhannya dan bertanya apakah Ia berkenan hadir. Ya, aku akan datang kata Tuhan.

Lalu disiapkan makanan dan minuman yang lezat-lezat, beberapa saat sebelum acara mulai muncullah seorang pengemis kumal yang kelaparan. Karena saking sibuknya, iapun dicuekin. Nabi itu malah menyuruhnya menimba air dan hanya memeberikan sisa makanan.

Saat jamuan dimulai dan semua orang menunggu lama, Tuhan tak jadi hadir. Sang Nabipun mendapat hinaan dari kaumnya karena dianggap berbohong.

Besoknya Sang Nabi protes dan berkata,"Kok Tuhan ingkar janji? Katanya kemarin akan datang di jamuan?"

Tuhan menjawab,"Aku datang kok, dengan perut kelaparan karena ingin ikut jamuan. Tapi engkau malah menyuruhku mengambil air. Begitukah caramu menghormati tamu yang diundang?"

Lemaslah Sang Nabi, ternyata Tuhan hadir tidak seperti yang Ia sangka. Tuhan hadir dalam sosok yang tak terhormat, yang tak dianggap, yang dicuekin.

Tuhan meliputi segalanya, tak hanya yang terlihat bersih, baik dan indah. Tuhan tak pilih kasih, Tuhan yang saya yakini tak jauh-jauh dari mereka yang terpinggirkan. Itulah Tuhan saya, Allah SWT yang saya pahami. Saya tidak sedang menghina siapapun dengan tulisan saya, apalagi Tuhan. Saya hanya ingin kita peka dan membuka mata hati lebar-lebar saat Tuhan hadir menyapa sehingga kita tak kecewa seperti kisah Nabi tadi. Lebih kurangnya mohon maaf...